Eboook 2008-1 Debat Lusi di Afrika Selatan: Proses Penyusunan

April 11, 2017

0-epiEmergency-8

2008: LUSI Mendapatkan perhatian dari Berbagai Penjuru Dunia, Dutabesar Kerajaan Inggris mengunjungi Lusi, berfoto di dekat Pusat Semburan LUSI.

LUSI LIBRARY FILES:

LUSI LIBRARY: KNOWLEDGE MANAGEMENT

201020112012-2013-2014, 2015, 2016, 2017

 

Dedicated by: Prof. Dr. Hardi Prasetyo
 
 Slide34

CONTROVERSY

WAR-GAME DEBAT LUPSI PADA FORUM INTERNASIONAL AAPG                           DI CAPE TOWN, AFRIKA SELATAN

PETA JALAN LUPSI:  DARI SIDOARJO KE CAPE TOWN

POKOK-POKOK BAHASAN

  • ·     Latar Belakang
  • ·        Potret Kubu Gempa dan Kubu Pemboran saat ini
  • ·        Alur Pikir utama Debat Lupsi
  • ·        Konsep Rancangan (design concept)
  • ·        Skenario Solusi dalam Alur Pikir
  • ·        Isu Kritis sebagai Medan Pertempuran Debat Lupsi
  • ·        Simulasi War-game dari Kubu Pemboran
  • ·        Simulasi War-game Kubu Gempa
  • ·        Simulasi War-game Kubu Deformasi
  • ·        Korelasi dari Kubu Deformasi terhadap Kubu Gempa?
  • ·        Rincian Analisis posisi kedudukan masing-masing Kubu sebelum Debat Lupsi di forum Internasional AAPG
  • ·        Evaluasi terhadap pandangan apakah semburan Lupsi dapat dihentikan:
  • ·        Kesimpulan Penting:
  • ·        Saran-saran Utama terkait War-game:

Latar Belakang

slide10slide9

Dahsyatnya Semburan Lusi pada 29 Mei 2008 (Boston.Com).

Semburan Lumpur Panas Sidoarjo (selanjutnya disebut LUPSI) telah memasuki durasi bulan ke 28 sejak terjadinya awal semburan pada tanggal 29 Mei 2006. Saat ini semburan aktif (active eruption) masih terus berlanjut dengan kecepatan semburan (flow rate) rata-rata sekitar 100.000 m3/hari, temperatur di permukaan kawah (surface crater) sekitar 100o/C (Gambar 1).

Pasca HUT Lupsi yang kedua, tanggal 28 Mei 2008 perhatian (concern) dari berbagai kalangan di dalam dan di luar negeri kembali meningkat sangat signifikan.

Perhatian masyarakat internasional terhadap Bencana Lupsi terus berlanjut, sebagai contoh aktual Dutabesar Kerajaan Inggris untuk Indonesia telah berkunjung ke lapangan termasuk ke Pusat Semburan.

 

Sebagai kesan dari kunjungan ini disampaikan bahwa ‘Ternyata semburan Lupsi yang langsung di lihat demikian dahsyat daripada yang diperlihatkan pada media masa, disamping itu Dutabesar juga telah menyaksikan secara langsung upaya-upaya nyata yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia (dalam hal ini Bapel BPLS) maupun Lapindo’.

Isu aktual Lupsi yang menjadi daya pikat tersebut terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

1)     Misteri dibalik asal usulnya (origin) yang hingga kini masih menyelimutinya (Gambar 3);

2)     Penyebab (causing) dan pemicu (triggering) sejak kelahirannya hingga sekarang, masih terus menjadi hal kontroversi, Akhir-akhir ini intensitasnya meningkat dengan pesat. Sehingga hal tersebut menjadi inspirasi untuk menggelar Debat Internasional tentang penyebab dan pemicu Lupsi pada forum AAPG, 28 Oktober 2008 di Afrika Selatan; dan

3)     Bencana (disaster) yang ditimbulkan Lupsi bergerak secara perlahan (slow motion disastrous), seiring dampak sosial kemasyarakatan, lingkungan, dan infrastruktur yang terus berkembang.

War-game Debat Lupsi pada Forum Internasional American Association Petroleum Geologist (AAPG), di Cape Town, Afrika Selatan disusun dalam rangka proses monitoring, evaluasi, dan analisis terhadap wacana dan persepsi Lupsi yang berkembang dalam lingkup lokal (di sekitar Peta Area Terdampak), nasional, dan internasional.

Guna mengantisipasi hal-hal yang mungkin berimplikasi negatif terhadap tatanan dan sistem Penanggulangan Lumpur Sidoarjo saat ini (gambar 4 dan 5).

Artikel utama dari para ahli kebumian (the Earth scientists) dan ahli pemboran perminyakan (the Petroleum expert) tentang Lupsi yang dipublikasikan di berbagai media akademik, professional tingkat internasional, dan disebarluaskan di cyber net, telah digunakan sebagai alat bantu yang bermakna (significant tool) untuk melakukan suatu War-game.

Dengan menerapkan suatu pendekatan kajian bersifat komprehensif, integral dan holistik (comprehensive, integral and holistic approaches) terhadap isu aktual berdimensi strategis.

Makna dari suatu War-Game adalah simulasi sampai perkiraan keadaan dengan berbagai skenario terhadap ‘pertempuran’ konsep dan fakta yang dipertahankan oleh dua Kubu.

Yang terlibat langsung pada kontroversi penyebab dan pemicu Lupsi yaitu Kubu Gempa (menganut Lupsi di picu gempabumi Yogyakarta), dan Kubu Pemboran (menganut Lupsi sebagai underground blow out).

Potret Kubu Gempa dan Kubu Pemboran saat ini

Potret terhadap Kontroversi Kubu Gempa dan Kubu Pemboran yang berkembang saat ini menunjukkan bahwa:

Kubu Pemboran telah melaksanakan sosialiasi dengan gencar (Gambar 6) untuk membangun wacana yang ditujukan pada berbagai lapisan sasaran (multi target).

Namun sebaliknya, Kubu Gempa terkesan statis,

·        Hal tersebut telah memicu terjadinya trial by the press (pengadilan oleh media massa) dan dengan guilty by press, seolah-olah dipersepsikan Kubu Gempa (semburan Lupsi dipicu oleh gempabumi Yogyakarta) yang bersalah.

·        Sehingga War-game pra-Debat di AAPG, diasumsikan Kubu Pemboran akan lebih bersifat menyerang (offensive), sedangkan Kubu Gempa akan lebih bersifat mempertahankan diri (deffensive).

Slide32

Alur Pikir utama Debat Lupsi 

 Alur Pikir utama yang dikembangkan adalah:

Slide5

Ø        Sampai durasi bulan ke 28 semburan Lupsi masih berlangsung dengan dahsyat dan belum ada tanda-tanda yang signifikan bahwa semburan akan berhenti (Gambar 1). Sehingga masih berpotensi menimbulkan potensi ancaman terhadap keselamatan bagi masyarakat yang ada di sekitarnya Bencana Lupsi.

Ø        Sejak kelahirannya pada 29 Mei 2006, asal usul Lupsi sebagai suatu mud volcano masih diselimuti misteri (Gambar 3), dikaitkan dengan penyebab dan pemicunya. Kejelasan terhadap penyebab dan pemicu Lupsi diperlukan sebagai knowledge terhadap upaya Penanggulangan semburan Lupsi (menghentikan atau memperkecil flow rate).

ugm2000-9d

Ø        Kristaliasi terhadap 2 alternatif hipotesis penyebab Lupsi adalah (Gambar 4 dan 7): 1) Gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006, dan 2) Pemboran sumur BJP-1 yang mengakibakan terjadinya Underground Blow Out (UGBO).

Ø        Mencermati demikian antusiasnya perhatian publik terhadap fenomena mud volcano Lupsi, disamping bencana yang ditimbulkannya telah merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat disekitarnya, termasuk korban meninggal dunia.

Sehingga para pimpinan AAPG telah tergerak jiwa profesionalismenya, selanjutnya merencanakan untuk melaksanakan forum Debat dengan mengangkat tema mud volcano Lusi: dipicu gempabumi atau pemboran. Pada pertemuan internasioal 28 Oktober 2008 di Cape Town, Afrika Selatan (Gambar 5).

Mekanisme debat Lupsi akan mempertemukan secara head to head antara 2 Kubu, yaitu: Kubu Gempa, dan Kubu Pemboran. Sedangkan pasca Debat tersebut  ditampilkan presentasi dari  aspek deformasi geologi (geological deformation) sebagai dampak berganda semburan Lupsi, disebut sebagai Kubu Deformasi.

Ø        Kemanfaatan lainnya yang diharapkan adalah dapat ditengkapnya knowledge dan pemikiran inovatif dan kreatif lainnya yang berhubungan lansung atau tidak dengan misi nasional (national mission) Penanggulangan Lumpur Sidarjo, adalah (Gambar 1):

1) Apakah Lupsi bisa berhenti/ tidak?;

2) berapa lama waktu hidup (life time)?;

3) Bila bisa dihentikan teknologi apa yang tepat guna?;

4) Bila tidak bisa dihentikan, skenario pengendalian semburan dan luapan yang bagaimana untuk mengantisipasi dinamika aktual, dimana saat ini kawah Lupsi terus tenggelam membentuk  suatu kaldera (daerah depresi) Lupsi  yang luas.

Konsep Rancangan (design concept)

 Theme 2: Lusi Mud Volcano: Earthquake Or Drilling Trigger

Chair: J. Gluyas

  • 13:45 Introductory Remarks
  • 13:50 A. Mazzini, H. Svensen, S. Planke, G. Akhmanov: Causes and Triggers of the Lusi Mud Volcano, Indonesia
  • 14:10 B. P. Istadi: East Java Mud Volcano (Lusi): Drilling Facts and Analysis
  • 14:30 M. Tingay, O. Heidbach, R. Davies, R. Swarbrick: The Lusi Mud Eruption of East Java
  • 14:50 R. Davies, M. Brumm, M. Manga, R. Swarbrick, R. Rubiandini, and M. Tingay: The East Java Mud Volcano (2006 to Present): An Earthquake or Drilling Trigger?
  • 15:10 H. Z. Abidin, R. Davies, M. A. Kusuma, P. Sumintadiredja, H. Andreas, M. Gamal: Deformation Due to Eruption of a Mud Volcano: The Lusi Mud Volcano (2006-Present), East Java

Konsep rancangan (design concept) yang telah ditetapkan oleh AAPG agar kontroversi penyebab dan pemicu Lupsi dapat ditelaah secara professional dan tidak memihak adalah:

1)     Menampilkan masing-masing dua pembicara yang merepresentasikan substansi utama kontroversi (penulis sebut sebagai Kubu) yaitu gempabumi versus pemboran (underground blow out). Untuk memperlihatkan dampak berganda dari semburan Lupsi akan ditampilkan satu pembicara yang merepresentasikan deformasi geologi atau geohazard saat ini yang ditimbulkan oleh semburan dan genangan lupsi;

2)     Kubu Gempa menampilkan dua panelis A. Mazzini (Norwegia) dan B. Istadi (Indonesia), Kubu Pemboran menampilkan panelis R. Davies (UK) dan M. Tingay (Australia); dan

3)     Kubu Deformasi akan menampilkan panelis H. Abidin (Indonesia), setelah sesi debat dari 2 Kubu tersebut.

 

WAR-GCONTROVERSY

OUTLINE DEBAT LUPSI

DAFTAR DOKUMEN DIGITAL (DIGITAL ARTICLES) TERKAIT

 

 1.   Peta Jalan Lupsi: Dari Sidoarjo ke Cape Town; (Benang Merah dan Ringkasan War-Game Lupsi dipicu oleh gempa bumi dan bukan underground blowout-Kubu Gempa atau dipicu kegiatan pemboran sumur BJP-1 dan bukan oleh gempabumi-Kubu Pemboran).

 a.   File Dokumen

b.    File Elektronic Reader PDF

c.     File Peta Atlas Digital (ppt)

 2.   Posisi Kubu Gempa: (Posisi Pendapat dari Kubu Gempa, Lupsi dipicu oleh gempa bumi dan bukan underground blowout).

 a.   File Dokumen

b.    File Elektronic Reader PDF

c.     File Peta Atlas Digital (ppt)

 3.   Posisi Kubu Pemboran: (Posisi Pendapat dari Kubu Pemboran, Lupsi dipicu kegiatan pemboran sumur BJP-1 dan bukan oleh gempabumi).

 a.   File Dokumen

b.    File Elektronic Reader PDF

c.     File Peta Atlas Digital (ppt)

 4.   Posisi Kubu Deformasi: (Posisi Pendapat dari Kubu Deformasi, Fokus pada Deformasi Geologi/Tektonik sebagai dampak semburan Lupsi (Lupsi eruption impact) dan tidak dalam posisi memperdebatkan pemicu Lupsi oleh Gempabumi atau kegiatan pemboran Sumur BJP-1).

 a.   File Dokumen

b.    File Elektronic Reader PDF

c.     File Peta Atlas Digital (ppt)

DOKUMEN UTAMA ‘WAR GAME’AME  DEBAT LUPSI

DI PERTEMUAN INTENASIONAL AAPG, 30 OKTOBER 2008,

CAPE TOWN AFRIKA SELATAN:
DIPICU GEMPABUMI ATAU PEMBORAN

PROSES-PENDEKATAN DAN PENGKAJIAN ‘WAR-GAME’ DEBAT LUSI

102 halaman

 Dikontribusikan Oleh: Dr. Ir. Hardi Prasetyo

(Wakil Kepala Bapel BPLS)

Sidoarjo, Jatim, September 2008

 

BAGIAN I:  PENDAHULUAN

 Latar Belakang

 Bencana yang lambat dan dampak meluas

 Bencana Lupsi akan berlangsung lama

Bencana Lupsi tetap mendapatkan perhatian khusus pada media massa

Mengapa mengungkap misteri penyebab dan pemicu Lupsi menjadi penting?

 Isu Kritis dan Aktual

 Maksud dan Tujuan

 Metoda dan Pendekatan

 

BAGIAN II: 

POTRET KONDISI KONTROVERSI SAAT INI DAN ISU AKTUAL DAN KRITIS

 

 

Dinamika Lupsi

Keganasan semburan Lupsi dan Potensi Ancaman

Upaya Penanggulangan Semburan masih kurang optimal

Knowledge asal usul Lupsi dan Kontroversi

Upaya menengahi dan mencari solusi terhadap kontroversi penyebab Lupsi

Isu Penanggulangan Lupsi merambah ke masalah sosial-politik

Contoh Aktual antara pemahaman pemicu dengan Upaya Penanggulangan Semburan

Internasionalisasi Masalah Semburan Lupsi

Evaluasi dan Analisis Dinamika Pra-kondisi Road To Cape Town, Afrika Selatan

  Isu Aktual dan Kritis

· Semburan Lupsi dan Ancaman: 

· Semburan bisa berlangsung 30 thun ke depan: 

· Upaya menghentikan semburan dan keterbatasan data bawah permukaan: 

· Beberapa data primer bersifat rahasia: 

· Kontroversi telah bermula saat terjadinya semburan Lupsi: 

· Kontroversi Gempa dan Pemboran terus bergulir: 

· Penghentian semburan dengan Relief Well1&2 berdasarkan asumsi Lupsi dipicu UGBO: 

· Insersi rangkaian bola-bola beton juga tidak berhasil: 

· BPLS menfokuskan strategi pada pengamanan masyarakat terhadap ancaman luapan Lupsi: 

· Masalah sosial kemasyarakatan mempersulit upaya pengendalian semburan dan luapan Lupsi: 

· Debat ilmiah bisa masuk ke wilayah sosial-politik: 

· Upaya mengkristalkan Kubu Pemboran dan Kubu Gempa selama ini: 

 

BAGIAN III: 

Dari Sidoarjo, Jatim ke Cape Town, Afrika Selatan: Menyongsong Debat Lupsi

 

Memaknai Kontroversi dan Debat Lupsi

 Kristalisasi Dua Kubu Kontroversi Lupsi

  Wacana publik akibat sosialisasi yang dahsyat dari Kubu Pemboran

 Kirka: Apakah nanti pada akhirnya akan diperoleh kesepakatan di antara para ahli ?

Kontroversi Ilmiah Bisa Berkepanjangan

 Debat Lupsi terdahulu di forum ‘Seminar’

  Debat Lupsi pada media publikasi ilmiah dan poluler:

 resentasi kunci yang pernah dilakukan tentang kedua pendapat ini adalah :

 Beberapa publikasi penting yang berhubungan dengan hal gempa dan mud volcano yang baik untuk dipelajari adalah :

Jalan menuju ke Debat di Afrika Selatan

 Harapan AAPG

 BAGIAN IV:

 STUDI KASUS SOSIALISASI KUBU ’PEMBORAN’ KEPADA PUBLIK

 Umum

 Pernyataan Kunci dalam sosialisasi

 Kunci even pada tanggal 28 Mei 2006:

 Mekanisme Kick dan implikasinya:

 Besarnya Kick:

 Temuan signifikan dari aspek gempa bumi:

 Sosialisasi di Australia narasumber utama Mark Tangay:

 Kontroversi Gempa versus Pemboran

Pertama, hipotesis gempabumi.

Kedua, Hipotesis Semburan Liar.

Hal-hal yang melemahkan hipotesa Lusi dipicu gempabumi

Hal yang memperkuat teori Lusi dipicu oleh kesalahan operasi pemboran

BAGIAN V:

 POLA PIKIR DAN PERKIRAAN KEADAAN

 Kondisi Umum

 Kondisi awal kontroversi penyebab dan pemicu Lupsi

 Permasalahan mendasar

 Lingkungan Strategis

 Paradigma

 Kondisi Yang diharapkan:

 Mekanisme Debat Lupsi

 Luaran (output)

 Skenario Hasil yang mungkin dicapai:

 Tiga alternatif pemulihan scenario

 Implikasi terhadap Skenario 2: memilih Kubu Gempa atau Pemboran

 Outcome:

  

BAGIAN VI:

 POSISI KUBU GEMPA: LUPSI DIPICU GEMPABUMI YOGYAKARTA 27 MEI 2008

 

Sekilas Posisi Umum Kubu Gempa

Selanjutnya Kubu Gempa akan menyajikan bukti-bukti untuk memperkuat bukti-bukti mud volcano Lupsi dipicu oleh gempabumi Yogyakarta:

Tahap penting Kubu Gempa harus dapat menyakinkan Kubu Pemboran bahwa gempabumi Yogyakarta dapat dan layak sebagai pengendali pemicu semburan mud volcano Lupsi

Pernyataan Penolakan terhadap Kubu Pemboran bahwa  semburan Lupsi disebabkan pemboran.

 Sangatlah tidak mungkin untuk menentukan pemicu semburan LUPSI seluruhnya dari Pemboran. 

Model semburan Lupsi dari Kubu Gempa

 Pemicu dari gempabumi terhadap awal semburan Lupsi: 

Asumsi bahwa rekahan dan sesar yang telah ada mengalami tekanan berlebih akibat gempa bumi: 

 Naiknya fluida bertekanan tinggi dari interval 1323-1871 melalui rekahan yang baru terbentuk: 

Mekanisme aliran fluida secara vertikal: 

Pola semburan Gayser: Pulsanisasi akibat pendidihan pada kedalaman 200m

Sumber pendidihan dan keluarnya CO2 dan CH4

 Pernyataan Kunci Lupsi dikendalikan mekanisme Gempabumi

 Semburan lumpur di picu gempa bumi 27 Mei di Yogyakarta: 

Pengendali mekanisme Lusi dari gempa Yogyakarta 27 Mei 2006, membentuk rekahan, depressurization fluida pori

Rekahan yang terbentuk menyebabkan migrasi lumpur bertekanan tinggi: 

Pengangkatan lumpur didorong oleh pengurangan tekanan dalam rongga pori: 

Pembentukan sistem panas bumi dan ekspresi permukaan seperti geyser: 

 Perkuatan bukti-bukti kejadian Lusi dipicu oleh gempabumi?

 Even gempa bumi 27 Mei 2006: 

Hubungan semburan Lusi dan Gempabumi: 

Bukti-bukti adanya hubungan tersebut di bagian dunia lain: 

Penjelasan adanya waktu jeda 2 hari antara gempa dan awal semburan

Faktor pendukung struktur diapir terkait dengan struktur sesar dan lipatan: 

Fenomena struktur pengkubahan dan tektonik aktif relevan dengan pemicu Lusi: 

Bukti-bukti dan aktivitas Sesar Watukosek: 

Bukti-bukti terdapatnya gunung lumpur lainnya yang membentuk orientasi yang seragam: 

 Bukti-bukti adanya struktur diapir, sebagai bukti sejarah adanya aliran vertikal: 

Sesar memicu terbentuknya rekahan atau reaktivasi struktur yang telah ada: 

Hadirnya semburan pasir dan rekahan dekat lokasi Banjar Panji-1 (Penekanan Lupsi tidak keluar dari sumur bor): 

Catatan Analogi: terjadinya mud flow di lepas pantai Brune

Kaitan semburan dan pola rekahan dan sesaran regional NE (Penekanan Lupsi keluar mengikuti arah zona lemah Patahan Watukosek): 

Kaitan orientasi daerah tenggelam dengan arah sesar regional (daerah sumber mengikuti arah struktur Watukosek): 

Kubu Gempa memperkuat  bukti-bukti bahwa asal-usul Lupsi tidak terkait langsung Pemboran

 Pendapat Kubu Gempa, Tidak ada kick dan semburan melalui lubang bor BJP-1: 

Bukti sepatu pemboran yang masih menempel, tidak ada semburan bersentuhan dengan sumur bor: 

bahwa saluran semburan utama tidak bersentuhan dengan sumur.

Data-data Kubu Gempa yang akan digunakan untuk memperkuat pemboran tidak memicu Lusi

 Gambaran Umum

 Kesimpulan

Kubu Gempa akan menampilkan Asumsi yang digunakan beberapa ahli yang dinilai TIDAK TEPAT!

Perbedaan Asumsi yang digunakan anara Kubu Pemboran dengan Kubu Gempa:

Perhitungan oleh Sebagian Ahli yang dinilai (Kubu Pemboran) TIDAK sesuai dengan Data dan Fakta

Data Tekanan yang Dibaca Mud Logger

Perhitungan Tekanan yang Sesuai Data dan Fakta yang menjadikan landasan bahwa Batuan di bawah casing TIDAK PECAH

Data dan Fakta Penting Lain

Pemasangan Casing

Sistem Mud volcano

 Sumber Data yang digunakan

 Lokasi yang berdekatan busur magma (magmatic arc) memicu transformasi mineralogi dan reaksi geokimia pada kedalaman dangkal (shallow deep): 

Pre semburan Lusi diindikasikan adanya strukur pembubungan (piercement): 

Pembentukan sistem panas bumi dan ekspresi permukaan seperti geyser:

Kedudukan Geologi

 Jarak terdekat Lusi dengan G. Pananggungan:

Terdapatnya indikasi sesar reginonal:

Ada tiga gunung lumpur yang telah terbentuk sebelumnya:

Stratigrafi Sidorajo sampai pada ketebalan 3000m berumur Pleistosen: 

 Bagian bawah pemboran BJP-1 menembus pasir turbidit (laut dalam?): Penegasan kembali Kubu Gempa bahwa sumur BJP-1 tidak menembus Formasi Kujung

Sanggahan pemboran tidak menembus Formasi Kujung: 

Bukti tidak adanya batuan karbonat dari bagian terdalam pemboran: 

Sumber dari semburan lumpur:

Prediksi sumber lumpur pada interval 1219 dan 1828m: 

Alternatif kombinasi dari kedalaman 1871 m dengan tiga alternatif mekanisme fluidization: 

Bukti-bukti adanya percampuran fluida dalam dan dangkal

Hipotesis yang mendukung bahwa gas Lusi berasal dari percampurn biogenik dan termogenik: 

Sumber gas biogenik lempung overpressure (1223-1871m): 

Sumber gas termonegik dari formasi yang lebih dalam: 

Kemungkinan H2S dikontribusikan dari gas dalam: 

Besarnya semburan air dari proses dehidarasi lempung (Perbedaan bukan dari Formasi Kujung): 

 Lapisan 1109-1828 mengalami dampak transformasi smektit-ilit:

 Daerah pengenggelaman  3,5 X 2 km sebagai daerah sumber: 

 Hasil perhitungan total air dihasilkan transformasi smektit-ilit 1,2 milyar M3: 

Kontribusi tekanan dari diagenesis: 

Model semburan berulang seperti sistem hidrotermal: 

Adanya H2S membuktikan bahwa fluida muncul dari satuan yang lebih dalam: 

Belum ada cukup bukti plumbing system berkaitan dengan busur gunung api: 

Semburan Lusi memperlihatkan perilaku quasi-hydrothermal: 

Adanya bukti tambahan dari fenomena loss tanggal 27 Mei: 

Bukti pengurangan produksi gas dari sumur Carat: 

Peningkatan aktivitas semburan gunung lumpur di tempat lain

  

BAGIAN VII:

PANDANGAN KUBU LUPSI DISEBABKAN OLEH MASALAH PEMBORAN SUMUR BJP-1

 

Pernyataan dari Kubu Pemboran bahwa lusi dipicu oleh kegiatan eksplorasi sumur BJP-1

· Hasil penelitian baru dari gabungan akademisi menyatakan sebagai kesalahan manusia (human error):

  · Kayakinan 98% mud volcano sebagai kesalahan pemboran pada kegiatan eksplorasi:

 · Rasionalisasi bahwa Lupsi Mud Volcano dipicu oleh pemboran sumur eksplorasi

Pandangan/Sikap Davies sebagai counter issu, terhadap

 pernyataan Kubu Gempa Mazzini dkk., (2007) bahwa Lupsi disebabkan oleh suatu gempabumi lokal?

 Analisis 3 Alternatif

 Alternatif-1 Pemicu tanggal Gempabumi (Earthquake sole trigger)

 Pernyataan Utama

Argumen:

Alternatif-2 Kombinasi dari gempabumi dan Pemboran (Combination of earthquake and drilling)

Alternatif-3  Operasi Sumur  (Well operations)

 Model Inisiasi Mud Volcano Lupsi

· Asumsi Formasi Kujung sebagai akuifer regional

· Perkiraan overpresure pada dasar sumur BJP-1

· Hubungan tekanan antara Fm Kujung dan Kalibeng Atas

· Tekanan Pori

· Penafsiran terjadinya ’kick’

· Data Sumur Porong-1

· Awal terjadinya semburan

· Jalur penangkutan pada batuan penutup

· Terjadinya rekahan hidrolik dipicu tekanan pori yang tinggi

· Penafsiran pembentukan rekahan dari kedalaman 1-2 Km (F. Kalibeng Atas)

· Bukti temperatur dan asumsi gradien panas bumi

· Rekahan diinduksi pemboran dan aliran fluida

 Skematik tiga dimensi dari Lusi.

(A) Maret sampai Mei 2006:

(B) Mei 2006:

(C) Pasca 2007: 

· Sumber air dari Formasi Kujung

· Proses penggerusan sedimen oleh aliran fluide bertekanan tinggi

· Alternatif percampuran fluida dan lumpur

· Proses erosi dinding saluran dan keruntuhan

 Pengendali Tekanan

· Asumsi tekanan pada dasar lubang sumur BJP-1

· Pengendali mekanisme aliran fluida-lumpur oleh perbedaan tekanan

 

Model mud volcano Lupsi

 

Dalam model Mud Volcano Lupsi, Formasi Kujung memegang peran sangat penting, namun disanggah oleh Mazzini dkk., 2007 bahwa BJP-1 tidak menyentuh atau menembusnya

 Pandangan terhadap kemungkinan menghentikan semburan mud volcano Lupsi?

Pandangan Davies terhadap Bencana Lupsi

 · Antara waktu untuk memahami yang memerlukan tahunan dengan bencana yang berlangsung dekadean:

Richard Davies walaupun menggebu-gebu untuk membuka takbir misteri Lusi, namun pesimis kesempatan mematikan sudah berlalu:

 Temuan signifikan dari aspek gempa bumi (MICHAEL MANGA):

· Banyak gempa lebih yang besar dan lokasi lebih dekat dari Lusi tapi tidak menimbulkan semburan:

Penegasan tingkat kepercayaan 90% (Mark Tingay):

 Pandangan terhadap kemungkinan menghentikan semburan mud volcano Lupsi (Mark Tangay)

Pandangan baru Pengendali Mekanisme Amblesan INSAR di barat Lusi: Aoki 2014

April 1, 2017

LUSI 11 TAHUN

LABORATORIUM ALAM DAN PUSAT UNGGULAN STUDI MUD VOLCANO DI DUNIA

ISU UTAMA:

PEMAHAMAN BARU PENGENALI MEKANISME AMBLESAN DI BARAT LUSI DIINDIKASIKAN DENGAN INSAR DAN GPS,

SEBELUMNYA PELANGI INSAR SIRING UMUMNYA DITAFSIRKAN SEBAGAI DAMPAK DARI DEPLESI SUMUR PRODUKSI WUNUT.

REVOLUSI PEMANFAATAN IPTEK KEBUMIAN DI LUSI, CITRA SATELIT INSAR DAN GPS SEBAGAI ALAT BANTU TERUTAMA UNTUK PENENTUAN DEFORMASI AMBLESAN, TAPI JUGA DIGUNAKAN UNTUK MEMPERKIRAKAN PERGERAKAN FLUIDA/ SUMBER DEFORMASI (ALIRAN LUSI TERTUNDA).

Dikontribusikan Oleh: Prof. Dr. Hardi Prasetyo

Plt Kepala BAPEL BPLS,

Pada Peringatan Kelahiran BPLS 10 Tahun, 8 April 2017 dan Lusi 11 Tahun 29 Mei 2017

LUSI LIBRARY FILE: AOKI 2014 MENELUSURI ASAL USUL DEFORMASI AMBLESAN DI BARAT LUSI 

BLOG:

KAPETA MISTERI AMBLESAN DI BARAT LUSI

BLOG:

MEMPERKUAT PANDANGAN BAHWA PANJANG UMUR SEMBURAN LUSI TELAH MENJADI LEBIH PENDEK DARI DUGAAN SEBELUMNYA DENGAN METODA  KONVENSIONAL

Isu Aktual Hasil Penyelidkikan Deformasi tanah dengan  GPS dan InSAR
Sejak Abidin (2008)  dan Fukhusima (2009)  merintis studi pergerakan tangah (land subsidence) di Lusi mud volcano menggunakan metodologi GPS diintegrasikan dengan citra SAR.

Aoki-1

Tiga Elip pola Gerakan tanah di LUSI (Abidin dan Fukhushima)

Maka rintisan tersebut selanjutnya telah diikuti oleh penerusnya (Anderas, 2010-2014), Rudolph (2013), Shilston (2014), Aoki (2014), Sidiq (2014).

Temuan penting dari Abidin dan Fukhusima adalah:

Survei GPS telah mengindikasikan terjadinya amblesan tanah baik horizontal dan vertikal dengan intensitas cukup besar antara 1-4cm/hari.
Disamping Penafsiran citra InSAR  telah mengindikasikan  terdapatnya tiga elip amblesan.

Bagian utama di tengah dengan arah utara-selatan, telah disepakati sebagai hasil dari semburan Lusi mud volcano. 

Bagian barat dengan arah barat-timur umumnya ditafsirkan sebagai dampak dari ekstraksi sumur produksi gas alam Wunut dan Tanggulangin.

Sedangkan Elip di timur dari Lusi mud volcano, ditafsirkan sebagai suatu pengangkatan antara lain terkait Patahan Watukosek.

 

Model Deformasi Amblesan dan Pengangkatan (Abidin 2008)

Sementara itu dengan pendekatan studi gerakan tanah berdasarkan GPS dan InSAR di sekitar Lusi, Andreas (2010-2014) telah mengaktualisasi temuan pionir dari Abidin dan Fukhusima terkait keberadaan deformasi tanah dengan intensitas tinggi mencakup tiga aspek penting:

1). Sejak tahun 2009-2010 Kecepatan deformasi amblesan  menurun drastis, tidak lagi 1-4cm/hari tapi beberapa cm/dm per tahun;

2).  Pola deformasi amblesan tidak lagi secara menerus, tapi peluruhan eksponensial (exponential decay);

3). Pola penurunan amblesan secara exponential decay, mengindikasikan tanda-tanda semburan Lusi akan  berhenti, lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya dengan metoda konfensional; dan 

4). Pengamatan pola deformasi radial dari strutur rekahan dan pola deformasi horizontal mengarah ke pusat semburan, mengindikasikan Lusi sedang dalam tahap pembentukan kaldera (Kaldera Formation Processes).

Makalah dari Aoki dkk., 2014, menekankan pengamatan pada amblesan yang terjadi pada elip sebelah barat.

Dimana sebagian besar penulis terdahulu menafsirkan sebagai dampak dari eksploitasi lapangan produksi migas Wunut.

Pola Amblesan dari waktu ke waktu (Andreas, 2010)

Indikasi proses pembentukan kaldera Lusi  (Andreas 2010)

Hal penting dari studi ini adalah, mendukung pengamatan dari Andreas dan Rudolph sebelumnya bahwa:

1. Terdapat hubungan antara penurunan kecepatan amblesan dengan kecepatan luapan lumpur;

2.  Terjadinya Peluruhan eksponensial sebagaimana yang terjadi di Pusat Semburan, mengindikasikan bahwa semburan lusi akan lebih cepat berhenti. Bila  dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya dengan metoda lainnya yang konvensional (membagi volume sumber dibagi debit); dan 

3. Amblesan tanah dipicu semburan di sebelah barat juga terjadi lebih lambat (delay) dari di Pusat Semburan.

4. Walaupun Aoki menyimpulkan bahwa elip deformasi di barat dari Pusat Semburan lebih dikendalikan oleh semburan, namun tetap tidak menutup kemungkinan juga dipengaruhi oleh ekstraksi eksploitasi lapangan gas alam Wunut.

Peta kontur  Deformasi amblesan tanah di Lusi di plot pada citra InSAR, memperlihatkan pola elip utama Utara-Selatan, Elip Timur Barat di barat Lusi,

Plot kecepatan semburan versus Tahun,

korelasi exponential decay dengan kecepatan amblesan

dan nilai positif di sebelah timur (Rudolph)

Resume Paper Aoki (2014): Evolusi deformasi tanah 2006-2011 dengan Citra SAR

Tahun 2006 dan 2011 telah dilakukan studi terhadap evolusi dari deformasi tanah (temporal evolution of ground deformation) secara temporal, dikaitkan  dengan semburan  LUSI mud volcano. 

Dilakukan dengan melakukan analisa  time series dari citra  SAR, berasal dari satelit ALOS.

Indikasi amblesan terjadi di kawah dan sebelah barat:

Hasil evaluasi menunjukkan indikasi amblesan telah terjadi baik di sekitar kawah maupun di sebelah barat dari pusat semburan.

Perkiraan semburan tidak berlangsung lama:

Waktu peluruhan yang pendek menunjukkan bahwa semburan tidak akan berlangsung lama lagi. 

Hubungan Kawah dan daerah barat pada pertengahan 2008:
Pengamatan ini juga menunjukkan bahwa daerah dekat pusat semburan dan di bagian barat telah terhubung sejak pertengahan tahun 2008, dengan geometri yang stasioner. 

Kesimpulan amblesan di barat Lusi dipicu oleh semburan lumpur dengan waktu tunda:

Pengamatan ini menunjukkan bahwa amblesan di sebelah barat telah dipicu oleh semburan lumpur dengan waktu tunda  (the subsidence to the west has been triggered by the  mud eruption with time delay).

Relevansi penurunan tekanan dengan semburan sehingga semburan lumpur akan berhenti:

Karena evolusi penurunan tekanan (depressurization) dipandang sebagai proxy yang baik untuk ekstrusi lumpur (the evolution of depressurization is viewed as a good proxy for that of mud extrusion).

Selanjutnya hasil analisis telah menunjukkan bahwa semburan lumpur akan berhenti secepatnya (our result indicates that the mud eruption will cease soon).

Bertentangan semburan akan berlangsung lama:

Hal ini bertentangan dengan studi sebelumnya (Istadi et al, 2009;. Davies et al, 2011;. Rudolph et al., 2011) yang memperkirakan bahwa semburan kemungkinan akan berlangsung selama beberapa dekade (forecasted that the eruption will likely last for decades).

Konsisten peruluruhan deformasi dan kecepatan semburan: 

Peluruhan yang cepat dari  deformasi ini secara kualitatif konsisten dengan tingkat ekstrusi lumpur (rapid decay of deformation is qualitatively consistent with the mud extrusion rate) yang meluruh dimana sebesar 5000-10.000 m3/hari pada tahun 2011 dari semburan yang optimal pada ~ 180.000 m3/hari dan ~ 90.000 m3/hari pada bulan Agustus 2008 (Istadi et al, 2009.; Mazzini et al., 2012).

Peluruhan eksponensial 2008 di barat lebih besar:

Peluruhan eksponensial sebelum pertengahan 2008 adalah lebih besar di titik-titik barat daripada di timur. 

Indikasi ekspansi peluruhan kearah timur: 

Hal ini ini mencerminkan, suatu  onset awal peluruhan eksponensial ke timur. 

Kesimpulan deformasi di bagian barat disebabkan semburan: 

Disimpulkan  bahwa deformasi ke barat telah dipicu oleh semburan dengan beberapa penundaan, dipercepat, dan kemudian mulai meluruh kemudian daripada yang di sekitar semburan (we conclude that the deformation to the west was triggered by the eruption with some delay, accelerated, and then started to decay later than that around the event).

Evolusi amblesan barat berhubungan amblesan kawah:

Evolusi sementara ini menunjukkan bahwa amblesan di barat dapat terhubung ke amblesan dekat kawah (temporal evolution suggests that the western subsidence could be connected to the near-event subsidence). 

Skenario amblesan di barat sebagi lapangan gas, tidak ada hubungan dengan semburan lumpur:

Bila daerah amblesan di barat selaras  dengan terdapatnya lapangan gas (subsidence corresponds to a gas field), namun juga memungkinkan untuk menafsirkan bahwa penurunan di barat tidak ada hubungannya dengan semburan lumpur namun oleh ekstraksi gas (western subsidence does not have anything to do with the mud eruption but due to a gas extraction).

Masih diperlukan informasi lainnya untuk menentukan penyebab semburan dari data ekstraksi lapangan gas alam:

Untuk mengkonfirmasi penyebab penurunan tersebut, kita membutuhkan informasi yang independen seperti time series dari jumlah gas yang ekstraksi di sana.

 

Ground deformation associated with the eruption mud volcano, east Java, Indonesia

Yosuke Aoki, Teguh Purnama Sidiq 1

Earthquake Research Institute, University of Tokyo, 1-1 Yayoi 1, Bunkyo-ku, Tokyo 113-0032, Japan

Contents lists available at ScienceDirect

Journal of Volcanology and Geothermal Research

journal homepage: www.elsevier.com/locate/jvolgeores

Available online 25 April 2014

Kata Kunci:

Gunung lumpur (Mud volcano), Deformasi tangah (Ground deformation), Synthetic aperture radar, Analisis berselang waktu (Time-series analysis)

Pokok-pokok Bahasan:

Abstrak

 · Penyelidikan deformasi tanah 2006-2011 dengan citra SAR:

· Terjadi amblesan di kawah dan sebelah barat:

· Terjadi Peluruhan dari LOS,  pertengahan tahun antara 1,5-2,5 tahun:

· Isyarat semburan tidak berlangsung lama lagi:

· Amblesan di barat berhubungan dengan semburan pada pertengahan 2008:

· Peluruhan di barat terjadi kemudian daripada di Kawah, amblesan di barat berhubungan dengan semburan:

· Hasil pemodelan, Geometri penghubung dan karakteristik kekakuan lumpur, peluruhan yang konstan:

Kesimpulan

· Evolusi deformasi tanah 2006-2011 dengan Citra SAR: 

· Indikasi amblesan terjadi di kawah dan sebelah barat:

· Peluruhan eksponensial terjadi pertengahan 2008:

· Perkiraan semburan tidak berlangsung lama:

· Hubungan Kawah dan daerah barat pada pertengahan 2008:

· Semburan lumpur dikendalikan oleh gradien tekanan reservoir-permukaan:

· Waktu kejadian peluruhan eksponensial di semburan lebih awal 6 bulan dari di barat:

· Kesimpulan amblesan di barat Lusi dipicu oleh semburan lumpur dengan waktu tunda:

· 4. Diskusi.

 · 4.1. Wawasan dari pengamatan

· Terjadi perlambatan tekanan pada kedalaman:

· Relevansi penurunan tekanan terhadap semburan sehingga semburan lumpur akan berhenti:

· Bertentangan dengan skenario semburan akan berlangsung lama:

· Konsisten peruluran deformasi dan kecepatan semburan: 

· Peluruhan eksponensial 2008 di barat lebih besar:

· Indikasi ekspansi peluruhan kearah timur:

· Perbedaan dengan Rudolph 2013 terkait waktu peluruhan lama ke barat:

· Kesimpulan deformasi di bagian barat disebabkan semburan: 

· Evolusi amblesan barat berhubungan amblesan kawah:

· Skenario amblesan di barat sebagi lapangan gas, tidak ada hubungan dengan semburan lumpur:

· Diperlukan informasi lainnya untuk menentukan penyebab semburan dari data ekstraksi lapangan gas alam:

Abstrak

 

Penyelidikan deformasi tanah 2006-2011 dengan citra SAR:

Deformasi tanah (Ground deformation) yang berkaitan dengan semburan  mud volcano Lumpur Sidoarjo (Lusi) yang berlangsung antara tahun 2006 dan 2011, telah diteliti dengan menggunakan citra Synthetic Aperture Radar (SAR images).

Terjadi amblesan di kawah dan sebelah barat:

Telah diindikasikan bahwa amblesan (subsidence) dapat diamati terjadi di sekitar  Pusat Semburan dan di daerah sebelah baratnya.

Terjadi Peluruhan dari LOS terjadi  pertengahan tahun antara 1,5-2,5 tahun:

Terjadi perubahan terhadap garis pandangan (Line-of-sight LOS) di kedua daerah dimana mengalami peluruhan/pengurangan (decayed) yang terjadi sejak pertengahan tahun 2008, dengan waktu konstan selama 1,5-2,5 tahun,

Isyarat semburan tidak berlangsung lama lagi:

Hal ini mengisyaratkan bahwa semburan tidak akan berlangsung lama lagi (implying that the ongoing eruption won’t last long).

Amblesan di barat berhubungan dengan semburan pada pertengahan 2008:

Waktu peluruhan yang terjadi secara seragam ini (uniform decay time) menunjukkan bahwa daerah amblesan di sebelah  barat telah terhubung ke pusat semburan sejak pertengahan tahun 2008, membentuk sebuah sistem dengan geometri stasioner (system with stationary geometry).

Peluruhan di barat terjadi kemudian daripada di Kawah, amblesan di barat berhubungan dengan semburan:

Hasil pengamatan bahwa peluruhan amblesan yang terjadi bergeser ke arah barat, daripada yang berada sekitar semburan. Hal ini menunjukkan bahwa amblesan di sebelah barat telah dipicu oleh semburan lumpur (subsidence to the west has been triggered by the mud eruption). 

Hasil pemodelan, Geometri penghubung dan karakteristik kekakuan lumpur, peluruhan yang konstan:

Suatu pemodelan yang sederhana menunjukkan bahwa:

1) Saluran (conduit) memerlukan suatu yang sempit di kedalaman daripada di permukaan,

2) Kekakuan efektif lumpur (the effective rigidity of the mud) harus lebih rendah dari yang diperkirakan dari sampel pemboran, atau keduanya untuk menjelaskan adanya peluruhan konstan yang diamati dari deformasi (the observed decay constant of the deformation).

Kesimpulan

Evolusi deformasi tanah 2006-2011 dengan Citra SAR: 

Tahun 2006 dan 2011 dilakukan studi terhadap evolusi temporal dari deformasi tanah (temporal evolution of ground deformation) yang terkait dengan semburan  LUSI mud volcano. Dengan  analisis time series dari citra  SAR, berasal dari satelit ALOS.

Indikasi amblesan terjadi di kawah dan sebelah barat:

Hasil evaluasi menunjukkan indikasi amblesan telah terjadi baik di sekitar kawah maupun di sebelah barat dari pusat semburan.  Sedangkan perubahan total LOS yang diamati lebih  dari 200 mm.

Peluruhan eksponensial terjadi pertengahan 2008:

Juga disimpulkan bahwa perubahan LOS dari peluruhan secara eksponensial  (exponential decay) terjadi setelah pertengahan 2008 dengan konstanta waktu di kedua daerah 1,5-2,5 tahun

Perkiraan semburan tidak berlangsung lama:

Waktu peluruhan yang pendek tersebut menunjukkan bahwa semburan tidak akan berlangsung lama lagi.

Hubungan Kawah dan daerah barat pada pertengahan 2008:

Pengamatan ini juga menunjukkan bahwa daerah dekat pusat semburan dan di bagian barat telah terhubung sejak pertengahan tahun 2008, dengan geometri yang stasioner.

Semburan lumpur dikendalikan oleh gradien tekanan reservoir-permukaan

Penciptaan sistem ini membuat ekstrusi lumpur dikendalikan oleh gradien tekanan (the mud extrusion controlled by a pressure gradient) antara reservoir lumpur dan permukaan.

Waktu kejadian peluruhan eksponensial di semburan lebih awal 6 bulan dari di barat:

The time series yang diperoleh  juga mengungkapkan bahwa terjadinya peluruhan eksponensial sekeliling kawah sekitar setengah tahun lebih awal daripada yang tejadi di bagian barat.

Juga diamati bahwa amblesan  di bagian barat mengalami  percepatan sampai tahun 2007, ketika amblesan di sekitar kawah telah berhenti percepatannya.

Kesimpulan amblesan di barat Lusi dipicu oleh semburan lumpur dengan waktu tunda:

Pengamatan ini menunjukkan bahwa amblesan di sebelah barat telah dipicu oleh semburan lumpur dengan waktu tunda  (the subsidence to the west has been triggered by the  mud eruption with time delay).

4. Diskusi.

Wawasan dari pengamatan

 

Terjadi perlambatan tekanan pada kedalaman:

Selama ini diasumsikan bahwa media bersifat elastis, sehingga waktu relaksasi sekitar 2 tahun (the relaxation time of around 2 years).

Hal ini menunjukkan bahwa penurunan tekanan pada kedalaman juga melambat dengan konstanta waktu sekitar 2 tahun (the depressurization at depth is also decelerating with a time constant of around 2 years).

Relevansi penurunan tekanan dengan semburan sehingga semburan lumpur akan berhenti:

Karena evolusi penurunan tekanan (depressurization) dipandang sebagai proxy yang baik untuk itu ekstrusi lumpur (the evolution of depressurization is viewed as a good proxy for that of mud extrusion), hasil analisis telah menunjukkan bahwa semburan lumpur akan berhenti secepatnya (our result indicates that the mud eruption will cease soon).

Bertentangan semburan akan berlangsung lama:

Hal ini bertentangan dengan studi sebelumnya (Istadi et al, 2009;. Davies et al, 2011;. Rudolph et al., 2011) yang memperkirakan bahwa semburan kemungkinan akan berlangsung selama beberapa dekade (forecasted that the eruption will likely last for decades).

Konsisten peruluran deformasi dan kecepatan semburan:

Peluruhan yang cepat dari  deformasi ini secara kualitatif konsisten dengan tingkat ekstrusi lumpur (rapid decay of deformation is qualitatively consistent with the mud extrusion rate) yang meluruh dimana sebesar 5000-10.000 m3/hari pada tahun 2011 dari semburan yang optimal pada ~ 180.000 m3/hari dan ~ 90.000 m3/hari pada bulan Agustus 2008 (Istadi et al, 2009.; Mazzini et al., 2012, Gambar. 2).

Peluruhan eksponensial 2008 di barat lebih besar:

Gambar. 4 menunjukkan bahwa berangkat dari adanya peluruhan eksponensial sebelum pertengahan 2008 adalah lebih besar di titik-titik barat daripada di timur.

Indikasi ekspansi peluruhan kearah timur:

Hal ini ini mencerminkan, suatu  onset awal peluruhan eksponensial ke timur.

Perbedaan dengan Rudolph terkait waktu peluruhan lama ke barat:

Sementara Rudolph et al. (2013) menguraikan suatu waktu peluruhan yang lebih panjang ke barat, perkiraan mereka mungkin bias oleh terjadinya keterlambatan peluruhan eksponensial ke barat.

Kesimpulan deformasi di bagian barat disebabkan semburan:

Menggabungkan hasil tersebut dengan pengamatan bahwa deformasi ke barat adalah halus, jika tidak null, selama enam bulan pertama semburan, berbeda dengan deformasi yang signifikan di sekitar kawah (contrast with a significant deformation around the vent) (Fukushima et al., 2009)

Disimpulkan  bahwa deformasi ke barat telah dipicu oleh semburan dengan beberapa penundaan, dipercepat, dan kemudian mulai meluruh kemudian daripada yang di sekitar semburan (we conclude that the deformation to the west was triggered by the eruption with some delay, accelerated, and then started to decay later than that around the vent).

Evolusi amblesan barat berhubungan amblesan kawah:

Evolusi sementara ini menunjukkan bahwa amblesan di barat dapat terhubung ke amblesan dekat kawah (temporal evolution suggests that the western subsidence could be connected to the near-vent subsidence).

Skenario amblesan di barat sebagi lapangan gas, tidak ada hubungan dengan semburan lumpur:

Bila daerah amblesan di barat selaras  dengan terdapatnya lapangan gas (subsidence corresponds to a gas eld), namun juga memungkinkan untuk menafsirkan bahwa penurunan di barat tidak ada hubungannya dengan semburan lumpur namun oleh ekstraksi gas (western subsidence does not have anything to do with the mud eruption but due to a gas extraction).

Diperlukan informasi lainnya untuk menentukan penyebab semburan dari data ekstraksi lapangan gas alam:

Untuk mengkonfirmasi penyebab penurunan tersebut, kita membutuhkan informasi yang independen seperti time series dari jumlah gas yang ekstraksi di sana.

 

SINOPSIS LUSI DI FORUM EGU 2017-2016

Maret 29, 2017

Dikontribusikan oleh Prof. Dr. Hardi Prasetyo

Plt Kepala BPLS, sebagai bagian Transisi BPLS-PPLS 2017

TESTIMONI LUSI TERUS MEDAPATKAN PERHATIAN ILMUWAN DI DUNIA:

Apa yang dipikirkan, Isu Aktual, Strategi Riset dan langkah-langkah, Penerapan Teknolog yang khusus, Apa Revolusi Pemaknaan Lusi mud volcano, HASILKEGIATAN 2017 dan 2016?

GeoLog | LusiEuropean Geosciences Union

blogs.egu.eu/geolog/tag/lusi

Lusi from the sky with drones. Credit: Giovanni Romeo, Adriano Mazzini and Giuseppe Di Stefano. (distributed via imaggeo.egu.eu)

Lusi from the sky with drones. Credit: Giovanni Romeo, Adriano Mazzini and Giuseppe Di Stefano. (distributed via imaggeo.egu.eu)

Lusi from the sky with drones. Credit: Giovanni Romeo, Adriano Mazzini and Giuseppe Di Stefano. (distributed via imaggeo.egu.eu)

The picture shows a spectacular aerial view of a sunset over the Lusi mud eruption in East Java, Indonesia. Here thousands of cubic meters of mud, are spewed out every day from a 100 m sized central crater. Since the initial eruption of the volcano in 2006, following a 6.3 M earthquake, a surface of about 7 km2 has been covered by boiling mud, which has buried more than 12 villages and resulted in the displacement of 40,000 people.

PRESENTASI PADA FORUM

European Geosciences Union General Assembly Vienna | Austria | April 2027 @ 2016

REFERENSI BLOG 2016:

EGU 2016: ORAL | Hardiprasetyolusi’s Blog

https://hardiprasetyolusi.wordpress.com/2016/05/08/egu-2016-oral

EGU 2016 POSTER: PROGRAM | Hardiprasetyolusi’s Blog

https://hardiprasetyolusi.wordpress.com/2016/05/08/egu-2016-poster…

LUSI LIBRARY: Ten years of Lusi eruption Contributed by Hardi Prasetyo, BPLS European Geosciences Union General Assembly 2016 Vienna | Austria | 17–22 …

Image result for LUSI DRONE

Image result for LUSI DRONE

BPLS DRONE

POKOK-POKOK BAHASAN:

  • EGU 2017: MAZZINI
  • EGU 2016: MAZZINI
  • EGU 2016 LUSI LAB: MAZZINI
  • EGU 2016 STEVE MILLER

SINOPSIS STUDI LUSI DI EGU APRIL 2017

Kode: GMPV1.4 / BG9.68 / SSP3.15

Dari sistem hidrotermal ke gunung lumpur: struktur, evolusi dan pemantauan pembubungan aktif dan purba

From hydrothermal systems to mud volcanoes: structure, evolution and monitoring of active and fossil piercements

Panelis: Adriano Mazzini, Co Panelis: Matteo Lupi

POKOK POKOK BAHASAN

  • Struktur pembubungan merupakan fenomena geologi yang paling spektakuler di Bumi ini:
  • Struktur pembubungan berperan penting pada evolusi planet Bumi dan siklus kehidupan pada sejarah geologi:
  • Struktur pembubungan aktif sebagai suatu saluran berakar dalam yang komplek: implikasi lingkungan dan studi biosfer;
  • Tekanan pori pada kedalaman dan aliran yang tinggi dari struktur pembubungan ideal menangkap sinyal dari even gempabumi:
  • Para pemakalah dengan berbagi metodologi dapat mempromosikan       fenomena pembubungan modern dan purba:
  • Fokus bahasan mencakup struktur, geokimia, geofisika, pemodelan, sistem diaktifkan kembali dan sistem purba:

Struktur pembubungan merupakan fenomena geologi yang paling spektakuler di Bumi ini:

Sistem hidrotermal, gunung lumpur, dan lingkungan hibrida (Hydrothermal systems, mud volcanoes, hybrid environments) seperti halnya induk sedimen sistem hidrotermal (sedimentary hosted hydrothermal systems) dan struktur pembubungan (piercement structures), secara umum adalah salah satu fenomena geologi yang paling spektakuler di Bumi ini (the most spectacular geological phenomena on Earth).

Struktur pembubungan berperan penting pada evolusi planet Bumi dan siklus kehidupan pada sejarah geologi:

Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa struktur ini telah memainkan peran kunci dalam evolusi planet kita (these structures play a key role in the evolution of our planet) dan siklus kehidupan selama beberapa era geologi (the cycles of life during several geological eras.).

Struktur pembubungan aktif sebagai suatu saluran berakar dalam yang komplek: implikasi lingkungan dan studi biosfer

Struktur pembubungan aktif biasanya dicirikan sebagai suatu sistem pipa berakar dalam (by deep-rooted plumbing systems) dan reaksi geokimia (complex geochemical reactions) yang komplek.

Dalam kondisi ini kehidupan bisa beradaptasi pada lingkungan yang sangat ekstrim (where life can adapt to thrive in extremely harsh environments ). Sehingga hal ini membuatnya menjadi sasaran yang ideal untuk eksplorasi biosfer (them ideal targets for deep biosphere exploration).

Sinyal geofisika (The geophysical signals) yang berhubungan dengan lingkungan seperti itu sering ambisius dan sulit untuk ditafsirkan.

Tekanan pori pada kedalaman dan aliran yang tinggi dari struktur pembubungan ideal menangkap sinyal dari even gempabumi:

Tekanan pori yang diangkat sering dijumpai pada kedalaman (The elevated pore pressures often encountered at depth) dan tingkat aliran tinggi (and the high flow rates).

Sehingga membuat struktur ini ideal sebagai laboratorium alam untuk menangkap sinyal-sinyal dari peristiwa gempa (make these structures ideal natural laboratories to capture precursors of seismic events) dan dinamika proses geologi yang dipicunya (dynamically triggered geological processes).

Struktur pembubungan sering dilaporkan (Piercement structures have often been reported) sebagai respon gempa bumi dan daya keluar (to respond to earthquakes and external forcing).

Para pemakalah dengan berbagi metodologi dapat mempromosikan   fenomena pembubungan modern dan purba:

Sesi ini berkembang juga dari COST Action FLOWS dan menyambut kontribusi dari geokimia, mikroba, geofisika, geologi, studi numerik dan laboratorium (from geochemical, microbial, geophysical, geological, numerical and laboratory studies) untuk mempromosikan pemahaman yang lebih baik dari fenomena pembubungan modern (piercement modern) dan pembubungan purba (palaeo piercement).

Fokus bahasan mencakup struktur, geokimia, geofisika, pemodelan, sistem diaktifkan kembali dan sistem purba:

Panelis secara khusus mengundang para peneliti yang berkaitan dengan:

Penyelidikan terhadap pengendali struktur-struktur geologi yang telah eksis sebelumnya (investigations controlling pre-existing geological structures);

Reaksi geokimia yang terjadi pada kedalaman (the geochemical reactions occurring at depth) dan pada permukaan termasuk studi mikrobiologi  (at the surface including microbiological studies);

Penyelidikan sistem tersebut dengan metode geofisika (the investigation of such systems with geophysical methods;);

Penelitian eksperimental dan numerik;

Survei dan pemantauan kedudukan tersebut dan lingkungan (the survey and the monitoring of these settings and environments) untuk mempelajari dinamika sistem yang sebelumnya telah punah (to learn the dynamics of the extinct systems), dari yang aktif sekarang ini (from the active ones); dan

Studi pembubungan purba (palaeo piercements) dan pengaruhnya terhadap iklim purba (their effects on palaeo climate).

ABSTRACT

Hydrothermal systems, mud volcanoes, hybrid environments such as sedimentary hosted hydrothermal systems and piercement structures in general are among the most spectacular geological phenomena on Earth.

Several studies demonstrated that these structures play a key role in the evolution of our planet and the cycles of life during several geological eras.

Active piercements are usually characterized by deep-rooted plumbing systems and complex geochemical reactions where life can adapt to thrive in extremely harsh environments making them ideal targets for deep biosphere exploration.

The geophysical signals associated to such environments are often ambiguous and difficult to interpret.

The elevated pore pressures often encountered at depth and the high flow rates make these structures ideal natural laboratories to capture precursors of seismic events and dynamically triggered geological processes.

Piercement structures have often been reported to respond to earthquakes and external forcing.

This session develops also from the COST Action FLOWS and welcomes contributions from geochemical, microbial, geophysical, geological, numerical and laboratory studies to promote a better understanding of modern and palaeo piercement phenomena. I

n particular we call for studies related to:

1) investigations controlling pre-existing geological structures;

2) the geochemical reactions occurring at depth and at the surface including microbiological studies;

3) the investigation of such systems with geophysical methods;

4) experimental and numerical studies;

5) the survey and the monitoring of these settings and environments to learn the dynamics of the extinct systems from the active ones; and

6) the study of palaeo piercements as well as their effects on palaeo climate.

Image result for LUSI DRONE

EGU 2016

Pada Program Umum

http://meetingorganizer.copernicus.org/EGU2016/programme/SSP3

Topik Semburan Lusi termasuk pada kategori SSP urutan 5, dari keseluruhan 8 SSP.

SSP berada di bawah disiplin Geologi

SSP – Stratigrafi, Sedimentologi & Paleontologi Stratigraphy, Sedimentology & Palaeontology

Dengan Kode:

SSP3.16/GMPV8.10 

Judul yang diangkat sesuai alur SSP adalah:

Sepuluh tahun semburan Lusi – Pelajaran berharga pada sistem pembubungan

modern dan purba.

 (Ten years of Lusi eruption – lessons learned about modern and ancient piercement systems)

Kata Kunci:

 Semburan Lusi mud volcano telah berumur sepuluh tahun (29 Mei 2006-2016)

Pelajaran berharga untuk mempelajari sistem pembubungan (piecerment system) modern (yang sedang berlangsung di Lusi Saat ini) dan purba (yang telah terjadi pada masa lalu).

Memberikan makna “The Present is the key to the Past”,  yaitu sekarang adalah kunci untuk memahami proses-proses geologi yang telah berlangsung pada masa lalu (ribuan-jutaan tahun).

 Sebagai Ketua Sidang (Convener): Andrio Mazzini,

Wkl. Ketua Sidang (Co-Conveners): Sverre Planke, Matteo Lupi

 

Orals

http://meetingorganizer.copernicus.org/EGU2016/orals/20631

Dilaksanakan pada Selasa, 19 April, 13:30–15:00 / Room M2

Sesi Presentasi Poster (Poster Presentation)

Posters

http://meetingorganizer.copernicus.org/EGU2016/posters/20631

Dilaksanakan Selasa 19 April, 17:30–19:00 / Hall X1

 

PENGANTAR SINGKAT DARI PEMIMPIN SIDANG (CONVENER), ANDRIANO MAZZINI

Alur Pikir dan Kata Kunci

  • Semburan Lusi yang spektakuler berlanjut sampai saat ini menyemburkan lumpur, air, gas dan klastika:
  • Peluang emas mempelajari struktur pembubungan sejak dilahirkan:
  • Lusi sistem gabungan struktur pembubungan tradisional di cekungan sedimen dan sistem hidrotermal dipengaruhi gempa dan gunung api:
  • Lusi Laboratorium alam ideal untuk memahami analogi struktur pembubungan modern dan purba: mud volcano, sedimen induk sistem hidrotermal, kepundan hidrotermal:
  • Kontribusi di Lusi hasil lapangan Geologi, Geofisika, Geokimia, Biologi dan studi pemodelan tentang struktur pembubungan aktif dan purba di cekungan:

Catatan Lengkap Inisiator/Pemimpin Sesi:

Semburan Lusi yang spektakuler berlanjut sampai saat ini menyemburkan lumpur, air, gas dan klastika:

Semburan Lusi yang spektakuler diawali di bagian timur Pulau Jawa, Indonesia, pada tanggal 29 Mei 2006.

Sejak itu secara berlanjut telah menyemburkan material lumpur, air, gas dan klastika.

Peluang emas mempelajari struktur pembubungan sejak saat Lusi dilahirkan:

Lusi telah menyediakan suatu peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya, untuk mempelajari struktur pembubungan (piecerment) dari saat kelahirannya.

Lusi sistem gabungan dari struktur pembubungan yang tradisional di cekungan sedimen dan sistem hidrotermal dipengaruhi aktivitas gempa dan gunung berapi:

Sistem gabungan ini berbagi antara karakteristik struktur pembubungan yang tradisional di suatu cekungan sedimen (traditional piercement structures and sedimentary basin).

Dengan sistem-sistem hidrotermal yang dipengaruhi oleh aktivitas gunung berapi dan gempa (hydrothermal systems affected by volcanic and seismic activity).

Lusi Laboratorium alam ideal untuk memahami analogi struktur pembubungan modern dan purba: mud volcano, sedimen induk sistem hidrotermal, kepundan geotermal

Lusi adalah suatu laboratorium alam yang ideal (an ideal natural laboratory).

Untuk memahami suatu analogi sistem pembubungan modern dengan sistem pembubungan purba (for understanding analogue modern and paleo-piercement systems).

Seperti halnya dengan gunung berapi lumpur, sedimen tuan rumah sistem hidrotermal (sedimentary hosted hydrothermal systems), dan komplek dari kepundan hidrotermal (hydrothermal vent complexes).

Kontribusi pada Lusi merupakan hasil lapangan Geologi, Geofisika, Geokimia, Biologi dan studi pemodelan tentang struktur pembubungan aktif dan purba di cekungan:

Untuk sesi ini (Lusi 10 Tahun Pelajaran Berharga dari Sistem Pembubungan modern), menyambut dengan baik kontribusi pada semburan Lusi, serta kontribusi pelengkap lainnya.

Merupakan kontribusi yang dihasilkan dari pekerjaan lapangan mencakup geologi, geofisika, geokimia, dan biologi, serta studi pemodelan tentang struktur pembubungan aktif dan purba di cekungan sedimen.

Abstract

The spectacular Lusi eruption started in northeast Java, Indonesia, on May 29th 2006, and it has been erupting mud, water, gas and clasts ever since.

Lusi has provided the unprecedented opportunity to study a piercement structure from its birth.

This hybrid system shares the characteristics of traditional piercement structures in sedimentary basin with hydrothermal systems affected by volcanic and seismic activity.

Lusi is therefore an ideal natural laboratory for understanding analogue modern and paleo-piercement systems such as mud volcanoes, sedimentary-hosted hydrothermal systems, and hydrothermal vent complexes.

To this session, we welcome contributions on the Lusi eruption as well as complimentary contributions on geological, geophysical, geochemical, and biological field work, analyses, and modeling studies on active and paleo-piercement structures in sedimentary basins.

Slide19

Postur Lusi Maret 2017, Drone dipiloti Suwardi (BAP)

PRESENTASI DR. ANDRIANO MAZZINI LUSI LAB

MENGAWALI SESI PRESENTASI POSTER, MENGURAIKAN TENTANG PROJEK LUSI LAB

LUSI LAB: a multidisciplinary project in a natural active laboratory

Geophysical Research Abstracts

Vol. 18, EGU2016-12110-1, 2016

EGU General Assembly 2016

LUSI LAB: Program Multidisiplin dari suatu laboratorium alami aktif

LUSI LAB: a multidisciplinary project in a natural active laboratory

Adriano Mazzini and Lusi Lab Leader Team

CEED – University of Oslo, CEED, Oslo, Norway (adriano.mazzini@geo.uio.no)

Pokok-Pokok Bahasan dan Kata Kunci:

29 Mei 2009 munculnya tiba-tiba semburan gas dan lumpur pada beberapa lokasi di sepanjang sistem patahan geser Watukosek:

Semburan utama Lusi sampai saat ini masih berlangsung, terjadi dua hari setelah gempa bumi Yogyakarta:

Lusi mendapatkan perhatian media Internasional disebut sebagai “Lokasi semburan lumpur terbesar di Bumi” dengan dampak sosial yang berdimensi spektakuler:

Perhatian LUSI LAB untuk melakukan penyelidikan berskala regional yang komprehensif dari fenomena semburan Lusi spektakuler:

1) Lokasi Lusi aktif:

2) Busur volkanik yang berdekatan:

3) Kegempaan mikro dan hubungan regional:

4) Sistem sesar dari gunung magmtik ke Lusi:

5) Pemodelan numerik Lusi, patahan geser sistem:

Hasil studi bahwa gerakan geser Patahan Watukosek diaktifkan kembali pasca gempabumi Mei 2006, menghasilkan semburan Lusi:

Diketemukan indikasi selubung bumi terkait komplek gunung api, ditentukan Lusi sedimen induk sistem panas bumi:

Telah dirancang dan dibangun Lusi Drone, menghasilkan citra, contoh cairan, lumpur, pengukuran spot panas:

Dilakukan survei pengukuran gas CO2 dan CH4 memperkirakan jumlah gas yang dirilis di sekitar lusi:

Menggunakan Drone mendapatkan lumpur segar untuk menyelidiki proses mikroba:

Didapatkan bukti koloni mikroba aktif pada suhu tinggi, wawasan baru kehidupan di biosfer dalam:

Pengamatan regional kegempaan yang terjadi di zona subduksi mempengaruhi dapur magma, sistem patahan Watukosek dan aktivitas Lusi:

Stasiun di dalam tanggul ditambah rekaman video untuk mengamati perilaku berpulsa dari semburan Geyser Lusi:

Survei terpadu geofisika untuk memetakan sistem sesar Watukosek di dekat permukaan dan menyediakan data pemodelan numerik:

Data yang berlimpah mendukung pemodelan numerik, dinamika pada saluran Lusi sampai skala cekungan, membangun model geologi 3-d di wilayah sekitar Lusi:

Naskah Lengkap dan Kata Kunci

29 Mei 2009 munculnya tiba-tiba semburan gas dan lumpur pada beberapa lokasi di sepanjang sistem patahan geser Watukosek:

29 Mei 2006 pada beberapa lokasi di sepanjang sesar geser (strike-slip) dari sistem sesar Watukosek, tiba-tiba muncul semburan gas dan lumpur muncul di NE Jawa, Indonesia.

Semburan utama Lusi sampai saat ini masih berlangsung, terjadi dua hari setelah gempa bumi Yogyakarta:

Semburan Lusi terjadi setelah hampir dua hari terjadinya gempa dengan kekuatan 6,3 M yang menerjang pulau Jawa. Dalam beberapa minggu selanjutnya, beberapa desa telah digenangi oleh lumpur panas.

Lokasi semburan yang paling menonjol selanjutnya disebut sebagai Lusi. Dimana sampai saat ini Lusi masih aktif.

Bencana ini telah menyebabkan sekitar 50.000 orang harus dievakuasi dan suatu daerah seluas ~7 km2 telah ditutupi oleh lumpur.

Lusi mendapatkan perhatian media Internasional disebut sebagai “Lokasi semburan lumpur terbesar di Bumi” dengan dampak sosial yang berdimensi spektakuler

Dampak sosial dari semburan dan dimensi yang spektakuler sehingga menarik perhatian dari kalangan media internasional yang melaporkan “lokasi semburan lumpur yang terbesar di Bumi” (“largest mud eruption site on Earth”).

Perhatian LUSI LAB untuk melakukan penyelidikan berskala regional yang komprehensif dari fenomena semburan Lusi spektakuler:

LUSI LAB (ERC hibah no. 308.126) berfokus pada lima aspek utama, yaitu untuk melakukan suatu penyelidikan regional yang komprehensif, dari even yang sangat spektakuler ini:

1) Lokasi Lusi aktif: Pengambilan contoh dan pemantauan dari lokasi semburan Lusi yang aktif (active Lusi eruption);

2) Busur volkanik yang berdekatan: Pemantauan dan pengambilan contoh pada busur vulkanik (volcanic arc) yang berlokasi didekatnya;

3) Kegempaan mikro dan hubungan regional: Pemantauan kegempaan-mikro dan hubungannya dengan kegempaan regional;

4) Sistem sesar dari gunung magmtik ke Lusi: Pemantauan sistem sesar yang bagian awal pada busur vulkanik, melintasi Lusi dan menerus kearah timurlaut dari Pulau Jawa;

5) Pemodelan numerik Lusi, patahan geser sistem: Pemodelan numerik aktivitas Lusi dan strike-slip/sistem komplek;

Hasil studi bahwa gerakan geser Patahan Watukosek diaktifkan kembali pasca gempabumi Mei 2006, menghasilkan semburan Lusi:

LUSI LAB telah menyelesaikan beberapa ekspedisi lapangan. Studi yang dilaksanakan untuk menyelidiki mekanisme reaktivasi dari sistem sesar Watukosek, yang melintasi Lusi dan berlanjut kearah timurlaut Pulau Jawa.

Hasil sementara menunjukkan bahwa setelah gempa 27 Mei 2006, selanjutnya telah diaktifkan gerakan lateral dari sistem strike-slip.

Sehingga menghasilkan beberapa semburan yang searah atau mempunyai kelurusan, termasuk diantaranya Lusi.

Diketemukan indikasi selubung bumi terkait komplek gunung api: Lusi sedimen induk sistem panas bumi

Studi geokimia dari cairan yang disemburkan, mengungkapkan adanya karakter dari selubung (mantle) dan titik dimana menghubungkan Lusi dengan komplek volkanik Arjuno-Welirang yang berlokasi didekatnya.

Hal ini menunjukkan bahwa bahwa Lusi adalah suatu sedimen induk dari sistem panas bumi (Lusi is a sedimentary hosted geothermal system).

Telah dirancang dan dibangun Lusi Drone: menghasilkan citra, contoh cairan, lumpur, pengukuran spot panas

Telah dirancang, dan dibangun pesawat Drone Lusi. Suatu peralatan yang dikendalikan dari jarak jauh.

Pesawat drone hexacopter dikembangkan dan dirakit untuk mendukung studi multidisiplin, pada lingkungan yang ekstrim dan tidak dapat diakses.

Lusi drone telah memungkinkan kita untuk dapat menghasilkan survei video/foto serta mengambil contoh cairan/lumpur dari kawah, termasuk juga melaksanakan pengukuran secara spot.

Dilakukan survei pengukuran gas CO2 dan CH4 memperkirakan jumlah gas yang dirilis di sekitar Lusi:

Dalam rangka untuk memperkirakan jumlah gas yang telah dirilis sekitar area kawah Lusi (~7 km2), telah dilakukan dua survei. Termasuk lebih dari 350 stasiun (CO2 dan CH4 pengukuran emisi) menggunakan alat closed-chamber flux-meter system.

Mengukur emisi radon, dan mengumpulkan lebih dari 60 contoh gas untuk menganalisis komposisi dari rembesan dan emisi dari kawah lainnnya.

Menggunakan Drone mendapatkan lumpur segar untuk menyelidiki proses mikroba:

Juga telah diselidiki proses-proses mikroba dan melakukan peningkatan komunitas (thriving communities).

Beberapa pengambilan contoh dilakukan untuk mengumpulkan lumpur segar dari kawah semburan, menggunakan pesawat tak berawak yang dikendalikan dari jarak jauh.

Selain itu telah diselesaikan transek di zona banjir lumpur untuk pengambilan contoh pada umur aliran yang lebih tua, sebagai perbandingan.

Didapatkan bukti koloni mikroba aktif pada suhu tinggi, membuka wawasan baru kehidupan di biosfer dalam:

Hasil dari koloni inkubasi mikroba mengungkapkan adanya koloni mikroba aktif cukup berlimpah, walaupun berada pada suhu tinggi.

Hal ini membuka suatu pertanyaan baru, mengenai suatu kehidupan di biosfer dalam (opening new questions regarding life in the deep biosphere).

Pengamatan regional kegempaan yang terjadi di zona subduksi mempengaruhi dapur magma, sistem patahan Watukosek dan aktivitas Lusi:

Sejak lebih dari satu tahun telah dioperasikan suatu jaringan terdiri dari 31 stasiun kegempaan yang tersebar di sekitar busur vulkanik Arjuno-Welirang, dan sepanjang patahan Waukosek dan sekitar Lusi.

Tujuan dari pemantauan jangka panjang, untuk mengamati bagaimana kegempaan dan/atau aktivitas seismik yang sering dan sedang berlangsung di zona subduksi, sebelah selatan Jawa, yang secara lokal mempengaruhi aktivitas dapur magma, sistem sesar Watukosek dan aktivitas Lusi.

Stasiun di dalam tanggul ditambah rekaman video untuk mengamati perilaku pulsa dari semburan Geyser Lusi:

Selain itu juga telah dilakukan pengamatan pada stasiun di dalam area tanggul untuk. Untuk mengamati aktivitas perilaku berdenyut (pulse behavior) dari Lusi dan semburan geysernya. Penelitian ini ditambah dengan pengamatan video.

Survei terpadu geofisika untuk memetakan sistem sesar Watukosek di dekat permukaan dan menyediakan data pemodelan numerik:

Sebuah gabungan survei yang komprehensif dari resistivitas listrik dan potensial-alami (SP) dilakukan di area 7 km2 di dalam tanggul Lusi.

Tujuan dari survei geofisika adalah untuk memetakan terjadinya sistem sesar Watukosek di dekat-permukaan, dan menyediakan data yang berguna untuk pemodelan numerik.

Data yang berlimpah mendukung pemodelan numerik, pada saluran Lusi sampai skala cekungan, membangun model geologi 3-d di wilayah sekitar Lusi:

Jumlah yang banyak dari data yang dikumpulkan memungkinkan kita untuk menguji beberapa pendekatan untuk model numerik beberapa dinamika yang sedang berlangsung pada saluran Lusi.

Pada skala basinal yang lebih luas, untuk membangun sebuah model geologi 3D dari wilayah sekitar Lusi.

ABSTRACT

The 29th of May 2006 several gas and mud eruption sites suddenly appeared along a strike-slip fault (Watukosek fault system) in the NE of Java, Indonesia.

The eruption occurred almost two days after a 6.3 M earthquake striking the island of Java. Within weeks several villages were submerged by boiling mud. The most prominent eruption site was named Lusi. To date Lusi is still active.

This disaster has forced 50.000 people to be evacuated and an area of ~7 km2 is covered by mud. The social impact of the eruption and its spectacular dimensions still attract the attention of international media reporting on the “largest mud eruption site on Earth”.

LUSI LAB (ERC grant n◦ 308126) focuses on five main aspects in order to complete a comprehensive regional investigation of this impressive event: 1) sampling and monitoring the active Lusi eruption site; 2) monitoring and sampling the neighbouring volcanic arc; 3) monitoring the local micro-seismicity and its relationship with regional seismicity; 4) monitoring the fault system originating from the volcanic arc, crossing Lusi and extending to the NE of Java island; 5) numerical modelling of Lusi activity and the strike-slip/magmatic complex system.

We completed several field expeditions. Our studies investigated the mechanisms of reactivation of the Watukosek fault system that crosses Lusi locality and continues to the NE of Java.

Results show that after the 27-05-2009 earthquake it was activated the lateral movement of this strike-slip system resulting in these several aligned eruptions sites including Lusi.

Further, our geochemical studies of the erupted fluids reveal a mantle signature and point to a connection with the neighboring Arjuno-Welirang volcanic complex indicating that Lusi is a sedimentary hosted geothermal system.

We have designed, developed and constructed the Lusi drone. This is a remote controlled hexacopter developed and assembled in order to complete multidisciplinary studies in extreme and inaccessible environments. The Lusi drone allowed us to successfully complete video/photo surveys as well as fluids/mud sampling from the crater including spot measurements.

In order to estimate the amount of gas that is being released around the Lusi crater area (~7 km2), we conducted two surveys including over 350 stations (CO2 and CH4 flux measurements) using a closed-chamber flux-meter system, measured radon emissions, and collected more than 60 gas samples to analyze the composition of the seeps and the crater plume.

We also investigated microbial processes and thriving communities conducting several sampling campaigns to collect samples of fresh mud from the erupting crater using the remote controlled drone.

In addition we completed a transect in the mud flood zone to sample older, weathered flows for comparison. The results of the microbial colonies incubation reveal the widespread presence of active microbial colonies, even at high temperatures, opening new questions regarding life in the deep biosphere.

Since more than a year we have operating a network of 31 seismic stations distributed around the Arjuno-Welirang volcanic arc, along the Waukosek fault and around Lusi.

The purpose of this long term monitoring is to observe how local seismicity and/or the frequent seismic activity ongoing in the subduction zone in southern Java affects the activity of the magma chamber, the Watukosek fault system and the Lusi activity.

In addition we also deployed temporary stations inside the embankment area to observe the activity of the pulsating behavior of Lusi and its geysering bursts. This study is coupled with video observations.

A comprehensive combined electrical resistivity and self-potential (SP) survey was performed in the 7 km2 area inside the Lusi embankment. The goal of the geophysical survey was to map the near-surface occurrence of the Watukosek fault system, and provide useful data for numerical modelling.

The large amount of data collected allows us to test several approaches to model numerically some of the dynamics ongoing in the Lusi conduit and, on a larger basinal scale, to construct a 3D geological model of the region around Lusi.

 

17626692_1234449066672421_88412985517552661_n

Kesibukan di Lapangan Monev Lusi Zona Timur dengan Drone Maret 2017

Stephen A. Miller 2016: Sepuluh tahun dari Lusi: Suatu Ulasan

EGU General Assembly 2016

Geophysical Research Abstracts: Vol. 18, EGU2016-15525-3, 2016

(Stephen.miller@unine.ch), Pusat Hidrogeologi dan Geothermics (Chyn), Universitas Neuchatel, Swiss

POKOK-POKOK BAHASAN

Semburan Lusi sepuluh tahun sebagai sistem semburan gyser dengan sebagai periodik kuasi:

Banyak studi Lusi bertujuan untuk mengkuantitatifkan Sistem semburan:

Lusi sistem hidrotermal baru dilahirkan dengan skala tektonik, berhubungan dengan kompleks gunung api:

Perdebatan masih berlanjut Lusi dipicu sebagai peristiwa alam atau oleh pemboran:

Bukti yang ada dari perilaku sistim Lusi, tidak mungkin dipicu oleh antropogenik:

Alasan pentingnya memahami sistem ini karena telah menimbulkan dampak sosial yang luar biasa:

Pertanyaan penting adalah apakah ke depan semburan Lusi masih dapat menimbulkan benca geologi susulan?

Saat ini di dalam daerah banjir lumpur terus dialukan upaya besar dengan infrastruktur tangggul dan aktivitas pemeliharaan berlanjut:

Sistem semburan Lusi penting memahami sistem dengan sekala lebih besar yaitu hidrotermal volkanik:

Upaya besar sedang dilakukan untuk mempelajari sistem Lusi dari perspektif geokimia, geofisika dan pemodelan:

Ringkasan merangkum apa yang diketahui apa yang masih belum jelas, termasuk mencermati perilaku Lusi”

RINGKASAN DAN KATA KUNCI

Semburan Lusi sepuluh tahun sebagai sistem semburan gyser dengan sebagai periodik kuasi:

Semburan lumpur Lusi, terus berlangsung selama sepuluh tahun ini, dengan relatif tidak berhenti.

Saat ini kedudukannya semakin mantap   (its current steady-state) dimana memperlihatkan suatu perilaku sebagai suatu sistem geyser dengan periodik kuasi (a quasi-periodic geyser system).

Banyak studi Lusi bertujuan untuk mengkuantitatifkan Sistem semburan:

Banyak studi-studi pada masa lalu, sekarang, dan ke depan (Many past, current, and future studies) yang bertujuan untuk mengkuantitatifkan sistem ini (aim to quantify this system).

Lusi sistem hidrotermal baru dilahirkan dengan skala tektonik, berhubungan dengan kompleks gunung api:

Dimana semakin banyak bukti yang mendukung, bahwa Lusi sebagai suatu sistem hidrotermal yang baru dilahirkan dengan skala tektonik (a new-born, tectonic scale hydrothermal system).

Yang berhubungan dengan kompleks gunung api berlokasi di dekatnya (linked to the nearby volcano complex).

Perdebatan masih berlanjut Lusi dipicu sebagai peristiwa alam atau oleh pemboran:

Perdebatan tentang apakah pemicu Lusi (The debate about whether the triggering of Lusi) sebagai peristiwa alami (was a (natural event) atau lebih disebabkan oleh pengeboran masih terus berlanjut (of rather caused by drilling continues).

Bukti yang ada dari perilaku sistim Lusi, tidak mungkin dipicu oleh antropogenik:

Tapi bukti-bukti yang ada dari perilaku sistem ini (but evidence mounts from the behavior of this system), bahwa penyebab antropogenik sangat tidak mungkin (anthropogenic cause is highly unlikely).

Alasan pentingnya memahami sistem ini karena telah menimbulkan dampak sosial yang luar biasa:

Memahami sistem ini sangat penting (understanding this system is very important). Karena dampak sosial dan ekonomi pada masyarakat sekitar (because of its social and economic impact on the surrounding communities).

Pertanyaan penting adalah apakah ke depan semburan Lusi masih dapat menimbulkan benca geologi susulan?

Disamping itu pertanyaan lainnya adalah apakah semburan Lusi masih bisa menimbulkan geohazard (whether it poses future geohazards), di wilayah sekarang dari suatu semburan di masa depan (in the region from future eruptions).

Saat ini di dalam daerah banjir lumpur terus dialukan upaya besar dengan infrastruktur tangggul dan aktivitas pemeliharaan berlanjut:

Sebuah upaya besar dari infrastruktur dan aktivitas pemeliharaan yang konstan telah dan sedang dilakukan, di dalam daerah banjir lumpur seluas 7km2 .

Wilayah ini dikelilingi oleh tanggul yangt inggi (this region is framed by a tall embankment) berisi semburan lumpur (that contains the erupted mud) dan melindungi pemukiman sekitarnya (and protects the surrounding settlements).

Sistem semburan Lusi penting memahami sistem dengan sekala lebih besar hidrotermal volkanik:

Sistem ini juga sangat penting (This system is also very important) bagi pemahaman pada skala yang lebih besar lagi, yaitu sistem hidrotermal gunung berapi (for understanding at a larger scale volcanic hydrothermal system).

Disamping itu untuk menentukan apakah sumber daya panas bumi yang baru ini (to determine whether this new geothermal resource, mungkin bisa dimanfaatkan (might be exploited).

Upaya besar sedang dilakukan untuk mempelajari sistem Lusi dari perspektif geokimia, geofisika dan pemodelan:

Upaya besar sedang berlangsung dari hibah-Uni Eropa mendukung Lusi-Lab proyek (Ceed, Universitas Oslo) dan hibah SNF mendukung Universitas Neuchatel.

Untuk mempelajari sistem ini (to study this system) dari perspektif geokimia, geofisika, dan pemodelan (from geochemical, geophysical, and modeling perspectives).

Ringkasan merangkum apa yang diketahui apa yang masih belum jelas, termasuk mencermati perilaku Lusi”

Ulasan pembicaraan ini merangkum apa yang diketahui (This review talk summarizes what is known), apa yang masih belum jelas (what is still unclear).

Juga akan kembali mencermati perilaku Lusi (will revisit the behavior of Lusi) sejak awal (since its inception).

 

 

BAGIAN 2, SARESEHAN “LUSI UNGGULAN STUDI MUD VOLCANO: RENCANA STUDI SEISMIK 3-D DAN PEMANFAATAN BERSAMA

Maret 22, 2017

BAGIAN 2:

AGENDA SARESEHAN “LUSI UNGGULAN STUDI MUD VOLCANO DI DUNIA: RENCANA STUDI SEISMIK 3-D DAN PEMANFAATAN BERSAMA”.

15 Maret 2017, di Ruang Sunarso, Kantor BPLS

Transisi Misi Nasional Penanggulangan LUSI ke

Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) Kementrian PUPR

  • Silaturahmi, “BPLS 2007-2017” Stakeholders, termasuk Institusi yang telah membuat MoU dengan BPLS;
  • Fokus Dinamika Lusi dan melanjutkan “Indonesian in Cooperated” pada fenomena Kebumian Lusi;
  • Paradigma Baru Pengendalian Bencana Kebumian LUSI, Outlook Kedepan;
  • Modal Dasar yang telah dimiliki untuk melangkah ke depan:

–Kebencanan Geologi-Kebijakan- (MK, MA, Perpres), Lusi Laboratorium Alam dan Unggulan Studi Mud Volcano di dunia, Lusi menuju Geopark dengan strategi GeoWisata.

  • Grand Design Studi Komprehensif Bawah Permukaan Lusi dengan Seismik-3d dan Pendukung antara lain MT, TLS:

–Berorientasi untuk Kebijakan dan Mitigasi dan Pengurangan Risiko Bencana Lusi ke depan;

–Sepenuhnya untuk Tujuan Ilmiah dan perwujudan “Lusi Pusat Unggulan Studi mud volcano di dunia”;

–Mengikutsertakan Institusi dan Pihak Terkait (berbasis MoU);

–Pemanfaatan Data Informasi untuk berbagai kepentingan non-ekonomi terutama pada Ilmu dan Teknologi Kebumian;

  • Rasio Kesulitan dan Dukungan yang diharapkan;
  • Kerjasama dalam Pemanfaatan Data Dan Informasi Kebumian ke depan:

–Wahana Geopark Lokal – Nasional – Global Unesco.

–Dilaksanakan 2017 Gebyar TLS-Drone dan lain-lain.

Isu Aktual Bencana Kebumian Lusi dan Pilihan Solusi;

ALBUM BAGIAN 2:

Slide1

Slide23Slide24Slide25Slide26Slide27Slide28Slide29Slide30Slide31Slide32Slide33Slide34Slide35Slide36Slide37Slide38Slide39Slide40Slide41Slide42Slide43Slide44Slide45Slide46Slide47Slide48Slide49Slide50Slide51Slide52Slide53Slide54Slide55Slide56Slide57Slide58Slide59Slide60Slide61

 

BAGIAN 1, SARESEHAN “LUSI UNGGULAN STUDI MUD VOLCANO :STUDI SEISMIK 3-D DAN PEMANFAATAN BERSAMA”

Maret 22, 2017

BAGIAN 1:

AGENDA SARESEHAN “LUSI UNGGULAN STUDI MUD VOLCANO DI DUNIA: RENCANA STUDI SEISMIK 3-D DAN PEMANFAATAN BERSAMA”.

15 Maret 2017, di Ruang Sunarso, Kantor BPLS

Transisi Misi Nasional Penanggulangan LUSI ke

Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) Kementrian PUPR

 

  • Silaturahmi, “BPLS 2007-2017” Stakeholders, termasuk Institusi yang telah membuat MoU dengan BPLS;
  • Fokus Dinamika Lusi dan melanjutkan “Indonesian in Cooperated” pada fenomena Kebumian Lusi;
  • Paradigma Baru Pengendalian Bencana Kebumian LUSI, Outlook Kedepan;
  • Modal Dasar yang telah dimiliki untuk melangkah ke depan:

–Kebencanan Geologi-Kebijakan- (MK, MA, Perpres), Lusi Laboratorium Alam dan Unggulan Studi Mud Volcano di dunia, Lusi menuju Geopark dengan strategi GeoWisata.

  • Grand Design Studi Komprehensif Bawah Permukaan Lusi dengan Seismik-3d dan Pendukung antara lain MT, TLS:

–Berorientasi untuk Kebijakan dan Mitigasi dan Pengurangan Risiko Bencana Lusi ke depan;

–Sepenuhnya untuk Tujuan Ilmiah dan perwujudan “Lusi Pusat Unggulan Studi mud volcano di dunia”;

–Mengikutsertakan Institusi dan Pihak Terkait (berbasis MoU);

–Pemanfaatan Data Informasi untuk berbagai kepentingan non-ekonomi terutama pada Ilmu dan Teknologi Kebumian;

  • Rasio Kesulitan dan Dukungan yang diharapkan;
  • Kerjasama dalam Pemanfaatan Data Dan Informasi Kebumian ke depan:

–Wahana Geopark Lokal – Nasional – Global Unesco.

–Dilaksanakan 2017 Gebyar TLS-Drone dan lain-lain.

Isu Aktual Bencana Kebumian Lusi dan Pilihan Solusi;

ALBUM BAGIAN 1:

 

Slide1Slide2Slide3Slide4Slide5Slide6Slide7Slide8Slide9Slide10Slide11Slide12Slide13Slide14Slide15Slide16Slide17Slide18Slide19Slide20Slide21Slide22

Memaknai Geyser di Yellowstone National, USA: Dibandingkan Geyser Lusi

Maret 22, 2017

Dikontribusikan oleh: Dr. Hardi Prasetyo

Plt. Kepala BAPEL BPLS, telah ikut Mengemong LUSI sejak 8 April 2007 sejak diberlakukan Perpres 14/2007 tentang BPLS.

Slide19

Slide7

Slide16

Slide20

Slide5

Slide1Slide2Slide3

28 Desember 2014, Dr. Ir. Basuki Hadimuljono selaku Ketua Dewan Pengarah BPLS, menyampaikan kepada Publik pasca mengumumkan digulirkannya “Dana Antisipasi 2015”. Bahwa ke depan Lusi akan diarahkan menjadi Taman Bumi (Geopark) dengan Situs Unggulan Geyser Lusi (Sulung dan Bungsu), yang dianalogikan dengan Geyser Yellowstone National Park yang telah dikenal didunia.

slide01

 

 

 

Slide4

slide05

 

Bersama ini dilampirkan contoh-contoh dari Geyser Yellowstone National Park, yang telah menjadi Destinasi Wisata kelas Dunia. Untuk dibandingkan dengan Geyser Lusi yang kedepan sebagai GeoArea dan Geosite Utama pengusulan Geopark Lusi yang dimulai dengan tahap Lokal.

Sumber: https://www.bing.com/images/search?view=detailV2&ccid=a0aT%2BsHs&id= F400E0EC1FCE51858FE7C731E0A76B22AD1DF32C&q= Old+Faithful+Geyser+Yellowstone&simid= 608036593054777505&selectedindex=211& mode=overlay&first=1&thid=OIP.a0aT-sHsvABkMcHdqPJ4cwEsDI

 

Dua Geyser Utama di Yellowstone National Park yaitu  Old Faithful Geyer (Lebih Tua) dan Beehive Geyser (Lebih Muda), dapat dianalogikan dengan Geyser Sulung (29 Mei 2006) dan Geyser Sulung (8 April 2010).

slide03

 

20160911_142357

slide10

slide7

ALBUM GEYSER YELLOWSTONE NATIONAL PARK

http://3.bp.blogspot.com/-87aOlyLu1Gg/Ty1_hZsYsOI/AAAAAAAABQA/ PBowwovH0pQ/s1600/Old+Faithful+Official.jpg>

Image result for Old Faithful Geyser Yellowstone

 

 

http://www.corbisimages.com/stock-photo/rights-managed/MX006131/tourists-watching-old-faithful-geyser?popup=1

Image result for Old Faithful Geyser Yellowstone

 

PARTISIPASI PUBLIK: CALON GEOPARK LUSI, MARET 2017

Maret 14, 2017

PARTISIPASI PUBLIK: CALON GEOPARK LUSI, MARET 2017

MULTI EVEN DILAKSANAKAN DI EMBRIO MUSEUM LUSI

TEMA UTAMA “NGOBROL SANTAI DENGAN POLRESTA, KODIM SIDOARJO, DAN BPLS

Dilaksanakan Atas Prakarsa : Komunitas Srikandi Indonesia

Bekerjasama dengan: Polresta dan Kodim Sidoarjo, BPLS.

EVEN PEMBERDAYAAN  PEMANGKU KEPENTINGAN DAN UTAMANYA KOMUNITAS/PUBLIK, TELAH DAPAT DIIMPLEMENTASIKAN DENGAN SARANA EMBRIO MUSEUM LUSI 12 MARET 2017.
DIMERIAHKAN DENGAN EVEN “GEOBIKE TOURING LUSI” DIIKUTI OLEH 200 BIKERS DIKOORDINASIKAN OLEH POLRESTA SIDOARJO.
HARI INI 15 MARET 2017
DI KANTOR BPLS AKAN DILAKUKAN SARESEHAN DENGAN INSTITUSI, KAMPUR, PAKAR KEBUMIAN UNTUK BERLILATURAHIM YANG SEBELUMNYA TELAH DIJALIN DENGAN MOU DAN KESEPAKATAN.
Menyatukan Pemaknaan terhadap Paradigma Baru Pengendalian Bencana Lusi, Hidup Harmoni dengan Bencana.
Mewujudkan Pilar dan Even Bersama:
1) Lusi Laboratorium Alam dan Unggulan Studi mud volcano baik di Indonesia maupun Dunia;
2) Lusi menuju tahapan usulan Geopark Lokal, dengan telah dilengkapi tiga pilar utama: GeoDiversity, BioDiversity, dan Culture Diversity.
Prioritas Pengembangan GEOWISATA  dan “GREEN TOURISM” yang telah Eksis secara alami dengan Situs Utama Semburan Geyser Lusi.
3) Membangun Kebersamaan “Indonesian in Coorporated” dalam memanfaatkan kekayaan data dan informasi kebumian terkait Lusi:
@  Telah terhimpun selama ini (2007-2017)
@   Akan diambil tahun 2017 terutama Seismik 3d, Magnetotelurik, Terrestrial Laser Scanner dll.
Memanfaatkan keberadaan EMBRIO MUSEUM GEOPARK LUSI untuk berbagai kegiatan.
Even Lusi 11 Tahun akan dilaksanakan Festival GeoPark Lusi antara lain yang dapat dilakukan bersama  salah satunyanya “JAMBORE DRONE-TLS LUSI 2017”.
Sehingga Stakeholders dapat saling bertukar berpengalaman dalam mengoperasikan Drone bukan saja untuk Inderaja (Foto dan Video), juga untuk pengambilan beberapa parameter geofisika dan contoh air-lumpur dari Kawah Lusi.
Institusi peserta secara bersinergi akan dapat MENGAMBIL CITRA DRONE DENGAN TEKNOLOGI YANG DIMILIKINYA, PADA KESELURUHAN WILAYAH LUSI.
Mulai dari Mimpi.

ALBUM FOTO:

Slide1Slide2Slide3Slide4Slide5Slide6Slide7Slide8Slide9Slide10Slide11Slide12Slide13Slide14Slide15Slide16Slide17Slide18Slide19Slide20Slide21Slide22Slide23Slide24Slide25Slide26Slide27Slide28Slide29Slide30Slide31Slide32Slide33Slide34Slide35Slide36Slide37Slide38Slide39

Bagian 1: GEOBIKE TOURING LUSI 12 Maret 2017

Maret 14, 2017
GEOBIKE TOURING LUSI
12 Maret 2017

Even Kegiatan Komunitas  mendukung Embrio Geopark Lusi dan Geowista

“NGOBROL SANTAI DENGN POLRESTA, KODIM, SIDOARJO DAN BPLS”

Dilaksanakan Kerjasama dengan SRIKANDI INDONESIA, POLRESTA SIDOARJO

 
Memecahkan Rekor Dunia/LUSI/BPLS
200 Biker dan kendaraan Pendukung
Touring dari Museum mengelilingi Tanggul Lingkar Luar,
Singgah ke Dua Destitasi Utama;
 
1) Zona Ilmiah Hawai di Utara Lusi, Masuk dari Pintu Himalaya keluar dari Pintu Osaka;
 
2) Zona Turis Nirwana di Selatan Lusi, Utara Dome, Masuk dan Keluar melalui Anjungan
 
Dikontribusikan Oleh: Dr. Hardi Prasetyo
Plt Kepala Bapel BPLS.
Didukung Drone, Pilot Suwardi (BAP), dan Jajaran BPLS
Album Foto:
Slide1Slide2Slide3Slide4Slide5Slide6Slide7Slide8Slide9Slide10Slide11Slide12Slide13Slide14Slide15Slide16Slide17Slide18Slide19Slide20Slide21

ALBUM VIDEO DI MEDIA SOSIAL FACEBOOK PERIODE JULI 2016-MARET 2017

Maret 5, 2017

ALBUM VIDEO TELAH TERSEDIA DI MEDIA SOSIAL FACEBOOK PERIODE JULI 2016-MARET 2017

slide1

 

slide7

slide15

DANAU BESUKI

https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/17098476_1512042452169349_2315409642931670335_n.jpg?oh=0974727f8dee3d0d63d2efdebfc98580&oe=596FE55F

 

MARET 2017

 

https://www.facebook.com/agus1401/videos/1709118829101926/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1206073639509964/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1202171163233545/

 

FEBRUARI 2017 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1202174833233178/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1179868342130494/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1179845568799438/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1179796588804336/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1179793282138000/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1179768022140526/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1179759702141358/

 

JANUARI 2017

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1171431956307466/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1165538900230105/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1154776461306349/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1144994302284565/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1136523636464965/

 

Desember 2016

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1113790418738287/

 

 November 2016

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1095954300521899/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1094855727298423/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1094729290644400/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1084743244976338/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1082849825165680/

 

Oktober 2016

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1080359405414722/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1080341428749853/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1080277062089623/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1054631554654174/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1054629377987725/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1054628064654523/

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1054611704656159/

 

September 2016

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1050037868446876/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1050034601780536/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1050026185114711/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1043657455751584/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1043251682458828/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1041388782645118/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1041383082645688/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1040940069356656/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1040329092751087/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1030160930434570/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1028537353930261/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1027467404037256/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1027461270704536/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1027451257372204/

 

Agustus 2016

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1025188344265162/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1025171104266886/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1023649851085678/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1023741417743188/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1023737234410273/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1023663991084264/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1023646931085970/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1023058031144860/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1023050881145575/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1015292855254711/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1015290715254925/

 

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1015252898592040/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1015250288592301/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1015243568592973/

 

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1015240208593309/

 

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1015234605260536/

 

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1015231158594214/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1015207925263204/

 

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1008012272649436/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1007083736075623/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/1000234993427164/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/998338326950164/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/998175140299816/

 

Juli 2016

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/993524210764909/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/990828014367862/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/990635167720480/

 

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/990635167720480/

 

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/990628574387806/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/990601831057147/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/990143811102949/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/990142861103044/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/990141661103164/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/990059801111350/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/989977804452883/

 

https://www.facebook.com/hardi.prasetyo.98/videos/989867947797202/

 

Aktualisasi Struktur Permukaan Lusi: Citra Drone dan Satelit terbaru

Maret 1, 2017

Aktualisasi Struktur Permukaan Lusi: Citra Drone dan Satelit terbaru

Pengantar

Hari ini 1 Maret 2017, Dr. Mauri dari Switzerland telah mempresentasikan hasil kegiatan studi geofisika di lusi terutama menerapkan metoda utama, Gravity, Magnetotelurik, dan SP.

Saya sangat antusias hasil yang dipresentasikan pada dua aspek:

1)        Hasil penafsiran Magnetotelurik yang di luar dugaan karena penetrasi maksimum hanya 500m. Namun penampang timur-barat, telah mengindikasikan adanya suatu bidang Patahan yang diasumsikan sebagai “Patahan Watukosek”;

2)        Hasil penafsiran dari kegiatan pemantauan gravity pada waktu yang relatif lama, bisa memberikan perkiraan terhadap geometri saluran. Disamping itu hasil kontur gayaberat telah ditumpang susunkan dengan struktur dari penyelidikan terdahulu, terutama satu pasang Patahan Geser “Watukosek” dan patahan “Siring”.

3)        Peta struktur tersebut selanjutnya dapat saya bandingkan dengan penafsiran kemas struktur resolusi tinggi dari citra Drone dan citra Google Earth waktu pengambilan relative baru 18 November 2016.

ALBUM FOTO:

slide7

Struktur pada lokasi kritis di sisi barat dari Semburan Geyser Lusi: Penafsiran Citra Drone

slide6

 

 

slide8

 

 

slide9slide10slide11Slide2.JPGSlide3.JPGSlide4.JPGslide1

 

 

CITRA SATELIT GOOGLE EARTH: NOVEMBER 2016