LINTASAN MONEV LUSI PASCA GEMPA JABAR: 17 DES. 2017

Desember 16, 2017

SAPTU 17 DESEMBER 2017, DIAWALI DENGAN PEMANASAN LATIHAN TENIS DI GOR SIDOARJO, LANJUT MONEV GEYSER LUSI PASCA TERJADINYA GEMPA JABAR,

Slide1

DENGAN OBYEK UTAMA POSTUR DAN PERILAKU GEYSER OBYET TAMBAHAN SAAT MENUJU LOKASI DAN PASCA SAAT EVALUASI HASIL FOTO DRONE DAN KAMERA DI DEKAT LUSI:

Slide2

  1. Kemajuan Konstruksi Jalan Tol Ruas Porong-Gempol, merupakan suatu kesatuan utuh Grand Design Relokasi Infrastruktur yang ditetapkan tahun 2007, dan Jalan Tol baru dapat melaksanakan konstruksi pada tahun 2017. Sedangkan Rel Kreta Api yang rencana awal akan menentukan jalur sendiri di sisi barat Trase Relokasi, sehingga mengalami perlambatan. Informasi terakhir dari Kementrian Perhubungan rencana hijrah atau relokasi dari lintasan di dalam Peta Daerah Bahaya (2013) ke lokasi baru pada tahun 2020?

Slide3

Slide4

  1. Memantau pasca serangan pertama di awal Musim Hujan Banjir Puthul, dimana rel Kreta telah terus dinaikkan, namun untuk aspak keamanan sisi barat dibangun “counter weight” dengan konstruksi bronjong. Tadi padi dicek ulang lokasi teralam di depan Pompa Barata, deposenter mencapai 2m. Catatan fenomena banjir Puthul, telah didiskusikan pada Seminar Bencana Geologi dai Geology Society London (GSL) dengan penekanan terjadi “tilting” sisi barat Tanggung Siring kearah pusat semburan (timur).

Slide5

Slide9

  1. Sebelum masuk ke P 34 memaknai dan memantau rasio keberhasilan prototipe Hutanisasi Kota, yaitu Biodiversity Hutan Sengon dengan Kolam Ikan. Sebagai suatu wujud nyata Penataan wilayah di luar PAT, saat itu hasilnya sudah mulai dapat dilihat. Sehingga paradigma Dari Bencana Ke Manfaat hutanisasi kota di Bencana Lusi akan mengkontribusikan peningkatan pengurangan Risiko Pengurangan Dampak Iklim Global (greenhouse gas reduction). Karena kencenderungan umum yang terjadi adalah wilayah hutan-kebon-sawah beralih penggunaan menjadi wilayah permukiman/Industri.

 

  1. Memantau keunikan Semburan Geyer Lusi dari Drone dan tandem kamera di bawah memperlihatkan adanya keunikan: Semburan menjadi maksimum 4, ada perilaku semburan yang unik seperti tembusan cerobong tinggi, disepakati oleh 4 Saksi Geyser Bungsu mengalami masa istirahat atau dormance selama ~ 23 menit. Nanun keunikan pola perilaku semburan tidak disertai dengan peningakatan intensitas kecepatan semburan, dimana ditandai dengan adanya limpasan (banjir bandang) sebagaimana halnya pasca Gempa Pacitan yang dapat direkam dengan baik September 2016.

Slide11

Slide16

  1. Luar biasa hasil penataan lingkungan di PAT yaitu Pohon Cemara Udang di Anjungan, merupakan contoh pemberdayaan secara sukarela, pegawai BPLS gotong royong mengambil bibit cemara, menyemaikan bibit, menanam sampai tumbuh luar biasa, bahkan telah menjadi bagian Bioheritage mendukung usulan Geopark bersama Bakau di Pulau Lusi dan Hutan Sengon di Greenhouse?

Slide24

  1. Mengamati karakeristik Kali Porong dimana pada puncak musim hujan aliran bisa mencapai 1500m3/hari, bersamaan dilakukan pengaliran Lusi dari Pond Reno ke sisi timur Jembatan Tol Lama.

Slide28

 

ALBUM FOTO:

Slide1Slide6Slide7Slide8Slide10Slide11Slide12Slide13Slide14Slide15Slide16Slide17Slide18Slide19Slide20Slide21Slide22Slide23Slide24Slide25Slide26Slide27

2015: Memecahkan Rekor Dunia MURI Mengelilingi Struktur Kaldera LUSI

Desember 14, 2017

Sambil Mengasuh LUSI, Berhasil Memecahkan Rekor Dunia MURI Mengelilingi Struktur Kaldera

Slide2

Slide8

13 JUNI 2015, BERHASIL MENGELILINGI KALDERA LUSI SECARA LENGKAP DENGAN SEPEDA ONTEL

Dikontribusikan Oleh: Prof. Dr. Hardi Prasetyo, Wakil Kepala BPLS

Didukung oleh Tim Lapangan: Adang, Chandra dan Adi Bravo

Slide1

Testimoni Resume Sambil Mengasuh berhasil memecahkan                             Rekor mengeliling kawah Lusi

Slide3

  • LOKASI START DAN FINISH DI ZONA KALDERA SIRING, BARAT;
  • Lesehan di Kaldera Reno, Timur Lusi, sambil beristirahat juga mengamati fenomena semburan geyser dua titik diawali dengan tendangan lumpur (mud kick), diikuti aliran air-lumpur panas mengalir deras menuju hulu Kali Reno  yang masih mempunyai gradien topografi;
  • Pesona Panorama Spektakuler di Kaldera Lusi bagian timurlaut, atau Zona Glagah, walaupun struktur patahan kaldera tidak intensif;
  • Aliran deras di Kaldera Reno selatan, karena mempunyai gradien topografi. Sungai mengerosi lumpur tebal, menimbulkan longsoran kearah aliran sungai;
  • Dapat melihat proses semburan, mud kick, aliran lumpur yang mengalir ke hulu kali Reno Selatan;
  • Bukan main, berhadapan sangat dekat dengan aliran di Tenggara Lusi;
  • Trik dan Tip Menyebrangi Kali terbesar di P 43 dengan aliran lumpur panas dengan sepeda ontel;
  • Seperti apa deformasi Patahan Kaldera di Zona Dome, yang dinilai berkembang paling intensif. Bila dibandingkan dengan tahun 2014;
  • Trik dan Tip Sebrangi Kali gunakan Bike to Work Lusi (B2WL), pada sungai yang lebar;
  • Sebrangi Kanal buatan di utara Dome, juga termasuk yang paling sulit;
  • Postur Zona Segitaga Jatirejo (Jatirejo Triangle), terletak di pertemuan Zona Siring (utara-selatan) dan Zona Dome (Timur-Barat);
  • Sungai ke tiga belas yang harus disebrangi, tenaga terakhir sebelum sampai di Tujuan Finish-Strart di Kaldera Siring;
  • Gryphons mungkin belum ada duanya di dunia. Tumpang susun Gunung magmatik di baratdaya, Geyser Lusi dengan 2 titik semburan, Aliran Lumpur di Kawah dalam, Struktur Patahan Kaldera dan Gryphons di timurlaut;
  • Resume karakteristik Kaldera Lusi melingkar, dapat dbagi menjadi 6 Zona.

Zona Siring di barat Lusi diberi warna Merah, karena bila berlanjut dapat memberikan implikasi terhadap daya dukung Tanggul Barat, relevan dengan Pengukuran GPS Mei 2015.

Pendukung 1:

Slide2

FAKTA LAPANGAN, PEMBENTUKAN STRUKTUR KALDERA LUPSI MELINGKAR  di sisi barat Lusi

5 Juni 2015

SINOPSIS PROSES PEMBENTUKAN KALDERA LUSI

Slide4

Lintasan Jelajah dilakukan titik awal dari zona Ketapang, melalui Jebolan P73, Sodetan  dan Kanal P69, menyusuri Kali P69 sampai di batas Kaldera zona Osaka.

Saat masuk ke Zona di sekitar Kaldera Lusi, sangat banyak ditemui gryphons berbagai variasi.

Pengamatan lebih rinci memperlihatkan, banyak dari gryphpon yang berkembang mengikuti arah struktur Patahan Kaldera Radial.
Pengamatan dan Evaluasi Citra Google Earth diambil Januari 2015 menunjukkan bahwa struktur Danau atau Palung Siring (daerah depresi) dibatasi oleh pasangan Patahan dengan arah “Patahan Watukosek” (Utara – Selatan).

Efek “crop circle” dari Kaldera Lusi dari jelajah mengelilingi Kawah Lusi telah menunjukkan bahwa struktur Patahan Kaldera Melingkar. telah temu telang (lingkaran tertutup).

Degan variasi dari kedalaman bidang Patahan Kaldera dan jauhnya propagasi kearah luar dari batas bidang Patahan Kaldera terdepan.

PETA CITRA LOKASI LINTASAN KETAPANG-KALDERA SIRING

Slide5

Postur Struktur Kaldera di zona Osaka (baratlaut) dan Siring (barat) Lusi mud volcano, Sketsa Patahan Kaldera Siring dan membentuk Palung Siring dibatasi oleh Patahan dengan arah “Watukosek”.

Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian:

  1. Apakah implikasi pembentukan kaldera terhadap intensitas semburan dan kecepatan amblesan?
  2. Bila bidang patahan cukup dalam, apakah bidang lemah ini bisa berperan sebagai media untuk semburan bubble atau gryphon;
  3. Ekspansi Kaldera di zona Siring memperlihatkan cukup progresif, sehingga terus dipantau, dampaknya terhadap keamanan tanggul timur;
  4. Kali-kali utama di sisi barat yaitu P69, Osaka, Karka, Barata, Siring dan Jatirejo umumnya hulunya telah mati, karena mulut hulu kali telah mengalami amblesan.

Aliran dapat atau akan terjadi bila intensitas muntahan air dari Kawah Lusi cukup signifikan atau ada masukan dari Hujan ekstrim.

Slide6 Sepeda ditempatkan pada Bidang Patahan Kaldera, dengan arah memanjang utara-selatan.

Bike to work Lusi:

Digunakan sebagai alat transportasi di Gunung Lusi pada musim kering, dan alat untuk keamanan (safety) saat menyebrangi sungai atau melalui lumpur yang lunak, juga sebagai penunjuk arah dari suatu situs alam tertentu.

Slide4

Fenomena Khusus di Kaldera Utara-Barat adalah berlimpahnya berkembang Greyphons, baik kedapatannya secara individu atau dengan pola atau kelurusan terkait dengan struktur Patahan Radial.

Karakteristik Kaldera di Zona Osaka dan Siring

Slide7

Geyser Lusi dan Palung Siring memanjang utara-selatan.

Himpunan Gryphons terutama di Zona Osaka (baratlaut)

Slide8

Persandingan antara Gryphons dengan semburan Geyser Lusi di Zona Siring

Slide9

Pada musim kering, Juni 2015, telah berkembang berbagai karekter dari gryphon, terutama di Zona Osaka. Juga berkembang di dalam komplek Patahan Kaldera.

FAKTA LAPANGAN, PEMBENTUKAN STRUKTUR KALDERA LUPSI MELINGKAR

Slide11

Implikasi dari Struktur Kaldera Lusi melingkar

Dikontribusikan Oleh: Dr. Hardi Prasetyo

Dalam Rangka Evalusi Risiko GeoHazard,

Slide12

 Sketsa “line drawing” memperlihatkan bidang patahan Kaldera radial di zona Dome, dengan sudut miring ke arah dalam (inboard caldera fault dipping). Saat ini telah dilakukan pengamatan yang intensif, dengan alat deteksi pergerakan yang sederhana.

Slide13

Warna Merah adalah Patahan Kaldera di bagian depan (Deformation front), pada Zona Dome. Bagian dalam atau utara sudah mengalami penenggelaman. Mengindikasikan perkembangan Patahan Kaldera Lusi saat ini jauh lebih signifikan daripada even Kaldera Agustus 2014.

Slide14

ALBUM FOTO DENGAN PLOT GPS:

Slide15

 Dinamika baru, melimpahnya Rembesan seperti gryphon di Zna Siring (baratLusi), pasca berkembangnya Patahan Kaldera melingkar.

Berdiri di atas hamparan lumpur padu yang berada diantara dua bidang Patahan. Semburan Lusi dua titik yang kecil di utara pada Citra Google Earth memperlihatkan sebagai lokasi Semburan pada tahun 2014 (Agustus 2014).

Pada Danau atau Palung Siring di sisi barat dari Punggungan Kawah Luar (warna kehitaman) di utara (warna kebiruan) adalah air, sedangkan di selatannya warna keputihan adalah lumpur halus yang dapat diamati disisi bidang Patahan terdepan.

Slide16

Sepeda ditempatkan pada bidang patahan, Zona Siring selatan. Perhatikan batas antara lumpur di selatan dan air di utara yang mengisi Palung atau Danau Siring.

Slide17

 5 bidang patahan, di transisi Zona Siring tengah-utara

Slide18

Sepeda ditempatkan pada bidang patahan Kaldera, yang mengalami kompresif adanya pangangkatan lumpur padau, di transisi Zona Siring utara, Palung Siring diisi oleh air dingin.

Slide19

Hulu Kali Jatirejo di transisi Zona Siring-Jatirejo, alirannya mati

Slide20

Slide21

Slide22

SINOPSIS PERULANGAN EVEN PEMBENTUKAN STRUKTUR PATAHAN KALDERA MELINGKAR DAN BANJIR BANDANG LUMPUR PEKAT 2014-2016

Slide19

Even Banjir Bandang Lumpur Padu, Dahsyat Regional 5 Oktober 2014, terutama di timur dan selatan Lusi. Diidentifikasikan terutama dikontribusikan oleh Geyser Sulung.

Sebelum terjadi Banjir Bandang even TNI 5 Oktober 2014, pada Agustus 2014 bersamaan pemasangan Bendera Merah Putih diindikasikan terjadinya even Pembentukan struktur Patahan Kaldera Melingkat dengan slip maksimum 1 m di Zona Turis Nirwana, bagian timur. Pada lokasi maksimun depresi ini, saat even banjir bandang 5 Oktober, sebagai Pintu Keluar limpasan lumpur membentuk pola kipas yang paling jauh ke selatan, dan dapat dilihat dari Citra Helikopter.

157fd-slide3

Sebelum terjadi Banjir Bandang even TNI 5 Oktober 2014, pada Agustus 2014 bersamaan pemasangan Bendera Merah Putih diindikasikan terjadinya even Pembentukan struktur Patahan Kaldera Melingkat dengan slip maksimum 1 m di Zona Turis Nirwana, bagian timur. Pada lokasi maksimun depresi ini, saat even banjir bandang 5 Oktober, sebagai Pintu Keluar limpasan lumpur membentuk pola kipas yang paling jauh ke selatan, dan dapat dilihat dari Citra Helikopter.

79ff6-slide13

Januari 2015 Jebol Tanggul P73, limpasan lumpur panas terutama dari Geyser Bungsu. Sebelumnya September 2015 Lusi Panas melimpas melalui Celah P68 T berasal dari Kali Hawai (perpotongan Geyser Sulung dan Bungsu).

b13c6-slide30

Slide08

Mei 2015, Depresi Kaldera Siring diisi air dari Bungsu membentuk Danau Siring

 

 

8 tahun dari 10 Tahun Mengasuh LUSI yang unik, kontroversi, perhatian dunia

Desember 13, 2017
Dokumen Ini Dalam Konstriksi akan dimodifikasi: HP
ELECTRONIC BOOK LUSI MUD VOLCANO
Bagian dari Paradigma Baru Penanggulangan Bencana Kebumian Lusi dibarengi dengan Pemanfaatan dalam arti yang luas

8 TAHUN DARI 10 TAHUN MENEMANI LUSI:

EDISI KHUSUS 8 APRIL DAN 29 MEI 2015

Slide8

Dikontribusikan Oleh: Prof. Dr. Hardi Prasetyo
Waka BPLS
Slide9
Pelaku Sejarah Antara Lain: Penyusunan Perpres 14/2007, Mewakili BPLS/Pemerintah pada 2 Kali Uji Materi UU APBN 2012 dan 2013 di Mahkamah Konstitusi. Inisiator Simposium Internasional Lusi untuk merubah Paradigma dari Kontroversi menjadi Kebersamaan Mencari Solusi yang Holistik. Dll.
LULIB-1

Pola Pikir “Peningkatan Penyelamatan Penduduk, Penanganan masalah sosial kemasyarakatan dan Infrastruktur di daerah BENCANA Kebumian Lumpur Sidoarjo”

 
Pola Pikir Penanggulangan Lusi (2007) dengan  pendekatan Komprehensif, Intergral dan Holistik:
Terdiri dari:
Kondisi Umum, Isu Aktual/Kritis, Paradigma Kebijakan (Payung Hukum), Kondisi yang diharapkan, Lingkungan Strategis serta Peluang dan Kendala, Keluaran dan Outcome.
Peningkatan Penyelamatan Penduduk, Penanganan masalah sosial kemasyarakatan, di daerah Bencana Lumpur Sidoarjo.
Pengendali mekanisme Bencana Lumpur Sidoarjo:
  1. Semburan, dan Luapan Lumpur yang luar biasa mejadikan Lusi sebagai suatu mud volcano terbesar di dunia.
  1. Dalam waktu singkat wilayah disekitar semburan Lusi tergenang, dikelompokkan menjadi Wilayah Terdampak Desember 2006 dan PAT 22 Maret 2007.
  1. Memberikan dampak Langsung:
  1. Sosial–ekonomi:
  1. Infrastruktur:
  1. Penanggulangan Lusi saat itu:
  1. Paradigma Kebijakan:
  1. Kondisi yang diharapkan saat itu:
  1. Keluaran:
  1. Outcome: Sendi-sendi kehidupan warga dapat dipulihkan dari dampak Bencana Lusi. Bencana Lusi dipicu semburan-luapan-geohazard-lingkungan yang dapat berlangsung lama dapat dikelola dan diantisipasi secara optimal.
Serta pengendali Deformasi dan Geohazard sebagai dampak berganda yang ditimbulkanNya;
Sehingga terjadi pengungsian besar-besaran, yang  salah satunya di Pasar Porong Baru (PPB);
Kerugian harta benda,  Hilang rumah tinggal, Terjadi Pengungsian, Hilangnya masa depan, Pengangguran meningkat, Roda Perekonomian;
Jalan tol, Jaringan gas alam, Jaringan SUTET lumpuh total.
Semburan lumpur masih berlangsung dengan dahsyat, upaya penanggulangan langsung semburan telah dilakukan antara lain melalui metoda 2 Relief Well untuk menghentikan semburan (mematikan), dilanjutkan dengan Insersi bola-bola beton, untuk memperkecil intensitas semburan Lusi.
Deformasi amblesan berlangsung spektakuler dengan intensitas 4cm/hari di sekitar Pusat Semburan.
Patahan, retakan, dan bervariasi bubble dengan paparan gas metan, memberikan dampak pada lingkungan fisik dan hayati.
Terutama Perpres 14/2007 tentang BPLS, suatu Institusi pada domain “Penanggulangan Bencana” ditimbulkan oleh semburan lumpur panas di Sidoarjo, dimana masa bakti pada misi penanggulangan Lusi tidak ditentukan batas waktunya.
Demikian pula bersamaan dengan Perpres 14/2007 dikeluarkan Keputusan Presiden tentang pengangkatan Pimpinan Bapel BPLS (Ketua, Wakil, Sesba dan 3 Deputi) yang tidak ditentukan batas waktu akhir eksistensinya.
BPLS merupakan kelanjutan dari Timnas PSLS, sebagai institusi pertama ditingkat Nasional yang diberi mandat penugasan selama 6 bulan di tambah 1 bulan.
Timnas PSLS diberi batas waktu 6 bulan, dan Wakil Ketua diisi Dirjen Migas KESDM dan Kepala BP Migas  (Sektor Migas ESDM) mengindikasikan persepsi atau wacana yang berkembang saat itu, bahwa semburan Lusi mud volcano sebagai pengendali Bencana Lusi ada kaitan dengan kegiatan Eksplorasi gas alam melalui Prospek Sumur Banjar-Panji-1.
Sesuai dengan tujuan dari misi nasional penanggulangan Lusi adalah:
1) Warga terdampak dapat diselamatkan dari dampak langsung semburan, luapan dan dampak bergenda deformasi/geohazard;
2) Kondisi sendi-sendi kehidupan warga dapat dinormalisasikan dan dipulihkan, menuju pada kehidupan baru; dan
3) Infrastruktur yang mengalami kerusakan akibat semburan dan luapan lumpur serta geohazard/deformasi dapat dipulihkan melalui digulirkannya relokasi infrastruktur pada trase yang telah dipsersiapkan di sisi barat dari Lusi;
1) Semburan Lusi sebagai suatu mud volcano dapat dikelola dan diikuti perilakunya sesuai kaidah umum, semburan Lusi yang luar biasa dahsyatnya pada tahun-tahun pertama, akan berada pada peta perjalanan semburan mengalami perubahan mendasar menuju tahap menuju tahap “dormant”;
2) Luapan lumpur dapat diharmonisasikan dengan daya tampung dan daya dukungnya, sehingga berada pada kondisi aman;
3) Geohazard dan Deformasi amblesan dapat ditangani, dan dipantau dinamikanya, sejalan dengan adanya penurunan intensitas dari semburan dan luapan lumpur;
4) Dampak sosial kemasyarakatan dapat dituntaskan sesuai dengan mekanisme Jual – Beli tanah dan bangunan warga sebagaimana Pasal 15, Perpres14/2007;
5) Relokasi infrastruktur dapat direalisikan, pada trase Infrastruktur di sisi barat Lusi.

TITIK BALIK PERUBAHAN MENDASAR DAN THE GOLDEN TIME 2015: MEKANISME DANA ANTISIPASI

Isu Aktual Awal 2015, terutama Penanganan Masalah Sosial di dalam PAT, pasca Uji Materi UU APBN 2013 di MK dan Terbentuknya Pemerintahan Baru “Kabinet Kerja”.
Pada 28 Desember 2014 Menteri PUPR selaku Ketua Dewan Pengarah BPLS telah mengumumkan ke Publik digulirkannya “DANA ANTISIPASI” melalui mekanisme APBNP 2015. Sebagai salah satu Kebijakan Pemerintah untuk menuntaskan Masalah Mendasar Sosial Kemasyarakatan di dalam PAT 22 Maret 2007.
Sekaligus sebagai Komitmen Pemerintah MEMAKNAI Amar Keputusan Uji Materi UU APBN 2013. Disamping itu Menteri Ketua Dewan Pengarah BPLS menyampaikan arahan ke depan Lusi menjadi GeoPark dengan Situs Unggulan SEMBURAN BERSIKLUS GEYSER LUSI, yang disebutnya mempunyai analogi dengan Semburan Geyser di Yellow Stone National Park, USA.
Isu Aktual Awal 2015, terutama Penanganan Masalah Sosial di dalam PAT, pasca Uji Materi UU APBN 2013 di MK dan Terbentuknya Pemerintahan Baru “Kabinet Kerja”
Resume Isu Aktual 2015:
  • Sejak terjadinya Bencana Kebumian Lusi tahun 2006, telah berkembang Gejolak Sosial Kemasyarakatan (GSK)  yang bergerak secara perlahan, merayap, baik di dalam PAT, di luar PAT, dan di luar PAT Lainnya.
  • Timnas pada 5 Desember 2006 telah menentukan Peta Area Terdampak (PAT) diberi  kode PAT-1 dimana telah terjadi kesepakatan (Timnas PSLS, Pemda Sidoarjo dan Warga terdampak) terhadap pola penanganan masalah sosial kemasyarakatan melalui skema jual-beli tanah dan bangunan warga dengan skema uang muka 20% dan tahap pelunasan 80%, dengan menetapkan harga khusus (sawah = Rp. 120.000/m3, tanah kering = Rp 1 juta per m2, dan bangunan = Rp 1,5 juta/m2).
  • Skema “Cash and Carry” tersebut juga diawali dengan pemberian bantuan sosial kemasyarakatan (Bansos) terdiri dari : 1) Uang Evakuasi, menuju ke pengungsian sementara, 2) Jaminan hidup selama 6 bulan di pengungsian, dan 3) Uang kontrak selama 2 tahun.
  • Pasca terjadi ledakan pipa gas diawali dengan amblesan yang menyebabkan tanggul jebol, sehingga PAT-1 telah meluas ke utara, ke kawasan PerumTAS (selanjutnya PAT-2).
Sehingga menimbulkan implikasi yang luas yaitu Gejolak Sosial Kemasyarakatan, dimana warga PerumTAS menuntut untuk diperlakukan sama dengan warga PAT-1 dikenal dengan Wilayah Siring dan Renokenongo.
  • 22 Maret 2007, Timnas PSLS bersama jajaran Pemda Sidoarjo (Desa-Kelurahan-Kecamatan) telah menuntaskan untuk menyatukan wilayah PAT-1 (Selatan) dan PAT-2 (Utara) menjadi suatu kesatuan PAT-3 yang selanjutnya ditetapkan sebagai PAT 22 Maret 2007.
Pada hakekatnya PAT mengandung makna sebagai batas-batas terluar dari suatu poligon tertutup, dimana Lapindo bertanggung jawab menangani dampak sosial kemasyarakatan melalui skema “Cash and Carry” sebagaimana yang telah disepakati diberlakukan pada PAT-1 (Desember 2006);
  • 8 April 2007,  Tugas Timnas PSLS berakhir, selanjutnya dilanjutan oleh Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) melalui Perpres 14/2007 tentang BPLS.
Peta Area Terdampak 22 Maret 2007 (PAT) ditempatkan sebagai lampiran sesuai dengan Pasal 15 d, Perpres 14/2007. Pada Pasal 15 Perpres 14/2007 juga ditetapkan bahwa PT Lapindo menangani masalah sosial kemasyarakatan melalui Jual Beli Tanah dan Bangunan milik warga terdampak di dalam PAT skema uang muka 20% dan tahap akhir 80%, sebagaimana yang diberlakukan pada PAT-1.
  • Percepatan Tahap 20%: Presiden RI tahun 2007, telah memberikan arah kebijakan agar dapat dilakukan Percepatan Pembayaratan tahap 20%,menjelang Lebaran 2007 dengan target sejumlah 10.000 berkas warga dapat dituntaskan. Untuk itu BPLS telah membentuk Tim Verifikasi terhadap berkas warga  yang terdiri dari beberapa instansi terkait antara lain: BPN, Kepolisian, Kejaksaan, Pemda Sidoarjo. Pada tahap Percepatan Penyelesaian Pembayaran 20%, berkembang penentuan aset warga (luas, aspek legal, sebelumnya Pethok C dan Letter D) dengan mekanisme “Sumpah Pocong” yang difasilitasikan oleh Tokoh Agama “Cak Nun”.
  • Dalam perjalanan waktu sejak tahun 2008 terindikasikan PT Lapindo mengalami kesusilan finansial: Dalam menuntaskan penangan Sosmas di dalam PAT telah terjadi modifikasi skema jual beli tanah dan bangunan, yaitu : 1) Cash and Resettlement (CR), dimana prinsipnya setelah uang muka 20% dibayarkan, maka sisanya 80% diganti dengan aset rumah jadi yang berada di Komplek Perumahan KNV (Komplek Nirwana   Kahuripan); 2) “Cash and Carry-Cicilan”, yaitu peserta Cash and Carry yang telah menerima tahap 20%, sisa pembayaran tahap 80% dilakukan pencicilan dengan besaran yang umumnya sesuai kesepakatan (misalnya Rp 15 juta per berkas/bulan).
  • Tahun 2009, mendapatkan suntikan pijaman dana  dari BRI: Atas kesulitan keuangan yang dialami PT Lapindo, BPLS dan instansi terkait mendukung PT Lapindo dalam mendapatkan suntikan pinjaman keuangan secara komersiil dari BRI sebesar Rp 1,3 T, untuk melanjutkan pelaksanaan pembayaran jual beli tanah dan bangunan di dalam PAT. Dilaporkan dari masa tenggang waktu pinjaman 2 tahun, dalam 1 tahun sudah dapat dilunasi.
  • 2012 Uji Materi UU APBN 2012: Atas tersendatnya penuntasan pembayaran jual beli tanah warga di PAT tersebut, warga PAT zona Barat (Siring)  melakukan permohonan uji materi UU APBN 2012, Pasal 9 Ayat 1a dan b, pada petitum bahwa pembayaran masalah sosial kemasyaraktatan pada warga 65 RT di luar PAT oleh Pemerintah dimohonkan menjadi tanggung jawab PT Lapindo sebagaimana di dalam PAT. Amar Putusan Permohonan sepenuhnya ditolak.Sehingga berlanjut pembagian tugas dan tanggung jawab finansial antara PT Lapindo di dalam PAT, dan Pemerintah melalui  APBN tahun terkait di luar PAT;
  • 2013 Terjadi peningkatan Gejolak Sosial Kemasyarakatan: Pasca Uji Materi UU APBN 2012 di MK dengan amar putusan permohonan ditolak, dan PT Lapindo masih berlanjut mengalami kesulitan finansial, sehingga tidak terjadi kelanjutan pelunasan pembaran jual beli warga PAT, dengan status akhir yang dipantau BPLS berjumlah Rp. 781 milyar. Berbagai upaya DP dan Pemda dan Pemprov agar “Pembayaran warga PAT” dapat dituntaskan juga tidak terwujud. Warga melanjutkan melakukan blokade terhadap wilayah kerja BPLS di dalam PAT termasuk melakukan kegiatan anarkis (perusakan aset BMN);
  • Uji Materi UU APBN 2013: Warga PAT (kelompok timur)  dan unsur Pengusaha melakukan Uji Materi khususnya pada Dana APBN 2013 bagi alokasi BPLS untuk menuntaskan sisa pembayaran jual beli tanah dan bangunan warga di 3 Desa, 9 RT, termasuk untuk Fasum dan Fasos. Dimana pada prinsipnya Petitum Pemohon adalah bahwa pembayaran pelusanan jual beli tanah dan bangunan tersebut, apabila tidak mengikutkan warga PAT akan melanggar UUD 1945. Adapun amar putusan MK, Permohonan sepenuhnya dikabulkan sepanjang Tidak Dimaknai Pemerintah dengan kekuasaan yang ada padanya dapat menjamin pelunasan pembayaran sisa jual beli tanah dan bangunan warga oleh Perusaan terkait;
  • 2014 DP BPLS telah memaknai Amar Putusan MK: dengan langkah nyata: 1) Menunda pelaksanaan pelunasan pembayaran  tanah dan bangunan di Luar PAT 3 Desa dan 9 RT, serta untuk pembayaran Fasum dan Fasos; 2) Memutuskan untuk melakukan opsi menalangi sisa pembayaran sebesar Rp 781 milyar dengan kompensasi pembelian Aset terutama di PerumTAS; 3) Menyampaikan permohonan kepada Presiden RI untuk tindak lanjut saran DP BPLS dan dilanjutkan dengan Perpres terkait. Pemerintahan lama berakhir, sehingga belum dapat diimplementasikan, selanjutnya menjadi bagian dari Pemerintahan Baru;
  • 2014 Kandidat Presiden RI:      Secara informal saat kegiatan menjelang Pemilihan Presiden, di lokasi Patung Lumpur, Zona Jatirejo PAT Lusi,menyatakan komitmennya bahwa Pemerintah akan menuntaskan sisa pembayaran pelunasan pembelian tanah dan bangunan warga yang menjadi tanggung jawab PT Lapindo.
  • 2014 28 Desember: Menteri Keuangan didampingi Menteri PUPR selaku Ketua DP BPLS pada rapat koordinasi telah memutuskan: 1) Pemerintah berkomitmen untuk mengambil alih dana RP 781 milyar yang menjadi kewajiban Lapindo, untuk menuntaskan pelunasan pembayaran jual beli tanah bagi warga PAT yang diharapkan dapat dimulai pada Maret 2015; 2) Arah kebijakan tersebut akan diikuti beberapa langkah kebijakan, antara lain: a) Mengklarifikasi dana sisa pembayaran (20%) sebesar Rp. 781 milyar dan Dana yang telah dibayarkan oleh PT Lapindo (80%) sebesar Rp. 3,1 T; b) Mengklarifikasi PT Lapindo dalam posisi yang tidak mampu secara finansial untuk melaksanakan kewajiban; c)Menetapkan Dana Antisipasi pada APBN 2015; d) Membuat kesepakatan dana Antisipasi antara Pemerintah dan Lapindo; e) Membentuk Tim Percepatan dengan Keputusan Presiden;
  • 2015: APBNP 2015 pasal 23 B Ayat (1), (2) dan (3) mengatur digulirkannya Dana Antisipasi sebesar Rp 781 untuk pelunasan pembayaran jual beli tanah dan bangunan warga di dalam PAT. Aktualisasi Pemerintah melalui menteri PUPR menyatakan realiasi Dana Antisipasi diharpkan sebelum tanggal 26 Juni 2015. Diikuti dengan langkah-langkah sesuai dengan hasil rapat 28 Desember 2014. Diantaranya BPKP telah melakukan klarifikasi terhadap dana Rp 781 milyar dan jumlah yang telah dibayarkan PT Lapindo, yang akan menjadi dana Jaminan.
  • Juni 2015 Uji Materi UU APBN 2015: Kelompok unsur Usaha telah mengajukan Permohonan Uji Materi UU APBN 2015, khususnya Pasal 23 B Ayat 1, Ayat 2, dan Ayat 3, yang juga merupakan Kebijakan Nasional yang melandasi rencana implementasi Dana Antisipasi sebesar Rp 781 milyar. Alasan utama dari permohonan Uji Materi: 1) Pengusaha merasakan dikecilkan; 2) Pengusaha merasa dieliminasikan kepentingannya karena Pemerintah menetapkan Dana Antisipasi Rp 781, yang sejak lama diketahui sebagai jumlah untuk sejumlah berkas warga PAT; 3) Pengusaha merasa adanya dikotomi perlakuan di PAT, padahal pada Uji Materi UU APBN 2013 MK telah mengeliminir adanya dikotormi antara PAT dan di luar PAT; Adapun 8 Butir Petitum pada hakekatnya nafasnya hampir sama dengan Uji Materi UU APBN 2012 lalu, bahwa Pasal 23 B Ayat 1, 2 dan 3 UU APBN 2015 dinyatakan Melanggar UU 1945 dan Dinyatakan Tidak Mempunyai Kekuatan Hukum  Mengikat “Sepanjang Tidak Dimaknai, bahwa Pemerintah dalam menggulirkan Dana Antisipasi berlaku baik untuk unsur rumah tangga dan unsur usaha.

HUT LUSI 2014, KOMITMEN PRESIDEN RI JOKO WIDODO UNTUK MENUNTASKAN MASALAH MENDASAR SOSIAL KEMASYARAKATAN DI PAT:
Bapak Presiden RI Joko Widodo Mei 2014, berada di Patung Lumpur, Barat Lusi. Bertemu dengan Warga PAT. Telah menyampaikan komitmenNYA untuk mendukung Penuntasan Masalah Sosial Kemasyarakatan di PAT. Yaitu pelunasan sisa pembayaran Pembelian Tanah dan Bangunan Warga PAT dengan mekanisme  Uang Muka 20% dan tahap Pelunasan 80% diawali dengan Bantuan Sosial Kemasyarakatan (Uang evakuasi, Jaminan Hidup dan Kontrak Rumah 80%).
 
TITIK NOL MISI NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA KEBUMIAN SEMBURAN LUSI DENGAN LAHIRNYA BPLS PASCA TIMNAS PSLS
Sampul depan Buku Elektronik: LUPSI LAHIRNYA BPLS (Prasetyo, Edisi 2009), suatu Rekaman Sejarah saat sebelum, Saat Lahirnya (8 April 2007), Upacara serah terima dari Menteri ESDM selaku ketua DP Timnas PSLS ke Menteri PU selaku Ketua DP BPLS, Dari Dr. Basuki selaku Ka Pelaksana Timnas PSLS ke Mayjen TNI Sunarso selaku Ka Bapel BPLS; Kiprah Pertama Bapel BPLS sebagai Masa Transisi dengan Timnas PSLS dipimpin Dr. Basuki Hadimuljono di Lapangan LUSI.
 
Kontribusi dan Peranserta pada Misi Nasional Penanggulangan Bencana Kebumian Lusi (Prasetyo 2007-20160 dengan Ikon “Dari Gunung Lusi sampai ke Mahkamah Konstitusi”, telah digelorakan sebagai The Golden Time 2015.
Telah terlibat pada saat Penyusunan Perpres 14/2007, Memantau Postur dan Perilaku Lusi dengan merintis Penjelajahan Lusi, sampai Menjadi Wakil BPLS pada 2X Uji Materi UU APBN terkait BPLS di Mahkamah Konstitusi (2013 dan 2014).
Kiri Atas: Geyser Lusi Desember 2014 bersamaan dengan deklarasi Ketua DP BPLS Lusi menuju peta perjalanan sebgai GeoPark. Helikopter terbang diatas Lusi, merekam even Banjir Bandang lumpur pekat tipe Hawai, sebagai Testimoni telah terjadi perulangan Semburan Lusi dengan Intensitas besar (violence and destructive eruption).
Kanan Atas: Panorama yang luar biasa indah semburan Geyser Lusi dari utara yang tumpang susun dengan gunung magmatik Penanggungan-Welirang. Pada perkembangannya terakhir telah diindikasikan adanya hubungan sistem hidrotermal dalam dengan Gunung Lumpur Lusi.
Kanan Bawah: Sejak Agustus 2010 mengembangkan Tradisi Baru “MENJELAJAH GUNUNG LUSI UNTUK LEBIH MEMAHAMI POSTUR DAN PERILAKU SEMBURAN DENGAN SELANG WAKTU YANG SINGKAT” Bila bukan Kita Siapa Lagi?

Sinopsis Postur Lusi saat ini 2015:

Kanan Atas: Pola dan intensitas Deformasi Amblesan, ditumpang susun citra InSAR, Rudolph (2013) merupakan suatu Revolusi penerapan IpTek GPS yang ditandemkan dengan Citra InSAR sebagai suatu Perubahan Mendasar intensitas Deformasi  sebagai hasil semburan Lusi (2006-2009) dari semburan dahsyat merusak menjadi semburan lebih terkendali dengan selingan interval besar. Selanjutnya juga telah digunakan untuk memodel Panjang umur Semburan Lusi (longevity Lusi eruption) ;
Kanan Atas:   Fakta terbaru Lusi mud volcano mempunyai hubungan dengan sistem Hidrotermal dalam Gunung Penanggungan-Welirang-Arjuno. Gambar kunci memperlihatkan kedudukan Lusi mud volcano di utara dengan gugusan gunung magamatik Welirang-Penanggungan yang dihubungkan dengan Patahan Watukosek. Lusi ditentukan bukan sebagai suatu mud volcano yang lumrah (Type mud volcano) tapi mud volcano yang khusus (Atype mud volcano) merupakan sedimentasi tuan rumah dari sistem hidrotermal dalam gunung magmatik di selatannya.
Kanan Bawah: Citra helikopter merekam terjadinya perulangan interval semburan dahsyat merusak (violence and destructive eruption) dengan memuntahkan lumpur pekat yang menutupi seluruh Kawah Lusi, Even 5 Oktober 2014. Telah dinayatakan sebagai suatu TESTIMONI (Prasetyo, 2014);
Kiri Bawah: Penafsiran struktur dan stratigrasi Penampang Refleksi di bawah Lusi, bersumber penampang diambil sebelum semburan dan diproses ulang  Tingay 2015.
MEMAKNAI SISTEM LUSI MUD VOLCANO, DARI PERILAKU SEMBURAN DI BAWAH PERMUKAAN, LUAPAN DI KAWAH DAN LIMPASANNYA DAN UAPAYA PENANGGULANGANNYA
Kiri Atas: Kartun memperlihatkan Penyederhanaan Sistem Pengaliran Lusi, dari muntahan di Kawah sampai pengaliran ke Kali Porong. Sumber panas dan tekanan overpressure, Sumber air-lumpur-gas, saluran yang menghubungkan sumber dan kawah; Pusat Semburan mengeluarakan Geyser Uap air-CO2-CH4 dan lumpur di Kawah, sebelumnya lumpur panas dikelola di Pond Utama (selatan) dan kondisi darurat di Pond TAS (utara), dialirkan keselatan melalui Kanal Utama ke Intake, saat ini dari Kapal Keruk ke outlet di Kali Porong;
Kanan Atas:  1) Semburan Geyser Lusi berlokasi dekat Gunung makmatik Penanggungan 2) Lokasi kapal keruk di barat Lusi dan di selatan Geyser Lusi, dan 3) Outlet pipa di Kali Porong;
Kiri Bawah: Penampang bawah permukaan berdasarkan seismik refleksi dikorelasi sumur BJP-1 yang terbaru dari Tingay 2015;
Kanan Bawah: Simulasi Citra Google Earth 3-d lokasi Lusi dan daerah gunung magmatik Penanggungan-Welirang ditumpan susunkan dengan penafsiran sistem Lusi mud volcano berdasarkan Citra CRISP diproses dengan GIS 3-d.
MENGGELORAKAN ARAH KEBIJAKAN DEWAN PENGARAH BPLS 2014 BAHWA “Ke depan Lusi diarahkan menjadi suatu GeoPark”.
Penekanan Semburan Geyser Lusi mud volcano satu-satunya di Indonesia dan dunia, dimana semburan bersiklus dengan temperatur tinggi berlanjut dengan intensitas tinggi dan saat ini menengah-rendah diselingin interval muntahan lumpur pekat intensitas tinggi di sekitar Kawah. Semburan Lusi dengan Pola Geyser menjadi dayatarik utama bagi Pengunjung.
Kanan Bawah: Peta Geologi ditumpang susun keberadaan Lusi mud volcano dan 14 mud volcano-diapir atau dikenal dengan struktur pembubungan (piercement structure) lainnya yang berkembang pada Zona Regional Depresi Kendeng, di Jawa Timur dan Jawa Tengah (Bleduk Kuwu).
MEMPOPULERKAN PEMAKNAAN GEYSER LUSI MUD VOLCANO SEBAGAI SITUS UNGGULAN GEOPARK, DESEMBER 2014.
 Pasca Menteri PUPR selaku Ketua Dewan Pengarah BPLS telah menyampaikan ke Publik bersamaan dengan digulirkannya “Dana Antisipasi 2015” ke depan Lusi akan diarahkan menjadi GeoPark dengan situs unggulan Geyser Lusi yang analogi dengan Geyser di Yellow Stone National Park (termasuk paling sohor di dunia).
Kiri Bawah: Penyederhanaan Postur Lusi mud volcano yang telah diarahkan oleh DP BPLS ke depan menuju peta perjalanan sebagai suatu GeoPark Lusi.
Menggelorakan Arah Kebijakan DP BPLS bahwa ke depan Lusi diarahkan menjadi GeoPark:
Citra Helikopter Desember 2014, merekam even banjir bandang lumpur pekat 5 Oktober 2015, dimana dengan intensitasnya  luar biasa dan dengan sekala regional, menutupi seluruh bagian Kaldera Luar. Sehingga bagian hulu dari kali-kali utama tertutup. Pada perkembangan waktu telah terjadi perulangan pembentukan kali, mengerosi lapisan lumpur lunak dan tebal.

IKON GEYSER LUSI MUD VOLCANO: 
28 DESEMBER 2014 Oleh Dr. Ir. Basuki Hadimuljono, selaku Ketua DP BPLS telah disebutkan sebagai situs unggulan dari GEOPARK LUSI. Mengapa berkembang Geyser Lusi yang dahsyat dan Indah? Karena Lusi telah diindikasikan mempunyai hubungan dengan sistem hidrotermal dalam (a deep hydrothermal system) dari Gunung magmatik Penanggungan-Welirang-Arjuna di selatannya.

IKON: GEYSER LUSI DAN MUNTAHAN LUMPUR PEKAT OKTOBER 2014
Mengindikasikan LUSI MUD VOLCANO MASIH BERTENAGA NAMUN SEMAKIN CANTIK (POWER AND BEAUTY), Sebagai salah satu Mesin dari Planet Bumi kita yang luar biasa.
TESTIMONI INTERVAL PERULANGAN SEMBURAN BESAR MERUSAK (OKTOBER 2014):
Citra Helikopter Desember 2014, fokus memperlihatkan Luapan Lumpur Pekat tipe Hawai (Warna Hitam) yang telah menutupi hulu kali di luar Kawah Lusi.
FAKTA LAPANGAN TERJADINYA  INTERVAL PERULANGAN SEMBURAN BESAR MERUSAK (OKTOBER 2014):
Karakteristik Postur Lusi, Desember 2014 berdasarkan Citra Helikopter dikombinasi hasil Jelajah Gunung Lusi secara berkala dari sumber Media Massa. Memperkokoh Lusi sebagai Unggulan Laboratorium Alami mempelajari Fenomena Mud Volcano di Dunia.
FAKTA LUSI PUSAT UNGGULAN LABORATORIUM ALAM BENCANA KEBUMIAN SEMBURAN LUSI DI DUNIA:
Pengembangan Penerapan Ilmu dan Teknologi Pengindeaan Jauh pada Penanggulangan Bencana Kebumian Lusi:
Evolusi Postur Lusi dari citra penginderaan jauh platform Helikopter: 1) Kanan Bawah: Maret 2014 tercatat aktifknya Kali Karka di Zona Kaldera Osaka, 2) Kiri Bawah: Desember 2014, testimoni Perulangan Interval semburan Besar merusak dengan muntahan lumpur pekat tipe Hawai; dan 3) Kiri dan Kanan Atas: Januari 2015 memperlihatkan Pola Kaldera Radial, catatan fenomena semburan ganda (Sulung dan Bungsu) tidak terlihat.
REVOLUSI PENERAPAN IPTEK GPS DAN INSAR PADA PENANGGULANGAN BENCANA LUSI: LUSI UNGGULAN LABORATORIUM ALAM DI DUNIA
Kiri: Fakta dari Penelitian Deformasi berdasarkan GPS dan Citra InSAR, memperlihatkan adanya 3 pola elip pelangi, 2 subsidence dan satu uplift (Abidin 2008 dan Fukhuhima 2009).
Kanan Atas: Analisis rinci Pola Deformasi memperlihatkan alternatif pembentukan kaldera (Andreas 2012).
Kanan Bawah: Hasil analisis Andreas (2011) dan Rudolph (2013) sama-sama menunjukkan adanya peluruhan eksponensial (exponential decay) dari intensitas amblesan yang korelatif dengan intensitas semburan dan tekanan overpressure di daerah sumber lumpur Lusi. Mengindikasikan Panjang Umur Semburan Lusi lebih pendek (~11-12 tahun – semburan 1000m3/hari), bila dibandingkan dengan dari Perkiraan dengan metoda konvensional (Volume lumpur dan air versus semburan sebelumnya (23-50 tahun)
Paradigma Kebijakan Penanggulangan Bencana Kebumian Lusi 2008: Satu-satunya Bencana Kebumian di Dunia Komplek dan Berdinamis.
Diagram alur: Peraturan Presiden No. 48/2008, sebagai perubahan Perpres 14/2007 tentang BPLS.
Dimana pertama kalinya BPLS/Pemerintah melakukan penanganan masalah sosial kemasyarakatan akibat Jebolnya Tanggul P40 dan dampaknya di Luar PAT. Menggunakan skema Pembelian Tanah dan Bangungan Warga 3 Desa diluar PAT sebagaimana telah diterapkan di dalam PAT 22 Maret 2007.
Kekecualian bahwa dana dan Biaya Bantuan Sosial Kemasyarakatan dan Pembelian Tanah dan Bangunan Warga, ditentukan dengan terlebih dahulu melalui mekanisme dimusyawaratan yang dilaksanakan oleh BPLS dengan Prinsip Keadilan.
Terjadi pertama kalinya paralihan aset Warga 3 Desa di luar PAT menjadi aset BMN.
Perpres 48/2008 dikeluarkan Pemerintah Pasca terjadinya fenomena Jebolnya Tanggul P40 diikuti dengan luapan lumpur yang tidak terkendali, sehingga telah menimbulkan Pengungsian cukup signifikan dalam waktu lama di sepanjang Jalan Tol Lama di Desa Besuki.
PARADIGMA KEBIJAKAN, TRANSISI TANGGUNGJAWAB OPERASIONAL DAN FINANSIAL UPAYA PENANGGULANGAN SEMBURAN DAN PENGALIRAN LUMPUR DARI TANGGUL UTAM KE KALI PORONG DARI LAPINDO KE BPLS:
Diagram alur: Perpres 40/2009, tentang Perubahan Kedua Perpres 14/2007. Hal penting terkait Kebijakan Pengendalian Penanggulangan Bencana Lusi adalah pada Pasal 15, dimana Upaya Penanggulangan Semburan dan Pengaliran Lusi dari Tanggul Utama ke Kali Porong sebelumnya menjadi Tanggungjawab Lapindo selanjutnya diserahkan ke BPLS. Disamping itu Pada Perpres 40/2009 juga menetapkan Wilayah 9 RT di luar PAT sebagai wilayah tidak layak huni, dengan pengendali mekanisme bencana yaitu Deformasi/GeoHazard dan Lingkungan.

TESTIMONI LUSI UNGGULAN LABORATORIUM ALAM SEMBURAN MUD VOLCANO DI DUNIA: DIPRESENTASIKAN PADA SIMPOSIUM KEBENCANAAN DI KAMPUS UGM 2010 
Diagram Evolusi Postur Lusi dan Pengenadali mekanisme Gerakan Lereng Bawah secara radial: Memberikan implikasi fenomena struktur tumbukan  (collision structure)  antara masa dari bagian lereng bawah bagian utara Lusi dengan Tanggul Penahan Lumpur di sektor barat (siring) barat laut (Osaka) dan secara frontal di TAS (Utara Lusi).
Sebagai dampak nyata dari mekanisme struktur tumbukan ini, akhirnya Tanggul P68 Jebol pada tahun 2011. Telah dipresentasikan pada Simposium Kebencaan Internasional di Teknik Sipil UGM

Sohrabi 2017: Pemodelan Numerik dari sistem hidrotermal Lusi

Desember 11, 2017

Pemodelan Numerik dari sistem hidrotermal Lusi: Hasil awal dan Tantangan ke depan

Slide3

Numerical modeling of the Lusi hydrothermal system: Initial results and future challenges

Reza Sohrabi a, *, Gunnar Jansen a, Benjamin Malvoisin b, Adriano Mazzini c, Stephen A. Miller a

a CHYN e Centre for Hydrogeology and Geothermics, Laboratory of Geothermics and Geodynamics, University of Neucha^tel, Switzerland b ISTE e Institute of Earth Sciences, University of Lausanne, Switzerlandc CEED e Centre for Earth Evolution and Dynamics, University of Oslo, Norway

* Corresponding author.E-mail address: reza.sohrabi@unine.ch (R. Sohrabi).

http://dx.doi.org/10.1016/j.marpetgeo.2017.08.012

0264-8172/© 2017 Elsevier Ltd.

Marine and Petroleum Geology xxx (2017) 1e10

Slide10

Andriano Mazzini 2012: Paradigma Baru Lusi sebagai sistem hidrotermal yang baru lahir

Makalah ini dikontribusikan oleh Dr. Andriano Mazini, Koordinator LUSI LAB, untuk Lusi Library:Knowledge Management, Oktober 2017.

LULIB-1

Logo Lusi Library:Knowledge Management memasuki Tahun 2018

Ditinjau oleh : Dr. Hardi Prasetyo

Slide8

Hari ini Google Searh mengeluarkan Kartun ini, yang nilai sangat relevan dengan kondisi Bencana Lusi yang unik, rumit, penuh kontroversi, sehingga saya mempunyai gagasan cepat untuk mengaktualisasikan “Geyser Lusi” yang pada Tahun 2014 telah diarahkan oleh Menteri PUPR selaku Ka DP BPLS sebagai situs utama yang analogi dengan Geyser di Yellow Stone National Park untuk menuju peta perjalanan memasuki sistem GeoPark dengan Mengedepankan GeoWisata.

Untuk pendalaman hasil-hasil Pemodelan GeoLogi 3D di Lusi sebagai induk sedimen sistem hidrotermal  berhubungan dengan gunung magmatik

Slide7

Setelah mendalami Makalah ini terutama melihat Kartun Geyser Lusi mempunyai hubungan dengan gunung magmatik, maka saya kelapangan (Desember 2017) membuktikan apa airnya masih panas. Ternyata Masih Panas.

Slide9

Untuk merayakan Posting hardiprasetyolusi’s Blog target sebelum akhir tahun 2017 sudah dapat melewati angka 500, maka saya menampilkan Cover di WordPressCom dan Facebook. Untuk mencapai angka 500 memerlukan perjalanan panjang, bila satu Posting rata-rata 10 halaman maka ada 500 halaman. Disamping juga masih ada Bloger Lusi Dari Bencna ke Manfaat, ada 350 Youtube.

Kebetulan saat mengambil S3 di Earth Sciences UC California USA, saat itu saya sebagai kandidat S3 yang mengerjakan Disertasi dengan PC, sebelumnya dengan MainFrame, atas keberhasilan transformasi Mainframe ke PC, saya dianugrahi oleh Konsorsium Perusahaan Migas USA mengembangkan Atlas Digital Tektonik Indonesia Timur dan Prospek Migas dengan PC.

Makalah Penelitian

Pemodelan Numerik dari sistem hidrotermal Lusi: Hasil awal dan Tantangan ke depan

Slide1

Slide2.JPG

Kesimpulan dan pandangan ke depan (Conclusions and outlooks)

Tujuan penelitian menyajikan hasil awal untuk pemodelan dan pemahaman dinamika induk-sedimen sistem hidrotermal

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyajikan sebuah pendekatan dan beberapa hasil awal (The objective of this work was to present an approach and some initial results) untuk pemodelan dan memahami (for modeling and understanding) dinamika induk-sedimen sistem hidrotermal – Lusi (the dynamics of the Lusi sediment-hosted hydrothermal system).

Tujuan lain mengembangkan model numerik 3D berdasarkan model geologi dengan proses mekanik, hidrolika, termal yang mengendalikan Lusi

Slide3

Gambar dimodifikasi (sebelum dimasukkan gambar aslinya)

Tujuan jangka panjang kami adalah mengembangkan model numerik 3D (Our long-term goal is to develop a 3D numerical model), berdasarkan model geologi (based on a geological model), yang menggabungkan dengan proses-proses mekanika, hidrolika dan termal yang mengendalikan Lusi (which couples mechanics with the hydraulics and thermal pro- cesses driving Lusi).

Telah digunakan algoritma HULK dan membuat grid numerik 3D mendekati dominan litologi dan patahan di wilayah Lusi, dibatasi profil 2D dari Grid 3D

Sampai saat ini, kami telah menggunakan algoritma “HULK” yang baru dikembangkan (To date, we have utilized a recently developed algorithm “HULK”) dan membuat grid numerik 3D yang mendekati dominan litologi dan patahan-patahan di wilayah ini (and created a 3D numerical grid that approxi- mates the dominant lithology and faults in the region), namun saat ini dibatasi pada profil 2D grid 3D (but are currently constrained to 2D profiles of the 3D grid).

Perhitungan termodinamika dimana Lusi adalah sistem 2-fase dari air asin dan CO2

Kami menentukan dari perhitungan termodinamika untuk solubilitas CO2 (We determined from a thermodynamic calculation for CO2 solubility) dalam sistem larutan NaCl berair (in aqueaous NaCl solution system) dimana Lusi adalah sistem 2-fase dari air (asin) dan CO2 (that Lusi is a 2-phase system of water (brine) and CO2).

Hal ini harus dimasukkan ke dalam studi-studi di masa depan (This must be incorporated into any future studies) karena 2 fase pada akhirnya mengendalikan sifat aliran di dalam sistem (because the 2 phases ultimately control the flow properties within the system).

Kandungan CH4 yang kecil tidak mempengaruhi sistem aliran secara signifikan

Persentase yang kecil CH4 tidak secara signifikan mempengaruhi sistem aliran (The small percentage of CH4 does not significantly impact the flow system), namun dapat menarik untuk mempelajari signifikansi geokimia (would be of interest to study its geochemical significance.).

Integrasi model 2 fasa dengan mekanika juga menguji dibawah kondisi lumpur akan sampai 40 jam setelah diusik oleh gempabumi Yogyakarta

Model 2 fasa yang digabungkan dengan model mekanika (A coupled 2-phase model with a model of mechanics) yang diselidiki dibawah kondisi apa lumpur akan sampai (under what conditions mud would arrive) sekitar 40 jam setelah diduga terganggu oleh gempa Yogyakarta (about 40 h after presumably being perturbed by the Yogyakarta earthquake).

Ditemukan menggunakan permeabilitas yang wajar, tingkat arus masuk dan keluaran dari keseluruhan sistem hidrogeologi dapat memproduksi pada interval 40 jam:

Kami menemukan bahwa dengan menggunakan nilai permeabilitas yang wajar (We find that using reasonable permeability values), tingkat arus masuk dan tingkat keluar dari keseluruhan sistem hidrogeologi dapat mereproduksi interval waktu 40 jam (influx rates and outflow rates of the overall hydrogeological system can reproduce the 40 h interval) antara saat gempa bumi dan penampilan pertama kalinya air, CO2 dan juga lumpur di permukaan (between the earthquake and the first appearance of water, CO2 and also mud at the surface).

Hasil awal 3D memberikan dasar studi kedepan yang lebih canggih, juga diperkenalkan alur kerja yang diperlukan

Hasil pertama ini memberikan suatu dasar untuk studi yang lebih canggih ke depan, akhirnya dalam 3D (These first results provide a basis for more sophisticated studies, eventually in 3D), dan kami memperkenalkan alur kerja yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut (we introduced a workflow necessary to achieve this objective.).

Kedepan difokuskan pada transportasi panas dan model hdro-mekanis multiphase Air/CO2 ditambahkan reaksi kimia dan dehidrasi kedalam model

Pekerjaan masa depan berfokus pada transportasi panas (Future work focuses on heat transport) ditambah dengan model hidro-mekanis multiphase (Air/CO2) yang dipaparkan di sini (coupled with the multiphase (Water/CO2) hydro-mechanical model presented here) dan menambahkan reaksi kimia dan reaksi dehidrasi ke dalam model untuk simulasi jangka panjang (adding chemical reactions and dehydration reactions into the model for long-term simulations).

Selanjutnya tindakan yang lebih realistis dari termodinamika (Furthermore a more realistic treatment of the underlying thermodynamics) yang mendasari dan penyelidikan mendalam tentang peran sifat fluida (and a deeper investigation of the role of fluid properties) pada dinamika aliran fluida akan menghasilkan wawasan yang berharga (on fluid flow dynamics would generate valuable insight).

Tujuan jangaka panjang adalah paralisasi kode yang sesuai untuk Komputasi Performan Tinggi (HPC):

Tujuan jangka panjang kami adalah kode paralelisasi yang sesuai untuk High Performance Computing (HPC) (Our long-term goal is code parallelization suitable for High Performance Computing (HPC)) untuk mencapai simulasi resolusi tinggi agar lebih memahami dinamika kompleks sistem ini (to achieve high-resolution simulations to more fully under- stand the complex dynamics of this system).

Abstrak

Slide6

Gambar dimodifikasi (sebelum dimasukkan gambar aslinya)

Semburan Lusi adalah geyser didominasi klastik aktif merupakan induk sedimen sistem hidrotermal

Semburan lumpur lusi di Jawa Timur, Indonesia, adalah  suatu geyser yang didominasi klastik yang aktif (an active clastic-dominated geyser) dan merupakan suatu induk sedimen dari sistem hidrotermal (a sedimentary hosted hydrothermal system), yang selanjutnya telah membangkitkan minat yang luas pada disiplin ilmu.

Sistem dikendalikan oleh proses multi komonen, mekanika carian, batuan dan pengangkutan panas dan tantangannya:

Sistem sederhana sampai ke tinggi dikendalikan  oleh proses-roses multi komponen (driven by multiphase and multicomponent processes), mekanika cairan dan batuan, serta proses pengangkutan panas (fluid and rock mechanics, and heat transport processes).

Semua hal diatas merupakan tantangan (all which present challenges) dalam membangunkan suau model numerik yang realistik dari fisika dibawahnya  (in developing realistic numerical models of the underlying physics).

Telah dikembngkan model konsepsi untuk sistem hidrotermal dalam dan komplek:

Telah dikembangkan suatu model konsepsi (develop a hydrogeological conceptual model) untuk sistem hidrotermal yang dalam dan komplek (for this deep and complex hydrothermal system).

Dibangun model geologi 3D dengan data yang tersedia

Selanjutnya membangun suatu modal geologi 3D yang layak menggunakan data yang tersedia (construct an appropriate 3D geological model using the available data.)

Model geologi sebagai simulasi nuverik termsus proses dominan pengendali Lusi:

Model geologi ini selanjutnya  melayani sebagai simulasi numerik (geological model then serves as the basis for numerically simulations) termasuk dari proses dominan dari pengendali Lusi (the dominant processes driving Lusi).

Berdasarkan model geologi 3D diadobsi pendekatan kontinum dengan simulator numerik

Telah diadobsi suatu pendekatan kontinum yang fleksibel dengan simulator numerik (adopt a flexible continuum approach with an efficient numerical simulator), berdasarkan pada model geologi 3D (based on the 3D geological model).

Struktur dalam sistem hidrotermal dan reservoir geothermal diselaraskan dengan informasi lubang bor dan penampang seismik

Mencerminkan struktur dalam sistem hidrotermal ini dan reservoir geotermal (representing the deep structures of this hydrothermal system and geothermal reservoir), dengan memasukkan informasi  lubang sumur borohole dan data seismik (incorporating borehole information and seismic data) yang diperolehi dalam rangka kerja projek Lab LUSI (obtained in the framework of the LUSI Lab project).

Model geologi diubah menjadi grid computer untuk melaksanakanan berbagai simulasi fisik:

Model geologi diubah menjadi suatu grid komputer (The geological model is transformed into a computational grid). menggunakan partisi ruang (BSP) dari geometri input dan penghalusan dari grid untuk melaksanakan simulasi-simulasi  pelbagai fisik.

Perhitungan termodinamika menunjukkan Lusi adalah sistem aliran dua fasa Air/CO2

Perhitungan termodinamik menggunakan persamaan tingkat untuk larutan berair solusi NaCl (Thermodynamic calculations using the equation of state for a CO2-bearing aqueous NaCl solution) yang2 menunjukkan Lusi adalah sistem aliran dua fasa Air/CO2 (Lusi is a two-phase flow system (Water/CO2)).

Dihasilkan wal model multi fase hidromekanik, mensimulasikan proffes yang berkontribui pada inisiasi Lusi:

Akhir kami menyajikan hasil awal dari model  multi fase hidro mekanikyang sederhana (initial results from a simple hydro-mechanical multiphase numerical mode), dimana  mensimulasikan proses-proses yang mungkin berkontribusi pada inisiasi Lusi (that simulates processes that likely contributed to the initiation of Lusi).

Pendahuluan

Geyser dan erupsi hidrotermal (air mancur panas) memperlihatkan pola semburan yang luas (Geysers and hydrothermal eruptions (e.g. hot springs) show a wide range of eruptive styles).

Dimana dikendalikan oleh  proses-proses geodinamika komplek yang berskala besar (are driven by large-scale complex geodynamic processes) dan terjadinya pengisian kembali dari air tanah (groundwater recharge).

Flida-fluida konveksi di bawah permukaan (convection of fluids in the subsurface) telah memainkan peran utama pada proses-proses geologi dan hidrogeologi (plays a leading role in many geological and hydrogeological processes).

Sistem hidrotermal dalam dapat sangat penting (These deep hydrothermal systems can be of significant importance), untuk sumberdaya geologi seperti energi panasbumi.

Sejak Mei 2006 semburan lumpur Lusi di Jawa Timur Indonesia, merupakan salah satu bencana alam terbesar di Jawa Timur (Van Noorden 2006).

Berwujud sebagai suatu geyser dan selanjutnya telah menjadi perhatian yang luas (behaves as a geyser and has led to wide interest across).

Lusi sejak kelahirannya itu terus menyemburkan breksi lumpur, cairan air (continuously discharged mud breccia, liquid water), dan mengemisikan ke atmosfera uap air yang mengandung persentase kecil CH4 dan terutamanya CO2 (released to the atmosphere aqueous vapor containing a small percentage of CH4 and primarily CO2) Mazzini et al., 2012; Vanderkluysen et al., 2014).

Lusi telah jabarkan sebagai induk sedimen sistem hidrotermal yang baru lahir, skala tektonik,  (described as a newborn, tectonic scale, sediment-hosted hydro-thermal system).

Dihubungkan dengan kompleks gunung berapi Arjuno-Welirang dibaratlaut (linked to the SW adjacent Arjuno-Welirang volcanic complex), melalu sistem patahan  Watukosek (through the Watukosek fault system) (Istadi et al., 2012; Mazzini et al., 2009, 2012) 2017).

Pemodelan numerik sistem yang kompleks seperti ini adalah satu tantangan (Numerical modeling of such complex systems is a challenge).

Karena ia harus memasukkan perhitungan dari beberapa proses-proses termal, hidraulik, mekanika dan kimia (THMC) (it must take into account a variety of coupled thermal, hydraulic, mechanical and chemical (THMC) processes).

Perlu diselidikan dalam tiga dimensi untuk dapat memberikan estimasi pertama dari: perilaku  dari hidrotermal dalam yang komplek ini (provide first estimates of the behaviour of this deep hydrothermal complex), struktur geologi cekungan  sedimen di Jawa Timur harus dimasukkan (geological structures of the sedimentary basin in East Java must be constrained), dan dinamik fluida, mekanik dan pengangkutan panas.

Memodelkan proses-proses ini secara numerik pada resolusi yang alasan dari waktu komputasi membutuhkan suatu alat yang baik (Modeling these processes numerically at adequate resolution and reasonable computation times requires a suite of tools).

Sebagaimana yang dikembangkan dan diterapkan untuk menyelidiksi sistem Lusi (that we are developing and/or utilizing to investigate the Lusi system).

Dalam makalah ini, diulas latar belakang geologi dari sistem Lusi (geological background of the Lusi system) dan konteksnya didalam suatu sistem induk sediman yang terekahkan dari induk sedimen sistem hidrothermal  (within a sediment – hosted fractured hy- drothermal system).

Selanjutnya telah dibangun suatu model geologi (construct a geological model) berdasarkan data yang dikumpulkan dari studi-studi terdahulu sebelumnya (on data gathered from previous studies).

Pada saat sebelum awal semburan (prior to the initial eruption), termasuk informasi dan lubang pemboran (including seismic lines and borehole information).

Dari model geologi tersebut selanjutnya dibangun grid numerik menggunakan pembangkit mesh (mesh generator)  “HULK” (Jansen et al., 2017) yang menyediakan domain numerik.

Persamaan mengelola rumus-rumus yang relevan untuk sistem air yang didiskusikan.

Selanjutnya dikontribusikan hasil simulasi untuk sistem dua fasa (Air/CO2).

Dipadukan dengan suatu model yang sederhana dari mekanisme untuk membantu memahami kelahiran Lusi dari suatu perspektif hidrogeologi (a simplified model of mechanics to help understand the birth of Lusi from a hydrogeological perspective).

Disimpulkan dengan prospek simulasi masa depan menggunakan tambahan pangamatan geofisika dan mendiskusikan keperluan untuk mengimplementasikan algoritma kami pada Pengkomputeran Kinerja  Tinggi (HPC).

Latar belakang geologi

Lusi terletak di cekungan busur belakang di Jawa Timur yang mengalami tektonik inversi, (Lusi is situated in an inverted back arc basin in East Java).

Dimana terdapat struktur terban dan setengah terban yang terbentuk pada fase perekahan (where a large number of grabens and half-grabens formed during rifting stages) pada Eosen (56e36 Ma) hingga Oligosen Awal (35e30 Ma).

Diikuti suatu periode yang tenang (following a period of quiescence), suatu fase deformasi lokal dan volkaniseme aktif (of local deformation and active volcanism) pada akhir Miosen, bermula pada Miocene akhir (7 Ma) (Doust and Noble, 2008).

Pengendapan yang cepat menghasilkan satu paket sedimen tebal (Rapid sedimentation produced a thick sedimentary package), termasuk lapisan lempung ovepressure pada kedalaman (including overpressured clay layers at depth).

Model konseptual skala regional (The regional scale conceptual model) Gambar 2, termasuk sumber panas (includes a heat source from a magma chamber) dari kantong magma dan usulan struktur intrusi dike  “dike intrusion” (Mazzini et al., 2012).

Disamping itu suatu model hidrogeologi keseluruhan (and an overall hydrogeological model) dengan aliran fluida yang dikendalikan olah gradien hidraulika (fluid flow driven by hydraulic gradients).

Yang disediakan oleh komplek Arjuno-Welirang gunung magmagtik komplek, terletak antara 10 km dari Penanggungan hingga 20 km dari seluruh kompleks, SW Lusi.

Stratigrafi geologi wilayah ini (Gamb 2) digambarkan dalam Mazzini et al. (2007); Mazzini et al., 2012 dan Samankassou et al., 2017 disusun  oleh Formasi Pucangan (kuning), lempung abu-abu kebiuran (coklat) dari Formasi Kalibeng Atas, Volkanoklastik (merah) dari Formasi Kalibeng Atas, Formasi Prupuh/Tuban (biru) dan Formasi Ngimgbang (hijau).

Model Konseptual

Dari studi-studi terdahulu (Istadi et al., 2012; Kusumastuti et al., 2002), telah dikombinasikan sejarah geologi dari kawasan dengan analisis geokimia (we combine the geological history of the region with geochemical analyses) (Inguaggiato et al., 2017; Malvoisin et al., 2016; Mazzini et al., 2012, 2017; Sciarra et al., 2017; Vanderkluysen et al., 2014)

Dinamika dari sistem ini adalah dikendalikan oleh aliran air tanah dan CO2 (The dynamics of this system are driven by groundwater flow and CO2), merupakan tipe deri sistem geyser (typical of geyser systems).

Pemahaman dari perubahan dari fluida-fluida (Understanding the fate of the fluids) memerlukan menentukan asal usul (requires determining their origin) dan temperatur pada kedalaman, dan hidrogeologi yang ada di bawahnya (temperature at depth, and the underlying hydrogeology).

Salah satu dari sumber dari breksi lumpur Lusi adalah lempung abu-abu kebiruan dari Formasi Kalibeng Atas (One of the Lusi mud breccia sources are the bluish grey clays of the Upper Kalibeng Formation) yang terdapat pada kedalaman 900m-1830m (Mazzini et al., 2007).

Sedangkan komposisi isotop dari hidrokarbaon dan CO2 dikandun oleh fluida mendidih, diperkirakan adanya tambahan fluida dari dalam oleh sistem Patahan geser Watukosek dan sistem antitetik patahan Siring (Mazzini et al., 2012, 2017).

Tambahan sumber dikonfirmasi oleh adanya dua sumber fluida ditentukan dari deformasi permukaan (Shirzaei et al., 2015).

Satuan stratigrafi, temperatur dan komposisisi dari fluida dari dua sumber telah diuraikan dengan baik (The stratigraphic units, the temperature and the composition of the fluid in the two sources are well-constrained) Mazzini et al., 2017.

Analisi dari mayor ion memperlihatkan bahwa air Lusi diperkaya pada kebanyak elemen-elemen (Analysis of major ions shows that the Lusi water is enriched in most elements,), khususnya Na, Cl dan Li dengan kandungan rendah Mg dan K (particularly Na, Cl and Li with low Mg and K).

Hasil 3H, memperlihatkan umur air pada periode 1950, dan  hasil 14C memberikan umur 16.000 tahun, mengindikasikan percampuran fluida dalam dengan air meteorik (indicating mixing of deep fluids and meteoric water).

Isotop stabil digunakan untuk menelusuri molekul air mengindikasikan bahwa ilitisasi dari lempung (Stable isotopes used to trace the source of water molecules indicate illitization of the clay) yang ada di Formasi Kalibeng Atas (present in the Upper Kalibeng Formation), dan percampuran air laut dan air dari sumber volkanik (and the mixing of seawater and water of volcanic origin).

Pengkayaan Litium dipercaya seagai kontribusi percampuran air hidrotermal dan air laut (Lithium enrichment suggests a contribution from the mixing of hydrothermal water and seawater).

Perpandingan dari beberapa parameter mengindikasikan (Comparison of various parameters) bahwa semburan air Lusi merupakan dari suatu percampuran dari fluida (indicates that the erupted Lusi water is a mix of fluids) dari beberapa level yang berbeda dan pembentukan (from different levels and formations comprising) terdiri dari: 1) fluida meteorik, 2) fluida dehidrasi, 3) pemerangkapan fluida airlaut, dan 4) fluida hidrotermal (meteoric fluids, dehydration fluids, seawater entrapped fluids, and hydrothermal fluids) Mazzini et al., 2017.

Formasi Kujung dan Prupuh pada kedalaman antara ~3 dan ~4 km (The Kujung and Prupuh Formations, at a depth of between ~3 and 4 km), (Moscariello et al., 2017) tampaknya permeabel tinggi dan dapat berperan sebagai jumlah air yang besar (is likely highly permeable and could conduct a large amount of water) yang dibutuhkan untuk keluaran yang besar sebagaimana yang diamati di permukaan (necessary for the large outflow observed at the surface).

Komplek volkanik Arjuno-Welirang, berada antara 10 km dan 20 km baratdaya Lusi (The Arjuno-Welirang volcanic complex, situated between 10 km and 20 km SW of Lusi), dan keseluruhan cekungan sedimen dari Jawa Timur (the entire sedimentary basin of East of Java) dapat memberikan gradient hidrolika (could offer the hydraulic gradient) yang diperlukan untuk mengendalikan semburan fluida dalam (necessary to drive the erupted deep fluids) Gambar 3).

References

Bear, J., 1972. Dynamics of Fluids in Porous Media. Courier Corporation.
Calcagno, P., Chile_s, J.P., Courrioux, G., Guillen, A., 2008. Geological modelling from field data and geological knowledge: part I. Modelling method coupling 3D potential-field interpolation and geological rules. Phys. Earth Planet. Interiors

171 (1), 147e157.
Davies, R.J., Swarbrick, R.E., Evans, R.J., Husse, M., 2007. Birth of a mud volcano: East

Java, 29 May 2006. Gsa Today 17 (2), 4.
Davies, R.J., Brumm, M., Manga, M., Rubiandini, R., Swarbrick, R., Tingay, M., 2008.

The East Java mud volcano (2006 to present): an earthquake or drilling trigger?

Earth Planet. Sci. Lett. 272 (3e4), 627e638.
Davies, R.J., Manga, M., Tingay, M., Lusianga, S., Swarbrick, R.E., 2010. Discussion:

Sawolo et al. (2009) the Lusi mud volcano controversy: was it caused by dril- ling? Mar. Petrol. Geol. 27 (7), 1651e1657. http://dx.doi.org/10.1016/ j.marpetgeo.2010.01.019.

Doust, H., Noble, R.A., 2008. Petroleum systems of Indonesia. Mar. Petroleum Geol. 25 (2), 103e129.

Duan, Z., Møller, N., Weare, J.H., 1992. An equation of state for the CH4-CO2-H2O system: II. Mixtures from 50 to 1000 _C and 0 to 1000 bar. Geochimica Cos- mochimica Acta 56 (7), 2619e2631.

Duan, Z., Sun, R., 2003. An improved model calculating CO2 solubility in pure water and aqueous NaCl solutions from 273 to 533 _K and from 0 to 2000 bar. Chem. Geol. 193 (3), 257e271.

Hassanizadeh, S.M., Gray, W.G., 1979. General conservation equations for multi- phase systems: 1. Averaging procedure. Adv. Water Resour. 2, 131e144.

Hassanizadeh, S.M., Gray, W.G., 1990. Mechanics and thermodynamics of multi- phase flow in porous media including interphase boundaries. Adv. water 

Resour. 13 (4), 169e186.
Helmig, R., 1997. Multiphase Flow and Transport Processes in the Subsurface: a Contribution to the Modeling of Hydrosystems. Springer-Verlag.
Inguaggiato, S., Mazzini, A., Vita, F., Sciarra, A., 2017. The Arjuno-Welirang volcanic complex and the connected Lusi system: geochemical evidences. Mar. Petro-

leum Geol. (in this issue).
Istadi, B.P., Sunardi, E., Wibowo, H.T., Sawolo, N., Hadi, S., 2012. Mud Volcano and its

Evolution. INTECH Open Access Publisher.
Jansen, G., Sohrabi, R., Miller, S.A., 2017. HULK – simple and fast generation of

structured hexahedral meshes for improved subsurface simulations. Comput.

Geosciences 99, 159e170.
Karyono, K., Obermann, A., Lupi, M., Masturyono, M., Hadi, S., Syafri, I.,

Abdurrokhim, A., Mazzini, A., 2017. Terra Nova. Lusi, a Clastic-dominated Gey- sering System in Indonesia Recently Explored by Surface and Subsurface Ob- servations, vol. 29, pp. 13e19.

Kusumastuti, A., Van Rensbergen, P., Warren, J.K., 2002. Seismic sequence analysis and reservoir potential of drowned Miocene carbonate platforms in the Madura Strait, East Java, Indonesia. AAPG Bull. 86 (2), 213e232.

Künze, R., Lunati, I., 2012. An adaptive multiscale method for density-driven in- stabilities. J. Comput. Phys. 231 (17), 5557e5570.

Lajaunie, C., Courrioux, G., Manuel, L., 1997. Foliation fields and 3D cartography in geology: principles of a method based on potential interpolation. Math. Geol. 29 (4), 571e584.

Lupi, M., Saenger, E.H., Fuchs, F., Miller, S.A., 2013. Lusi mud eruption triggered by geometric focusing of seismic waves. Nat. Geosci. 6 (8), 642e646.

Malvoisin, B., Mazzini, A., Miller, S.A., 2016. Constraining the Thermal Structure beneath Lusi: Insights from Temperature Record in Erupted Clasts. EGU General Assembly 2016, pp. EGU2016e16421.

Mazzini, A., Svensen, H., Akhmanov, G.G., Aloisi, G., Planke, S., Malthe-Sørenssen, A., Istadi, B., 2007. Triggering and dynamic evolution of the LUSI mud volcano, Indonesia. Earth Planet. Sci. Lett. 261 (3), 375e388.

Mazzini, A., Nermoen, A., Krotkiewski, M., Podladchikov, Y., Planke, S., Svensen, H., 2009. Strike-slip faulting as a trigger mechanism for overpressure release through piercement structures. Implications for the Lusi mud volcano, Indonesia. Mar. Petroleum Geol. 26, 1751e1765.

Mazzini, A., Etiope, G., Svensen, H., 2012. A new hydrothermal scenario for the 2006 Lusi eruption, Indonesia. Insights from gas geochemistry. Earth Planet. Sci. Lett. 317, 305e318.

Mazzini, A., Scholz, F., Svensen, C., Hensen, C., Hadi, S., 2017. The geochemistry and origin of the hydrothermal water erupted at Lusi, Indonesia. Mar. Petroleum Geol. https://doi.org/10.1016/j.marpetgeo.2017.06.018 (in this issue).

Miller, S.A., Nur, A., Ogaard, D.L., 1996. Earthquakes as a coupled shear stress high pore pressure dynamical system. Geophys. Res. Lett. 23, 197e200.

Miller, S.A., Nur, A., 2000. Permeability as a toggle switch in fluid controlled crustal processes. Earth Planet. Sci. Lett. 183, 133e146.

Miller, S.A., Collettini, C., Chiaraluce, L., Cocco, M., Barchi, M., Kaus, B.J.P., 2004. Aftershocks driven by high-pressure CO2 source at depths. Nature 427, 724e727.

Miller, S.A., 2015. Modeling enhanced geothermal systems and the essential nature of large-scale changes in permeability at the onset of slip. Geofluids. http:// dx.doi.org/10.1111/gfl.12108.

Moscariello, A., Do Couto, D., Mondino, F., Booth, J., Lupi, M., Mazzini, A., 2017. Genesis and evolution of the Watukosek fault system in the Lusi area (East Java). Mar. Petroleum Geol. (in this issue).

Rudolph, M.L., Shirzaei, M., Manga, M., Fukushima, Y., 2013. Evolution and future of the Lusi mud eruption inferred from ground deformation. Geophys. Res. Lett. 40 (6), 1089e1092.

Samankassou, E., Mazzini, A., Chiaradia, M., Spezzaferri, S., 2017. The carbonate deposits underneath the geysering Lusi eruption (Java, Indonesia). Mar. Petro- leum Geol. (in this issue).

Sciarra, A., Mazzini, A., Inguaggiato, S., Vita, F., Lupi, A., Hadi, S., 2017. Radon and carbon gas anomalies along the Watukosek fault system and Lusi mud eruption, Indonesia. Mar. Petroleum Geol. (in this issue).

Shirzaei, M., Rudolph, M.L., Manga, M., 2015. Deep and shallow sources for the Lusi mud eruption revealed by surface deformation. Geophys. Res. Lett. 42 (13), 5274e5281.

Tanikawa, W., Sakaguchi, M., Wibowo, H.T., Shimamoto, T., Tadai, O., 2010. Fluid transport properties and estimation of overpressure at the Lusi mud volcano, East Java Basin. Eng. Geol. 116 (1), 73e85.

Tingay, M., Heidback, O., Davies, R.J., Swarbrick, R.E., 2008. Triggering of the Lusi mud eruption: earthquake versus drilling initiation. Geology 36 (8), 639e642. http://dx.doi.org/10.1130/g24697a.1.

Tingay, M., Rudolph, M.L., Manga, M., Davies, R.J., Wang, C.-Y., 2015. Initiation of the Lusi mudflow disaster. Nat. Geosci. 8 (7), 493e494.

Vanderkluysen, L., Burton, M.R., Clarke, A.B., Hartnett, H.E., Smekens, J.F., 2014. Composition and flux of explosive gas release at LUSI mud volcano (East Java, Indonesia). Geochem. Geophys. Geosystems 15 (7), 2932e2946.

Van Noorden, R., 2006. Mud volcano floods java. Nature. http://dx.doi.org/10.1038/ news060828e1 v.

Zoporowski, A., Miller, S.A., 2009. Modelling eruption cycles and decay of mud volcanoes. Mar. Petroleum Geol. 26 (9), 1879e1887.

 

1 Malam di Posko Mindi: PROTOTIPE LAHIRNYA WEBSITE LUSI/BPLS 2007

Desember 10, 2017

LULIB-1.png

SEJARAH CIKAL BAKAL LAHIRNYA WEBSITE LUSI/BPLS 2007

Sejarah BPLS – LUSI
6 November 2007
1 Malam Mengembangkan Web Site
Lumpur Panas Siring (LUPSI)
http://www.freewebs.com/wakabpls/
 MUSIBAH FENOMENA ALAM ‘LUMPUR SIRING’ (LUSI)

This web site is dedicated to attract peoples who concern with the natural hazard including geological hazard especially such as Siring mud volcano and its related origin

Dikontribusikan Oleh: Dr. Hardi Prasetyo
Sebagai catatan sejarah BPLS, dalam pengembangan informasi di cybernet
 Selamat berkunjung ke situs Lumpur Siring (LUSI) Siring mud flow di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
 
·      Identifikasi Penyusun dan Pemilik Website
·      Pesan moral yang mengiringi harapan tersebut!
 
  • Menyusuri Kali Porong untuk mengamati sedimentasi Lumpur Siring sampai ke Muara
  • Pengaliran Lusi ke Laut melalui media K Porong adalah salah satu pilihan yang komplek dari opsi yang tidak banyak tersedia saat ini
  • Panorama yang indah sepanjang Kali Porong yang telah mengalir cukup deras
  • Kali Porong telah ditetapkan sebagai alat bantu untuk mengalirkan Lusi Kelaut
  • Lumpur Siring berasal dari endapan Selat Madura purba (paleo Madura Strait) di kembalikan ke Selat Madura modern (Modern Madura Strait)
  • Flora dan Fauna: Bakau dan burung-burng hidup di dekat Muara K. Porong tanpa terusik adanya pengaliran Lusi Ke Laut yang telah dimulai sejak tahun 2006. 

RINGKASAN PERKEMBANGAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIRING

UMUM

PENANGGULANGAN SEMBURAN
Kecenderungan umum penghentian semburan:
Strategi penanggulangan semburan:
 Mengendalikan semburan dengan terus memelihara dan memperkuat tanggul cincin di sekitar pusat semburan (eruption center):

PENANGGULANGAN LUAPAN LUMPUR

Prinsip Penanganan luapan lumpur:
Pemilihan dua alternatif mekanisme pengaliran lumpur:
Dukungan knowledge terhadap pemilihan alternatif pengaliran Lusi melalui K. Porong:
Antisipasi menghadapi potensi bahaya banjir pada musim penghujan 2007/2008:
 

 PENANGGULANGAN DAMPAK SOSIAL KEMASYARAKATAN

Penanganan Masalah Sosial
Melampaui target yang ditetapkan Presiden RI:
Penuntasan tahap ke dua Jual Beli Lahan dan Bangungan Masyarakat:
 Penuntasan pembayaran 20%:

PENANGGULANGAN DAMPAK INFRASTRUKTUR

 Mempertahankan pintu persilangan kereta api di bawah otoritas PT KAI:
Kesepakatan Pemutusan aliran listrik SUTT 150 KV:
Respon cepat kerusakan infrastruktur umum:
Perkembangan relokasi infrastruktur:

AKTUALISASI KEBIJAKAN DARI PRESIDEN RI

Paradigma Baru Kedaruratan Dalam Menghadapi Potensi Banjir Pada  Musim Penghujan 2007/2008
MUSIBAH FENOMENA ALAM ‘LUMPUR SIRING’ (LUSI)

http://www.freewebs.com/wakabpls/

Dikembangkan dalam 1 malam di Posko Mindi, setelah siangnya melakukan pelayaran menyusur Kali Porong sampai muara
Cikal bakal  dan pendukung (complement) Website www. BPLS.go.id
Dikontribusikan Oleh: Dr. Hardi Prasetyo
Sebagai catatan sejarah BPLS, dalam pengembangan informasi di cybernet
Selamat berkunjung ke situs Lumpur Siring (LUSI) Siring mud flow di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.


Identifikasi Penyusun dan Pemilik Website


  • Nama lengkap saya Prof. Dr. Ir. Hardi Prasetyo, saat ini diberi kehormatan Pemerintah Indonesia sebagai Wakil Kepala (Waka) Badan Pelaksana (BaPel) Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS).
  • Peran kami di BPLS merupakan penugasan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (MESDM) yang sebelumnya selaku Ketua Dewan Pengarah, Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo (Timnas PSLS), yang mengakhiri masa baktinya tanggal 8 April 2008, bersamaan dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 14 tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo.
Misi Nasional Bapel BPLS  yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 14 Tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, yaitu :
1) Upaya Penanggulangan Semburan Lumpur,
2) Penanganan Luapan Lumpur,
3) Penanganan dampak sosial kemasyarakatan, dan
4) Penanganan  Infrastruktur sebagai dampak semburan lumpur panas yang telah terjadi sejak 29 Mei 2006.
Pada media dan kesempatan yang baik ini, kami baik secara pribadi sebagai bagian dari PUTRA Indonesia maupun sebagai salah satu pimpinan Bapel BPLS mengajak semua komponen masyarakat Indonesia dan juga masyarakat dunia(World community) untuk bersama-sama melihat ke depan (looking foreward and future), ‘Mari kita bahu membahu untuk mencari solusi yang terbaik (the best solution) bagi NEGERI ini dalam rangka penanggulangan MUSIBAH atau BENCANA diakibatkan oleh fenomena alam  (natural or geological phenomena) ini’.
Pesan moral yang mengiringi harapan tersebut!
‘Tidak akan ada Pemerintah dimanapun dan kapanpun yang akan rela atau tega untuk menyengsarakan BANGSA-NYA sendiri’, namun suatu realita masih ada kekurangan-kekurangan dan keterbatasan yang ada dalam untuk mengoptimalkan segala upaya Penanggulangan Bencana yang terjadi’.
Dari lubuk hati yang paling dalam kami pribadi dan Bapel BPLS :
Mohon doa restunya agar kami dapat memberikan yang terbaik (do the best), kami juga dapat berkontribusi serta berdharmabakti sekuat tenaga dan fikiran (all out), agar musibah ini dapat kita tangani dengan baik, bahkan impiannya agar semburan lumpur Siring dapat berhenti atau paling tidak debit semburan dapat mengecil’.
Sehingga  pada akhirnya kondisi yang diharapkan agar sendi-sendi kehidupan masyarakat yang terdampak langsung atau tidak langsung dari Lumpur Siring dapat segera dipulihkan kembali.
Kesempatan ini merupakan yang pertama kalinya kami menempatkan informasi langsung dalam website internet.
Kami mengundang partisipasi dan kontribusi, seluruh masyarakat dunia (The world community) untuk menyampaikan pikiran-pikiran cerdas dan bijak, saran-saran serta kritik yang membangun disertai solusi kongkrit. Pintu komunikasi akan senantiasa kami buka selebar-lebarnya
Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya, semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan Rahmat dan Hidayahnya kepada Bangsa, Negara dan Rakyat Indonesia yang masih terus mengalami cobaan, tantangan dan hambatan yang cukup berat dan komplek.
 10 November 2007
Prof. Dr. Ir. Hardi Prasetyo
Wakil Kepala Badan Pelaksana
Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo
6 November 2007@ Hardi Prasetyo
Menyusuri Kali Porong untuk mengamati sedimentasi Lumpur Siring sampai ke Muara
Pengaliran Lusi ke Laut melalui media K Porong adalah salah satu pilihan yang komplek dari opsi yang tidak banyak tersedia saat ini
 Panorama yang indah sepanjang Kali Porong yang telah mengalir cukup deras
Kali Porong telah ditetapkan sebagai alat bantu untuk mengalirkan Lusi Kelaut
Lumpur Siring berasal dari endapan Selat Madura purba (paleo Madura Strait) di kembalikan ke Selat Madura modern (Modern Madura Strait)
Flora dan Fauna: Bakau dan burung-burng hidup di dekat Muara K. Porong tanpa terusik adanya pengaliran Lusi Ke Laut yang telah dimulai sejak tahun 2006. 
RINGKASAN PERKEMBANGAN PENANGGULANGAN LUMPUR SIRING
 Status 8 November 2007
POKOK-POKOK BAHASAN
 
A.  UMUM
B.   PENANGGULANGAN SEMBURAN
C.   PENANGGULANGAN LUAPAN LUMPUR
D.  PENANGGULANGAN DAMPAK SOSIAL KEMASYARAKATAN
E.   PENANGGULANGAN DAMPAK INFRASTRUKTUR
 
A.  UMUM

Laporan perkembangan kegiatan diawali dengan meringkas upaya khusus (special effort) yang memberikan implikasi langsung (direct implication) terhadap misi
nasional (national mission) BPLS dalam penanggulangan Lumpur Sidoarjo, sebagaimana diamanatkan Peraturan Presiden No. 14/2007. Upaya dan langkah
yang telah memberikan dampak signifikan disusun secara mengikuti alur pikir: 
(1) upaya penanggulangan semburan; 
(2) penanganan luapan lumpur; 
(3) penanganan dampak sosial kemasyarakatan;  dan
 (4) penanganan dampak infrastruktur.
B. PENANGGULANGAN SEMBURAN

  • Kecenderungan umum penghentian semburan:
Telah terjadi suatu kecenderungan baru (new trend), ditandai oleh terjadinya 4  (empat) kali periode semburan sangat kecil sampai berhenti.
Sebagai perbandingan pada laporan bulan sebelumnya (Oktober) karakteristik semburan hanya ditandai oleh adanya satu periode erupsi lumpur yang tenang (calm mud eruption). Sebagai dampak positif adalah telah membangkitkan rasa optimisme  bagi BPLS, terhadap upaya penghentian total semburan atau paling tidak terjadinya pengurangan debit (volume) semburan;
  • Strategi penanggulangan semburan:
Mengoptimalkan keberadaan tanggul yang ada (existing) dengan  meninggikannya mencapai titik optimal (optimal point), serta mengalirkan luapan  lumpur dengan sistem dredger dan pompa-pompa lumpur jenis Toyo secara tersebar(distributed out flow), agar benteng peta area terdampak 22 Maret 2007  tidak meluas; dan (2) Setelah Lusi dapat dikendalikan, akan dilanjutkan berbagai  upaya penghentian atau pengurangan debit semburan lumpur dengan memperhatikan potensi dampak  lingkungan yang terkecil, kedalamnya termasuk kelanjutan opsi antara lain: 1) Usulan Lama (pending) Timnas PSLS yaitu relief well-3, insersi bola-bola beton, 2) Usulan baru pasca Timnas yaitu  ‘double cofferdam’, penyumbatan lubang semburan dengan batu atau baja, dan lain-lain yang terus diusulkan dari berbagai pihak.
  •  Mengendalikan semburan dengan terus memelihara dan memperkuat tanggul cincin di sekitar pusat semburan(eruption center):
Memperlancar mekanisme pengaliran Lusi pada tiga alternatif, yaitu 1) Utama yang diamanahkan Perpres 14/2007 yaitu ke selatan melalui tanggul kanal,  2) Komplemen Utama, pengaliran ke arah timur/tenggara yang merupakan pola aliran yang alami  (natural drainage pattern), 3)Darurat, untuk mengalirkannya ke utara, yang semata-mata dilakukan untuk mengamankan  tanggul cincin ketika gelombang di pusat semburan sangat besar.
Suatu realita yang dihadapi bahwa pengaliran Lusi ke utara yang sebenarnya merupakan langkah kedaruratan untuk mengamankan tanggul cincin di pusat semburan, lebih besar dan berlanjut, dibandingkan dengan aliran ke selatan melalui kanal atau jalur komplemen tenggara, rasio kesulitan terkait teknis dan faktor alami terkait gradient topographyc sebagai implikasi tumbuh dan berkembangnya  Lusi mud volcano.
Untuk itu  agar pengaliran lusi ke Selatan dapat kembali dioptimalkan, maka ketersediaan (avaibility) dan kinerja (performance) sarana dan alat-alat berat harus terus disempurnakan.

C. PENANGGULANGAN LUAPAN LUMPUR

  • Prinsip Penanganan luapan lumpur:
Telah ditetapkannya pola tetap atau prinsip penanganan luapan lumpur yang terdiri dari 6 (enam) aspek:
(a) membangun kolam tampungan seluas 600 Ha dengan kapasitas sekitar 54 juta m3 untuk menampung luapan lumpur dengan  debit 100.000 m3 atau sekitar 1 juta barel. Jumlah ini analogi kira-kira dengan  seluruh produksi minyak bumi Indonesia saat ini, yang keluar dengan terlebih dahulu dipompa dari batuan reservoir di bawah permukaan;
(b) pada musim hujan kolam lumpur dikeruk dan  dikosongkan dengan dredger, dan lumpurnya dialirkan ke Kali Porong, sehingga dapat menampung lumpur pada musim kemarau;
(c) Pengaliran lumpur ke Kali Porong didistrubsikan (distributed outlet) melalui beberapa titik di hilir dari spillway, sedangkan selama ini pengaliran lumpur dilakukan secara terpusat (concentrated distribution) di sekitar rumah pompa;
(d)  meningkatkan kapasitas kali porong untuk menjaga kinerjanya dalam pengendalian banjir di wilayah kali Berantas; dan
(e) pemanfaatan lumpur di pesisir panai untuk reklamasi.
  • Pemilihan dua alternatif mekanisme pengaliran lumpur:
Terhadap dua alternatif pengaliran lumpur ke laut yaitu, pertama melalui rute  saluran di darat yang sejajar dengan K. Porong, dan alternatif kedua dengan mengoptimalkan daya yang tersedia dari K Porong sendiri untuk dapat mengalirkan Lusi atau mengangkut sedimen Lusi dari outlet di spillway langsung  ke laut, selanjutnya Presiden RI telah menetapkan alternatif ke 2 yaitu pengaliran lusi melalui K Porong.
 
  • Dukungan knowledge terhadap pemilihan alternatif pengaliran Lusi melalui K. Porong:

Untuk memperkuat rasionalisasi alternatif pembuangan Lusi ke laut melalui K. Porong, beberapa pandangan para ahli geologi salah satu diantaranya Prof. Dr. Koesoemadina, adalah:
(1) Lusi secara geologis berasal dari formasi batuan lumpur berumur beberapa juta tahun, yang diendapkan di lingkungan Selat Madura purba (paleo Madura Strait);
(2) Kandungan mineral Lusi yang merupakan hasil dari fenomena alami atau geologi (natural or geological phenomena)diyakini tidak mengandung unsur-unsur kimia yang berada pada tingkat yang membahayakan lingkungan; dan
(3) Pembuangan Lusi ke Laut mengandung makna Lusi diantar dari posisi Selat Madura purba yang berada di bawah pemukaan (subsurface) dari daerah luapan lumpur, untuk selanjutnya dikembalikan ke tempat asalnya pada Selat Madura modern (modern Madura Strait).

Antisipasi menghadapi potensi bahaya banjir pada musim penghujan 2007/2008:

(1) Tanggul-tanggul lingkar luar di bangun untuk memperkokoh benteng, agar lumpur tidak melup dari peta terdampak. Hal signifikan adalah terbangunnya tanggul baru yaitu: Tanggul Siring (barat), Tanggul Perumtas dan Tanggul Glagaharum (utara), Tanggul Reno (barat);
(2) Telah dioperasikannya kapal keruk (dredger) dan pompa slurry jenis Toyo, yang ditempatkan di sekitar Intake dan sekitar Tanggul 41; dan
(3) Dioperasikannya sekurang-kurangnya lima excavator-ponton dibarengi dengan tiga dredger yang mulai bekerja untuk secara khusus menghanjurkan sedimentasi kipas (fan sediment) lumpur yang  terjadi di selatan spillway dan secara umum melakukan normalisasi K Porong,  agar dampak negatif dari pengaliran lusi ke Laut dapat diminimalkan. Salah satu satu kapal keruk ‘Makassar’ milik PT Timah akan ditempatkan untuk menangani sedimentasi di daerah muara sungai termasuk kawasan pesisisir (coastal zone).

D. PENANGGULANGAN DAMPAK SOSIAL KEMASYARAKATAN

  • Penanganan Masalah Sosial

Pelaksanaan verifikasi status sampai dengan 8 November 2007 adalah:
Berkas masuk : 11.875 bidang
Lolos verifikasi : 11.541 bidang
Tandatangan IPJB : 10.776 bidang
Nilai (20%) : Rp. 597.434.683.620

  • Melampaui target yang ditetapkan Presiden RI:
Hal signifikan adalah proses pembayaran uang muka (20%) terhadap lahan dan bangunan milik warga, sebagaimana instruksi Presiden (Juni 2007) sebagai perkuatan Perpres 14/2007 adalah tercapainya target yang melebihi 100 % (10000 bidang) sebagaimana yang ditetapkan oleh Presiden RI dalam kurun waktu 10 minggu. Secara keseluruhan kemajuan yang dicapai tersebut mencapai sekitar 95% dari keseluruhan target (all target). Rasio keberhasilan (success ratio) yang tinggi merupakan buah kerja keras dari jajaran BPLS dan PT Minarak, disamping itu juga telah diterapkannya suatu mekanisme yang unik yaitu dilakukan sumpah bagi warga yang meragukan luasnya lahan dan bangunan, dimana kegiatan awal sumpah telah difasilitasikan oleh Cak Nun.
  • Penuntasan tahap ke dua Jual Beli Lahan dan Bangungan Masyarakat:
Dalam rangka penuntasan penanganan masalah sosial terkait dengan jual beli lahan dan bangunan masyrakat di dalam daerah terdampak, maka BPLS telah
menyampaikan peta jalan (road map), dimana pembayaran tahap ke 2 (80%) akan mulai pada bulan Mei 2008. Sejalan dengan hal tersebut Pemda Kabupaten Sidoarjo telah menyiapkan upaya untuk mencegah larinya modal (capital flight)ke luar Kabupaten Sidoarjo.
  •  Penuntasan pembayaran 20%:
Proses pembayaran uang muka (20%) jual beli lahan dan bangunan warga tersebut pasca dilakukannya program percepatan (fast track program) akan dilanjutkan, termasuk upaya untuk memecahkan kebuntuan terhadap kelompok masyarakat yang belum atau tidak mau mengikuti skema yang telah disepakati, yaitu 20:80%, disamping penanganan masalah-masalah sosial lainnya di luar ‘cash and carry’.

E. PENANGGULANGAN DAMPAK INFRASTRUKTUR

  •  Mempertahankan pintu persilangan kereta api di bawah otoritas PT KAI:
Telah disepakati dengan PT KAI untuk tetap mefungsikan 2 (dua) pintu lintasan  KA di daerah terdampak masing-masing di Siring (menuju pusat semburan) dan
di Ketapang (menuju Tanggul PerumTAS, termasuk revitalisasi dan  pembangunan drainase di sepanjang Siring-Ketapang.
  • Kesepakatan Pemutusan aliran listrik SUTT 150 KV:
PT PLN telah memutuskan aliran listrik pada SUTT 150 KV sebesar 40 MW yang melitas daerah genangan Lusi mulai dari Tanggul Jatirejo (barat), Tanggul Kanal (tengah) dan di intake (selatan), yang sebelumnya telah ditetapkan dalam  kondisi yang membahayakan bagi operasi penanggulangan luapan lumpur. Keberadaan infrastruktur SUTT 150 KV tersebut akan terus dipertahankan dan direvitalisasi, namun hanya akan digunakan sebagai langkah darurat (emergency)ketika terjadi gangguan fatal (black out) sistem transmisi Jawa-Madura-Bali (Jamali).
  • Respon cepat kerusakan infrastruktur umum:
Sebagai dampak adanya land subsidence dan gejala geologi (indikasi patahan) maka infrastruktur umum jalan KA telah mengalami kerusakan berkali-kali (rel berkelok-kelok), dan Pipa PDAM telah pecah dan bocor secara berluang (lebih sepuluh kali). Sementara itu pipa gas Pertamina yang sebelumnya berada di utara Pusat Semburan, telah dipotong pada sisi barat, dan saat ini telah membuat konfigurasi yang melintang utara-selatan di sisi kolam Perumtas bagian barat. Ke depan pipa gas Pertamina tersebut, akan didayagunakan BPLS sebagai alat bantu (tool) atau prasarana pengurasan Lusi di kolam-kolampenampungan ke laut melalui K. Porong.
  • Perkembangan relokasi infrastruktur:
Saat ini masih terkonsentrasi pada pengadaan tanah dan prakontrak. Untuk itu  telah dilakukan proses pengumuman kelulusan prakualifikasi, yang selanjutnya

akan ditunjuk pemenang tender pada Desember 2007.

F. AKTUALISASI KEBIJAKAN DARI PRESIDEN RI

  • Paradigma Baru Kedaruratan Dalam Menghadapi Potensi Banjir Pada  Musim Penghujan 2007/2008
Presiden RI telah menetapkan status kedaruratan (emergency) dalam  menghadapi empat kekhawatiran yang disampaikan Bapel BPLS dalam menghadapi musim penghujan tahun 2007/2008, yaitu: (1) Jalan Raya Porong dan rel KA terputus; (2) area terdampak semakin meluas; (3) Kali Porong  meluap; dan (4) Permukiman di sisi Barat Jalan Raya Porong Tergenang.
Disamping itu Presiden RI juga telah menetapkan alternatif pengaliran Lusi ke laut melalui sarana Kali Porong, dibarengi dengan instruksi untuk memobilisasi kapal keruk yang beroperasi dari pusat outlet pompa-pompa di belakang spillway sampai ke muara Kali Porong. Salah satu dari lima kapal keruk (dreger) akan dikerahkan  oleh PT.TIMAH dibawah koordinasi Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, yang berlayar dari Pulau Bangka dan akan beroperasi di muara Kali Porong. Sedangkan keempat kapal keruk lainnya dikerahkan di bawah koordinasi Departemen PU.

DAVIES 2011: LUSI, Berapa Lama dan Apa Selanjutnya

Desember 8, 2017

09:15-09:35 Durham University

Presentation by Richard Davies

“LUSI : HOW LONG AND WHAT NEXT” 

img

 

Richard Davies, Durham University, UK

*Katie Roberts, Durham University, UK

*Simon Mathias, Durham University, UK

Mark Tingay, University of Adelaide, Australia 

Richard SwarbrickGeopressure Technology Ltd., UK

Professor Richard Davies

Durham University

Professor Richard Davies has worked on mud volcanoes since 2003 initially in the Caspian Sea using 3D seismic reflection data. 

He’s looked into the trigger mechanisms for LUSI, its subsidence and the vents that have developed on and around it.  

Most recently he’s worked on potential mud volcanoes on Mars.  He has been one of the pioneers in the use of 3D seismic reflection data in understanding fluid flow and soft sediment deformation basins around the world.  

He formerly worked in the oil and gas industry and is also Director of Durham University Energy Institute.

Gambar terkait

Hasil gambar untuk Richard Davies lusi

LUSI LIBRARY: SLIDES PRESENTATION, DAVIES. R, Int. Scien. Symposium, Future LUSI, 26 May 2011

DRONELUSI-01

Slides Presentation, modified the style from its original, without any change in the subsatntion (keep in original). Prof. Dr. Richard Davies, Durham University, UK, presented at the International Scientific Symposium, On Future LUSI. Was held on 26 May 2011, at the Mercure Hotel, Surabaya, Indonesia. Organized by Humanitus Sidoarjo Fund in cooperatioon/coordination with the BPLS. (The original and Previewed presentation will be completed). Hardi

Slide1

Outline

Slide2

1.  Introduction to the Geology

Slide3

2.  How long will it last?

Slide4

Slide5

Slide6

Slide7

3.  What next?

 

Results

Longevity one of the most important results of our research efforts.

But if the dynamics have changed from overpressure driven, to gas slug driven, then the whole basis for estimating both future eruptive activity and eruption longevity has changed.  Experience on igneous volcanoes like Stromboli could be used

Slide8

Slide9

Slide10

Slide11

Slide12

 

 What next – ideas

Slide13

Within the next few years Lusi could slow to very low eruption rates (as predicted)

But natural mud volcanoes go through phases of short duration violent eruption (pressure release). 

Could Lusi develop clearer phases of activity and dormancy on similar timescales to natural mud volcanoes?

Pressure re-charge?

Dissolved gas may keep very low levels of activity going for several decades

Idea for more joined-up research approach

Slide14

Set up ‘Lusi research network (LRN) including people researching Lusi (overseas and Indonesian academics) and key stakeholders.  Meet once per annum in Surabaya. 

1. Discuss ideas and ensure research impact (we’re working on questions with relevance)

2. Discuss sources of new data

3. New research avenues and potential funding streams

4. Requires fund of $25k(?) per annum and some adminstration

ALBUM PRESENTASI DAVIES PADA SIMPOSIUM INTERNASIONAL ILMIAH LUSI 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Slide15

 

EDISI KHUSUS LUSI 6 TAHUN: MISTERI DAN KEAJAIBAN DUNIA

BERAPA LAMA LAGI DAN APA LANGKAH SELANJUTNYA

 HOW LONG AND WHAT NEXT

 Richard Davies dkk., 2011

 Paper disampaikan pada Simposium Internasional tentang Lusi ke depan.

Diselenggarakan atas kerjasama antara

Humanitus Sidoajo Fund (HSF) dan Bapel BPLS 26 Mei 2011,

Menjelang Usia Lusi ke 6 Tahun

Dievaluasi dan dikontribusikan Oleh Dr. Ir. Hardi Prasetyo

Untuk edisi khusus 6 Tahun LUSI: Misteri dan Keajaiban alam di Dunia (Mystery and the World natural Wonder)

Tentang Dokumen!

Dokumen ini meninjau makalah ilmiah yang telah dipresentasikan oleh Prof. Dr. Richard Davies, pada Simposium Internasional Solusi Lusi ke depan,  26 Mei 2011.

Identifikasi Masalah dan Upaya yang dilakukan

Pasca mengerucutnya pandangan para pakar Geologi dari manca negara tentang Lusi, bahwa semburan Lusi sulit atau tidak mungkin untuk dihentikan dengan berbagai teknologi, maka pertanyaan selanjutnya adalah berapa lama semburan Lusi akan berhenti dengan sendirinya?

Pendekatan perkiraan masa hidup Lusi?

Pada makalah ini Davies melakukan perhitungan masa hidup Lusi dengan menggunakan parameter tersedianya air di dalam reservoir yang diasumsikan berasal dari reservoir tertutup di Formasi Perupuh, dibandingkan dengan kecepatan semburan.

Perhitungan prakiraan panjang umum semburan Lusi

Sebelumnya perkiraan perhitungan lama semburan Lusi antara lain:

  1. IAGI, berdasarkan besarnya reservoir lumpur dari Formasi Kalibeng, dibagi dengan kecepatan semburan yang rata-rata 100.000m3/hari;
  2. Istadi dkk., 2009, telah menggunakan parameter dari volume lumpur dari Formasi Kalibeng atas, dibagi dengan kecepatan semburan rata-rata 100.000 m3, menghasilkan angka lama semburan di atas 25 tahun;
  3. Andreas dkk., 2011 dengan menggunakan perhitungan deformasi amblasan (subsidence), yang menunjukkan angka sekitar yang mendekati dengan angka 26 Tahun.

Konsekuensi Lusi berumur panjang pada dampak deformasi

Hal lainnya yang menjadi perhatian Davies  adalah tentang model struktur geologi. Dimana ditekankan telah terjadi perubahan mendasar dari arah sumbu panjang kawah Lusi yang  cenderung sejajar dengan  arah  sumbu antiklin jawa (timur-barat).

Hal ini sangat kontras dengan kondisi sebelum tahun 2009, dimana sejak saat terbentuknya semburan Lusi lebih mengikuti arah struktur Sistem Patahan Watukosek (NE-SW).

Konsepsi pengendali mekanisme deformasi, pembentukan kaldera

Hadirnya bubble  dipicu oleh terjadinya pembentukan ditembusnya reservoir dangkal (terdapat gas) oleh sistem patahan melingkar (ring fault system), disebutnya sebagai hasil dari proses pembentukan kaldera (caldera formation process).

Usulan Davies terhadap pembentukan LRN telah bergulir

Hal penting pada aspek teknis adalah bahwa tanpa diduga Davies telah mengusulkan suatu gagasan yang cerdik dan bijak, yaitudibentuknya Lusi Research Network (LRN), yang mengedepankan proses interaksi sesama Pakar Kebumian yang peduli pada fenomena Lusi mud volcano.

Isu-Isu Ilmiah yang diangkat secara terintegrasi:

Secara substansi isu ilmiah yang dikemukan merupakan ekstraksi dari makalah ilmiah yang relavan antara lain:

Ø Davies., 2011: Terkait hasil perhitungan masa kehidupan dari semburan Lusi selama 26 tahun;

Ø Roberts, K., 2011: Melakukan analogi dengan mud volcano di Azerbaijan terkait hubungan arah panjang sumbu kawah dengan pola struktur regional yang sebelumnya telah ada; dan

Ø Tingay M., 2010: Telah mengusulkan perubahan tatanan geologi dan stratigrafi di bawah semburan Lusi (Proyeksi sumur BJP-1) antara lain peggantian nama dari Satuan batugamping Formasi Kujung (Oligosen) dan Formasi Prupuh (Miosen). Disamping itu mengusulkan perubahan satuan batupasir klastika volkanis menjadi satuan ekstrusi mamagmatik (welded tuff). Perubahan usulan tatanan stratigrafi tersebut akan mempunyai implikasi terhadap pengendali mekanisme semburan LUSI. Namun hal ini masih belum mendapatkan tanggapan dari para ahli kebumian Indonesia, khususnya IAG yang mempunyai mekanisme Sandi Stratigrafi Indonesia.

SUBSTANSI PRESENTASI MAKALAH DAVIES 2011

Pokok-pokok Bahasan :

Gambar: Penampang seismik dan penafsiran stratigrafi dan struktur, yang digunakan sebgagai basis penentuan sumber air (Formasi Prupuh), Sumber lumpur (Formasi Kalibeng) dan struktur patahan yang mengontrol (termasuk sistem Patahan Watukosek).

Stratigrafi Lusi mud volcano

Penampang seismik memperlihatkan satuan batuan tertua adalah karbonat Formasi Prupuh, berumur Miosen (merupakan koreksi dari penggunaan sebelumnya Formasi Kujung, Oligosen). Selanjutnya ditetapkan sebagai sumber air utama;

Diatas Formasi Prupuh adalah pasir volkanoklastik dari Formasi Kalibeng Atas, Pliosen;

Diatasnya adalah satuan lempung abu-abu kebiruan, Formasi Kalibeng Atas, Pliosen, ditetapkan sebagai submber lumpur; .

Satuan yang termuda terdiri dari selang-seling pasir dan lumpur berumur Pliosen

Acuan yang digunakan Davies dalam basis Stratigrafi:

  • Tingay, M., 2010. Anatomy of the ‘Lusi’ mud eruption, East Java. Australian Society of Exploration Geophysicists. Extended Abstract;
  • Istadi, B.P, et al., 2009. Modeling study of growth and potential geohazard for Lusi mud volcano: East Java. Indonesia. Marine and Petroleum Geology, 26. 1724-1739.
  • Kusumastuti, A., et al 2002. Seismic sequence analysys dan reservoir potential of drowned Miocene Carbonat platform in the Madura Strait, East Java, Indonesia. AAPG Bulletin, 86, 2-3-232.

Parameter yang digunakan pada pemodelan Lama Semburan Lusi:

Davies et al., 2011, Konsepsi antara tatanan Geologi dan Pemodelan Panjang Umur Semburan Lusi.

Metoda dan Input:

  • Berbasis kepada suatu model menggunakan masukan sebagai Hukum Darcie, 1D radial-flow, pendekatan keteknikan reservoir (analogi seperti sumur air);
  • Kemungkinan, kisaran dari masukan;
  • Sumber air adalah karbonat pada kedalaman 2500-3500m;
  • Perkiraan luas sekitar 100-600km2;
  • Ketebalan antara 0,2-1 km;
  • Porositas 0,15-0,25%;
  • Tekanan 13,9-17.6 Mpa;

·        Pemisahan  dengan sumber lumpur antara 1200-1800m.

Catatan:

  • Davies menentukan posisi penting, bahwa walaupun berbagai argumen yang ada cenderung menyebutkan bahwa Pemboran tidak menembus satuan Karbonat Formasi Perupuh, namun  hanya formasi Batugamping Prupuh itulah  yang disebutnya mempunyai kelayakan dari aspek permeabilitas.

    Sementara itu sebagai konsekuensi ditembusnya kearah  atas dari Formasi  Kalibeng Atas akan mengkontribusikan air.

    Hasil Penting:

    Proses Perhitungan dan Hasil:

    Plot Volume lumpur m3 versus waktu:

    Kurva memperlihatkan peningkatan sampai (1) setelah 3 tahun 73 m3 (Tingay 2010) sebagai realisasi; 1 tahun pertama 37,3 juta m3 (Istadi et al., 2009), dan proyeksi dengan tanda tanya, dan prediksi terjadi konsistensi lapisan;

    Plot kecepatan Juta liter/hari versus waktu,  dari tahun pertama rata-rata 100.000 m3/hari menjadi hanya 10.000m3/hari;

    Dengan catatatan bahwa walaupun realisasi mud flow rate10.000 tapi angka tersebut gagal untuk menghasilkan dua titik data di dalam kisaran 20%.

    Berapa lama semburan Lusi?:

Plot kemungkinan durasi semburan Lusi berdasarkan kemungkingan ketiadaannya (probability of nonexceedance) dari 50 % percentil adalah waktu dimana kecepatan aliran lumpur telah berkuran sampai mencapai 0,1 juta liter/tahun yaitu sekitar 26 Tahun.

Asumsi:

Tidak ada masukan tekanan (sebegitu jauh tidak ada); Mengabaikan gas – akan meningkatkan panjang umur (longevity), menyediakan mekanisme pengangkatan lainnya; dan Mengabaikan peran dari ‘kawah ke dua’ (secondary vents).

Implikasi pada Struktur Geologi:

Model Struktur pada tiga even waktu:

(1)   Mei 2006, awal pembentukan Lusi;

(2)   Januari 2010, terjadi perubahan signifikan terkait pembentukan kaldera dan arah panjang kawah mengikuti arah regional lipatan Jawa (Timur-Barat); dan

(3)   Mei 2011, dan seterusnya dengan pemantapan pembentukan kaldera dan struktur kawah memanjang searah sumbu antiklin Jawa.

Umum

Membagi perkembangan struktur menjadi tiga tahapan:

  • Mei 2006 atau tahap lahir dan tumbuhnya Lusi;
  • ·Januari 2010 setelah terjadi perubahan cukup mendasar, pasca mengalami tahap sudden collapse;
  • Tahun 2011 dan selanjutnya, pemantapan struktur terkait Pembentukan Kaldera, dan sumbu panjang kawah mengikuti arah panjang dari struktur regional Antiklin Jawa.

Regional

Secara konsepsi terdapat dua eleman struktur regional yang digambarkan memegang peran dalam mengendalikan pembentukan struktur mikro – Lusi yaitu:

  • Patahan Watukosek berarah timur laut baratdaya dan
  • Sumbu Panjang Antiklin Jawa, yang berarah relatif timur barat.

A: Skenario Model Struktur Mei 2006: Pembentukan Lusi

  • · Pusat Semburan Lusi dan empat semburan sekunder berarah timur laut baratdaya, relatif memotong antiklin Jawa.
  • Pada bagian terbawah adalah satuan Karbonat Miosen (Formasi Prupuh), digambarkan berada dekat dengan puncak antiklin yang diproyeksikan pada lokasi Lusi dan Banjar Panji.
  • Diatasnya digambarkan akuifer dangkal (warna biru) yang menempati sayap dari antiklin.

B: Skenario Model Struktur Mei Januari 2010: Perkembangan Lusi

  • Telah terjadi reaktifasi patahan di puncak antiklin dengan arah Timur-Barat, selanjutnya akuifer dangkal terpotong oleh patahan-patahan tersebut, di permukaan muncul sebagai bubble dengan rekahan relatif timur-barat dimana kawah berarah sepanjang patahan puncak antiklin (vents aligning along crestal faults).
  • Lusi mud volcano dengan kawah utama membentuk geometri kerucut mendatar, dengan sumbu panjang relatif timur barat, menyilang dari arah Patahan Regional NE-SW (Sistem Watukosek).

c. Model PREDIKSI STRUKTUR KE DEPAN (PREDICTED FUTURE STRUCTURE)

  • Patahan kaldera melingkar yang memanjang (elongate caldera ring faults)sebagai perwujudan di permukaan  patahan yang melibatkan Formasi Batugamping Prupuh, yang ditetapkan sebagai sumber air utama semburan Lusi, dan reservoir dangkal;
  • Terbentuk bubble yang keluar ke permukaan dari reservoir dangkal yang ditembus oleh patahan-patahanan kaldera melingkar;
  • Air berasal dari reservoir batugamping ke luar ke atas melalui saluran pengumpang berbentuk silinder, muncul di permukaan sebagai ’big hole’ di daerah kawah, dengan sumbu panjang searah dengan sumbu panjang antiklin Jawa.

Catatan:

  • Davies et al., 2011, memisahkan dengan tegas bahwa sumber fluida utama keluar dari Formasi Batugamping Prupuh yang juga menembus sumber lumpur di Formasi Kalibeng;
  • Sumber bubble berasal dari reservoir dangkal, yang juga ditembus oleh struktur-struktur terkait pembentukan patahan kaldera melingkar (caldera ring faults).

Apa langkah-langkah selanjutnya dari berbagai gagasan (What next – ideas)?

Hasil penting:

  •  Kecepatan semburan Lusi ke depan akan melambat:

Dalam beberapa tahun ke depan kecepatan semburan Lusi dapat melambat sampai pada tingkat kecepatan semburan yang sangat rendah, sebagaimana yang diduga sebelumnya (Within the next few years Lusi could slow to very low eruption rates (as predicted).

  •  Kecenderungan umum semburan yang merusak berjangka waktu pendek:

Namun suatu mud volcano yang alami (natural mud volcano) akan bergerak pada fase pendek dari semburan yang ganas (melepaskan tekanan).

  • Analogi perulangan semburan dari beberapa mud volcano di dunia, mencapai 100 tahun:

Digunakan analogi durasi semburan dari beberapa mud volcano, terhadap interval waktu antara tahun 1900-2000, antara lain: Lokbatan (Azerbaijan), Piparo, Chatam, Columbus dan Aglais Point di Trinidad. Intinya menggambarkan terjadinya recurrent intervalsemburan, bisa berlangsung sampai 100 tahun.

  • Plot stratigrafi, flow rate dan volume di permukaan:

Plot skematik antara Stratigrafi Lusi dengan konseptual sumber air di reservoir batugamping, dan proses erosi lumpur bawah permukaan (subsurface erosion mud), dan indikator di permukaan antara flow rate dan volume.

  •  Apakah lusi dapat mengikuti interval perulangan dari mud volcano lainnya?

Pertanyaan apakah Lusi dapat berkembang dengan fase aktivitas yang lebih jelas dan pengecilan (dormancy) pada skala waktu yang sama dengan mud volcano yang alami lainnya?

  • Alternatif masukkan tekanan lain:  

Apakah ada pemasukan tekanan (Pressure re-charge).

  • Aktivitas semburan gas dapat berlangsung beberapa dekade ke depan:

Gas terlarut (dissolved gas) mungkin akan tetap berada pada level yang sangat rendah, dari aktivitas yang akan berlangsung selama beberapa dekade ke depan.

Non-Ilmiah: Gagasan untuk pendekatan peningkatan kerjasama Riset LUSI

Usulan Pembentukan LRN:

Menyiapkan suatu Jaringan Riset Lusi (Lusi research network LRN) termasuk personal yang terlibat pada penelitian  Lusi, baik akademisi dari luar negeri dan dalam Indonesia serta para pemangku kepentingan kunci.

Usulan pertemuan Tahunan LRN (PT-LRN) di Lusi Dome:

Untuk itu juga diusulkan adanya pertemuan satu kali setahun  yang dilaksanakan di Surabaya.

Sasaran yang diharapkan dari PT-LRN:

1.   Mendiskusikan gagasan-gagasan baru:

Diskusikan gagasan-gagasan untuk menjamin dampak penelitian, dengan penekanan bahwa LRN bekerja berbasis pada pertanyaan-pertanyaan (dimaksud berorientasi isu) yang relevan.

2.   Mendiskusikan ketersediaan data baru:

Diskusikan sumber-sumber data baru.

3.   Dorongan untuk menyiapkan sarana pendukung:

Siapkan suatu gedung penelitian dan potensi sumber pendanaan.

4.   Kebutuhan pendanaan: Dibutuhkan pendanaan sekitar 25000 $ per tahun dan beberapa lainnya untuk administrasi.

Catatan:

  •  Gagasan cemerlang dan bagian dari Paradigma Baru:

Gagasan dari Prof. Richard Davies pada aspek non-teknis, sungguh cemerlang dan membesarkan hati, karena telah berperan aktif sebagai bagian perubahan paradigma Lusi ke depan.

  •  Konsekuensi semburan Lusi berlangsung lama pada aspek Penelitian Lusi bersama:

Sebagai konsekuensi semburan Lusi akan berlangsung lama (lebih 26 tahun), maka sangat diperlukan suatu studi terpadu yang melibatkan para ahli yang mempunyai perhatian pada Lusi;

  • Usulan LRN dan Pertemuan Tahunan-LRN sebagai impian:

Untuk itu disarankan dibentuknya Lusi Research Network (NRN), dimana diharapkan dapat melaksanakan pertemuan tahunan, dengan asumsi mengambil momen hari jadi Lusi yaitu bulan Mei.

  • Sebagai langkah kongkritAdalah:
  1. BPLS telah menyediakan dan menyempurnakan sarana Lusi Dome, sebagai sarana untuk mendukung kegiatan LRN;
  2. Lusi Library: Knowledge Management sebegitu jauh telah berperan sebagai sarana penghubung dan pertukaran informasi terkait Lusi;
  3. ASU, USA telah melakukan riset Lusi dengan menggunakan payung besar LRN, sehingga program riset dapat dilakukan, walaupun belum ada MoU formal secara bilateral.

 

Davies 2011: Perkiraan panjang semburan Lusi 26 Tahun, amblesan 95-475 m

Desember 8, 2017

Perkiraan Kemungkinan Panjang Umur untuk Mud Volcano LUSI, Jawa Timur

PROBIBILISTIC LONGEVITY ESTIMATE FOR THE LUSI MUD VOLCANO, EAST JAVA

Richard J. Davies1,*, Simon A. Mathias1, Richard E. Swarbrick1,2 and Mark J. Tingay3

1. Department of Earth Sciences, Durham University, Durham DH1 3LE, UK
2. GeoPressure Technology, Mountjoy Research Centre, Durham DH1 3UZ, UK
3. Department of Applied Geology, Curtin University, Perth, WA 6845, Australia

*Corresponding author (e-mail: richard.davies@dur.ac.uk)

Penelaahan dengan Kata Kunci dalam bahasa Indonesia, untuk Lusi Library

DRONELUSI-01

Dikontribusikan Oleh: Prof. Dr. Hardi Prasetyo

Pimpinan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo

Catatan:  Judul makalah ilmiah ini dipresentasikan pada Simposium Internasional Ilmiah Lusi, 26 Mei 2011, di Surabaya, dilaksanakan oleh BPLS-HSF Australia.

“LUSI : HOW LONG AND WHAT NEXT” 

Hasil gambar untuk Richard Davies lusi

Makalah ini telah dimuat pada situs BPLS.go.id, Apresiasi kepada Tim IT BPLS Warsito, Dwinanto, Afansa

 SARI

Suatu metoda baru untuk perhitungan perkiraan durasi Lusi

A new method for estimating the duration of a mud volcano eruption is applied to the LUSI mud volcano in East Java.

Suatu metoda baru untuk memperkirakan durasi (panjang umur) dari suatu semburan Lusi mud volcano, telah diaplikasikan untuk LUSI mud volcano.

Catatan:

  1. Perhitungan durasi yang diusulkan R. Davies et al. (selanjutnya ditulis Davies) dianggap baru, dalam arti berbeda baik dari umumnya diterapkan untuk mud volcano, maupun khususnya untuk Lusi mud volcano.
  2. Sejak tahun 2007, Davies menetapkan Lusi sebagai suatu mud volcano, yang memberikan implikasi mengikuti kaidah atau sistem perkembangan mud volcano, antara lain terjadinya ‘sudden collapse’.

 Basis perhitungan menggunakan asumsi utama air berasal dari karbonat dalam, dengan parameter-parameter yang digunakan pada pemodelan.

The estimate is based upon carbonates at depths in the range 2500–3500 m being the water source, with an estimated area of 100–600 km2, thickness of 0.2–1.0 km, porosity of 0.15–0.25, an initial pressure between 13.9 and 17.6 MPa, and a separate, shallower source of mud (c. 1200–1800 m depth).

Perkiraan didasarkan pada karbonat dengan kedalaman berkisar 2500-3500 m sebagai sumber air (water source), dengan daerah cakupan diperkirakan seluas 100-600 km2, ketebalan 0,2 – 1,0 km, porositas (porosity) 0,15-0,25, tekanan awal antara 13,9 dan 17,6 MPa, dan dipisahkan dengan sumber lumpur lebih dangkal pada interval kedalaman 1200-1800 m.

Catatan:

  1. Secara konsep, Davies memegang teguh pemahamannya, bahwa sumber air ‘overpressure’ berada lebih dalam (interval  2500-3500 m) yaitu pada reservoir karbonat (Formasi Prupuh – Formasi Kunjung – Formasi Tuban).
  2. Sedangkan sumber lumpur berada lebih dangkal di atasnya (interval 1200 -1800 m), yaitu Formasi Kalibeng Atas (secara umum diterima).
  3. Davies tetap yakin bahwa sumur BJP-1 telah menembus lapisan reservoir air overpressure karbonat Formasi Prupuh, walaupun disanggah oleh Mazzini (2007).
  4. Mazzini dan Istadi, menganggap bahwa air yang disemburkan Lusi terutama berasal dari proses diagenesis mineral smektik ke ilit dari satuan lempung dari Formasi Kalibeng Atas (dikenal dengan konsep sumber air dangkal).
  5. Parameter karakteristik reservoir antara lain menggunakan analogi dengan data sumur eksplorasi Porong-1, yang sebelumnya telah dipublikasikan.

 Hasil perhitungan untuk waktu yang diperlukan untuk semburan menurun sampai 0,1 juta/hari 26 Tahun

The resulting 50 percentile for the time it takes for flow to decline to <0.1 Ml day–1 is 26 years.

Hasil 50 persentil untuk waktu yang diperlukan untuk aliran mengalami penurunan lebih kecil <0.1 Ml day–1 adalah 26 tahun.

Catatan:

Perhitungan lainnya umumnya menggunakan kisaran durasi atas (top) dan bawah (bottom), namun Davies berdasarkan total volume air overpressure di reservoir batu gamping Formasi Prupuh. Durasi tersebut bukan berarti semburan = 0 tapi mencapai 0,1 juta liter/hari.

 Suatu analogi umum bahwa mud volcano secara alami dapat berlanjut sampai ribuan tahun

By analogy with natural mud volcanoes it can be expected to continue to flow at lower rates for thousands of years.

Sebagai analogi dengan mud volcano yang alami, panjang umur luapan diperkirakan akan berlanjut pada kecepatan rendah (low rates) untuk ribuan tahun.

Catatan:

  1. Hal penting adalah bahwa mud volcano umumnya, setelah pasca tahap semburan tinggi, setelah masuk pada semburan rendah, dapat terus mengalirkan lumpur sampai ratusan tahun. Tipe mud volcano yang dimaksud adalah yang mempunyai kecepatan aliran (flow rates) rendah, dalam paper ini diberi contoh seperti yang terjadi di Wootton Bassett, Inggris.
  2. Analogi juga dapat diamati dari 14 mud volcano selain Lusi yang berkembang di Jawa Tengah (termasuk Bleduk Kuwu) dan Jawa Timur yang terus meluapkan lumpur (terkadang dalam bentuk resapan) sampai ratusan tahun.

 Perkiraan amblesan tanah permukaan selama 26 tahun: 95-475m

Assuming subsidence rates of between 1 and 5 cm day–1, land surface subsidence of between c. 95 and c. 475 m can be expected to develop within the 26 year time period.

Diasumsikan bahwa kecepatan semburan antara 1 dan 5 cm/hari, amblesan tanah permukaan (land surface subsidence) dapat diperkirakan selama 26 tahun antara 95 dan 475m.

Catatan:

  1. Davies menggunakan asumsi besarnya kecepatan amblesan (subsidence rates) antara 1 dan 5 cm/hari, berdasarkan hasil penyelidikan Abidin et al (2008).
  2. Asumsi modeling perhitungan total land subsidence, dengan asumsi bahwa perhitungan dari Abidin berlaku kontinyu, yaitu flat rate of subsidence.
  3. Pada sisi lain, Andreas dan Abidin (2010) telah menyatakan bahwa rate of subsidence pada tahun 2009-2010 jauh menurun dari kondisi 2006-2009, dengan kisaran puluhan sentimeter dan puluhan desimeter per tahun, dibandingkan antara 1-5 cm/hari (digunakan Davies).
  4. Pantauan Bapel BPLS juga menunjukkan indikasi adanya kecepatan penurunan rate of subsidence, terutama pada tahun 2010-2011.
  5. Bila ingin mendapatkan gambaran terhadap total land subsidence adalah angka rate BPLS (dalam hari) dikali 30 (bulan) dikali 12 (tahun) dikali 26 tahun.

PENDAHULUAN 

Penekanan terhadap perilaku semburan (eruptive behavior) Mud Volcano; kasus perbedaan yang ekstrim antara di Azerbaijan dan Trinidad tahap perulangan dengan Wootton Bassett (UK) kecepatan semburan rendah

Perilaku semburan (eruptive behavior) dari suatu mud volcano (selanjutnya disebut MV) sangatlah bervariasi (highly variable).

MV dengan skala kilometer antara lain di Azerbaijan dan Trinidad, memperlihatkan bukti semburan berperilaku berulang (cyclic behavior), yaitu: liar (violent), berpotensi merusak (potentially destructive), semburan umumnya berlangsung dengan kisaran durasi antara jam sampai hari, diselingi oleh suatu periode masa istirahat yang lebih panjang (longer dormancy).

Sebagai perbandingan telah disandingkan MV yang berkembang di dekat kota Wootton Bassett (UK) dengan perilaku berskala meter.

Kecepatan semburan yang sangat rendah (very low eruption rates), dan tidak ada rekaman sejarah adanya semburan liar (violent eruption) (Bristow et al., 2000).

Catatan:

  1. Hal mendasar sebagai kata kunci adalah bahwa perilaku semburan MV sangat bervariasi, berkisar dari semburan liar sampai semburan sangat lemah, atau kecepatan semburan rendah. Variasi yang lebar juga berlaku untuk jenisnya, berkisar dari MV yang benar-benar menyerupai kenampakan gunung berapi hasil proses magma (magmatic volcano), sampai hanya yang berupa danau lumpur (mud lake). Dari dua contoh perilaku MV yang ekstrim tersebut, pertanyaannya adalah dimana posisi Lusi MV?
  2. Secara umum perilaku MV Lusi (selanjutnya Lusi) dikenal dengan semburan uap, air, lumpur dengan tendangan ‘kick’ lumpur.
    1. Kecepatan semburan pernah mencapai maksimum 180.000 m3/hari, rata-rata 64.000 – 100.000 m3/hari, dan berlangsung dalam waktu lebih dari 3 tahun, yang kemudian diberi predikat sebagai semburan mud volcano terbesar di dunia. 
    2. Sejak awal tahun 2010 perilaku yang ‘lex generalist’ tersebut telah mengalami perubahan cukup mendasar.
    3. Saat ini kecepatan semburan (eruption rate) Lusi telah mengalami penurunan secara drastis yaitu sekitar 10.000 m3/hari, dengan material yang dihasilkan terutama air dan lebih sedikit lumpur (koloidal).
    4. Walaupun kenampakan semburan Lusi di lapangan, ditandai dengan asap uap (steam smoke) berwarna putih, dibarengi dengan tendangan lumpur menyerupai pola ‘geyser’, namun tidak didapatkan adanya gelombang lumpur panas (hot mud wave), sebagaimana yang sangat dikenal sebagai perilaku Lusi masa lalu (2006-2009).

Atas dasar fakta lapangan tersebut, secara umum Lusi dapat disetarakan sebagai mud volcano tipe transisi (transition type) dari Azerbaijan dan Trinidad (berpotensi merusak), disertai siklus ‘dormancy’ ke tipe Wootton Bassett (UK), ditandai dengan kecepatan semburan yang rendah.

Sebelumnya panjang umur MV tidak terlalu mendapatkan perhatian untuk dikaji

Perkiraan panjang umur MV (longevity of mud volcano) sebelumnya tidak terlalu diupayakan untuk dikaji secara tersendiri.

Hal ini karena umumnya MV menyembur di daerah dengan kepadatan penduduk yang rendah (seperti Azerbaijan), atau sangat kecil untuk diperhatikan/diperhitungkan (seperti halnya di Wootton Bassett UK), dan tidak memberikan dampak kepada masyarakat luas.

Catatan:

  1. Umumnya MV di dunia, khususnya di Azerbaijan dan Trinidad terjadi pada daerah terpencil (remote area), jauh dari kawasan permukiman penduduk yang padat (dense population). Keberadaan MV tersebut tidak menimbulkan dampak negatif pada sendi-sendi kehidupan masyarakat.
  2. Sebaliknya di Azerbaijan dan Trinidad, keberadaan dari MV digunakan sebagai alat bantu dalam eksplorasi migas, sehingga tidak ada urgensi untuk melakukan perkiraan longevity.

Dari sudut pandang kedudukan geografi dan implikasinya, MV Lusi disebutkan sebagai MV yang unik di dunia

 

Gambar 1. (a) Peta Lokasi. (b) Foto Satelit Lusi dan sekitarnya (Mei 2010), Davies (2011)

Untuk MV Lusi yang berkembang di Jawa Timur di Indonesia, kondisi tersebut menjadi berbeda, merupakan salah satu yang unik di dunia (unique on Earth) dicirikan dengan: luas daerah Lusi menutupi daerah 7 km2, berkembang di daerah berpenduduk padat di Sidoarjo Jawa Timur, serta menyebabkan sekitar 13.000 keluarga kehilangan rumahnya.

Catatan:

  1. Davies menyebutkan MV Lusi sebagai MV yang paling unik di dunia, adalah karena sebagai suatu MV yang awalnya berperilaku sebagai semburan liar (violent eruption). Berkaitan dengan perubahan perilaku menuju ke tingkat yang lebih lemah dari tipe berpotensi merusak menuju dormancy, ditandai penurunan kecepatan semburan secara drastis, serta material keluaran berupa air saja.
  2. Keunikan MV Lusi sebagaimana disampaikan Davies adalah karena telah berkembang di daerah permukiman padat, dan telah menimbulkan kerugian  pada masyarakat, hal ini berbeda dengan MV pada umumnya, yang berkembang di daerah terpencil (remote area).

Julukan LUSI sebagai ‘Highest eruption rate on earth’, dan semburan bertenaga (vigorous)

Kecepatan semburan Lusi yang mencapai lebih dari 180.000 m3/hari (Manzzini et al., 2007), sehingga disebut sebagai suatu mud volcano dengan kecepatan semburan tertinggi di bumi (highest eruption rate on earth);

Termasuk kuat atau bertenaga (vigorous), karena MV LUSI tidak atau belum mengalami suatu siklusitas (cyclic), sejak awal terjadinya semburan pada 29 Mei 2006.

Catatan:

  1. Angka semburan maksimum yang diacu oleh Davies sebesar 180.000 m3/hari dan terus berlangsung selama 3 tahun dengan rata-rata 100.000 m3/hari. Disamping itu disebutkan bahwa semburan Lusi tipe bertenaga (vigorous), dicerminkan oleh tendangan (kick) disertai gelombang (wave) dari lumpur panas. Atas dasar kondisi tersebut, sehingga ditetapkan Lusi memegang rekor dunia sebagai ‘highest eruption rate on Earth’.
  2. Terkait volume semburan dengan volume 180.000 m3/hari, Davies mengacu dari publikasi Manzzini (2007), yang pada makalahnya antara lain dipengaruhi oleh adanya gempabumi pada Desember 2006.
  3. Terkait dengan rata-rata semburan selama 3 tahun antara 2006-2009, sebesar 100.000 m3/hari, Tingay pada artikel berjudul Anatomi Mud Volcano Lusi (2010) telah melakukan revisi kecepatan semburan rata-rata menjadi  64.000 m3/hari.

 Rasionalisasi MV Lusi dengan relief rendah (low relief): Kecepatan amblesan MV ditentukan 5,5 cm/hari, material campuran air-lumpur

MV Lusi mengalami amblesan (subsidence) dengan kecepatan amblesan (subsidence rate) lebih dari 5,5 cm/hari (Abidin et al., 2008; Istadi et al. 2009), pusat semburan Lusi dengan lebar 50 m. Karena adanya amblesan dibarengi dengan kandungan air dari semburan campuran air-lumpur-gas, maka mud volcano mempunyai relief yang rendah (low relief).

Catatan:

  1. Hasil studi pergerakan tanah (land displacement) oleh Abidin et al (2008), berdasarkan kombinasi teknologi GPS dan Remote sensing INSAR, telah digunakan sebagai baseline information, oleh hampir semua ahli kebumian dalam pembahasan aspek geohazard.
  2. Namun, hasil studi terbaru dari Andreas dan Abidin (2010), menunjukkan bahwa sejak tahun 2009-2010 kecepatan amblesan telah menurun dengan signifikan, dengan intensitas hanya berkisar cm sampai desimeter per tahun. Sayangnya informasi ini belum diacu oleh Davies, kemungkinan karena makalah Andreas tersebut baru dipresentasikan dan belum diterbitkan pada jurnal ilmiah terkemuka.
  3. Realitas di atas, diharapkan dapat digunakan oleh BPLS guna mengaktualisasikan parameter besar dan pola amblesan tanah yang mempunyai nilai strategis.
  4. Pusat semburan mud volcano Lusi, sejak Oktober 2010 jumlahnya sangat bervariasi antara 1, 2 dan 3. Demikian juga berdasarkan analisis citra satelit dan foto udara berselang waktu (time series) menunjukkan bahwa geometri serta dimensi pusat semburan utama berubah terhadap waktu, namun lebar kawah lebih dari 75 m.
  5. Foto udara status 23 Januari 2011 sangat jelas menunjukkan kenampakan menyerupai ‘crop circle’, yang selaras dengan hasil penelitian Andreas (2010), sebagai hasil dari proses pembentukan kaldera atau disebut (caldera subsidence).
  6. Morfologi gunung lumpur di permukaan menunjukkan dinamika dengan bentuk umum radial yang asimetri dengan bagian yang lebih luas ke arah utara dan timur. Terjadi perubahan morfologi dari suatu bentuk cone radial menjadi lebih kubah landai (smooth dome).
  7. Perubahan morfologi gunung lumpur di atas, antara lain disebabkan oleh terjadinya reorganisasi mud volcano Lusi, pembentukan kaldera (caldera formation) ditandai dengan amblesan tipe sudden collapse di sekitar kawah, serta rendahnya viskositas lumpur padu bila dibandingkan dengan batuan volkanik magmatik.

 Basis data geologi bawah permukaan seismik refleksi dan dua sumur eksplorasi

Kondisi geologi bawah permukaan (subsurface) didefinisikan dengan baik oleh adanya dua sumur eksplorasi komersial migas(petroleum commercial exploration well).

Satu sumur eksplorasi telah dibor sejauh 150 m dari lokasi yang selanjutnya berkembang menjadi kawah utama (main vent), serta tersedia penampang seismik refleksi 2-D memotong daerah tersebut.

Catatan:

  1. MV Lusi berada pada wilayah KPS (contract production sharing) Migas Blok Brantas, mencakup wilayah lapangan produksi gas alam (gas field) Wunut dan Tanggulangin. Sumur BJP-1 merupakan sumur eksplorasi, yang sebelum dilakukan pemboran selalu diawali dengan pengambilan data seismik refleksi 2-D.
  2. Penafsiran secara komprehensif terhadap data seismik refleksi, selanjutnya difokuskan untuk memahami tatanan geologi bawah permukaan di sepanjang lintasan, yang pada akhirnya dapat menentukan lokasi-lokasi (umumnya minimal 3) sumur eksplorasi.
  3. Sampai saat ini, data penampang seismik refleksi yang ada, terbatas dengan data seismik refleksi 2-D, dan belum tersedia data seismik refleksi 3-D. Rencananya baru akan dilakukan oleh Badan Geologi, KESDM pada tahun 2011.
  4. Kenampakan lapisan-lapisan sedimen yang terekam pada penampang seismik refleksi, umum disebut sebagai ciri pemantul (reflector signature) akan dikonversi menjadi satuan stratigrafi, berdasarkan korelasi dengan sumur pemboran (BJP-1).
  5. Tim Rusia (2009) telah menggunakan data seismik refleksi 2-D analog, selanjutnya diproses dengan teknologi GIS-3D untuk mendapatkan model-3D bawah permukaan mud volcano Lusi. Dari studi tersebut telah diindikasikan terdapatnya 2 struktur lumpur, yang umum dikenal sebagai mud diapir. Lebih jauh lagi Tim Rusia telah memberikan peringatan dini terhadap berpotensinya mud diapir tersebut berkembang menjadi mud volcano.

 Bencana geologi Lusi, dengan tingkat pengendalian bencana sangat ekstrim sulit (management disaster extremely difficult), dibandingkan dengan bencana ditimbulkan oleh gempabumi atau tsunami!

Saat ini, secara alami luapan lumpur berlangsung menerus (current continuous nature of mud flow). Disamping itu, belum ada pemahaman (knowledge) terhadap aspek luapan lumpur, seperti halnya mencakup aspek durasi (duration) dan evolusi (evolution)semburan Lusi. Hal tersebut yang menyebabkan penanggulangan bencana Lusi sangat ekstrim sulit (management disaster extremely difficult).

Kebencanaan Lusi secara total sangat berbeda bila dibandingkan dengan bencana geologi lainnya (completely different from other geological catastrophes), seperti halnya gempabumi dan tsunami.

Catatan:

  1. Disebutkan bahwa semburan mud volcano terus berlangsung sejak saat awal terjadi tahun 2006, namun telah terjadi perubahan yang dramatis, dimana kecepatan semburan telah menurun drastic dari rata-rata 10.000 m3/hari (2006-2009) menjadi hanya 15.000 m3/hari (2010-sekarang). Material yang disemburkan sebelumnya lumpur panas, saat ini hanya air dengan temperatur permukaan sekitar 600C. Aspek rasionalisasi kebijakan terkait penanganan bencana yang komprehensif, dan holistik jangka panjang, Lusi disebutkan bahwa kondisi keterbatasan knowledge antara lain ‘duration’ dan ‘evolution’ dari semburan Lusi. Hal ini diakui oleh Davies sehingga pengendalian bencana MV LUSI ekstrim sulit.
  2. Sebagai analogi tingkat kesulitan, dibandingkan dengan gempabumi dan tsunami, setelah terjadinya pengendali mekanisme bencana, selanjutnya dilakukan tanggap darurat, diikuti dengan tahap pemulihan dan rekonstruksi. Ekstrim berbeda dengan bencana MV Lusi, pengendali mekanisme bencana yaitu semburan Lusi diikuti dengan luapan lumpur padu, dibarengi dengan dampak berganda (multiplier impact) deformasi geologi terus berlangsung dari saat awal kejadian (continuous processes). Bersamaan dengan upaya penanggulangan semburan dan luapan lumpur, terus dilakukan penanganan masalah dampak sosial kemasyarakatan dan dampak infrastruktur.

 Tujuan makalah adalah memperkirakan panjang umur (longevity) semburan MV Lusi, guna menentukan dampak akhir dari bencana MV Lusi

Tujuan paper Davies adalah mendapatkan pemahaman bawah permukaan, dengan menggunakan acuan dua sumur eksplorasi dan dari data seismik refleksi 2D untuk mengusulkan suatu metoda kemungkinan (probabilistic method) untuk memperkirakan (for the estimation) panjangnya masa kehidupan (longevity) dari MV LUSI.

Hasil tersebut digunakan untuk memperkirakan dampak akhir (estimate the final impact) dari bencana kemanusiaan dan lingkungan (this humanitarian and ecological disaster).

Catatan:

Alur Pikir:

Pemahaman bawah permukaan dilakukan dengan menganalisis data seismik refleksi 2D dan sumur eksplorasi, usulan metoda dan hasil perkiraan panjang kehidupan, dan perkiraan dampak akhir dari bencana.

Alur dan pola pikir yang dikembangkan dalam beberapa hal, mempunyai kemiripan dengan studi yang telah dilakukan oleh Istadi et al (2009), Abidin (2008), dan Andreas dan Abidin (2010). Davies menekankan bahwa dampak tingkat akhir kebencanaan mud volcano Lusi adalah bencana kemanusiaan dan lingkungan (humanitarian and ecological disaster).

 GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN (SUBSURFACE GEOLOGY)

 Sumur eksplorasi gas Banjar Panji-1, dan urut-urutan batuan sedimen (stratigrafi), bawah permukaan

Sumur eksplorasi gas Banjar Panji-1, yang telah dibor 150 m dari lokasi mud volcano Lusi, dengan target karbonat dari Formasi Prupuh.

Sumur telah dibor menembus satuan batuan sedimen: 1) Sedimen alluvial; 2) Pleistosen, selang seling batupasir dan serpih dari Formasi Pucangan (sampai kedalaman 900 m); 3) Pleistosen, lempung abu-abu kebiruan dari Formasi Kalibeng Atas (sampai kedalaman 1871 m); dan 4) Batuan volkanik dan batupasir volkanoklastik, tebal sekitar tebal 962 m.

Catatan:

  1. Stratigrafi di bawah sumur Banjar Panji-1 awalnya ditampilkan oleh Mazzini et al (2007) selanjutnya dijadikan ‘baselines’.
  2. Tingay (2010) mengusulkan perubahan stratigrafi terutama pada karbonat yang sebelumnya dikenal sebagai Formasi Kujung, selanjutnya diusulkan sebagai Formasi Tuban, pada makalah ini sebagai Formasi Prupuh, serta satuan pasir volkanoklastik, yang diusulkan diubah menjadi satuan batuan volkanik ekstrusif. Walaupun Tingay ikut sebagai salah satu penulis dalam paper Davies (2011), tapi hal tersebut tidak dimasukkan, bahkan juga tidak dibahas sama sekali? Diperkirakan ada ketidaksesuaian antara usulan perbaikan stratigrafi oleh Tingay dengan Davies sebagai penulis pertama.
  3. Tulisan Tingay (2010) mengusulkan perubahan tatanan stratigrafi, dalam upaya evaluasi anatomi dan pengendali mekanisme semburan Lusi. Terdapat perbedaan mendasar yang bersifat strategis antara Davies dan Mazzini. Davies konsisten berpendapat bahwa sumur BJP-1 menembus karbonat Formasi Prupuh. Mazzini (2007) dan (2009) bertahan bahwa BJP-1 tidak menembus satuan karbonat Formasi Kujung.

 Bagian strategis dan taktis, sebagai upaya pembuktian bahwa sumur BJP-1 telah menembus satuan karbonat Formasi Prupuh, dengan analogi dari sumur Porong-1

 

Gambar 2. Orientasi utara-selatan garis seismik yang bersinggungan dengan Sumur Banjar Panji 1 (Sawolo et al. 2009), Davies 2011.

 

Gambar 3. (a) Kolom stratigrafi MV Lusi. (b) Konsep permodelan diagram skematik

 Contoh cutting terakhir terdiri 5% dari karbonat dan sumur telah 281 m melebihi perkiraan kedalaman dari puncak Formasi Prupuh saat pemboran dihentikan, karena terjadinya drilling mud loss yang signifikan pada kedalaman 2813m.

Hilangnya lumpur (mud losses), merupakan fenomena yang sangat umum pada batuan karbonat Miosen di Indonesia.

Kusumastuti et al., (2002) menggunakan data seismik refleksi memperlihatkan bahwa bangunan karbonat (carbonate buildup) berbentuk memanjang, dengan arah NE-SW, dan sebagian adalah Formasi Prupuh.

Porong-1, berlokasi 6 km jauhnya dari Lusi dan dibor pada tahun 1993, menembus Formasi Prupuh, tebal 55 m berumur Miosen Bawah dengan porositas berkisar dari 5 -30% dan suatu kolam air.

Sumur pemboran lainnya dibor menembus lebih tebal lagi dengan porositas antara 11-32%.

Karena itu penafsiran penulis adalah sumur telah dibor kemungkinan terbesar pada kedalaman dari Formasi Prupuh.

Catatan:

  1. Pada bagian paragraf di atas, Davies telah meyakinkan bahwa sumur BJP-1 telah menembus lapisan karbonat Formasi Prupuh.
  2. Data sumur eksplorasi Porong-1 dan seismik refleksi yang melintas pada sumur tersebut menyediakan informasi yang lebih memadai terhadap karakteristik dan asal-usul dari satuan karbonat Formasi Prupuh.
  3. Posisi karbonat Formasi Prupuh bagi Davies sangat strategis, karena asumsi yang dikembangkan bahwa air Lusi berasal dari reservoir overpressure pada satuan batuan tersebut.

 Formasi Kalibeng Atas sebagai sumber lumpur semburan Lusi

Paleontologi mikro dihasilkan dari LUSI memperlihatkan bahwa sumber dari lumpur pada kedalaman 1300-1800 m pada Formasi Kalibeng Atas, didominasi oleh batu lumpur overpressure (Mazzini et al., 2007).

 Catatan:

Davies dan pakar kebumian lainnya umumnya telah bersepakat bahwa sumber dari lumpur semburan Lusi adalah dari Formasi Kalibeng Atas, sebagaimana diusulkan oleh Mazzini et al. (2007).

Perbedaan mendasar, Davies beranggapan sumber air dari karbonat Formasi Prupuh berbeda dengan sumber lumpur di Formasi Kalibeng Atas.

Sebaliknya Mazzini et al., (2007), menganggap sumber air terutama dari Formasi Kalibeng melalui proses transformasi mineral smektit ke ilit.

 Uraian terhadap tiga alternatif sumber air, namun pada bagian akhir Davies sampai pada kesimpulan yang memenuhi kriteria adalah reservoir karbonat Formasi Prupuh

Air di lumpur ditentukan berasal (originated) dari satu atau tiga alternatif sumber:

  1. Batu lumpur di Formasi Kalibeng Atas, diusulkan oleh Manzzini (2007) menggunakan kriteria geokimia (geochemical criteria), namun pilosilikat dari batu lumpur (fraksi lempung > 40%) mempunyai permeabilitas yang rendah dan tidak mampu untuk menyemburkan air pada kecepatan yang diukur, walaupun mudstone dapat mengkontribusikan untuk semburan air dan perubahan kimianya;
  2. Batupasir volkanoklastik antara kedalaman 1871 dan 2830m, tapi dengan keseluruhan porositas hanya 2-6%, secara ekstrim mempunyai permeabilitas yang rendah;
  3. Terumbu karbonat build-up (Formasi Prupuh), berdasarkan kebutuhan terhadap parameter sumber fluida dengan volume yang besar dan temperatur yang tinggi. Sehingga karbonat yang aslinya disebut sebagai Formasi Kujung (Davies et al. 2007), namun tampaknya merupakan bagian dari Formasi Prupuh (Kusumastuti et al., 2001). Kecepatan semburan yang awalnya 120.000-180.000 m3/hari dimana 60% adalah air (Istadi et al. 2009), dengan perkiraan temperatur 1000C. Pengukuran ke bawah sumur mengindikasikan bahwa suatu gradien panas bumi adalah 420C/km. Karena itu dibutuhkan adanya suatu akuifer dengan permeabilitas tinggi pada kedalaman lebih dari 2,4 km. Formasi Prupuh  berumur Miosen Awal telah dibuktikan dengan pemboran (sumur Porong-1), yang memenuhi kedua kebutuhan ini (Tanikawa et al 2010).

Catatan:

Dari tiga alternatif sumber air yaitu Formasi Kalibeng Atas, Pasir Volcano klastik, dan karbonat Formasi Prupuh, Davies lebih memilih alternatif yang memenuhi kriteria tertentu, yaitu Formasi Prupuh berumur Miosen Awal.

 Pernyataan penting dari Davies yang mengalihkan fokus pembahasan dari perdebatan causing and triggering menjadi mencari implikasi bila pemboran BJP-1 menembus Formasi Prupuh

Memaknai perdebatan pemicu Lusi:

Telah banyak perdebatan apakah Lusi telah dipicu oleh pemboran atau secara alami oleh gempabumi.

Makalah ini menyelidiki hipotesis implikasi pemboran pada batugamping Formasi Prupuh:

Daripada menambah debat berlanjut, makalah ini menyelidiki implikasi hipotesis dari pemboran lubang bor BJP-1 yang dibor ke dalam Formasi Prupuh, yang mengalami depressurizing dari perspekstif hidrogeologi.

Alur pikir aliran air dari reservoir, menembus sumber lumpur, melalui saluran dari patahan, mengalir ke permukaan:

Sekali menembus permukaan, dihipotesiskan bahwa air berinisiasi naik melalui lubang bor BJP-1, bercampur dan ‘entrains’ batu lumpur yang lebih dangkal dari Formasi Kalibeng Atas. Selanjutnya bermigrasi ke atas melalui patahan Watukosek, menghasilkan suatu mud volcano dengan kelurusan berarah NE-SW.

Asumsi umum bahwa pada mud volcano sumber air lebih dalam terisolasi daripada sumber lumpur: 

Konsep sumber dari dalam dan campuran antara fluida dengan lumpur bertekanan berlebih konsisten dengan banyak sistem mud volcano (mud volcano system) lainnya. sumber dari air adalah lebih dalam dan terisolasi dari sumber lumpur.

Proses erosi oleh aliran air dari reservoir dalam pada sumber lumpur overpressure dan under compacted:

Air bermigrasi ke atas melalui patahan dan rekahan (water migrates upward through faults and fractures), dan berpotongan dengan lapisanargillaceous yang tiksotropik (thixotropic), bertekanan berlebih ‘overpressure’, dibawah kompaksi ‘under compacted’, dansusceptible untuk erosi bawah permukaan (subsurface erosion).

Proses erosi tidak dimengerti tapi mungkin melibatkan erosi dari sisi sumur dari rekahan baru atau yang telah ada sebelumnya atau proses yang sama dengan pemipaan (piping). Dimana air mengerosi saluran, sebagaimana hal tersebut dapat diamati pada tanggul-tanggul terisi lumpur (clay-filled embankment dams).

 DISKUSI DAN IMPLIKASI

Pemicu: 3 alternatif pemicu mud volcano:

Pemicu untuk mud volcano ditentukan baik oleh pemboran dan gempabumi Yogyakarta, atau kombinasi dari keduanya.

Catatan:

  1. Davies mengindikasikan tiga alternatif pemicu mud volcano Lusi yang selama ini telah berkembang menjadi kontroversi yang mengemuka adalah: (1) Lusi dipicu oleh kesalahan pemboran eksplorasi BJP-1, dikenal sebagai kejadian underground blow out, membentuk ’man made mud volcano’; (2) Lusi dipicu oleh kejadian gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006, selanjutnya mereaktivasi patahan Watukosek, membentuk ’natural mud volcano’; dan (3) kombinasi antara 1 dan 2.
  2. Mazzini et al. (2009) menekankan kombinasi penyebab (causing) dan pemicu (triggering), dimana sebelum terjadinya mud volcano diawali dengan sebab-sebab pembentukan mud diapir.

 Pengembangan hipotesis sumur vertikal langsung pada Formasi Prupuh:

Sebagaimana didiskusikan di atas, model yang dipresentasikan di sini tidak dikaitkan langsung pada kebenaran penafsiran, namun lebih didasarkan pada keberadaan hipotesis dari suatu lubang sumur vertikal yang dibor langsung di atas atau ke dalam dari Formasi Prupuh.

Catatan:

  1. Makalah ini lebih menekankan untuk pada pengembangan hipotesis dimana pemboran dilakukan langsung secara vertikal menghubungkan keberadaan sumber air dari karbonat Formasi Prupuh, dengan sumber lumpur overpressure pada Formasi Kalibeng Atas.
  2. Sebagai konstrain penulis menekankan, tidak berfokus pada kebenaran hasil perhitungan benar.

 Terdapat hubungan langsung antara sumber air dan sumber lumpur

Terdapat hubungan antara sumber air overpressure ke batu lumpur dari Formasi Kalibeng Atas, yang merupakan sumber dari lumpur dari semburan Lusi.

 ASUMSI KUNCI

Ketidakjelasan yang ada pada perkiraan panjang hidup mud volcano, dikaitkan dengan geologi bawah permukaan

Meniadakan ketidakjelasan berasosiasi dengan mekanisme pemicu semburan Lusi, sehingga sumber ketidakjelasan terbesar adalah pada perkiraan waktu kehidupan (panjang hidup) semburan mud volcano Lusi, yang berhubungan dengan kondisi geologi bawah permukaan.

Catatan:

Aspek ketidakjelasan dari perkiraan panjang umur dari mud volcano adalah terkait dengan kondisi geologi bawah permukaan. Selama ini data yang tersedia dianggap masih kurang memadai untuk melakukan perhitungan secara akurat, karena itu dalam paper ini digunakan terminologi usulan estimasi dari perkiraan panjang umur, karena data utama masih menggunakan analogi dari lokasi sumur eksplorasi lainnya (Porong-1).

 Perhitungan volume akuifer

Khususnya volume akuifer dimana ditentukan melalui simulasi Monte Carlo dari input.

Catatan:

Metoda perhitungan volume akuifer menggunakan simulasi Monte Carlo.

Perhitungan volume akuifer akan menjadi lebih tepat, bila tersedia data seismik refleksi 3-d, yang direncanakan akan diambil tahun 2011 oleh Badan Geologi, KESDM.

Data pendukung memperkuat lapisan karbonat mempunyai porositas yang baik

Data seismik bawah permukaan dilakukan oleh Kusumastuti et al. (2002) menunjukkan relatif tidak terpatahkan, bahwa karbonat berlapis diasumsikan mempunyai hubungan porositas yang baik.

Catatan:

Fenomena keberadaan carbonate build up Formasi Prupuh digunakan untuk memperkuat asumsi bahwa parameter tingginya angka porositas dipenuhi, agar dapat berperan sebagai reservoir dari air.

Asumsi bahwa sumber air merupakan sistem tertutup terhadap sumber lumpur

Asumsi lainnya bahwa sumber air berperan sebagai sistem tertutup (closed system) dan tidak tersingkap untuk diimbuhi dari sumber fluida pori lebih dalam (deeper pore fluids sources).

Catatan:

Untuk menghasilkan tekanan yang memadai overpressure pada reservoir, maka diasumsikan bahwa sumber air merupakan suatu sistem tertutup, sehingga tidak menerima imbuhan dari sumber fluida lainnya.

 SUMBER AIR

Meniadakan lumpur Kalibeng Atas sebagai sumber fluida utama

Dari perhitungan yang telah diterapkan di atas, perhitungan Davies menganggap bahwa formasi yang memasok air membutuhkan suatu permeabilitas antara 50 dan 700 mD.

Empat sampai delapan order besarnya daripada diperkirakan dari penggunaan model batu lumpur pilosilikat (phyllosilicate mudstone), secara efektif mengeluarkan mudstone dari Kalibeng Atas sebagai sumber fluida utama.

Catatan:

Menempatkan suatu persyaratan bahwa pasokan air berlanjut dengan intensitas tinggi memerlukan nilai permeabilitas antara 50 dan 700 mD, jauh lebih kuat daripada bila sumber pada lumpur pilosilikat. Hal ini meniadakan kemungkinan sumber fluida utama dari Formasi Kalibeng.

Justifikasi bahwa satuan karbonat Formasi Prupuh lebih tepat sebagai kandidat sumber air

Sebagaimana diusulkan oleh Davies et al 2007, karbonat Formasi Prupuh dengan permeabilitas yang lebih tinggi (higher  permeability) yang ditembus oleh sumur di dekat Lusi dan dipetakan pada data seismik, tampaknya lebih tepat sebagai kandidat (Tanikawa et al., 2010).

Catatan:

Bahwa Karbonat Formasi Prupuh dengan memiliki permeabilitas yang tinggi, yang telah ditembus sumur BJP-1, ditegaskan lebih tepat sebagai kandidat sumber air.

ESTIMASI MASA HIDUP LAINNYA (LONGEVITY ESTIMATIONS)

Asumsi Istadi kecepatan semburan 100.000 m3/hari untuk memperkirakan jumlah tahun sumber lumpur deplesi

Istadi et al (2009) menggunakan volume dari Formasi Kalibeng Atas 1 dan kecepatan semburan konstan setiap harinya 100.000 m3, untuk memperkirakan jumlah tahun yang akan dilalui sampai  sumber lumpur mengalami deplesi.

Catatan:

Menyoroti perhitungan panjang umur semburan Lusi dari Istadi (2009) yang menggunakan dasar perhitungan sumber lumpur dari Formasi Kalibeng dan kecepatan semburan yang konstan 100.000 m3/hari. Perbedaan yang mendasar adalah bahwa Davies menggunakan volume sumber air pada reservoir di Formasi Prupuh.

 Hasil estimasi 23-35, mempunyai kelemahan:

Estimasi yang dihasilkan adalah 23-35 tahun, tapi metoda mereka kemungkinan ada celahnya karena:

  1. 1. Skenario bila sumber lumpur habis, maka erupsi akan berlanjut

Erupsi akan berlanjut setelah sumber lumpur mengalami deplesi (the eruption will continue after the mud source is depleted), jika sumber dari fluida dan overpressure sangat mungkin terpisah dari sumber lumpur.

Catatan:

Dengan konsep bahwa sumber air bertekanan berasal dari karbonat Formasi Prupuh, sehingga bila keseluruhan lumpur di Formasi Kalibeng telah mengalami deplesi, Davies menyatakan semburan masih berlanjut.

 2.Asumsi kecepatan semburan konstan:

Metode yang digunakan untuk mengasumsikan kecepatan semburan yang konstan daripada satu diantaranya akan mengalami pengurangan terhadap waktu, sebagaimana yang diperkirakan selama pengurangan tekanan (pressure reduction) dari suatu sumber overpressure cairan fluida.

Catatan:

Davies tidak sepakat penggunaan asumsi kecepatan semburan Lusi yang konstan (100.000 m3/hari), yang secara realitas akan mengalami pengurangan terhadap waktu, sebagaimana umum terhadap fluida dengan tekanan berlebih.

DAMPAK

Hasil perhitungan panjang umur Lusi sampai semburan melemah 0,1 MI/hari adalah 26 tahun

50 persentil perkiraan (percentile estimation) untuk panjang umur dari LUSI akan berlangsung 26 tahun untuk semburan mencapai suatu kecepatan kurang dari 0,1 Ml/hari.

Catatan:

Davies menghasilkan perhitungan masa hidup selama 26 tahun, sampai pada suatu keadaan dimana kecepatan semburan kurang dari 0,1MI/hari.

Salah satu rasionalisasi adalah Davies beranggapan bahwa suatu mud volcano sampai memasuki tahap dormant atau sleeping dapat memakan ratusan tahun.

 Total volume lumpur yang dikeluarkan setelah 26 tahun adalah 0,14 km3

Setelah 26 tahun 50 persentil total volume dari semburan lumpur adalah 0,14 km3.

Total amblesan setelah 26 tahun sebesar 95-475m:

Sebagai tambahan, kecepatan amblesan adalah 1-5 cm/hari (Abidin et al., 2008), total subsidence akan 95-475m.

Catatan:

  1. Perhitungan menggunakan asumsi bahwa kecepatan amblesan 1-5 cm/hari dari perhitungan yang dilakukan pada tahun 2006-2007.
  2. Catatan kecepatan amblesan 5cm/hari terjadi di sekitar pusat semburan dan 1 cm/hari di daerah sekitar daerah terdampak.
  3. Perhitungan kecepatan amblesan pada tahun 2009-2010 dilaporkan Andreas dan Abidin (2010), telah jauh menurun intensitasnya. Hanya berkisar puluhan sentimeter atau desimeter per tahunnya.
  4. Lebih jauh Andreas mengusulkan dua jenis amblesan: Pertama, dengan intensitas yang besar, disekitar pusat semburan, dikaitkan dengan proses pembentukan kaldera (caldera formation); Kedua, dengan intensitas kecil, dikaitkan dengan proses alami terutama faktor pembebanan (loading factor).
  5. Demikian juga hasil perhitungan Bapel BPLS, menunjukkan indikasi adanya kecenderungan penurunan kecepatan amblesan dan realitas fluktuasi, sehingga total subsidence selama 26 tahun yang rasional akan jauh lebih kecil dari kisaran 95-475m.

Analogi dengan Porong-1, amblesan mencapai 400m:

Suatu analogi purba (ancient analogue) yang eksis 6 km di timur Porong, dimana suatu kawah berdiameter 4 km (sekarang diisi sedimen) dapat diamati dari penampang seismik dan mempunyai amblesan sebesar 400 m.

Catatan:

  1. Davies mengilustrasikan keberadaan paleo subsidence dari struktur runtuh (collapse structure) dari sumur Porong-1, yang dihitung berdasarkan penampang seismik refleksi, yaitu sebesar 400m, sehingga memperkuat perhitungan total subsidencese telah masa hidup 26 tahun sebesar 95-475 m tersebut di atas, menjadi rasional.
  2. Bila hasil penelitian terbaru dari Andreas dan Abidin (2010) diadopsi, maka angka total subsidence selama 26 tahun yang diusulkan Davies tersebut akan berkurang secara sangat signifikan.
  3. Penyelidikan land displacement, khususnya subsidence dari keseluruhan sistem MV Lusi menjadi sangat strategis, guna perkiraan besarnya dampak selama beberapa tahun ke depan serta mitigasi bencana geologi dan lingkungan hidup.

 KESIMPULAN

 Penekanan perkiraan panjang umur Lusi dengan dasar pola pikir bahwa sumber air dan sumber lumpur dari semburan Lusi mud volcano berbeda!

Telah dipresentasikan suatu pendekatan yang rinci untuk memperkirakan panjang umur dari semburan mud volcano, dimana sumber air terpisah dari sumber lumpur.

Catatan:

  1. Pendekatan yang digunakan dalam makalah ini cukup rinci, karena metodelogi, asumsi, konstrain, analogi, parameter, dan hasil perhitungan dengan model matematis ditayangkan.
  2. Kecuali Istadi et al., (2010), selama ini perhitungan rinci terhadap durasi semburan Lusi sangat bersifat umum, hanya perhitungan akhir antara volume versus kecepatan semburan yang ditampilkan.
  3. Hal sangat mendasar/konseptual mencerminkan usulan anatomi dan Pengendali Mekanisme (anatomy and driving force mechanism), yang dianut Davies sejak tahun 2007. Terjadi pemisahan alami antara sumber air di reservoir overpressuredengan sumber lumpur, yang akan mengalami erosi dan percampuran (erosion and mixing). Dalam hal ini sumber air dalam paper adalah karbonat dari Formasi Prupuh (sebelumnya disebut Formasi Kujung), sedangkan lumpur disepakati umum berasal dari Formasi Kalibeng Ata

Penegasan hipotesis bahwa lubang sumur vertical menghubungkan Formasi Prupuh (reservoir air) dan Formasi Kalibeng (sumber lumpur)

Pada makalah ini, perkiraan kemungkinan panjang umur mud volcano Lusi dikembangkan berdasarkan kepada hipotesis yang eksis terhadap suatu lubang sumur vertikal yang dibor langsung diatas atau di dalam dari Formasi Prupuh, sehingga terdapat hubungan langsung antara sumber air overpressure di Formasi Prupuh dengan sumber lumpur di batulempung Formasi Kalibeng Atas.

Catatan:

Penekanan hipotesis yang tidak terlepas dari aspek pengendali mekanisme semburan Lusi (Lusi eruption driving force mechanism), bahwa sumur pemboran yang vertikal menghubungkan langsung antara reservoir air overpressure di batugamping Formasi Prupuh dan sumber lumpur (Formasi Kalibeng Atas).
Hal ini ditekankan karena Mazzini dkk., 2007 & 2009 berpendapat bahwa air dan lumpur terutama berasal dari Formasi Kalibeng Atas, melalui proses transformasi mineral ilit ke smektit.

Waktu yang dibutuhkan semburan Lusi berkurang sampai 0,1 Ml/hari lebih dari 26 tahun.

Menerapkan analisis untuk MV LUSI dianggap bahwa waktu yang dibutuhkan aliran untuk berkurang sampai intensitas kurang dari 0,1 MI/hari tampaknya lebih dari 26 tahun.

Catatan:

  1. Kurun waktu 26 tahun yang dimaksudkan sampai pada titik ambang yaitu 0,1 Ml/hari, bukan menjadi 0 liter/hari.
  2. Davies dalam paper dan press release menggambarkan bahwa secara alami, ketika semburan mud volcano sudah lemah (weak flow) atau masuk ke dormancy stage, maka untuk berhenti total bisa memerlukan waktu ratusan tahun!
  3. Sebagai catatan bahwa berdasarkan pendekatan ‘tekanan’ maka semburan suatu mud volcano dimaknai akan berhenti bila tekanan berlebih (overpressure) di reservoir telah sama atau mendekati hydrostatic pressure.

Pernyataan yang cukup menakutkan bahwa selama 26 tahun tersebut (2037) total amblesan di permukaan tanah antara 95-475 m dan total volume 0,14 km3

Selama waktu ini permukaan tanah diperkirakan akan mengalami amblesan sebesar 95-475 m dan total volume lumpur tampaknya akan lebih dari 0,14 km3.

Catatan:

  1. Total land subsidence selama 26 tahun sebesar 95-475 m, berdasarkan hasil perhitungan kecepatan amblesan (subsidence rate) dari Abidin et al (2008), berkisar antara 1-5 cm/hari. Kecepatan subsidence tersebut dianggap rata (flat), 1 cm di bagian tepian dari daerah terdampak dan 5cm/hari di sekitar Pusat semburan.
  2. Davies sebagaimana Abidin memegang teori bahwa konsekuensi dari intensitas semburan Lusi yang paling besar di seluruh dunia, akan berlanjut efek loading dibarengi dengan ‘sudden collapse’. Hanya Abidin et al., 2008 dan Tingay (2010) dan tentunya Mazzini et al., (2007 & 2010) yang memasukkan pengaruh dari reaktivasi Patahan Watukosek.
  3. Davis dalam menggunakan parameter kecepatan amblesan yang mengadopsi hasil dari Abidin et al (2008) m, namun mengabaikan hasil dari Andreas dan Abidin (2010), yang menyatakan bahwa kecepatan amblesan pada tahun 2009-2010 telah menurun sangat signifikan dari angka yang umum digunakan selama ini (Abidin et al., 2008), menjadi berkisar hanya puluhan sentimeter atau desimeter per tahunnya!
  4. Sebagai realitas, Andreas menekankan bahwa land displacement saat ini terutama dipengaruhi oleh proses pembentukan kaldera (caldera formation), sehingga pola deformasinya adalah radial (termasuk subsidence, rekahan, dan patahan), serta menambahkan bahwa Lusi mud volcano sedang dalam reorganisasi sendiri (self reorganization). Bukti nyata di lapangan menunjukkan longsoran, tumbukan, subduksi, dan perubahan morfologi suatu kerucut (cone) menjadi kubah landai (smooth dome).
  5. Alat perang Bapel BPLS (GPS, geodetic) harus dapat menempatkan bukti lapangan (sebagaimana laporan bulanan) bahwa kecepatan amblesan di lapangan lebih kecil dari yang digunakan oleh pakar mengacu Abidin (2008) yaitu 1-5 cm/hari. Sebagaiexercise maka untuk merespon hasil Davis, dengan asumsi bahwa rate subsidence tetap, maka angka Bapel BPLS dikalikan dengan 26 tahun. Kerjasama Bapel BPLS dengan ITB, seyogyanya dapat mengklarifikasi angka rate of subsidence per hari dan total dari presentasi Andreas (2010) di Australia, termasuk bila ada data baru.
  6. Angka deformasi berbasis ilmiah mempunyai implikasi sosial, politik dan kebijakan, karena terkait langsung/tidak dengan perspektif penanganan kebencanaan Lusi mud volcano ke depan, termasuk di dalamnya ‘rasionalisasi’ untuk meyakinkan penetapan Trase Relokasi Infrastruktur, jalan nasional, JALAN TOL, dan REL KA.

 Referensi (berdasarkan naskah asli)

Abidin, H.Z., Davies, R.J., Kusuma, M.A., Andreas, H. & Deguchi, T. 2008. Subsidence and uplift of Sidoarjo (East Java) due to the eruption of the LUSI mud volcano (2006–present). Environonmental Geology, 57, 833–844. doi:10.1007/s00254-008-1363-4.

Batzle, M. & Wang, Z. 1992. Seismic properties of pore fluids. Geophysics, 57, 1396–1408.

Bristow, C.R., Gale, I.N., Fellman, E., Cox, B.M., Wilkinson, I.P. & Riding, J.B. 2000. The lithostratigraphy, biostratigraphy and hydrogeological significance of the mud springs at Templars Firs, Wootton Bassett, Wiltshire.

Proceedings of the Geologist’s Association, 111, 231–245, doi:10.1016/ S0016-7878(00)80016-4.

Chen, Z., Huan, G. & Ma, Y. 2006. Computational Methods for Multiphase Flows in Porous Media. Society for Industrial and Applied Mathematics, Philadelphia, PA.

Davies, R.J. & Stewart, S.A. 2005. Emplacement of giant mud volcanoes in the South Caspian Basin: 3D seismic reflection imaging of their root zones. Journal of the Geological Society, London, 162, 1–4, doi:10.1144/0016- 764904-082.

Davies, R.J., Swarbrick, R.E., Evans, R.J. & Huuse, M. 2007. Birth of a mud volcano: East Java, 29 May 2006. GSA Today, 17, 4–9.

Davies, R.J., Brumm, M., Manga, M., Rubiandini, R., Swarbrick, R. & Tingay, M. 2008. The East Java mud volcano (2006 to present): An earthquake or drilling trigger? Earth and Planetary Science Letters, 272, 627–638, doi:10.1016/j.epsl.2008.05.029.

Davies, R.J., Manga, M., Tingay, M., Lusianga, S. & Swarbrick, R. 2010. The LUSI mud volcano controversy: Was it caused by drilling? Discussion. Marine and Petroleum Geology (in press).

Deville, E. & Guerlais, S.H. 2009. Cyclic activity of mud volcanoes: Evidences from Trinidad (SE Caribbean). Marine and Petroleum Geology, 26, 1681– 1691.

Deville, E., Guerlais, S.-H., Lallemant, S. & Schneider, F. 2010. Fluid dynamics and subsurface sediment mobilization processes: an overview from Southeast Caribbean. Basin Research, 22, 361–379.

Fell, R., Wan, C.F., Cyganiewicz, J. & Foster, M. 2003. Time for development of internal erosion and piping in embankment dams. Journal of Geotechnical and Geoenvironmental Engineering, 129, 307–314.

Istadi, B.P., Pramono, G.H., Sumintadireja, P. & Alam, S. 2009. Modeling study of growth and potential geohazard for LUSI mud volcano: East Java, Indonesia. Marine and Petroleum Geology, 26, 1724–1739, doi:10.1016/ j.marpetgeo.2009.03.006.

Jianhua, L., Chao, Z., Jinxiang, L., Rosenberg, S., Hillis, K., Utama, B. & Gala, D.M. 2010. Use of liner drilling technology as a solution to hole instability and loss intervals: a case study of offshore Indonesia. SPE Drilling and Completion.

Kopf, A., Dehyle, A., et al. 2003. Isotopic evidence (He, B, C) for deep fluid and mud mobilization from mud volcanoes in the Caucasus continental collision zone. International Journal of Earth Sciences, 92, 407–425.

Kusumastuti, A., Van Rensbergen, P. & Warren, J.K. 2002. Seismic sequence analysis and reservoir potential of drowned Miocene carbonate platforms in the Madura Strait, East Java, Indonesia. AAPG Bulletin, 86, 213–232, doi:10.1306/61EEDA94-173E-11D7-8645000102C1865D.

Mazzini, A., Svensen, H., Akhmanov, G.G., Aloisi, G., Planke, S., Malthe Sørenssen, A. & Istadi, B. 2007. Triggering and dynamic evolution of LUSI mud volcano, Indonesia. Earth and Planetary Science Letters, 261, 375–388, doi:10.1016/j.epsl.2007.07.001.

Murton, B.J. & Biggs, J. 2003. Numerical modelling of mud volcanoes and their flows using constraints from the Gulf of Cadiz. Marine Geology, 195, 223– 236, doi:10.1016/S0025-3227(02)00690-4.

Papadopulos, I.S. & Cooper, H.H., Jr 1967. Drawdown in a well of large diameter. Water Resources Research, 3, 241–244, doi:10.1029/ WR003i001p00241.

Revil, A. 2002. Genesis of mud volcanoes in sedimentary basins: A solitary wave based mechanism. Geophysical Research Letters, 29, 1574, doi:10.1029/ 2001GL014465.

Sawolo, N., Sutriono, E., Istadi, B.P. & Darmoyo, A.B. 2009. The LUSI mud volcano triggering controversy: Was it caused by drilling? Marine and Petroleum Geology, 26, 1724–1739, doi:10.1016/j.marpetgeo.2009.04.002.

Sawolo, N., Sutriono, E., Istadi, B.P. & Darmoyo, A.B. 2010. The LUSI mud volcano triggering controversy: Was it caused by drilling? Reply. Marine and Petroleum Geology (in press).

Stehfest, H. 1970. Algorithm 368: Numerical inversion of Laplace transforms (D5). Communications of Association for Computing Machinery, 13, 47–49, doi:10.1145/361953.361969.

Tanikawa, W., Sakaguchi, M., Wibowo, H.T., Shimamoto, T. & Tadai, O. 2010. Fluid transport properties and estimation of overpressure at the Lusi mud volcano, East Java Basin. Engineering Geology, 116, 73–85.

Tingay, M. 2010. Anatomy of the ‘Lusi’ mud eruption, East Java. Australian Society of Exploration Geophysicists, Extended Abstracts, 1, 1–6, doi:10.1071/ASEG2010ab241.

Valko, P.P. & Abate, J. 2004. Comparison of sequence accelerators for the Gaver method of numerical Laplace transform inversion. Computational and Applied Mathematics, 48, 629–636, doi:10.1016/j.camwa.2002.10.017.

Van Everdingen, A.F. & Hurst, W. 1949. The application of the Laplace transformation to flow problems in reservoirs. Transactions of the American Institute of Mining Engineers, 186, 305–324.

Wylie, E.B. & Streeter, V.L. 1978. Fluid Transients. McGraw–Hill, New York.

Yang, Y. & Aplin, A.C. 2010. A permeability–porosity relationship for mudstones. Marine and Petroleum Geology (in press), doi:10.1016/j.marpetgeo.2009.07.001.

Zoporowski, A. & Miller, S.A. 2009. Modelling eruption cycles and decay of mud volcanoes. Marine and Petroleum Geology, 26, 1879–1887, doi:10.1016/ j.marpetgeo.2009.03.003.

GEOPARK DAN GEOWISATA LUSI : KONTRIBUSI LUSI LIBRARY

Desember 8, 2017

HASIL PENCARIAN DI GOOGLE IMAGE DENGAN KATA KUNCI “GEOPARK GEOWISATA LUSI”, DENGAN PRINSIP GAMBAR MENGUNGKAPKAN SERIBU KATA.

SILAHKAN MEMANFAATKAN INFORMASI PUBLIK PADA ERA DIGITAL, YANG DIBANGUN MELALUI LUSI LIBRARY:KNOWLEDGE MANAGEMENT DITUJUKAN UNTUK MEMBANGUN KEBERSAMAAN “LUSI RESEARCH NETWORKING” DAN PENDIDIKAN PUBLIK DENGAN PARADIGMA BARU “HIDUP HARMONI DENGAN BENCANA”

GAMBAR MENGUNGKAPKAN SERIBU KATA, DENGAN SATU KLIK BISA DIDAPATKAN INFORMASI  TERKAIT DARI SATU “POSTING” DI WORDPRESS.COM YANG SUDAH MELEWATI ANGKA 500, DIDUKUNG OLEH BLOGSPOT.COM, DAN YOUTUBE YANG SUDAH MENCAPAI 350.

SINOPSIS DAN KRONOLOGI PETA PERJALANAN PANJANG DIMULAI 2010 USULAN LUSI SEBAGAI GEOPARK DENGAN MENGEDEPANKAN PESONA GEOWISATA

Sejak tahun 2010 telah digulirkan Paradigma Baru Lusi dari Bencana ke Manfaat dalam arti yang luas pada Seminar Kebencanaan di Kampus UGM, dimana telah disampaikan pandangan ke depan Lusi antara lain menjadi GeoPark, GeoWisata dan Pusat Studi mud volcano di dunia.

Pada even Pemutaran Film LUSI MUD MAX pada lokasi yang sangat bersejarah di Museum Sidney, Australia, saya bersama Pak Soffian Hadi (Deputi Operasi) BPLS telah didampingi oleh Pejabat Eselon 2 dari Ditjen Pemasaran Pariwisata, Kementrian Pariwisata. Tujuan dari Delegasi Indonesia (BPLS) dan Kementrian Pariwisata adalah untuk mulai memperkenalkan Potensi Keragaman Geology Geyser Lusi untuk dikembangkan menjadi GeoPark dengan mengedepankan Pesona GeoWisata.

Hasil gambar untuk geopark geowisata lusi

Hasil gambar untuk geopark geowisata lusi

24 Desember 2014, Menteri PUPR Dr. Ir. Basuki selaku Ketua Dewan Pengarah BPLS setelah mengumumkan digulirkannya Dana Antisipasi pada APBN 2015, juga menyampaikan ke depan Lusi akan didorong menjadi GeoPark dan Geowisata dengan situs unggulan Geyser Lusi yang dianalogikan dengan Geyser yang paling terkenal di dunia Geyser Yellow Stone National Park di USA.

Hasil gambar untuk geopark geowisata lusi

Titik Pencapaian 22 Desember 2016 telah diluncurkan Tim Kecil Percepatan Pengembangan GeoPark Lusi, didasarkan rekomendasi tertulis Dr. Junus, selaku Ketua Tim Satgas GeoPark Nasional. Dimana pada proses bottom up telah diawali dengan Pertemuan tingkat Kabupaten-Provinsi, akhirnya dilaksanakan FOCURE GROUP DISCUSSION (FGD) atas prakarsa dan dilaksanakan oleh Tim Satgas GeoPark Nasional. Disini seperti suasana ujian, saya memaparkan Judul yang sudah ditentukan oleh Tim Satgas yaitu POTENSI FENOMENA GEOHERITAGE LUSI UNTUK DIKEMBANGKAN MENJADI GEOPARK.

 

Hasil gambar untuk geopark geowisata lusi

Bersyukur Ujian Lulus, disimpulkan Lusi memenuhi persyaratan Tiga Pilar untuk mengmbangkan Geopark yaitu: 1) Pilar GeoHeritage Geyser Lusi dan telah ditetapkanya Lusi sebagai salah satu dari 22 Geoheritage di Jawa; 2) Pilar Bioheritage yaitu terbangunnya Pulau Lusi dengan hutanisasi Bakau yang luar biasa dan Hutanisai Kota yaitu Hutan Sengon dan green house di Pejarakan; dan 3) Pilar Cultureheritage, dimana tedapat Testimoni Hubungan fenomena Lusi dengan Jatuh bangunnya Kerajaan Majapahit dan Jenggala, dengan Hikayat Timun Mas. Disamping itu terdapat Situs Candi Majapahit yaitu Candi Pari, Sumur dan Pamotan. Sehingga ditentukan Kandidat GeoPark Lusi telah dapat naik kelas, untuk segera membentuk Tim Percepatan Pengembangun Geopark Lusi yang dikoordinasikan oleh Prof. Dr. Hardi Prasetyo, selanjutnya menentukan GeoArea dan keputusan untuk memilih langsung ke GeoPark Nasional atau melalui transisi GeoPark Lokal..

Pada Maret 2017 atas pilihan dari Pemda Provinsi Jatim dan Pengkab Sisoarjo, pada forum Promosi/Pemasaran Pariwisata Terbesar di Indonesia Timur dilaksanakan di Grand City, Surabaya. Dimana saya diberi kehormatan mempresentasikan suatu rangkuman bersifat Promosi yaitu “PESONA GEOWISATA LUSI MENUJU GEOPARK”, setelah acar Pembukaan oleh Gubernur Jatim.

 

DEFORMASI LUSI MUD VOLCANO: LUSI LIBRARY DI ERA DIGITAL

Desember 8, 2017

KONTRIBUSI LUSI LIBRARY DI ERA DIGITAL

Lusi Library Knowledge Management di bangun 8 April 2010,  mengelola Kontroversi Pemicu Lusi untuk kebersamaan mencari Solusi yang Holistik.       Tujuan sebagai kontribusi selaku Profesor Riset untuk Pendidikan Publik          (dalam arti yang luas).

Hasil gambar untuk deformasi Lusi mud volcano

Catatan:

Pasca memberikan Sambutan Pembukaan saya menggunakan momentum untuk memberikan Penghargaan Lusi Library kepada para kontributor utama yaitu Prof. Dr. Mark Tingay (Australia), Prof. Dr. Richard Davies (UK) dan Dr. Andriano Mazzini (Norwey), Acara Pembukaan Simposium Internasional Ilmiah Lusi 26 Mei 2011 dilaksanakan kerjasama HSF Australia dan BPLS.

PENCARIAN GAMBAR  (GOOGLE IMAGE) YANG TELAH POSTING DENGAN KATA KUNCI “DEFORMASI LUSI MUD VOLCANO”

Hasil Pencarian tidak terklasifikasi,

SILAHKAN PILIH POSTING YANG AKAN DIBUKA DENGAN DUA KALI KLIK

 Hasil Telusur

 

WATUKOSEK FAULT LUSI: PENGEMBANGAN LUSI LIBRARY KNOWLEDGE MANAGEMENT

Desember 8, 2017