EVALUSI EDISI KHUSUS LUSI DI MPG 2017

Oktober 17, 2017

Lusi Lebih dari Sepuluh Tahun: Suatu Tinjauan dari fakta-fakta, dan studi terdahulu dan ke depan, 2017

Ditinjau oleh Prof.Dr. Hardi Prasetyo

Untuk LUSI LIBRARY:

KNOWLEDGE MANAGEMENT

Makalah Dikontribusikan melalui Jaringan LRN dari Konsorsium LUSI LAB

Slide001Slide002Slide003Slide004

(A)Peta elevasi Pulau Jawa bagian timur, menampilkan Lokasi beberapa gunung lumpur yang dikenal dan gunung api magmatik utama.

Catatan:

Arah BT-SB dari pusat semburan kompleks vulkanik Arjunoe Welirang dan distribusi mata air hidrotermal searah dengan sistem sesar Watukosek yang juga mengakomodasi tebing berukkuran besar dan juga gunung-gunung lumpur;

Lokasi-lokasi situs Lusi dan Porong-1 juga diperlihatkan.

Pembubungan Porong (Porong-1 Piercement) ditafsirkan sebagai suatu keruntuhan purba dari sistem hidrotermal purba yang sekarang dapat dicitrakan dengan data refleksi seismik (Istadi etal., 2009).

(A)Citra satelit situs Lusi tahun 2016.

Perhatikan dinding tanggul pembatas. Warna coklat adalah area pada bagian luar dari aktivitas pusat semburan merupakan zona kering dimana memungkinkan untuk diakses.

Zona hampir melingkat di sekitar pusat semburan terdiri dari breksi lumpur cair yang tidak mudah diakses.

Slide006Slide007Slide008Slide009Slide010Slide011Model Konseptual: Lusi sistem hidrotermal dalam dari gunung magmatik (Bagian Bawah) Miller dkk., Juni 2017,
dimodifikasi oleh Presetyo 2017 (Untuk Lusi Library)

Slide012Slide013Slide014Slide015Slide016

Matrik Indikator -Model Konseptual: Lusi sistem hidrotermal dalam dari gunung magmatik (Bagian BawahMiller dkk., Juni 2017. oleh Presetyo 2017 (Untuk Lusi Library)

Sistem Gunung Magmatik Welirang-Arjuno-Penanggungan, berkembang di busur depan (forearc) dari Busur Sunda: 

Kantong magma (Magma Chamber) dengan intrusi (Dike/Sill), menstimulasi panas pada sedimen dan terjadi aliran fluida panas.

Komposisidi GAS dari Analisis Geokimia Gas, Perkiraan Sumber dan Proses: 

  • He dan CO2 magmatik atau selubung (mantle),
  • CH4 termogenik
  • CO2 organik/alterasi
  • CH4 Mikroba

Penampang Tegak dari Lokasi Lusi dari Saluran pengumpang sampai tubuh gunung lumpur di permukaan: 

  • Fluida bermigrasi pada Patahan Watukosek
  • Pergerakan ke arah atas dipengaruhi oleh kontribusi gas dan fluida yang dilalui

Komposisi, perkiraan sumber cairan dan Pendukung Studi terbaru (INSAR): 

  • Fluida dari hidrotermal (Fm. Ngimbang)
  • Ilitisasi (Fm. Ngimbang)
  • Karbonat Terumbu Fm
  • Ilitisasi Fm. Kalibeng

Komulatif Stratigrafi, perkiraan kedalaman, dan suhu versus kedalaman: 

  • Kalibeng Atas, sumber lumpur dan ilitisasi fluida
  • Dasar BJP-1 (Kalibeng Atas)
  • Terumbu Prupuh
  • Batulempung Ngimbang

Model Konseptual:  Lusi sistem hidrotermal dalam dari gunung magmatik

Miller dkk., Juni 2017. Ditinjau Oleh: Hardi Prasetyo

  • Dalam skenario Lusi sistem hidrotermal dalam dari gunung magmatik, berlangsung jauh berada di bawah dari Zona karbonat (Carbonat Zone).

Akibat terjadinya reaksi pada suhu tinggi, dipengaruhi oleh intrusi-intrusi dan terjadinya migrasi cairan hidrotermal (intrusions and migration of hydro- thermal fluids).

  • Adanya goyangan berasal dari gempa Yogyakarta baik terhadap lapisan berkedudukan dalam mupun yang berkedudukan lebih dangkal tersebut telah menstimulasi terjadinya aliran fluida dan kemungkinan injeksi ke geseran (slip) dari sistem patahan Watukosek (Watukosek fault system).
  • Pulsa tekanan ini dari kedalaman telah bermigrasi ke zona sesar, dan menjadi sumber dari suatu tendangan“.
  • Sumber data terintegrasi: Pemantauan seismisitas, eksplorasi geofisika bawah permukaan, pemantauan geokimia, pemantauan GPS/ gravimetri, studi petrografi, pemodelan numerik, mikrobiologi, dan pengembangan teknologi baru seperti Drone.
  • Dari perspektif ilmiah, hal ini merupakan suatu sistem yang sangat menarik.
  • Sistem hidrotermal berskala tektonik yang relatif baru, menyediakan banyak kesempatan kegiatan penelitian untuk mempelajari: kelahiran dan evolusi dari suatu sistem hidrotermal vulkanik muda, geyser, dan tektonik aktif.
  • Model konseptual untuk inisiasi dan perilaku Lusi, adalah fenomena geologi alami yang dihasilkan hari ini sebagai induk Sedimen Sistem Hidrotermal “ISSH” (Sedimentary-hosted Hydrothermal System SHHS).
  • Model konseptual yang paling relevan (Mazzini et al., 2012) menyatakan intrusi dan migrasi air panas-magmatik berasal dari kompleks vulkanik Arjuno-Welirang berlokasi di dekat Lusi, dimana menyediakan sumber panas yang substansial pada paket sedimen yang mengandung material organik dari cekungan Jawa Timur.
  • Sebagai suatu bukti geokimia yang jelas bahwa uap di atas pusat semburan Lusi didominasi CO2 dengan tambahan gas hidrokarbon segar.
  • Selanjutnya, tanda-tanda isotop gas juga telah menunjukkan adanya kontribusi cairan berasal dari selubung (mantle) :
  • –misalnya d13C CO2 dan helium dengan rasio R/Ra setinggi 6,5

    –dicampur dengan CO2 dan CH4 yang dihasilkan oleh reaksi suhu tinggi (sampai lebih dari 400oC).

    • Gas dengan karakteristik ini tidak dapat/umum hadir pada suatu cekungan sedimen yang umum dikenal sebagai volkanisme sedimentasi (sedimentary volcanism).

    Umum terjadi karena suhu yang dibutuhkan untuk menghasilkan reaksi ini tidak dapat terjadi bahkan di daerah gradien geotermal yang relatif tinggi sekalipun seperti di Sidoarjo yang dimana Lusi terjadi yaitu 42oC / km (Mazzini et al., 2007).

  • Oleh karena itu, persyaratan orde pertama dari reaksi geokimia terukur adalah bahwa diperlukan adanya tambahan suatu sumber panas.
  • Kandidat yang jelas dan sudah tersedia secara alami adalah komplek vulkanik yang berada di baratdaya sebagai tetangga (Komplek gunungapi Arjuno-Welirang).
  • Skenario paling sederhana yang diajukan adalah bahwa adanya transformasi panas berasal dari suatu tubuh intrusi dan migrasi cairan hidrotermal ke cekungan busur belakang (backarc basin) dan mengikuti zona lemah yang jelas, yaitu sistem Patahan Watukosek.
  • Sumber panas yang substansial ini telah mengubah batuan sedimen, memanggang bahan organik yang ada pada endapan sedimen di busur belakang dimana sumber material organik menghasilkan gas baru selain cairan mantel (mantle fluid).
  • Memperkenalkan sumber panas baru dan signifikan juga memicu reaksi metamorfosa untuk menghasilkan CO2, CH4, dan mempercepat pematangan hidrokarbon (hydrocarbon maturity).
  • Selanjutnya terjadi peningkatan proses illitisasi batulumpur (misalnya dehidrasi) pada kedalaman yang dangkal yaiut lempung di Formasi Kalibeng.
  • Semua proses ini dikombinasikan telah menghasilkan suatu sistem yang sangat tertekan pada kedalaman.
  • Lokasi yang mungkin untuk sistem overpressured ini, dari observasi geokimia, petrografi, dan pengamatan deformasi permukaan, bersumber di batulempung dari Formasi Ngimbang, berumur Eosen.
  • Formasi Ngimbang terletak paling sedikit 1000 m di bawah total kedalaman dari lubang sumur bor BJP-1.
  • Batuan sumber regional ini terdiri dari serpih kaya organik dengan TOC beratyang bervariasi antara 1,6 dan 5,7% diselingi dengan lapisan batubara di bagian bawah.
  • Formasi yang kaya material organik ini ditindihi oleh satuan karbonat berumur Oligosen-Miosen dari Formasi-formasi Kujung-Prupuh dan Tuban dan lempung marin yang dibatasi oleh satuan vulkanoklastik yang secara hidrolik adalah padu.
  • Skenario overpressured ini juga didukung oleh pemodelan numerik yang mensimulasikan reaksi geokimia. Dimana dipicu oleh panas yang dilepaskan dari intrusi batuan beku dalam yang berasal dari busur vulkanik.
  • Hasil penelitian menunjukkan bahwa metamorfosis kontak dan migrasi fluida hidrotermal dapat menghasilkan aliran cairan yang cukup dan memberikan sumber realistis untuk gas Lusi.
  • Aktivitas geysering Lusi, yang telah diamati pada tahun 20016, memperkuat hubungannya dengan sistem busur vulkanik.
  • Karyono dkk. (2017) menggabungkan pemantauan fotografi aktivitas kawah Lusi dengan jaringan seismometer. Telah dapat ditentukan 4 fase siklus geysering Lusi: (1) aktivitas rutin; (2) geysering klastik; (3) geysering klastik dengan semburan lumpur dan debit uap yang intens; dan (4) fase diam (Istirahat).
  • Telah didefinisikan bahwa Lusi sebagai sistem geysering dimana didominasi klastik (clastic gysering) yang mempunyai kaitan dengan sistem gunung api di selatannya.
  • Kehadiran struktur pembubungan (piercement structure) dan zona bermuatan cairan yang diamati pada lintasan seismik (Mazzini et al., 2009; Moscariello et al., 2017), sebagai indikasi bahwa kondisi tekanan berlebih sudah ada sebelum kelahiran Lusi.
  • Dalam skenario hidrotermal (Mazzini et al., 2012) intrusi magmatik yang berasal dari sistem magmatik komplek vulkanik Arjuno-Welirang (gunung berapi terdekat adalah Penanggungan ~ 10 km SB kawah Lusi) dengan bentuk kerucut termuda di wilayah Utara timur dari komplek volkanik di busur depan.
  • Tubuh intrusi secara mekanis diharapkan karena secara keseluruhan tektonik kompresional daerah tersebut, dan ada bukti bahwa intrusi magmatik dapat menyebar jauh dalam rentang waktu yang pendek (Svensen et al., 2004)
  • Penyebaran intrusi selanjutnya akan segera membuat litologi pada kedalaman yang mencakup serpih kaya organik atau hidrokarbon (dalam kelimpahan dalam paket sedimen Lusi yang mendasari Lusi), akan mengarah ke pembentukan cepat volume cairan yang luar biasa besar
  • Dengan batuan penutup (cap rock) yang disediakan mis. vulkanoklastik, fluida tambahan ini akan dirubah ke dalam tekanan berlebih yang ekstrem, dan cairan yang terlalu tertekan sangat rentan terhadap gangguan yang sangat kecilpun, dari gempa bumi baik bersumber dekat atau jauh.
  • Observasi validasi untuk model konseptual pada juga mencakup bukti penurunan inSAR, memperlihatkan adanya dua sumber (Dangkal dan Dalam) yang menggerakkan sistem ini (Shirzaei et al., 2015).
  • Sumber lumpur yang dominan adalah formasi Kalbeng, yang dikenal sebagai salah satu kontributor utama dari semburan lumpur.
  • Hal penting, data InSAR juga mengungkapkan adanya sumber yang lebih dalam sekitar kedalaman 5 km terkait dengan batupasir Ngimbang dan berada jauh di bawah dari kedudukan satuan karbonat Oligosen-Miosen.
  • Sumber yang lebih dalam diharapkan Mazzini dkk. (2012) karena generasi sumber cairan tambahan yang melimpah, dan menguatkan bukti geokimia dan pemantauan (Karyono et al., 2017; Mazzini et al., 2012; Vanderkluysen et al., 2014) yang berfungsi sebagai basis untuk model konseptual di tempat pertama.
  • Bukti spektroskopi Raman: yang baru saja diperoleh dari klastik yang disemburkan Lusi yang dikumpulkan di sekitar kawah utama juga menunjukkan bahwa sistem ini didorong oleh sumber yang dalam (Malvoisin dan Mazzini, 2016).
  • Hasil petrografi: menunjukkan dengan jelas bahwa klastik yang diidentifikasi sebagai batulumpur Ngimbang mencatat dua suhu yang berbeda;
  • Satu suhu yang konsisten dengan gradien geothermal pra-erupsi, dan kedua suhu yang jauh lebih tinggi yang mengindikasikan pencampuran baik cairan awal atau akibat langsung dari aliran panas yang berasal dari intrusi magmatik.
  • Data amblesan (InSAR) dan petrografi: menunjukkan bahwa Lusi berakar dalam, sehingga menjadi tidak relevan upaya untuk menentukan umur panjang semburan lumpur (Davies et al., 2011; Rudolph et al., 2011). Dimana sumber dalam ini tidak termasuk dalam model konseptual, selama ini.
  • Sebagai tambahan, karena respon Lusi terhadap getaran gempa terdokumentasi dari gempa bumi yang berada di dekat dan sangat jauh, sehingga membuat usaha untuk menentukan berapa lama semburan akan berlangsung bertahan menjadi masalah tersendiri.
  • Upaya memperkirakan umur panjang Lusi dipertanyakan sejak awal karena model fisik yang mendasari perkiraan umur panjang sebelumnya (beberapa metoda) telah dibuat belum lengkap?.
  • Salah satu studi awal tentang umur potensial Lusi (Davies dkk, 2011) melibatkan simulasi Monte Carlo yang ditujukan untuk solusi analitik dari sumber fluida yang terbatas dari satuan karbonat yang diasumsikan masuk ke lubang bor.
  • Alasan untuk studi seperti itu menjadi tidak jelas, pertama karena tidak ada yang berhasil mengatasi lubang bor, dan kedua karena simulasi Monte Carlo mengenai solusi analitis tidak ada gunanya selain air berlumpur?.
  • Menegaskan kembali bahwa bagaimanapun, tidak ada bukti bahwa satuan karbonat ditembus saat pengeboran.
  • Juga tidak mempertimbangkan keberadaan sumber fluida lain yang lebih dalam yang tampaknya berkontribusi secara signifikan terhadap arus keluar.
  • Studi umur panjang lainnya (Rudolph dkk., 2011) menyelidiki, juga dalam simulasi Monte Carlo, erosi mekanis dari sumber lumpur dangkal yang mengarah pada pengurangan tekanan atau pembentukan kaldera, yang mana akan menghentikan semburan tersebut.
  • Karena keseluruhan model konseptual tidak mencerminkan sistem saluran Lusi yang sebenarnya, hasil dari penelitian ini terbukti belum lengkap.
  • Memperluas model konseptual erosi mekanik dikombinasikan dengan Analisis Komponen Utama (PCA) data deformasi, Rudolph et al. (2013) menunjukkan penurunan tekanan eksponensial.
  • Fakta tersebut digunakan untuk memprediksi akhir semburan Lusi didasarkan pada data yang dipilih dari kisaran laju aliran yang lebih luas yang diamati selama masa studi mereka.
  • Penurunan laju aliran yang dilaporkan (Rudolph et al., 2011)) memprediksi nilai serendah 10.000 m3/hari di tahun 2011, yang menyebabkan para penulis memprediksi arus nol pada sekitar tahun 2017.
  • Ini bukan skenario yang diamati pada awal 2017. Sebaliknya, laju alir yang diukur pada akhir 2016 rata-rata sekitar 80.000 m3/hari, dengan kenaikan substansial hingga setinggi 120.000 m3/hari sebagai tanggapan terhadap 16 November, 2016 (M5.7) gempa lepas pantai Jawa yang berpengaruh di sekitar Lusi. Dianalogikan seperti Gempa Yogyakarta..

Slide041Slide042Slide043Slide044Slide045Slide046Slide047Slide048Slide049Slide050Slide051Slide052Slide053Slide054Slide055Slide056Slide064

 

 

 

Iklan

Geoheritage untuk GeoPark Lusi

Oktober 17, 2017

Slide01

Potensi Fenomena LUSI  Sebagai GeoHeritage Untuk Pengembangan GeoPark

Disampaikan pada Focus Group Discussion (FGD) Akselerasi Solusi Permasalahan Sektor ESDM di Provinsi Jawa Timur

Dr. Hardi Prasetyo Plt. Kepala, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo

Kantor BPLS, 12 November 2015

Catatan Sejarah Bottom-up Proses Pengusulan Lusi sebagai  GeoHeritage- GeoWisata-GeoPark

Presentasi pada even Focused Group Discussion (FGD)  potensi Lumpur Sidoarjo, dilaksanakan atas prakarsa dari Dr. Ir. Junus (Staf Ahli Menteri ESDM) selaku Ketua Tim Satgas GeoPark KESDM/Nasional. 12 November 2015 bertempat di Ruang Sunarso, kantor BPLS Surabaya.

Pertemuan tersebut sebagai salah satu tonggak sejarah dimana secara formal Lusi yang sebelumnya telah ditetapkan oleh Badan Geologi KESDM sebagai salah satu dari 22 Geoheritage di Pulau Jawa dan sekitar 60 di Seluruh Indonesia.

Sebelum digelar even “Dari Geoheritage ke Geopark Lusi”, telah diawali dengan pertemuan tingkat Reguler (Jawa Timur) yang difasilitasi oleh Dinas ESDM  Pemprov Jatim, yang dihadiri oleh pejabat terkait dari Badan Geologi (Ir. Andiani, Ir. Indra Badri, dan Ir. Heryadi Rachmat), dan Dinas ESDM Pemkab Sidoarjo.

AA-KESDM-2

Ir. Andiani setelah memimpin delegasi Badan Geologi KESDM pada pertemuan awal pengusulan GeoPark Lusi, mengunjungi Lusi.

Hal mendasar dari pertemuan “Dari Geoheritage ke Geopark Lusi” telah disimpulkan suatu usulan Lumpur Sidoarjo sebagai GeoWisata untuk menuju GeoPark mengikuti proses bottom-up yaitu Pengkab Sidoarjo, Pemprov Sidoarjo, di dukung Badan Geologi KESDM dan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS).

Akhirnya even FGD “Dari Geoheritage ke Geopark Lusi” telah mengambil kesimpulan penting GeoHeritage Lusi memenuhi persyaratan awal untuk diusulkan sebagai GeoWisata-GeoPark. Direkomendasikan kepada Prof. Dr. Hardi Prasetyo untuk berperan selaku koordinator Tim Kecil untuk PENGEMBANGAN GEOPARK LUSI.

Amanah dari Tim Satgas Geopark KESDM/Nasional Dr. Ir. Junus telah ditindaklanjuti dengan Surat Rekomendasi pada awal tahun 2016, selanjutnya pada 22 Desember 2016, bertempat di Ruang Sunarso, Kantor BPLS, Prof. Dr. Hardi Prasetyo atas mandat dari Tim Satgas GeoPark Nasional telah menggulirkan TIM KECIL PERCEPATAN PENGEMBANGAN GEOPARK LUSI.

Even ini menorehkan bagian dari Peta Perjalanan GeoPark Lusi, dimana lanjutan even “Dari Geoheritage ke Geopark Lusi” telah ditindaklanjuti dengan awal digulirkannya Tim Kecil Percepatan “Dari Geoheritage ke Geopark Lusi”.

Pada even ini dilakukan Presentasi masing-masing dari Ahli Geopark yaitu:

  • Prof. Dr. Mega Rosana (UNPAD) menguarikan contoh sukses mengusulkan Geopark Nasional Ciletuh Sukabumi.
  • Dr. Ir. Heryadi Rahmat (Badan Geologi) menguraikan pengalaman mengusulkan GeoPark Rinjani.
  • Ir. Oman Abdurahman selaku Kepala Museum Geologi, menyampaikan pengalaman mengembangkan Museum baik Geologi/Geopark dan utamanya sebagai ketua pelaksana Seminar Nasional Geopark 2015 (Jakarta), Belitung 2016,
  • Prof. Dr. Hardi Prasetyo, selaku Koordinator Tim Kecil Pengembangan “Dari Geoheritage ke Geopark Lusi” menyajikan Konsep Awal “Pengembangan GeoPark Lusi”,  dengan strategi Pengembangan Awal Tahap GeoPark Lokal. Hal ini mengingat suatu kondisi lingkungan strategi bahwa masalah sosial kemasyarakatan belum sepenuhnya dapat dituntaskan.

Sementara Konsepsi yang diusulkan untuk dikembangkan adalah mengangkat Pendekatan Mendasar “Hidup Harmoni dengan Bencana”, yaitu bersamaan dengan Menganggulangi-Mengendalikan Bencana Lusi mud volcano dikembangkan Geopark dengan mengedepankan GeoWisata.

Sebagai wujud nyata terhadap Impian Mengembangkan GeoWisata-GeoPark Lusi siang harinya seluruh peserta menghadiri di lapangan Lusi peresmian Embrio Museum GeoPark Lusi, berlokasi di selatan Danau Besuki.

Slide3

 

Suatu Kehormatan setelah melalui Perjalanan Panjang akhirnya Maret 2017, Prof. Dr. Hardi Prasetyo selaku Koordinator Tim Kecil Pengembangan GeoPark Lusi, telah diberi kehormatan untuk mempresentasikan “PESONA GEOWISATA LUSI MENUJU GEOPARK” pada even Promosi Pariwisata terbesar di Indonesia Timur, dilaksanakan di Grand City, Surabaya.

Catatan: Hardi Prasetyo saat diundang oleh Panitia selaku Plt Kepala BPLS, dimana saat presentasi sedang berlangsung Transisi BPLS-PPLS.

BAGIAN DARI PRESENTSI “Dari Geoheritage ke Geopark Lusi”:

00SPIRAL-BIJAK

Kompleksitas Kebijakan (Perpres) Penanggungalan Lusi 2007-2013, dengan pengendali mekanisme Bencana yang saya sebut pola spiral.

Slide02

The Golden Time 2015:  Lahirnya BPLS 8 April 2007, melalui Uji Materi UU APBN 2012 dan 2013 di MK, Pemerintah Memaknai Amar Putusan Uji Materi dengan menggulirkan Dana Antisipasi dan 28 Desember 2014 ketua DP BPLS, Menteri PUPR menyampaikan arah kebijakan ke depan Lusi sebagai GeoPark.

0-lebaran3

Slide03

Presentasi Usulan Geopark tingkat Regional di Pemprov Jatim 15 Sep. 2015

Slide04

Evolusi Postur dan Perilaku Semburan Lusi dari 2006 sebagai semburan dahsyat merusak, 2013 Kawah Lusi bisa dijalani dan bukti lapangan lumpur semburan tiga dan lumpur padu seperti aliran lava (bukti mempunnyai hubungan dengan gunung magmatik. 2015 bersama Prof. Hasanuddin Abidin (Dekan FIKB  ITB sekarang Ka BIG) menyaksikan Lusi sebagai Unggulan Studi mud volcano dan potensi destinasi Wisata Minat Khusus (GeoWisata).

Slide05

Penanggulangan Bencana Lusi mengalami masa Perjuangan Berat, ketika wilayah kerja diblokade warga, Berbagai Inovasi dan langkah antisipasi.

00-YOGYA2010

Slide06

Saat bahagia/Suka setelah melalui Perjuangan Melelahkan (2012-2015), akhirnya Presiden RI mengunjungi Lusi dalam kaitan Dana Antisipasi 2015.

Slide07

LUSI dan Sebaran Mud volcano  Hikayat Cerita Rakyat terkait Mud Volcano Purba  kaitan LUSI MUD VOLCANO DAN CULTURE DIVERSITY.

Slide15

Slide17

Pengusulan Geoheritage Lusi menuju Geopark bukan sekedar Wacana Lagi!

Slide08

Dimensi Kewilayahan: Geografi, Demografi, GeoDiversity, Sumber daya alam

Slide09

Peta Perjalanan Lusi Menuju GeoPark

28 Desember 2014: Arah Kebijakan GeoPark Lusi

Dr. Ir. Basuki Hadimuljono, Menteri PUPR selaku Ketua Dewan Pengarah BPLS, pasca mengumumkan “Dana Antisipasi 2015” sebagai solusi mendasar masalah sosial kemasyarakatan Bencana Kebumian Lusi.

Menyampaikan arah kebijakan Lusi ke depan sebagai GeoPark, dengan situs unggulan semburan Geyser Lusi mud volcano terbesar di dunia, analogi dengan Geyser di Yellow Stone National Park, di USA

Slide14

Slide12

Arah Kebijakan Lusi Pasca Dana Antisipasi

  • 29 Mei 2006: Terjadi semburan lumpur panas di Sidoarjo (Lusi) dan masih berlanjut sampai hari ini.
  • Lusi berkembang menjadi suatu Bencana Kebumian semburan mud volcano yang terbesar di planet Bumi dan penuh misteri asal mulanya, serta paling komplek dalam penanggulangannya.
  • Semburan Lusi mud volcano sudah tidak dapat dihentikan dengan teknologi yang ada, dan akan berlangsung lama.
  • Postur dan perilaku semburan Geyser Lusi, dengan intensitas telah mengalami perubahan mendasar dari semburan yang dahsyat dan merusak (violence and destuctive eruption) intensitas ~100.000m3/hari. Menjadi semburan lebih terkendali dengan intensitas < 30.000m3/h.

Intensitas Deformasi Amblesan dengan pola peluruhan eksponensial dan GeoHazard menurun signifikan

Dr. Ir. Basuki Hadimuljono, Menteri PUPR selaku Ketua Dewan Pengarah BPLS, pasca mendekati penuntasan implementasi “Dana Antisipasi”.

Menyampaikan Aktualisasi Paradigma Baru Penanggulangan Lusi dari Bencana menuju Pemanfaatan ke depan, Sebagai GeoPark dengan Pilar utama:

0-DES2014-1

  • Geyser Lusi mud volcano yang terbesar di dunia, sebagai Pusat Keunggulan Studi mud volcano di dunia;

Pemberdayaan Peranserta Ahli Kebumian dan Institusi Nasional;

  • Lusi sebagai Pelajaran Berharga Penanggulangan Bencana Kebumian yang paling unik dan komplek di Dunia,

Arah Kebijakan BENCANA LUSI KE DEPAN Peta Perjalanan Menuju GeoPark Lusi

27 September 2015: Arah Kebijakan Lusi Pasca Dana Antisipasi

  • Semburan Geyser Lusi dan Pulau Lumpur sebagai Tujuan Wisata alam (GeoTourism) dan wisata hijau (Green Tourism) di Dunia;
  • Lusi mud volcano secara sistem dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan:

Lumpur: Ekstraksi kandungan Jodium (Farmasi), Litium (Batu Bateri), Garam tradisional, Bahan bangungan, Bahan keramik, Pemanfaatan untuk mud spa (Kesehatan),

Air: mandi air panas (seperti Ciater, di Jabar)

Lusi sebagai induk sedimen sistem Hidrotermal dalam berhubungan gunung magmatik di busur depan: Energi hijau terbarukan panas bumi berskala kecil

Slide14Slide15

Penjajakan: Peta Perjalanan Menuju GeoPark Lusi

  • Maret 2010: Pada Simposium Internasional Bencana Alam di kampus UGM, BPLS (Prasetyo)

Mendeklarasikan Perubahan Mendasar Bencana Kebumian Lusi, menuju Paradigama Baru Dari Kontrobersi ke Solusi dari Bencana ke manfaatan, termasuk penjejakan Lusi menjadi GeoPark;

  • Tahun 2012: Evaluasi BPLS Badan Geologi KESDM,

Terbuka peluang Lusi sebagai Geopark dengan dukungan Biodiversity Pulau Lumpur dan Karifan Lokal (Culture Diversity) dari WanaMina (Wana=Bakau, Mina=Budidaya ikan, dan Pemberdayaan Masyarakat).

Slide17

Satu minggu yang luarbiasa dan saya berharap dapat segera untuk kembali ke LUSI
USULAN LUSI MENJADI GEOPARK UNESCO
Pokok-Pokok Testimoni

  • GeoPark Lusi sebagai suatu yang luar biasa dan merupakan resolusi yang kokoh
  • Lusi dekat Bromo, berhubungan dengan volkaik Arjuno-Welirang, dan dekat surabaya menciptakan lokasi geologi internasional yang unik untuk riset ilmiah
  • Dimensi lain Lusi dengan warisan budaya (Culture Heritage)

Candi mewakili Kerajaan Kuno dan hikayat lumpur pada masa lalu,

Lusi ciptakan mitos dan legegan cerita masyarakat setempat,

  • Menyaksikan keragaman hayati sepanjang Kali Porong dan Pulau Lumpur
  • Menyaksikan pariwisiata budaya yang bernilai (cultural tourism)
  • Testimoni: Usulan LUSI menjadi bagian Jaringan GeoPark Internasonal dan UNESCO, pandangan progresif tentang planet kita dan masa depan berkelanjutan (future sustainable)

Slide19

CATATAN TERSISA DI FACEBOOK

KUNJUNGAN ke LUSI PROF. DR, HASANUDDIN ABIDIN,

Mantan Wakil Rektor, Dekan FITB ITB Oktober 2015

(Sekarang Kapala Badan Informasi GeoSpasial)

  • Alhamdulilah Sabtu kemarin sempat Blusukan di kawasan Lumpur Sidoarjo bersama Waka BPLS Prof. Hardi Prasetyo dan Timnya.
  • Sampai juga di pulau Lumpur di muara Kali Porong.
  • Blusukan yang mencerahkan baik dari aspek ilmiah maupun aspek keadaban Sosial
  • Kalau dikembangkan dengan baik Lusi bisa menjadi Pusat Penelitian Mud Volcano berkelas Dunia.
  • Disamping itu kesatuan geosistem Lusi – Kali Porong – Pulau Lumpur bisa menjadi obyek GeoWisata alam yang menarik dan edukatif.
  • Semoga Pemerintah RI dan juga PemProv Jatim bisa melihat peluang-peluang yang dapat juga ikut menggerakkan roda ekonomi masyarakat ini.
  • Amiin YRA

Slide22

Tahap Awal : Peta Perjalanan GeoPark Lusi

  • 29 Mei 2006: Terjadi semburan lumpur panas di Sidoarjo (Lusi) dan masih berlanjut sampai hari ini.
  • Lusi berkembang menjadi suatu Bencana Kebumian semburan mud volcano yang terbesar di planet Bumi dan penuh misteri asal mulanya, serta paling komplek dalam penanggulangannya.
  • Semburan Lusi mud volcano sudah tidak dapat dihentikan dengan teknologi yang ada, dan akan berlangsung lama.
  • Postur dan perilaku semburan Geyser Lusi, dengan intensitas telah mengalami perubahan mendasar dari semburan yang dahsyat dan merusak (violence and destuctive eruption) intensitas ~100.000m3/hari. Menjadi semburan lebih terkendali dengan intensitas < 30.000m3/h.

Intensitas Deformasi Amblesan dengan pola peluruhan eksponensial dan GeoHazard menurun signifikan

Slide29

Normalisasi Kali Porong, BPLS Go to Sea, menghasilkan Pulau Lumpur satu satunya di dunia pulau hasil reklamasi pada kondisi Darurat Bencana,

Slide28

Pemanfaatan Lumpur Lusi bukan sekedar Wacana! Telah digunakan sebagai campuran untuk Memecahkan REKOR DUNIA/MURI Melukis cepat dilaksanakan di Lusi (Siring), Pelukis Hollis Satriawan (Maret 2013)

Slide27

Penanggulangan Bencana Lusi melalui Paradigma Kebijakan menghasilkan beberapa wilayah terdampak, disatukan pada GeoWisata dan Geopark LUSI.

Slide26

Transisi dari TIMNAS PSLS sebagai kepala Dr. Ir. Basuki Hadimuljono, buku: LUPSI PELAJARAN DARI SEBUAH BENCANA, ke BPLS dengan  buku: LUPSI HARAPAN, REALITAS DAN TANTANGAN

Slide25

Promosi Penanggulangan Bencana Lusi yang Unik dan Kontroversi sambil Mengembangkan konsep dan implementasi GeoWiata-Geopark Lusi

Slide24

Evolusi Lusi Dari Mud Volcano dari suatu volkanisme sedimen menjadi Induk sedimen sistem hidrotermal dalam berhubungan dengan busur volkanik.

Slide23

Mengelola Kontroversi Penyebab dan Pemicu Lusi menjadi Kebersamaan Mencari Solusi yang holistik.

Dengan Rasio Sukses dapat melaksanakan SIMPOSIUM ILMIAH INTERNASIONAL LUSI, 25 MEI 2011 DI LUSI DAN SURABAYA

Slide09

Slide12

 

 

 

 

DINAMIKA 2006-2013: KEBIJAKAN SPIRAL, 10 TAHUN MENGASUH LUSI

Oktober 11, 2017

00SPIRAL-BIJAK

Kebencanaan yang membentuk pola spiral.

Dari aspek kebencanaan Lusi (2006- 2013), terdapat perulangan interval membentuk spiral, dengan indikator: (1) Terjadinya pengendali mekanisme kebencanaan (semburan, luapan, deformasi, dan lingkungan); (2) Gejolak sosial kemasyarakatan dengan efek dominonya; (3) Tahap pengkajian secara komprehensif oleh Pemerintah terhadap anaslis resiko bencana, dan (4) Kebijakan baru pemerintah terkait. Sehingga sebagai kesimpulan selama ini tidak ada kebijakan Pemerintah terkait Penanggulangan Lusi, yang tidak diawali dengan Gejolak Sosmas, atau lebih populer dikenal sebagai “Tiada Hari Tanpa Demo Lusi”.

INSPIRASI EVOLUSI: POLA SPIRAL PENGENDALIAN BENCANA, GEJOLAK SOSMAS, DITERBITKAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN (TIMNAS-BPLS)

SERI MENGASUH LUSI 10 TAHUN

DINAMIKA LUSI JULI 2013,

Dikonteribusikan Hardi Prasetyo

Waka BPLS

AKAN DILENGKAPI ILUSTRASI:

BENANG MERAH

03peran

Masalah Mendasar.

Masalah mendasar yang dihadapi BPLS adalah berlanjutnya gejolak sosial kemasyarakatan (GKM) di dalam PAT. Terutama dipicu oleh kondisi dimana walaupun telah 7 tahun umur semburan Lumpur Sidoarjo (Lusi).

Namun pembayaran cicilan tahap akhir jual beli tanah dan bangunan (JBTB) oleh pihak Minarak Lapindo Jaya (MLJ) masih juga belum dapat dituntaskan. Walaupun penuntasan telah berada pada posisi tersisa sekitar 18% dari keseluruhan komitmennya.

Posisi terakhir dari komitmen pihak MLJ, adalah cicilan akan dibayarkan pada bulan Mei 2013. Keseluruhan penuntasan diharapkan pada tahun 2013.

Namun sampai awal Juli 2013, cicilan yang sangat diharapkan warga PAT belum juga mengalir. Implikasi masalah keamanan.

Sebagai implikasi dari masalah mendasar tersebut, selanjutnya telah memicu terjadinya gejolak sosial kemasyarakatan sampai pada tingkat pendudukan wilayah kerja disertai tindakan anarkis (perusakan asset BMN dan penjebolan tanggul agar menimbulkan bahaya baru).

Sehingga pada akhirnya wilayah kerja BPLS di dalam PAT telah diduduki warga tertentu. Namun ketika sudah dapat dibuka kembali, para pegawai lapangan baik BPLS atau mitra kerja, masih merasakan tidak sepenuhnya aman dan nyaman.

Oleh karena itu, masalah keamanan melalui satuan Pam Internal BPLS menjadi bagian penting. Termasuk pemberdayaan dukungan dari aparat Polisi, baik berperan sebagai bagian kerangka institusi Dewan Pengarah BPLS, maupun suatu miniatur dari Obyek Vital Nasional (Obvitnas Lusi).

Peningkatkan dukungan Polisi ke BPLS.

Dalam upaya mencegah terjadinya bencana baru di PAT, pihak kepolisian telah meningkatkan komitmen dukungannya kepada BPLS. Sehingga melalui suatu upaya khusus, dengan tetap mengedepankan aspek pemberdayaan masyarakat (empowerment society), akhirnya wilayah kerja BPLS di bagian timur, Reno P42 dapat diaktifkan kembali.

BPLS berpendapat tuntaskan pembayaran. Terhadap gejolak sosial kemasyarakatan yang terus bergulir di dalam PAT yang telah masuk tahun ke 7, dan memberikan implikasi negatif baik fisik maupun moril. maka BPLS tetap berpendapat bahwa solusi mendasar adalah, bila pembayaran cicilan tahap akhir oleh MLJ dapat di tuntaskan.

Untuk itu BPLS dalam batas-batas kewenangannya sebagai Badan Pelaksanana, secara proaktif turut mendorong instansi terkait. Agar dapat dilakukan suatu upaya dan langkah terobosan agar pembayaran cicilan sesuai komitmen MLJ dapat dituntaskan.

Kemajuan Signifikan:

Berdasarkan kondisi di atas maka dua dari keseluruhan kemajuan signifikan yang patut diangkat adalah:

(1) Dalam situasi kurang kondusif, BPLS tetap mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), dari hasil audit BPK pada APBN 2012;

(2) Wilayah kerja BPLS di PAT melalui beberapa upaya khusus dengan dukungan dari pihak keamanan (Polri dan TNI) telah dapat dinormalisasikan. Sehingga potensi bahaya baru dapat dihindarkan, dan pengaliran lumpur ke Kali Porong dapat dilanjutkan.

Kebencanaan yang membentuk pola spiral.

Dari aspek kebencanaan Lusi (2006-2013), terdapat perulangan interval membentuk spiral, dengan indikator:

(1) Terjadinya pengendali mekanisme kebencanaan (semburan, luapan, deformasi, dan lingkungan); (2) Gejolak sosial kemasyarakatan dengan efek dominonya; (3) Tahap pengkajian secara komprehensif oleh Pemerintah terhadap anaslis resiko bencana, dan (4) Kebijakan baru pemerintah terkait. Sehingga sebagai kesimpulan selama ini tidak ada kebijakan Pemerintah terkait Penanggulangan Lusi, yang tidak diawali dengan Gejolak Sosmas, atau lebih populer dikenal sebagai “Tiada Hari Tanpa Demo Lusi”.

Rekor Gejolak Sosmas pada Kebencanaan.

AA-KESDM-1

Fenomena Lumpur Sidoarjo, secara tidak resmi memegang rekor. Dimana pada suatu fenomena kebencanaan geologi, telah diwarnai terjadinya gejolak sosial kemasyarakatan dengan, pola efek domino yang berlangsung paling lama.

Ketika pengendali mekanisme utama bencana yaitu semburan masih terjadi, dan berpotensi menimbulkan bahaya baru.

Namun upaya pemerintah untuk memulihkan sendi-sendi kehidupan masyarakat, justru dihadapkan pada gejolak sosial kemasyarakatan.

Dimana beberapa diantaranya secara langsung ditujukan untuk menghambat, dalam upaya menuju pemulihan dan pembangunan kembali.

Lusi akan berhenti lebih cepat.

Evaluasi hasil penelitian terkait kehidupan Lusi, maka berdasarkan pendekatan pergerakan tanah yang telah menurun intensitasnya secara eksponensial maka diprediksi ulang bahwa umur Lusi sampai pada tingkat terkelola (1000m3/hari) akan lebih pendek menjadi 10 tahun (Andreas) dan 11 tahun (Rudolph). Bila dibandingkan dengan pemodelan sebelumnya yang berkisar 25-50 tahun.

2. Isu Aktual Berdimensi Strategis Ke Depan

aakesdm4

Kebencanaan unik dan komplek:

Dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 14/2007 tentang BPLS yang telah dirubah sebanyak Lima kali, dan yang terakhir Perpres 33/2013 tanggal 8 Mei 2013.
Hal ini mengindikasikan bahwa Kebencanaan Lusi, berlangsung secara bertahap, komplek dan unik, serta belum ada referensinya di dunia. Sehingga diperlukan adanya lesson learn dan learning by doing.

Hal ini sangat kontras bila dibandingkan dengan kebencanaan alam lainnya yang konvensional (conventional disaster), sebagaimana yang telah diketahui secara baik di Indonesia. Seperti halnya gempabumi disertai tsunami, letusan gunung api, longsoran tanah, banjir dan lain-lain.

Disamping itu proses dikeluarkan kebijakan Penanggulangan Lusi memperlihatkan suatu siklus perulangan, yang keseluruhan memperlihatkan suatu bentuk spiral:

  1. Terjadi fenomena geologi, semburan, luapan, deformasi/geohazard, dan lingkungan;
  2. Terjadi gejolak masyarakat yang menuntut diperlakukan sama, yaitu masuk ke skema penganggulanan PAT. Disamping juga adanya kecemburuan sosial yang menuntut adanya persamaan perlakuan dan kebijakan seperti di luar PAT;
  3. Pemerintah Daerah/Pusat membentuk Tim Pengkajian untuk klarifikasi dan justifikasi. Dalam kaitan dengan pengendali mekanisme kebencanaan, dan tingkat dampak, serta saran terkait opsi kebijakan; dan
  4. Pemerintah Pusat melakukan pendalaman secara komprehensif dan integral. Dengan muara untuk pembuatan keputusan dan kebijakan, dilengkapi dengan payung hokum terkait. 
  5. Evaluasi untuk tahap pemulihan. Dalam rangka efektifitas penuntasan penanganan dampak sosial kemasyarakatan dan infrastruktur akibat luapan lumpur Sidoarjo (Lusi) menuju tahap pemulihan dan pembangunan kembali.

Bapel BPLS secara berkelanjutan melakukan evaluasi terhadap aspek-aspek:

Postur dan perilaku semburan dan kaitannya sebagai pengendali mekanisme kebencaan, yaitu semburan Lusi, luapan lumpur dan geohazard, dikomplemen dengan aspek lingkungan dan dinamika sosial kemasyarakatan.                         Hal ini diimplemantasikan, antara lain dengan menerapkan pendekatan Komprehensif, Integral dan Holistik.

Isu aktual.

AAesdm-3

Beberapa isu aktual yang memerlukan pemahaman secara komprehensif, dan sebagai alat bantu yang bernilai sebagai aktualisasi Renstra BPLS ke depan antara lain:

  1. BPLS berpendapat bahwa sumburan tidak perlu/tidak dapat dihentikan dengan teknologi yang tersedia. Pasca 2 (dua) Relief well sebagai teknologi unggulan pada industri migas, disamping sebelumnya  metoda snubbing unit, dan side tracking yang telah diterapkan (2006) namun tidak berhasil;

    Slide34

  2. BPLS bekerjasama dengan Lembaga Internasional terkait melalui Seminar Internasional Lusi ke depan (2011), telah berhasil menggulirkan suatu paradigma baru dari kontroversi penyebab dan pemicu semburan. Menjadi mencari suatu solusi ke depan yang lebih holistik.              Sehingga sebegitu jauh hasilnya dapat dirasakan, bahwa nuansa/atmosfer kontroversi yang mengemuka dikalangan para pakar kebumian di manca Negara, telah menurun drastis. Sehingga fokus para pakar kebumian dapat dialihkan ke pendalaman Anatomi dan Pengendali Mekanisme Semburan, serta antisipasi dampak geohazard ke depan;
  3. Pertanyaan mendasar lainnya adalah berapa lama kehidupan semburan Lusi (longevity), dimana studi terakhir dengan 3 (tiga) metodologi telah memberikan kisaran semakin yang lebih pendek yaitu antara 10-26 tahun, daripada yang diusulkan sebelumnya (25-50 tahun);
  4. Apakah fakta baru yang berkembang bahwa dominasi pengendali overpressure (overpressure driven) telah beralih menjadi tekanan gas (gas slug), sehingga terjadi perubahan mendasar terhadap perilaku semburan. Selanjutnya diikuti dengan penurunan intensitas luapan lumpur, akan dapat berlanjut secara eksponensial (exponential decreasing). Atau kemungkinan terjadi interval perulangan peningkatan kembali (recurrent interval)?;
  5. Apakah dari skenario optimis, hubungan atara fenomena penurunan secara kecepatan amblesan (rate of subsidence) eksponensial dengan rate of flow dan mode overpressure di bawah permukaan dapat stabil. Sehingga mendukung rencana pembangunan kembali infrastruktur termasuk jalan tol dan lain-lain, secara lebih nyaman dan dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi?.
  6. Pulau Lumpur merupakan bagian tidak terpisahkan dari sistem pengaliran Lusi ke Laut melalui Kali Porong. Telah tumbuh dan berkembang pada suatu sistem Delta Porong, yang secara historis merupakan Delta Progradasi yang sangat intensif. Bagaimana perspektif ke depan agar dapat mempertahankan fungsi Pulau Lumpur di samping membuka ruang untuk pemanfaatannya untuk kegiatan sosial ekonomi yang berkelanjutan. Berbasis kepada pendekatan perlindungan pulau kecil dan kawasan pesisir (small island and coastal zone protection), serta pelestarian keragaman hayati (biodiversity and environmental friendly)?
  7. Pasca jebolnya tanggul P68 pada April 2011, tercatat terdahsyat karena panjang jebolan mencapai 300m, telah menyebabkan dampak berganda mengalirnya Kali P68 melalui ujung jebolan di bagian barat, selanjutnya masuk ke Kali Ketapang. Sehingga menimbulkan sedimentasi baru yang memicu terjadinya banjir, dan aliran ke hilir menyebabkan land base pollution terutama pada daerah pertambakan. Perpres 14/2007 memberikan rujukan bahwa:

    a. Lumpur di alirkan melalui tanggul utama ke Kali Porong (ke selatan); dan

    b. Penanggulangan semburan dan luapan mempertimbangkan dampak lingkungan sekecil-kecilnya.

3. KemajuanSignifikan

Slide19

Pada kondisi umum saat ini yang dirasakan masih kurang kondusif, khususnya kegiatan di lapangan yang juga masih kurang nyaman. Namun patut menggembirakan karena terdapat beberapa kemajuan yang cukup signifikan.

Pada aspek kelembagaan terdapat kemajuan yang dinilai menonjol, yaitu:

Predikat WTP. BPK berdasarkan hasil audit terhadap APBN 2012, telah kembali menganugrahi BPLS dengan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), dimana kali ini tanpa catatan khusus;

Penyerapan APBN. Penyerapan Pagu APBN 2013 mengalami peningkatan cukup signifikan. Hal ini terutama dikontribusikan dengan telah implementasikannya Perpres 33/2013 tentang Perubahan Kelima atas Perpres 14/2007 tentang BPLS, yaitu untuk pembayaran jual beli tanah dan bangunan tahap 80% pada wilayah 66 RT di luar PAT lainnya. Disamping itu kegiatan pengaliran lumpur ke Kali Porong telah dapat berjalan, pasca terciptanya situasi keamanan wilayah operasi kapal keruk;

Organisasi Miskin Struktur. Struktur organisasi Bapel BPLS disertai dengan uraian kerja, telah diaktualisasikan kembali dengan prinsip semakin miskin struktur, kaya fungsi. Diselaraskan dengan dinamika Penanggulangan Lusi saat ini dan visi kedepan. Dimana BPLS sebagai suatu institusi ad hock suatu saat akan mengakhiri misinya, dengan scenario menuju akhir kiprah BPLS yang mulus, sebagaimana yang telah ditempuh oleh BRR-NAD Aceh;

Kode Etik dalam persiapan. Sesuai dengan paradigma reformasi birokrasi, telah disiapkan rancangan kode etik pegawai BPLS. Untuk memenuhi persyaratan bagi terciptanya suatu kelembagaan hasil reformasi kelembagaan yang lebih aktutabel dan kredibel,

Jalan Tol kembali ke Trase Awal. Trase relokasi infrastruktur sebagai dampak luapan lumpur, memasuki tahapan baru. Dengan telah ditetapkannya kembali oleh berbagai pihak yang relevan, dengan mengkaji ulang aspek tingkat pergerakan tanah dan geohazard. Dimana telah diputuskan bahwa jalan tol dapat kembali dibangun, sesuai rencana trase relokasi infrastruktur semula. Sebagai pertimbangan utama adalah telah terjadi perubahan mendasar tingkat deformasi saat ini. Dimana perubahan tersebut tercatat diawali sejak tahun 2010, dimana intensitas semburan-luapan lumpur dan khususnya deformasi tanah dan geohazard lainya telah mengalami penurunan yang drastis dan berlangsung secara eksponensial;’

Slide10

Tanggul Kedungbendo layak dibangun: Melalui kajian secara komprehensif, integral, dan holistik telah diputuskan bahwa pembangunan Tanggul Kedungbendo akan/harus dilakukan pada tahun 2013.  Hal ini mengingat dampak yang ditimbulkan oleh aliran langsung dari muara Kali P68 yang masuk ke Kali Ketapang, telah memberikan implikasi yang luas yaitu: (1) mencemari daerah aliran di hilir, dimana dimanfaatkan oleh para petambak; (2) menimbulkan banjir, karena sedimantasi yang signifikan pada beberapa bulan terakhir; dan (3) berpotensi konflik horisontal antara warga PAT yang menentang pembangunan tanggul dengan warga Kali Tengah yang terdampak banjir yang telah berlanjut;

Pulau Lumpur indikator menuju Lusi Cagar Geologi: Melalui berbagai kegiatan telah diaktualisasi mengenai fungsi dan peran penting dari Pulau Lumpur, yaitu: (1) Merupakan salah satu bagian dari keseluruhan wilayah kerja BPLS yang berfungsi untuk normalisasi Kali Porong dari hulu sampai muara, dan pengaliran lumpur dari outlet Kali Porong sampai ke bagian palung dalam Selat Madura. Menggunakan energi bebas yang dimiliki oleh Kali Porong sendiri; 2) Ibu Andiani dari Badan Geologi, KESDM, pada pertemuan khusus terkait Pulau Lumpur di BPLS secara informal telah menyampaikan pandangannya. Bahwa Pulau Lumpur dengan Wanaminanya dapat digunakan sebagai salah satu penopang dari beberapa persyarakatan pada skenario kedepan Lusi sebagai suatu “Geopark” atau Cagar Geologi; 3) Telah ditetapkan bahwa tahap perlindungan pulau kecil dan wilayah pesisisir dengan bakaunisasi terus dilanjutkan, antara lain dengan membuka peluang bagi publik untuk berpartisipasi. Disamping itu uji coba Wanamina akan dilanjutkan, antara lain dengan pilar pemberdayaan masyarakat setempat.

Slide12

Normalisasi Wilayah Kerja di PAT: Khususnya berkaitan dengan dimensi kewilayahan, hasil signifikan adalah keseluruhan wilayah kerja pengaliran lumpur ke Kali Porong, secara bertahap telah dapat dinormalisasikan kembali. Walaupun secara keseluruhan, BPLS masih belum dapat menjadi tuan rumah di keseluruhan wilayah kerjanya sendiri di dalam PAT. Khususnya wilayah zona tanggul penahan luapan lumpur di barat (Osaka-Jatirejo) seolah-olah menjadi ‘kekuasaan’ dari para warga yang menduduki wilayah tersebut. Antara lain diwujudkan dengan mendirikan bangunan gubuk, di atas tanggul (disebut vila biru). Sebagai implikasi, saat BPLS mendeklarasikan suatu kondisi ‘bahaya’ di sektor Siring-Pabrik Oksigen, disebabkan oleh naiknya secara signikan muka lumpur terhadap puncak tanggul penahan lumpur. Namun BPLS tidak dapat segera dapat melakukan langkah penangulanganpotensi bahaya baru. Karena masih harus melakukan upaya pendekatan kepada warga, dan mendapatkan dukungan keamanan dari pihak aparat kepolisian.

Kunjungan Prof. Wahjoe ke Lusi: Dinamika Juli 2013 salah satu hal strategis adalah terkait kunjungan Prof. Wahjoe Hantoro, dari LIPI, mengingat: (1) Sebagai pihak yang melakukan second opinion yang menyatakan wilayah trase relokasi infrastruktur aman. Dengan mencermati terjadinya suatu perubahan mendasar, dimana intensitas semburan dan luapan pada intensitas yang dapat dikendalikan. Khususnya kecepatan amblesan (subsidence rate) telah menurun secara eksponensial; 2) Mengunjungi Pulau Lumpur, selanjutnya menyatakan bakaunisasi diseputar Pulau Lumpur cukup signifikan dan kualitas air yang ada di sumur gali cukup baik untuk digunakan sebagai sumber air cuci dan masak; 3) Mengunjungi Lusi mud volcano Utara zona TAS P68. Selanjutnya juga mendukung bahwa Punggungan Akrasi P68 sebagai model mikro dari “Pegunungan Himalaya”. Sebagai hasil tumbukan lempeng kontinen Eurasia dan India; dan 4) Secara umum sepakat dan mendukung pandangan ke depan, Lusi mud volcano sebagai: a) Keajaiban dunia, b) Lokasi kunjungan wisata geologi kelas dunia, dan dapat dikaitkan dengan turisme Bromo-Lusi; dan c) Pusat keunggulan studi geologi umum dan mud volcano di Indonesia dan dunia, salah satunya adalah situs Punggungan Akrasi P68 sebagai miniatur Pegunungan Himalaya.

4. Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian

Antara Postur Lusi dan Pengelelolaan Resiko Bencana

Postur dan Perilaku semburan dan implikasi. Semburan terkadang 2 pusat, didominasi oleh semburan berlokasi sisebelah barat, disebut Bungsu. Pasca perubahan lokasi semburan Bungsu ke barat. Pola aliran banjir bandang dan aliran yang berlanjut lumpur halus terutama ke sektor Dome dan minor ke barat.

Jalur Anjungan Dome terputus. Sebagai benchmarking, di ujung utara Anjungan tempat yang biasa digunakan sebagai jalur untuk mendaki ke kawah baik bagi petugas BPLS atau Wisatawan, berulang kali telah mendapatkan “serangan” sehingga sementara saat ini tidak dapat digunakan lagi.

Pengelolaan Resiko Bahaya.

Potensi ancaman adalah:

1) Sektor Siring (merah), karena mendapatkan aliran lumpur halus berlanjug, sedangkan Tanggul telah mencapai ketinggian optimal, berulang kali ketinggian lumpur sudah peres, sehingga harus ditangani dengan memperdalam alur;

2) Sektor Jatirejo (kuning), merupakan akumulasi endapan lumpur dari utara, permukaan lumpur sudah tinggi dan telah dilakukan penanganan sementara dengan pembuatan bandwall; dan

3) Sektor Dome: saat ini merupakan daerah paling berlanjut mendapatkan “serangan’, namun resiko utama adalah mengancam operasi kapal keruk bila terjadi banjir bandang dan Anjungan suatu saat dapat limpas.

Mitigasi Potensi Bencana:

BPLS telah menyiagakan peralatan ekskavator long arm, khususnya secara berkelanjutan menangani potensi limpas di sepanjang tanggul Siring-Jatirejo.
Aktualisasi penempatan kapal keruk. Dari aspek pengelolaan resiko bahaya (risk disaster management) mau tidak mau dalam waktu dekat ini, perlu dipertimbangkan adanya reposisi target dan diikuti penempatan kapal keruk yang efektif. Dimana diprioritaskan untuk secara langsung mengantisipasi potensi bahaya utama, yaitu menangani endapan di Palung Jatirejo yang terus meninggi. Sehingga dapatmengurangi potensi ancaman bahaya sepanjang tanggul barat, yang mempunyai nilai strategis sebagai obyek infrastruktur vital (Rel kereta api dan jalan arteri). Sedangkan wilayah sekitar Dome, apalagi di Pond Reno dari pengelolaan resiko saat ini lebih rendah dan berjangka panjang (bila eskalasi ancaman berubah).

Relokasi infrastruktur – Masuknya kembali Jalan Tol pada trase awal

Pembangunan jalan tol lama sebagai dampak luapan lumpur, mengalami dinamikanya. Dimana opsi pemindahan ke barat dari trase awal dan keputusan untuk kembali pada trase tersebut terutama dikendalikan oleh terjadinya perubahan mendasar pada aspek land displacement, sebagaimana yang diuraikan pada road map di bawah ini.

Roadmap Rencana Relokasi Jalan Tol

Timnas Rancang Awal Trase Relokasi. Timnas menentukan Trase Lelokasi infrastruktur, sebgai dampak luapan Lumpur Sidoarjo di sebelah barat PAT 22 Maret 2007, mencakup: Jalan Tol merupakan kesatuan dengan jalan arteri, pipa PDAM, Jaringan Listrik, Rel KA;

Evalusi 3 Opsi: 2007, BPLS mengevaluasi 3 opsi trase relokasi infra, dengan tiga indikator: (1) Meminimalkan dampak Geohazard; (2) Memperhatikan aspek histori, sosial kemasyarakatan; (3) Mempertimbangkan aspek keekonomian;

Pilihan Opsi relokasi terpadu. 2008, BPLS menetapkan Trase Keseluruhan Relokasi, memilih 1 dari 3 Opsi yang sebelumnya telah di kaji.

Jalan Tol dan KA memisahkan diri. 2008-2009, Terjadi peningkatan deformasi/geohazard, atas dasar pertimbangan keamanan kontruksi, Jalan Tol dan Jaringan KA menyatakan akan memindahkan sesuai dengan pertimbangan masing-masing.

Perubahan mendasar Lusi dan deformasi. 2010, Terjadi perubahan yang mendasar terhadap perilaku semburan, luapan diikuti geohazard, secara umum terjadi penurunan intensitas yang dramatis.

Pembangunan jalan arteri. 2011, Pembangunan Jalan Arteri Porong-Gempol dilanjutkan 2012, Jalan Arteri dioperasikan, Pipa PDAM mulai persiapan konstruksi. Perpres 37/2012, terdapat tumpang tindih antara Rencana Trase Jalan Tol dan Peta Wilayah Tidak Aman.

Reevalusasi Trase Jalan Tol Aman. 2013, Konfirmasi terjadi penurunan gerakan tanah (land displacement) terutama amblesan secara eksponensial, pada angka yang sangat menurun. Reevaluasi Trase Jalan Tol Aman sehingga akan dibangun pada bagian tengah trase antara jalan arteri yang telah dioperasikan.

Pipa PDAM dalam konstruksi. 8 Mei 2013, Perpres 33/2013 dengan lampiran 10 peta, merevisi tumpang tindih daerah Tidak Aman dengan Trase Infrastruktur.

Klarifikasi Jalan Tol Siap Masuk Trase Relokasi Awal. 12 Juli 2013, pertemuan informal Geoteknologi LIPI (Prof. Wahjoe Hantoro) dan pihak Jasa Marga (Mulyadi) dengan pimpinan BPLS, mengklarifikasi hasil Second Opinion Lapi ITB dengan kesimpulan umum Geohazard Aman, Perpres 37/2012 telah direvisi dengan Perpres 33/2013 mencakup Peta Tidak Aman yang tumpang tindih dengan Trase Infrastruktur di sektor baratlaut. Status akhir menunggu aspek legal, pemindahan kembali trase. Direncanakan proses tender akhir tahun, dan Konstruksi tahun 2014, akan dioperasikan tahun 2015.

 Anatomi dan Pengendali Gejolak Sosial Kemasyarakatan

7 Tahun Gejolak Sosmas.

Mencermati kilas balik terhadap terjadinya gejolak sosial kemasyarakatan di Lusi umumya sejak tahun 2006, dan khususnya 1 Tahun belakangan ini (2012-2013).

Fenomena Lumpur Sidoarjo akan tercatat sebagai salah satu bencana alam di Indonesia maupun di dunia, dimana setelah 7 tahun sejak terjadinya pengendali mekanisme bencana semburan Lusi mud volcano, namun masih terus terjadi gejolak sosial kemasyarakatan (GSK).

Peraturan Presiden di awali Demo.

Slide29

Fakta juga menunjukkan bahwa hampir semua kebijakan Pemerintah terkait penanggulangan bencana dari Perpres 14/2007 tentang BPLS sampai Perpres 37/2012. Kecuali Perpres 33/2013, seluruhnya didahului oleh gejolak sosial kemasyarakatan (lihat dampak spiral).    

Sebagai contoh aktual, Peta Area Terdampak (PAT) 22 Maret 2007 disusun pasca pertemuan antara warga Ketua dan Dewan Pengarah Timnas PSLS. Dimana beberapa hari sebelumnya melakukan unjuk rasa yang cukup signifikan. Demikian pula dengan Perpres-perpres lainnya, sehingga fakta menunjukkan adanya perulangan interval yang diawali oleh pengendali mekanisme kebencanaan (semburan, luapan, deformasi-geohazard, dan lingkungan). Diikuti tuntutan warga agar wilayahnya dimasukkan pada skema PAT. Selanjutnya pihak Pemerintah membentuk Tim Kajian, diakhiri dengan dikeluarkan kebijakan terkait. Karena prosesnya merupakan suatu even-even tersendiri, sehingga dalam perjalanan waktu penyelesaiannya menjadi suatu totalitas.

Konflik horizontal.

Hal lain merupakan catatan tersendiri bahwa penanganan masalah sosial kemasyarakatan pada satu even, juga ditentang oleh kelompok warga lainnya, sehingga menjurus pada konflik horizontal. Contoh aktual adalah ketika warga 9 RT akan mendapatkan bantuan sosmas, namun ditentang oleh warga berdekatan yang tidak mendapatkan, sampai ancaman pada tindakan anarkis. Dan tetap mempertahankan pendirian sebelum wilayah tersebut juga mendapatkan.

Akhirnya gejolak ini baru berakhir saat Perpres 37/2012 dikeluarkan. Mendorong Gejolak Sosmas di PAT. Walaupun BPLS telah dapat kembali melaksanakan pekerjaan utama di PAT, yaitu pengaliran lumpur ke Kali Porong.

Hal ini untuk mendapatkan perhatian dari Pemerintah Pusat, maupun publik secara umum. Sebagai implikasi, warga PAT tertentu telah merencanakan kembali untuk mengulangi memblokade wilayah kerja BPLS di dalam PAT.
Komitmen Polisi mendukung Misi Nasional BPLS. Namun atas respon/inisiatif cepat dari Kepala Polres Sidoarjo sendiri dan jajarannya, melalui kombinasi pendekatan preventif dan persuasif langsung di lapangan. Sehingga sebegitu jauh kegiatan operasi pengaliran lumpur ke Kali Porong masih dapat berlangsung dengan normal. Namun para pekerja lapangan masih tetap merasakan kondisi lingkungan kerja di PAT yang masih kurang nyaman.

Pemerintah segera ambil alih. Secara konseptual upaya warga PAT yang didukung Pansus Lumpur Lapindo adalah untuk “manarik perhatian di lapangan” sebagai suatu posisi tawar. Dibarengi dengan menemui DP BPLS dan Kementrian Keuangan. Dengan tuntutan yang sepesifik, agar Pemerintah segera mengambil alih, sisa cicilan pembayaran pembelian tanah dan bangunan warga PAT yang sebelumnya menjadi tanggung jawab dari MLJ/Lapindo.

Untuk itu mereka menuntut agar Perpres yang terakhir yaitu No. 33/2013 tertanggal 8 Mei 2013 untuk dirubah kembali, dengan menetapkan ketentuan sisa pembayaran cash and carry oleh MLJ dapat ditanggung oleh Pemerintah. Namun, pada usulan ini juga mencakup keinginan agar kelompok industri (non-RT) juga dimasukkan padaskema pengambil alihan oleh Pemerintah tersebut. Sedangkan selama ini yang menjadi perhatian khusus pemerintah, sebagaimana tersurat pada PP 14/2007 adalah warga terdampak. Sedangkan kelompok industri penyelesaiannya yang telah berjalan menggunakan skema B to B.

Acuan Pemerintah Bisa ambil Alih.

Sebagai dasar pertimbangan dari tuntutan pengambil alihan oleh Pemeritah tersebut adalah:

(1) Pada Perpres 48/2008, disebutnya telah mengandung makna penanganan mitigasi bencana, yang diartikan Lusi mud volcano adalah suatu bencana, oleh kerena itu Pemerintah wajib untuk menanggulanginya. Sebagai catatan terhadap hal terkait, juga dilandasi oleh Vonis MA terhadap tingkat banding terkait Kasus Semburan Lumpur Lapindo (KSLL); (3) Pada Perpres 40/2009 tentang Perubahan Kedua atas PP 14/2007 tentang BPLS, dimana bagian penting terhadap perubahan Pasal 15, adalah menetapkan pengalihan tanggung jawab penanggulangan dan finansial terhadap upaya penanggulangan semburan dan pengaliran lumpur dari Tanggul Utama ke Kali Porong dari Lapindo ke BPLS

Menciptakan kondisi aman dan nyaman

Menciptakan kondisi aman dan nyaman. Salah satu tantangan aspek nonteknis yang dihadapi BPLS adalah “bagaimana untuk menciptakan suatu kondisi yang aman dan nyaman, pada wilayah kerja di dalam PAT yang terus mengalami GSK”. Sebelum pembayaran PTB warga di dalam PAT oleh Lapindo dapat dituntaskannya.

Wilayah kerja di PAT menyerupai Obvitnas LUSI.

Slide21

Dalam kaitan dengan aspek keamanan, secara defakto telah mengindikasikan bahwa wilayah kerja BPLS (WK- BPLS) di dalam PAT, pada hakekatnya mencerminkan model dari suatu Obyek Vital Nasional (Obvitnas Lusi).

Dimana secara sistem Pam Obvitnas berada di bawah payung Keppres No. 63/2002 tentang Obyek Vital Nasional.
Salah satu pilar dari Obvitnas adalah pemberdayaan Pam Internal yang dikelola oleh institusi terkait (BPLS). Apabila Obvitnas terkait (Lusi) mendapatkan gangguan keamanan, dengan intensitas yang berada di luar dari batas-batas kemampuan dari Pam Internal, maka jajaran Polri wajib memberikan dukungan pengamanan (Pasal 7, Kepres No. 63 tentang Obvitnas).

Batuan keamanan berbasis Organisasi DP BPLS.

Salah satu perbedaan dengan pola Obvitnas yang baku, maka pada sistem pengamanan wilayah kerja BPLS di dalam PAT yang diterapkan saat ini. Bahwa bantuan aparat keamanan Polri didukung TNI, terutama didasarkan oleh adanya struktur organisasi BPLS dipayungi oleh Perpres 14/2007 tentang BPLS. Dimana pada organisasi BPLS, di strata Dewan Pengarah, secara exofficio dijabat oleh Gubernur Jatim, Pangdam Brawijaya, Kapolda Jatim, dan Bupati Sidoarjo.

Sehingga pada situasi yang kurang terkendali oleh Pam Internal BPLS, jajajaran Polri didukung TNI mempunyai motivasi dan obligasi psikologis, untuk ikut mengamankan “wilayah kerjanya sendiri” sebagaimana dilandasi oleh Perpres 14/2007 terkait dengan organisasi Dewan Pengarah BPLS. Ke depan bila ancaman keamanan terus berada pada kondisi yang tidak terkandali oleh Pam Internal, dapat dijajagi untuk mengusulkan Wilayah Kerja PAT menjadi suatu Obvitnas di bawah sektor Pekerjaan Umum. Sebagai suatu rujukan, pada tahun 2007 KESDM mengelola 250 (dua ratus limapuluh) Obvitnas sektor ESDM.

Evolusi Penanggulangan Lusi: Perubahan Mendasar pengendali mekanisme, dampak, Kebijakan

Dalam rangka evaluasi secara komprehensif Penanggulangan Lusi masa lalu (Past) dan saat ini (Present) untuk perspektif ke depan (Future). Disajikan suatu ringkasan Evolusi yang disusun sebagai kilas balik (flash back) sepanjang 2012-2006 sebagai alat bantu yang bernilai (valuable tool) untuk penyusunan beberapa dimensi strategis ke depan, antara lain:

1) Fungsi dan Peruntukan, Lusi secara keseluruhan, mencakup Wilayah Penanganan Luapan Lumpur (PAT, di luar PAT, dan di luar PAT lainnya); dan 2) Skenario akhir masa bakti BPLS yang mulus (good ending BPLS scenario), diikuti prosedur time frame. Dengan model awal Berakhirnya BRR-NAD, dimana saat menyusun Perpres 14/2007 juga telah digunakan sebagai acuan utama.

KILAS BALIK DINAMIKA LUSI 2013 (PASCA PERPRES 33/2013) SAMPAI TAHAP TIMNAS PSLS (SEPTEMBER 2006)

2013:

AA-KESDM-2

Perpres 33/2013. Intinya merevisi rincian wilayah 66 RT di luar PAT lainnya sebagai wilayah tidak aman (WTA). Disamping itu mengatur aspek aset wakaf serta membuka ruang eskalasi pembayaran tahun berikutnya.

Gejolak sosmas. Masih mengemuka di dalam PAT. Sehingga jajaran Polri dan TNI, memberikan dukungan kepada BPLS untuk mengantisipasi potensi bahaya baru, dengan serangkian operasi diberi sandi Aggrek-OTW-Puasa. Sehingga operasi pengaliran lumpur kembali dapat dilaksanakan.

Perubahan tuntutan Warga. Dengan didorong oleh Pansus DPRD, agar Pemerintah dapat mengambil alih sisa pembayaran oleh Lapindo yang dinilai sudah kurang mampu. Dengan mengacu Perpres 48/2008 dan Perpres 40/2009.

Tiga publikasi. Aspek Deformasi tahun 2013 (Watkin, Rudolph) mengkonfirmasi: 1) Intensitas amblesan telah menurun signifikan secara eksponensial; 2) Semburan Lusi akan berhenti lebih pendek dari perhitungan sebelumnya, tahun 2017 diperkirakan 1000m3/hari (Rudolph).

Deformasi menurun drastis. Pihak PT Jasa Marga telah memutuskan untuk masuk kembali ke trase relokasi infrastruktur, pasca kondisi dinilai aman.

Pandangan ke depan Lusi sebaga. Keajaiban Dunia. Lokasi Kunjungan Wisata Internasional, Pusat Unggulan Studi mud volcano di Indonesia dan Dunia semakin nyata.

Kerjasama Riset Lusi. Dibawah kerangka Lusi Research Network dan Humanitus Sidoarjo Fund telah dilakukan kegiatan penelitaian ilmiah, pada bulan Juni telah diluncurkan program beasiswa dan post doct (Mazzini), dan pada Juli ini akan diluncurkan 2 makalah ilmiah di Jerman (HSF)

2012:

Slide44

Perpres 37/2012. Intinya menentukan wilayah 65 RT sebagai wilayah tidak aman berdasarkan kajian Tim Terpadu. Penentuan WTA didasarkan pada tiga parameter, yaitu geohazard sebagai indikator utama, dan didukung indikator lingkungan dan dinamika sosial kemasyarakatan. Selanjutnya dilaksanakan bansos dan uang muka pembelian tanah dan bangunan.

16 April 2012. Tercatat sebagai hari pertama terjadinya Geojolak Sosial Kemasyarkatan di dalam PAT, dlakukan dengan penutupan jalan, pendudukan wilayah kerja BPLS di PAT, tindakan anarkis. BPLS melakukan “Opersi Khusus” secara tertutup. 28 Desember wilayah kerja BLS sebagian dibuka kembali.

Uji materi. Di Mahkamah Konstitusi terhadap UU APBN 2012 terkait dana untuk BPLS (pengaliran lumpur dan sosial kemasyarkatan di Luar PAT) telah diputuskan tidak dikabulkan, sehingga mempunyai kekuatan hukum tetap. Progam dapat digulirkan kembali pada 2013. 

Kompleksitas dimensi kewilayahanMulai dikaji untuk mendapatkan perspektif What Next LUSI? Dimensi kewilauahan Lusi yang komplek, termasuk sebagai wilayah Kontrak Kerjasama Migas Blok Brantas, wilayah utama dampak luapan lumpur (PAT, di luar PAT), dan wilayah pendukung (Pangaliran lumpur di Kali Porong, dan relokasi infrastruktur). Kesemuanya mempunyai status dan fungsi yang berbeda-beda, sehingga perlu klarifikasi dan pengintegrasian menjadi suatu sistem terpadu. 

Hal yang menggembirakanBahwa berdasarkan hasil dari tim ITB antara lain dipublikasikan oleh Andreas, telah diindikasikan bahwa telah terjadi perubahan mendasar dimana intensitas amblesan telah menurun secara eksponsial. Karena geohazard terkait semburan, maka penurunan amblesan diperkirakan akan memperpendek umur semburan Lusi. Umur semburan terkendali 10 tahun. Semakin mengkristal pandangan Lusi mud volcano sebagai suatu sistem dalam (deep system mud volcano) yang dipengaruhi oleh sistem aliran air panas (hydrothermal) dari Gunung Magmatik Penanggungan-Welirang yang ada di selatannya.

2011

Slide09

Perpres 68/2011. Intinya untuk menuntaskan penyelesaian masalah sosial 9 RT dengan status Daerah Tidak Layak Huni (DTLH). Disamping mengamahkan membentuk Tim Terpadu, untuk melakukan kajian wilayah 54RT di luar PAT.

Tahun Rekonsiliasi. terhadap kontroversi penyebab dan pemicu Lusi, serta apakah Lusi dapat atau perlu di hentikan.

HUT Lusi ke 5. BPLS bersama dengan NGO Australia HSF, telah menggelar even khusus Simposium Lusi ke depan. Dimana tercatat sebagai yang pertama di Indonesia dapat menghadirkan para pakar kebumian yang sebelumnya berseberangan pandangan tentang Lusi dipicu pemboran sumur eksplorasi Banjar Panji-1 dan dipicu oleh gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006.

Para peserta bersama-sama naik gunung Lusi. Menyaksikan sendiri adanya perubahan mendasar postur dan perilaku semburan dimana disepakati intensitas semburan sekitar 15.000-25.000m3/hari. Sebelumnya umumnya digunakan sekitar 70.000-100.00m3/hari;

Hardi Prasetyo (BPLS) telah menganugerahkan Lusi Library Award: Kepada masing-masing Prof. Tingay (kontributor pertama), Prof. Davies dan Dr. Mazzini (masing-masing kontribotor 5 artikel Lusi); dan Davies menentukan perkiraan kehidupan Lusi 26 Tahun.

Andreas. Mempublikasikan artikel deformasi LUSI: 1) Setelah 4 Tahun kecepatan amblesan menurun indikasi akan berhenti; 2) 10 tahun diperkirakan akan berhenti; 3) 20 tahun semburan dapat diabaikan.

Terbentuk miniatur Himalaya. April 2011 tanggul P68 di utara Lusi jebol sangat dahsyat panjang 300 m, dipicu oleh pembentukan Punggungan Akrasi panjang 300m, merupakan lembar-lembar bekas rumah warga dan jalan dessa yang terangkat sampai tinggi 25m. Berdasarkan geodinamikan dinalogikan sebagai Himalaya, hasil tumbukan lempeng litosfera.

2010:

Arah kebijakan Presiden RI. Pada kunjungan Presiden RI ke Lusi, telah disampaikan arah kebijakan:

1) Badan Geologi KESDM melaporkan kabar gembira, bahwa intensitas semburan telah berubah drastis menjadi sekitar 25.000m3/hari. Sedangkan tahun-tahun sebelumnya sebesar 100.000 m3/hari dengan material utama didominasi oleh air melalui kali-kali radial; 2) Pulau Lumpur di kelola berbasis kepedulian lingkungan, dan dimanfaatkan untuk usaha ekonomi, yang hasilnya dapat digunakan mendukung pengaliran lumpur ke Kali Porong.

Perubahan mendasar ke dua. Melandasi Paradigma Baru Kebencanaan Lusi. Perubahan pertama Juni 2008 pasca terjadinya sudden collapse di Pusat Semburan, sistem pengaliran harus berubah total.

Analogi dengan Bleduk Kuwu. Pola semburan bersiklus geyser. Perkembangan Lusi sebagai mud volcano dianalogikan dengan Bleduk Kuwu.

Optimalisasi pengaliran Lusi. BPLS meningkatkan penanggulangan Lusi dengan mengoptimalkan sistem pengaliran Lumpur ke Laut melalui Kali Porong, antara lain dengan meningkatkan kinerja kapal keruk serta pendukungnya, normalisasi Kali Porong dari hulu ke hilir termasuk menyempurnakan Pulau Lumpur sebagai hasil reklamasi.

Gejolak Sosmas warga 45 RT. Deformasi berupa bubble dengan bualan gas metan masih bermakna, diikuti gejokan masyarakat dengan tuntutan daerah 45 RT juga dimasukkan ke sekema penanganan di luar PAT seperti halnya 9 RT. Bahkan hampir terjadi konflik horisontal.

Perubahan mendasar diglobalkan. BPLS diwakili Hardi, pada simposium Internasional Kebencanaan Alam di kampus UGM, telah menyampaikan suatu deklarasi terhadap Perubahan Mendasar dan Paradigma Baru Penanggulangan LUSI.

Lahirnya Lusi Library: 8 April 2010, dilahirkan Lusi Library:Knowledge Management sebagasi salah satu media pendidikan publik terkait Lusi mud volcano, yang tandem dengan IT BPLS. Sekaligus memainkan peran “Cyber War” dalam arti positif. Untuk membangun wacana publik yang kondusif guna mengurangi kontroversi berkepanjangan dan telah tidak sehat terkait penyebab dan pemicu semburan Lusi antara pemboran dan gempabumi. Akhirnya para pakar Kebumian yang peduli terhadap Lusi mud volcano, menjadi kontributor aktif diwakili dengan Prof. Tingay (Australia), Prof. Davies (UK), Dr. Mazzini (Norwey), Prof. Silver (USA).

From Russian with Lusi. Pasca diluncurkannya film dokumeter Mud Max Lusi di Museum Sydney, Australia. Digulirkan From Russian With Lusi, BPLS (Hardi) melakukan Roadshow ke Moskow-Sant Petersburg-Singapur-Jakarta. Dismping itu dapat menghadirkan Tim Peneliti mud volcano dari Rusia untuk bertemu dengan Dewan Pengarah BPLS. Sehubungan temuan dua mud diapir di sekitar Lusi.

2009:

Slide1

Perpres 40/2009. Intinya mengatur: 1) 9 RT di luar PAT mendapatkan bansos dan dikosongkan paling lama 2 tahun; dan 2) Tanggung jawab terhadap upaya penanggulangan semburan dan pengaliran lumpur dari Tanggul Utama ke Kali Porong dialihkan dari Lapindo ke BPLS.

BPLS jadi tuan rumah di PAT. BPLS memegang kendali pengaliran Lumpur ke Kali Porong, menggunakan pilar utama Kapal Keruk dan pompa booster sampai ke outlet. Selanjutnya lumpur dialirkan secara alami ke hilir. Untuk itu Kali Porong dari hulu ke hilir dinormalisasikan dan Pulau Lumpur sebagai hasil reklamasi di muara, digunakan untuk mengarahkan agar lumpur dapat masuk ke Palung Dalam.

Serangan di Tanggul Cincin. Implikasi pusat semburan bergeser ke timurlaut dengan intensitas tinggi rata-rata 70.000-100.000m3/hari, pasca runtuh di Tanggul cincin, dan kemampuan Lapindo untuk mengalirkan lumpur semakin menurun.

Nasib Tanggul Cincin Berakhir. Mei 2009 Tanggul Cincin dinyatakan Runtuh Selamanya. Selanjutnya terjadi perubahan mendasar pertama bahwa Lusi mud volcano akan berkembang secara lebih alami. Fenomena berakhirnya fungsi Tanggul Cincin, pasca terjadinya jebol Tanggul di P44 yang demikian besar seperti P68 saat ini. Sehingga akhirnya sistem penanganan semburan dengan

prinsip contra hydrostatic pressure dan pengaliran lumpur melalui pengendaliandi Tanggul Cincin berakhir.

Deformasi sebagai pemicu gejolak sosmas. Deformasi geologi, terutama amblesan dan bubble memperlihatkan peningkatan. Seiring terjadinya gejolak sosmas menuntut agar 9 RT di luar PAT dimasukkan ke Peta terdampak seperti sebelumnya 3 Desa diluar PAT. Gubernur Jatim membentuk Tim Terpadu pengkajian dampak geohazard terkait.

Publikasi kontroversi Lusi meningkat. Pasca debat Lusi di forum internasional AAPG di Afrika Selatan (Oktober 2008) Penerbitan ilmiah terkait kontroversi pemicu semburan antara pemboran dan gempa bumi semakin meningkat, antara lain suatu Kapeta Selekta di majalah Marine Petroleum Geology antara lain Davies, Mazzini, Manga, Sawolo, Rubiandini dan Istadi.

2008:

Puncak Kontroversi semburan Lusi. 2008 Ditentukan sebagai masa Pucak Kontroversi penyebab dan pemicu Lusi, sampai di forum internasional.

Lahirnya Perpres 48/2008. 3 Desa di luar PAT ditentukan sebagai daerah efisiensi pangaliran lumpur ke Kali Porong. Pertama kalinya BPLS melakukan sendiri penanganan masalah sosial kemasyarakatan di luar PAT, dengan skema Bansos diikuti pembelian tanah dan bangunan, warga terdampak dengan skema 20% dan 80%. Terjadi perubahan kepemilikan menjadi BMN.

BPLS melakukan Mitigasi Bencana. Semburan dan luapan lumpur dan deformasi di dalam PAT meningkat, terindikasi kemampuan finansial Lapindo untuk melakukan penanggulangan semburan dan pengaliran lumpur menurun. BPLS mulai melakukan mitigasi bencana, dengan menempatkan pompa booster di P42-P43. 

Pengungsi Jalan Tol Lama. Adanya hujan ekstrim dan kendala pengaliran pasca pusat semburan mengalami ambles, terjadi Jebol Tanggul P40, disertai lumpur encer dingin terutama kearah Desa Besuki, Kedungcangkring, dan Pejarakan. Terjadinya pengungsian di Jalan Tol Lama dari P41 keselatan. Diikuti dengan Gejolak sosmas menuntut Pemerintah memperlakukan seperti PAT.

Lusi seperti Candi Borobudur. Semburan dan Luapan terus berlanjut dengan intensitas tinggi, pada 29 Mei 2008, terekam Pusat Semburan dikelilingi oleh Tanggul Cincin yang berlapis, kenampakan seperti halnya Candi Borobudur. Dengan ketinggian dan lebar yang mencapai titik optimal.

Runtuh seketika Terjadi Perubahan Mendasar. Awal Juni 2008 terjadi deformasi yang dahsyat di Pusat semburan, sehingga terjadi ambles seketika sebesar 4m dalam 1 malam. Bagian mulut Pusat semburan menjadi condong ke utara.

Migrasi ke Kanal Timur. Pengaliran lumpur dari Tanggul Cincin ke selatan (Intake) melalui Kanal Barat di Tanggul Utama, mengalami kendala. Sehingga harus dipindahkan ke Kanal Timur, dengan penampungan di P41.

Publikasi Deformasi Lusi. Prof. Abidin (ITB) menerbitkan makalah ilmiah topik deformasi Lusi, yang selanjutnya menjadi acuan terhadap postur, perilaku gerakan tanah dampak semburan dan luapan lusi. Dikaitkan dengan perspektif Lusi ke depan.

Dari Porong ke Afrika Selatan. Kontroversi pemicu semburan oleh pemboran dan gempabumi berlanjut, dilaksanakan diskusi nasional di Surabaya (Februari 2008) dan Internasional pada Pertemuan Tahunan AAPG di Capetown. Soffian Hadi hadir di forum tersebut, dan Hardi Prasetyo menyelesaikan Kajian Wargame Debat Lusi, menyusun 5 dokumen, termasuk perkiraan keadaan.

2007:

Slide08

Lahirnya BPLS. Pemerintah 8 April membentuk BPLS menggantikan Timnas PSLS dengan payung hukum Perpres 14/2007, tentang BPLS dan PAT 22 Maret sebagai lampiran batas Wilayah Terdampak. Pasal 15, mengatur pembagian tanggung jawab, upaya penanggulangan semburan, pengaliran lumpur ke Kali Porong melalui Tanggul Utama (BPLS mengawasi dan mengendalikan), dan penanganan sosmas di dalam PAT oleh Lapindo, dengan pola cash and carry, BPLS mengawasi dan terlibat pada verifikasi dokumen awal.

Lahirnya PAT. 22 Maret 2007, Timnas PSLS menetapkan Peta Area Terdampak terutama atas dasar wilayah terkena luapan lumpur dan deformasi patahan dan geohazard, khususnya fenomena patahan dan retakan di Renokenongo (timur Lusi mud volcano). Penentuan ditentukan secara bottom up, mengikuti sertakan pimpinan wilayah dari RT sampai Bupati.

Gejolak Sosmas dorong kelahiran PAT. Kegagalan Relief Well untuk menghentikan semburan dan meningkatnya Pengungsian di Pasar Baru Porang, sehingga gejolak sosial kemasyarakatan terus mengemuka;

BPPT menyatakan Lusi sebagai Bencana Alam. Kontroversi pemicu semburan antara pemboran dan gempa meningkat. Simposium Lusi di BPPT, danpembacaan hasil oleh Kepala BPPT telah menetapkan Lusi dipicu gempabumi merupakan fenomena alam. Publikasi ilmiah terkait semburan dipicu gempabumi (Mazzini) dan pemboran (Davies) diterbitkan, mengukuhkan kontroversi.

Tanggul Cincin, Tanggul Utama, Kali Porong. Semburan dengan kick lumpur dan wave pada kawah Lusi dikelilingi Tanggul Cincin terus berlanjut. Pengaliran berlanjut melalui Kanal Barat dari Tanggul Utama, ditampung di Intake, dipompakan ke Kali Porong.

Migrasi deformasi dari Reno ke Siring. Deformasi terutama subsidence dan bubble beralih ke barat Siring.

Insersi bola-bola beton, Relokasi Pipa Gas ke Timur. BPLS mengevaluasi bahwa insersi bola-bola beton yang saat itu belum tuntas, sulit untuk dilanjutkan. BPLS memahami rencana Relokasi pipa gas yang tidak berfungsi, untuk pindah kearah timur dari rancana pada relokasi menyeluruh karena alas an dampak deformasi dan kebutuhan yang mendesak.

2006:

Slide38

Lahir dan berakhirnya Timnas PSLS. Pemerintah 8 September 2006 membentuk Timnas PSLS dengan masa kerja 6 bulan, untuk upaya menanggulangi semburan, tangani luapan lumpur, dampak sosial kemasyarakatan dan infrastruktur.

Lahirnya Lusi. Semburan Lusi sejak lahir 29 Mei 2006 terus menunjukkan peningkatan dengan intensitas 5000-50.000-100.000m3/hari sehingga pada November pernah mencapai angka 180.0003/hari (rekor yang belum terpecahkan) bila dibandingkan tahun 2013 sekitar 15.000 m3/hari.

Tanggul Cincin, Tanggul Utama. Mulai dibangun tanggul cincin di Pusat Semburan. Pengaliran lumpur encer panas dilakukan secara mekanik dengan mengalirkan lumpur ke Kali Porong melalui Kanal Barat di Tanggul Utama. Dari Intake ke Grundfost, didinginkan dan dipompa ke Kali Porong. Deformasi yang langsung terjadi terutama di timur Lusi adalah patahan dan rekahan di Reno Kenongo.

Senjata Pamungkas Relief Well, Gagal. Upaya penanggulangan semburan mencapai puncaknya dengan dilakukannya upaya menghentikan semburan dengan 2 sumur Relief Well, namun tidak berhasil. Dilanjutkan dengan insersi bola-bola beton, untuk mengurangi intensitas semburan.

Kontroversi dan Proses hukum. Berkembang Kontroversi penyebab dan pemicu semburan antara underground blowout dan gempabumi Yogyakarta. Umumnya media menyalahkan kegiatan pemboran sumur BJP-1. Polda Jatim melakukan proses penyelidikakan terhadap kasus Lumpur Lapindo, namun SP3.

Pengungsian Lingkungan yang besar. Terjadi pengungsian besar-besarn terutama dipusatkan di Pasar Porong Baru dan di Kantor Desa Reno Kenongo.

Pahlawan Lusi. Deformasi amblesan, tanggul penahan lumpur jebol, pipa gas pecah menimbulkan bencana, 14 orang meninggal dunia. Pasca jalan tol terputus dan infrastruktur energi menjadi tidak dapat difungsikan, diputuskan trase relokasi infrastruktur secara menyeluruh ke arah barat.

DERU HUNTER-1 CAMPUR DEBU DI KEDUNGBENDO, UTARA LUSI

Oktober 9, 2017

 

Slide01SERI 10 TAHUN MENGASUH LUSI

MENGUNJUNGI LUSI
LIBURAN MINGGU 8 OKTOBER 2017
BAGIAN 1:
DERU HUNTER-1 CAMPUR DEBU DI KEDUNGBENDO, UTARA LUSI

Mengembangkan Peta Digital, Interaktif berbasis Google Earth Pro & One Note (MacBookAir)

Integrasi Peta Citra dan Foto

Dikontribusikan oleh: Prof. Dr. Hardi Prasetyo

Mantan WAKA – PLT Kepala BPLS (2007-2017)

Didukung Tim Lapangan PPLS

AA-KESDM-1

Kerja Smart dan Kerja Gotong Royong, melaksanakan Misi Nasional Penanganan Bencana Lusi TIMNAS-BPLS-PPLS

Postur Lusi pada musim Kemarau Panjang termasuk Relokasi Infrastruktur di sisi barat PAT yang dirancang sejak 2007, saat ini sedang berlangsung (terlambat) pembangunan Jalan Tol Ruas Porong-Gempol di tengah Jalan Arteri yang telah dioperasikan, diambil dari Google Earth Pro, Citra 17 Juli 2017.

Slide03

KUNJUNGAN LIBURAN HARI MINGGU 8 OKTOBER 2017 KE LUSI (Siang-Senja)

  • Mengunjungi Kantor Lapangan Pembangunan Pond Kedungbendo di sisi timurlaut Tanggul Ketapang. Dirancang sejak tahun 2015 pasca Tanggul Ketapang P3 dan P67 Jebol (2016).
  • Deru Hunter-1 dand Debu di Layar-3 Tanggul Ketapang dari barat sampai di P67;
  • Pengamatan Pendahuluan Kondisi Umum Pintu Masuk segitiga Osaka (Siap Masuk)
  • Mengunjungi GeoKuliner Cangkul, melihat kemajuan jumlah Pengunjung, peta jalan usulan Geowisata-GeoPark LUSI.
  • Memantau sekilas Kemajuan Pembangunan Jalan Tol Ruas Porong-Gempol, bagian dari Tugas BPLS melaksanakan Relokasi Infrastruktur dirancang tahun 2007. Tersisa Rel Kereta Api, pending sampai 2020?
  • Mengunjungai Pos “Lentera” di Zona Siring (Barat), sisi timur dari Kawasan “Sun City”, sebagai BMN telah ditetapkan BPLS awal tahun 2016 untuk dimanfaatkan bersama Pos BA (Tengah) dan Pos PGN (Timur)
  • Mementau Postur dan Perilaku Geyser Lusi di Zona Barat (Siring), Utara (Hawai), Timur (Reno). Mendalami perilaku semburan dan luapan lumpur dari Lusi Sulung dan Bungsu. Mencoba Mud spa dan air panas.

Melakukan Klarifikasi atas Makalah di Publikasi terkait karakteristik 4 Tipe semburan Geyser Lusi (Karyono 2017).

–Berhasil membedakan 2 keluaran dari Geyser Sulung dan Bungsu yang berbeda, pasca Semburan.

–Memastikan fenomena aliran lumpur pekat mode “density current” dari Semburan Sulung menggenangi Pond Reno Utara-Tengah, dihasilkan dari Geyser Sulung. Mempercepat Pendangkalan Pond Reno Utara.

KUNJUNGAN LIBURAN HARI MINGGU 8 OKTOBER 2017 KE LUSI : Aspek Kearifan Lokasl

  • Melihat Rumah Contoh Lumpur Lusi” di belakang Bangunan Embrio Museum GeoPark Lusi, sudah sampai tubuh bangunan dengan bata merah dengan pola yang sama dengan bangunan Museum. Diasumsikan RC2L ke dua di Green House dalam perkembangan yang sama.

Rumah Contoh dari bahan “Lumpur Lusi” di sisi timur Embrio Museum Lusi

  • Melihat kemajuan Pembangunan “Unit Produksi Lumpur Lusi”. Dengan Opsi merevitali bangunan Lama yang belum sempat dioperasikan di belakang SD Mindi. Saat dibahas Proposal Awal Rencana berlokasi di sisi timur P41.

 

  • Melanjutkan penetapan aspek Kearifan Lokal: Lusi home stay (Publik), Tugu 17 Pahlawan Lusi

ALBUM SERI KEDUNGBENDO:

Slide08

Slide09

Slide10

Slide11

Slide12

Slide13

Slide14

Slide15

Slide16

Slide17

Slide18

Slide19

Slide20

Slide21

Slide22

Slide23

 

 

LUSI DARI SEMBURAN MERUSAK SAMPAI HIDUP HARMONI DENGAN BENCANA

Oktober 1, 2017

Gambar Mengungkapkan Seribu Kata!

Slide1

Dikontribusikan oleh: Prof. Dr. Hardi Prasetyo

Mantan Waka –  Plt Kepala BPLS (2007-2017)

SEPULUH TAHUN MENERUS MENGASUH LUSI

DARI AWALNYA SEBAGAI BENCANA SEMBURAN DAHSYAT YANG MERUSAK (VIOLENCE AND DESCTRUCTIVE ERUPTION), PADA PERJALANAN WAKTU 10 LUSI SEMAKIN INDAH MENAWAN, NAMUN MASIH BERTENAGA: BAGIAN DARI MESIN BUMI KITA YANG LUAR BIASA.  DENGAN PARADIGMA BARU “HIDUP HARMONI DENGAN BENCANA”

Slide08

Pola Pikir Penanggulangan Bencana Lusi dengan pendekatan Komprehensif, Integral dan Holistik

Slide3

Tantangan berat dilalui Tahun 2008:

Slide4

Inovasi dari aspek kebijakan operasional sampai ke Pemacuan teknologi untuk mengantisipasi Bencana semburan Lusi mud volcano yang terdahsyat di dunia, belum ada referensi, sehingga menjadi suatu “Pelajaran Berharga”.

Slide16

Sebelum Mengasuh Lusi selama 10 Tahun (2007-2017), saya telah berhasil menemukan sistem pembubungan modern (modern piercement system) yaitu diapir lumpur (mud diapir) dan gunung lumpur (mud volcano): Cekungan busur belakang Bali-Lombok, Zona sesarnaik di busur belakang Flores, di Selat Sumba transisi kontinen mikro Sumba dan pojok barat dari Akrasi tumbukan Australia dengan Busur Banda.

Sehingga pada laporan BPLS bulan Juni 2007 sampai penyusunan Renstra, tidak ada keraguan Lusi adalah suatu mud volcano yang luar biasa. Bukan mud volcano yang umum sebagai  volkanisme sedimen (sedimentary volcanism) tapi sistem ganda (hybrid) karena mempunyai hubungan mesra dengan gunung magmatik di selatannya melalui sistem hidrotermal dalam (deep hydrothermal system).

Slide15

Sejak tahun 2007 telah menggunakan Diagaram Anatomi dan Pengendali Mekanisme Semburan Lusi:

Slide10

Merangkum Pengendali mekanisme semburan di bawah permukaan (Anatomi dan pengendali mekanisme, sumber air, sumber gas, sumber panas, overpressure, sumber lumpur, saluran pengumpan);

Karekteristik di permukaan dari beberapa parameter (kecepatan semburan, suhu, viskositas, perbandingan lumpur;air, komposisi gas), intensitas deformasi amblesan (subsidence) sampai runtuh (collapse);

Penanggulangan dari upaya mematikan dengan snubbing unit, side tracking, sampai relief well; Mengurangi debik semburan dengan insersi rangkaian bola-bola beton; Usulan “Tong Setan” Takhahira dan teori Bournelli, meledakkan Kawah.

Slide14

Alur Pikir Penanggulangan Bencana Lusi: Persepsi umum alternatif pemicu semburan, Lusi sebagai bencana mud volcano, terjadi dampak pengungsi lingkungan yang memicu gejolak sosial kemasyarakatan yang luar biasa, dampak ekonomi, infrastruktur, lingkungan;

Penanggulangan bencana Lusi 2006 diawali tingkat Kabupaten (SakLak), Provinsi (Satkorlak), September 2006 TIMNAS PSLA, 8 April 2007 BPLS: Penanggulangan semburan, mengendalikan luapan termasuk penanganan deformasi/geohazard (mitigasi), menangani masalah sosial, antisipasi dampak infrastruktur.

Outcome: Pulihnya sendi-sendi kehidupan masyarakat, sosial, ekonomi, budaya dan ketertipan.

Slide1

Pengurangan Risiko bahaya zona barat Lusi (Punggungan Siring, dan kesiapan mendukung studi bawah permukaan secara komprehensif menerapkan teknologi seismik 3D (2018). Evaluasi menerapkan TLS dan Drone.

Slide9

Pemaknaan Perpres 48/2008 perubahan Perpres 14/2007 tentang BPLS. Dimana pasca Jebolnya Tanggul P40 di selatan Lusi terjadi luapan lumpur yang menggenangi wilayah di selatan PAT 22 Maret 2007. Terjadi pengungsian di sepanjang jalan Tol lama P41. Pertama kalinya Pemerintah melakukan penanganan masalah sosial kemasyarakat dengan mekanisme jual beli tanah dan bangunan warga 3 Desa di luar PAT, untuk efisiensi pengaliran Lusi ke selatan. Skema “cash and carry” mengikuti yang dilaksanakan di dalam PAT dengan modifikasi disana-sini.

Slide20

“4 Tahun LUPSI: Paradiama Baru dari Bencana ke Manfaat” ceramah di Pasca Sarjana UPN/UGM, telah menggelorakan “Hidup Harmoni dengan Bencana”.

Pengendali bencana: Semburan, Luapan, Deformasi/Geohazard, dan Lingkungan hidup.

Dampak: Pengungsi Lingkungan yang luar biasa.

Solusi:  Dari Pengungsian ke Hidup Baru di lokasi Pemukiman Baru.

Menuju pemanfaatan yang luas: Pusat Unggulan studi mud volcano, GeoWisata-GeoPark. Lumpur untuk kesehatan termasuk mud spa, mandi air panas, Wisata air di Danau Besuki – Kali Porong dan Pulau Lumpur-WANAMINA.

Tindak lanjut temuan Awal: Litium (bahan baku bateri), Yodium (Farmasi), Potensi pebangkit listrik panas bumi berskala kecil. Lumpur untuk kerajinan tangan, untuk bahan bangunan (tahun 2016 disiapkan unit pengolahan dan 2 rumah contoh).

Slide19

Proses dan evolusi dari Bencana Lusi  yang menimbulkan gejolak sosial kemasyarakatan terbesar dalam sejarah penanggulangan Bencana di Indonesia/Dunia. Kebencanaan yang merayap dan Skeme Jual Beli tanah dan bangunan warga terdampak sebagai solusi masalah sosial kemasyarakatan di dalam dan luar PAT.

Slide18

Telah dikembangkan suatu konsepsi antara Pengendali Mekanisme Bencana Lusi dengan indikator Semburan, Luapan, Deformasi/Geohazard, Lingkungan (dari Hulu ke hilir). Dikaitkan dengan diterbitkannya Peraturan Presiden dari 14/2007 (PAT 22 Maret 2006 merupakan pemutahiran PAT 4 Desember 2006), 48/2008 (3 Desa di luar PAT, efisiensi pengaliran Lusi ke selatan), 40/2009 dan 61/2011 (9 RT di luar PAT, Wilayah Tidak Layak Huni, transisi BPLS melaksanakan tugas Penanggulangan Lusi dan Pengaliran Lusi ke Kali Porong sebelumnya oleh Lapindo),  37/2012 (Uji Materi MK 2012) dan 33/2013 (Uji Materi MK 2012) mencakup wilayah 65/66 RT di luar PAT sebagai Wilayah Tidak Aman, ditentukan berdasarkan indikator GeoHazard, Lingkungan dan Dinamika Sosial Kemasyarakatan.

Slide23

Pasca TIMNAS PSLS dilakukan modifikasi dan peningkatan sistem Pengelolaan lumpur di permukaan, dengan ditetapkan bahwa Semburan Lusi tidak dapat/perlu dibunuh, akan berlangsung lama. Di dalam PAT sampai di outlet Kali Porong telah diggunakan mekanisasi kapal keruk, pompa boster dsb. Dari outlet Kali Porong sampai di Palung Dalam di Selat Madura menggunakan energi bebas yang dimiliki sendiri oleh Kali Porong. Rasio sukses terukur tidak terjadi banjir disebabkan Kali Porong, tidak menimbulkan dampak lingkungan pada keragaman hayati.Pulau Lumpur satu-satunya di dunia Pulau kecil dibangun dengan konsep reklamasi yang berkelanjutan (sustainable reclamation) dilaksanakan pada kondisi darurat bencana Lusi, saat ini berperan sebagai aspek biodiversity mendukung usulan Lusi sebagai GeoPark.

Slide04

Diagram antara Pengendali Bencana Lusi dan Dampak Sosial, Ekonomi, Lingkungan (modivikasi dari Nasution 2007, Kepala BPK).

Slide06

Suatu tugas yang tidak mudah, atas arahan Presiden RI bahwa Lusi dialirkan ke Palung Dalam di Selat Madura, maka dilakukan normalisasi Kali Porong dari hulu (PAT) sampai di muara. Ditugaskan dalam 7 hari 5 kapal keruk dikerahkan ke Muara Kali Porong (termasuk kapal keruk PT Timah Bangka, yang menjadi tugas saya selaku wakil KESDM di BPLS), untuk membuka mulut Muara Kali Porong dari pendangkalan sebagai konsekuensi bagian dari Delta Brantas yang propagasi ke laut (tumbuh).

Slide16

Model Pertumbuhan Lusi berdasarkan parameter kecepatan semburan/luapan 100.000m/hari, Kecepatan amblesan 4-0,1cm/hari, morfologi berdasarkan model 2007-2009 (Istadi 2009). Diagram ini pada awal BPLS digunakan untuk aspek kebijakan untuk menggambarkan apa yang akan terjadi bila tidak dilakukan Penanggulangan (Pembentukan Timnas – BPLS) dalam berapa tahun Lusi akan menyebar tidak terkendalikan.

Slide15

Suatu Evolusi dan Revolusi pemaknaan Pengendali Mekanisme Bencana Lusi dimana pada tahun 2008-2010 Lusi diterima secara universal sebagai suatu mud volcano yang umum (type mud volcano) merupakan wujud dari  volkanisme sedimentasi (sedimentary volcanism). Namun dengan temuan-temuan dari serangkaian studi Kebumian Lusi, pada tahun 2012 telah dideklarasikan bahwa Lusi bukan merupakan mud volcano yang umum tapi mud volcano khusus (Atype mud volcano), sebagai induk sedimen sistem hidrotermal dalam yang baru lahir (new born), berhubungan dengan gunung magmatik.

Dengan demikian Postur dan Perilaku Semburan Geyser Lusi Sulung dan Bungsu (2010) akan dipengaruhi oleh dinamika regional  yaitu: Kegempaan (earthquake) di busur depan, dinamika magma di gunung magmatik (Arjuno-Welirang), aktivitas Patahan Watukosek, Aliran fluida dipengaruhi sistem geotermal dalam.

Slide14

Analogi Geyser yang terkenal di dunia Yellow Stone National Park di USA (FilmSuper Volcano), yang disampaikan oleh Menteri PUPR selaku Ketua DP BPLS (28 Desember 2014) pasca mengumumkan Dana Antisipasi 2015, bahwa Lusi ke depan diarahkan menjadi GeoPark dengan situs utama Geyser Lusi Sulung (2006) dan Bungsu (2010) yang analogi dengan Geyser di Yellow Stone National Park.

Slide13

Pada presentasi di Seminar Lusi dilaksanakan ITS, telah ditampilkan fenomena Lusi mud volcano yang terus mendapatkan perhatian nasional dan internasional, termasuk kontroversi pemicu semburan Lusi.

Juga ditampilkan langkah nyata sebagai tindak lanjut Pemilihan Opsi pengaliran Lusi ke Laut melalui Kali Porong (Presiden RI), dilanjutkan direktif normalisasi Kali Porong dari hulu selatan PAT sampai muara. Saya mendapatkan tugas khusus yang cukup berat, bahwa dalam waktu 7 hari dapat menghadirkan kapal keruk Timah Bangka bergabung dengan 4 kk lainnya untuk memulai normalisasi muara Kali Porong dengan mereklamasi dan  berikutny terbentuk Pulau Lumpur (94 hektar).

Slide12

Luar Biasa dan Impian menjadi Kenyataan, dengan modal semangat  NKRI 45, dan membangun Situs LUSI LIBRARY:KNOWLEDGE MANAGEMENT 2010, akhirnya didukung dengan Jarianan Riset Lusi (LRN) dapat dilaksanakan SIMPOSIUM INTERNASIONAL ILMIAH LUSI 25-26 Mei 2011.

Foto yang sangat membahagiakan ketika 25Mei 2011 sekitar 100 orang peserta, undangan, pendukung Simposium Internasional Lusi bersama-sama telah menjelajah Gunung Lusi di Zona Nirwana (Selatan Lusi). Rekor MURI/LUSI.

Telah diusulkan ke DP BPLS (Menteri PUPR) kiranya Simposium Internasional Ilmiah Lusi ke Dua dapat dilaksanakan pada 2018, pada tahap Pengendalian Lusi yang sebelumnya Penanggulangan Lusi, dimana akan terlihat Merajut TIMNAS (Awal Mengendalikan Lusi), BPLS (Melanjutkan Penanggulangan dan awal Pemulihan menuju Pemanfaatan, Awal Paradigma Hidup Harmoni dengan Bencana), PPLS Pengendalian menuju Pemulihan sendi kehidupan dan penerapan Hidup Harmoni dengan Bencana.

Slide18

Pendekatan Komprehensif, Integral dan Holistik: Diagram yang saya kembangkan untuk mempermudah mengikuti hubungan antara Pengendali Mekanisme Bencana (Semburan, Luapan, Deformasi, Lingkungan, Sosmas) dengan Paradigma Kebijakan (Perpres 14/2007 sampai 33/2013).

Ke depan dapat dievaluasi adanya 4 Status Wilayah Penanggulangan Bencana, dikaitkan dengan Dinamika Kewilayahan dan Lingkungan Strategis, menjadi kesatuan sistem Peta Penanggulangan Bencana Lusi.

00-YOGYA2010

Judul Makalah pada Simposium Kebencanaan di kampus UGM, dimana saya mendeklarasikan Paradigma Baru Penanggulangan Lusi dari Kontroversi ke Solusi, dari Bencana ke Manfaat, termasuk mulai memperkenalkan Lusi Laboratorium Alam-Pusat Unggulan Studi mud volcano di Indonesia dan Dunia, GeoWisata-GeoPark Lusi, pemanfaatan lumpur dalam arti yang luas.

00-DEBATAFRIKA

Empat Dokumen telah disusun dalam rangka ikut menglola Kontroversi Pemicu Lusi, khususnya pada even Debat Lusi dipicu pemboran atau gempabumi, dilaksanakan pada forum Internasional AAPG di Capetown, Afrika Selatan 28 Agustus 2008. Tindak lanjut penulisan naskah Ilmiah Edisi khusus Lusi di Jurnal Marine Petroleum Geologist (MPG 2009), lanjut Simposium Internasional Ilmiah Lusi 2011 dilakssanakan BPLS-HSF.

Slide24

Potensi PESONA GEOWISATA LUSI, bagian Presentasi Maret 2017 pada Forum Promosi Pariwisata Terbesar di Timur Indonesia, dimana saya atas nama BPLS (undangan) dan PPLS telah diberi kehormatan dimana Geoheritage Lusi telah diakui pada tingkat Regional dan menuju Nasional (telah di sampaikan pada even Seminar Geopark Nasional 2015-2017)

Slide22

Pada even menggulirkan Tim Percepatan Pembangunan GeoPark Lusi dilaksanakan 28 Desember 2016, saya telah mempresentasikan konsepsi pengembangan GeoPark Lusi dimana pada intinya menekankan Hidup Harmoni dengan Bencana, mengedepankan GeoWisata. Dimana sebagai modal dasar Lusi telah ditetapkan oleh Badan Geologi sebagai salah satu dari 22 Geoheritage (Warisan geologi) di Pulau Jawa dan 60 di Indonesia.

Slide21

Pengembangan Geowisata Lusi pada Tiga Pilar Doktrin GeoPark yaitu Keragaman Geologi, biologi dan Budaya.

Slide20

Lusi sebagai suatu mud volcano yang paling Unik, Komplek dan Kontroversi pemicu dan penyebabnya, sehingga menjadi terkenal di seluruh dunia. Hal ini merupakan salah satu persyaratan untuk pengusulan Lusi sebagai Geopark.

Revolusi dari mehamanan Geodiversity Lusi, Lusi bukan mud volcano yang umum sebagai struktur pembubungan pada domain volkanisme sedimen. Tapi Lusi merupakan induk sedimen dari sistem hidrotermal dalam yang mempunyai hubungan mesra dengan gugusan gununa api yang berkembang di busur depan (forearc).

Slide11

Foto Judul Presentasi pada acara Diskusi “Studi Bawah Permukaan Lusi dengan seismik 3D, Kebijakan ke dapan Pengendalian Lusi”, Maret 2017, dilaksanakan bersama Tim Terpadu Lusi 2016 atas rekomendasi BPKP Jawa Timur. Mengikut sertakan para stakeholders termasuk Lapindo.

Slide12

Presentasi selaku Plt Kepala BPLS pada pembentukan TIMDU LUSI 2016, Desember 2015 di kantor BPLS ” POKOK-POKOK BAHASAN DISKUSI UMUM STUDI BAWAH PERMUKAAN LUSI DENGAN IMPTEK SEISMIK 3-D SEBAGAI ALAT BANTU UNTUK KEBIJAKAN KE DEPAN: 1) Isu Aktual dan Arah kebijakan Pengendalian LUSI ke depan, 2) Tujuan Strategis dan Grand Design, 3) Ringkup “Grand Design”.

Slide13

Presentasi Hardi Prasetyo pada TiMDU LUSI 2016

Slide14

Even From Russians With Lusi 2010, saya mengunjungi Lusi berdiskusi dengan Tim Rusia yang telah merampungkan Studi Lusi dengan metoda GIS 3D menggunakan data seismik 2D lama. Menemukan 2 struktur lumpur selain Lusi, memerikan Peringatan Dini kepada Pemerintah Indonesia untuk mewaspadai 2 tubuh mud diapir tersebut bila dipicu gempabumi dapat menjadi Lusi, mengusulkan mengevakuasi warga di dekatnya.

Telah ditindaklanjuti dengan menghadirkan Para Ahli Mud volcano Rusi ke Ketua Dewan Pengarah BPLS (Dr. Djoko Kirmanto), dibarengi melakukan Road Show diskusi lusi di Moskow, Saint Petersburg, Singapura, dan Jakarta.

Tim Rusia pada Simposium Internasional Ilmiah Lusi Mei 2011 telah mempresentasikan hasil studi GIS 3D tersebut dilengkapi dengan Video modal Lusi 3D berdurasi 12 menit. Disamping itu mengusulkan Sistem Pemantauan Lusi untuk Mitigasi Pengurangan Risiko Bencana bila terjadi perulangan interval semburan besar atau transisi dari mud diapir ke mud volcano (Sistem POLIGON)>

Slide15

Karena BPLS sejak tahun 2015 diarahkan untuk menyiapkan Studi Seismik 3D merupakan teknologi maju namun sulit dipahami oleh umum.

Maka tampilan bawah permukaan Lusi dengan keberadaan 3 struktur pembubungan (piercement structure) yaitu mud volcano Lusi dan 2 mud diapir atau mud volcano purba seperti Porong-1, akan menolong memaknasi seperti apa 3D.

Slide16

Bagian Presentasi untuk mempermudah para pengambil kebijakan untuk memaknai apa seismik 3D, mengapa diperlukan? Bagaimana proses penyipan teknis dan nonteknis yang panjang. Perbandingan dengan Rendana studi 3-D Lusi direncanakan Badan Geologi, KESDM yang dibatalkan karena aspek masalah sosial kemasyarakatan dan Bahaya/Risiko pada Tanggul.

Slide17

Slide18

Paparan Dr. Agus Guntoro (USAKTI) pada Simposium Internasional Lusi, menggunakan Seismik Refleksi 2D lama, diantaranya membandingkan struktur runtuh (collapse structure) dari Porong-1 untuk indikator Pengurangan Risiko bahaya deformasi struktur runtuh yang perlu diwaspadai pada Lusi ke depan.

Slide18

Pasca Arahan DP BPLS, Menteri PUPR 24 Desember 2014 ke depan menuju GeoPark dengan situs utama Geyser Lusi. Telah digelorakan dan langkah nyata Peta Perjalanan Geopark Lusi dengan mengedepankan pilar HIDUP HARMONI DENGAN BENCANA LUMPUR SIDOARJO.

Slide16

Lusi telah ditetapkan oleh Badan Geologi KESDM sebagai salah satu dari 22 Geoheritage di Jawa, merupakan modal dasar untuk melangkah menuju GeoWisata-Geopark.

Salah satu dokumen yang menghubungkan Pilar GeoDiversity dan Culture Diversity adalah karya Ir. Awang Satyana (SKK Migas) dipresentasikan pada Simposium Internasional Ilmiah Lusi 2011 berjudul  “BENCANA GEOLOGI DALAM SANDHYAKALA JENGGALA DAN MAJAPAHIT.

Dimana fenomena Lusi sebagai The present is the key to the past, mempengaruhi kemunduran Kejayaan Kerajaan Majapahit-Jenggala, antara lain karena terjadinya Bencana Gunung Lumpur. Juga diperkuat oleh Hikayat “TIMUN MAS” yang sangat lagendaris.

Slide17

Paparan pada even “DEKLARASI TIM PERCEPATAN PENGEMBANGAN/PEMBANGUNAN GEOPARK LUSI, 22 Desember 2016, sebagai tindak lanjut rekomendasi dari Ketua Tim Satgas Geopark Nasional (Dr. Junus), dimana Hardi Prasetyo telah ditetapkan selaku Koordinator Tim Kecil untuk Percepatan Pengembangan GeoPark LUSI.

Slide15

Modal Dasar untuk menuju GeoWisata-Geopark bahwa Lusi telah ditetapkan sebagai salah satu dari 22 Geoheritage di Pulau Jawa dibawahnya No. 23 Volcano Bromo.

Slide14

Peta Jalan Lusi sebagai GeoWisata dan GeoPark telah dirintis sejak 2010, tahun 2014 arahan DP BPLS, 2016 peluncuran Tim Kecil Pengembangan Geopark, Maret 2017 even perdana Vestival Pesona GeoWisata-GeoPark Lusi dengan pusat kegiatan di Embrio GeoPark Lusi, April 2017 Lusi mendapatkan pengakuan ditunjuk sebagai salah satu di Promosikan pada  Festival Pariwisata terbesar di Indonesia Timur dengan judul “PESONA GEOWISATA LUSI MENUJU GEOPARK”

Slide13

PELUANG EMAS (THE GOLDEN TIME 2015) dengan digulirkannya Dana Antisipasi 2015 sebagai sikap Pemerintah yang Memaknai hasil Uji Materi di MK terkait UU APBN 2013, untuk menuntaskan masalah sosial kemasyarakatan di dalam PAT.

Dampaknya luar biasa sehingga telah menimbulkan kondisi kondusif, aman dan nyaman terhadap serunya gejolak sosial kemasyarakatan yang terjadi dengan eskalasi meningkat sejak 2012-2015 hingga wilayah kerja BPLS diblokade warga PAT.

Slide12

25 Agustus 2015 Presiden RI mengunjungi Lusi untuk memantau dan menggelorakan penuntasan Dana Antisipasi 2015, sebagai momentum untuk menuntaskan masalah sosial kemasyarakatan yang sebelumnya luar biasa dan memberikan implikasi negatif terhadap upaya pengendalian Bencana Lusi mud volcano. Hal ini menjdi dasar hingga saya menyebut sebagai PELUANG EMAS 2015.

Dampak positif luar biasa, sehingga BPLS dapat melanjutkan program-program berbasis Pemanfaatan Lusi ke depan dan perwujudan HIDUP HARMONI DENGAN BENCANA.

Slide11

Catatan dalam sejarah 10 TAHUN MENEMANI LUSI, pada 25 Agustus 2015 dua Motor Gede (Moge) mengawal Mobil INDONESIA-1 membawa Presiden RI Joko Widodo sampai di Lusi Dome.

Slide10

8 April 2017, dengan Hunter-1 CRV yang sudah menemani saya 10 Tahun, saya sekedar mengenang 10 TAHUN MENGASUH LUSI di Zona Hawai Utara Lusi.

Sebagai suatu wujud nyata suatu Perubahan dari awal 2007  Lusi yang menakutkan, menimbulkan 14 korban menjadi Pahlawan Lusi, menjadi Lusi yang indah masih bertenaga, menuju Hidup Harmoni dengan Bencana.

Slide9

Foto Heroik pada 13 Agustus 2010 berhasil pertama kalinya menancapkan bendera Merah Putih di Kawah Reno. Satu tahap kecil tapi memberikan implikasi luas, sebagai kemajuan untuk Menemani Lusi dengan menempatkan paradigma HIDUP HARMONI DENGAN BENCANA.

Setelah itu semakin ditingkatkan Jelajah Gunung Lusi baik Jalan kaki, Sepeda Ontel, Sepeda motor (Motor Lusi), bahkan sudah kendaraan roda 4 (Hunter 1234) dan Rombongan Tamu diangkut dengan Kendaraan Roda ke Zona Nirwana (selatan) dan Zona Hawai (utara).

Slide25

Dalam kosep GeoPark antara lain memberdayakan komunitas dan khususnya PeranWanita/Jender. 12 Maret 2017 Komunitas “Bangga Berkebaya” dipimpin oleh Prof. Dr. Bambang Tjahyadi, Guru Besar dari UNAIR ikut berpartisipasi evan PraFestival Pesona GeoWisata. Dilaksanakan dengan Inisiator Komunitas  SRIKANDI INDONESIA.

Slide22

Menengembangkan Kosep Geopark Lusi yang diselaraskan dengan Hidup Harmoni dengan Bencana, Mengendalikan Lumpur Sidoarjo, bersamaan pemanfaatan untuk GeoWisata bagian dari GeoPark Lusi yang memenuhi tiga Keragaman yaitu GeoDiversity (Geyser Lusi), Biodiversity (Hutan Sengon dan Pulau Lumpur) dan Culture Diversity (Situs Majapahit, Candi Pari-Sumur-Pamotan) dan Kearifan lokal dibangun GeoKuliner dan lain-lain.

 

Isu Aktual Lusi sebelum 2017: Tingay 2015

September 16, 2017

10 TAHUN MENGASUH LUSI YANG UNIK DAN KONTROVERSI

Slide3

AA-KESDM-1

Slide9

 

00-TINGAY2015 PENGANTAR TINJAUAN

aa-Tingay1

TINJAUAN KONTEKSTUAL TERHADAP ISU AKTUAL 

DARI PAPER TINGAY 2014, BERJUDUL:

“Tekanan Pori awal di bawah Lusi mud volcano Indonesia”,  

(Initial pore pressures under the Lusi Mud Volcano, Indonesia)

Ditelaah kontekstual oleh Prof. Dr. Hardi Prasetyo
untuk Lusi Library: Knowledge Menagement
 
Dalam rangka “Lusi sebagai Laboratorium Alam dan Pusat Unggulan Studi mud volcano di Dunia”

PROLOG:

Saya baru menerima makalah Ilmiah yang baru “masih hangat” Edisi Khusus “10 Tahun Lusi” diterbitkan pada Jurnal Marine Petroleum Geology xxx  (2017), salah satunya ditulis oleh Miller S.A dan Adriano Mazzini berjudu “LUSI LEBIH DARI 10 TAHUN: SUATU TINJAUAN DARI FAKTA-FAKTA DAN STUDU TERDAHULU DAN KE DEPAN”.

Setelah membaca depat makalah tersebut terutama dari aspek kedalaman dan tingkat lapisan overpressure termasuk tinjauan panjang umur dari semburan Lusi, maka saya memutuskan untuk mendalami kembali makalah dari Tingay 2015

“Tekanan Pori awal di bawah Lusi mud volcano Indonesia”.

Alasan lain:

Makalah dari Miller dan Mazzini 2017 lebih fokus pada kondisi kedudukan dalam (deep seated seting) di bawah satuan Formasi Batugamping Prupuh, termasuk pelaku utama adalah satuan serpih dari Formasi Ngimbang.

Sedangkan Tingay 2015 sesuai dengan penafsiran struktur dan stratigrafi dari Penampang seismik refleksi menekankan evaluasi sampai batas Satuan batugamping Prupuh ditentukan sebagai sumber air utama dan lempung di Formasi Kalebeng Atas sebagai sumber lumpur.

 

Dua Pandangan berdasarkan Pemaknaan dari Genetik yaitu Lusi sebagai suatu mud volcano dengan skenario sedimen volkanisme yang umum, lainnya menempatkan Lusi berkedudukan di busur belakang (backarc) sebagai induk sistem hidrotermal dalam berhubungan dengan gunung magmatik berhubungan dengan gunung magmatik Arjuno-Welirang, disamping itu peran strategis dari Patahan Watukosek.

Slide44

Dalam skenario ini Miller dan Mazzini menekankan bahwa daerah yang sangat bertekanan tinggi (overpressure) jauh berada di bawa zona batugamping akibat terjadinya reaksi dari adanya susu tinggi dipicu oleh intrusi (sill-dike) dan terjadinya migrasi cairan hidrotermal (introsions and migration of hydro-thermal fluids).

Jadi bila kita padukan antara kedua makalah ilmiah tersebut, maka overpressure di Lusi mulai dari 300m sampai pada kedalaman > 4400m dimana berkembang Formasi Ngimbang. Dahsyat!

Memaknai kembali Makalah Tingay:

aa-Tingay2.jpg

DAFTAR ISI

 

·      KESIMPULAN (CONCLUSIONS)

·      ABSTRAK (ABSTRACT)

·      PENDAHULUAN (INTRODUCTION)

·      RINGKASAN GEOLOGI DAN GEOKIMIA LUSI MUD VOLCANO(GEOLOGICAL AND GEOCHEMICAL SUMMARY OF THE LUSI MUD VOLCANO)

·      IMPLIKASI UNTUK PEMICU LUSI MUD VOLCANO (IMPLICATIONS FOR TRIGGERING OF THE LUSI MUD VOLCANO)

·      IMPLIKASI PADA PANJANG UMUR DAN EVOLUSI LUSI (IMPLICATIONS FOR LONGEVITY AND EVOLUTION OF LUSI)

TINJAUAN KONTEKSTUAL TERHADAP 

ISU AKTUAL 

DARI PAPER TINGAY 2014, BERJUDUL:

“Tekanan Pori awal di bawah Lusi mud volcano Indonesia”,  

(Initial pore pressures under the Lusi Mud Volcano, Indonesia)

 

Walaupun Tulisan Ilmiah dengan status diterima untuk diterbitkan  (accepted paper) ini dengan fokus mendapatkan nilai tekanan pori awal (Initial pore Pressure) sebelum terjadinya semburan Lusi.

Namun, beberapa hal mencakup pandangan terhadap panjang kehidupan semburan lusi (longevity Lusi eruption) dan alternatif, pengendali semburan Lusi telah dimasukkan sebagai implikasi.

Dalam makalah ini tampaknya secara khususnya telah menyanggah tulisan Lupi (2013 dan 2014), bahwa kejadian Lusi telah dipicu oleh gelombang gempa bumi, selanjutnya dipantulkan oleh suatu media yang mempunyai impedan tinggi, dengan geometri parabola.

Sehingga memusatkan dan memperkuat gelombang gempabumi 27 Mei 2006, yang selanjutnya diusulkan telah memicu semburan Lusi mud volcano.

Namun hal penting, bahwa penulis makalah (Mark Tingay, 2015) telah membatasi diri, dan menyatakan bahwa studi ini tidak khusus berfokus.

 Karena untuk mengestimasi panjang kehidupan dari Lusi mud volcano (However, it is important to highlight that this study has not focused on estimating longevity of the Lusi mud volcano, and that this is).

Dengan argumen, bahwa perkiraan kehidupan semburan Lusi, merupakan masalah yang komplek dimana banyak variabel memainkan peran kunci (in itself, an extremely complex problem in which many variables play a key role).

Sebagai contoh adalah model perhitungan lama semburan Lusi yang berdasarkan reservoir (sistem tertutup) air di satuan batugamping Formasi Prupuh, menghasilkan angka 26 Tahun (Davies 2011).

Hal signifikan dari makalah ini juga karena telah mencoba memberikan alternatif terhadap sumbur air, walaupun dengan penekanan berasal dari Formasi batugamping Prupuh berumur Miosen. Sedangkan sumber lainnya adalah dari permukaan, Formasi Kalibeng (sumber lumpur) melalui mekanisme transformasi mineral lempung ilit ke smektit, dan imbuhan dari sistem gunung api dalam.

Pada aspek stratigrafi di bawah Lusi, Tingay kembali menegaskan dari hasil sebelumnya (2010 dan 2011), yaitu:

1) Perubahan satuan batugamping Kujung berumur Oligosen menjadi Batugamping terumbu Formasi Prupuh berumur Miosen;

2) Satuan batupasir volkanik diusulkan sebagai batuan volkanik ekstrusif.

Beberapa Kesimpulan Penting (Penelaahan Cepat No.1), Dari Hilir (What Next) ke Hulu (Pengendali Mekanisme)

1.             Suatu catatan yang penting dan ekstrim positif (Indeed, it is important, and extremely positive, to note), bahwa Kecepatan Lusi telah berkurang  secara cepat:

Bahwa kecepatan semburan Lusi mud volcano telah berkurang secara cepat pada tahun-tahun terakhir (that the eruption rate from the Lusi mud volcano has reduced rapidly in recent years). 

2.            Kecepatan rata-rata 10.000m3/hari sebelumnya 100.000m3/hari:

Kecepatan rata-rata sekarang hanya 10.000 m3/hari, menurun drastis dari ~100.000 m3/hari pada kecepatan awal (Eruption rates now average only 10.000 m3/day down from ~100000 m3/day initial rates).

3.            Analisis deformasi permukaan pengurangan kecepatan berkali lipat pada tahun 2018:

Demikian pula hasil analisis deformasi permukaan akhir-akhir ini telah memperlihatkan perkirakan pengurangan kecepatan sepuluh kali lipat pada tahun ~2018 seperti studi Rudolph 2013 (Recent analysis of surface deformation predicts a further tenfold decrease in eruption rate by ~2018 (Rudolph et al., 2013).

4.            Potensi material lumpur yang dapat disemburkan lebih banyak, sehingga Lusi dapat menyembur lebih lama:

Potensi material lumpur yang tersedia lebih banyak untuk semburan, daripada perkiraan sebelumnya (thus that potentially more clay material is available for eruption than previously estimated).

Informasi awal dari tekanan pori disini selanjutnya memperkuat kepercayaan.

Bahwa Lusi kemungkinan menyembur lebih lama daripada model yang telah dibuat sebelumnya  (The initial pore pressure information herein suggests that the Lusi mud volcano may erupt for longer than has been previously modeled).

5.            Lapisan mempunyai overpressure tinggi lebih tebal:

Semua batuan-batuan dari kedalaman sekitar 350m ke bawah sampai pada satuan Karbonat Miosen dengan kedalaman  sekitar 2833m mempunyai overpressure yang tinggi (all rocks from approximately 350m depth down to the Miocene carbonates (located at ~2833m depth) are highly overpressured).

6.            Nilai tekanan Pori satuan karbonet Miosen lebih tinggi:

Bahwa tekanan pori untuk satuan karbonat Miosen berada pada nilai ~23,0 MPa diatas hidrostatik.

Nilai ini lebih tinggi daripada  Davies (2011) pada nilai 13,9 dan 17,6 MPa di atas hidrostatik.

7.            Usulan ketebalan lapisan lempung overpressure total 970m, sedangkan peneliti sebelumnya sekitar menempatkan angka ketebalan 500m:

Keseluruhan sekuen setelah kedalaman 970m berada pada kondisi yang lebih overpressure (that the entire 970 meters of Kalibeng clay sequences is highly overpressured,).

Juga termasuk lempung di Formasi Pucangan (as well as clays in the Pucangan Formation).

Sedangkan Istadi et al., 2009 mengusulkan bahwa hanya tersedia suatu lapisan lumpur overpressure setebal 500m untuk semburan lumpur. (Istadi et al., 2009 proposed that only a 500m thick layer of verpressured clays were available as a source for erupted mud).

Untuk itu Tingay memberikan koreksi bahwa angka estimasi ini lebih rendah, karena menggunakan data kecepatan sonik yang salah (but the data herein demonstrate that this is a significant underestimate due to previous use of erroneous sonic velocity data).

8.            Potensi material lumpur yang dapat disemburkan lebih banyak, sehingga Lusi dapat menyembur lebih lama:

Potensi material lumpur yang tersedia  lebih banyak untuk semburan, daripada perkiraan sebelumnya (thus that potentially more clay material is available for eruption than previously estimated).

Informasi awal dari tekanan pori disini selanjutnya memperkuat kepercayaan. Bahwa Lusi kemungkinan menyembur lebih lama daripada model yang telah dibuat sebelumnya  (The initial pore pressure information herein suggests that the Lusi mud volcano may erupt for longer than has been previously modeled).

Catatan KHUSUS: 

·      What Next? Semburan dengan intensitas kecil namun berlangsung lama:

Pada kesimpulan di atas Tingay telah menyampaikan suatu perubahan mendasar.

Bahwa telah terjadi penurunan yang signifikan terhadap intensitas semburan dan deformasi, dengan posisi semburan saat ini 10.000m3/hari dan tahun 2018 sekitar 1000m3/hari.

Namun untuk semburan Lusi menuju ke tahap dormant, menurutnya memerlukan waktu yang lama daripada pemodelan-pemodelan terdahulu (IAGI 2007, Istadi 2009, Andreas 2010, Davies 2011, Rudolph 2013, Aoki 2014).

KESIMPULAN

POKOK-POKOK BAHASAN DAN KATA KUNCI

·      Studi ini dinilai merupakan suatu hasil mendalam/komprehensif yang pertama, terkait tekanan pori sebelum terjadinya semburan Lusi:

·      Menyediakan dataset petrofisik di daerah sekitarnya:

·      Batuan-batuan dari sekitar kedalaman 350m ke bawah sampai kedalaman sekitar 2833m mempunyai overpressure yang tinggi:

·      Fenomena khusus tingginya overpressure pada sekuen batuan volkanik, klastik volkanik, dan karbonat di bawah 1870m:

·      Studi ini cenderung mendukung bahwa Lusi mud volcano disebabkan oleh Sumur BJP-1:

·      Data yang tersedia menyediakan informasi untuk digunakan memodel panjang kehidupan yang layak dan evolusi:

·      Contoh unik tekanan pori yang besar di batuan nonklastik:

·      Suatu tantangan  memprediksi tekanan pori pada tekanan kompaksi yang tidak seimbang:

Studi mendalam pertama, terkait tekanan pori sebelum terjadinya Lusi:

Studi ini menunjukkan hasil kompilasi yang pertama dan analisis tekanan pori yang mendalam, berasal dari informasi lubang bor BJP-1 (the first in-depth compilation and analysis of pore pressure information from the BJP-1 borehole and other nearby wells), dan sumur di dekatnya.

Dalam upaya mengembangkan informasi terkait tekanan pori, pada kondisi awal sebelum memicu Lusi mud volcano (in order to establish the initial state of pore pressure prior to the triggering of the Lusi mud volcano).

Menyediakan dataset petrofisik di daerah sekitarnya:

Disamping itu juga menyediakan dataset petrofisik, pemboran dan data geologi dari daerah sekitarnya (providing a comprehensive dataset of petrophysical, drilling and geological data for the region).

Batuan-batuan dari sekitar kedalaman 350m ke bawah sampai kedalaman sekitar 2833m mempunyai overpressure yang tinggi:

Data yang tersedia dari aliran fluida, hubungan gas, gas latarbelakang yang diangkat, dengan tendangan yang besar dan berat lumpur (Available data from fluid influxes, connection gases, elevated background gases, a major kick and mud weight).

Ditambah dengan observasi tekanan pori, di ofset sumur yang dekat dan estimasi tekanan pori berdasakan 3 data set petrofisik dan komponen pemboran yang dikoreksi (in addition to observed pore pressures in proximal offset wells and pore pressure estimates based on three petrophysical datasets and corrected drilling exponent).

Telah mengindikasikan bahwa semua batuan-batuan dari kedalaman sekitar 350m ke bawah sampai pada satuan Karbonat Miosen (Formasi Prupuh) dengan kedalaman  sekitar 2833m, mempunyai overpressure yang tinggi (indicates that all rocks from approximately 350m depth down to the Miocene carbonates (located at ~2833m depth) are highly overpressured).

Tekanan pori mengikuti suatu pendekatan penampang litosatik yang sejajar kedalaman onset di bawah 350m, khususnya pada sekuan klastik Pleistosen.

Fenomena khusus tingginya overpressure pada sekuen batuan volcanik, klastik volkanik, dan karbonat di bawah 1870m

Sebagai catatan khusus, studi ini menyoroti bahwa tingginya besaran overpressure berkembang pada non klastik, dan bahkan bukan sedimen.

Dimana batuan-batuan, mempunyai gradien tekanan pori melebihai 17,2 MPa/km yang diamati pada sekuen-sekuen batuan vokanik, volcano klastik, dan karbonat di bawah kedalaman 1870m.

Studi ini cenderung mendukung bahwa Lusi mud volcano disebabkan oleh Sumur BJP-1:

Data tekanan  pori yang dipresentasikan di sini  menghasilkankan pandangan kunci terhadap bencana Lusi mud volcano.

Tekanan pori, data pemboran dan petrofisika yang diproses dan dikoreksi secara cermat dari studi ini mempunyai implikasi yang luas untuk memahami pemicu Lusi mud volcano.

Dalam hal ini mendukung argumen bahwa bencana ini sebagai hasil dari sumur BJP1 (further support the argument that this disaster was the result of a blowout in the BJP-1 well.).

Data yang tersedia menyediakan informasi untuk panjang kehidupan yang layak dan evolusi:

Lebih jauh lagi, data yang disediakan di sini menyediakan suatu sumber yang sangat bernilai.

Untuk analisis ke depan, terhadap panjang kehidupan yang layak dan evolusi dari sistem mud volcano utama.

Contoh unik tekanan pori yang besar di batuan nonklastik:

Akhirnya, studi ini menyediakan suatu contoh yang unik dari dua “kualitas textbook”, yaitu ketidakseimbangan tekanan kompaksi dan anomali tekanan pori yang besar di batuan non klastik.

Suatu tantangan  memprediksi tekanan pori pada tekanan kompaksi yang tidak seimbang: 

Dikotomi dari  overpressure litologi yang ditinjau sesuai dengan kemampuan yang ada, untuk kemungkinan mempridiksi secara layak terhadap tekanan pori pada tekanan kompaksi yang tidak seimbang secara kelasik.

Disamping itu terhadap tantangan signifikan yang dihadapi industri migas,  ketika kita ingin meningkatkan sasaran dari reservoir non klastik dengan overpressure tinggi.

Dengan mengacu seperti karbonat overpressure pada lapangan minyak di Iran dan overpressure karbonat-bergaram sebagai induk dari lapanan munyak di Brazil.

ABSTRAK

Pokok-pokok bahasan dan Kata kunci

·      LUSI mud volcano tetap menjadi suatu bencana geologi yang tidak lumrah di Abad 21:

·      Lusi sejak dilahirkan 2006 telah menyemburkan 90 juta meter kubik lumpur:

·      Studi tekanan pori ini telah di klaim merupakan pertama kalinya dilakukan secara komprehensif, sejak semburan Lusi:

·      Kompilasi data di sekitar sumur BJP-1 dan data petrofisik

·      Sekuen overpressure di bawah Lusi terjadi mulai dari kedalaman  300m meningkat sampai 1878m:

·      Peningkatan tekanan pori sampai kedalaman 1870m dengan gradien lebih dari 17,2 Mpa/km:

·      overpressure juga berkembang pada lapisan yang dalam pada satuan volkanik dan batugamping:

·      Tantangan menentukan asal mula overpressure dan perkiraan besarnya takanan pori

·      Kondisi overpressure pada klastik berbutir halus dengan pengendapan cepat:

·      ·Kesulitan menentukan asal usul overpressure pada sekuen dengan porositas rendah:

·      Anomali porositas dan estimasi tekanan pori:

·      Pentingnya informasi tekanan pori sebelum semburan Lusi mud volcano, untuk memahmi panjang kehidupan semburan

LUSI mud volcano tetap menjadi suatu bencana geologi yang tidak lumrah di Abad 21:

Lusi mud volcano di Jawa Timur, Indonesia, masih tetap menjadi salah satu bencana geologi yang paling tidak lumrah pada era modern, di abad 21 (remains one of the most unusual geological disasters of modern times).

Lusi sejak dilahirkan 2006 telah menyemburkan 90 juta meter kubik lumpur:

Sejak Lusi dilahirkan pada tahun 2006, selanjutnya telah menyembur secara berkelanjutan, memuntahkan lebih dari 90 juta meter kubik lumpur (expelling over 90 million cubic meters of mud) yang selanjutnya telah menyebabkan sekitar 40.000 orang harus diungsikan.

Studi tekanan pori yang di klaim pertama kalinya dilakukan secara komprehensif sejak semburan Lusi:

Studi yang dilaksanakan merupakan analisis tekanan-tekanan pori rinci  (first detailed analysis of the pore pressures), yang langsung pertama kalinya dilaksanakan  tidak lama setelah terjadinya Lusi mud volcano (immediately prior to the Lusi mud volcano eruption).

Metoda kompilasi data di sekitar sumur BJP-1 dan data petrofisik:

Studi ini telah dilakukan dengan mengkompilasi sekitar 150 data dari daerah sumur Banjr Panji-1 dan diprediksi besarnya nilai tekanan pori (undertaking pore pressure prediction) dari kompilasi terhadap data petrofisik yang cermat (from carefully compiled petrophysical data). 

Sekuen overpressure di bawah Lusi terjadi mulai dari kedalaman  300m meningkat sampai 1878m:

Aliran sumur bor mengindikasikan bahwa sekuen overpressure di bawah Lusi terjadi sejak dari kedalaman 350 m (sequences under Lusi are overpressured from only 350 meters depth).

Peningkatan tekanan pori sampai kedalaman 1870m dengan gradien lebih dari 17,2 Mpa/km:

Selanjutnya mengikuti suatu pendekatan peningkatan tekanan pori paralel-litostatik (follow an approximately lithostat-parallel pore pressure increase).

Melalui sekuen klastik Pleistosen sampai kedalaman 1870m (through Pleistocene clastic sequences to 1870 meters depth) dengan gradien tekanan pori melebihi dari 17,2 Mpa/km.

Overpressure juga berkembang pada lapisan yang dalam pada satuan volkanik dan batugamping:

Hal yang paling tidak biasanya (tidak lumrah), dimana berdasarkan indikator dari aliran fluida, suatu tendangan yang besar, hubungan gas-gas,  pengangkatan gas-gas di latarbelakang dan offset dari data sumur.

Telah mengkonfirmasikan bahwa besaran overpressure yang tinggi juga berkembang pada sekuen volkanik Plio-Pleistosen (1870 sampai dalam ~2833m) dan juga pada sekuan karbonat berumur Miosen (Formasi Tuban) (high magnitude overpressures also exist in the Plio-Pleistocene volcanic sequences (1870 to ~2833 meters depth) and Miocene (Tuban Formation carbonates), dengan gradien tekanan pori antara 17,2 – 18,4 Mpa/km.

Tantangan menentukan asal mula overpressure dan perkiraan besarnya takanan pori:

Variasi geologi di bawah Lusi mud volcano memberikan sejumlah tantangan (The varying geology under the Lusi mud volcano poses a number of challenges) untuk menentukan asal mula tekanan berlebih (overpressure) dan membuat perkiraan terhadap tekanan pori (for determining overpressure origin and undertaking pore pressure prediction).

Kondisi overpressure pada klastik berbutir halus dengan pengendalan cepat:

Overpressure di dalam klastik endapan berbutir halus berumur Pleistosen dan diendapkan secara cepat, mempunyai suatu ciri petrofisik tipe dari kompaksi yang tidak seimbang (Overpressures in the fine-grained and rapidly deposited Pleistocene clastics have a petrophysical signature typical of disequilibrium compaction).

Kondisi ini dapat diprediksi dari data sonik, resistivitas dan pemboran (can be reliably predicted from sonic, resistivity and drilling exponent data).

Kesulitan menentukan asal usul overpressure pada sekuen dengan porositas rendah:

Namun, sangat sulit untuk mengembangkan asal mula overpressure pada sekuen volkanik dengan porositas rendah dan karbonat Miosen (the overpressure origin in the low porosity volcanic sequences and Miocene carbonates).

Anomali porositas dan estimasi tekanan pori:

Sama halnya, volkanik tidak mempunyai anomali porositas yang jelas (the volcanics do not have any clear porosity anomaly).

Sehingga dengan metoda-metoda prediksi standar tekanan pori pada sekuen ini sangat besar di bawah estimasi (pore pressures in these sequences are greatly underestimated by standard prediction methods).

Pentingnya informasi tekanan pori sebelum semburan Lusi mud volcano untuk memahami panjang kehidupan semburan:

Analisis dari tekanan pori sebelum semburan di bawah Lusi mud volcano (analysis of pre-eruption pore pressures underneath the Lusi mud volcano).

Sangat penting untuk memahami mekanisme, pemicu, dan panjang kehidupan dari semburan (is important for understanding the mechanics, triggering and longevity of the eruption).

Juga menyediakan suatu contoh yang bernilai dari hal-hal yang tidak diketahui dan tantangannya (providing a valuable example of the unknowns and challenges).

Yang berasosiasi dengan overpressure pada bagian bukan klastika (associated with overpressures in non-clastic rocks).

  IMPLIKASI UNTUK PEMICU LUSI MUD VOLCANO (IMPLICATIONS FOR TRIGGERING OF THE LUSI MUD VOLCANO)

·      IMPLIKASI PADA PANJANG UMUR DAN EVOLUSI LUSI (IMPLICATIONS FOR LONGEVITY AND EVOLUTION OF LUSI)

 IMPIKASI UNTUK PANJANG KEHIDUPAN DAN EVOLUSI LUSI:

Pokok-Pokok Bahasan dan Kata kunci:

  • ·      Kebanyakan bencana geologi bersifat merusak:
  • ·      Tanggap darurat berlangsung pendek:
  • ·      Lusi suatu bencana yang menerus, menyebabkan kerusakan secara gradual:
  • ·      Sangat vital memahami berapa lama semburan akan berlangsung:
  • ·      Kompilasi tekanan pori untuk masukan panjang umur semburan:
  • ·      Angka tekanan pori awal yang menjadi kendala untuk model perkiraan panjang kehidupan (Davis et al., 2011):
  • ·      Data yang dihasilkan dapat mempersempit ketidak jelasan tekanan pori pada satuan Karbonat Miosen dan Lempung Kalibeng:
  • ·      Contoh perbedaan pemanfaatannya pada tekanan pori Karbonat Miosen antara 17,6 dengan 23MPa:
  • ·      Antara volume lempung overpressure yang tersedia disemburkan dan tekanan pori:
  • ·      Tersedia lumpur overpressure antara 500m untuk semburan lumpur versus 970m, lebih banyak:
  • ·      Usulan ketebalan lapisan lempung overpressure total 970m:
  • ·      Pernyataan potensi material lumpur yang dapat disemburkan lebih banyak:
  • ·      Berdasarkan data awal tekanan pori dipercaya bahwa Lusi kemungkinan akan menyembur lebih lama:
  • ·      Catatan Keterbatasan, studi tidak fokus pada panjang kehidupan Lusi:
  • ·      Dengan argumen bahwa perkiraan kehidupan semburan Lusi, merupakan suatu yang komplek, dan banyak variabel yang memainkan peran kunci:
  • ·      Suatu catatan yang penting dan ekstrim positif, bahwa Kecepatan Lusi telah berkurang  secara cepat:
  • ·      Kecepatan rata-rata 10.000m3/hari sebelumnya 100.000m3/hari:
  • ·      Analisis deformasi permukaan pengurangan kecepatan berkali lipat pada tahun 2018:

Isu Aktual dan Kritis terkait Pengelolaan Bencana Lusi mud volcano:

Salah satu isu yang paling penting adalah berhubungan dengan pengelolaan danketerkaitan dengan bencana Lusi mud volcano (One of the most important issues related to managing and dealing with the Lusi mud volcano disaster).

terhadap perkiraan seperti apa durasi dari semburan lumpur (in estimating the likely duration of the mud eruption).

Kebanyakan bencana geologi bersifat merusak:

Kebanyakan bencana geologi seperti gempabumi, tsunami dan letusan gunung adalah ekstrim merusak (Most common geological disasters (e.g. earthquakes, tsunamis, volcanic eruptions) are extremely devastating).

Tanggap darurat berlangsung pendek:

Tapi tanggap darurat terjadi pada suatu waktu yang relatif pendek menit sampai hari kerusakan (but occur over a relatively brief time frame of minutes to days).

Selanjutnya upaya dapat langsung dilakukan untuk perbaikan cepat dan membangun kembali daerah yang mengalami  (thus efforts can be made to quickly repair and rebuild damaged areas).

Lusi suatu bencana yang menerus, menyebabkan kerusakan secara gradual:

Namun, apa yang terjadi dengan Lusi mud volcano ekstrim berbeda.

Dimana semburan Lusi mud volano merupakan suatu bencana yang terus berlangsung (However, the Lusi mud volcano is an on-going disaster).

Telah menyebabkan kerusakan secara gradual lebih dari delapan tahun (causing continual gradual damage for over eight years.).

Sangat vital memahami berapa lama semburan akan berlangsung:

Disini, sangat vital untuk memahami berapa lama semburan akan berlangsung (it is vital to understand how long the eruption will continue).

Dan bagaimana daerah akan terlibat, dalam upaya mengelola bencana terbaik (and how the area will evolve, in order to best manage the disaster).

Kompilasi tekanan pori untuk masukan panjang umur semburan:

Data kompilasi tekanan pori telah menyediakan  imput data kunci untuk prediksi panjang umur semburan dari Lusi mud volcano (The pore pressure data compiled herein provides some key input data for longevity predictions of the Lusi mud volcano.)

Angka tekanan pori awal yang menjadi kendala untuk model perkiraan panjang kehidupan (Davis et al., 2011):

Data-informasi tekanan pori awal, selama ini diidentifikasi sebagai suatu kunci hal yang tidak diketahui.

Dari model-model yang digunakan untuk memperkirakan panjang kehidupan dari semburan Lusi mud volcano sebagaimana yang digunakan oleh Davies 2011.

 Data yang dihasilkan dapat mempersempit ketidak jelasan tekanan pori pada satuan Karbonat Miosen dan Lempung Kalibeng:

Khususnya, data yang disajikan oleh Tingay 2014 dapat digunakan untuk mempersempit,terhadap ketidak jelasan parameter sebelumnya.

Khususnya ketidakjelasan  tekanan pori awal pada karbonat Miosen dan lempung Kalibeng. Dimana sebelumnya telah diusulkan sebagai pengendali utama dari Lusi mud volcano (Miocene carbonates and the Kalibeng clays, which are proposed to be the  primary drivers of the Lusi mud volcano (Istadi et al., 2009; Davies et al., 2011; Rudolph et al., 2011).).

Contoh perbedaan pemanfaatannya pada tekanan pori Karbonat Miosen antara 17,6 dengan 23 MPa:

Sebagai tambahan Davies (2011) mengusulkan bahwa tekanan pori untuk satuan karbonat Miosen berada pada nilai 13,9 dan 17,6 MPa di atas hidrostatik.

Sedangkan data yang disajikan di sini mengindikasikan bahwa tekanan pori dengan nilai ~23,0 MPa diatas hidrostatik.

Antara volume lempung overpressure yang tersedia disemburkan dan tekanan pori:

Volume dari lempung overpressure yang tersedia  untuk disemburkan juga juga bermakna dalam hubungan dengan data tekanan pori disajikan disini.

Tersedia lumpur overpressure antara 500m untuk semburan lumpur versus 970m, lebih banyak:

Istadi et al., 2009 mengusulkan bahwa hanya tersedia suatu lapisan lumpur overpressure setebal 500m untuk semburan lumpur.(Istadi et al., 2009 proposed that only a 500m thick layer of verpressured clays were available as a source for erupted mud).

Tapi data di sini memperlihatkan bahwa angka estimasi ini lebih rendah, karena menggunakan data kecepatan sonik yang salah (but the data herein demonstrate that this is a significant underestimate due to previous use of erroneous sonic velocity data).

Dengan mengasumsikan suatu puncak dari overpressure pada posisi yang terlalu dalam (assumption of a top of overpressure at much deeper depths (Figure 3).

Usulan ketebalan lapisan lempung overpressure total 970m:

Namun data dipresentasikan disini mengindikasikan bahwa keseluruhan sekuen setelah kedalaman 970m berada pada kondisi yang lebih overpressure ((that the entire 970 meters of Kalibeng clay sequences is highly overpressured,).

Juga termasuk lempung di Formasi Pucangan (as well as clays in the Pucangan Formation).

Pernyataan potensi material lumpur yang dapat disemburkan lebih banyak:

Sehingga potensi material lumpur yang tersedia lebih banyak untuk semburan,daripada perkiraan sebelumnya (thus that potentially more clay material is available for eruption than previously estimated).

Berdasarkan data awal tekanan pori dipercaya bahwa Lusi kemungkinan akan menyembur lebih lama:

Informasi awal dari tekanan pori disini selanjutnya memperkuat kepercayaan.

Bahwa Lusi kemungkinan menyembur lebih lama daripada model yang telah dibuat sebelumnya (The initial pore pressure information herein suggests that the Lusi mud volcano may erupt for longer than has been previously modeled).

Catatan Keterbatasan, studi tidak fokus pada panjang kehidupan Lusi:

Namun hal penting, bahwa penulis makalah (Mark Tingay) membatasi bahwa studi ini tidak khusus berfokus, untuk mengestimasi panjang kehidupan dari Lusi mud volcano, dan daripada itu (However, it is important to highlight that this study has not focused on estimating longevity of the Lusi mud volcano, and that this is).

Dengan argumen bahwa perkiraan kehidupan semburan Lusi, merupakan suatu yang komplek, dan banyak variabel yang memainkan peran kunci:

Merupakan masalah komplek dimana banyak variable memainkan peran kunci (in itself, an extremely complex problem in which many variables play a key role).

Suatu catatan yang penting dan ekstrim positif, bahwa Kecepatan Lusi telah berkurang  secara cepat:

Sebagai tambahan bahwa suatu catatan yang dinilai merupakan hal penting, dan ekstrim positif, (Indeed, it is important, and extremely positive, to note).

Bahwa kecepatan semburan dari Lusi mud volcano telah berkurang secara cepat pada tahun-tahun terakhir (that the eruption rate from the Lusi mud volcano has reduced rapidly in recent years).

Kecepatan rata-rata 10.000m3/hari sebelumnya 100.000m3/hari:

Kecepatan rata-rata sekarang hanya 10.000 m3/hari, menurun drastis dari ~100.000 m3/hari pada kecepatan awal(Eruption rates now average only 10.000 m3/day down from ~100000 m3/day initial rates).

Analisis deformasi permukaan pengurangan kecepatan berkali lipat pada tahun 2018:

Demikian pula hasil analisis deformasi permukaan akhir-akhir ini telah memperlihatkan perkirakan pengurangan kecepatan sepuluh kali lipat pada tahun ~2018 seperti studi Rudolph 2013 (Recent analysis of surface deformation predicts a further tenfold decrease in eruption rate by ~2018 (Rudolph et al., 2013).

KESIMPULAN PANDANGAN LUSI SEBAGAI INDUK SEDIMEN SISTEM HIDROTERMAL YANG BARU LAHIR (MAZZINI 2012):

Slide31

Kesimpulan

·            Sistem Lusi lebih dalam dari asumsi sebelumnya dan fluida adalah termogenik dihasilkan dari batuan-batuan sumber pada kedalaman lebih dari 4 km (antara  lain Formasi Ngimbang).

Sistem Lusi (Lusi’s system) lebih dalam daripada yang diasumsikan sebelumnya, berdasarkan fakta: 1) Komposisi molekul dan isotop (molecular and isotopic composition) dari alkali hidrokarbon (hydrocarbon alkanes), 2) karbon dioksida dan helium, dikombinasikan dengan plot kematangan (maturity plot)  dan 3) pemodelan pembentukan gas termogenik (thermogenic gas formation modelling).

Sedangkan fluida adalah termogenik dihasilkan dari batuan-batuan sumber (fluids  are  thermogenically produced in source rocks) dengan kedalaman lebih dari 4 km yaitu Formasi Ngimbang. (e.g. Ngimbang Fm.).

·            Terjadinya alterasi panas (thermal alteration) dari hidrokarbon atau material organik

Keseimbingan isotop CO2 (b−14‰) dan CH4-CO2 pada temparatur di atas 200oC memberikan kepercayaan bahwa alterasi panas berada  diatas suhu 200oC.

Sehingga ditentukan bahwa terjadinya alterasi panas (thermal alteration), berasal dari hidrokarbon atau material organik (hydrocarbons  or   organic  matter).

Isotopik CO2 dan keseimbangan CH4-CO2 pada temperatur diatas 200oC memberikan pendapat bahwa telah berlangsung alterasi panas dari hidrokarbon atau material organik.

·            Tanda-tanda magmatik helium, mendukung intrusi berkedudukan dalam berasal dari komplek magmatik Arjuno-Welirang

Adanya tanda-tanda yang kuat dari magmatik helium (helium  magmatic signature R/Ra: 5.3) lebih jauh lagi mendukung hipotesa  bahwa intrusi berkedudukan dalam  (a deeper sited  intrusions), berasal dari komplek magmatik Arjuno-Welirang yang lokasinya berdekatan.

Selanjutnya telah mempengaruhi batuan-batuan sumber dan reservoir (source and  reservoir rocks).

·            Gradien panasbumi yang tinggi mendukung pertumbuhan struktur pembubungan

Skenario ini bisa menjelaskan adanya gradien panas bumi lokal yang tinggi (local high  geothermal gradient).

Hal tersebut berada pada kesepakatan dengan adanya pertumbuhan struktur pembubungan (growing piercement structure), sebagaimana yang dapat diamati pada penampang seismik diambil pada tahun 80an (Mazzini et al., 2009)..

·            Sistem hidrotermai Lusi ditandai anomali panas dalam pengendali utama pembangkitan CO2 dari serpih marin

Pada sistem hidrotermal Lusi (Lusi hydrothermal system) suatu anomali panas dalam (a deep heat anomaly) tampaknya sebagai pengendali mekanisme utama.

Pembangkitan CO2 dari material organik (serpih marin), membentuk tekanan berlebih dalam (deep over-pressure), dan mengalterasi reservoir dalam (altering deep hydrocarbon reservoirs).

·            Pendapat terhadap kurang tepatnya Lusi sebagai mud volcano yang tradisional, daripada suatu sedimen-tempat sistem panas bumi yang besar

Pada aspek ini, istilah ‘mud volcano” untuk Lusi bisa menjadi menyesatkan (misleading) dan Lusi tidak dapat merepresentasikan suatu contoh dari lahirnya mud volcano yang tradisional (Lusi cannot be a representative example of the  birth of a traditional mud volcano).

Sebagai tambahan Lusi merupakan bagian dari suatu sedimen-tempat sistem panas bumi yang besar (a larger sediment-hosted hydrothermal system) berhubungan dengan komplek gunungapi didekatnya pada bagian barat lautnya.

·             Fluida dalam bermigrasi ke atas dan memobilisasi serpih dangkal yang telah berada pada kondisi overpressure

Fluida dalam (deep fluids) selanjutnya bermigrasi ke atas (migrated upward) dan memobilisasi serpih yang lebih dangka l(mobilised the  shallower shales).

Serpih ini sudah berada pada titik kritis, dan pada kondisi tekanan berlebih (overpressured conditions).

Dimana sangat umum di daerah ini, sebagaimana diperlihatkan oleh volkanisme lumpur (mud volcanism).

·            Prediksi durasi kehidupan Lusi harus memperhatikan penumpukan tekanan fluida di komplek magmatik, aktivitas kegempaan, dan reaktivasi Patahan Watukosek

Durasi kehidupan Lusi (Lusi’s longevity) mungkin berkaitan dengan evolusi dan penumpukan tekanan fluida (evolution and  fluid  pressure build-up) di komplek magmatik Arjuno-Welirang.

Dimana perubahan dipengaruhi oleh aktivitas kegempaan(influenced by  seismic activity) dan oleh gerakan geser dari Patahan Watukosek (the  strike slip movement of the  Watukosek fault).

Beberapa model bertujuan untuk memprediksi durasi kehidupan semburan Lusi (eruption  longevity) harus mengimplementasikan hasil dan skenario model (model scenario) yang baru ini.

·            Terbukanya peluang untuk prospek produksi energi panasbumi, merupakan perubahan dari bencana ke sumberdaya masyarakat

Sekenario hidrotermal (hydrothermal scenario) juga harus membuka suatu prospek baru untuk dapat produksi energi panas bumi (open up new prospectives for geothermal energy production) pada lokasi ini.

Karena itu harus  menstransformasi hal tersebut ke dalam suatu sumberdaya untuk masyarakat, bukan hanya pada bencana semata (transforming it into  a resource for the  community rather than a mere disaster).

KESDM-BPLS (5): Peran dan Kontribusi Kementrian ESDM pada Misi Nasional Penanggulangan LuSi

September 16, 2017

Dikontribusikan Oleh: Prof. Dr. Hardi Prasetyo

Wakil Kepala Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS)

Penugasan Kementrian ESDM sejak 2007

  1. Peran dan Kontribusi KESDM: Kronologis DAN Khusus 

AA-KESDM-1

POKOK BAHASAN DAN KATA KUNCI

Slide18

Tahun 2007-2008:

Slide5

  • Kapal Keruk PT Timah Bangka, mereklamasi muara Kali Porong, bagian pengaliran Lusi ke Palung Selat Madura
  • Direktif Presiden RI Pengerahan Kapal Kerut PT Timah
  • Badan Geologi, Geohazard dan Trase Relokasi Infrastruktur
  • Relokasi Infrastruktur gas alam ke sisi timur PAT

Slide4

  • Pusat Penelitian Pengembangan Geologi Kelautan
  • Survei aliran lumpur sepanjang Kali Porong
  • Awal studi dan pelatihan SDM terkait GPR
  • Dukungan sarana Perahu Karet dan Moto:
  • Akhir tahun 2008, Menteri ESDM melakukan pertemuan khusus membahas Kondisi Darurat Bencana Lusi:

Tahun 2009:

  • Badan Geologi studi Geohazard untuk kebijakan penentuan wilayah tidak layak huni, Perpres 40/2009
  • Badan Geologi menyaksikan terjadinya Perubahan Postur Lusi karena lenyapnya Tanggul Cincin:
  • Badan Geologi Menempatkan fenomena Lusi sebagai situs di Museum Geologi:

Tahun 2010

  • Badan Geologi melaporkan ke Presiden RI perubahan mendasar postur dan semburan lusi yang lebih kondusif:
  • Badan Geologi, menfasilitasi Rapat Koordinasi Nasional Menentukan Posisi semburan Lusi mud volcano Kedepan, dengan menerapkan Seismik 3D:
  • Realisasi Keputusan
  • Hasil signifikan dan strategis
  • PT Pertamina memberi izin BPLS memanfaatkan pipa gas alam idle mendukung pangaliran Lusi ke Kali Porong:
  • BP Migas mendukung BPLS melaksanakan even “From Russians With Lusi”, Kunjungan Ahli Rusia ke DP BPLS:

Tahun 2011

  • Kepala BDG ditunjuk DP BPLS Perpres 68/2011 selaku Ketua Tim Terpadu Kajian Wilayah 65 RT Tidak Aman
  • BP Migas mendukung BPLS dalam melaksanakan Simposium Internasional Lusi mud volcano di Surabaya:

Tahun 2012

  • Badan Geologi ditunjuk Menkeu menyiapkan Makalah aspek Kebumian pada Uji Materi UU APBN 2012 di MK:
  • Badan Geologi Memperkuat fakta lapangan keterkaitan Lusi dengan Gunung Magmatik:

Tahun 2013

AA-KESDM-2

  • Badan Geologi dan BPLS mengawali penjajakan Lusi mud volcano sebagai suatu GeoPark.
  • Tindak lanjut dari arah kebijakan DP BPLS:

Tahun 2014:

  • Badan Geologi mendukung BPLS dalam rangka HUT Lusi ke 9 Tahun: Lusi makin Indah namun masih bertenaga:

Tahun 2015

  • Kepala Badan Geologi bersama BPLS melakukan Penilaian Proposal Menghentikan Semburan Lusi:
  • Kepala BDG Narasumber Kasus Lapindo di KomnasHAM:

Perspektif kedepan 2015-2017:

  • Peran dan Kontribusi KESDM ke depan pasca “Dana Antisipasi”Memantapkan pemahaman aspek sistem mud volcano Lusi

Slide44

  • Melanjutkan upaya mendapatkan informasi terkini terkait Anatomi Lusi mud volcano dengan mengambil data geofisika khusus penampang seismik refleksi 3-D
  • Mengklarifikasi peringatan dini tim Rusia sehubungan dengan temuan 2 tubuh mud diapir atau mud volcano purba

Slide09

  • Melanjutkan dukungan sebagaimana arah kebijakan DP BPLS Lusi sebagai GeoPark

 

  • Memastikan kemungkinan pemanfaatan sumber daya alam tak terbarukan
  • Memantapkan kedudukan bahwa Lusi sebagai suatu mud volcano, dan Implikasinya ke depan:
  • Semburan tidak dapat dimatikan
  • Semburan akan berlangsung lama
  • Model perhitungan panjang umur semburan bervariasi
  • Sumber semburan atas temuan overpressure lebih dangkal
  • Lusi mempunyai hubungan dengan hidrotermal dalam gunung magmatik
  • Mengklarifikasi temuan 2 mud diapir dan potensi terjadinya bencana baru dipicu mud volcano
  • Melanjutkan mendukung pelaksanaan mandat nasional mengambil data baru seismik refleksi 3-D
  • Melanjutkan komitmen untuk mendukung Lusi sebagai Geopark
  • Implementasi GeoHealth
  • Klarifikasi temuan Litium
  • Penjajakan air untuk garam tradisional
  • Klarifikan kemungkinan Pengembangan energi panas bumi skala kecil
  • Lusi dan efek paparan gas rumah kaca
  • Penyamaan persepsi keberadaan KKS Migas Blok Brantas, PAT dan GeoPark
  1. Peran dan Kontribusi KESDM: Kronologis DAN Khusus

Tahun 2007-2008:

Kapal Keruk PT Timah Bangka, mendukung operasi reklamasi di muara Kali Porong, bagian pengaliran Lusi ke Palung Selat Madura

Agustus 2007, Presiden RI pada kunjungan kerja ke BPLS di Surabaya dan PAT Lusi, telah memberikan arah kebijakan dengan memilih opsi untuk mengalirkan lumpur dari PAT ke palung dalam (deep through) di Selat Madura menggunakan sarana Kali Porong, dimana mempunyai energi bebas yang dimiliki sendiri.

Opsi ini diikuti dengan direktif untuk melakukan langkah normalisasi Kali Porong dari hulu sampai ke muara.

Dalam rangka Normalisasi Kali Porong, Presiden RI diperkuat oleh Menteri ESDM selaku Anggota DP BPLS memberikan direktif kepada BPLS, agar kapal keruk milik PT Timah Bangka dapat dimobilisasikan mendukung BPLS, untuk mengalirkan lumpur ke palung dalam dari Wilayah Selat Madura.

Selanjutnya Kapal Keruk PT Timah sebagai pionir yang pertama berada di Muara Kali Porong.

Direktif Presiden RI Pengerahan Kapal Kerut PT Timah

Secara spesifik arah kebijakan RI-1 adalah dalam waktu 1 minggu dapat mengerahan 4 kapal keruk, untuk melakukan normalisasi muara Kali Porong dengan melakukan reklamasi.

Dengan tujuan agar aliran lusi ke Palung di selat Madura dapat berlangsung dengan lancar. Karena sebelumnya telah terjadi pendangkalan di muara Kali Porong, sehingga menghambat laju pengaliran lumpur ke Palung Dalam di Selat Madura.

Dimana 1 dari 4 kapal keruk yang disebutkan oleh Bapak Presiden RI dioprasikan oleh PT Timah Bangka, berada di bawah koordinasi ESDM, cq. Ditjen Pertambangan Umum dan Mineral.

Badan Geologi, Geohazard dan Trase Relokasi Infrastruktur

Badan Geologi KESDM memegang peran penting pada aspek GeoHazard, ketika BPLS harus memilih salah satu dari 3 alternatif trase baru Relokasi Infrastruktur (sebelumnya ditentukan oleh TIMNAS) sebagai dampak luapan lumpur, yang didasarkan atas 3 indikator, yaitu:

1) Utamanya GeoHazard, 2) Aspek Keteknikan Sipil, dan 3) Apek pendukung Sosial-Ekonomi.

Aspek Geohazard menjadi perhatian penting mengingat saat itu, sebagai dampak berganda tingginya debit semburan dan luapan lumpur, sehingga telah memicu terjadinya deformasi tanah yang cukup intensif.

Pernah dilaporkan pada tahun 2008-mencapai angka 4 cm/hari di Pusat Semburan, dikaitkan dengan proses pembentukan kaldera. Juga dapat direkam terjadinya perulangan even struktur runtuh dengan intensitas 3-5m/hari di Pusat Semburan.

BPLS dengan melibatkan stakeholder terkait telah melakukan kajian yang komprehensif untuk menentukan aktualisasi trase Relokasi Infrastruktur terdampak akibat luapan lumpur, yang sebelumnya telah ditentukan oleh TIMNAS.

Sedangkan untuk Infrastruktur energi yang mengalami kerusakan fatal adalah pipa gas alam (Pertamina) dan jaringan SUTET PLN.

Relokasi Infrastruktur gas alam ke sisi timur PAT

Sebagai catatan bahwa dengan pertimbangan urgensi dan strategis (kebutuhan pasokan gas alam yang sangat mendesak), sehingga telah BPLS telah mengizinkan pihak PertaGas untuk mengalihkan trase infrastruktur gas alam yang sebelumnya direncanakan melalui trase barat, selanjutnya telah dialihkan melalui trase timur (saat ini sudah beroperasi).

Pusat Penelitian Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL)

Survei aliran lumpur sepanjang Kali Porong

Memberikan dukungan penelitian kelautan dan untuk mendeteksi aliran lumpur sepanjang Kali Porong dari hulu ke hilir. Termasuk kajian geologi pantai yang digunakan untuk pelaksanaan reklamasi Pulau Lumpur, sebagai bagian tidak terpisahkan sistem pengaliran Lusi dari PAT ke laut menggunakan sarana Kali Porong.

Awal studi dan pelatihan SDM terkait GPR

PPPGL juga berkontribusi dengan mengirimkan SDM dan Teknologi Ground Penetration Radar (GPR), untuk mendeteksi aspek kesetabilan Tanggul Penahan Luapan Lumpur di dalam PAT dan Deformasi di luar PAT.

Dukungan sarana Perahu Karet dan Motor

Memberi dukungan perahu karet lengkap dengan mesin ke BPLS sejak tahun 2007-sampai sekarang (akan diperbarui), yang sangat bermanfat baik mendukung operasi pemantauan Kali Porong dan Pulau Lumpur, serta operasi pengaliran lumpur oleh kapal keruk di dalam PAT.

Akhir tahun 2008, Menteri ESDM melakukan pertemuan khusus membahas Kondisi Darurat

Menteri ESDM memfasilitasi Pertemuan Khusus didampingi jajaran Badan Geologi, Ditjen Migas, BP Migas dan tamu dari US Geological Survey, untuk mencarikan solusi terhadap kondisi darurat atas laporan Bapel BPLS.

Isu Kritis Kondisi Darurat sebab teknis dan non teknis

Pada pertemuan dengan Menteri ESDM selaku Anggota DP BPLS, Hardi Prasetyo (Waka BPLS) didampingi Deputi Operasi menyampikan isu aktual/kritis yaitu:

  • Tanggul Cincin telah berkali-kali Jebol terutama karena intensitas amblesan yang spektakuler.

Pada perkembangan terakhir, Pusat Semburan telah makin mendekati ke Tanggul Cincin bagian utara.

Sehingga akan meningkatkan potensi bahaya fatal, bila Tanggul Cincin jebol sehingga lumpur sangat berpotensi mengalir keluar dari PAT;

  • Kemampuan Lapindo/MLJ dalam menangani upaya penanggulangan semburan dan mengalirkan lumpur ke Kali Porong menurun drastis, karena mengalami krisis finansial;
  • Bapel BPLS telah berinisiatif untuk melakukan Mitigasi Bencana dengan mengerahkan Pompa Booster.

Namun sesuai Perpres 14/2007 tidak mempunyai payung hukum terkait.

Kesimpulan Penting antara lain surat saran kebijakan ke Presiden RI, kondisi darurat Lusi:

Kesimpulan penting dari pertemuan yang dipimpin oleh MESDM tersebut adalah:

  • Setelah rapat usai, akan dibuat draft surat dari MESDM untuk disampaikan kepada Presiden RI terkait Kondisi Darurat dan saran kebijakan terkait;
  • Kepada BPLS yang hadir, yaitu Hardi Prasetyo (Waka BPLS) dan Soffian Hadi (Deputi Operasi), setelah rapat, diharapkan memberikan masukan draft surat MESDM untuk disampaikan kepada Presiden RI;
  • Kepada pihak USGS dimintakan untuk memberikan saran-saran teknis sebagaimana yang sebelumnya telah dilakukan pada BPLS, khususnya terkait studi Penanggulangan semburan mud volcano Lusi.
  • Kepada jajaran KESDM terutama Badan Geologi, untuk lebih meningkatkan dukungan khususnya mengantisipasi kondisi darurat sebagaimana laporan Bapel BPLS.

Outcome sebagai hasil strategis diterbitkannya Perpres 40/2009:

Outcome sebagai hasil strategis dari pertemuan tersebut adalah telah tersedianya fakta dan kajian berbasis knowledge untuk dikeluarkannya Perpres 40/2009 tentang perubahan kedua Perpres 14/2007 tetang BPLS. Dimana didalamnya terdapat perubahan mendasar pada manajemen Penganggulangan Bencana Lusi, yaitu:

  • Tugas dan tanggung jawab finansial dan operasional untuk upaya penanggulangan semburan dan mengalirkan lumpur dari Tanggul Utama ke kali Porong, sebagaimana Pasal 15 Perpres 14/2007 yang sebelumnya ditangani oleh Lapindo, dialihkan ke BPLS;
  • Kegiatan Mitigasi Bencana Geologi yang dilakukan BPLS sebelum Perpres 40/2009 dapat diakomodasikan;
  • Penentuan wilayah 9 RT di luar PAT sebagai wilayah tidak layak huni untuk dikosongkan paling lama 2 tahun untuk evaluasi selanjutnya. Kebijakan ini antara lain sebagai hasil kajian GeoHazard dari Badan Geologi.

 

Tahun 2009:

BDG studi Geohazard untuk kebijakan penentuan wilayah tidak layak huni, Perpres 40/2009 dan Pepres 68/2001:

 

Badan Geologi merupakan Institusi berdiri di penjuru di depan, untuk melakukan pengkajian terhadap wilayah terdampak di luar PAT sebagai wilayah Tidak Layak Huni, yang sebelumnya telah diusulkan oleh Tim Terpadu bentukan Pemprov Jatim.

Hal ini mengingat bahwa aspek GeoHazard telah menjadi faktor dominan dari pengendali mekanisme Bencana Kebumian Semburan Lusi, khususnya di luar PAT.

Hasilnya kajian Badan Geologi telah digunakan sebagai landasan dikeluarkannya Perpres 40/2009 tentang Perubahan Kedua Perpres 14/2007 tentang BPLS, yang intinya menentukan wilayah 9 RT di luar PAT sebagai Wilayah Tidak Layak Huni.

 

 

Badan Geologi menyaksikan terjadinya Perubahan Postur Lusi karena lenyapnya Tanggul Cincin.

Badan Geologi telah memberikan klarifikasi dan verifikasi kepada BPLS terhadap fenomena penting, yaitu runtuhnya Tanggul Cincin sebagai akibat deformasi yang sangat kuat. Dan BPLS memutuskan Tanggul Cincin sudah tidak dapat dibangun kembali.

Dengan runtuhnya Tanggul Cincin sehingga memberikan implikasi sejak tahun 2009, Lusi mud volcano akan berkembang lebih alami.

Sebagai implikasi penting terhadap pilihan kebijakan operasional tersebut, adalah bahwa pengaliran lusi melalui Tanggul Utama ke Kali Porong, semakin sulit untuk dilaksanakan.

Pasca Perpres 40/2009 sehingga upaya penanggulangan semburan dan pengaliran Lusi melalui Tanggul Utama ke Kali Porong telah dialihkan ke BPLS, yang sebelumnya dilaksanakan oleh Lapindo. Sehingga BPLS memulai untuk merubah sistem pengaliran Lusi ke Kali Porong menggunakan Kapal Keruk, selanjutnya Lusi secara alami mengalir ke palung dalam di Selat Madura menggunakan energi bebas yang dimilikinya sendiri.

Badan Geologi Menempatkan fenomena Lusi sebagai situs di Museum Geologi

Dalam rangka HUT Lusi ke tiga, 29 Mei 2009, museum geologi KESDM telah menyelenggarakan evan khusus, yaitu:

  • Mengadakan acara seminar umum dengan tema Fenomena Lumpur Panas Sidoarjo, dengan menghadirkan guru-guru di perguruan tinggi bidang Geografi.

Mengundang Hardi Prasetyo (Waka BPLS) sebagai Narasumber Tunggal memberikan Ceramah Umum; dan

  • Menempatkan situs Lusi mud volcano, sebagai koleksi fenomena alam di Museum Geologi, dikelola Badan Geologi KESDM di Bandung.

 

 Tahun 2010:

Badan Geologi melaporkan ke Presiden RI perubahan mendasar postur dan semburan lusi yang lebih kondusif:

 

Maret 2010, Dr. Ir. Sukhyar selaku Kepala Badan Geologi KESDM, telah membuat laporan tertulis yang dipresentasikan di ruang VIP Bandara Surabaya kepada Presiden RI dan Pejabat lainnya, dalam rangka Kunjungan Kerja ke BPLS.

Dimana intinya disampaikan hal signifikan yaitu telah terjadi perubahan mendasar, terhadap intensitas semburan lumpur Sidoarjo.

Dari sebelumnya dengan tertinggi pernah mencapai 150.000-180.000m3/hari dan rata-rata 100.000m3/hari pada tahun 2006-2009.

Pada tahun 2010 telah mengalami penurunan dramatis menjadi sekitar 25.000m3/hari.

Disamping itu perilaku semburan semakin mantap dengan pola bersiklus Geyser, dan ada bukti-bukti keterkaitan Lusi dengan sistem gunung api di selatannya, terutama berdasarkan umur dan komposisi air dan temuan mineral He.

Berdasarkan laporan tersebut selanjutnya Presiden RI telah menyampaikan ke media masa terhadap telah terjadinya suatu perubahan yang disebutnya cukup mendasar atau Signifikan.

Sehingga selanjutnya telah dikembangkan suatu Paradigma Baru Penanggulangan Lusi tahap lanjut mengarah ke peta perjalanan semburan Lusi yang ganas menuju tahap “dormant”.

Agustus 2010, Badan Geologi, menfasilitasi Rapat Koordinasi Nasional Menentukan Posisi semburan Lusi mud volcano Kedepan:

 

Badan Geologi KESDM, berdiri di depan (penjuru), dengan menfasilitasi suatu Forum Pertemuan Khusus, yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan terhadap isu aktual Semburan Lumpur Sidoarjo.

Rapat dipimpin Hardi Prasetyo, Waka BPLS, mewakili Ka Badan Geologi (Dr. Sukhyar), yang pada saat bersamaan harus menghadiri pertemuan dengan Ka DP BPLS untuk melaporkan hasil kajian aspek GeoHazard untuk pengambilan Keputusan Penanggulangan Lusi dengan berkembangnya Wilayah Terdampak di luar PAT.

Tujuan Forum Koordinasi Ilmu Kebumian tersebut, adalah sebagai langkah nyata untuk mencari solusi dalam menentukan status semburan Lusi ke depan.

Yang ketika itu masih menjadi suatu kontroversi yang mengemuka, terutama antara Para Ahli Kebumian dan Ahli Pemboran.

Debat berkepanjangan telah berlangsung sejak tahun 2007, terkait pertanyaan mendasar apakah semburan Lusi dipicu pemboran sumur eksplorasi BJP-1 atau oleh Gempabumi Yogyakarta?

Selanjutnya menentukan keputusan strategis lainnya, apakah Semburan Lusi perlu/dapat dimatikan?

Pada akhir pertemuan tersebut, telah diputuskan memberikan mandat ke Kepala Badan Geologi KESDM untuk menindaklanjuti hasil pertemuan, dengan melakukan survei seismik 3-D, dimana usulan awal disampaikan oleh BPPT.

Realisasi Keputusan:

Akhirnya pada tahun 2010 BDG KESDM telah mendapatkan konfirmasi anggaran dari sumber APBN, untuk melakukan survei seismik 3-D mencakup wilayah di bawah permukaan dari Pusat Semburan Lusi.

Namun pada tahun 2011, saat akan diimplementasikan di lapangan, terkendala oleh adanya masalah sosial kemasyarakatan (Ditolak Warga).

Disamping telah dipantau bersama antara BDG dan BPLS telah terjadinya tanggul yang mengalami jebol sepanjang 300m di utara Lusi (P 68).

Sehingga akhirnya program tersebut diputuskan untuk dibatalkan sampai waktu yang tidak dapat ditentukan.

Hasil signifikan dan strategis, adalah iklim kontroversi terkait apakah semburan Lusi mud volcano harus dihentikan atau tidak, dengan sendirinya telah menurun drastis.

Disimpulkan bahwa upaya mengambil data baru seismik 3D terutama untuk memastikan apakah semburan perlu atau tidak untuk dimatikan, sehingga fokus utama untuk mencitra bawah permukaan mencakup Postur Semburan Lusi, saluran (conduit) dan sumber lumpur di Formasi Kalibeng Atas.

Realisasi Keputusan untuk Studi Bawah Permukaan 3D:

Akhirnya pada tahun 2010, BDG KESDM telah mendapatkan konfirmasi anggaran dari sumber APBN 2011, untuk melakukan survei seismik 3-D mencakup wilayah di bawah Pusat Semburan Lusi.

Dengan skenario pengambilan seismik 3-D, sebagai sumber energi TNI di sisi timur, sedangkan penerima (Geophone) akan ditempatkan di sisi barat dari PAT.

Namun pada tahun 2011, saat akan diimplementasikan di lapangan, telah terkendala oleh adanya masalah sosial kemasyarakatan (Ditolak Warga).

Disamping itu telah dipantau bersama langsung di lapangan, antara pimpinan kegiatan (Pimpro) dari BDG dan Waka BPLS, dimana tanggul di utara Lusi (P 68) telah mengalami jebol sepanjang 300m.

Disebabkan oleh faktor internal, yaitu intensitas aliran lumpur yang luar biasa versus daya dukung tanggul penahan luapan lumpur.

Sehingga menjadi pertimbangan apa implikasinya bila diterapkan ledakan TNT untuk menimbulkan energi gelombang sesimik refleksi, terhadap ketahanan Tanggul Penahan Luapan Lumpur.

Akhirnya program tersebut diputuskan bahwa walaupun anggaran telah tersedia dari APBN 2011, namun terpaksa untuk dibatalkan sampai waktu yang tidak dapat ditentukan.

Hasil signifikan dan strategis Rencana Seismik 3-D:

Walaupun pelaksanaan mandat pertemuan Nasional para penangku kepantingan semburan Lusi mud volcano terpaksa dibatalkan.

Namun hasil non-teknis adalah iklim kontroversi terkait apakah semburan Lusi mud volcano harus dihentikan atau tidak, dengan sendirinya telah menurun drastis.

 

 

 

PT Pertamina memberi izin BPLS memanfaatkan pipa gas alam yang idle mendukung pangaliran Lusi ke Kali Porong:

Sehubungan terdapatnya aset pipa gas yang dimiliki Pertamina dalam posisi tidak berfungsi (idle), dimana beberapa diantaranya hampir tenggelam di sisi timur Lusi.

Atas permohonan BPLS dimana terlebih dahulu Waka BPLS melakukan koordinasi informal, akhirnya Pihak Pertamina telah memberikan izin tertulis kepada BPLS untuk memanfaatkan pipa gas yang tidak berfungsi tersebut, tanpa merubah aset kepemilikan.

Dalam misi nasional Penanggulangan Bencana Lusi, yaitu dengan mengalirkan lumpur ke Kali Porong. Sebagaimana arah kebijakan dari Perpres 14/2007, yang sebelumnya dilaksanakan oleh Lapindo. Pada Perpres 40/2009 telah dialihkan menjadi tanggung jawab BPLS.

Sehingga dukungan pemanfaatan bekas pipa gas alam tersebut revelan dengan aktualisasi arah kebijakan penanggulangan Lusi.

BP Migas mendukung BPLS melaksanakan even “From Russians With Lusi”, Kunjungan Tim Ahli Rusia ke DP BPLS

 

Atas arahan DP BPLS telah dilaksanakan even From Rusians With Lusi, kunjungan BPLS (Hardi Prasetyo) ke Rusia untuk menerima dari Pemerintah Rusia hasil studi mud volcano Lusi yang dilakukan oleh Para Ahli Kebumian Rusia dipimpin Dr. Kadurin.

Karena pada laporan Tim Rusia tentang Lusi mengandung aspek peringatan dini terhadap berpotensinya dua tubuh mud diapir atau mud volcano purba (paleo mud volcano) yang telah diketemukan sebelumnya, berpotensi untuk dapat berkembang menjadi mud volcano seperti halnya Lusi.

Bahkan pada laporan tersebut Pemerintah Indonesia direkomendasikan untuk melakukannya evakuasi warga yang ada di dekat struktur lumpur tersebut. Sehingga DP BPLS merasa perlu untuk bisa bertemu langsung dengan para ahli Rusia.

Kedatangan Tim Rusia ke Indonesia untuk menghadiri pertemuan dengan DP BPLS di Jakarta, dioptimalkan dengan pelaksanaan Road Show Bencana Lusi masing-masing di Moskow, di Singapura dan Jakarta.

Ir Awang Sutyana atas izin BP Migas bersama Hardi Prasetyo (Waka BPLS) bertindak sebagai narasumber pihak Indonesia untuk mendampingi para ahli mud volcano dari Rusia.

Perlu di catat bahwa tanpa memperhatikan laporan dari Tim Rusia, wilayah di luar PAT berdekatan dengan tubuh 2 mud diapir tersebut telah menjadi aset Barang Milik Negara (BMN) dan permukiman warga telah dikosongkan.

Sebagai bagian dari Penanganan Masalah Sosial Kemasyarakatan akibat luapan Lusi oleh pemerintah di luar PAT 22 Maret 2007, mencakup 3 Desa (PP 48/2008), 9 RT (PP 40/2009 dan PP 68/2011), dan 66 RT (PP 37/2012 dan PP 33/2013).

Tahun 2011:

Kepala BDG ditunjuk DP BPLS Perpres 68/2011 selaku Ketua Tim Terpadu Kajian Wilayah 65 RT Tidak Aman

 

Kepala Badan Geologi KESDM, telah ditunjuk oleh Kepala Dewan Pengarah BPLS, Berdasarkan Perpres 68/2011 tentang perubahan Ketiga Perpres 14/2007 tentang BPLS. Untuk memimpin suatu Tim Terpadu (Timdu), guna mengkaji terhadap dampak dari luapan lumpur terhadap keamanan pada Wilayah 65 RT di luar PAT.

Pada akhir kegiatannya Timdu telah menentukan wilayah 65 RT (dimodifikasi menjadi 66 RT) tidak aman berdasarkan 3 kriteria yaitu GeoHazard, Lingkungan, dan Dinamika Sosial Kemasyarakatan.

Berdasarkan hasil Timdu tersebut, selanjutnya Pemerintah mengeluarkan Perpres No. 37/2012 tentang Perubahan Keempat Perpres 14/2007 tentang BPLS, yang intinya menentukan wilayah 65 RT di luar PAT sebagai Wilayah Tidak Aman.

Selanjutnya pada tahun 2013 telah diaktualisasikan menjadi wilayah 66 RT berdasarkan Perpres 33/2007, dimana Pemerintah melakukan penanganan masalah sosial kemasyarakatan di Luar PAT dengan mekanisme jual beli skema 20% uang muka dan tahap pelunasan 80%, selanjutnya terjadi peralihan aset warga menjadi BMN

BP Migas mendukung BPLS dalam melaksanakan Simposium Internasional Lusi mud volcano di Surabaya:

Ir. Awang Satyana dari BP Migas telah diberi izin BP Migas untuk mewakili Tim Ahli Indonesia membawakan makalah yang holistik “Jatuhnya Kerajaan Jenggala dan Majapahit, antara lain oleh Semburan mud volcano”.

Tahun 2012:

Badan Geologi ditunjuk Menkeu menyiapkan Makalah Posisi aspek Kebumian pada Uji Materi UU APBN 2012 di MK

Kepala Badan Geologi KESDM atas saran dari Waka BPLS telah ditunjuk bertindak selaku koordinator untuk menyiapkan Naskah Pendukung aspek Kebumian, pada Uji Materi UU APBN 2012 di Mahkamah Konstitusi.

Pemerintah dimotori Menteri Keuangan dan Menteri KUMHAM mendapatkan tugas dari Presiden RI untuk mewakili Pemerintah pada Uji Materi UU APBN 2012, terkait Pasal-Pasal alokasi dana BPLS untuk digunakan pada kegiatan Pengaliran Lumpur ke Kali Porong dan Penanganan Masalah Sosial Kemasyarakatan di 65 RT di luar PAT.

Karena materi persidangan yang disampaikan pihak Pengusul, mencakup aspek Penyebab dan Pemicu semburan Lusi yang masih diperdebatkan diantara Pakar Kebumian dan Keteknikan. Disamping aspek penentuan Wilayah Terdampak di Luar PAT yang banyak ditentukan oleh parameter GeoHazard. Sehingga Pemerintah perlu menyiapkan Posisi dan Respon terhadap hal tersebut.

Untuk itu atas saran Waka BPLS (Hardi Prasetyo), Menteri Keuangan telah menunjuk nara sumber sebagai pakar Kebumian yaitu: Dr. Ir. Basuki Hadimuljono (Mantan Kepala TIMNAS), Dr. Ir. Sukhyar (Kepala Badan Geologi KESDM), Prof. Dr. Sukendar Asikin (Guru Besar di ITB) dan Dr. Ir. Agus Guntoro (Pengajar di Universitas Trisakti).

Pada Amar Putusan MK terhadap Uji Materi UU APBN 2012 Petitum dari Pihak Pengusul di tolak, sehingga Pasal terkait alokasi anggaran untuk BPLS telah mempunyai kekuatan Hukum mengikat.

Badan Geologi Memperkuat fakta lapangan keterkaitan Lusi dengan Gunung Magmatik:

Badan Geologi KESDM telah mengirimkan ahli kegunungapian antara lain DR. Hanik dari Balai Merapi di Yogyakarta.

Untuk memperkuat fakta lapangan bahwa material yang dikeluarkan lumpur pekat mampunyai analogi dengan aliran lava Hawai, sehingga temuan tersebut digunakan untuk menentukan lokasi tipe dari Lumpur Hawai.

Disamping itu mengklarifikasi aliran air panas yang bersiklus dengan debit tinggi, memperkuat fakta Lusi mud volcano mempunyai hubungan mesra dengan sistem hidrotermal dalam gunung api Welirang-Arjuno di selatannya.

 

Tahun 2013:

Badan Geologi dan BPLS mengawali penjajakan Lusi mud volcano sebagai suatu GeoPark.

Sesuai dengan kapasitas dan fungsinya Badan Geologi KESDM atas permintaan BPLS disamping untuk memberikan pandangan umum yang berlanjut terhadap dinamika Postur dan Perilaku Semburan, anatomi dan pengendali mekanisme semburan.

Juga secara khusus dimintakan untuk memberikan masukan terhadap pandangan ke depan Lusi mud volcano (What Next Lusi?).

Khususnya terhadap alternatif Lusi sebagai suatu Taman/Cagar Geologi dalam arti yang luas selanjutnya dikenal sebagai GeoPark, dengan persyaratan pendukung Pulau Lumpur (94 hektar) di Tlocor digunakan sebagai komponen/indikator keragaman biologi (bakau) kearifan lokal.

Tindak lanjut arah kebijakan DP BPLS:

Pada 28 Desember 2014 Menteri PUPR di Kementrian Keuangan, pasca memberikan penjelasan ke media masa tentang digulirkannya “Dana Antisipasi” melalui APBNP 2015.

Juga telah menyampaikan arahan ke depan Lusi bahwa Lusi sebagai GeoPark, dengan situs unggulan yaitu semburan bersiklus Geyser, yang juga disebutkan oleh Menteri PUPR dianalogikan dengan Geyser Yellow Stone National Park, di USA, yang terkenal di dunia.

Usulan kedepan Lusi GeoPark mengandung makna:

  • Sebagai GeoWisata kelas dunia;
  • Sebagai Pusat unggulan studi mud volcano di dunia dan Indonesia; dan
  • Potensi berbagai pemanfaatan sistem Lusi untuk kesehatan (mud spa), mineral Litium dan Yodium, dan kemungkinan garam tradisional (seperti di Bleduk Kuwu), dan energi baru terbarukan panas bumi berskala kecil (telah diusulkan Dr. Sudarman 2011 dan Prof. Steve Miller 2014).

Pada kunjungan Badan Geologi September 2015, telah direnanakan untuk dilakukan penyelidikan GeoHealth dan potensi air dan lumpur, dengan mengimplementasikan Laboratorium Portabel yang baru dimiliki.

Tahun 2014:

Badan Geologi mendukung kegiatan BPLS dalam rangka HUT Lusi ke 9 Tahun:

Badan Geologi KESDM mendukung kegiatan BPLS dalam rangka HUT Lusi 9 Tahun dan Peringatan 3 Tahun Simposium Internasional Lusi mud volcano, melalui even “Link Lusi-Bromo-Merapi Volcano tourism” yang menghadirkan Ahli Kebumian dari Jerman dan Ahli Penanggulangan Bencana dari Australia.

Simulasi Lusi GeoPark aspek GeoWisata dilakukan dengan Kunjungan ke Lapangan Lusi mud volcano, Gunung Bromo dan Gunung Merapi yang dua terakhir didukung Badan Geologi. Dibarengi dengan Road Show diskusi Ilmiah dengan tema yang diangkat “Lusi Semakin Indah menawan, namun masih bertenaga, bagian dari Mesin Bumi Kita Yang Luar Biasa”.

Diskusi ilmiah telah dilaksanakan di Surabaya (BPLS), Yogyakarta (UPN), dan Bandung (PPPGL KESDM).

 

Tahun 2015:

Kepala Badan Geologi bersama BPLS melakukan Penilaian Proposal Menghentikan Semburan Lusi:

Pada forum yang difasilitasi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Geologi KESDM sebagai institusi yang kredibel, bersama-sama dengan Bapel BPLS (Waka dan Deputi Operasi) telah melakukan evaluasi secara ilmiah terhadap Proposal yang telah diajukan warga masyarakat.

Proposal tersebut ditujukan untuk mematikan Semburan Lusi, dengan kesimpulan bulat antara BDG dan BPLS yang juga akan berlaku universal, dimana dengan berbagai pandangan teknis dan holistik bahwa Semburan Lusi sudah tidak dapat atau tidak layak untuk dimatikan.

Kepala BDG dan Waka BPLS sebagai Narasumber Kasus Lapindo di KomnasHAM:

Kepala Badan Geologi KESDM dan Wakil Kepala bersama Deputi Sosial Bapel BPLS, sebagai narasumber utama pada acara Seminar Sehari yang dilaksanakan oleh Komnas HAM, sebagai tindak lanjut untuk memantau perkembangan fenomena Lumpur Lapindo serta sehubungan Pemerintah pada tahun 2015 ini akan menggulirkan “Dana Antisipasi”, dimana diharapkan dapat menuntaskan masalah Sosial Kemasyarakatan di dalam PAT.

Hal tersebut sebelumnya menjadi tanggung jawab dari Lapindo, namun menghadapi kendala pada masalah finansial. Sehingga masih tersisa tunggakan sebesar 20% dari total atau senilai Rp. 781 Milyar.

Komnas HAM juga sangat memperhatikan aspek pemicu semburan Lusi serta proses hukum di tingkat MA dan MK yang sedang berlangsung, khususnya Uji Materi terhadap UU APBN 2013 dengan Amar Putusan Petitum Diterima.

Sehingga UU APBN 2013 yang diuji menjadi tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, “SEPANJANG TIDAK DIMAKNAI Pemerintah dengan Kekuasaan yang ada padanya menjamin sisa Pembayaran jual beli tanah dan bangunan di dalam PAT oleh Perusahaan terkait”.

Pada akhir Seminar antara lain disimpulkan pemicu semburan masih terus terjadi perdebatkan antara Pemboran versus Gempabumi, namun Pakar Kebumian sudah tidak mempermasalahkan kontroversi tersebut.

Selanjutnya lebih fokus pada Perkiraan Keadaan ke depanLusi sebagai suatu “mud volcano”, dimana pada akhir Seminar salah satu kesimpulan umum oleh Komnas HAM adalah semburan Lusi masih akan berlangsung lama.

 

Perspektif kedepan 2015-2017:

Peran dan Kontribusi KESDM ke depan pasca “Dana Antisipasi”:

Bahwa tuntasnya implementasi “Dana Antisipasi” akan memberikan implikasi yang luas ke depan, terhadap dapat dilakukannya langkah dan kegiatan berorientasi pemulihan sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Dimana ini sebelumnya selalu terkendala pada penolakan warga terdampak terutama di PAT, bahkan selama beberapa tahun wilayah kerja BPLS di dalam PAT dinyatakan diblokade warga.

Adapun peran KESDM dalam sistem Penanggulangan Bencana Lusi ke depan dimana disesuaikan dengan fungsi dan kekuatan pada aspek terkait, sebagaimana pada sistem BPLS 2007-2015, antara lain:

  • Memantapkan pemahaman aspek sistem mud volcano Lusi,

Sebagai pengendali mekanisme Bencana Kebumian Lusi yang berlanjut dan dapat/akan berlangsung lama.

  • Melanjutkan upaya mendapatkan informasi terkini terkait Anatomi Lusi mud volcano dengan mengambil data geofisika khusus penampang seismik refleksi 3-D:

Sebagaimana yang sebelumnya telah dimandatkan para pemangku Lusi mud volcano kepada Badan Geologi KESDM, Agustus 2010.

Walaupun dana APBN 2011 telah didapatkan, namun tidak dapat dilaksanakan karena masalah non-teknis, gejolak sosial kemasyarakatan yang masih mengemuka.

Sebagai alternatif bila Dana APBN untuk studi seismik 3D akan disediakan oleh BPLS atau Institusi yang relevan lainnya, sehingga Badan Geologi ikut mendukung, terutama untuk mendapatkan jawaban terhadap beberapa Isu aktual Semburan Lusi dikaitkan untuk mengurangi risiko bahaya yang masih mungkin ditimbulkan.

  • Mengklarifikasi peringatan dini dari tim Rusia sehubungan dengan temuan 2 (dua) tubuh mud diapir:

Disertai peringatan dini dapat berkembang menjadi mud volcano bila dipicu gempabumi. Serta merekomendasikan ke Pemerintah Indonesia untuk mengevakuasi warga. Pada tahun 2010 Tim Rusia telah dipertemukan dengan Ketua DP BPSL.

Namun rencana usulan sistem Poligon dari Rusia tidak dapat dilaksanakan karena ketiadaan anggaran. Sehingga peringatan dini belum dapat diantisipasi secara tuntas.

  • Melanjutkan dukungan sebagaimana arah kebijakan DP BPLS Lusi sebagai GeoPark:

Dengan prospek tiga pilar:

  • Potensi GeoWisata Geyser Lusi dan penunjangnya;
  • Pusat keunggulan studi mud volcano di Indonesia dan Dunia; dan
  • Pelajaran berharga Penanggulangan Bencana Kebumian Lusi mud volcano yang baru pertama kalinya di dunia.

Memastikan kemungkinan pemanfaatan sumber daya alam tak terbarukan:

 

Dari Lusi mud volcano ke depan sebagaimana temuan awal:

  • Pemanfaatan untuk kesehatan (mud spa),
  • Garam rakyat,
  • Kandungan Litium yang telah diindikasikan oleh Peneliti Jepang,
  • Kandungan Mineral Yodium, dan
  • Kemungkinan pembangkit listrik panas bumi berskala kecil, sebagaimana telah diidentifikasikan sebelumnya.
  • Memantapkan kedudukan bahwa Lusi sebagai suatu mud volcano, dan Implikasinya ke depan:
  • Semburan tidak dapat dimatikan:

Semburan Geyser Lusi sudah tidak dapat/atau tidak perlu dimatikan dengan pertimbangan berbagai aspek teknis dan nonteknis.

Dengan memperhatikan stori kegagalan penerapan teknik stubbing test, side tracking, dan 2 Relief Well yang telah dilaksanakan sebelumnya tahun 2006 pada masa Tim Terpadu Regional SATKORLAK dan TIMNAS untuk menghentikan semburan Lusi.

  • Semburan akan berlangsung lama:

Bahwa semburan tipe Geyser dari Lusi mud volcano yang mempunyai hubungan mesra dengan sistem hidrotermal dalam gunung magmatik Penanggungan-Welirang-Arjuno akan/dapat berlangsung lama;

  • Model perhitungan panjang umur semburan bervariasi:

Bahwa dari berbagai metoda yang dikembangkan para ahli untuk menghitung lama kehidupan semburan Lusi, pada skenario optimis (pendek) 12-15 tahun, Skenario Harapan (Menengah) 16-26 tahun, dan Skenario Pesimis 27-50 tahun.

  • Sumber semburan atas temuan overpressure lebih dangkal:

Pada anatomi di bawah Lusi maka perlu ditetapkan beberapa hal dimana, antara lain dikaitkan dengan temuan baru dari Prof. Tingay (2015) bahwa satuan dengan overpressure ternyata lebih dangkal (mulai 300m) dari pandangan sebelumnya diawal pada Formasi Kalibeng Atas;

  • Lusi mempunyai hubungan dengan hidrotermal dalam gunung magmatik:

Mengklarifikasi temuan ahli asing, bahwa perilaku semburan Geyser Lusi mempunyai kaitan dengan sistem hidrotermal dalam dari gunung magmatik di selatannya pada kedudukan Busur Magmatik di busur depan Sunda;

  • Mengklarifikasi temuan 2 mud diapir dan potensi terjadinya bencana baru dipicu mud volcano:

Bahwa temuan Tim Ahli Rusia terhadap 2 tubuh struktur lumpur (mud diapir) dapat dibuktikan keberadaannya.

Mengingat pada dokumen laporan tahun 2009 tersebut dibarengi dengan peringatan dini (early warning) bahwa mud diapir tersebut bila dipicu gempabumi dapat berkembang menjadi suatu mud volcano seperti Lusi.

Selanjutnya disampaikan rekomendasi agar pemerintah Indonesia melakukan evakuasi warga yang berada di dekat lokasi tersebut.

Tim Rusia telah bertemu dengan DP BPLS tahun 2010, namun isu ini sebegitu jauh belum secara komprehensif dituntaskan.

  • Melanjutkan pelaksanaan mandat nasional mengambil data baru seismik refleksi 3-D:

Melanjutkan atau mengulangi upaya mengambil data geofisika yang baru khususnya penampang seismik refleksi-3d di bawah semburan Lusi.

Hal ini sebagai pelaksanaan mandat dari pertemuan Nasional Agustus 2010, dimana Kepala Badan Geologi diamanahkan sebagai penjuru.

Walaupun APBN 2011 untuk pengambilan data seismik refleksi 3-D sudah didapatkan, namun ketika akan dilaksanakan mendapatkan halangan dari warga baik PAT maupun luar PAT. Hal penting adalah Badan Geologi dapat mendukung BPLS atau instansi lainnya yang mendapatkan dukungan APBN untuk mengambil data seismik 3-D baru. Dengan fokus untuk dapat berperan dalam menafirkan data seismik 3D baru tersebut, dikaitkan dengan mengurangi risiko Geohazard yang masih/mungkin ditimbulkan. Salah satunya adalah even perulangan terjadinya struktur runtuh berskala besar modal Juni 2008 atau struktur runtuh Porong-1 (mud volcano purba) total ~ 700m dan luas 4 km2 (Shiston 2014).

  • Melanjutkan komitmen untuk mendukung Lusi sebagai Geopark:

Pasca pertemuan “kick off” 15 September 2015, dimana Pengprov Jatim dan Pengkab Sidoarjo telah bersepakat untuk mengusulkan Lusi sebagai GeoPark.

  • Implementasi GeoHealth:

Mengklarifikasi pemanfaatan lumpur sebagai mud spa dikaitkan dengan GeoHealth;

  • Klarifikasi temuan kandungan Litium:

Mengklarifikasi temuan dari ahli Jepang Dr. Tanikawa bahwa Lusi mengandung mineral Litium sebagai konsekuensi mempunyai hubungan hidrotermal dalam dengan sistem gunungapi magmatik;

  • Penjajakan air untuk garam tradisional:

Menyelidiki potensi air yang dihasilkan secara melimpah dari kawah Lusi, untuk garam rakyat, sebagaimana di Bleduk Kuwu.

  • Klarifikan kemungkinan Pengembangan energi panas bumi skala kecil:

Menyelidiki temuan dari ahli Panas Bumi baik dalam negeri dan luar negeri bahwa Lusi mempunyai prospek pembangkit listrik panas bumi berskala kecil. Sebagai konsekuensi Geyser Lusi ditafsirkan sebagai induk dari hidrotermal dalam yang mempunyai hubungan degan sistem magmatik.

  • Lusi dan efek paparan gas rumah kaca:

Menyelidiki aspek paparan gas dari Lusi mud volcano pada kontribusi pada fenomena gas rumah kaca. Sebagaimana yang telah dilaporkan ahli dari hasil analisis Gas Lusi.

  • Penyamaan persepsi keberadaan KKS Migas Blok Brantas, PAT dan GeoPark:

Bahwa pada Dimensi wilayah Penanggulangan Bencana Lusi dimana terdapat PAT dan di Luar PAT. Namun juga terdapat KKS Blok Brantas yang masih aktif.

Perlu manyamakan persepsi atara aspek pemanfaatan sumber daya alam tidak terbarukan dengan Penanggulanan Bencana Lusi.

Sebagai catatan pada skenario Lusi GeoPark hal tersebut dapat dikelola secara terpadu, sebagaimana model usulan GeoPark Rinjani.

MATRIK KROLOGOGIS PERAN DAN KONTRIBUSI KESDM DARI WAKTU KE WAKTU

Waktu Unsur Peran dan Kontributor
2006 SATLAK atau Tim Terpadu:

 

Lapindo Brantas koordinasi BP Migas dan Ditjen Migas

·  Dari saat kejadian Lusi dan Awal Tanggap Darurat, dalam SATLAT atau Timdu Pemda Sidoarjo.

·  Pemerintah sedang fokus pada Bencana Alam Gempabumi Yogyakarta.

·  Eskalasi bencana diluar batas kemampuan Pemerintah Setempat.

2006 September – Agustus 2007 Timnas PSLS:

·    Menteri ESDM

 

Dirjen Migas

Wakil Kepala BP Migas

 

Industri Migas

·    Ketua Dewan Pengarah Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo.

·    Wakil Kepala Timnas PSLS

·    Wakil Kepala Timnas PSLS

·    Pelaksanaan Upaya Penanggulangan Semburan menggunakan 2 Relief Well, dilanjutkan insersi bola-bola beton namun keduanya oleh Timnas dinyatakan gagal.

2007

Timnas

 

Ke

 

BPLS

Transisi Timnas-BPLS

MESDM

(Hardi Prasetyo)

 

·    Memantau Penetapan PAT 22 Maret 2007 sebagai lampiran Perpres 14/2007.

·    Menyiapkan Perpres 14/2007,

·    Keppres Pimpinan Bapel BPLS,

·    Menyiapkan Transisi Timnas ke BPLS

 

8 April 2007

BPLS

·    Setjen KeSDM dan Hardi (SAM ESDM) ·    Melaksanakan sertijab Timnas-BPLS di kantor KESDM Jakarta,

·    Ketua DP Timnas Menteri ESDM ke Menteri PU

·    Kepala Bapel Timnas ke Ka Bapel BPLS

·    Persiapan Hijrah Ke Sidoarjo

 

2007 ·    Badan Geologi (BDG) ·    Aspek GeoHazard untuk memilih Trase Relokasi Infrastruktur,
  ·    PPPGL ·    Studi Ground Penetration Radar untuk kestabilan tanggul (Pelatihan SDM BPLS)

·    Survei geologi pantai dan aliran Lusi di Kali Porong

  ·    PT Timah TBK ·    Atas arahan RI 1 memobilisasi Kapal Keruk ke Muara Kali Porong, sebagai Pionir pada reklamasi Pulau Lumpur.
  ·    PT Pertamina ·    Meminjamkan aset Pipa Gas yang idle ke BPLS untuk pengaliran lumpur ke Kali Porong.
2008 ·     Menteri ESDM dan Badan Geologi dan BP Migas ·     Menfasilitasi laporan Bapel BPLS terhadap Kondisi Darurat.

·     Melaporkan ke Presiden RI, masukan dikeluarkannya Perpres 40/2009

2009 ·     Badan Geologi ·     Memastikan Tanggul Cincin runtuh, Lusi berkembang alami,

·     Even Lusi mud volcano pada Musem Geologi di Bandung,

·     Kajian GeoHazard untuk Perpres 40/2009, 9 RT di luar PAT.

2010 ·     Badan Geologi

 

 

 

 

 

 

·     BP Migas, Awang Satyana

 

 

·     Waka BPLS berhasil hadirkan Tim Rusia ke DP BPLS

·     Melaporkan ke Presiden RI perubahan mendasar postur dan perilaku semburan Lusi, kondusif,

·     Fasilitasi Lusi ke depan, untuk mengambil data seismik refleksi 3-d,

·     Satyana dan Waka BPLS sebagai pembicara Indonesia mendampingi Ahli mud volcano Rusia,

·     Berhasil menghadirkan ahli mud volcano Rusia ke DP BPLS Isu aktual warning temuan 2 diapir.

2011 ·     Badan Geologi

 

 

 

 

 

 

·     Waka BPLS, Prasetyo

 

 

 

·     BP Migas, Awang Satyana

·     Mendapatkan dana APBN untuk ambil seismik 3-d tapi dibatalkan karena masalah sosial di PAT dan Luar PAT,

·     Perpres 68/2011 memberikan mandat Badan Geologi memimpin Tim Terpadu,

·     BPLS dengan inisiator Lusi Library dikelola Hardi berhasil melaksanakan Simposium Internasional Lusi di Surabaya.

·     Satyana ditunjuk Pembicara dari Indonesia.

 

2012 ·     Badan Geologi

 

 

 

 

 

 

 

 

·    PPPGL

 

·     Tim Terpadu laksanakan Kajian wilayah 65 RT tidak aman, sebagai dasar Perpres 37/2012,

·     Ditunjuk Menkeu siapkan Respon Penanggulangan Lusi untuk uji materi UU APBN 2012 di MK,

·     Studi Lapangan oleh Dr. Hanik memperkuat Lusi ada hubungan dengan sistem gunung magmatik di selatan,

·     Kunjungan ke Pulau Lumpur dan penyerahan pinjaman Perahu karet beserta mesin kepada Waka BPLS.

2013 ·     Badan Geologi ·     Diskusi dengan BPLS, kajian awal Lusi terbuka ruang sebagai Geopark, Pulau Lumpur sebagai kearifan lokal.
2014 ·     Badan Geologi ·     Mendukung kegiatan BPLS HUT Lusi ke 8, even Link Lusi-Bromo-Merapi volcano tourism, memfasilitasi kunjungan ke pengamat Gunung Bromo dan Merapi.
2015 ·     Badan Geologi ·     Bersama BPLS (Waka) sebagai Narasumber di Komnas HAM;

·     Bersama BPLS (Waka) melakukan kajian terhadap usulan penghentian semburan, dilaksanakan KESDM.

·     Tindak lanjut arah kebijakan Lusi sebagai Geopark, studi Geodiversity dan Geotrek

·     Bersama BPLS mendukung Pemprov Jatim dan Pengkab Sidoarjo Lusi sebagai GeoPark

 

 

KESDM-BPLS (3): Peran dan Kontribusi pada misi nasional Penanggulangan Lusi

September 16, 2017

KESDM-BPLS

Peran dan Kontribusi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral

Pada Misi Nasional Penanggulangan Bencana Kebumian Lumpur Sidoarjo

2006-2015

  1. Peran KESDM pada Sistem Penanggulangan Lumpur Sidoarjo

IMG_0031

Dikontribusikan Oleh:

Prof. Dr. Hardi Prasetyo, Wakil Kepala, Badan Pelaksana

Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (Bapel BPLS)

Sebelumnya sebagai Staf Ahli Menteri di Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral

September 2015

03peran

POKOK BAHASAN DAN KATA KUNCI

  • Umum Peran aktif KESDM sejak awal kejadian Bencana Lusi sampai saat ini:
  • Peran KESDM pada Pembentukan BPLS dengan Perpres 14/2007:
  • KESDM memberikan supervisi aspek semburan, pengaliran lumpur dan geohazard:
  • Hardi Prasetyo mantan SAM ESDM selaku Wakil Kepala Bapel BPLS:
  • Penyiapan Pembentukan BPLS di KESDM:
  • Tim Kecil menyiapkan Perpres 14/2007 dan Transisi Timnas ke BPLS:
  • Saksi pada penyusunan PAT 22 Maret 2007:
  • Skema pembiayaan Timnas PSLS bersumber dari Lapindo:
  • Pembiayaan BPLS seluruhnya dari APBN:
  • Saat Timnas belum melibatkan Ahli Kebumian di KESDM:
  • Peran Sektor ESDM (Lapindo Brantas) pada Awal Lusi:
  • Mei-September 2006 Pemerintah Fokus pada Penanggulangan Bencana Gempabumi Yogyakarta:
  • Pemerintah Membentuk Timnas PSLS-Lanjut BPLS:
  • Upaya Penanggulangan Semburan Lusi dengan senjata pamungkas Relief Well dinyatakan gagal:
  • Dibentuk BPLS dan perbedaan mendasar dengan Timnas:
  • Transformasi Pemahaman Kebencanaan Lusi di KESDM, Mengedepankan aspek terkait Kebumian:
  • Badan Geologi KESDM Menjadi Penjuru mendukung BPLS:
  • Dukungan BDG KESDM pada BPLS aspek Pengendali Bencana Lusi, Semburan-Luapan-GeoHazard:
  • Makna Perubahan Pengelolaan Lusi Perpres 40/2009, meningkatnya tugas BPLS, Implikasi dukungan KESDM:
  • Pemaknaan Pengendali Bencana Lusi ke depan?
  • Pemaknaan Bencana Lusi sebagai mud volcano tidak dapat dihentikan, sehingga akan berlangsung lama:
  • Pemaknaan Lusi mud volcano berhubungan sistem gunung magmatik, implikasi pada Badan Geologi KESDM:
  • Peran Badan Geologi KESDM mendukung arah Lusi GeoPark:
  • Paradigma Kebijakan Penanggulangan Lusi ditentukan berdasarkan kajian aspek GeoHazard:
  • Peta Perjalanan menuju GeoPark Lusi, Peran penting Badan Geologi dan KeSDM pada sistem Nasional Geopark:

Slide18

Umum Peran aktif KESDM sejak awal kejadian Bencana Lusi sampai saat ini

Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) telah berperan aktif dan memberikan kontribusi yang signifikan, pada misi nasional Penanggulangan BENCANA KEBUMIAN Semburan Lumpur Sidoarjo, atau lebih populer sebagai LUSI (singkatan dari Lumpur Sidoarjo).

Dimulai Sejak awal terjadinya fenomena semburan lumpur Sidoarjo pada 29 Mei 2006, yang masih berlanjut sampai tahun 2015 ketika Lusi telah berumur 9 Tahun.

Dimana Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan tentang “Dana Antisipasi”, untuk menuntaskan masalah sosial kemasyarakatan di PAT, melalui UU APBN 2015 dan Perpres terkait tahun 2015.

Dibarengi dengan arahan ke depan Lusi “dimanfaatkan dalam arti seluas-luasnya” antara lain sebagai suatu Taman Geologi (GeoPark) dan Laboratorium alam Pusat Keunggulan Studi Mud Volcano di Indonesia dan Dunia.

Peran KESDM pada Pembentukan BPLS dengan Perpres 14/2007:

BPLS secara umum berperan untuk penanganan Bencana Kebumian ditimbulkan semburan Lusi, secara lebih komprehensif, integral dan holistik.

Tugas utama mencakup:

  1. Upaya penganggulangan semburan, dimana dimaknai dengan segala usaha baik teknis maupun nonteknis yang bermuara untuk mengelola semburan lumpur panas dari dalam bumi agar terkdendali.

Disamping itu juga mengantisipasi dampak berganda yang umum terjadi dari semburan mud volcano, yaitu deformasi tanah dan geohazard;

Mengalirkan lumpur dari Tanggul Utama ke Kali Porong, dimaknai dengan menjaga agar tampungan lumpur dapat terpelihara, tidak melampaui batas-batas daya dukung dan daya tampungnya.

Dimana lumpur panas yang dimuntahkan di Kawah Lusi dan mengalir melalui sungai-sungai secara alami atau limpasan di lereng menuju daerah depresi.

Selanjutnya dialirkan ke palung dalam di Selat Madura dengan menggunakan energi bebas yang dimiliki sendiri oleh Kali Porong.

  1. Menangani dampak sosial kemasyarakatan, yang ditempuh dengan mekanisme yang khusus yaitu Jual Beli Tanah dan Bangungan Warga terdampak (PAT) secara bertahap dengan harga yang pasti sebagaimana ditentukan pada PAT 4 Desember 2006, dibareni dengan Bantuan Sosial Kemasyarakatan(Bansos); dan
  2. Menangani dampak luapan lumpur panas pada infrastruktur, baik infrastruktur umum, maupun infrastruktur energi (Jaringan pipa gas alam dan Jaringan Listrik).

Sebelumnya misi nasional Penanggulangan Bencana Kebumian Lusi tersebut telah dilaksanakan oleh Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo (TIMNAS).

Dimana telah mengakhiri masa tugas yang ditentukan selama 6 bulan. Selanjutnya telah diperpanjang 1 bulan sampai 8 April 2007. Bersamaan dengan lahirnya institusi baru BPLS.

Sesuai Keppres 14/2007 tentang BPLS, Struktur Organisasi BPLS terdiri dari dua lapisan.

Pertama, Dewan Pengarah BPLS, diketuai oleh Menteri Pekerjaan Umum (sekarang Menteri PUPR). Terdiri dari 10 para Pejabat setingkat Menteri (bersifat Exofficio) ditingkat Pusat, ditambah 4 unsur Daerah (Gubernur Jatim, Pangdam V Brawijaya, Kapolda Jatim dan Bupati Sidoarjo).

KESDM memberikan supervisi aspek semburan, pengaliran lumpur dan geohazard:

Menteri ESDM sebagai exoffisio Anggota DP BPLS sesuai dengan penugasan di lingkungan internal organisasi Dewan Pengarah BPLS tersebut.

Yaitu dengan memberikan supervisi pada aspek-aspek:

  • Upaya penanggulangan semburan dan pengaliran lumpur melalui Tanggul Utama ke Kali Porong selanjutnya menuju lokasi pembuangan akhir di Palung Dalam Sistem Selat Madura,
  • Mitigasi Deformasi atau GeoHazard,
  • Serta hal-hal lain yang terkait dengan sektor ESDM, antara lain:
    • Pemanfaatan Lumpur dalam arti yang luas,
    • Sumber daya alam tidak terbarukan (bahan bangunan, keramik, dll).
    • Sumberdaya alam terbarukan (potensi energi panas bumi sekala kecil).
    • Sebagai Geoheritage yaitu GeoWisata dan GeoPark.

Sebagai catatan dalam perjalanan waktu, ternyata aspek GeoHazard telah memegang peran utama dalam mengendalikan Kebijakan Penanganan Bencana Kebumian Lusi yang bergerak merambat dari waktu ke waktu.

Sehingga Peraturan Presiden No. 14/2007 tentang BPLS telah di diperbarui beberapa kali yang terakhir Peraturan Presiden No. 33/2013 dengan substansi utama penanganan masalah sosial pada Wilayah Tidak Aman (WTA) mencaku 66 RT di Luar PAT.

Paradigma Kebijakan Penanggulangan Lusi ditentukan berdasarkan kajian secara akademik aspek GeoHazard:

Slide24

Dalam kaitan ini Badan Geologi KESDM tercatat telah berperan signifikan, sebagai penjuru terdepan secara nasional terhadap aspek GeoHazard, sebagai alat bantu proses kebijakan.

Beberapa Kebijakan yang telah dikeluarkan Pemerintah dimana diawali dengan kajian aspek GeoHazard, yaitu:

  • Penentuan Trase Relokasi Infrastruktur (Jalan Tol, Jalan Arteri, Rel Kreta Api, Jaringan Energi, Jaringan pipa PDAM), akibat luapan lumpur dimana direlokasi di sebelah barat PAT 22 Maret 2007.

Merupakan aktualisasi dari trase awal ditentukan Timnas. Pada “grand design” trase relokasi tersebut telah ditentukan berdasarkan tiga indikator, yaitu utama GeoHazard, Aspek Teknis, dan Sosial Ekonomi.

Dalam kaitan ini pada tahun 2007, Badan Geologi KESDM telah menjadi penjuru untuk menentukan indikator GeoHazard mencakup deformasi amblesan, retakan, patahan, dan bervariasi bualan (bubble), serta dimensi lingkungan fisik.

  • Perpres 40/2009 dan Perpres 68/2011 menetapkan wilayah 9 RT di luar PAT ditetapkan sebagai Wilayah Tidak Layak Huni.

Dimana sebagai pengendali mekanisme “bencana” adalah GeoHazard dan lingkungan fisik, pada tahap awal dilakukan oleh Tim Terpadu bentukan Pemprov Jatim, pada dimensi nasional diklarifikasi oleh Badan Geologi KESDM.

Pada salah satu pasal dari Perpres 68/2011 menentukan bahwa DP BPLS membentuk Tim Terpadu Pengkajian Wilayah Tidak Aman, yang diketuai oleh Kepala Badan Geologi, KESDM.

  • Perpres 37/2012 dan Perpres 33/2013, wilayah 65 menjadi 66 RT di luar PAT lainnya sebagai Wilayah Tidak Aman.

Telah ditentukan berdasarkan Kajian Tim Terpadu Wilayah Tidak Aman, berdasarkan tiga indikator yaitu GeoHazard, Lingkungan, dan Dinamika Sosial-Kemasyarkatan.

Kepala Badan Geologi, KESDM saat itu Dr. Ir. Sukhyar telah ditunjuk DP BPLS selaku Ketua Pelaksana, didukung oleh BPLS dan pemangku kepentingan terkait.

  • Kepala Badan Geologi, KESDM, telah ditunjuk oleh Hardi Prasetyo (Waka Bapel BPLS) sebagai Anggota Tim Saksi Ahli dari Pemerintah (Diketuai oleh Menteri Keuangan dan Menteri KUMHAM) untuk menindaklanjuti Uji Materi UU APBN 2012 di Mahkamah Konstitusi.

Khususnya untuk menyusun dokumen Sistem Pengendali Bencana mud volcano dan dampak GeoHazard, sebagai basis Penentuan Wilayah 65 RT sebagai daerah tidak aman.

Disamping itu memperkuat posisi Pemerintah dalam menindaklanjuti Amar Putusan dari Mahkamah Agung (MA), yang intinya telah menetapkan bahwa femomena Semburan Lumpur Sidoarjo sebagai suatu Fenomena Alam (Natural Phenomena), dan bukan mrtupakan kesalahan dari PT Lapindo dikaitkan selaku Operator pada pelaksanaan eksplorasi gas alam dengan melakukan pemboran eksplorasi sumur BJP-1 yang berlokasi ~200m dari lokasi Lusi (2006).

Hardi Prasetyo mantan SAM ESDM, ditugaskan selaku Wakil Kepala Bapel BPLS:

Pada tingkat Badan Pelaksana BPLS, Hardi Prasetyo, sebelumnya sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Kelembagaan dan Kemasyarakatan di KESDM.

Telah ditunjuk melalui Keputusan Presiden RI Tahun 2007 (Mei 2012 ditunjuk untuk Jabatan Periode ke II sampai tahun 2017), untuk menjabat sebagai Wakil Kepala. Mendampingi Mayor Jenderal TNI Sunarso (Mantan Pangdam Diponegoro dan SAM di Menko Kesra).

Penyiapan Pembentukan BPLS di KESDM:

Slide5

Seluruh proses penyiapan payung hukum Perpres 14/2007 dan Keppres 2007 terkait penunjukkan Pimpinan Bapel BPLS, sampai upacara Serah Terima Jabatan Pimpinan Timnas ke BPLS, telah disiapkan dan dilaksanakan oleh personal dan bertempat di Kantor Kementrian ESDM di Medan Merdeka Selatan 18, Jakarta (Buku Sejarah Lahirnya BPLS, Prasetyo 2008).

Dalam kaitan ini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sampai 7 April 2007, berperan selaku Ketua Dewan Penasehat dari TIMNAS, sedangkan Kepala Pelaksana TIMNAS adalah Dr. Ir. Basuki Hadimuljono, sekarang selaku Ketua DP BPLS.

Selanjutnya 8 April 2007 Menteri ESDM beralih sebagai Ex Officio Anggota DP BPLS, sedangkan sebagai ketua DP BPLS yang baru dijabat oleh Menteri Pekerjaan Umum (Dr. Ir. Djoko Kirmanto).

Tim Kecil menyiapkan Perpres 14/2007 dan Transisi Timnas ke BPLS:

Prasetyo sebelumnya selaku SAM ESDM tahun 2007 telah mendapatkan tugas khusus dari Menteri ESDM selaku Ketua DP TIMNAS, untuk bertindak sebagai koordinator Tim Kecil.

Dengan tugas utama mengkoordinasikan teknis penyusunan Perpres 14/2007 tentang BPLS dan rancangan Keppres tentang Pimpinan BPLS, serta secara khusus menyiapkan Transisi Timnas-BPLS.

Saksi Ketua DP BPLS pada penyusunan PAT 22 Maret 2007:

Salah satu tahapan penting sebelum lahirnya BPLS, adalah dimana Prasetyo telah ditunjuk MESDM, sebagai Saksi dari Ketua DP Timnas (Menteri ESDM). Pada tahap akhir penentuan Peta Area Terdampak 22 Maret 2007 (PAT) di Surabaya.

Saat itu proses penyusunan sampai ke penetapan dipimpin oleh Dr. Ir. Basuki Hadimuljono selaku Kepala TIMNAS dan Bupati Sidoarjo.

PAT 22 Maret 2007 sebagai SUATU Dimensi Wilayah Penanggulangan Bencana Lusi” selanjutnya telah ditempatkan sebagai lampiran Perpres 14/2007 tentang BPLS, khusus pada Ayat 6 Pasal 15.

Pada hakekatnya Pasal 15 dari Perpres 14/2017 tentang BPLS tersebut, mengatur pembagian tugas dan finansial antara Pemerintah dan PT Lapindo.

Dalam hal ini PAT 22 Maret 2007 membatasi dimensi wilayah dimana Lapindo menangani masalah sosial kemasyarakatan melalui mekanisme Jual Beli secara bertahap (cash and carry) tanah dan Bangungan warga terdampak.

Disamping itu melaksanakan Upaya Penanggulangan Semburan dan mengalirkan lumpur Melalui Tanggul Utama ke Kali Porong.

Adapun tugas pokok BPLS disamping melakukan pamantauan dan pengendalian terhadap tugas yang dilaksanakan oleh Lapindo tersebut.

Juga bertanggung jawab mengalirkan lumpur ke Laut setelah berada di outlet Kali Porong, melakukan mitigasi, penanganan relokasi infrastruktur di sisi barat PAT, dan aspek lain di luar PAT.

Umum Keterlibatan KESDM pada TIMNAS:

Pada struktur organisasi Timnas PSLS (2006-2007) yang ditentukan mempunyai masa kerja 6 Bulan dan diperpanjang 1 bulan, selaku Kepala Pelaksana adalah Dr. Ir. Basuki Hadimuljono (sekarang Menteri PUPR).

Sedangkan Dirjen Migas KESDM dan Wakil Kapala BP Migas bertindak selaku Wakil Ketua. Sebagai Ketua Tim Pakar adalah Prof. Dr. Indroyono Soesilo (Mantan Deputi Tisda BPPT).

Karena saat awal terjadinya bencana Lusi diwarnai oleh adanya kegiatan Eksplorasi Migas dari Blok Brantas, khususnya sumur BJP-1, sehingga sebagai wakil KESDM adalah Dirjen Migas dan Wakil Kepala BP Migas.

Sedangkan saat itu Badan Geologi KESDM, atau Pakar Kebumian di lingkungan KESDM belum banyak dilibatkan.

Kondisi berlaku sebaliknya, karena pada akhir Timnas PSLS telah dimaknai bahwa Pengendali Mekanisme Bencana Kebumian adalah suatu mud volcano yang terbesar di dunia, tanpa mengabaikan kontroversi pemicunya sendiri.

Sehingga pada tahap Misi Nasional Penanggulangan Bencana Kebumian Lusi, berdasarkan Perpres 14/2007 tentang BPLS, terjadi perubahan paradigma.

Dimana peran para Ahli Migas di KESDM telah digantikan oleh para ahli Kebumian (terutama Geologi, Geofisika, Geokimia, Geomatika, Kegunungapian dan GeoLingkungan).

Sumber pembiayaan Timnas PSLS dari Lapindo:

Sesuai dengan Keppres terkait, seluruh pembiayaan dari kegiatan TIMNAS dibebankan kepada Lapindo Brantas Inc. Yang saat itu (belum berubah) selaku Operator dari KKS Blok Brantas. Saat kelahiran Lusi mud volcano, sedang melaksanakan kegiatan pemboran eksplorasi gas alam pada Prospek Banjar Panji-1.

Dengan target gas alam pada reservoir batugamping Terumbu Formasi Kujung, dimana pada sistem semburan Lusi, antara lain ditempatkan sebagai sumber fluida. Namun sebagai catatan, bahwa semburan Lusi mud volcano terjadi berjarak sekitar 200m dari lokasi sumur ekplorasi BJP-1 tersebut, bukan langsung terjadi di lubang pemboran.

Dalam perjalanan waktu (sampai saat ini), Pemicu dan Penyebab dari semburan Lusi mud volcano masih menjadi perdebatan dan kontroversi dikalangan Akademis atau dunia Ilmiah.

Hal ini terbagi menjadi dua teori utama, yaitu terjadi kesalahan pemboran sehingga menimbulkan underground blowout.

Sedangkan teori lainnya dihubungkan dengan terjadinya gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006, diikuti oleh pengaktifan kembali sistem Patahan Watukosek (Watukosek Fault System).

Sedangkan posisi Pemerintah, walaupun menyadari masih terjadi perdebatan, namun sebagaimana disampaikan pada Uji Materi UU APBN 2012 di Mahkamah Konstitusi, adalah memaknai Amar Putusan dari Mahkamah Agung (MA), yaitu “Fenomena Lumpur Sidoarjo meupakan Fenomena Alam”.

Pembiayaan BPLS seluruhnya dari APBN:

Sebagai perbandingan pada organisasi BPLS, sumber anggaran sepenuhnya berasal dari APBN, namun juga terdapat pembagian tanggung jawab operasi dan finansial antara Pemerintah dan PT Lapindo. Sebelum diberlakukannya Perpres 40/2009 tentang perubahan Kedua Perpres 14/2007 tentang BPLS.

Dimana tanggung jawab operasi dan finansial untuk upaya penanggulangan semburan dan mengalirkan lumpur melalui Tanggul Utama ke Kali Porong, yang sebelumnya dilaksanakan oleh Lapindo, telah beralih ke Pemerintah (BPLS).

Saat Timnas belum melibatkan Ahli Kebumian di KESDM:

Pada masa TIMNAS, secara profesi dan kelembagaan KESDM belum melibatkan para ahli Kebumian pada umumnya dan khususnya institusi Badan Geologi dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) yang ada di lingkungan KESDM.

Hal ini menunjukkan bahwa peran penting dari KESDM pada umumnya dan sektor Migas terkait (Lapindo Inc), pada misi nasional TIMNAS saat itu, lebih dilatarbelakangi oleh persepsi bahwa Bencana Lusi mempunyai hubungan secara langsung atau tidak langsung dengan kegiatan dari sektor Migas.

Namun persepsi ini seiring perjalanan waktu telah berubah, dimana sebagai paradigma baru semburan Lusi tanpa menentukan pengendali mekanisme semburannya, merupakan salah satu mud volcano yang terbesar di dunia.

Bahkan pada forum Ilmiah, sejak tahun 2011, pada Simposium Internasional Ilmiah Lusi dilaksanakan BPLS dan HSF 25-26 Mei telah dideklarasikan berdasarkan temuan terbaru. Bahwa Lusi sebagai sistem hidrotermal yang baru lahir (New Born a Hydrotermal System) berhubungan dengan gunung magmatik di selatannya.

Saat awal terjadi semburan Lusi 29 Mei 2006 terpaut 2 hari dari Bencana Gempabumi Yogyakarta yang menimbulkan korban manusia yang luarbiasa, PT Lapindo Brantas sedang melakukan kegiatan pemboran eksplorasi sumur Banjar Panji-1 (BJP-1) pada jarak 200m jauhnya.

Kondisi ini selanjutnya telah memicu terjadinya kontroversi pemicu semburan terkait ledakan di bawah permukaan karena pemboran sumur BJP-1 (manmade volcano). Atau dipicu oleh gempabumi Yogyakarta (natural mud volcano).

Sebagai catatan:

  • Tahun 2007 pada Seminar Lusi di BPPT, Kepala BPPT menyampaikan kesimpulan, bahwa Lusi merupakan fenomena alam dipicu oleh Gempabumi Yogyakarta;
  • Tahun 2008, Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa terhap fenomena Kasus Lumpur Lapindo, “..sebagai suatu fenomena alam dan bukan kesalahan dari PT Lapindo..”;
  • Pada laporan TIMNAS terhadap evaluasi pelaksanaan Pemboran Sumur BJP-1, dinyatakan “..bahwa kegiatan eksplorasi telah dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku..”.
  • Debat Pemicu semburan Lusi di forum Internasional AAPG di Afrika Selatan, antara Pemboran dan Gempa telah dikaji secara mendalam oleh Prasetyo 2008 (Dua Buku);

Peran Sektor ESDM (Lapindo Brantas Inc) pada Awal Lusi:

Secara khusus pada saat awal kejadian fenomena semburan Lumpur di Sidoarjo 29 Mei 2006, penanganannya dimotori oleh Lapindo selaku Operator KKS Blok Brantas di bawah koordinasi Ditjen Migas dan BP Migas.

Selanjutnya dibentuk Tim Terpadu di bawah koordinasi Pemkab Sidoarjo, disebut Satuan Pelaksana (SATLAK) penganggulangan Lusi.

Pembentukan Tim Investigasi atau Independen

Di tingkat Sektoral, Menteri ESDM telah membentuk TIM Investigasi Semburan Lumpur Sidoarjo selanjutnya dikenal sebagai Tim Independen.

Salah satu tugasnya adalah melakukan mengkajian terhadap upaya mematikan semburan, dengan penerapan teknologi snubbing unit dan side tracking pada saat Timdu Satkorlak Prov. Jatim.

Dilanjutkan penerapan senjata pamungkas yaitu 2 Relief Well saat Timnas PSLS, dimana secara teknis dilaksanakan oleh PT Lapindo Brantas di bawah supervisi BP MIGAS.

Tim Terpadu SATKORLAK

Tidak berlangsung lama Tim Terpadu Lokal SATLAK Sidoarjo digantikan oleh Tim Terpadu Regional SATKORLAK Provinsi Jawa Timur, diketuai oleh Gubernur Jatim.

Namun ternyata Tim Terpadu SATLAT dan SATKORLAK tidak mempunyai kapasitas dan kemampuan yang memadai menghadapi eskalasi Bencana Kebumian SLS yang luar biasa intensitas, selanjutnya berkembang menjadi yang terbesar di dunia.

Slide7

Dimana menurut Dr. Ir. Basuki Hadimuljono, Kepala TIMNAS pada bukunya 2008 “Lumpur Panas Sidoarjo: Pelajaran dari sebuah bencana” karena telah dilahirkan suatu Gunung Lumpur di Sidoarjo (mud volcano).

Mei-September 2006 Pemerintah Fokus pada Penanggulangan Bencana Gempabumi Yogyakarta

Hal lain yang menjadi catatan bahwa pada awal kejadian Lusi, 29 Mei 2006 sampai terbentuknya Timnas (September 2006) saat itu Pemerintah sedang memberikan fokus pada penanggulangan Bencana Alam Gempabumi Yogyakarta, yang terjadi 27 Mei 2006. Dengan intensitas yang luar biasa menimbulkan korban meninggal puluhan ribu orang.

Dimana saai itu saya juga tsedang terlibat langsung, mewakili KESDM pada Posko Aju Bakornas Penanggulangan Bencana Gempa Yogyakarta.

Yang bermarkas di Bandara Adi Sucipto, diketuai oleh Mayjen TNI Djoko Darmono. Bagian ini telah ditempatkan pada BAB V Buku Lahirnya BPLS (Prasetyo 2008).

Pemerintah Membentuk Timnas PSLS-Lanjut BPLS:

Pada September 2006 akhirnya Pemerintah memutuskan untuk membentuk Timnas PSLS, antara lain dengan tugas mencakup:

  • Upaya penanggulangan dengan mematikan semburan (termasuk dampak berganda deformasi/geohazard),
  • Mengelola luapan lumpur di permukaan,
  • Menangani masalah sosial kemasyarakatan dan
  • menangani dampak infrastruktur dimana didalamnya termasuk infrastruktur energi (Jaringan SUTTET dan Pipa Gas Alam).

Pada kurun waktu Timnas PSLS (7 bulan) telah semakin terbangun pemahaman baru bahwa semburan lumpur Sidoarjo sebagai suatu mud volcano yang dahsyat merusak (violence and destructive mud volcano eruption) telah mengendalikan Bencana Kebumian Lusi.

Dimana berada pada eskalasi atau sekala yang luar biasa, dan baru pretty kalinya terjadi di Indonesia dan Dunia sekalipun.

Kedahsyatan dari Bencana Lusi mud volcano antara lain ditunjukkan oleh:

  • Semburan dahsyat merusak (violence and destructive eruption) dengan intensitas rata-rata 100.000m3/hari bahkan pernah mencapai 180.000m3/hari pasca terjadi gempabumi,
  • Deformasi amblesan (subsicence) dengan intensitas 4cm/hari pernah diselingi oleh even sudden collapse 4m/hari, bila terjadi secara berlanjut dengan intensitas konstan selama 10 tahun bisa mencapai total amblesan atau runtyu 140m (skenario terburuk),
  • Menimbulkan korban 14 meninggal dan ribuan warga harus diungsikan.
  • Bencana Kebumian Lusi diawali 2006 telah bergerak secara perlahan, atau merayap, dikendalikan dari hulu (semburan-luapan) menjadi ke hilir (deformasi/ geohazard, Lingkungan).
  • Terjadi transformasi pemaknaan Pengendali Mekanisme Becana Lusi, awalnya (2006) merupakan perwujudan dari suatu mud volcano yang konvensional atau umum dikenal (Type mud volcano).
  • Telah berkembang pemaknaan menjadi mud volcano yang khusus (Atype mud volcano) Lusi yang berlokasi di daerah busur belakang (backarc region), sebagai “induk sedimen dari sistem hidrotermal dalam yang berhubungan dengan gunung magmatik di busur depan (magmatic forearc region)”.

Upaya Penanggulangan Semburan Lusi dengan senjata pamungkas Relief Well dinyatakan gagal

Sebelum masa BPLS, diawali pada Timdu Regional SATKORLAK Jatim atas saran Tim Independen telah dilaksanak upaya menghentikan semburan dengan snubbing unit dan side tracking, namun gagal.

Selanjutna pada masa TIMNAS telah dilakukan upaya untuk menghentikan atau mematikan semburan (kill eruption). Dimana telah dilakukan dengan senjata pamungkas yang tersedia saat itu pada industri migas, yaitu 2 pemboran miring (Relief Well), selanjutnya oleh TIMNAS PSLS telah dinyatakan gagal.

Upaya lainnya untuk mengurangi debit semburan yaitu dengan insersi rangkaian bola-bola beton kedalam Kawah untuk masuk ke saluran (conduit) mud volcano Lusi.

Dimana juga dinilai tidak berhasil karena intensitas semburan masih berlanjut rata-rata 100.000m3/hari, sehingga saat akhir TIMNAS telah diputuskan untuk dihentikan.

Ketika tahun 2007 BPLS mulai melaksanakan misi nasional Penanggulangan Bencana Kebumian Lusi, Prasetyo selaku Wakil Ka BPLS merangkap Profesor Riset telah melakukan rapat koordinasi dengan Tim Insersi bola-bola beton (dimotori oleh ITB).

Dimana salah satu kesimpulan, bahwa program insersi bola-bola beton tidak dapat dilaksanakan kembali.

Sebelum dapat dilakukan studi yang mendalam terhadap geometri saluran (conduit geometry) dari gunung lumpur Lusi.

Namun, hal ini merupakan kendala dan tantangan yang sampai saat ini belum dapat dilakukan.

Dibentuk BPLS dan perbedaan dengan Timnas PSLS:

Akhirnya Pemerintah melalui Perpres 14/2007 telah membentuk Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BPLS) dengan perbedaan utama dengan TIMNAS antara lain:

  • Masa kerja BPLS dan Pimpinan BPLS tidak ditentukan lamanya, karena telah dimaknai bahwa suatu semburan mud volcano telah diketahui sulit atau tidak bisa dimatikan dan konsekuensi akan berlangsung lama;
  • Pada Pimpinan Bapel BPLS, yaitu Wakil Kepala dan Deputi Operasi dijabat oleh personal mempunyai latarbelakang pendidikan formal Kebumian/Geologi, sedangkan pimpinan dan personal pegawai terbanyak dari pendidikan keteknikan sipil dan nonteknik untuk penganganan masalah sosial kemasyarakatan.

Transformasi Pemahaman Kebencanaan Lusi di KESDM:

Pelajaran berharga dari Penanggulangan Bencana dari masa TIMNAS telah menimbulkan suatu transformasi yang berlangsung di KESDM, bila sebelumnya Dirjen Migas dan Wakil Kepala BP Migas terlibat langsung sebagai Wakil Kepala di TIMNAS, selanjutnya pada Organisasi BPLS tidak dilibatkan secara langsung.

Peran tersebut digantikan oleh Hardi Prasetyo, dengan latar belakang Profesor pada disiplin Ilmu Kebumian, dan sebelumnya menjabat sebagai SAM MESDM.

aakesdm4

Slide10

Disamping itu juga telah mempunyai rekam jejak telah terlibat pada beberapa penanggulangan bencana/musibah, yaitu:

  • Operasi Dukungan KESDM pada Banjir Dahsyat di Jakarta 2002, bersamaan digulirkannya Kebijakan Harga BBM yang tepat sasaran dan berkeadilan;
  • Operasi SAR tragedi tenggelamnya Kapal Penumpang Tampomas II (Testimoni Pemerintah ke Menko Maritim 2014),
  • Bencana Tsunami NAD dan Gempabumi Yogyakarta (Bab. 5 Buku Lahirnya Lusi 2008).
  • Juga ikut secara fungsional selaku Koordinator Tim Pengamanan Obyek Vital Nasional (Pam Obvitnas sektor ESDM) yang berjumlah 250, untuk memantau Pelaksanaan Penanggulangan Lusi pada Juni 2006, yang diperankan oleh sektor ESDM (Bab VI).

Badan Geologi KESDM Menjadi Penjuru mendukung BPLS:

AA-KESDM-2

Selanjutnya KESDM telah berperan aktif dan memberikan kontribusi yang bermakna, dalam mengimplementasi posisi Menteri ESDM sebagai ex officio Anggota Dewan Pengarah BPLS, di bawah koordinasi Menteri PUPR selaku Ketua DP BPLS.

Keterlibatan KESDM diperankan oleh kelembagaan berbasis Kebumian utamanya oleh Badan Geologi dan juga secara parsial oleh Pusat Penelitian Pengembangan Geologi (PPPGL) dan PPTMGB Lemigas di bawah Badan Litbang ESDM. Adapun sebagai Penghubung antara MESDM dengan Sekretariat dilaksanakan oleh Ir. Rudi Suhendar dari Badan Geologi.

Mengingat bahwa institusi BPLS bukan merupakan suatu “super body”, dimana ruang lingkup pekerjaan mempunyai keterbatasan. Sehingga beberapa tugas yang terkait dengan aspek pengendali mekanisme bencana kebumian yang ditimbulkan oleh gunung lumpur, banyak mendapatkan dukungan teknis dari Institusi terkait Kebumian di lingkungan KESDM yaitu Badan Geologi (BDG).

Dukungan BDG KESDM pada BPLS aspek Pengendali Bencana Lusi, Semburan-Luapan-GeoHazard:

Mengingat Bapel BPLS bukan merupakan suatu “super body”, dimana ruang lingkup pekerjaan mempunyai keterbatasan baik lingkup maupun kemampuan pada aspek khusus (IPTEK, SDM, SARPRES, dan Pembiayaan)..

Sehingga beberapa tugas yang terkait dengan aspek pengendali mekanisme bencana kebumian yang ditimbulkan oleh gunung lumpur Lusi.

Banyak mendapatkan dukungan teknis, antara lain dari institusi terkait Kebumian di lingkungan KESDM yaitu Badan Geologi (BDG).

Disamping termasuk Perguruan Tinggi dan lembaga/Institusi di dalam negeri dan di luar negeri.

Makna Perubahan Pengelolaan Lusi Perpres 40/2009:

Sesuai Perpres 40/2009 tentang perubahan ke dua Perpres 14/2007 tentang BPLS, pada tahun 2009 telah terjadi perubahan secara cukup signifikan terkait pembagian tanggung jawab finansial dan operasional antara BPLS dan Lapindo di dalam PAT 22 Maret 2007.

Pada Pasal 15 dari Perpres 14/2007 tentang BPLS dimana tugas upaya penanggulangan semburan dan pengaliran lumpur ke Kali Porong melalui tanggul utama sebelumnya menjadi tanggung jawab Lapindo.

Sedangkan pada Perpres 40/2009 tanggung jawab tersebut selanjutnya dialihkan kepada Bapel BPLS, yang dalam hal ini menjadi tupoksi melekat pada Deputi Operasi.

Sebagai implikasi dari perubahan pada tataran kebijakan nasional tersebut, dalam melaksanakan langkah tersebut peran KESDM yang diperankan oleh Badan Geologi dalam memberikan dukungan baik supervisi maupun teknis operasional menjadi semakin meningkat.

Pemaknaan Pengendali Mekanisme Bencana Lusi ke depan?

Sehubungan BPLS merupakan suatu lembaga adhock, dimana pada suatu saat akan mengakhiri misi nasional penanggulangan Lusi, sehingga diperlukan adanya suatu kajian yang komprehensif, integral dan holistic.

Terkait dengan akhir misi sistem Penanggulangan Bencana Lusi saat ini dan sekaligus mendapatkan alternatif terbaik untuk kelanjutannya ke depan.

Pemaknaan Bencana Lusi sebagai mud volcano tidak dapat dihentikan, sehingga akan berlangsung lama:

Mengingat pada evaluasi awal telah dipahami dan diterima secara universal bahwa Bencana Kebumian Lusi dikendalikan oleh semburan mud volcano yang terbesar di dunia, diikuti oleh luapan lumpur dan dampak berganda GeoHazard/Deformasi tanah.

Sementara itu sudah semakin mengkristal pendapat bahwa semburan Lusi sebagai suatu mud volcano tidak dapat/tidak perlu dihentikan atau dimatikan, sehingga konsekuensinya semburan akan berlangsung lama.

Dengan demikian dari sisi pengendali mekanisme Penanggulangan Semburan Lusi, aspek semburan-luapan-deformasi geologi-lingkungan masih akan terus eksis. Sampai pada waktu yang tidak dapat ditentukan dengan pasti (masih menjadi perdebatan tersendiri).

Pemaknaan Lusi mud volcano berhubungan sistem gunung magmatik, implikasi pada Badan Geologi KESDM:

Karena belakangan ini telah semakin dapat dikonfirmasi dan validaasi, bahwa semburan Lusi sebagai induk dari sistem hidrotermal dalam yang mempunyai hubungan dengan sistem gunung magmatik Welirang-Arjuno di selatannya.

Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya even perulangan semburan dahsyat yang merusak “violence and desctructive eruption recurrent interval”, atau sekenario buruk propagasi aktivitas magmatik kearah busur belakang (backarc region) sebagaimana model pembentukan gunung magmati melalui “leacky transform”.

Dalam kaitan ini terhadap hubungan yang mesra antara fenomena Lusi mud volcano dengan aspek kegunungapian (volcanism) secara umum, sehingga hal inimenjadi sangat relevan dengan salah satu tupoksi dari Badan Geologi KESDM.

Banyak Pihak Sangat mengkhawatirkan terjadinya skenario bencana baru dipicu struktur runtuh

Slide2

Disamping itu yang sampai saat ini yang belum dapat dipastikan apakah dengan berlanjutnya semburan Lusi sebagai “gysering clastic” dengan kecepatan semburan ~ 25.000m3/hari, apakah masih dapat terjadi even struktur runtuh (collapse structure) sebagaimana yang pernah dialami Juni 2008 dengan intensitas 5m/malam.

Juga bila melakukan studi perbandingan dengan fenomena struktur runtuh di Porong-1 (timurlaut Lusi), dimana terekam telah mengalami total ambles 700m dan radius 4km.

Pengalamanan Berharga Badan Geologi merencanakan pengambilan Seismik 3D.

Hal ini yang menjadi suatu rasionalisasi ilmiah mengapa kita masih sangat membutuhkan untuk dapat mencitra bawah permukaan Lusi mud volcano aktif, agar postur rinci dapat diketahui secara jelas.

Sehingga informasi tersebut dapat digunakan sebagai alat bantu untuk melakukan Pengkajian Pengurangan Risiko Bahaya Baru sebagai dampak berganda semburan Lusi akan berlangsung lama.

Sudah menjadi pemahaman bersama dikalangan para ahli kebumian, diantaranya Prof. Dr. Mark Tingay dari Adelaide University, pada kesimpulan paparan pada Simposium Internasional Ilmiah Lusi diselenggarakan BPLS 2011 telah menyarankan teknologi Seismik 3D.

Demikian halnya Keputusan Seminar Nasional Lusi 2010 dilaksanakan oleh Badan Geologi KESDM.

Dimana pada Sidang Pleno tersebut dipimpin oleh Waka BPLS (Hardi Prasetyo) telah disimpulkan bahwa akan diterapkan teknologi seismik 3D untuk mencitra postur bawah permukaan Lusi mud volcano aktif, baik untuk penentuan semburan Lusi perlu dimatikan, maupun untuk pemanfaatannya pada aspek geohazard dan lain-lain.

Pada tahun 2011 mandat dari Seminar Nasional Lusi 2010 telah ditindaklanjuti oleh Badan Geologi KESDM, dengan penyusunan Grand Design dan aspak TOR, RAB pada penganggaran APBN 2011, namun ketika akan dilaksanakan telah mendapatkan penolakan dari warga.

Peran Badan Geologi KESDM mendukung arah Lusi GeoPark:

Slide04

Salah satu skenario yang telah disampaikan oleh Kedua Dewan Pengarah BPLS pada 28 Desember 2014, bahwa ke depan Lusi diarahkan menjadi suatu GeoPark dengan situs unggulan semburan Geyser, yang menurut Dr. Ir. Basuki Hadimuljono yang juga berlatar belakang pendidikan Ilmu Kebumian (Geologi).

Bahwa semburan dengan perilaku bersiklus Geyser Lusi mempunyai analogi dengan Geyser di Yellow Stone National Park, di USA diasumsikan yang paling terkenal di dunia.

Terkait usulan Lusi ke depan sebagai suatu GeoPark, sehingga sebagai konsekuensi logis, Badan Geologi KESDM dimaknai sebagai salah satu dari tiga institusi Nasional yang mempunyai kridibilitas untuk memberikan masukan yang menyeluruh terhadap alternatif Lusi sebagai suatu GeoPark.

Peta Perjalanan menuju GeoPark Lusi:

Sehubungan dengan hal tersebut, sejak tahun 2013 Badan Geologi bersama Bapel BPLS telah melakukan penjajakan awal terhadap alernatif Lusi sebagai GeoPark.

Salah satu kriteria pendukung yang cukup mendasar adalah Badan Geologi KESDM, telah menempatkan fenomena Lumpur Sidoarjo sebagai salah satu dari total 22 warisan geologi (geoheritage) di Pulau Jawa.

Hasil kajian awal tersebut telah menunjukkan terbuka peluang bagi Lumpur Sidoarjo untuk dapat diusulkan sebagai suatu GeoPark.

Hal ini didasarkan dari berbagai indikator dan persyaratan yang ada:

  • Situs unggulan Semburan Geyser Lusi mud volcano didukung oleh Geotrek dari Geodiversity,
  • Aspek Biodiversity dan kearifan lokal antara lain Pulau Lumpur 94 hektar di Muara Kali Porong.
  • Aspek CultureDiversity, adalah Hikayat bahwa Keruntuhan Kerajaan Majapahit-Jenggala, antara lain karena terkana Bencana Kebumian luapan mud volcano.

Dimana dianalogikan dengan semburan mud volcano Lusi, dengan konsepsi The Present is The Key to The Past (Sekarang di Lusi sebagai Kunci memahami Proses yang terjadi pada masa lalu –Majapahit).

Langkah-demi-Langkah dari bawah ke atas (Bottom to Up)

Hal ini menjadi semakin bermakna, ketika 8 September 2015 Tim Badan Geologi KESDM dimotori Tim GeoTrek dari Museum Geologi dipimpin Ir. Heryadi Rahmat dan diperkuat Ir. Andiani dan Ir. Indra Badri telah melakukan Pertemuan Saresehan GeoPark dengan Pimpinan Bapel BPLS bertempat di kantor BPLS di Surabaya.

Pertemuan ini sebagai modal dasar, untuk menghadapi Pertemuan dilaksanakan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemprov Jawa Timur, tanggal 15 September 2015, yang akan membahas pengusulan 4 GeoPark di wilayah Kabupaten dari Provinsi Jawa Timur, dimana salah satunya GeoPark Lusi di Kabupaten Sidoarjo.

Kick off Peta Perjalanan Terwujudnya GeoPark Lusi

Berdasarkan pada Pertemuan terdahulu dengan Badan Geologi KESDM, BPLS telah memposisikan Pertemuan 15 September 2015 sebagai suatu “Kick Off” suatu Peta Perjalanan menuju terwujudnya GeoPark Lusi, sebagaimana arahan Ketua DP BPLS.

KESDM-BPLS (2): Peran dan Kontribusi pada Penanggulangan LUSI

September 16, 2017

KESDM-BPLS

AAesdm-3

Peran dan Kontribusi

Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral

Pada Misi Nasional Penanggulangan Bencana Kebumian Lumpur Sidoarjo 2006-2015 (September)

2. PENDAHULUAN

00peran-1.png

POKOK BAHASAN

Lumpur Sidoarjo berkembang menjadi Bencana Kebumian yang pertama di Indonenesia bahkan di dunia

Fenomena semburan lumpur panas di Sidoarjo (selanjutnya Lusi) yang bermula pada 29 Mei 2006, terus berlanjut sampai saat ini September 2015.

Selanjutnya telah berkembang menjadi suatu BENCANA KEBUMIAN Semburan Lumpur Sidoarjo (Bencana Lusi), sebegitu jauh telah tercatat sebagai yang pertama kalinya terjadi di Indonesia bahkan di dunia.

Dimana dampaknya yang luarbiasa, secara khusus telah memporak porandakan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Disamping itu secara umum telah merusakkan Infrastruktur umum, termasuk infrastuktur energi (pipa gas alam, dan jaringan SUTTET) dan lingkungan.

Komitmen Pemerintah pada Bencana Kebumian Lusi:

Fenomena semburan lumpur panas di Sidoarjo yang bermula pada 29 Mei 2006, terus berlanjut sampai saat ini September 2015.

Selanjutnya telah berkembang menjadi suatu BENCANA KEBUMIAN Semburan Lumpur Sidoarjo (Bencana Lusi), sebegitu jauh telah tercatat sebagai yang pertama kalinya terjadi di Indonesia bahkan di dunia.

Dimana dampaknya yang luar biasa, secara khusus telah memporak porandakan sendi-sendi kehidupan masyarakat, disamping secara umum telah merusakkan infrastruktur umum dan termasuk energi (pipa gas alam, dan jaringan SUTTET) dan lingkungan.

Pemerintah telah berkomitmen secara nyata untuk menanggulangi Bencana Lusi secara komprehensif-integral-holistik.

Antara lain diawali dengan membentuk institusi Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo (TIMNAS) pada kurun waktu September 2006-April 2007.

Sebagai kelanjutan dari Tim Terpadu Lokal dibawah Satlak Kabupaten Sidoarjo, dan ditingkatkan pada Tim Terpadu Regional dibawah Satkorlak Provinsi Jawa Timur.

Akhir penugasan dari TIMNAS, pada 8 April 2007, Pemerintah dengan membentuk   Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (Selanjutnya BPLS) berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 14/2007 tentang BPLS.

Panjang Waktu Penugasan BPLS dan Pimpinan Tidak Ditentukan

Dengan catatan bahwa pada saat dibentuk BPLS, panjang waktu penugasan institusi (Perpres 14/2007) dan lama jabatan dari pimpinan Bapel BPLS berdasarkan Keppres terkait tahun 2007 tidak ditentukan.

Baru pada tahun 2011, berdasarkan Perpres 68/2011 ketentuan tentang masa bakti Pimpinan Bapel BPLS telah direvisi, yaitu untuk periode pertama menjadi lima tahun (2007-2012) dan periode ke dua 2012-2017.

2007-2015 KESDM telah memberikan kontribusi yang bermakna pada misi nasional Penanggulangan Lusi

Pada kurun waktu 2007-2015 Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) sebagai salah satu dari keserluruhan 14 (empatbelas) institusi Pemerintah yang berada pada sistem organisasi Dewan Pengarah BPLS.

Secara berkelanjutan telah berperan langsung atau tidak langsung, serta tercatat dan dinilai secara faktual telah memberikan kontribusi yang signifikan, pada misi nasional penanggulangan Bencana Lusi.

Tujuan tulisan meringkas Peran dan Kontribusi KESDM

AA-KESDM-2

Tulisan singkat ini meringkas Peran dan Kontribusi signifikan dari Kementrian ESDM dari waktu ke waktu yang dikelompokkan pada tiga tahapan, yaitu: 

Saat ini BPLS (2007-2015), Menteri ESDM selaku exofficio anggota DP BPLS

Berdasarkan Perpres 14/2007 tentang BPLS, dengan unsur pelaksana utama yaitu Badan Geologi (selanjutnya BDG), dan unsur pendukung yaitu Pusat Penelitian Pengembangan Geologi Kelautan (selanjutnya PPPGL).

Disamping itu sebagai pendukung secara insidentil (kondisional) yaitu Ditjen Migas, BP Migas/SKK Migas dan PPTMGB Lemigas (di bawah Balitbang ESDM).

Namun sesuai Pasal 15 Perpres 14/2007, terdapat pembagian tugas operasional dan finansial antara Pemerintah dan Lapindo/MLJ.

Khususnya pada upaya penanggulangan semburan dan mengalirkan lumpur melalui Tanggul Utama ke Kali Porong. Disamping penanganan masalah sosial kemasyarakatan di dalam PAT 22 Maret 2007. Menjadi tanggung jawab Lapindo dan diawasi dan dikendalikan oleh BPLS.

Namun pada Perpres 40/2009 tugas Lapindo untuk upaya penanggulangan semburan dan pengaliran lumpur ke Kali Porong telah dialihkan ke Pemerintah/BPLS. Sehingga

Saat Timnas PSLS (2006-2007), Menteri ESDM selaku Ketua DP didukung Ditjen dan BP Migas:

Saat Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarajo (TIMNAS), berdasarkan Keputusan Presiden terkait September tahun 2006.

Dimana Menteri ESDM bertindak selaku Ketua Tim penasehat TIMNAS. Sedangkan unsur Pendukung utama yaitu Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), Dirjen Migas selaku Wakil Kepala, Badan Pelaksana Hulu Migas (BP Migas) dimana Wakil Kepala BPLS juga sebagai Wakil Kepala Timnas.

Disamping itu Lapindo Berantas Inc. (selanjutnya Lapindo) selaku Operator dari Kontrak Kerjasama Minyak dan Gas Bumi (KKS Migas) Blok Brantas, status di bawah koordinasi Sektor Migas KESDM.

Tahap awal sektoral, Tim Independen 14 Juni 2006

SK Menteri ESDM No. 2231 K/73/MEM/ 2006 tentang Tim Investigasi Masalah Semburan Lumpur di sekitar Sumur Banjar Panji-1, Sidoarjo (Dikenal sebagai Tim Independen). Keanggotaan adalah Pakar dari ITB, UGM, UPN “Veteran’ Yogyakarta

Tugas Tim Independen:

  • Meneliti kondisi geologi disekitar BJB-1 dan sumber semburan lumpur,
  • Meneliti program pengeboran dan pelaksanaan di lapangan,
  • Merumuskan solusi teknis penanggulangan masalah luapan lumpur,
  • Menyusun alternatif penyelesaian sebagai bahan keputusan Pemerintah,

Tahap awal Penanggulangan Lusi oleh SATLAK (Juni-September 2006), Dimotori Lapindo berkoordinasi Ditjen dan BP Migas:

AA-KESDM-1

SK Bupati Sidoarjo No. 1888/689/404.1.1.3/2006 tanggal 15 Juni 2006, Tim Terpadu Penanganan Luapan Lumpur di Kecamatan Porong dan sekitarnya, diketuai Bupati Sidoarjo.

Organisasi Tim Terpadu Pengkab Sidoarjo terdiri dari:

  • Tim Teknis: Koordinator Lapindo dan BP MIGAS
  • Tim Rehabilitasi Sosial dan Kehumasan: Koordinator Wakil Bupati, Dinas-Dinas Kabupaten.
  • Tim Pengendalian /situasi: Koordinator Dandim Sidoarjo, Polres

Timdu Regional, Tim Penanggulangan Bencana/Satkorlak Provinsi Jatim, 19 Juni 2006

Hasil Rapat koordinasi di Kantor Gubernur dibentuk Tim Penanggulangan Bencana.

Organisasi:

Tim 1: Menangani upaya penutupan sumber semburan lumpur, dikoordinasikan oleh BP MIGAS/Lapindo Brantas, difasilitasi Departemen ESDM dan Tim Independen.

Tim 2: Menangani masalah luapan lumpur di permukaan, dikoordinasikan oleh Zipur Kodam V, difasilitasi KLH dan ITS.

Tim 3: Menangai masalah sosial, dikoordinir oleh Bupati Sidoarjo (Ketua Satlak).

Kemanfaatan Umum dan Outcome

Mudah-mudahan perjalanan dari misi nasional penanggulangan Lusi ini, dapat menorehkan fakta terhadap bagaimana “Pemerintah sejak awal telah melakukan komitmennya dengan langkah nyata untuk Menanggulangi Bencana Kebumian Lusi ditimbulkan oleh suatu gunung lumpur yang unik dan komplek sehingga terus menimbulkan kontroversi pada penanganannya”.

Sampai yang terkini dengan menggulirkan “Dana Antisipasi” pada UU APBNP 2015. Ditujukan untuk menuntaskan masalah sosial kemasyarakatan yang mengemuka, khususnya di dalam PAT 22 Maret 2007.

Disamping itu pada dimensi paradigm kebijakan nasional, menunjukkan komitmen Pemerintah yang telah MEMAKNAI terhadap Amar Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap Uji Materi UU APBN 2013 terkait alokasi dana untuk BPLS.

Bencana Kebumian Lusi pertama kali di Indonesia dan dunia

Bencana Lusi dalam khazanah “Kebencanaan Kebumian” pada umumnya tercatat merupakan yang pertama kalinya terjadi baik di Indonesia, maupun di seluruh dunia sekalipun.

Namun fenomena semburan mud volcano, sebelumnya juga telah tersurat pada Hikayat Budaya, yang telah terjadi pada Zaman Kerajaan Jenggala dan Majapahit (Makalah Ilmiah Awang Satyana, 2008, SKK Migas).

Demikian pula saat ini terdapat fenomena geologi diapir lumpur (mud diapir) dan gunung lumpur yang total berjumlah 14 yang berkembang padakedudukan busur belakang dari sistem Busur Sunda (Sunda arc system) di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dimana beberapa diantaranya telah berlangsung puluhan-ratusan tahun, sebagai salah satunya yang terkenal adalah mud volcano Bleduk Kuwu di kota Purwodadi di Jawa Tengah.

Menteri ESDM pada Sistem Penanggulangan Lusi:

AAesdm-3

Dalam kaitan dengan misi nasional penanggulangan Lusi, sesuai dengan Perpres 14/2007 tentang BPLS, kedudukan Menteri ESDM adalah secara ex officio sebagai Anggota dari Dewan Pengarah (DP BPLS).

Yang keseluruhan terdiri dari 10 pejabat setingkat Menteri di Pusat, dan 4 Pejabat di tingkat Provinsi Jawa Timur.

Sebagai Ketua DP BPLS periode 2012-2017 dijabat oleh Dr. Ir. Basuki Hadimuljono selaku Menteri PUPR, menggantikan posisi Dr.Ir. Djoko Kirmanto, selaku Menteri PU sebelumnya (2007-2012).

Instansi Badan Geologi dan Puslitbang Geologi Kelautan secara operasional berinteraksi dengan Bapel BPLS

Dalam kaitan ini, satuan kerja di bawah KESDM yang berinteraksi langsung dengan Badan Pelaksana BPLS, terutama adalah Badan Geologi (BDG), dan sebagai pendukung Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPGL).

Testimoni terhadap kontribusi KESDM pada misi nasional Penanggulangan Lusi yang masih belum terungkap

Dimana secara berkelanjutan antara kurun waktu 2007-2015 dinilai telah memberikan kontribusi yang signifikan.

Namun banyak dari kontribusi tersebut tidak diketahui, tidak terangkat atau tidak dipublikasikan secara khusus.

Dengan demikian, dokumen ini juga merupakan suatu Testimoni saya selaku Waka BPLS.

Dimana sejak awal lahirnya BPLS, telah mendapatkan penugasan dari Menteri ESDM dan Presiden RI (Keppres terkait), untuk berkiprah pada misi nasional penanggulangan Bencana Kebumian Lusi, yaitu pada institusi Bapel BPLS.

Kontribusi BDG KESDM ke depan pada Exit Scenario BPLS, utamanya menggulirkan Lusi sebagai GeoPark

Dalam peta perjalanan penanggulangan Bencana Lusi ke depan (2015-2017), kontribusi KESDM dan khususnya BDG KESDM akan menjadi bagian penting.

Karena saat ini BPLS sedang mengawali melakukan kajian terhadap “exit scenario yang mulus dan elegan, dari sistem BPLS sampai pada periode tahun 2017.

Tahun 2017 ditentukan sebagai alternatif No.1, karena bersamaan dengan masa akhir penugasan Pimpinan BPLS pada kurun waktu 2012-2017 (Keppres terkait 2012).

Salah satu arah kebijakan umum yang telah disampaikan oleh Ketua DP BPLS (24 Desember 2014) kepada media masa di kantor Departemen Keuangan, dimana saya bersama Sesba BPLS mendampingi, yaitu “bahwa ke depan Lusi diarahkan menjadi suatu GeoPark (selanjutnya GeoPark Lusi)”.

Dalam kaitan dengan isu aktual GeoPark Lusi inilah, secara rasional Badan Geologi KESDM diharapkan dapat memberikan peran dan kontribusinya.

Mengingat sesuai ketentuan nasional, BDG yang menentukan aspek Geodiversity dari dua aspek lainnya Bio-Culture Diversity (Kementrian Pariwisata dan Kementrian Lingkungan Hidup).

Disamping itu arahan DP BPLS, Lusi ke depan didorong untuk menjadi Laboratorium Alam dan Pusat Unggulan Studi mud volcano di Indonesia dan Dunia.

Demikian juga akan ditindaklanjuti aspek pemanfaatan Lusi dalam arti yang luas, antara lain:

Kandungan litium, yodium, lumpur untuk kerajinan tangan, bahan keramik, bahan bangunan ringan, lumpur untuk kesehatan (mud spa), mandi lumpur untuk rekreasi. Khususnya karena Lusi telah berkembang sebagai induk sedimen sistem hidrotermal dalam, perlu dijajaki potensi energi panas bumi berskala kecil.

Sebagai suatu Pelajaran Berharga dari Bencana Kebumian Lusi ditimbulkan semburan mud volcano:

Diharapkan secara keseluruhan dokumen “Peran dan Kontribusi Kementrian ESDM pada Penanggulangan Bencana Lusi (2006-2015)” dapat digunakan sebagai suatu pelajaran berharga (Lessons Learned).

Dari suatu Bencana Kebumian yang Unik dan Kontroversi, ditimbulkan oleh semburan suatu mud volcano yang terbesar di dunia. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi di kemudian hari, baik sebagai perulangan interval bencana, atau bila terjadi ditempat lainnya.

Pelajajaran berharga untuk mendukung Eksplorasi Migas

Aspek tidak langsung adalah terkait dengan kegiatan eksplorasi Migas di Indonesia pada umumnya, dan di Cekungan Jawa Timur pada khususnya.

Dimana disatu sisi telah menunjukkan bahwa fenomena semburan Lusi terjadi pada suatu cekungan elisional (Elisional Basin) terbaik di Indonesia, terhadap potensi cadangan minyak dan gas bumi.

Namun disisi lain, juga telah menujukkan secara menyakinkan pada cekungan elisional tersebut telah membentuk struktur pembubungan (piercement structure) yaitu diapir dan mud volcano, satu diantaranya adalah Lusi mud volcano yang terbesar di dunia.

Suatu pelajaran berharga dari Negara Russia sebagai negara terbanyak kejadian fenomena mud volcano, telah digunakan sebagai pelajaran bahwa “keberadaan mud volcano dapat digunakan sebagai alat bantu pada kegiatan eksplorasi migas”.

Perkembangan pengendali mekanisme semburan Lusi dari berbagai penyelidikan ilmiah dilaksanakan terutama oleh pakar dan institusi kebumian dari luar negeri, telah memperkokoh bahwa Lusi bukan merupakan suatu mud volcano yang umum dikenal sebagai suatu volkanisme sedimen (sedimentary volcanism).

Namun Lusi merupakan suatu mud volcano yang khusus dan langka sebagai sistem hibrida, karena merupakan induk sedimen dari sistem hidrotermal dalam (deep hydrothermal system) berhubungan dengan sistem gunung magmatik yang berdekatan yaitu Arjuno-Welirang dan Penanggungan.

Hal ini memberikan implikasi terkait dengan penanggulangan-pengendalian bencana Lusi ke depan dan prospek sumber daya alam energy (migas dan panas bumi).

Sebagai catatan bahwa pada dimensi kewilayahan Penanggulangan Lusi juga berdekatan-berimpit dengan Wilayah Kerja Migas yaitu KKS Blok Brantas, dimana PT Lapindo bertindak sebagai operator.

Didalamnya terdapat lapangan produksi gas alam Curat, Wunut dan Tanggulangin dan Prospek Banjar Panji-1.

 

KESDM-BPLS (6) Pelajaran Berharga Dari KESDM ke BPLS

September 13, 2017

BAGIAN 6:  Suatu Pelajaran Berharga Dari KESDM ke BPLS

AA-KESDM-2.png

KESDM-BPLS: 

Peran dan Kontribusi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral

Pada Misi Nasional Penanggulangan Bencana Kebumian Lumpur Sidoarjo

2006-2015

AAesdm-3.png

Dikontribusikan Oleh: Prof. Dr. Hardi Prasetyo

Wakil Kepala, Badan Pelaksana, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (Bapel BPLS)

Sebelumnya sebagai Staf Ahli Menteri di Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral

September 2015

 

BAPEL BPLS saat dibentuk harus sudah “ke medan perang”:

Badan Pelaksana BPLS adalah institusi ackhock yang baru sama sekali dibentuk pada 8 April 2007 berdasarkan Perpres 14/2007, melanjutkan fungsi dan tugas dari TIMNAS PSLS (September 2006-April 2007).

Dimana Institusi BPLS berada pada domain Penanggulangan Bencana Kebumian berskala nasional, yang pertama kalinya terjadinya di Indonesia bahkan di dunia sekalipun.

Sebagai suatu institusi yang baru sama sekali, sehingga begitu saat dibentuk pada 8 April 2007, dengan personal formal baru 6 orang dari jajaran pimpinan Bapel BPLS (Ketua, Waka, Sesba dan tiga Deputi).

Namun sudah harus “berperang di lapangan”, dalam menjalankan misi nasional penanggulangan Bencana Lusi. Karena itu sangat penting kekayaan intelektual pengalaman dan knowledg dari masing-masing pimpinan BPLS dengan latar belakang pendidikan formal dan institusi induk, sebagai suatu proses lessons learned.

Suatu transformasi Pelajaran Berharga selama berkiprah di Institusi Induk Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral baik memainkan peran selaku Staf Ahli Menteri dari Tiga Menteri, maupun selaku Profesor Riset diringkas pada matrik yang memerlihatkan korelasi antara Lessons learned di KESDM dan Penerapan di BPLS.

Matrik Proses Belajar dan Transisi KESDM ke BPLS (Testimoni):

Proses Belajar di KESDM

Ø Pengalaman Berperan pada Penanggulangan Bencana Kebumian dan Kelautan Nasional:

Ø Tenggelamnya KMP Tampomas dan menemukan Kapten Kapal (Testimoni Menko Maritim).

Ø Bencana Alam Tsunami di NAD, mendampingi MESDM

Ø Bencana Alam Gempa di Yogya, mewakili KESDM di Bakornas Penanggulangan Bencana.

Ø Fact Finding Semburan Lusi Juni 2006 selaku Koordinator Pam Obvitnas Sektor ESDM.

Penyusunan Naskah Strategis:

Ø 1999, Koordinator Teknis Penyiapan Naskah Pidato Presiden RI di MPR dan Nota Keuangan di DPR RI.

Ø Koordinator Teknis Penyusunak Awal Kebijakan Energi Nasional (KEN)

Ø Koordinator Tim Kecil Penyusun Perpres 14/2007 dan Transisi Timnas PSLS-BPLS.

Ø Termasuk Saksi Keduta Dewan Pengarah Timnas (MESDM) pada saat Penyusunan Peta Area Terdampak (PAT) 22 Maret 2007. Selanjutnya ditempatkan sebagai lampiran dari Perpres 14/2007, Pasal 16 Ayat 6.

Berkaitan dengan Fenomena Mud Diapir dan Mud Volcano, pengendali Bencana Kebumian Lusi:

Ø Menemukan dan mempublikasi fenomena mud diapir dan mud volcano, yang utama Cekungan Bali-Lombok diterbitkan di IPA, Lainnya di Cekungan Flores, Selat Sumba diterbitkan dengan Pakar Internasional.

Ø Sebagai acuan akademik untuk kebijakan bahwa “mud volcano” akan/dapat berlangsung lama, tidak dapat-tidak perlu dibunuh, dan hanya satu di dunia mud volcano dibunuh memerlukan waktu 20 tahun (Brunai).

Ø Pada Perpres 14/2007 masa kerja BPLS dan Pimpinan BPLS tidak ditentukan, dengan pemaknaan Lusi sebagai suatu semburan gunung lumpur (mud volcano). Perbandingan pada Timnas PSLS ditentukan masa tugas institusi selama 6 bulan diperpanjang 1 bulan, dengan persepsi Lusi dipersepsikan sebgau underground blowout sumur eksplorasi migas yang umumnya dapat dibunuh paling lama 2 bulan.

Mengkoordinasikan Tim Khusus atas urgensi kebijakan Nasional:

Ø Ketua Tim Sosialisasi Kebijakan Subsidi BBM 1999-2005 dan khusus 2008,

termasuk mendukung pengamanan kebijakan Harga BBM yang penuh dengan dinamika;

Ø Koordinator Pengamanan Obyek Vital ESDM (Pam Obvitnas) termasuk menyusun Keppres No. 63/2003 dan Kepmen Obvitnas Sektor ESDM berjumlah 250;

Ø Anggota Satgas Desk Koordinasi Penanggulangan XX di Kementrian Polkam (SK Menko Polkam), untuk aspek Aset Strategis Energi Nasional.

Paradigma Kebijakan Nasional:

Ø Tim Penyusun UU Migas, UU Listrik, Kebijakan Energi Nasional,

Ø Pemantau dan mengamankan UU Migas pada Uji Materi di Mahkamah Konstitusi, sebagai suatu pelajaran.

Ø Dengan hasil UU Listrik batal demi Hukum dan UU Migas tiga pasal tidak mempunyai hukum tetap. Mendapatkan Apresiasi Khusus dari Dirjen Migas.

Ø Ketua Penyusun Buku Tahunan ESDM edisi 1999-2005 (6 Edisi).

Ø Berhasil melakukan reformasi terkait perencanaan Isu Aktual dan Kritis selama 6 tahun penerbitan;

Ø Merubah penampilan dari sebelumnya sangat sederhana, menjadi tampilan yang menarik.

Ø Edisi khusus Bahasa Inggris,

Ø Menyelaraskan dengan Pengguna Industri Sektor Migas.

Ø Profesor Riset (2004) sebelumnya Ahli Peneliti Utama (APU) (1998), mendapatkan Gelar Peneliti Terbaik DRN RUT, Bidang Ilmu Kebumian sebagai penulis kedua Prof. Dr. Liliek Indrajaya (Mantan Rektor ITB);

Ø Diangkat oleh Dirjen Dikti Depdikbud sebagai satu-satunya diluar Kampus duduk sebagai Anggota Komisi Disiplin Ilmu Mipa dan Kebumian.

Sebagai Reward pasca terpilih sebagai Peneliti Terbaik Indonesia Bidang Ilmu Kebumian (DRN, Menristek).

Ø Kursus Singkat Lemhannas, KSA XI (2003).

Ø Pimpinan Organisasi Profesi:

Ø  Sekjen DPP Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN),

Ø  Ketua Komwil Jabar Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI),

Ø  Penasehat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI),

Ø  Ketua Forum Masyarakat Kelautan Indonesia,

Ø  Ketua II Ikatan Sarjana Oseanografi Indonesia (ISOI)

Khusus:

Ø  Fact Finding Potensi Migas di Celah Timor, DPR-RI (IAGI)

Ø  Ketua Pelaksana Pertemuan Ilmiah Internasional HAGI

Ø  Mandat HAGI pembicara tamu di Pertemuan Tahunan SEG di Texas, USA

Melaksanakan Penyusunan Konsep Pembangunan Nasional, Bappenas, MenRistek:

Ø Ketua Penyusun Buku Profil Kelautan Nasional Edisi 1 dan 2, BPPT-Bappenas.

Ø Ketua Penyusunan Bab 1 Buku Konsep Benua Maritim Indonesia (BMI), BPPT – Wankamtanas.

Ø Ketua Penyusun Kajian Evaluasi Repelita VI dan Kajian Akademik Repelita VII Sektor Kelautan (Bappenas)

Ø Ketua Penyusun Kajian Strategis Kawasan Pengelolaan Kelautan Indonesia (Kapper)- Bappenas-Bakosurtanal.

Ø Bersama Prof. Katili menulis makalah Prospek Migas di Cekungan Busur Muka, pada AAPG di New York.

Ø Mewakili HAGI sebagai Pembicara pada Tamu Pertemuan Ilmiah SEG di Texas, USA, 2003

Mengembangkan Sistem Informasi Terpadu berbasis SIGNET:

Ø Tugas MESDM mendinamisasikan dan mengintegrasikan pulau-pulau Data dan Informasi di KESDM, untuk Informasi Publik dan Industri, sebelum Pusdatin.

Ø Mengembangkan Sistem Informasi Terpadu di Pertamina, BPKKA.

Ø Mengembangkan SIM PKPS BBM bersinergi dengan BPKP berbasis SIGNET.

Ø Ditunjuk mengembangkan Sistem Pemantauan Pemilu (Kontribusi Profesional).

 

Penerapan dan Inovasi di Bapel BPLS

Selaku Wakil Ketua Bapel BPLS berdasarkan Keppres tahun 2007-2012 dilanjutkan tahun 2012-2017. Membantu Kepala Bapel BPLS;

Selaku Profesor Riset secara umum memberikan kontribusi pada misi PENANGGULANGAN BENCANA KEBUMIAN LUSI:

·    Terhadap aspek Iptek Kebumian pada upaya penanggulangan semburan, termasuk mengelola kontroversi pemicu semburan Lusi, serta membangun Jaringan Kerja antar Lembaga Riset.

·    Mendeklarasikan terjadinya Perubahan Mendasar Postur semburan Lusi 2010.

·    Mendorong Ahli Kebumian Lusi lebih memberikan fokus pada What Next, antara lain Panjang Umur Semburan, pemaknaan Geopark, sebagai Centre of Exchellence studi mud volcano di dunia, GeoWisata Geyser Lusi, dan pemanfaatan lumpur.

Ø  2007, KPK: Mewakili BPLS di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk Klarifikasi Perpres 14/2007 tentang pembagian tugas dan pembiayaan antara BPLS-Lapindo, sebelum dana BPLS dapat dicairkan.

Ø  2007, Presentasi di DepKeu, Kementrian PAN dll. Pembentukan Postur Organisasi BPLS yang Miskin Struktur dan Kaya Fungsi. Sebagai penjabaran Peraturan Presiden No. 14/2007 tentang BPLS.

Menggambarkan secara konseptual Mengapa Lusi harus ditangani dan apa yangakan terjadi bila semburan dibiarkan meluap secara alami, daerah terdampak meluas tidak terkendali. Disampaikan 14 Pahlawan Lusi, suatu pekerjaan yang penuh Risiko tanpa Asuransi. Khususnya untuk mendapatkan penilaian Numerasi yang relevan.

Ø  Saat mendapatkan tugas untuk menangani Lusi sebagai suatu mud volcano terbesar di dunia, tidak dari Nol lagi.

Ø  Sejak Mei 2007 dan pada laporan bulanan Presentasi Ilmiah di ITS telah ditempatkan Lusi sebagai suatu mud volcano, dengan segala konsekuensinya: berlangsung lama, tidak bisa/tidak perlu dibunuh;

Ø  Mendukung pemahaman Akademik, dalam Renstra 2009-2014 pada Visi dan Misi BPLS telah dimasukkan kaidah menanggulangi suatu mud volcano.

Ø  Sejak 2007 sampai saat ini melakukan Kajian yang komprehensif, Integral dan Holistik berbasis akademik, sebagai alat bantu untuk memperkuat rasionalisasi bahwa:

·      Lusi sebagai suatu mud volcano terbesar di dunia,

·      Lusi sudah tidak bisa/tidak perlu/terlambat dihentikan

·      Lusi akan berlangsung lama dengan skenario optimis 2018 semburan 2000m3/hari dan skenario pesimis semburan masuk tahap dorman 30-50 tahun;

·      Aspek Deformasi/Geohazard menjadi penjuru terdepan.

·      Fokus pada Pengamanan Warga dari ancaman semburan Lusi dan memulihkan sendi-sendi kehidupan masyarakat terdampak.

Ø  Pada saat Wilayah Kerja BPLS diblokade warga dimulai 2012 lanjut sampai tahun 2015 (intensitas fluktuatif) membangun Tim Khusus Relawan (Tim Harapan) telah dibukukan.

Ø  Menulis dimensi Wilayah BPLS sebagai suatu prototipe Pam Obvitnas LUSI di bawah sektor PU.

Ø  Memudahkan berinteraksi dengan institusi Keamanan, Masyarakat, Terkait dan saat Implementasi di lapangan pada saat “Obvitnas Lusi” mendapatkan tindakan Pendudukan sampai Anarkis

Ø  Membantu Penyusunan Paradigma Kebijakan, Perpres terkait

Ø  Ditunjuk mewakili BPLS pada Uji Materi UU APBN 2012 di MK dikoordinasikan oleh Menkeu dan Menkumham, menyiapkan Saksi Ahli aspek Kebumian dibawah koordinasi Ka Badan Geologi;

Ø  Ditunjuk Bapel BPLS dan DP BPLS saat menjadi Narasumber pada Uiji Materi UU APBN 2013 langsung di MK, Menulis Resume Sidang disampaikan ke Panitera, Menerima Amar Putusan, melakukan Penyamaan Persepsi dengan Wakil Pemerintah terhadap Amar Putusan yang dinilai “Multi tafsir”.

Ø  Saat ini memantau dan menyiapkan antisipasi terhadap Uji Materi di MK terhdap UU APBN 2015 “Dana Antisipasi” (telah dibuat Kajian) dan penyusunan Kirka.

Ø  Sejak Mei 2007 sampai Mei 2014 menyusun bagian Pendahuluan Laporan Bulanan Bapel BPLS total sekitar 100 edisi;

Ø  Menyusun Kapita Selekta isu Aktual dan Kritis dalam format “buku”, dan membangun Situs utama LUSI LIBRARY:KNOWLEDGE MANAGEMENT, Jaring Sosial dalam rangka “Cyber War” dan mendinamisasikan Jaringan Kerja Riset Lusi untuk solusi Lusi yang holistik.

Ø  Rutin melakukan Road Show Lusi di kampus-kampus dan Organisasi Profesi

Ø  2010 Membangun Lusi Library Knowledge Management

Ø  2011 Inisiator secara mandiri mengadakan Simposium Ilmiah Internasional Lusi bekerjasama dengan HSF (Australia).

Ø  Membangun Lusi Reseach Network, sebagai Payung Kegiatan Riset Lusi.

Ø  Mendukung Tertulis Usulan Program Riset Ilmiah Tahun Jamak Lusi Lab (Norway).

Ø  Membimbing S3 dan mendukung tertulis Kandidat S3 di ITS.

Ø  Hut Lusi 2014 melaksanakan even “Link Lusi-Bromo-Merapi Volcano Tourism”, dibarengi Road Show diskusi ilmiah “Lusi Indah namun bertenaga, sebagai Mesin Bumi Kita yang Luar Biasa” di Yogya dan Bandung.

Ø  2010 Mewakili kepala Badan Geologi KESDM, sebagai Ketua Sidang, pada Forum Pertemuan di Jakarta membahas Posisi Semburan Lusi ke depan.

Memutuskan akan mengambil data baru Seismik 3D untuk dimanfaatkan bersama sebagai “black box information” bagi penjajakan keputusan Apakah Semburan Lusi Perlu/Tidak dihentikan;

Ø  Memenuhi Undangan Himpunan Ahli Perminyakan Indonesia, atas kemungkinan diusulkannya kembali mematikan Semburan Lusi dengan Relief Well.

Ø  Melakukan Penelaahan War Game Debat Lusi dipicu pemboran atau gempabumi di Forum Internasional AAPG, 4 Buku.

Ø  Melakukan even “From Russions With Lusi”, mendapatkan dokumen hasil Riset Lusi dari Pemerintah Rusia disertai Peringatan Dini.

Ø  Menghadiri Ceramah Lusi secara Imajiner yang diselenggarakan di forum internasional. Hasil dibukukan dan ditempatkan pada Lusi Library.

Ø Membangun Jaringan kerja dengan beberapa Institusi terkait dan Organisasi Profesi Kebumian.

Ø Inisiator dilaksanakannya Simposium Internasional Ilmiah Lusi, Mei 2011 secara mandiri bekerjasama dengan HSF-Australia.

Ø Ditunjuk mewakili Ketua Badan Geologi saat dilakukan Forum Konsultasi antar disiplin Ilmu Kebumian dan Keteknikan Pemboran, untuk justifikasi posisi semburan Lusi ke depan dan mengelola kontroversi terkait pemicu semburan Lusi antara Gempabumi dan Pemboran. Keputusan untuk mengambil data baru seismik 3D dimandatkan ke Badan Geologi KESDM

Ø Mendeklarasikan Perubahan Mendasar dan pengembangan Paradigma Baru Penanggulangan Lusi, tahun 2010 di Kampus UGM. Membahas usulan riset oleh ahli mud volcano Rusia uang mendapat dukungan Pemerintah Rusia.

 

Ø Tahun 2007 Mengkontribusikan Design Concept pengembangan tiga generasi Website bpls.go.id yang eksis saat ini;

Ø Mengembangkan Website Lusi Library yang didukung oleh Para Ahli mud volcano di manca negara.

Ø Mengembangkan ANDRO LUSI berbasis komputasi awan (cloud computing) untuk membangun wacana publik terkait Bencana Lusi dari konfrontasi menuju solusi yang holistik. Hasilnya telah diakui oleh Komunitas di manca negara.

 

Penerapan atau Inovasi di Bapel BPLS

Selaku Wakil Ketua Bapel BPLS berdasarkan Keppres tahun 2007-2012 dilanjutkan tahun 2012-2017. Membantu Kepala Bapel BPLS;

Selaku Profesor Riset secara umum memberikan kontribusi pada misi PENANGGULANGAN BENCANA KEBUMIAN LUSI:

·    Terhadap aspek Iptek Kebumian pada upaya penanggulangan semburan, termasuk mengelola kontroversi pemicu semburan Lusi, serta membangun Jaringan Kerja antar Lembaga Riset.

·    Mendeklarasikan terjadinya Perubahan Mendasar Postur semburan Lusi 2010.

·    Mendorong Ahli Kebumian Lusi lebih memberikan fokus pada What Next, antara lain Panjang Umur Semburan, pemaknaan Geopark, sebagai Centre of Exchellence studi mud volcano di dunia, GeoWisata Geyser Lusi, dan pemanfaatan lumpur.

 

Ø  2007, KPK: Mewakili BPLS di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk Klarifikasi Perpres 14/2007 tentang pembagian tugas dan pembiayaan antara BPLS-Lapindo, sebelum dana BPLS dapat dicairkan.

Ø  2007, Presentasi di DepKeu, Kementrian PAN dll. Pembentukan Postur Organisasi BPLS yang Miskin Struktur dan Kaya Fungsi. Sebagai penjabaran Peraturan Presiden No. 14/2007 tentang BPLS. Menggambarkan secara konseptual Mengapa Lusi harus ditangani dan apa yangakan terjadi bila semburan dibiarkan meluap secara alami, daerah terdampak meluas tidak terkendali. Disampaikan 14 Pahlawan Lusi, suatu pekerjaan yang penuh Risiko tanpa Asuransi. Khususnya untuk mendapatkan penilaian Numerasi yang relevan.

Ø  Saat mendapatkan tugas untuk menangani Lusi sebagai suatu mud volcano terbesar di dunia, tidak dari Nol lagi.

Ø  Sejak Mei 2007 dan pada laporan bulanan Presentasi Ilmiah di ITS telah ditempatkan Lusi sebagai suatu mud volcano, dengan segala konsekuensinya: berlangsung lama, tidak bisa/tidak perlu dibunuh;

Ø  Mendukung pemahaman Akademik, dalam Renstra 2009-2014 pada Visi dan Misi BPLS telah dimasukkan kaidah menanggulangi suatu mud volcano.

Ø  Sejak 2007 sampai saat ini melakukan Kajian yang komprehensif, Integral dan Holistik berbasis akademik, sebagai alat bantu untuk memperkuat rasionalisasi bahwa:

·      Lusi sebagai suatu mud volcano terbesar di dunia,

·      Lusi sudah tidak bisa/tidak perlu/terlambat dihentikan

·      Lusi akan berlangsung lama dengan skenario optimis 2018 semburan 2000m3/hari dan skenario pesimis semburan masuk tahap dorman 30-50 tahun;

·      Aspek Deformasi/Geohazard menjadi penjuru terdepan.

·      Fokus pada Pengamanan Warga dari ancaman semburan Lusi dan memulihkan sendi-sendi kehidupan masyarakat terdampak.

 

Ø  Pada saat Wilayah Kerja BPLS diblokade warga dimulai 2012 lanjut sampai tahun 2015 (intensitas fluktuatif) membangun Tim Khusus Relawan (Tim Harapan) telah dibukukan.

Ø  Menulis dimensi Wilayah BPLS sebagai suatu prototipe Pam Obvitnas LUSI di bawah sektor PU.

Ø  Memudahkan berinteraksi dengan institusi Keamanan, Masyarakat, Terkait dan saat Implementasi di lapangan pada saat “Obvitnas Lusi” mendapatkan tindakan Pendudukan sampai Anarkis

Ø  Membantu Penyusunan Paradigma Kebijakan, Perpres terkait

Ø  Ditunjuk mewakili BPLS pada Uji Materi UU APBN 2012 di MK dikoordinasikan oleh Menkeu dan Menkumham, menyiapkan Saksi Ahli aspek Kebumian dibawah koordinasi Ka Badan Geologi;

Ø  Ditunjuk Bapel BPLS dan DP BPLS saat menjadi Narasumber pada Uiji Materi UU APBN 2013 langsung di MK, Menulis Resume Sidang disampaikan ke Panitera, Menerima Amar Putusan, melakukan Penyamaan Persepsi dengan Wakil Pemerintah terhadap Amar Putusan yang dinilai “Multi tafsir”.

Ø  Saat ini memantau dan menyiapkan antisipasi terhadap Uji Materi di MK terhdap UU APBN 2015 “Dana Antisipasi” (telah dibuat Kajian) dan penyusunan Kirka.

Ø  Sejak Mei 2007 sampai Mei 2014 menyusun bagian Pendahuluan Laporan Bulanan Bapel BPLS total sekitar 100 edisi;

Ø  Menyusun Kapita Selekta isu Aktual dan Kritis dalam format “buku”, dan membangun Situs utama LUSI LIBRARY:KNOWLEDGE MANAGEMENT, Jaring Sosial dalam rangka “Cyber War” dan mendinamisasikan Jaringan Kerja Riset Lusi untuk solusi Lusi yang holistik.

Ø  Rutin melakukan Road Show Lusi di kampus-kampus dan Organisasi Profesi

Ø  2010 Membangun Lusi Library Knowledge Management

Ø  2011 Inisiator secara mandiri mengadakan Simposium Ilmiah Internasional Lusi bekerjasama dengan HSF (Australia).

Ø  Membangun Lusi Reseach Network, sebagai Payung Kegiatan Riset Lusi.

Ø  Mendukung Tertulis Usulan Program Riset Ilmiah Tahun Jamak Lusi Lab (Norway).

Ø  Membimbing S3 dan mendukung tertulis Kandidat S3 di ITS.

Ø  Hut Lusi 2014 melaksanakan even “Link Lusi-Bromo-Merapi Volcano Tourism”, dibarengi Road Show diskusi ilmiah “Lusi Indah namun bertenaga, sebagai Mesin Bumi Kita yang Luar Biasa” di Yogya dan Bandung.

Ø  2010 Mewakili kepala Badan Geologi KESDM, sebagai Ketua Sidang, pada Forum Pertemuan di Jakarta membahas Posisi Semburan Lusi ke depan.

Memutuskan akan mengambil data baru Seismik 3D untuk dimanfaatkan bersama sebagai “black box information” bagi penjajakan keputusan Apakah Semburan Lusi Perlu/Tidak dihentikan;

Ø  Memenuhi Undangan Himpunan Ahli Perminyakan Indonesia, atas kemungkinan diusulkannya kembali mematikan Semburan Lusi dengan Relief Well.

Ø  Melakukan Penelaahan War Game Debat Lusi dipicu pemboran atau gempabumi di Forum Internasional AAPG, 4 Buku.

Ø  Melakukan even “From Russions With Lusi”, mendapatkan dokumen hasil Riset Lusi dari Pemerintah Rusia disertai Peringatan Dini.

Ø  Menghadiri Ceramah Lusi secara Imajiner yang diselenggarakan di forum internasional. Hasil dibukukan dan ditempatkan pada Lusi Library.

Ø Membangun Jaringan kerja dengan beberapa Institusi terkait dan Organisasi Profesi Kebumian.

Ø Inisiator dilaksanakannya Simposium Internasional Ilmiah Lusi, Mei 2011 secara mandiri bekerjasama dengan HSF-Australia.

Ø Ditunjuk mewakili Ketua Badan Geologi saat dilakukan Forum Konsultasi antar disiplin Ilmu Kebumian dan Keteknikan Pemboran, untuk justifikasi posisi semburan Lusi ke depan dan mengelola kontroversi terkait pemicu semburan Lusi antara Gempabumi dan Pemboran. Keputusan untuk mengambil data baru seismik 3D dimandatkan ke Badan Geologi KESDM

Ø Mendeklarasikan Perubahan Mendasar dan pengembangan Paradigma Baru Penanggulangan Lusi, tahun 2010 di Kampus UGM. Membahas usulan riset oleh ahli mud volcano Rusia uang mendapat dukungan Pemerintah Rusia.

Ø Tahun 2007 Mengkontribusikan Design Concept pengembangan tiga generasi Website bpls.go.id yang eksis saat ini;

Ø Mengembangkan Website Lusi Library yang didukung oleh Para Ahli mud volcano di manca negara.

Ø Mengembangkan ANDRO LUSI berbasis komputasi awan (cloud computing) untuk membangun wacana publik terkait Bencana Lusi dari konfrontasi menuju solusi yang holistik. Hasilnya telah diakui oleh Komunitas di manca negara.

Proses Belajar di KESDM Penerapan dan Inovasi di Bapel BPLS
Ø Pengalaman Berperan pada Penanggulangan Bencana Kebumian dan Kelautan Nasional:

 

Ø Tenggelamnya KMP Tampomas dan menemukan Kapten Kapal (Testimoni Menko Maritim).

Ø Bencana Alam Tsunami di NAD, mendampingi MESDM

Ø Bencana Alam Gempa di Yogya, mewakili KESDM di Bakornas Penanggulangan Bencana.

Ø Fact Finding Semburan Lusi Juni 2006 selaku Koordinator Pam Obvitnas Sektor ESDM.

Selaku Wakil Ketua Bapel BPLS berdasarkan Keppres tahun 2007-2012 dilanjutkan tahun 2012-2017. Membantu Kepala Bapel BPLS;

Selaku Profesor Riset secara umum memberikan kontribusi pada misi PENANGGULANGAN BENCANA KEBUMIAN LUSI:

terhadap aspek Iptek Kebumian pada upaya penanggulangan semburan, termasuk mengelola kontroversi pemicu semburan Lusi, serta membangun Jaringan Kerja antar Lembaga Riset.

Mendeklarasikan terjadinya Perubahan Mendasar Postur semburan Lusi 2010.

Mendorong Ahli Kebumian Lusi lebih memberikan fokus pada What Next, antara lain Panjang Umur Semburan, pemaknaan Geopark, sebagai Centre of Exchellence studi mud volcano di dunia, GeoWisata Geyser Lusi, dan pemanfaatan lumpur.

Penyusunan Naskah Strategis:

 

Ø 1999, Koordinator Teknis Penyiapan Naskah Pidato Presiden RI di MPR dan Nota Keuangan di DPR RI.

Ø Koordinator Teknis Penyusunak Awal Kebijakan Energi Nasional (KEN)

 

Ø Koordinator Tim Kecil Penyusun Perpres 14/2007 dan Transisi Timnas PSLS-BPLS.

Ø Termasuk Saksi Keduta Dewan Pengarah Timnas (MESDM) pada saat Penyusunan Peta Area Terdampak (PAT) 22 Maret 2007. Selanjutnya ditempatkan sebagai lampiran dari Perpres 14/2007, Pasal 16 Ayat 6.

 

Ø  2007: Mewakili BPLS di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk Klarifikasi Perpres 14/2007 tentang pembagian tugas dan pembiayaan antara BPLS-Lapindo, sebelum dana BPLS dapat dicairkan.

Ø  2007: Presentasi di DepKeu, Kementrian PAN dll. Pembentukan Postur Organisasi BPLS yang Miskin Struktur dan Kaya Fungsi. Sebagai penjabaran Peraturan Presiden No. 14/2007 tentang BPLS. Khususnya untuk mendapatkan penilaian Numerasi yang relevan.

Berkaitan dengan Fenomena Mud Diapir dan Mud Volcano, pengendali Bencana Kebumian Lusi:

Ø Menemukan dan mempublikasi fenomena mud diapir dan mud volcano, yang utama Cekungan Bali-Lombok diterbitkan di IPA, Lainnya di Cekungan Flores, Selat Sumba diterbitkan dengan Pakar Internasional.

Ø Sebagai acuan akademik untuk kebijakan bahwa “mud volcano” akan/dapat berlangsung lama, tidak dapat-tidak perlu dibunuh, dan hanya satu di dunia mud volcano dibunuh memerlukan waktu 20 tahun (Brunai).

Ø Pada Perpres 14/2007 masa kerja BPLS dan Pimpinan BPLS tidak ditentukan, dengan pemaknaan Lusi sebagai suatu semburan gunung lumpur (mud volcano). Perbandingan pada Timnas PSLS ditentukan masa tugas institusi selama 6 bulan diperpanjang 1 bulan, dengan persepsi Lusi dipersepsikan sebgau underground blowout sumur eksplorasi migas yang umumnya dapat dibunuh paling lama 2 bulan.

Ø  Saat mendapatkan tugas untuk menangani Lusi sebagai suatu mud volcano terbesar di dunia, tidak dari Nol lagi.

Ø  Sejak Mei 2007 dan pada laporan bulanan Presentasi Ilmiah di ITS telah ditempatkan Lusi sebagai suatu mud volcano, dengan segala konsekuensinya: berlangsung lama, tidak bisa/tidak perlu dibunuh;

Ø  Mendukung pemahaman Akademik, dalam Renstra 2009-2014 pada Visi dan Misi BPLS telah dimasukkan kaidah menanggulangi suatu mud volcano.

Ø  Sejak 2007 sampai saat ini melakukan Kajian yang komprehensif, Integral dan Holistik berbasis akademik, sebagai alat bantu untuk memperkuat rasionalisasi bahwa:

Ø Lusi sebagai suatu mud volcano terbesar di dunia,

Ø Lusi sudah tidak bisa/tidak perlu/terlambat dihentikan

Ø Lusi akan berlangsung lama dengan skenario optimis 2018 semburan 2000m3/hari dan skenario pesimis semburan masuk tahap dorman 30-50 tahun;

Ø Aspek Deformasi/Geohazard menjadi penjuru terdepan.

Ø Fokus pada Pengamanan Warga dari ancaman semburan Lusi dan memulihkan sendi-sendi kehidupan masyarakat terdampak.

 

Mengkoordinasikan Tim Khusus atas urgensi kebijakan Nasional:

Ø Ketua Tim Sosialisasi Kebijakan Subsidi BBM 1999-2005 dan khusus 2008,

termasuk mendukung pengamanan kebijakan Harga BBM yang penuh dengan dinamika;

Ø Koordinator Pengamanan Obyek Vital ESDM (Pam Obvitnas) termasuk menyusun Keppres No. 63/2003 dan Kepmen Obvitnas Sektor ESDM berjumlah 250;

Ø Anggota Satgas Desk Koordinasi Penanggulangan XX di Kementrian Polkam (SK Menko Polkam), untuk aspek Aset Strategis Energi Nasional.

Ø  Pada saat Wilayah Kerja BPLS diblokade warga dimulai 2012 lanjut sampai tahun 2015 (intensitas fluktuatif) membangun Tim Khusus Relawan (Tim Harapan) telah dibukukan.

Ø  Menulis dimensi Wilayah BPLS sebagai suatu prototipe Pam Obvitnas LUSI di bawah sektor PU.

Ø  Memudahkan berinteraksi dengan institusi Keamanan, Masyarakat, Terkait dan saat Implementasi di lapangan pada saat “Obvitnas Lusi” mendapatkan tindakan Pendudukan sampai Anarkis

Paradigma Kebijakan Nasional:

Ø Tim Penyusun UU Migas, UU Listrik, Kebijakan Energi Nasional,

Ø Pemantau dan mengamankan UU Migas pada Uji Materi di Mahkamah Konstitusi, sebagai suatu pelajaran.

Ø Dengan hasil UU Listrik batal demi Hukum dan UU Migas tiga pasal tidak mempunyai hukum tetap. Mendapatkan Apresiasi Khusus dari Dirjen Migas.

Ø  Membantu Penyusunan Paradigma Kebijakan, Perpres terkait

Ø  Ditunjuk mewakili BPLS pada Uji Materi UU APBN 2012 di MK dikoordinasikan oleh Menkeu dan Menkumham, menyiapkan Saksi Ahli aspek Kebumian dibawah koordinasi Ka Badan Geologi;

Ø  Ditunjuk Bapel BPLS dan DP BPLS saat menjadi Narasumber pada Uiji Materi UU APBN 2013 langsung di MK,

Ø  Saat ini memantau dan menyiapkan antisipasi terhadap Uji Materi di MK terhdap UU APBN 2015 “Dana Antisipasi” (telah dibuat Kajian) dan penyusunan Kirka.

Ø Ketua Penyusun Buku Tahunan ESDM edisi 1999-2005 (6 Edisi).

Ø Berhasil melakukan reformasi terkait perencanaan Isu Aktual dan Kritis selama 6 tahun penerbitan;

Ø Merubah penampilan dari sebelumnya sangat sederhana, menjadi tampilan yang menarik.

Ø Edisi khusus Bahasa Inggris,

Ø Menyelaraskan dengan Pengguna Industri Sektor Migas.

Ø  Sejak Mei 2007 sampai Mei 2014 menyusun bagian Pendahuluan Laporan Bulanan Bapel BPLS sekitar 100 edisi;

Ø  Menyusun Kapita Selekta isu Aktual dan Kritis dalam format “buku”, dan membangun Situs utama LUSI LIBRARY:KNOWLEDGE MANAGEMENT, Jaring Sosial dalam rangka “Cyber War” dan mendinamisasikan Jaringan Kerja Riset Lusi untuk solusi Lusi yang holistik.

Ø Profesor Riset (2004) sebelumnya Ahli Peneliti Utama (APU) (1998), mendapatkan Gelar Peneliti Terbaik DRN RUT, Bidang Ilmu Kebumian sebagai penulis kedua Prof. Dr. Liliek Indrajaya (Mantan Rektor ITB);

Ø Diangkat oleh Dirjen Dikti Depdikbud sebagai satu-satunya diluar Kampus duduk sebagai Anggota Komisi Disiplin Ilmu Mipa dan Kebumian.

Sebagai Reward pasca terpilih sebagai Peneliti Terbaik Indonesia Bidang Ilmu Kebumian (DRN, Menristek).

Ø Kursus Singkat Lemhannas, KSA XI (2003).

Ø  Rutin Road Show Lusi di kampus-kampus dan Organisasi Profesi

Ø  2010 Membangun Lusi Library Knowledge Management

Ø  2011 Inisiator secara mandiri mengadakan Simposium Ilmiah Internasional Lusi bekerjasama dengan HSF (Australia).

Ø  Membangun Lusi Reseach Network, sebagai Payung Kegiatan Riset Lusi.

Ø  Mendukung Tertulis Usulan Program Riset Ilmiah Tahun Jamak Lusi Lab (Norway).

Ø  Membimbing S3 dan mendukung tertulis Kandidat S3 di ITS.

Ø  Hut Lusi 2014 melaksanakan even “ Link Lusi-Bromo-Merapi Volcano Tourism”, dibarengi Road Show diskusi ilmiah “Lusi Indah namun bertenaga, sebagai Mesin Bumi Kita yang Luar Biasa” di Yogya dan Bandung.

Ø Pimpinan Organisasi Profesi:

Ø  Sekjen DPP Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN),

Ø  Ketua Komwil Jabar Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI),

Ø  Penasehat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI),

Ø  Ketua Forum Masyarakat Kelautan Indonesia,

Ø  Ketua II Ikatan Sarjana Oseanografi Indonesia (ISOI)

Khusus:

Ø  Fact Finding Potensi Migas di Celah Timor, DPR-RI (IAGI)

Ø  Ketua Pelaksana Pertemuan Ilmiah Internasional HAGI

Ø  Mandat HAGI pembicara tamu di Pertemuan Tahunan SEG di Texas, USA

Ø  2010 Mewakili kepala Badan Geologi KESDM, sebagai Ketua Sidang, pada Forum Pertemuan di Jakarta membahas Posisi Semburan Lusi ke depan;

Ø  Memenuhi Undangan Himpunan Ahli Perminyakan Indonesia, atas kemungkinan diusulkannya kembali mematikan Semburan Lusi dengan Relief Well.

Ø  Melakukan Penelaahan War Game Debat Lusi dipicu pemboran atau gempabumi di Forum Internasional AAPG, 4 Buku.

Ø  Melakukan even “From Russions With Lusi”, mendapatkan dokumen hasil Riset Lusi dari Pemerintah Rusia disertai Peringatan Dini.

Ø  Menghadiri Ceramah Lusi secara Imajiner yang diselenggarakan di forum internasional. Hasil dibukukan dan ditempatkan pada Lusi Library.

 

Melaksanakan Penyusunan Konsep Pembangunan Nasional, Bappenas, MenRistek:

Ø Ketua Penyusun Buku Profil Kelautan Nasional Edisi 1 dan 2, BPPT-Bappenas.

Ø Ketua Penyusunan Bab 1 Buku Konsep Benua Maritim Indonesia (BMI), BPPT – Wankamtanas.

Ø Ketua Penyusun Kajian Evaluasi Repelita VI dan Kajian Akademik Repelita VII Sektor Kelautan (Bappenas)

Ø Ketua Penyusun Kajian Strategis Kawasan Pengelolaan Kelautan Indonesia (Kapper)- Bappenas-Bakosurtanal.

Ø Bersama Prof. Katili menulis makalah Prospek Migas di Cekungan Busur Muka, pada AAPG di New York.

Ø Mewakili HAGI sebagai Pembicara pada Tamu Pertemuan Ilmiah SEG di Texas, USA, 2003

Ø Membangun Jaringan kerja dengan beberapa Institusi terkait dan Organisasi Profesi Kebumian.

Ø Inisiator dilaksanakannya Simposium Internasional Ilmiah Lusi, Mei 2011 secara mandiri bekerjasama dengan HSF-Australia.

Ø Ditunjuk mewakili Ketua Badan Geologi saat dilakukan Forum Konsultasi antar disiplin Ilmu Kebumian dan Keteknikan Pemboran, untuk justifikasi posisi semburan Lusi ke depan dan mengelola kontroversi terkait pemicu semburan Lusi antara Gempabumi dan Pemboran.

Ø Mendeklarasikan Perubahan Mendasar dan pengembangan Paradigma Baru Penanggulangan Lusi, tahun 2010 di Kampus UGM. Membahas usulan riset oleh ahli mud volcano Rusia uang mendapat dukungan Pemerintah Rusia.

 

Mengembangkan Sistem Informasi Terpadu berbasis SIGNET:

Ø Tugas MESDM mendinamisasikan dan mengintegrasikan pulau-pulau Data dan Informasi di KESDM, untuk Informasi Publik dan Industri, sebelum Pusdatin.

Ø Mengembangkan Sistem Informasi Terpadu di Pertamina, BPKKA.

Ø Mengembangkan SIM PKPS BBM bersinergi dengan BPKP berbasis SIGNET.

Ø Ditunjuk mengembangkan Sistem Pemantauan Pemilu (Kontribusi Profesional).

Ø Tahun 2007 Mengkontribusikan Design Concept pengembangan tiga generasi Website bpls.go.id yang eksis saat ini;

Ø Mengembangkan Website Lusi Library yang didukung oleh Para Ahli mud volcano di manca negara.

Ø Mengembangkan ANDRO LUSI berbasis komputasi awan (cloud computing) untuk membangun wacana publik terkait Bencana Lusi dari konfrontasi menuju solusi yang holitik. Hasilnya telah diakui oleh Komunitas di manca negara.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif, integral dan holistik, tulisan ini akan saya perkaya dengan melengkapi beberapa Naskah Pendukung lainnya yang relevan.Yang telah disusun dalan format Buku Elektronik (Ebook), beberapa diantaranya dibukukan seara internal, yaitu:

aakesdm4

  • LUPSI: TRANSISI ANTAR WAKTU (Prasetyo 2008), merupakan hasil bedah buku ditulis Dr. Ir. Basuki Hadimuljono (2008) mantan Ketua TIMNAS, saat ini Menteri PUPR, Ketua DP BPLS dengan judul “LUMPUR PANAS SIDOARJO: PELAJARAN BERHARGA DARI SEBUAH BENCANA”.

Penulis telah mendapatkan peluang emas, ataspenunjukkan sebagai Penelaah (Reviewer) atau pembedah buku terkait, pada acara Peluncuran Buku, Juli 2008 di Bandung.

Buku ini sebagai salah satu rekaman terhadap misi nasional TIMNAS, dimana saat itu Menteri ESDM bertindak selaku Ketua Dewan Pengarah.Sedangkan Dirjen Migas, KESDM dan Wakil Kepala BP Migas (Sektor ESDM) selaku Wakil Kepala TIMNAS.Demikian pula Prof. Dr. Indroyono Soesilo (saat itu Deputi TISDA di BPPT), selaku Ketua Tim Pakar.

  • LUPSI: LAHIRNYA BPLS (Prasetyo 2008), Rekaman Sejarah ketika Kementrian ESDM berperan dalam melahirkan BPLS melalui Perpres 14/2007, termasuk bagian penting yaitu Transisi dari TIMNAS ke BPLS.

Pada bagian akhir juga disajikan keterlibatan dan kontribusi penulis, saat melaksanakan tugas sebagai wakil KESDM pada misi nasional Penanggulangan Bencana Gempabumi di Yogyakarta 27 Mei 2006.

Hasil faktual yang signifikan adalah ketika KESDM dapat mengerahkan 13 Tim “SAR” gabungan dari Industri ESDM (Migas, Listrik, dan Pertambangan). Yang sebelumnya telah melakukan pemantapan bersama pada even “Jambore SAR ESDM”di Timika, Papua, dengan difasilitasi Pertambangan Tembaga PT Freeport Indonesia.

Suatu catatan sejarah KESDM sebagai kontribusi pada penanggulangan Bencana Alam, yaitu ketika Kepala BASARNAS saat itu, bersama kami langsung ikut melepas 13 Tim SAR Gabungan KESDM dengan menyampaikan Sambutan Perpisahan kepada Misi Nasional Bencana Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 yang dinilainya kompak, professional dan berdedikasi.

  • DARI SIDOARJO KE CAPE TOWN, AFRIKA SELATAN: DEBAT SEMBURAN LUSI DIPICU GEMPABUMI ATAU PEMBORAN, PADA FORUM INTERNASIONAL AAPG (Prasetyo 2008).

Terdiri dari empat (4) “Ebook”, merupakan suatu “war game” termasuk evaluasi, analisis dan perkiraan keadaan dari suatu kondisi kontroversi yang sangat mengemuka saat itu (2008). Disertai dengan suatu pendekatan akademik bahwa Kebenaran Ilmiah tidak dapat/lumrah dilakukan secara “voting” sebagaimana yang umum didunia politik.

Disamping itu 4 Buku Elektronik tersebut disusun dengan menerapkan pendekatan kajian aspek strategis dari Lemhannas yaitu Komprehensif, Integral dan Holistik.

  • PARADIGMA BARU PENANGGULANGAN LUSI DARI KONTROVERSI KE SOLUSI, DARI BENCANA KE MANFAAT (Prasetyo 2010).

Makalah di presentasikan pada Seminar Internasional Kebencanaan, dilaksanakan oleh Jurusan Teknik Sipil, Universitas Gajah Mada (UGM).Dimana sebagai salah satu pembicara adalah Dr. Ir. Basuki Muljohadi, selaku mantan Ketua Pelaksana TIMNAS (2006-2007).

Makalah ini mempunyai nilai strategis dalam hal Mendeklarasikan dan suatu Testimoni terhadap telah terjadinya perubahan mendasar pada postur dan perilaku semburan Lusi, sebagai pengendali Bencana Kebumian.Dimana secara resmi akan dilaporkan oleh Kepala Badan Geologi, KESDM pada Presiden RI.Selanjutnya dikembangkan paradigma baru penanggulangan Lusi dari Kontroversi ke Solusi, dari Bencana ke Manfaat.

  • MEMAHAMI PERPRES 40/2009: TRANSISI LAPINDO KE BPLS PADA PENANGANAN SEMBURAN DAN PENGALIRAN LUSI KE KALI PORONG (Prasetyo 2009).

Dokumen ini sebagai suatu perjalanan sejarah (mile stone) suatu kebijakan nasional, yang mengatur pengalihan tanggung jawab finansial dan operasional LAPINDO-BPLS.

Pada upaya penanggulangan semburan dan pengaliran lumpur melalui Tanggul Utama ke Kali Porong, yang sebelumnya dilaksanakan oleh Lapindo (Pasal 15 Perpres 14/2007), selanjutnya menjadi tanggung jawab Bapel BPLS, khususnya menjadi tupoksi Deputi Operasi (Perpres 40/2009).

  • MEMAHAMI PERPRES 48/2008:

YANG MENGATUR PENANGANAN MASALAH SOSIAL KEMASYARAKATAN DI LUAR PAT 22 MARET 2007 DENGAN SKEMA JUAL BELI TANAH DAN BANGUNAN MENJADI ASET BMN, MENGACU YANG DILAKSANAKAN DI DALAM PAT.

Perpres 48/2008 tentang Perubahan Perpres 14/2007 tentang BPLS dikeluarkan pasca terjadinya Tanggul P40 Jebol, lumpur terutama telah menggenangi Desa Besuki Barat, sehingga menimbulkan Pengungsian Baru di Jalan Tol lama. Serta menimbulkan masalah sosial kemasyarakatan.

Pada Perpres 48/2008 ini merupakan pertama kalinya Pemerintah melakukan penanganan sosmas pada wilayah 3 Desa di Luar PAT, dengan sasaran strategis untuk efisiensi pengaliran Lusi ke Kali Porong.

Pertama kalinya Pemerintah melaksanakan langsung Jual Beli tanah dan bangunan warga menjadi aset BMN, dengan skema “cash and carry” yang diaktualisasikan dengan mengacu yang telah diterapkan Lapindo di dalam PAT 22 Maret 2007 dan ketentuan Pasal 15 dari Perpres 14/2007 tentang BPLS.

  • KAPETA SELEKTA THE GOLDEN TIME 2015 PENANGGULANGAN LUSI (PRASETYO 2015). Himpunan isu aktual dan kritis tahun 2015 mencakup:
  1. Paparan pada even-even: a) The Golden Time Solusi LUSI 2015 di Komnas HAM, dan b) Pembahasan Usulan Semburan Lusi di KESDM;
  2. Isu Aktual Lusi, the Golden Time 2015 dimana Pemerintah telah menggulirkan “Dana Antisipasi” melalui UU APBN 2015, untuk penuntasan sisa pembayaran Jual Beli tanah dan bangunan warga PAT yang sebelumnya menjadi tanggung jawab Lapindo;
  3. Evaluasi dan Kirka dan Tindak Lanjut terhadap Uji Materi Pasal 23 Ayat 1 a, b dan c UU APBN 2015 di Mahkamah Konstitusi (MK) diusulkan oleh elemen Usaha di PAT.

Pelajaran berharga sebagai wakil BPLS/Pemerintah pada Uji Materi UU APBN tahun 2012 dan tahun 2013 yang telah mempunyai kekuatan hukum mengikat;

  • Evaluasi dan Analisis Pengendali Mekanisme Postur Bencana Bencana Lusi dari Pakar Kebumian manca negara, sebagai hasil membangun LUSI LIBRARY dan LUSI RESEARCH NETWORKING.

Sebagai alat bantu menyediakan konsepsi aktual berbasis akademik terkait Anatomi dan Pengendali Mekanisme Semburan Lusi, untuk Pengkajian Skenario Kedepan misi nasional Penanggulangan Bencana Lusi (escape scenario);

  • Testimoni terjadinya Even Banjir Bandang Signifikan 5 Oktober 2014, sebagai Pemicu even pembentukan Kaldera Lusi (Mei-Saat ini Agustus 2015);
  • Identifikasi Postur Pembentukan Kaldera Lusi Juli 2015, sebagai alat bantu penyusunan Risiko Bahaya Musim Hujan 2015 dan Perkiraan Keadaan Lusi menuju Escape Scenario misi nasional Lusi;
  • Merajut THE PRESENT, THE PAST AND THE FUTURE, Bencana Lusi 2006-2015. Sebagai pendekatan pada Penanggulangan Bencna Lusi yang penuh ketidak kepastian dan belum ada acuannya. Sehingga senantiasa dituntut melakukan learning by doing disertai doktrin “Lebih baik berbuat Sesuatu daripada tidak berbuat Apapun”.
  • Pemecahan Rekor Dunia Muri Februari 2013, oleh Pelukis Holis Satriawan dengan Melukis Cepat menggunakan bahan lumpur Sidoajo dan dilaksanakan di wilayah luar PAT (Desa Siring). Suatu contoh aktual dari Pemanfaatan lumpur untuk berbagai kepentingan dan pemanfaatan Wilayah di Luar PAT.
  • GELORA 70 TAHUN NKRI “AYO KERJA” DI LUSI, AGUSTUS 2015.Dokumen ini merupakan Rekaman Kegiatan menjelang 17 Agustus 2015, yang telah di posting pada media sosial FaceBook, Google Plus dan BLOG LUSI DARI BENCANA KE MANFAAT.

Salah satunya yang bernilai strategis adalah adanya perubahan aspek keamanan dan kenyamaan di wilayah kerja BPLS di dalam PAT yang sebelumnya pada kondisi diblokade sejak tahun 2012 (bersiklus atau fluktuatif). Dan bagaimana merajut Rekonsiliasi dengan Warga PAT yang sebelumnya pada kondisi yang kurang kondusif.

Disamping itu hal yang tidak kalah penting adalah membangun Persepsi dan Wacana Lusi semakin indah dan menarik, untuk mengubah yang sebelumnya umumnya digambarkan sebagai suatu yang kurang baik, penuh gelora gejolak sosial kemasyarakatan.

Beberapa bagian dari tulisan ini telah disusun pada dokumen tersendiri baik sebagai hard copy maupun ditempatkan segai Ebook di situs Internet.