MEMAKNAI POLA PIKIR MAZZINI: LUSI BUKAN MUD VOLCANO YANG UMUM TAPI KHUSUS?

Juni 24, 2017

 

SERI LUSI LAB

MEMAHAMI POLA PIKIR MAZZINI
BAGAIMANA MEMANDANG LUSI MUD VOLCANO MEMPUNYAI HUBUNGAN DENGAN SISTEM HIDROTERMAL DALAM
BLOG: LUSI DARI BENCANA KE MANFAAT, HARDI PRASETYO
 
http://2o12-lusimudvolcano.blogspot.com/2012/02/mazzini-2012-suatu-skenario-baru.html
LUSI LIBRARY : KNOWLEDGE MANAGEMENT
https://sites.google.com/site/lusilibraryhardi2010/mazzini/2012_preview
LUSI LIBRARY: KNOWLEDGE MANAGEMENT
2010-2011-2012

https://sites.google.com/site/lusilibraryhardi2010/mazzini/2012_preview

SYMPHOSIUM OF THE FUTURE LUSI MUD VOLCANO, 25-26 MAY 2011,
COOPERATION PROGRAM BPLS AND HUMANITUS SIDOARJO FUND (HSF)
Preview Paper No 14 Andriano Mazzini:
MODIFIED OF ORIGINAL PAPER WITHOUT ANY CHANGES IN CONTENT, FOR LUSI LIBRARY WHICH DEDICATED TO PROFIDE A VALUABLE INFORMATION-KNOWLEDGE RALATING THE LUSI MUD VOLCANO IN GENERAL ( Prasetyo, 2012)
LINK FIGURE CAPTION IN PICASA WEB:

https://picasaweb.google.com/104626780988371597353/2012MAZZINISuatuSkenarioBaruHidrotermalUntukSemburanLusi2006IndonesiaDilihatDariGeoki

Mazzini‎ > ‎MAZZINI 2012 PREVIEWED SCIENTIFIC PAPER BY PRASETYO, FEBRUARY 2012

2012_Preview

Earth and Planetary Science Letters 317–318 (2012) 305–318
Earth  and  journal  homepage:www.elsevier. com/locate/epsl

Suatu skenario baru hidrotermal untuk semburan Lusi 2006, Indonesia. Dilihat dari geokimia gas

A new hydrothermal scenario for the  2006  Lusi eruption, Indonesia. Insights from gas geochemistry
 
Adriano Mazzini a, Giuseppe Etiope  b, Henrik Svensen a
a Physics  of Geological Processes, University of Oslo, Sem Sælandsvei 24, Box 1048, 0316 Oslo, Norway
b  Istituto Nazionale di Geofisica e Vulcanologia, Sezione Roma  2, Italy  and Faculty of Environmental Science  and Engineering, Babes-Bolyai University Cluj-Napoca, Romania
Ditinjau oleh Prof. Dr. Hardi Prasetyo
untuk Lusi Library dan situs Bapal BPLS
Naskah diterima dari Prof. Dr. Andriano Manzzini
Dalam rangka implementasi Lusi Research Network (LRN)
Januari 2012

Kata Kunci:

Semburan Lusi (Lusi eruption), 
Induk Sedimen sistem panas bumi (sediment-hosted hydrothermal system), gununglumpur (mud volcanoes), 
sumber gas (gas  origin), 
CO2  and CH4, selubung (mantle)

 


SARI MAKALAH

Semburan gas dan lumpur terjadi sepanjang Patahan Watukosek
Pada 29 Mei 2006 tiba-tiba muncul semburan gas dan lumpur sepanjang patahan Watukosek (Watukosek fault)  di timurlaut Jawa, Indonesia.
Dalam waktu beberapa minggu selanjutnya, banyak desa-desa yang  telah ditenggelamkan oleh lumpur mendidih (submerged by boiling mud). Selanjutnya lokasi semburan utama  disebut sebagai Lusi.
Sampai November 2011 (saat makalah ditulis) Lusi masih tetap aktif dan suatu daerah seluas sekitar 7 km2 atau 7 hektar telah ditutupi oleh breksi lumpur (mud breccia).
 
Misteri Lusi mud volcano: mekanisme dan pemicu semburan, sumber air, asal usul gas
Mekanisme yang bertanggung jawab terhadap semburan yang merusak ini (devastating eruption) masih belum jelas.
Sedangkan telah menjadi kesepakatan dikalangan ahli kebumian, adalah tentang asal usul dari lumpur yang disemburkan (origin of the  erupted mud).
Sementara itu sumber air tidak jelas, asal usul gas tidak diketahui, dan pemicu semburan tetap diperdebatkan.
 
Penyelidikan baru isotop molekul komposisi gas untuk mengungkap misteri Lusi
Untuk pencerahan terhadap konstrain tersebut, pada perioda tahun 2006-2011. Penulis (Mazzini dkk.) telah melaksanakan suatu penyelidikan baru.
Dengan melakukan analisis contoh terhadap komposisi gas dengan metoda molekul dan isotop (molecular and isotopic composition of gas sampled).
Contoh diambil dari beberapa kepundan Lusi (Lusi vents), di sekitar mud volcano, dekat lapangan gas Wunut (natural gas field), dan pada kawah hidrotermal (hydrothermal vents) di dekat komplek volkanik (volcanic complex).
Zona kawah didominasi gas CO2, dan lokasi semburan di sekitar zona kawah didominasi CH4 yang dingin
Fluida mendidih (boiling fluids) yang disemburkan (the boiling fluids erupted) pada zona kawah (crater zone)tampaknya di dominasi CO2.
Sedangkan dominasi CH4 lebih dingin (colder CH4-dominated) dan C2-C3 yang dikandung fluida diidentifikasikan pada beberapa lokasi semburan di sekitar zona kawah (crater zone).
 
Kandungan hidrokarbon adalah termogenik berasal dari batuan sumber dalam (> 4.400m) antara lain Formasi Ngimbang 
Hasil analisis diagram genetik gas (Gas  genetic diagrams), plot kematangan (maturity plots) dan pemodelan pembentukan gas (gas  generation modelling) telah menunjukkan bahwa hidrokarbon adalah jenis termogegik (the  hydrocarbons are  thermogenic(δ13C1 > − 35‰; δ13C2 > − 20‰).
Telah diuraikan dari kerogen marin dengan nilai kematangan sekurang-kurangnya 1,5%Ro.
Selanjutnya ditafsirkan antara lain dari batuan sumber dalam (> 4400m) Formasi Ngimbang (deep Ngimbang source  rocks).
 
Pada tiga lokasi diluar kawah utama diketemukan tanda-tanda sumber inorganik berasosiasi dengan selubung Helium
CO2 yang dilepaskan dari kawah dan rembesan disekitar kawah utama juga termogenik  (δ13C  from − 15  to  − 24‰)  terkait dengan kerogen dekarboksilasi (kerogen decarboxylation) atau oksidasi panas CH4 (thermal CH4 oxidation). Berlangsung pada batuan dalam (deep  rocks).
Kedangkan tiga kawah yang diluar kawah utama menunjukkan tanda-tanda sumber inorganik (inorganic signature  − 7.5‰ b δ13C= − 0.5‰) berasosiasi dengan Helium selubung (to mantle helium R/Ra > 6.5).
 
Tingginya temperatur keseimbangan CO2-CO4  sebesar 200–400 °Cbersumber lebih dalam dari lumpur Kalibeng
Tingginya temperatur keseimbangan (equilibrium temperatures) CO2-CO4 sebesar 200–400 °C merupakan ciri hidrokarbon yang terubah atau material organik (of thermally altered hydrocarbons or organic matter).
Evaluasi data menunjukkan bahwa sumber utama organik terubah (thermally altered organic sources) untuk gas yang disemburkan (erupted gases),bersumber lebih dalam (deeper sourced) daripada lumpur dan air dari serpih Kalibeng Atas (Upper Kalibeng shales).
Skenario sistem berasal dari  intrusi magmatik dan aliran fluida panasbumi dari kedudukan dalam >400Om
Hasil tersebut konsisten dengan suatu skenario sumber dari kedudukan dalam (scenario of deep seated >4000m) terkait instrusi magmatik (magmatic intrusions) dan fluida hidrotermal (hydrothermal fluids) yang bertanggungjawab untuk meningkatkan panas.
Selanjutnya  merubah batuan sumber dan/atau reservoir gas (altered source rocks and/or gas  reservoirs).
 
Genesis dan evulusi dipengaruhi oleh komplek magmatik Arjuno dan tingginya aktivitas kegempaan
Komplek magmatik Arjuno (magmatic Arjuno complex ) yang bertetanggadan sistem tekanan-fluidanya (fluid–pressure system) dikombinasi dengan tingginya aktivitas kegempaan (high seismic activity) telah memainkan peran kunci pada genesis dan evolusi Lusi (Lusi genesis and evolution).
 
Paradigma baru Lusi sebagai sisem tempat sedimen panas bumi daripada sistem mud volcano yang konvensional
Dalam kerangka model yang baru ini, Lusi lebih baik dipahami sebagai suatu induk sedimen sistem panas bumi (sediment-hosted hydrothermal system) daripada wujud suatu mud volcano.

KESIMPULAN (CONCLUSIONS)

• Sistem Lusi lebih dalam dari asumsi sebelumnya dan fluida adalah termogenik dihasilkan dari batuan-batuan sumberpada kedalaman lebih dari 4 km (antara  lain Formasi Ngimbang).
Komposisi molekul dan isotop (molecular and isotopic composition) dari alkali hidrokarbon (hydrocarbon alkanes), karbon dioksida dan helium, dikombinasikan dengan plot kematangan (maturity plot)  dan pemodelan pembentukan gas termogenik (thermogenic gas formation modelling), mengindikasikan bahwa  sistem Lusi (Lusi’s system) lebih dalam daripada yang diasumsikan sebelumnya.
Sedangkan fluida adalah termogenik dihasilkan dari batuan-batuan sumber (fluids  are  thermogenically produced in source rocks) dengan kedalaman lebih dari 4 km yaitu Formasi Ngimbang. (e.g. Ngimbang Fm.).
• Terjadinya alterasi panas (thermal alteration) dari hidrokarbon atau material organik
Keseimbingan isotop CO2 (b−14‰) dan CH4-CO2 pada temparatur di atas 200oC memberikan kepercayaan bahwa alterasi panas diatas 200oC.
Sehingga ditentukan bahwa terjadinya alterasi panas (thermal alterationberasal dari hidrokarbon atau material organik (hydrocarbons  or   organic  matter).
Isotopik CO2 dan keseimbangan CH4-CO2 pada temperatur diatas 200oC memberikan pendapat bahwa telah berlangsung alterasi panas dari hidrokarbon atau material organik.
 Tanda-tanda magmatik helium, mendukung intrusi berkedudukan dalam berasal dari komplek magmatik Arjuno-Welirang
Adanya tanda-tanda yang kuat dari magmatik helium (helium  magmatic signature R/Ra: 5.3) lebih jauh lagi mendukung hipotesa  bahwa intrusi berkedudukan dalam  (a deeper sited  intrusions) berasal dari komplek magmatik Arjuno-Welirang yang lokasinya berdekatan.
Selanjutnya telah mempengaruhi batuan-batuan sumber dan reservoir (source and  reservoir rocks).
 
• Gradien panasbumi yang tinggi mendukung pertumbuhan struktur pembubungan
Skenario ini bisa menjelaskan adanya gradien panas bumi lokal yang tinggi (local high  geothermal gradient) itu akan berada pada kesepakatan dengan adanya pertumbuhan struktur pembubungan (growing piercement structuresebagaimana yang dapat diamati pada penampang seismik dari 80an (Mazzini et al., 2009).
 
• Sistem panasbumi Lusi ditandai anomali panas dalam pengendali utama pembangkitan CO2 dari serpih marin
Pada sistem hidrotermal Lusi (Lusi hydrothermal system) suatu anomali panas dalam (a deep heat anomaly) tampaknya sebagai pengendali utama.
Pembangkitan CO2 dari material organik (serpih marin), membentuk tekanan berlebih dalam (deep over-pressure), dan alterasi reservoir dalam (altering deep hydrocarbon reservoirs).
  • Pendapat terhadap kurang tepatnya Lusi sebagai mud volcano yang tradisional, daripada suatu sedimen-tempat sistem panas bumi yang besar
Pada aspek ini, istilah ‘mud volcano” untuk Lusi bisa menjadi menyesatkan (misleading) dan Lusi tidak dapat merepresentasikan suatu contoh dari lahirnya mud volcano tradisional (Lusi cannot be a representative example of the  birth of a traditional mud volcano).
Sebagai tambahan Lusi merupakan bagian dari suatu sedimen tempat sistem panas bumi yang besar (a larger sediment-hosted hydrothermal systemberhubungan dengan komplek gunungapi didekatnya pada bagian barat lautnya.
 
• Fluida dalam bermigrasi ke atas dan memobilisasi serpih dangkal yang telah berada pada kondisi overpressure
Fluida dalam (deep fluids) selanjutnya bermigrasi ke atas (migrated upwarddan memobilisasi serpih yang lebih dangkal (mobilised the  shallower shales).
Serpih ini sudah berada pada titik kritis, kondisi tekanan berlebih (overpressured conditions), dimana sangat umum di daerah ini, sebagaimana diperlihatkan oleh volkanisme lumpur (mud volcanism).
 
• Prediksi durasi kehidupan Lusi harus memperhatikan penumpukan tekanan fluida di komplek magmatik, aktivitas kegempaan, dan reaktivasi Patahan Watukosek
Durasi kehidupan Lusi (Lusi’s longevity) mungkin berkaitan dengan evolusi dan penumpukan tekanan fluida (evolution and  fluid  pressure build-up) di komplek magmatik Arjuno-Welirang.
Dimana perubahan dipengaruhi oleh aktivitas kegempaan (influenced by  seismic activity) dan oleh gerakan geser dari Patahan Watukosek (the  strike slip movement of the  Watukosek fault).
Beberapa model bertujuan untuk memprediksi durasi kehidupan semburanLusi (eruption  longevity) harus mengimplementasikan hasil dan skenario model (model scenario) yang baru ini.
 
Terbukanya peluang untuk prospek produksi energi panasbumi, merupakan perubahan dari bencana ke sumberdaya masyarakat
Sekenario panasbumi (hydrothermal scenario) juga harus membuka suatu prospek baru untuk dapat produksi energi panas bumi (open up new prospectives for geothermal energy production) pada lokasi ini.
Karena itu harus  menstransformasi hal tersebut ke dalam suatu sumberdaya untuk masyarakat, bukan hanya pada bencana semata (transforming it into  a resource for the  community rather than a mere disaster).

Perkiraan Panjang Kehidupan Lusi (Predictions  of Lusi longevity)

 
Kurang tepat bila perkiraan panjang umur Lusi hanya berdasarkan pendekatan mud volcano
Skenario baru diusulkan penulis, bahwa perkiraan dari pajang umur Lusi berdasarkan suatu pendekatan mud volcano (Lusi longevity based on  a mud volcano approach).
Khususanya bila hanya lumpur ditentukan mengendalikan aliran fluida, adalah gagal.
 
Model inovasi prediktif memperhatikan sistem saluran, pengaruh kegempaan yang mungkin mempengaruhi kantong magmatik, mengaktifkan kembali patahan watukosek, struktur pembubungan
Suatu model prediktif harus pertama memahami sistem saluran Lusi (firstly understand the  structure of Lusi plumbing system) dan memperhitungkan efek kombinasi dampak dari kegempaan yang mungkin mengubah dari kantong magmatik Arjuno (Arjuno magmatic chamber).
Secara periodik mengaktifkan kembali Patahan Watukosek, dan dampak dan reologi dari sedimen dan kekritisan dan sistem saluran overpressure dari pembubungan Lusi.
 
Pandangan perhitungan model durasi Lusi dari Davies masih tidak lengkap dan kurang relevan
Bila skenario model kami yang baru adalah benar, sehingga model yang dipublikasikan sebelumnya (Davies et al., 2011; Rudolph., 2011) mencoba untuk memperkirakan evolusi Lusi menjadi tidak lengkap dan tidak relevan (attempting to predict  the  evolution of Lusi are  incomplete and  irrelevant).
 
Fakta pada November 2011 terjadi penurunan kecepatan aliran dan tingkat aktivitas
Apalagi sekarang (November 2011), pengamatan lapangan memperlihatkan bahwa kecepatan aliran dan tingkat aktivitasnya (flow  rates and  level of activity) keduanya jauh lebih rendah dibandingkan dengan prediksi dari model tersebut.
 
Karekteristik semburan: kecepatan rendah, aktivitas seperti geyser dengan periode tidur 16 menit
Sejak beberapa bulan yang lalu Lusi telah menyembur dengan kecepatan yang rendah antara 5000-10.000m3/h.
Telah dapat diobservasi tambahan aktivitas seperti geyser dengan perioda tanpa erupsi 16 menit  (a  geyser- like  activity with periods (up to 16 min) of no  eruption) dan total tenang (completed calm)  (sejak April 2011, komunikasi pribadi S. Hadi).
 
Periodesasi aktivitas semburan belum banyak diselidiki: Kecepatan aliran tertinggi dihubungkan dengan kegiatan gempa
Sebegitu jauh, periodisitas pada periode tidak ada aktivitas (the periodicity of these no  activity periodsbelum di investigasi secara mendalam.
Disamping flukuasi harian  tersebut, telah dapat diamati puncak kecepatanaliran dari tingginya luapan (peaks of much higher flow  rate discharge).
Beberapa diantaranya hanya beberapa hari dan tampaknya pada bagian besar bersamaan dengan rekamanan aktivitas gempa.
 
Perspektif ke depan memantau variasi dari perilaku komplek volkanik dan respon pada aktivitas Lusi
Studi ke depan harus bertujuan untuk memantau variasi dari perilaku dari komplek volkanik dan respon dari aktivitas Lusi (to monitor the variation  of the behaviours of the volcanic complex and the responses in Lusi activity).

TESTIMONI HARI SUMPAH PEMUDA  28 OKTOBER 2015  DI LUSI AWAL JEBOLNYA TANGGUL KETAPANG P73

Juni 23, 2017

 

EVOLUSI JEBOLNYA PERTAHANAN TANGGUL P73 KETAPANG TIMUR,

SEPERTI HALNYA TANGGUL P68  YANG JEBOL 2011. TEL;AH DITENTUKAN TIDAK DAPAT/PERLU UNTUK DIPERBAIKI, AKHIRNYA MEMBUAT POND KETAPANG (BARAT) DAN POND KEDUNGBENDO (TIMUR) MENJADI SUATU KESATUAN.

KILAS BALIK LOKASI TIPE Postur Lusi di Plot dengan GPS dan diintegrasikan Google Earth Agustus 2014 

28 OKTOBER 2014: EKSPEDISI PEMUDA
LOKASI TIPE Postur Lusi di Plot dengan GPS dan diintegrasikan Google Earth Agustus 2014

Seri Pemahaman Pengendali Mekanisme Risiko Bahaya Pond Ketapang, Antisipasi Musim Hujan

Dikontribusikan Oleh: Hardi Prasetyo, didukung Tim Lapangan dan Tim Bravo

Catatan:

  • Kamera menggunakan Tablet Android KitKat, dipasang Rekaman Lokasi GPS, otomatis direkam dengan Komputasi Awan (Cloud Computing)
  • Foto dikelola dengan Picasa Web, dimana menampilkan Foto dan Lokasi GPS
  • Lokasi foto GPS dikelola dengan Google Map dan Google Earth
Hulu Kali P69 di utara dari Pusat Semburan dan Kawah Lusi
Utara Pond Ketapang yang telah limpas dan ditempatkan sandbags
Overflow berlokasi di utara sisi Pond Ketapang Timur
Limpasan yang signifikan 28 Oktober di utara Sisi Timur
Dan Koramil Tanggulangin berjalan di atas limpasan utara Overflow P73C
Outlet Overflow sisi tenggara Pond Ketapang
Aliran masuk Kali P69 dilihat dari sisi utara Celah/Sodetan
Pandangan kearah Overflow dari selatan, memperlihatkan aliran aktif dari Sodetan P69 dan di luar Overflow mengarah ke utara (Kali Ketapang)
Aliran aktif dan deras di Hulu Kali P 69
Aliran deras dan morfologi rata di bagian Hulu
Mendekati Kawah Utara, dimana bagian kawah luar telah berubah dengan onggokan lumpur pekat hasil even 5 Oktober 2014
Berdiri di batas Kaldera Lusi utara melingkar
Postur Kali Lusi pada bagian hilir, disusun oleh lumpur padu
Peralihan dari Kali P69 arah baratlaut-tenggara menjadi Kanal dengan arah utara-selatan
Hilir P69 saat masuk ke Kanal P69
Profil Celah-Kanal dilihat dari arah timur
Aliran aktif dari Celah P69 masuk ke bagian tenggara Pond Ketapang, lanjut ke utara
Senja memantau aliran dari P69 kearah utara dari Pond Ketapang

9 Oktober 2015: DEKLARASI KEPADA SAHABAT LUSI LIBRARY  DI MANCA NEGARA

Juni 23, 2017

LUSI-UNGGUL

Lumpur Sidoarjo (LUSI): Pusat Keunggulan Studi mud volcano dan sebagai suatu Pelajaran Berharga dari Suatu Bencana Kebumian di Dunia

Centre of exchellance mud volcano study, and Lessons Learned from the Earth Disaster over the World

Dikontribusikan Oleh: Prof. Dr. HardiPrasetyo

Wakil Kepala, Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS)

Profesor Riset di Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral

Inisiator Lusi Library 2010, Simposium Internasional Lusi 2011

5 Oktober 2015

DEKLARASI KEPADA SAHABAT LUSI LIBRARY  DI MANCA NEGARA

Lumpur Sidoarjo (LUSI): Pusat Keunggulan Studi mud volcano dan sebagai suatu Pelajaran Berharga dari Suatu Bencana Kebumian di Dunia

 Centre of exchellance mud volcano study, and Lessons Learned from the Earth Disaster over the World

POKOK-POKOK BAHASAN

  • Prolog Peluang Emas 2015: The Golden Time 2015  
  • Berita Baik dan Momentum ke depan  
  • Peluncuran Perdana atau Kick off dari PARADIGMA BARU: LUSI Sebagai Pusat Unggulan Studi Mud Volcano di Dunia 
  • EVEN KICK OFF “LUSI PUSAT KEUNGGULAN STUDI MUD VOLCANO DAN PEMBELAJARAN PENANGGULANGAN BENCANA KEBUMIAN DI DUNIA” 
  • Agenda Diskusi Ilmiah “Kick Off LUSI-UNGGUL” 9 Oktober 2015: 
  • Langkah Lanjutan Jangka Pendek mendukung ” KEUNGGULAN-LUSI: 
  • Memaknai Program LUSI LAB didukung Masyarakat Ekonomi Eropa yang sedang berlangsung saat ini: 
  • APA YANG KIRANYA DAPAT KITA LAKUKAN BERSAMA, DI BAWAH KERANGKA JARINGAN LUSI LIBRARY DAN LUSI RESEARCH NETWORK?

Prolog Peluang Emas 2015: The Golden Time 2015

 Kepada yang terhormat para sahabat dari “Lusi Library:Knwoledge Management”, yang sangat saya apresiasi dan banggakan di manapun di manca negara anda berada.

Pertama-tama saya atas nama pribadi, selaku pengelola dari “Lusi Library:Knwoledge Management”, dan dari implementasi “Lusi Research Networking”, juga atas nama “BPLS” (Institusi Pemerintah Indonesia) pada kesempatan yang baik ini, ingin mengucapkan terimakasih disertai apresiasi sebesar-besarnya atas perhatian dan kerjasamanya terkait dengan penanganan ” BencanaKebumian Lusi “.

Setelah melalui perjalanan yang panjang dan penuh dinamika selama lebih dari 9 tahun (awal 29 Mei 2006), akhirnya pada tahun 2015, telah tercipta suatu peluang emas (the golden time 2015) untuk menuntaskan masalah mendasar(the fundamental problem) dari Bencana Kebumian Lusi (Lusi the Earth’s Disaster), yaitu terkait aspek sosial kemasyarakatan khususnya di Peta Area Terdampak 22 Maret 2007 (PAT).

Berita Baik dan Momentum ke depan:

Bersama ini saya sampaikan suatu kabar gembira (the good news), untuk digunakan sebagai momentum pada tahap ke depan (What Next momentum):

  • Secara umum pada tahun 2015 telah terjadi suatu perubahan mendasar:

Telah terjadi perubahan cukup mencasar, sehingga menyebabkan dikembangkan suatu Paradigma Baru (a New Paradigm) untuk memulihkan sendi-sendi kehidupan warga terdampak, pasca 9 tahun masa-masa sulit telah dilalui;

  • Pemerintah Indonesia telah berkomitmen:

Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmennya untuk menuntaskan masalah sosial kemasyarakatan yang tersisa.

Dimana sebelumnya menjadi tanggung jawab dari Lapindo, melalui mekanisme yang disebut sebagai “Dana Antisipasi”, dimana digulirkan melalui mekanisme UU APBN-P 2015;

  • Status bulan Oktober awal 2015:

Penyelesaiannya misi nasional “Dana Antisipasi” sudah mendekati 95%, yang tersisa umumnya karena masih terdapat masalah terkait Aset dokumen dari warga sendiri, atau masihterdapat perbedaan penafsiran kepemilikan aset.

  • Langkah nyata berdampak positif:

Secara umum langkah nyata dari Pemerintah tersebut, telah memberikan implikasi yang luas dan berdampak positif, pada upaya penanganan “Bencana Kebumian Lusi” di lapangan;

  • Arah Kebijakan Lusi sebagai Geopark:

Sejak 24 Desember 2014, Dr. Ir. Basuki Hadimuljono selaku Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPERA), sebelumnya pernah selaku Ketua Tim Nasional, Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo 2006-2007 (Timnas PSLS).

Telah menyampaikan kepada publik, bahwa ke depan Lusi diarahkan menjadi suatu GeoPark, dengan situs utama yaitu erupsi secara bersiklus dari Geyser Lusi. Dimana mempunyai analogi dengan Geyser ternama di dunia yaitu Yellow Stone National Park di USA.

  • Perjalanan Lusi GeoPark dibarengi Percepatan Lusi Pusat Unggulan Studi mud volcano di dunia:

Karena suatu peta perjalanan menuju GeoPark Lusi (Lusi GeoPark Roadmap) masih akan menempuh proses administrasi yang cukup panjang, baik pada lingkup lokal, nasional maupun internasional.

Sehingga sebagai salah satu bagian dari Paradigma Baru Penanggulangan Lusi ke depan digunakan sebagai isu aktual sekaligus sasaran strategis, yang sebenarnya telah dimulai selama ini adalah:

  • LUSI, SEBAGAI PUSAT KEUNGGULAN STUDI MUD VOLCANO, DI DUNIA; dan
  • LUSI, SEBAGAI SUATU PELAJARAN BERHARGA DARI SUATU BENCANA KEBUMIAN, YANG PERTAMA KALINYA TERJADI DI DUNIA PADA ABAD 21;
  • Lusi sebagai Tujuan Wisata Kelas Dunia:
  • Sejalan dengan peta perjalanan Lusi menuju GeoPark, sehingga Lusi ke depan akan ditingkatkan peran dan kontribusinya sebagai suatu tujuan wisata kelas dunia (the world class tourist destination):
    • Dengan situs utama adalah semburan bersiklus Geyser,
    • Temasuk sarana mandi lumpur untuk kesehatan (mud spa), dan mandi air panas seperti di komplek gunung magmatik lainnya (a hot shower like at volcanic complex),
    • Suatu sarana olahraga atau aktivitas di luar dan wahana air pada danau yang luas di dalam komplek mud volcano Lusi (Mini, Besuki, Reno, Glagah, Kedungbendo).
    • Disamping itu salah satu yang unik adalah Wisata sepanjang Kali Porong menuju Pulau Lumpur (the Porong River Tourism to “Mud Island”), dimana telah dikembangkan sebagai aspek keragaman hayati (Biodiversity) yaitu dikembangkannya WanaMina. Merupakan perpaduan dari Hutan Bakau (mangrove forestation), Budidaya Perikanan (fishery) dan Pemberdayaan Masayarakat Setempat (empowerment local soceity) untuk mendukung “GeoPark Lusi”.
    • Pulau lumpur dengan luas sekitar 94 hektar, berlokasi di Muara Kali Porong merupakan suatu sistem delta progradasi (Mud Island located in the estuary of the progradation Porong Delta), berjarak 19 km dari LUSI di Porong.

Merupakan bagian tidak terpisahkan dari keseluruhan sistem pengaliran lumpur ke laut Porong (is part of the overall drainage system Lusi to the sea). Dengan menggunakan energi bebas yang dimilikinya sendiri oleh Kali Porong (using the free energy that is owned solely by the Porong River).

  • Pemanfaatan ke depan dari fenomena erupsi mud volcano Lusi:

Antara lain:

  • Lumpur untuk berbagai kepentingan, kesehatan (GeoHealth), hiburan air panas, seperti di komplek gunung api;
  • Lumpur dengan kandungan mineral yodium (farmasi), Litium (bahan baku baterei), garam tradisional (seperti di mud volcano bleduk kuwu);
  • Potensi pembangkit energi terbarukan geotermal sekala kecil. Sebagai konsekuensi Lusi mud volcano mempunyai yang mesra dengan komplek gunung api “Welirang-Arjuno”.

EVEN KICK OFF “LUSI PUSAT KEUNGGULAN STUDI MUD VOLCANO DAN PEMBELAJARAN PENANGGULANGAN BENCANA KEBUMIAN DI DUNIA”

Momen peluncuran perdana atau “Kick Off”:

Agar Paradigma Baru tersebut bukan sekedar wacana, maka telah disiapkan suatu momen peluncuran perdana atau “Kick Off”.

Dimana   ke depan diharapkan bola salju akan menggelinding menjadi lebih besar dan lebih padu lagi.

  • Rabu, 7 Oktober 2015, Tim Peneliti dari Fakultas Kebumian ITB (Institut Teknologi Bandung) akan memulai kegiatan Penyelidikan ilmiah, terkait Postur dan Deformasi di Lusi. Dengan menerapkan teknologi Terestrial Laser Scanner (TLS) dikombinasikan dengan GPS dan InSAR, dibawah supervisi Prof. Dr. Hasanuddin Abidin, Tim Survei Lapangan dipimpin oleh Dr. Andreas.

Karya Profesor Abidin dan Dr. Andreas, contoh nyata Lusi sebagai Pusat Unggulan Studi mud volcano dan Kebencanaan Kebumian

  • Profesor Hasanudin Abidin tahun 2008:

Pada tahun 2008 Profesor. Dr. Abidin telah merintis penyelidikan deformasi tanah (land deformation) disekitar Lusi dengan menerapkan teknologi GPS dan InSAR.

Selanjutnya hasil identifikasi terahadap pola deformasi disebut “tiga elip amblesan InSAR” dan intensitas deformasi dengan skenario dahsyat telah digunakan sebagai acuan untuk pemanfaatan tahap selanjutnya.

Pada makalah tersebut, Prof. Abidin juga telah memodel perkembangan saat itu dan ke depan, dengan asumsi intensitas deformasi dahsyat 4cm/hari di Pusat Semburan konstan. Disamping itu Prof. Abidin juga memberikan contoh beberapa pemanfaatan hasil studi deformasi amblesan untuk digunakan sebagai acuan berbagai kepentingan;

  • Andreas disebut sebagai Doktor Lusi:

Karena ia telah menyelesaikan disertasi progam Phdpada Fakultas Kebumian ITB dengan topik LUSI.

  • Salah satu karya Dr. Andreas terkait deformasi di LUSI dengan penerapan teknologi GPS dan InSAR adalah tahun 2010, dimana telah mengindikasikan adanya kelanjutan pola deformasi melingkar sebagai konsekuensi proses perkembangan kaldera (Caldera formation processes) di mud volcano Lusi.
  • Penyelidikan lanjutan dengan publikasi tahun 2014, telah memberikan implikasi yang luas terhadap Postur Bencana Kebumian Lusi ke depan yaitu:
  • Intensitas deformasi atau pergerakan tanah tipe amblesan telah mengalami penurunan yang dramatis, tidak lagi 4cm/hari sebagaimana dihasilkan oleh Abidin (2008), tapi berkisar beberapa cm atau dm per tahun;
  • Pola penurunan amblesan yang sebelumnya berlanjut (continous) pada intensitas tinggi, beralih dengan menurun dengan pola peluruhan eksponensial (exponential decay);
  • Pola penurunan intensitas amblesan secara exponential decay mempunyai korelasi dengan intensitas kecepatan semburan dan besarnya tekanan overpressure di daerah sumber semburan lumpur; dan
  • Mengindikasikan semburan Lusi menunjukkan tanda-tanda atau sinyal dapat mencapai tahap “dormant” atau terkelola (mangable itensity).

Agenda Diskusi Ilmiah “Kick Off LUSI-UNGGUL”

Jumat, 9 Oktober 2015, akan dilakukan diskusi Ilmiah, bertempat di Kantor BPLS di kota Surabaya:

  1. Judul Utama:“PARADIGMA BARU: LUSI SEBAGAI PUSAT UNGGULAN STUDI MUD VOLCANO DAN PEMBELAJARAN BERHARGA SUATU BENCANA KEBUMIAN DI DUNIA”
  2. Sub-Judul terkait pandangan Lusi ke depan: “Perubahan Mendasar pada Intensitas dan pola dari deformasi Amblesan di Lusi mud volcano: Implikasi pada panjang umur erupsi ke depan”;
  3. Judul Penerapan Iptek Kebumian: “Studi Postur dan deformasi tanah dengan GPS, InSAR dan Terestrial Laser Scanner (TLS) pada Bencana Kebumian Lusi”

Sebagai penangggung jawab dan narasumber adalah Prof. Dr. Hasanudin Abidin (Dekan Fakultas Kebumian ITB), dibawakan oleh Dr. Ir. Heri Andreas, dan Dr,Ir. Irwan Gumilar M.Si (Dosen di Jurusan GeoMatika ITB).

Langkah Lanjut mendukung “KEUNGGULAN-LUSI”

Apa yang akan dilakukan jangka pendek dan menengah mendukung “KEUNGGULAN-LUSI”: , Diantaranya:

  • Merevitalisasi fasilitas kantor dan sarana kegiatan survei/penelitian lapangan.

Dengan pusat kegiatan di Lusi Dome, suatu fasilitas laboratorium lapangan yang bersejarah, ketika 25 Mei tahun 2011, sebagai kick off kegiatan Simposium Ilmiah International Lusi dilaksanakan BPLS bekerjasama dengan Humanitus Sidoarjo Fund (HSF-Australia).

  • Menghidupkan kembali Jaringan CCTV Lusi via internet, yang telah pernah dipasang 2011 bekerjasama dengan Arizona State University (ASU);
  • Pembaruan Lusi Library, sebagai wujud nyata Lusi Research Network, dari tahap Pionir dan Inovasi Pekerjaan Intelektual tahun 2010 mengiringi Paradigma Baru Penanggulangan Bencana Kebumian Lusi 2015;
  • Membangun prototipe Museum virtual dan Embrio Museum, bagian dari GeoDiversity – GeoTrect merupakan kontribusi dari Ahli Kebumian;

Terkait dengan aspek Pemahaman (Knowkledge) Ilmu dan Pengetahuan (Iptek) yang telah dan akan diterapkan pada Lusi:

Antara lain dengan mengevaluasi (Evaluation) dan meninjau (preview) dan mengintegrasikan (integrated) kembali beberapa Proposal yang sebelumnya telah dikontribusikan oleh para pakar dari manca negara (termasuk Indonesia) namun belum dapat diimplementasikan.

Sebagai konsekuensi adanya kendala utama non-teknis dan teknis, beberapa diantaranya adalah:

  1. Lusi Reseach Network (LRN):

Suatu komunitas ilmiah untuk mendukung kegiatan Ilmiah Lusi sebagai Pusat Keunggulan Studi Mud Volcano di Dunia.

Diusulkan oleh Prof. Dr. Richard Davies (Durham University, UK, 2011).

Dipresentasikan pada sesi ilmiah, Simposium Lusi 26 Mei 2011, didalamnya termasuk pembentukan sekretariat bersama dan membentuk kantor di Lusi, menyediakan anggaran, dan pertemuan tiap tahun.

  1. Usulan para Pakar Kebumian dan Teknik Perminyakan untuk mengambil data seismik refleksi 3-d:

Agustus 2010 ketika suasana kontroversi asal usul semburan Lusi masih mengemuka, telah diselenggarakan Rapat Koordinasi Semburan Lusi ke depan yang mempertemukan pimpinan organisasi Profesi Kebumuian (IAGI, HAGI) dengan Profesi Migas (IATMI, Asosiasi Pemboran Migas) dengan difasilitasi oleh Badan Geologi, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (BDG KESDM).

Sidang yang dipimpin oleh Prof. Hardi Prasetyo (Waka BPLS) telah mengambil beberapa keputusan penting,antara lain:

  • Diperlukan data baru seismik refleksi 3-d yang akan digunakan bersama antara Pakar Kebumian dan Perminyakan dalam evaluasi lebih obyektif terhadap anatomi saat ini dan pertimbangan langkah ke depan;
  • Skanario pengambilan data seismik disampaikan BPPT yaitu sumber energi seismik pada posisi di timur dari Lusi dan penrima (geophone) beada di sebelah baratnya;
  • Disepakati untuk memberikan mandat kepada Badan Geologi-KESDM guna mengambil data baru Penampang Seismik Refleksi 3-d. Dalam perjalanan waktu tahun 2011 melalui mekanisme APBN, BDG KESDM telah berhasil mengalokasikan anggaran untuk pengambilan seismik refleksi 3-d, termasuk penunjukkan konsultan.

Namun ketika akan dilaksanakan di lapangan, telah mendapatkan kendala non-teknis yaitu tidak mendapatkan izin dari warga PAT dan luar PAT, mengingat masalah sosial kemasyarakatan ketika itu masih mengemuka.

Disamping itu menjadi pertimbangan teknis karena pada April 2011, tanggul P 68 telah mengalami Jebol sepanjang 300m dan diputuskan untuk tidak diperbaiki kembali. Kekhawatiran adalah bila gelombang seismik ditimbulkan oleh TNT sebagai sumber energi di sisi timur dapat memberikan implikasi pada daya dukung Tanggul Penahan Luapan Lumpur di sektor Glagaharum dan Renokonongo.

Namun walaupun upaya pengambilan data baru oleh BDG KESDM atas mandat nasional (Organisasi Profesi Kebumian dan Eksplorasi Migas) tidak dapat dilaksanakan (Batal). Namun memberikan hal positif dengan menurunnya intensitas kontroversi terkait dengan posisi semburan Lusi ke depan. 

  1. Penyelidikan asal-usul Gas semburan Lusi Implikasi Pengendali mekanisme semburan Lusi: 

Proposal awal penyelidikan asal mula gas implikasinya pada pengendali mekanisme semburan Lusi telah diusulkan oleh Prof. Dr. Amanda Clark, USA;

Disamping itu diharapkan ada revitalisasi dan peningkatan Jaringan Internet CCCT yang telah diinstal tahun 2011, mengalami kerusakan.

  1. Temuan 2 mud diapir dan Sistem Monitor Rusia: Pemantauan secara komprehensif dan terpadu dinamika tektonik terhadap potensi terbentuknya mud volcano dari 2 tubuh struktur lumpur (mud structure) atau umum disebut mud diapir, menggunakan sistem dan teknologi POLIGON.

Telah dipresentasikan oleh Tim Rusia pada even “From Russian with Lusi” (Prasetyo 2010) di Moscow dan Saint Petersburg Rusia, dan dipresentasikan oleh Dr. Kadurin, pada even Simposium Ilmiah Internasional Lusi 26 Mei 2011 di kota Surabaya diselenggarakan BPLS-HSF;

  1. Usulan Penyelidikan Anatomi di bawah Lusi mud volcano:

Pada bagian What Next dari makalah berjudul Anatomi dan Pengenali Mekanisme Semburan Lusi, Prof. Tingay telah mengusulkan penyelidikan baru berdasarkan seismik 4-d dan magnetulurgy.

Presentasi Prof. Dr. Mark Tingay pada Simposium Ilmiah Internasional Lusi (SII-Lusi) 26 Mei 2011 antara lain mengusulkan perubahan tatanan (terminologi) dari stratigrafi di bawah sumur Banjar Panji-1:

1) Satuan batupasir volkanik, diusulkan dirubah menjadi satuan ekstrusi volkanik dengan penyusun utama welded tuff; dan

2) Satuan batugamping terumbu Formasi Kujung berumur Oligosen yang porositasnya rendah, dirubah menjadi Formasi Prupuh berumur Miosen dan mempunyai porositas lebih tinggi.

  1. Usulan tindak lanjut Temuan Mineral Litium:

Sebagai implikasi Lusi mempunyai hubungan dengan hidrotermal dalam dari sistem gunung magmatik. Antara lain berkembangnya kandungan mineral Litium. Hal ini disampaikan oleh Dr. Tanikawa (Jepang), pada Simposium Ilmiah Internasional Lusi 2011.

Mineral Litium merupakan bahan baku untuk bateri HP yang saat ini dengan permintaan yang luar biasa.

  1. Potensi Panas Bumi skala Kecil:

Usulan potensi pengembangan Pembangkit Energi Panas Bumi (Geothermal Energi) dengan skala kecil. Presentasi Dr. Sudarman (Universitas Trisakti) pada Simposium Internasional Lusi, 25 Mei 2011.

Disamping itu Profesor Dr. Steve Miller dari University Boon, Jerman pada acara Diskusi dalam rangaka peringatan HUT Lusi 8 tahun di kantor BPLS Mei 2014 telah memperkuat, relevansi Lusi mempunyai potensi pembangkit panas bumi skala kecil.

  1. Rencana GeoHealth, Mud Spa, Garam tradisional:Usulan awal yang akan dilaksanakan oleh Badan Geologi, dalam waktu dekat ini , terkait GeoHealth:
    1. Memastikan kandungan air dan lumpur dikaitkan dengan aspek kesehatan bagi pemanfaatannya ke depan;
    2. kemungkinan pemanfaatan untuk kesehatan kulit (mud spa), dan
    3. kemungkinan air Lusi dimanfaatkan untuk memproduksi garam tradisional (seperti di Bleduk Kuwu mud volcano, di kota Purwodadi Jawa Tengah).

Memaknai Program LUSI LAB didukung Masyarakat Ekonomi Eropa yang sedang berlangsung saat ini:

Program LUSI LAB merupakan Riset Terpadu berlangsung berkelanjutan pada jangka menengah 5 tahun, didanai oleh Masyarakat Ekonomi Eropa (Europe Economic Community), dengan Peneliti Utama sebagai penanggung jawab adalah Dr. Andriano Mazzini, dari University of Oslo (Norwey).

Program Riset LUSI LAB dilandasi oleh hasil penyelidikan Mazzini dipresentasikan pada Simposium Internasional Ilmiah Lusi di Indonesia 25 Mei 2011 berjudul “Lusi mud volcano sebagai sedimen tuan rumah dari sistem hidrotermal dalam gunung magmatik”.

Bagian penting adalah mendapatkan bukti yang signifikan bahwa Lusi mud volcano mempunyai hubungan mesra dengan gunung magmatik yang ada di selatannya yaitu komplek Welirang-Arjuno.

Disimpulkan sebagai paradigma baru Lusi bukan mud volcano yang umum (Type mud volcano) tapi mud volkano yang khusus (Atype mud volcano) merupakan sistem dalam (deep system mud volcano) mempunyai hubungan dengan hidrotermal dalam sistem gunung magma di selatannya.

Masalah utama yang menjadi perhatian dari Program LUSI LAB antara lain:

  1. Apa yang ada sebenarnya di bawah Lusi mud volcano (Sumber lumpur, Sistem Saluran, tubuh gunung lumpur, pola struktur dan deformasi)
  2. Bagaimana pengendali mekanisme semburan bersiklus Geyser Lusi;
  3. Memastikan sumber fluida air dan gas;
  4. Pengaruh tektonik kegempaan di zona subduksi Busur Sunda;
  5. Pengaruh dinamika magmatisme di busur depan (fore arc magmatism);
  6. Keberadaan dan perkembangan Patahan Watukosek yang menghubungkan tatanan gunung magmatik di busur depan dengan gunung lumpur Lusi di busur belakang.

Signifikan dari LUSI LAB:Antara lain:

  • Program termasuk beasiswa untuk 2 Mahasiswa tingkat Doktor, saat ini berlangsung di Jurusan Geologi Unpad;
  • Pengembangan Teknologi Baru yang khusus dirancang untuk Lusi yaitu LUSI DRONE(pesawat nir awak, Hexacopter) yang mampu mengambil contoh fluida dan lumpur dari Kawah, akan dikembangkan Robot Ponton untuk mengambil contoh lumpur di Kawah Lusi.
  • Pengembangan pemahaman ilmiah Lusi sebagai mud volcano dipengaruhi oleh gunung magmatik di selatannya, membuka wawasan baru implikasinya untuk kegiatan eksplorasi migas terkait dinamika Cekungan Elisional Jawa Timur dan prospek energi baru panas bumi bersekala kecil.

APA YANG KIRANYA DAPAT KITA LAKUKAN BERSAMA,  DI BAWAH KERANGKA JARINGAN LUSI LIBRARY DAN LUSI RESEARCH NETWORK?

Dari apa yang telah diuraikan secara panjang lebar di bagian depan, berkisar telah yerjadinya Perubahan Mendasar (Fundamental changed), diikuti mendorong digulirkannya suatu Paradigma Baru(New Paradigm). Penetapan Sasaran Strategis (Strategic target) ke depan LUSI sebagai GeoPark, dan Aspek Jangka Pendek yang dapat segera digulirkan KEUNGGULAN-LUSI.

Maka beberapa hal yang mungkin dapat kita lakukan, termasuk yang saya harapkan, sebagaimana yang telah dilakukan langkah inovasi masa lalu, yaitu:

  • Mohon tanggapan dan pandangan singkat berbasis akademik terhadap prospek kedepan LUSI, dimana sebagai Payung Besar (Major umbrella)suatu peta perjalanan untuk menuju suatu sistem GEOPARK;
  • Dengan akan dilakukan kick off 9 Oktober 2015, bagaimana dapat mempercepat menggulirkan LUSI SEBAGAI SUATU PUSAT UNGGULAN STUDI MUD VOLCANO DAN PEMBELAJARAN BENCANA KEBUMIAN DI DUNIA.

Dimana akan dimulai dari anda pribadi dan dihimpun menjadi suatu yang terintegrasi pada “LUSI LIBRARY”.

  • Untuk menlengkapi koleksi Virtual dan Mini dari Embrio Museum Lusi, yang telah ditempatkan pada Web-site LUSI LIBRARY. Mohon kiranya untuk dapat mengirimkan material-material dalam bentuk yang lebih lengkap Foto – Hard Copy, Ebook, dll.
  • Mohon disampaikan informal dilanjutkan formal, bila dari proposal pada masa lalu yang belum dapat diimplementasikan akan diperbarui.

Atau bila ada proposal penyelidikan Ilmiah Lusi yang baru yang berorientasi ke depan.

Untuk kemungkinan dapat diimplementasikan, pada suatu lingkungan BARU PARADIGMA, DARI PENANGANAN BENCANA LUSI.

Prasetyo: Secara Imajiner Mengikuti Pertemuan EGU 2017

Juni 23, 2017

Prasetyo, LUSI 11 TAHUN,  “Mengikuti Pertemuan EGU, April 2017 secara Imajiner”

Dikontribusikan untuk Lusi Library:Knowledge Management

 

Pertemuan Tahunan 2017,  Persatuan Ilmu Kebumian Eropa Dilaksanakan di Kota Vienna, Austria  April 2017

HIMPUNAN PRESENTASI LISAN DAN POSTER

NASKAH DITERIMA DARI Co-Convener: DR. Matteo Lupi

OralS http://meetingorganizer.copernicus.org/EGU2017/orals/24693

 Posters http://meetingorganizer.copernicus.org/EGU2017/posters/24693

Orals GMPV1.4/BG9.68/SSP3.15

GMPV1.4/BG9.68/SSP3.15

From hydrothermal systems to mud volcanoes: structure, evolution and monitoring of active and fossile piercements (co-organized)

Convener: Adriano Mazzini
Co-Convener: Matteo Lupi

HIMPUNAN ABSTRAT DARI EGU 2017

Seismicity at Lusi and the adjacent volcanic complex, Java, Indonesia

Anne Obermann (1), Karyono Karyono (2,3), Tobias Diehl (1), Matteo Lupi (4), and Adriano Mazzini (5)

Modelling fluid flow in clastic eruptions: application to the Lusi mud eruption.

Marine Collignon (1), Daniel W. Schmid (2), Christophe Galerne (3), Matteo Lupi (4), and Adriano Mazzini (1)

Linking the Lusi mud eruption dynamics with regional and global seismic activity: a statistical analysis.

Marine Collignon (1), Øyvind Hammer (2), Mohammad J. Fallahi (1), Matteo Lupi (3), Daniel W. Schmid (4),

A geophysical and geochemical investigation of the Kalang-Anyar mud volcano, Indonesia.

Alwi Husein (1,2,3), Adriano Mazzini (1), Matteo Lupi (4), Alessandra Sciarra (5), and Karyono Karyono (6)

Investigating the Watukosek fault system using combined geophysical methods around Lusi eruption site

Alwi Husein (1,2,3), Adriano Mazzini (1), Matteo Lupi (4), Guillaume Mauri (5), Andreas Kemna (6), Bagus Santosa (2), and Soffian Hadi (3)

The Lusi mud eruption dynamics: constraints from field data.

Adriano Mazzini (1), Alessandra Sciarra (2), Matteo Lupi (3), Guillaume Mauri (4), Karyono Karyono (1), Alwi Husein (1), Ida Aquino (2), Ciro Ricco (2), Anne Obermann (5), and Soffian Hadi (6)

Potential sources of hydrocarbons and their microbial degradation in sediments from the deep geothermal Lusi site, Indonesia

Martin Krueger (1), Adriano Mazzini (2), Georg Scheeder (1), and Martin Blumenberg (1)

The carbonate deposits underneath the geysering Lusi eruption (Java,Indonesia)

Elias Samankassou (1), Adriano Mazzini (2), Massimo Chiaradia (1), and Silvia Spezzaferri (3)

Insights on the structure and activity of Lusi mud edifice from land gravity monitoring.

Guillaume Mauri (1), Alwi Husein (2,3,4), Karyono Karyono (2,5,6), Soffian Hadi (4), Hardi Prasetyo (4), Matteo Lupi (7), Anne Obermann (8), Adriano Mazzini (2), and Stephen A. Miller (1)

A microtremor survey to define the subsoil structure in a mud volcano areas

 Francesco Panzera (1), Sebastiano D’Amico (2), Matteo Lupi (3), Karyono Karyono (4), and Adriano Mazzini (4) 

 

 

 

Geophysical Research Abstracts Vol. 19, EGU2017-14286-1, 2017 EGU General Assembly 2017

Seismicity at Lusi and the adjacent volcanic complex, Java, Indonesia

Anne Obermann (1), Karyono Karyono (2,3), Tobias Diehl (1), Matteo Lupi (4), and Adriano Mazzini (5)

(1) ETH, SED, Zürich, Switzerland (anne.obermann@sed.ethz.ch), (2) Padjadjaran University (UNPAD), Bandung, Indonesia,

(3) Agency for Meteorology, Climatology and Geophysics (BMKG), Jakarta, Indonesia, (4) Department of Earth Sciences,

University of Geneva, Switzerland, (5) CEED, University of Oslo, Oslo, Norway

ABSTRACT

We study the local seismicity around the spectacular Lusi eruption site, in East Java. Lusi is located 10 km NE of the Arjuno-Welirang volcanic complex.

During a period of 17 months, we observed 289 micro-seismic earthquakes with local magnitudes ranging from ML0.5 to ML1.7.

The events predominantly nucleate at depths of 8-13 km below the Arjuno-Welirang volcanic complex.

Despite the geological evidence of active tectonic deformation and faulting observed at the surface, little to no seismicity is observed in the sedimentary basin hosting Lusi.

Although we cannot entirely rule out artifacts due to a significantly increased detection threshold in the sedimentary basin, the deficit in seismicity suggests aseismic deformation

beneath Lusi due to the large amount of fluids that may lubricate the fault system.

An analysis of focal mechanisms of seven selected events around the Arjuno-Welirang volcanic complex indicate predominantly strike-slip faulting activity in the region SW of Lusi.

This type of activity is consistent the orientation and the movements observed for the Watukosek fault system that extends from the volcanic complex towards the NE of Java.

Our results suggest that the tectonic deformation of the region is characterized by scattered faulting, rather than localized along a distinct fault plane.

 

 

Geophysical Research Abstracts Vol. 19, EGU2017-4793, 2017 EGU General Assembly 2017

Modelling fluid flow in clastic eruptions: application to the Lusi mud eruption.

Marine Collignon (1), Daniel W. Schmid (2), Christophe Galerne (3), Matteo Lupi (4), and Adriano Mazzini (1)

(1) University of Oslo, Centre for Earth Evolution and Dynamics (CEED), Oslo, Norway (marine.collignon@geo.uio.no), (2) University of Oslo, Physics of Geological Processes (PGP), Oslo, Norway, (3) Geomar, Helmoltz Centre for Ocean Research,

Kiel, Germany, (4) Department of Earth Sciences, Geneva, Switzerland

ABSTRACT

Clastic eruptions involve the rapid ascension of clasts together with fluids, gas and/or liquid phases that may deform and brecciate the host rocks.

These fluids transport the resulting mixture, called mud breccia, to the surface.

Such eruptions are often associated with geological structures such as mud volcanoes, hydrothermal vent complexes and more generally piercement structures.

They involve various processes, acting over a wide range of scales which makes them a complex and challenging, multi-phase system to model.

Although piercement structures have been widely studied and discussed, only few attempts have been made to model the dynamics of such clastic eruptions.

The ongoing Lusi mud eruption, in the East Java back-arc basin, which began in May 2006, is probably the most spectacular clastic eruption.

Lusi’s eruptive behaviour has been extensively studied over the past decade and thus represents a unique opportunity to better understand the dynamics driving clastic eruptions, including fossil clastic systems.

We use both analytical formulations and numerical models to simulate Lusi’s eruptive dynamics and to investigate simple relationships between the mud breccia properties (density, viscosity, gas and clast content) and the volumetric flow rate.

Our results show that the conduit radius of such piercement system cannot exceeds a few meters at depth, and that clasts, if not densely packed, will not affect the flow rate when they are smaller than a fifth of the conduit size.

Using published data for the annual gas fluxes at Lusi, we infer a maximal depth at which exsolution starts.

This occurs between 1800 m and 3200 m deep for the methane and between 750 m and 1000 m for the carbon dioxide.

 

Geophysical Research Abstracts Vol. 19, EGU2017-4822, 2017

Linking the Lusi mud eruption dynamics with regional and global seismic activity: a statistical analysis.

Marine Collignon (1), Øyvind Hammer (2), Mohammad J. Fallahi (1), Matteo Lupi (3), Daniel W. Schmid (4),

Husein Alwi (1,5), Soffian Hadi (6), and Adriano Mazzini (1)

(1) University of Oslo, Centre for Earth Evolution and Dynamics (CEED), Oslo, Norway (marine.collignon@geo.uio.no), (2)

Natural History Museum, University of Oslo, (3) Department of Earth Science, Geneva, Switzerland, (4) Physics of

Geological Processes (PGP), Department of Geosciences, University of Oslo, (5) Institut Teknologi Sepuluh Nopember,

Surabaya, Indonesia, (6) Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, Sidoarjo, Indonesia

ABSTRACT

The 29th May 2006, gas water and mud breccia started to erupt at several localities along the Watukosek fault system in the Sidoarjo Regency in East Java Indonesia.

The most prominent eruption site, named Lusi, is still active and the emitted material now covers a surface of nearly 7 km2, resulting in the displacement of 60.000 people (up to date).

Due to its social and economic impacts, as well as its spectacular dimensions, the Lusi eruption still attracts the attention of international media and scientists.

In the framework of the Lusi Lab project (ERC grant nº 308126), many efforts were made to develop a quasi-constant monitoring of the site and the regional areas.

Several studies attempted to predict the flow rate evolution or ground deformation, resulting in either overestimating or underestimating the longevity of the eruption.

Models have failed because Lusi is not a mud volcano but a sedimentary hosted hydrothermal system that became apparent after the M6.3 Yogyakarta earthquake.

Another reason is because such models usually assume that the flow will decrease pacing the overpressure reduction during the deflation of the chamber.

These models typically consider a closed system with a unique chamber that is not being recharged.

Overall the flow rate has decreased over the past ten years, although it has been largely fluctuating with monthly periods of higher mud breccia discharge.

Monitoring of the eruption has revealed that numerous anomalous events are temporally linked to punctual events such as earthquakes or volcanic eruptions.

Nevertheless, the quantification of these events has never been investigated in details.

In this study, we present a compilation of anomalous events observed at the Lusi site during the last 10 years.

Using Monte Carlo simulations, we then statistically compare the displacement, recorded at different seismic stations around Lusi, with the regional and global earthquakes catalogue to test the probability that an earthquake striking the coast of Java affects the plumbing system at Lusi and triggers anomalous events.

 

Geophysical Research Abstracts Vol. 19, EGU2017-7160, 2017

A geophysical and geochemical investigation of the Kalang-Anyar mud volcano, Indonesia.

Alwi Husein (1,2,3), Adriano Mazzini (1), Matteo Lupi (4), Alessandra Sciarra (5), and Karyono Karyono (6)

(1) Centre for Earth Evolution and Dynamic (CEED), University of Oslo, Oslo, Norway (alwihusein86@gmail.com), (2)

Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, Indonesia, (3) BPLS, Surabaya, Indonesia, (4) Earth and Environmental

Science, University of Geneva, Geneva, Switzerland, (5) Istituto Nazionale di Geofisica e Vulcanologia, Rome, Italy, (6)

Padjajaran University (UNPAD), Bandung, Indonesia

ABSTRACT

The northest Java region is a sedimentary basin as well as a promising hydrocarbon province. Like other similar setting, the region is characterized by diffused mud volcanism and degassing sites.

In the Sidoarjo province extends the Watukosek Fault system that connects the Javanese Arjuno-Welirang Volcanic arc to the back-arc basin in North East Java.

Along this fault systems can be identified several mud volcanoes including the spectacular Lusi mud eruption site.

Approximately 40 km NE of Lusi is located the Kalang Anyar mud volcano that was target for a multidisciplinary study to understand its activity as well as the plumbing system.

We combined geoelectrical, gas sampling and mapping studies and seismic monitoring.

The geoelectrical data show low resistivity values (< 1 ohm.m) in the regions surrounding the mud vents until 120 m deep.

Profile 1 covers the most part of the mud volcanic edifice and points out that the region of low resistivity around the vents reaches a maximum width of approximately 250 m. Overall, the three profiles held consistent results.

The gas were sampled from the main vent revealing the presence of mixed as well as thermogenic methane suggesting that the more active seeps are deep rooted and connect to thermogenic methane reservoirs.

CH4 and CO2 flux profiles were conducted through the active crater area and extending towards the outskirts.

Results shows anomalous high values of the gasses in the summit region revealing a methane dominated diffused degassing throughout the structure.

The seismic data show a drumbeat signal in the high-frequency range (i.e. between 5 Hz and 30 Hz) occurring on all the seismic stations.

The signal is most pronounced on the seismic station closer to the most active emission vent.

Such seismic signal is seen at regular intervals varying from about 40 s to 120 s.

 

Geophysical Research Abstracts Vol. 19, EGU2017-12266, 2017

Investigating the Watukosek fault system using combined geophysical methods around Lusi eruption site

Alwi Husein (1,2,3), Adriano Mazzini (1), Matteo Lupi (4), Guillaume Mauri (5), Andreas Kemna (6), Bagus Santosa (2), and Soffian Hadi (3)

(1) CEED, University of Oslo, Oslo, Norway(alwihusein86@gmail.com), (2) Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, Indonesia, (3) BPLS, Surabaya, Indonesia, (4) Earth and Environmental Science, University of Geneva, Geneva, Switzerland, (5) University of Neuchâtel, Switzerland, (6) University of Bonn, Germany

ABSTRACT

The Lusi mud eruption is located in the Sidoarjo area, Indonesia and is continuously erupting hot mud since its birth in May 2006.

Lusi sits upon the Watukosek fault system that originates from the neighboring Arjuno-Welirang volcanic complex and develops in back-arc basin extending towards the NE of Java.

After the 27-06-2006 M 6.3 earthquake this fault system was reactivated and hosted numerous hot mud eruptions in the Sidoarjo area.

Until now, no targeted investigations have been conducted to understand the geometry of the faults system crossing the Lusi eruption site.

A comprehensive combined electrical resistivity and self-potential (SP) survey was performed in the 7 km2 area inside the Lusi embankment that was built to contain the erupted mud and to prevent flooding of the surrounding roads and settlements.

Additional profiles were also acquired outside the SW part of the embankment towards the Watukosek escarpment and on the west of Lusi.

The goal of the geophysical survey is to map the near-surface occurrence of the Watukosek fault system, delineate its spatial pattern, and monitor its development.

In total nine lines of resistivity measurements using Wenner and Wenner-Schlumberger configuration and SP measurements using roll-along technique were completed.

The resistivity data were inverted into 2-D resistivity images with a maximum penetration depth of almost 200 m.

The profiles collected in the region inside the Lusi embankment consistently reveal the presence of a region of 300 m in width (between 30-90 m depth) characterized by anomalous resistivities, which are lower than the values observed in the surrounding area.

The profiles outside the embankment show consistent results. Here the contrast between anomalous low resistivity zones (perceived as the fault system) and the surrounding area with higher resistivity value is more pronounced.

The profiles also shows that the distance between the main crater and the boundary of mud body observed on the subsurface reach 1.3 km. The results of the SP data fit well with the resistivity profiles in the anomalous parts, which suggests that their origin is related to fluid flow in the subsurface.

The geometry and the orientation these defined zones are consistent with the direction of the Watukosek fault system that intersect the Lusi eruption site and continues towards the Madura straight where other piercements are located.

 

Geophysical Research Abstracts Vol. 19, EGU2017-16046, 2017

The Lusi mud eruption dynamics: constraints from field data.

Adriano Mazzini (1), Alessandra Sciarra (2), Matteo Lupi (3), Guillaume Mauri (4), Karyono Karyono (1), Alwi Husein (1), Ida Aquino (2), Ciro Ricco (2), Anne Obermann (5), and Soffian Hadi (6)

(1) CEED – University of Oslo, CEED, Oslo, Norway (adriano.mazzini@geo.uio.no), (2) INGV, Italy, (3) Département des

Sciences de la Terre, Geneva, Switzerland, (4) University of Neuchâtel, Switzerland, (5) ETH Zurich, Switzerland, (6) BPLS, Sidoarjo, Indonesia

ABSTRACT

The Indonesian Lusi eruption has been spewing boiling water, gas, and sediments since the 29th of May 2006.

Initially, numerous aligned eruptions sites appeared along the Watukosek fault system that was reactivated after the Yogyakarta earthquake occurring the 27th of May in the Java Island.

Since its birth Lusi erupted with a pulsating behavior showing intermittent periods of stronger activity resulting in higher fluids and solid emissions intervals. Since 2010 two active vents are constantly active.

We conducted detailed monitoring of such clastic geysering activity and this allowed us to distinguish four distinct phases that follow each other and that reoccur every ∼30 minutes:

(1) regular bubbling activity (constant emission of water, mud breccia, and gas);

(2) clastic geysering phase with intense bubbling (consisting in reduced vapor emission and more powerful diffused mud bursting);

(3) clastic geysering with mud bursts and intense vapour discharge (typically dense plume that propagates up to 100 m in height);

(4) quiescent phase marking the end of the geysering activity (basically no gas emissions or bursts observed).

In order to better understand this pulsating behavior and to constrain the mechanisms controlling its activty, we designed a multidisciplinary monitoring of the eruption site combining the deployment of numerous instruments around the crater site. Processing of the collected data reveals the dynamic activity of Lusi’s craters.

Satellite images show that the location of these vents migrated along a NE-SW direction. This is subparallel to the direction of the Watukosek fault system that is the zone of (left) lateral deformation upon which Lusi developed in 2006.

Coupling HR camera images with broadband and short period seismic stations allowed us to describe the seismic signal generated by clastic geysering and to constrain the depth of the source generating the signal.

We measure a delay between the seismic (harmonic) record and the associated clastic geyser explosion of approximately 3 s.

This, in agreement with previous studies, corresponds to a source located some tens of meters depth inside the conduits. We ascribe the harmonic seismic signal to rise of batches of H 2

O-CO2-CH4 fluids inside the conduit. Once they approach the water-vapour region the sudden pressure drop triggers flashing and the exsolution of the dissolved CO2 and CH4.

In the last part of our study we verified whether the powerful clastic geysering (emitting jets up to 20 m high) may induce local deformation of the mud edifice.

During the stronger geysering events we measure an increase and drop of gravity overtime that are related to change of mud density within the feeder conduit.

We process continuous camera recordings with a video magnifying tool capable of enhancing small variations in the recorded images.

Results highlight that major eruptive events are preceded by a deformation of the mud edifice surrounding the vents. Ongoing studies aim to verify if these events are also captured by the tiltmeter measurements.

This study represents a step forward to better understand the activity that characterizes Lusi. Further studes will help to better constrain the reactions and dynamics ongoing inside the conduit.

Geophysical Research Abstracts Vol. 19, EGU2017-6423-1, 2017

Potential sources of hydrocarbons and their microbial degradation in sediments from the deep geothermal Lusi site, Indonesia

Martin Krueger (1), Adriano Mazzini (2), Georg Scheeder (1), and Martin Blumenberg (1)

(1) BGR, Resource Geochemistry, Hannover, Germany (martin.krueger@bgr.de), (2) Centre for Earth Evolution andDynamics (CEED) University of Oslo, Oslo, Norway

ABSTRACT

The Lusi eruption represents one of the largest ongoing sedimentary hosted geothermal systems, which started in 2006 following an earthquake on Java Island.

Since then it has been continuously producing hot and hydrocarbon rich mud from a central crater with peaks reaching 180.000 m3 per day.

Numerous investigations focused on the study of microbial communities which thrive at offshore methane and oil seeps and mud volcanoes, however very little has been done on onshore seeping structures.

Lusi represents a unique opportunity to complete a comprehensive study of onshore microbial communities fed by the seepage of CH4 as well as of liquid hydrocarbons originating from one or more km below the surface.

While the source of the methane at Lusi is unambiuous, the origin of the seeping oil is still discussed.

Both, source and maturity estimates from biomarkers, are in favor of a type II/III organic matter source. Likely the oils were formed from the studied black shales (deeper Ngimbang Fm.) which contained a Type III component in the Type II predominated organic matter.

In all samples large numbers of active microorganisms were present. Rates for aerobic methane oxidation were high, as was the potential of the microbial communities to degrade different hydrocarbons.

The data suggests a transition of microbial populations from an anaerobic, hydrocarbon-driven metabolism in fresher samples from center or from small seeps to more generalistic, aerobic microbial communities in older, more consolidated sediments. Ongoing microbial activity in crater sediment samples under high temperatures (80-95C) indicate a deep origin of the involved microorganisms.

First results of molecular analyses of the microbial community compositions confirm the above findings. This study represents an initial step to better understand onshore seepage systems and provides an ideal analogue for comparison with the better investigated offshore structures.

Geophysical Research Abstracts Vol. 19, EGU2017-16035, 2017

The carbonate deposits underneath the geysering Lusi eruption (Java,Indonesia)

Elias Samankassou (1), Adriano Mazzini (2), Massimo Chiaradia (1), and Silvia Spezzaferri (3)

(1) University of Geneva, Department of Earth Sciences, Geneva, Switzerland (elias.samankassou@unige.ch), (2) University of Oslo, Centre for Earth Evolution and Dynamics, Oslo, Norway, (3) University of Fribourg, Department of Geosciences, Fribourg, Switzerland

ABSTRACT

The eruption site in East Java nicknamed Lusi is an active sedimentary hosted hydrothermal system that has been active since the 29th of May 2006.

The sedimentary sequences pierced by the Lusi feeder channel are brecciated and expelled at the surface as mud breccia mixed with boiling fluids.

The depth of the conduit remains so far unknown as well as the age of some of the inferred stratigraphic sequences.

Over the years we documented and collected a large set of erupted clast specimens since the initiation of the eruption.

Here we describe the results of foraminifera and 87Sr/86Sr dating of selected scleractinian coral fragments and carbonate clasts rich in planktonic foraminifera collected around the eruption crater site.

The clasts were collected in 2006 during the early eruptive phases of Lusi.

The aim of this work is to constrain the age of the components and to improve the understanding of the, so far unknown, sequence of carbonate deposits inferred in this region of Java.

Kujung and Tuban are the two formations consisting of carbonates known from this region.

Based on planktonic foraminifera biostratigraphy, one group of the samples reveal to belong to the Planktonic Foraminifera Zone M5, with an age comprised between 16.29 and 15.10 Ma (Miocene, Latest Burdighalian to Langhian).

The Sr isotope-based ages of clasts analysed for 87Sr/86Sr cover a larger time window spanning from Pliocene (Zanclean and Piacenzian), Miocene (Messinian) down to Oligocene (Chatian).

The Pliocene and Messinian ages are unreasonably young from what is known of the local geology and one sample provided an

87Sr/86Sr age that is 8 My younger compared to that obtained from the planktonic foraminifera assemblage occurring in that sample.

This suggests that this and the young samples have been contaminated by geological sediments with higher radiogenic Sr isotope composition.

Therefore these samples may be ascribed to the Miocene Tuban Formation. The minimum age of 23.77 Ma obtained by 87Sr/86Sr indicates that some of the clasts can be attributed to the Upper Kujung Formation.

This dating method is an efficient tool to investigate the geometry of the eruption system and the implications of the results are multiple including the fact that

  1.  the two Tuban and Kujung formations are overlapping at this site;
  2.  the Lusi feeder conduit brecciated and mobilized to the surface lithologies buried as deep as possibly 3.4 km;
  3.  since the deeper samples erupted in 2006 belong to the typically not overpressured Kujung Formation, an additional overpressure generated from deeper units (Ngimbang Fm?) would be required to force these fragments to surface.

 

Geophysical Research Abstracts Vol. 19, EGU2017-12614, 2017

Insights on the structure and activity of Lusi mud edifice from land gravity monitoring.

Guillaume Mauri (1), Alwi Husein (2,3,4), Karyono Karyono (2,5,6), Soffian Hadi (4), Hardi Prasetyo (4), Matteo Lupi (7), Anne Obermann (8), Adriano Mazzini (2), and Stephen A. Miller (1)

(1) University of Neuchâtel, Center for Hydrogeology and Geothermics, CHYN, Neuchâtel, Switzerland

(guillaume.mauri@unine.ch), (2) CEED, University of Oslo, Oslo, Norway, (3) Institut Teknologi Sepuluh Nopember,

Surabaya, Indonesia, (4) Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, Sidoarjo, Indonesia, (5) Padjadjaran University (UNPAD),

Bandung, Indonesia, (6) Agency for Meteorology, Climatology and Geophysics (BMKG), Jakarta, Indonesia, (7) Department

of Earth Sciences, Université de Genève, Genève, Switzerland, (8) Swiss Seismological Service, ETH Zurich, Switzerland

ABSTRACT

The Lusi mud eruption in East Java, Indonesia, active since May 2006, is a sedimentary-hosted hydrothermal

system (SHHS) fed by magmatic fluids connected to the Arjuno-Welirang volcanic complex.

The aims of the present study are to investigate changes in the local gravity field to obtain new insight into:

  1. the evolution of the collapse structure ten years after its inception,
  2. provide new insights on the thickening of the mud edifice for constraints on 3D numerical models, and
  3.  the pulsating phases characterizing the Lusi activity, which result in temporal density variations of the mudflow inside the active conduit.

To investigate the structure of the mud edifice, we conducted a gravity spatial mapping over an area of 56 km2 with 390 new gravity stations. To investigate the density changes happening over time, we conducted several continuous gravity monitoring.

We present results from gravity measurement collected during field campaigns in June and August 2016, and augmented by passive seismic and environmental parameter monitoring.

We calculated for a reference density of 2,670 kg m-3 a new Bouguer anomaly map, which shows significant changes in the local gravity field in comparison to the previously published 2006-gravity map. In the west and south part of the edifice, maximum gravity decreases (-1 mGal) characterize the collapse of part of the edifice.

In the southeast and east of the central area of flooded mud breccia, the gravity field increases locally (+1 mGal) along the limit defined by a previous study on the surface deformation of the mud edifice. The 3D model supports the hypothesis of a locally pinched volume of either mud, sediment, or mix of both between the subsiding volume and the uplifting volume of mud.

The continuous gravity monitoring experiments were located at 320 and 380m away from the central area of a mud breccia flooded region. Over time, residual gravity variations reach up to 0.020 mGal in amplitude and occur at wavelengths ranging from 8.2 hours to 45.1 hours.

Some very short gravity variation events, with durations of less than one hour, correlate with rapid change of atmospheric temperature and pressure, or stream temperature.

Gravity variations over time cross-correlate well with the duration increase of seismic events. In addition, from our 3D forward model, within the conduit feeding each active vent, the mud density variations range between 100 and 775 kg m-3.

Even at distances of 320 to 460m from the eruptive vents, this study shows that gravity monitoring and atmospheric pressure monitoring are potentially valuable tools for monitoring and gaining insight into processes occurring in the feeder conduit of a mud eruption.

We show that gravity method is an efficient method to monitor the evolution of an active mud edifice by bringing new insight on the mud edifice structures, and over time on the density change, which is associated to changes in the eruption dynamics.

Geophysical Research Abstracts Vol. 19, EGU2017-17666, 2017

A microtremor survey to define the subsoil structure in a mud volcano areas

 Francesco Panzera (1), Sebastiano D’Amico (2), Matteo Lupi (3), Karyono Karyono (4), and Adriano Mazzini (4)

(1) Department of Biological, Geological and Env. Sciences, University of Catania, Italy , (2) Department of Geosciences, University of Malta, Malta, (3) Department of Earth Sciences, University of Geneva, Geneva, Switzerland, (4) Centre forEvolution and Earth Dynamics, University of Oslo, Oslo, Norway

ABSTRACT

Mud erupting systems have been observed and studied in different localities on the planet. They are characterized by emissions of fluids and fragmented sedimentary rocks creating large structures with different morphologies.

This is mainly due to the presence of clay-bearing strata that can be buoyant in the surrounding regions and overpressured fluids that facilitate the formation of diapirs through sedimentary rocks.

In this study, we investigate the Lusi mud erupting system mainly by using ambient vibration methods. In particular, thickness of the sediments and the body wave velocities have been investigated.

Results are integrated with gravimetry and electrical resistivity data in order to locate the main geological discontinuities in the area as well as to reconstruct a 3D model of the buried structure.

The approach commonly used for this type of studies is based on the ratio of the horizontal to vertical components of ground motion (HVSR) and on passive array techniques.

The HVSR generally enables to recognize peaks that point out to the fundamental frequency of the site, which usually fit quite well the theoretical resonance curves.

The combination of HVSR and shear wave velocity, coming from passive array techniques, enables to collect valuable information about the subsurface structures.

Here we present new data collected at the mud volcano and sedimentary hosted hydrothermal system sites in order to investigate the depths of the main discontinuities and of the hypothesized hydrocarbon reservoirs.

We present the case study of Salse di Nirano (northen Italy), Salinelle (Mt. Etna, Sicily) and Lusi hydrothermal systems (Indonesia).

Our results indicate that the ambient vibrations study approach represents a swift and simplified methods that provides quick information on the shallow subsoil structure of the investigated areas.

Geophysical Research Abstracts Vol. 19, EGU2017-7630, 2017

Numerical Modeling for Large Scale Hydrothermal System

Reza Sohrabi (1), Gunnar Jansen (1), Benjamin Malvoisin (2), Adriano Mazzini (3), and Stephen A. Miller (1)

(1) CHYN – Center for Hydrogeology and Geothermics, Laboratory of Geothermics and Geodynamics, Neuchâtel, Switzerland , (2) ISTE – Institute of Earth Sciences, University of Lausanne, Switzerland , (3) CEED – Centre for Earth Evolution and Dynamics, University of Oslo, Norway

ABSTRACT

Moderate-to-high enthalpy systems are driven by multiphase and multicomponent processes, fluid and rock mechanics, and heat transport processes, all of which present challenges in developing realistic numerical models of the underlying physics.

The objective of this work is to present an approach, and some initial results, for modeling and understanding dynamics of the birth of large scale hydrothermal systems.

Numerical modeling of such complex systems must take into account a variety of coupled thermal, hydraulic, mechanical and chemical pro-cesses, which is numerically challenging.

To provide first estimates of the behavior of this deep complex systems, geological structures must be constrained, and the fluid dynamics, mechanics and the heat transport need to be investigated in three dimensions.

Modeling these processes numerically at adequate resolution and reasonable computation times requires a suite of tools that we are developing and/or utilizing to investigate such systems.

Our long-term goal is to develop 3D numerical models, based on a geological models, which couples mechanics with the hydraulics and thermal processes driving hydrothermal system.

Our first results from the Lusi hydrothermal system in East Java, Indonesia provide a basis for more sophisticated studies, eventually in 3D, and we introduce a workflow necessary to achieve these objectives. Future work focuses with the aim and parallelization suitable for High Performance Computing (HPC).

Such developments are necessary to achieve high-resolution simulations to more fully understand the complex dynamics of hydrothermal systems.

 

 

Svensen 2016: Semburan Lusi dan implikasinya untuk memahami struktur pembubungan purba di cekungan sedimentasi

Juni 23, 2017

Prasetyo, LUSI 10 TAHUN,  “Mengikuti Pertemuan EGU, April 2016 secara Imajiner”, Dikontribusikan untuk Lusi Library:Knowledge Management

Pertemuan Tahunan 2016,  Persatuan Ilmu Kebumian Eropa

Dilaksanakan di Kota Vienna, Austria 17-22 April 2016

Svensen 2016 Geophysical Research Abstract Vol. 18, EGU2016-11129, 2016

Semburan Lusi dan implikasinya untuk memahami struktur pembubungan purba di cekungan sedimentasi

The Lusi eruption and implications for understanding fossil piercement structures in sedimentary basins

Henrik Svensen (1), Adriano Mazzini (1), Sverre Planke (1,2), and Soffian Hadi (3)

(1) Center for Earth Evolution and Dynamics (CEED), University of Oslo, 0316 Blindern, Norway, (2) Volcanic Basin Petroleum Research, (3) BPLS, Surabaya, Indonesia

ABSTRAK

Semburan Lusi berawal 29 Mei 2006, terus menyemburkan batuan, lumpur, air dan gas.

Semburan Lusi berawal di timur laut Pulau Jawa, Indonesia, pada tanggal 29 Mei 2006, dan sejak itu telah menyemburkan batuan-batuan, lumpur, air, dan gas (it has been erupting rocks, mud, water, and gas ever since).

Pekerjaan lapangan dan penelitian Lusi dilakukan sejak awal termotivasi dari pelajaran inisiasi gunung lumpur.

Telah dilakukan pekerjaan lapangan dan penelitian tentang Lusi sejak semburan dimulai.

Pekerjaan ini awalnya termotivasi (This work was initially motivated) pelajaran inisiasi dari suatu gunung lumpur (from studying the initiation of a mud volcano).

 Panjang semburan digunakn untuk memanjau panjang kehidupan dari struktur pembubungan Lusi:

Namun, panjang umur dari semburan (the longevity of the eruption) telah memungkinkan hal tersebut untuk menggambarkan dan memantau panjang kehidupannya (to describe and monitor the lifespan) dari struktur pembubungan yang unik ini (of this unique piercement structure).

 Pertanyaan mendasar adalah bagaimana mengklasifikasi Lusi terhadap analogi yang purba.

Salah satu pertanyaan orde pertama tentang semburan adalah  (the first-order questions regarding the eruption) bagaimana Lusi harus diklasifikasikan(is how it should be classified).

Seandainya ada suatu analog modern atau yang purba lainnya  (if there are any other modern or fossil analogues), yang dapat menempatkan Lusi dalam konteks geologi yang relevan (that can place Lusi in a relevant geological context).

Tahap awal Lusi diklasifikasikan sebagai mud volcano, namun dari beberapa karakteristik mengindikasikan Lusi sebagai induk sedimen dari sistem hidrotermal:

Pada tahap awal semburan (During the initial stages of eruption), Lusi telah diklasifikasikan sebagai suatu gunung lumpur yang umum dimaknai secara universal.

Namun setelah dilakukan studi geokimia yang lebih mendalam (but following geochemical studies), ternyata semburan dari Lusi.

Tidak menunjukkan adanya komposisi gas yang dominasi CH4 sebagaimana yang khas (the eruption did not show the typical CH4-dominated gas composition) dari gunung lumpur lainnya (of other mud volcanoes) dan suhu juga terlalu tinggi (the temperature was also too high).

Lebih jauh lagi semburan dari mud volcano umumnya atau normalnya hanya berlangsung pada beberapa hari saja (mud volcano eruptions normally last a few days).

Namun lain halnya dengan Lusi, dimana semburan hampir tidak pernah berhenti selama satu dekade (but Lusi never stopped during the past decade).

Secara khusus,  geokimia dari fluida di kawah (the crater fluid geochemistry) telah memberikan pandangan baru.

Bahwa adanya suatu hubungan dengan komplek gunung api di dekatnya (suggests a connection to the neighboring volcanic complex).

Lusi ditentukan merepresentasikan suatu induk sedimen dari sistem hidrotermal (Lusi represent a sedimentary hosted hydrothermal system).

Membuka peluang untuk memahami sistem hidrotermal purba di cekungan sedimentasi:

Hal ini membuka kemungkinan baru (This opens up new possibilities) untuk memahami sistem-sistem hidrotermal purba (understanding fossil hydrothermal systems di cekungan sedimen (in sedimentary basins).

Antara lain kepundan hidrotermal, pipa breksi yang dipengaruhi oleh provinsi batuan beku berukuran besar:

Seperti halnya dengan kompleks kepundan hidrotermal dan pipa-breksi (hydrothermal vent complexes and breccia-pipes) yang ditemukan di cekungan-cekungan sedimen (found in sedimentary basins).

Dimana dipengaruhi oleh pembentukan provinsi batuan beku berukuran besar (affected by the formation of Large igneous provinces).

 Analogi Karoo Basin, Basin Voring dan untuk memperbaiki model pembentukan Lusi:

Disajikan contoh-contoh dari Karoo Basin (Afrika Selatan) dan Basin Vøring (offshore Norwegia) dan mendiskusikan bagaimana Lusi dapat digunakan untuk memperbaiki model pembentukan yang sebelumnya telah ada (discuss how Lusi can be used to refine existing formation models).

Membandingkan Lusi dengan sistem hidrotermal purba, sebagai wawasan baru Lusi berinteraksi dengan batuan beku dari busur magmatic.

Akhirnya, dengan membandingkan Lusi dengan sistem hidrotermal purba (by comparing Lusi to fossil hydrothermal systems).

Kita bisa mendapatkan wawasan baru tentang proses-proses yang beroperasi pada suatu kedalaman (get insight into the processes operating at depth).

Dimana sistem Lusi berinteraksi dengan batuan beku (where the Lusi system interacts with the igneous rocks) dari busur vulkanik yang berdekatan (the neighbouring volcanic arc).

Abstract

The Lusi eruption started in northeast Java, Indonesia, on May 29th 2006, and it has been erupting rocks, mud, water, and gas ever since.

We have been doing field work and research on Lusi ever since the eruption commenced. This work was initially motivated from studying the initiation of a mud volcano.

However, the longevity of the eruption has made it possible to describe and monitor the lifespan of this unique piercement structure.

One of the first-order questions regarding the eruption is how it should be classified and if there are any other modern or fossil analogues that can place Lusi in a relevant geological context.

During the initial stages of eruption, Lusi was classified as a mud volcano, but following geochemical studies the eruption did not show the typical CH4-dominated gas composition of other mud volcanoes and the temperature was also too high.

Moreover, mud volcano eruptions normally last a few days, but Lusi never stopped during the past decade. In particular, the crater fluid geochemistry suggests a connection to the neighboring volcanic complex. Lusi represent a sedimentary hosted hydrothermal system.

This opens up new possibilities for understanding fossil hydrothermal systems in sedimentary basins, such as hydrothermal vent complexes and breccia-pipes found in sedimentary basins affected by the formation of Large igneous provinces.

We will present examples from the Karoo Basin (South Africa) and the Vøring Basin (offshore Norway) and discuss how Lusi can be used to refine existing formation models.

Finally, by comparing Lusi to fossil hydrothermal systems we may get insight into the processes operating at depth where the Lusi system interacts with the igneous rocks of the neighbouring volcanic arc.

Lupi 2016: Dimanika Pemicu Lusi, di Cekungan Jawa Timur

Juni 23, 2017

 

Prasetyo, LUSI 10 TAHUN,  “Mengikuti Pertemuan EGU, April 2016 secara Imajiner”,
Dikontribusikan untuk Lusi Library:Knowledge Management

Pertemuan Tahunan 2016,  Persatuan Ilmu Kebumian Eropa

Dilaksanakan di Kota Vienna, Austria 17-22 April 2016

PILIHAN POSTER Matteo Lupi 2016

Dimanika Pemicu Lusi, di Cekungan Jawa Timur

Dynamic triggering of Lusi,  East Java Basin

Matteo Lupi (1), Erik H. Saenger (2), Florian Fuchs (3), and Steve Miller (4)

RINGKASAN PENTING

Pemahaman Umum Lusi: Induk sedimen sistem hidrotermal.

Semburan kawah utama (major eruption crater) disebut sebagai Lusi,  merepreperesantasikan ekspresi di permukaan (the surface expression) dari suatu  sedimen sebagai induk ystem hidrotermal yang baru lahir (a newborn sedimentary-hosted hydrothermal system).

 Gempabumi Yogakarta mengaktifkan kembali Patahan geser Watukosek, bersamaan keberadaan Lusi.

Data geologi dan geokimia sebelumnya (Previous geochemical and geological data), telah menunjukkan bahwa gempa Yogyakarta mungkin telah mengaktifkan kembali (the Yogyakarta earthquake may have reactivated),bagian dari sistem sesar Watukosek (parts of the Watukosek fault system). Merupakan suatu struktur sesar geser dimana Lusi berada (suggest a strike slip structure upon which Lusi resides).

Cairan biogenik dan termogenik karena sistem Watukosek menghubungan cekungan Jawa Timur dengan busur volkanik.

Sistem patahan Watukosek (The Watukosek fault systems) telah menghubungkan cekungan Jawa Timur, dengan  busur vulkanik (connects the East Java basin to the volcanic arc).

Dimana dapat menjelaskan keberadaan baik cairan jenis biogenik maupun termogenik (the presence of both biogenic and thermogenic fluids).

Studi perambatan gelombang seismik pada model struktur Lusi untuk mengukur efek dari energi seismik yang masuk ke Lusi:

Untuk mengukur efek dari energi seismik yang masuk di Lusi (the effects of incoming seismic energy at Lusi), telah dilakukan studi perambatan gelombang seismik (a seismic wave propagation study) pada model dari geologi struktur Lusi (a geological model of Lusi’s structure).

Formasi Kalibeng Atas dengan kecepatan geser yang rendah, disebabkan oleh peningkatan tekanan pori:

Fitur utama dari model yang dikembangkan adalah suatu zona dengan kecepatan geser yang rendah (a low velocity shear zone), yang berada pada Formasi Kalibeng (in the Kalibeng formation).

Disebabkan oleh adanya peningkatan tekanan pori (caused by elevated pore pressures), dimana hal ini sering diabaikan dalam penelitian lainnya.

Analisis pentingnya keseluruhan struktur geologi untuk memusatkan energi seismik.

Analisis yang dilakukan menyoroti pentingnya keseluruhan struktur geologi  (the importance of the overall geological structure), yang telah memusatkan energi seismik (that focused the seismic energy).

Selanjutnya menyebabkan peningkatan kecepatan regangan pada kedalaman (causing elevated strain rates at depth).

Perhatian khusus gelombang tubuh dari gempa Yogyakarta telah menginduksi pencairan dari Formasi Kalibeng:

Secara khusus, kami mengamati bahwa gelombang tubuh yang dihasilkan oleh gempa bumi Yogyakarta (body waves generated by the Yogyakarta earthquake),  mungkin telah menginduksi pencairan dari Formasi  Kalibeng (induced liquefaction of the Kalibeng formation).

Lumpur yang dicairkan diinjeksi dan diaktifkan kembali bagian dari sistem patahan Watukosek.

Akibatnya, lumpur yang sebelumnya dicairkan telah diinjeksi (the liquefied mud injected) dan diaktifkan kembali pada bagian dari sistem sesar Watukosek (reactivated parts of the Watukosek fault system).

Lusi merupakan kasus yang merugikan dari dinamika yang  pemicunya diawali oleh gempabumi Yogyakarta.

Temuan kami berada dalam kesepakatan dengan penelitian sebelumnya, yang menunjukkan bahwa Lusi adalah kasus yang merusak (Lusi was an unfortunate case).

Suatu dinamika pemicu yang dipromosikan  oleh  suatu gempa Yogyakarta (of dynamic triggering promoted by the Yogyakarta earthquake).

Karyono 2016: Pemantauan dan Karakterisasi aktivitas  gempa pada semburan lumpur Lusi

Juni 23, 2017

Prasetyo, LUSI 10 TAHUN,  “Mengikuti Pertemuan EGU, April 2016 secara Imajiner”, Dikontribusikan untuk Lusi Library:Knowledge Management

European Geosciences Union  General Assembly 2016
Vienna | Austria | 17–22 April 2016

PILIHAN POSTER Karyono 2016

Geophysical Research Abstracts Vol. 18, EGU2016-367-6, 2016

Pemantauan dan Karakterisasi aktivitas  gempa pada semburan lumpur Lusi

Monitoring and Characterizing the  Geysering and Seismic Activity at the Lusi Mud Eruption Site, East Java, Indonesia

Karyono Karyono (1,4,5), Anne Obermann (2), Adriano Mazzini (1), Matteo Lupi (3), Ildrem Syafri (4),

Abdurrokhim Abdurrokhim (4), Masturyono Masturyono (5), and Soffian Hadi

Abstrak

Pengenalan Lusi sebagai induk sedimen sistem hidrotrmal yang baru lahir.

Lusi adalah sedimen Induk sistem hidrotermal yang baru lahir,  ditandai dengan pelepasan terus menerus dari pencairan lumpur dan breksi dan aktivitas geyser.

Hubungan Lusi dengan sistem sesar geser Watukosek:

Lusi terletak pada sistem sesar Watukosek (Watukosek fault system), suatu sistem pergeseran lateral (a left lateral wrench system).

Dimana menghubungkan suatu busur vulkanik (connecting the volcanic arc)dan cekungan busur belakang (the bakarc basin).

 Data lapangan menunjukkan sesar Watukosek diaktifkan kembali:

Sistem sesar ini masih secara berkala diaktifkan kembali (this fault system is still periodically reactivated) seperti yang ditunjukkan oleh data lapangan.

Dalam rangka proyek Lusi Lab (ERC hibah n◦ 308.126) telah dilakukan lakukan beberapa jenis pemantauan.

 Berdasarkan pengamatan kamera, aktivitas semburan Lusi dikarakteristikkan dengan empat perilaku utama yang terjadi secara bersiklus (by four main behaviors occurring cyclically):

(1)         Aktivitas reguler,terdiri dari emisi yang konstan air dan breksi lumpur (the constant emission of water and mud breccias),  yaitu lumpur kental yang mengandung klastika lempung, lanau, pasir dan klastika lainnya.

Berasosiasi dengan keluarnya secara konstan gas yang disemburakan (associated with the constant expulsion of gas) terutama uap air dengan jumlah kecil lainnya dari CO2 dan CH4 (mainly aqueous vapor with minor amounts of CO2 and CH4).

(2)         Tahap Geyser, dengan intensitas bualan (Geysering phase with intense bubbling). Ditandai oleh berkurangnya emisi uap air (consisting in reduced vapor emission) dan  lebih kuatnya even ledakan (more powerful bursting events).

Tampaknya tidak memiliki pola yang teratur (do not seem to have a regular pattern).

(3)   Tahap Geyser, dengan  intensifnya semburan uap air (Geysering phase with intense vapor and degassing discharge).

Bersamaan dengan suatu aliran padu (a typically dense plume) yang berpropagasi sampai ketinggian 100 m (propagates up to 100 m height).

(4)         Fase Diam atau istirahat (Quiescent phase), sebagai tanda akhir dari aktivitas suatu siklus dari geyser (dan siklus yang diamati), dimana diamati tanpa adanya suatu emisi gas atau semburan.

Penyelidikan mekanisme pengendali perilaku semburan bersiklus Lusi, dengan stasiun seismometer dan kamera HD.

Untuk menyelidiki kemungkinan aktivitas seismik di bawah Lusi dan mekanisme yang mengendalikan perilaku bersiklus Lusi.

Telah dipasang suatu jaringan terdiri yang dari 5 stasiun seismik dan kamera HD di sekitar kawah Lusi.

Karakterisasi tipe gempa Lusi dan gempa regional gunungapi atau tektonik.

Kami mengkarakteristikkan jenis  dari aktivitas seismik  (We characterize the observed types of seismic activity)yang diamati. Baik sebagai tremor Lusi atau even gunung api atau tektonik (as tremor and volcano-tectonic events).

Perbedaan even tremor Lusi dan even gunung api atau tektonik:

Even tremor Lusi terjadi pada pita frekuensi 5-10 Hz (Lusi tremor events occur in 5-10 Hz frequency band).

Sedangkan even dari tektonik gunung api tektonik lebih banyak pada frekuensi tinggi (volcano tectonic events are abundant in the high frequencies) berkisar dari 5 Hz sampai 25 Hz.

 Integrasi pemantauan seismic dengan citra kamera HD.

Telah diintegrasikan pemantauan seismik dengan citra yang dikumpulkan dengan kamera HD (seismic monitoring with the images collected with the HD camera).

Untuk mempelajari korelasi antara tremor gempa (to study the correlation between the seismic tremor) dan fase yang berbeda, dari aktivitas dari semburan geyser (the different phases of the geysering activity).

Kata kunci:

Semburan lumpur Lusi, aktivitas geysering, aktivitas gempa.

ABSTRACT POSTER

 The Lusi eruption began on May 29, 2006 in the northeast of Java Island, Indonesia, and to date is still active.

Lusi is a newborn sedimentary-hosted hydrothermal system characterized by continuous expulsion of liquefied mud and breccias and geysering activity.

Lusi is located upon the Watukosek fault system, a left lateral wrench system connecting the volcanic arc and the bakarc basin. This fault system is still periodically reactivated as shown by field data.

In the framework of the Lusi Lab project (ERC grant n◦ 308126) we conducted several types of monitoring.

Based on camera observations, we characterized the Lusi erupting activity by four main behaviors occurring cyclically:

(1)  Regular activity, which consists in the constant emission of water and mud breccias (i.e. viscous mud containing clay, silt, sand and clasts) associated with the constant expulsion of gas (mainly aqueous vapor with minor amounts of CO2 and CH4).

(2)  Geysering phase with intense bubbling, consisting in reduced vapor emission and more powerful bursting events that do not seem to have a regular pattern.

(3)  Geysering phase with intense vapor and degassing discharge and a typically dense plume that propagates up to 100 m height.

(4)  Quiescent phase marking the end of the geysering activity (and the observed cycle) with no gas emissions or bursts observed.

To investigate the possible seismic activity beneath Lusi and the mechanisms controlling the Lusi pulsating behaviour, we deployed a network of 5 seismic stations and a HD camera around the Lusi crater.

We characterize the observed types of seismic activity as tremor and volcano-tectonic events.

Lusi tremor events occur in 5-10 Hz frequency band, while volcano tectonic events are abundant in the high frequencies range from 5 Hz until 25 Hz.

We coupled the seismic monitoring with the images collected with the HD camera to study the correlation between the seismic tremor and the different phases of the geysering activity.

Key words: Lusi mud eruption, geysering activity, seismic activity

Fallahi 2016: Jaringan seismik untuk menyelidiki  sedimen sebagai induk  sistem hidrotermal Lusi

Juni 23, 2017

European Geosciences Union  General Assembly 2016

Vienna | Austria | 17–22 April 2016

Dikontribusikan untuk Lusi Library:Knowledge Management

 Mohammad Javad Fallahi 2016

Geophysical Research Abstracts, Vol. 18, EGU2016-7525-1, 2016, EGU General Assembly 2016

Fallahi 2016:

Jaringan seismik untuk menyelidiki  sedimen sebagai induk  sistem hidrotermal Lusi

A seismic network to investigate the sedimentary hosted hydrothermal Lusi system

Mohammad Javad Fallahi (1), Adriano Mazzini (1), Matteo Lupi (2), Anne Obermann (3), Karyono Karyono (4)

POKOK-POKOK BAHASAN

Awal Lusi sebagai sedimen induk sistem hidrotermal.

29 Mei 2006 ditandai sebagai awal dari fenomena Lusi sebagai sedimen induk suatu sistem  hidrotermal (the beginning of the sedimentary hosted hydrothermal Lusi system).

Perubahan perilaku sistem Lusi selama 10 tahun.

Selama 10 tahun terakhir ini dapat diamati terjadinya banyak perubahan dari perilaku sistem Lusi (numerous alterations of the Lusi system behavior).

Yang diidentifikasinya berbarengan  dengan aktivitas seismik dan gunung api (coincide with the frequent seismic and volcanic activity), yang sering terjadi di wilayah ini (occurring in the region).

Pemantauan pengaruh aktivitas kegembaan dan aktivitas busur volkanik terhadap Lusi.

Untuk memantau pengaruh dari aktivitas kegempaan dan aktivitas busur vulkanik (the effect that the seismicity and the activity) terhadap Lusi of the volcanic arc have on Lusi).

Telah dipasang suatu jaringan sementara seismik.

Kerangka Jaringan sementara seismik: Arjuno-Welirang, Sesar Watukosek, Lusi.

Jaringan sementara ini terdiri dari 10 “broadband” dan 21 stasiun dengan periode waktu singkat (10 broadband and 21 short period stations).

Dimana sejak Januari 2015 telah dioperasikan di sekitar komplek vulkanik Arjuno-Welirang (currently operating around the Arjuno-Welirang volcanic complex).

Disepanjang sistem sesar Watukosek (along the Watukosek fault system), dan sekitar Lusi(around Lusi), di cekungan Jawa Timur (in the East Java basin).

Data set untuk menyelidikan struktur kecepatan gelombang seismik kerak bagian atas di bawah komplek Arjuno-Welirang-Lusi:

Telah dimanfaatkan dataset ini untuk menyelidiki struktur kecepatan dari gelombang permukaan dan gelombang geser (investigate surface wave and shear wave velocity structure).

Dari kerak bagian atas  (the uppe crust), di bawah komplek Arjuno-Welirang-Lusi. Dalam rangka proyek Lusi Lab (ERC hibah n◦ 308.126).

Gelombang-gelombang Rayleigh dan love (Rayleigh and Love waves)merambat diantara setiap pasangan stasiun  (travelling between each station-pair), telah diekstrasi  dengan  korelasi silang  seri waktu lama (extracted by cross-correlating long time series).

Dari data ambient noise yang direkam pada stasiun-stasiun pengamatan (of ambient noise data recorded at the stations).

Analisis dan evaluasi data.

Kelompok dan kurva-kurva fase dari kecepatan dispersi yang diperoleh (Group and phase velocity dispersion curves are obtained) dengan analisis waktu-frekuensi fungsi korelasi silang (by time-frequency analysis of cross-correlation functions).

Inversi Tomografi.

Sedangkan inversi tomogragrafi (tomographically inverted) untuk menyediakan peta kecepatan 2D (to provide 2D velocity maps) yang sesuai dengan kedalaman pengambilan contoh yang berbeda (corresponding to different sampling depths).

Keluaran struktur kecepatan gelombang geser 3D.

Struktur kecepatan gelombang geser 3D (3D shear wave velocity structure), kemudian diakuisisi dengan menginversi peta-peta kecepatan kelompok (is then acquired by inverting the group velocity maps).

Abstract

The 29th of May 2006 marked the beginning of the sedimentary hosted hydrothermal Lusi system.

During the last 10 years we witnessed numerous alterations of the Lusi system behavior that coincide with the frequent seismic and volcanic activity occurring in the region.

In order to monitor the effect that the seismicity and the activity of the volcanic arc have on Lusi, we deployed a ad hoc seismic network.

This temporary network consist of 10 broadband and 21 short period stations and is currently operating around the Arjuno-Welirang volcanic complex, along the Watukosek fault system and around Lusi, in the East Java basin since January 2015.

We exploit this dataset to investigate surface wave and shear wave velocity structure of the upper- crust beneath the Arjuno-Welirang-Lusi complex in the framework of the Lusi Lab project (ERC grant n◦ 308126).

Rayleigh and Love waves travelling between each station-pair are extracted by cross-correlating long time series of ambient noise data recorded at the stations.

Group and phase velocity dispersion curves are obtained by time-frequency analysis of cross-correlation functions, and are tomographically inverted to provide 2D velocity maps corresponding to different sampling depths.

3D shear wave velocity structure is then acquired by inverting the group velocity map

MEMAKNAI POSTUR SEMBURAN GYSER LUSI SULUNG (2006) – BUNGSU (2010)

Juni 23, 2017

MEMAKNAI POSTUR
SEMBURAN GYSER LUSI DUA TITIK, SULUNG (2006) DAN BUNGSU (2010)

Ikut mendukung dilaksanakannya Pertemuan Bersama di Malang 2017, dengan rencana kunjungan ke Lusi. Poster dari Rovicky.Com “Dongeng Geologi”

BERDASARKAN CITRA  GOOGLE EARTH TERBARU
YANG TERSEDIA UNTUK PUBLIK
TANGGAL  PENGAMBILAN 22 JANUARI 2016
Dikontribusikan Oleh: Dr. Hardi Prasetyo
Plt. Kepala BPLS

Mudah-mudahan dapat dimanfaatkan bersama untuk membangun Kebersamaan, dalam melakukan Studi Kebumian di Wilayah Kerja BPLS.

Khususnya memaknai Postur dan Perilaku Semburan Lusi Sulung dan Bungsu yang sudah menjadi permanen.

ALBUM CITRA SATELIT BERBAGAI TAMPILAN POSTUR SEMBURAN LUSI:

BERHASIL MENJELAJAH PUNGGUNGAN AKRASI SIRING  11 SEPTEMBER 2016

Juni 23, 2017

Ikut mendukung dilaksanakannya Pertemuan Bersama di Malang 2017, dengan rencana kunjungan ke Lusi. Poster dari Rovicky.Com “Dongeng Geologi”

BERHASIL MENJELAJAH PUNGGUNGAN AKRASI SIRING 11 SEPTEMBER 2016

Dikontribusikan Oleh: Dr. Hardi Prasetyo
Plt. Kepala BPLS
Didukung Tim Lapangan:
Tomy, Ardhi, Adang, Budhi, Chandra dan Chandra
Lintasan 11 September 2016, dari Pos Aju Tenda (Utara Lusi), berakhir di Dome (Selatan Lusi).
Zona Punggungan Akrasi Siring di Barat Lusi Bungsu (8 April 2010).
Pada 11 September 2016, berhasil dijelajahi Punggungan Akrasi di bagian tengah, sampai menjorok ke timur. Perhatikan kemas pita halus membusur merupakan perselingan Punggungan dan Palung Sempit.
Tradisi Merah Putih di LUSI

 

 

 

Bendera di Utara batas Prisma Akrasi ditancapkan 29 Agustus 2016
DENGAN SEPEDA ONTEL BERHASIL MENJELAJAH PUNGGUNGAN AKRASI LEBIH KEARAH TIMUR ATAU MENDEKATI PUSAT SEMBURAN LUSI BUNGSU

 

 

 

 

SAMPAI DI LOKASI TENGAH PUNGGUNAN AKRASI
DITANCAPKAN BENDERA MERAH PUTIH

 

 

 

Punggungan Akrasi Siring/Bungsu terdiri dari seri Punggungan sempit diserlingi depresi Palung Sempit dimana menjebak air.
Di batas paling timur adalah Depresi-Palung diisi air, dengan pintu ke luar di utara.

 

Ditimurnya adalah Kawah Luar Lusi Bungsu berwana hitam disusun Oleh muntahan lumpur pekat berasosiasi dengan Mud Kick atau Mud Flower Struktur.

 

 

 

 

 

Saatnya Pulang, Meninggalkan Bendera Merah Putih di Punggungan Akrasi Siring. Rencana akan dikunjungi kembali Minggu Depan.

 

 

Bendera Merah Putih yang telah ditempatkan di tengah Punggungan Akrasi, dilihat dari batas Punggungan Akrasi di sebelah barat.