Shirzaei 2015, Sumber Dalam dan Dangkal untuk semburan lumpur Lusi

 

LUSI PUSAT UNGGULAN STUDI   MUD VOLCANO DI DUNIA

Shirzaei 2015

Sumber Dalam dan Dangkal  untuk  semburan lumpur Lusi berdasarkan deformasi di permukaan

Deep and shallow sources

for the Lusi mud eruption

revealed by surface deformation

Manoochehr Shirzaei, Maxwell L. Rudolph, Michael Manga

School of Earth and Space Exploration,

Arizona State University, Tempe, AZ, USA

Manoochehr Shirzaei
Email: shirzaei@asu.edu

 Makalah Ilmiah Dikontribusikan oleh Dr. Maxwell Rudulp

Dikontribusikan, Ditelaah dan Alih Bahasa

Oleh: Prof. Dr. Hardi Prasetyo

Plt. Kepala BPLS

Untuk Lusi Library: Knowledge Management

0-ShirzaeiGam3

Gambar 3:  Skema ilustrasi dari lumpur dan sumber cairan dan saluran mempertahankan Lusi. Setiap komponen dari model konseptual diberi nomor dan dibahas dalam teks.

0-ShirzaeiGam2

Gambar 2: Hasil Pemodelan Plot irisan menunjukkan distribusi 3D dari tingkat perubahan volume rata-rata selama masa penelitian (Slice plot shows the 3D distribution of the volume change rate 
averaged over the duration of the study). Koordinat dilaporkan dalam UTM, zona 49 (sesuai dengan 112,6316-112,7670 E dan S 7,4601-7,5962).

0-ShirzaeiGam4

Gambar 4: Tingkat perubahan kecepatan volumetrik terintegrasi secara vertikal di atas kedalaman m 2500 di bawah Lusi (segitiga merah) antara Mei 2006-April 2007. Kontur menunjukkan proxy untuk tingkat perluasan lateral dari ruang lumpur (dijelaskan dalam teks).

0-ShirzaeiGam1

Gambar 1: Wilayah studi dan bantuan relief (Shuttle Radar Topography Mission). Kotak hitam menunjukkan SAR Data jejak. Inset menunjukkan lokasi Lusi dan Jawa-Sumatra.

 Pokok-Pokok Bahasan

KESIMPULAN

  • Pemanfaatan citra InSAR merekam deformasi tanah dekat Lusi secara spasial dan temporal

 

  • Pemodelan pada deformasi tanah dan terhadap perubahan vulometrik di bawah Lusi dan dibawah lapangan gas Wunut

 

  • Berkurangnya volume lumpur dari Formasi Kalibeng Atas dan fluida dari kedalaman > 3500m sebagai pengengendali deformasi tanah

 

  • Gas dan fluida telah bermigrasi dari kedalaman > 4 km

 

  • Telah diketemukan bukti ekspansi lateral dari sumber lumpur

 

  • Perlunya pemahaman ciri bawah permukaan

 

  • Litologi dan sifat fisika batuan di bawah permukaan dapat dikarakteristikkan dari sumur BJP-1

 

  • Sumber fluida dan kondisi overpressure di daerah sumber kurang diketahui

 

  • Namun, sumber-sumber dari fluida yang disemburkan, dari waktu ke waktu?

 

  • Potensi memahami sumber lumpur, fluida dan evolusinya selama semburan dari pengukuran deformasi dihasilkan pengurangan volume

 

  • Material disemburkan Lusi air, cairan dan uap, partikel padatan

 

  • Pentingnya identifikasi material disemburkan Lusi untuk memahami pengendali semburan dan inisiasinya

 

  • Mineral ilit konsisten sumber utama lumpur dangkal pada kedalaman 1615-1828m dan kedua 1341-1432 m

 

  • Erupsi awal Gas pada BJP-1 berasal dari sumber dalam

 

  • Semburan lumpur pada titik didih dicapai pada kedalaman 1700m.

 

  • Uap air sebesar >96% dominasi fase gas

 

  • Rasio kandungan gas helium memperkuat bukti kontribusi sumber dari selubung atau magmatik

 

  • Keseimbangan CO2-CH4 diproduksikan pada kedalaman > 4000m

 

  • Kompleksitas percampuran sumber lumpur dan fluida terhadap waktu

 

  • Studi deformasi tanah menentukan sumber material disemburkan

 

  • Teknologi InSAR sebelumnya telah dapat mendokumentasikan deformasi amblesan di sekitar kawah Lusi

 

  • Total kecepatan amblesan 2007-2011 mengalami penurunan dengan pola peluruhan eksponensial

 

  • Identifikasi dan analisis perubahan volume dari tiga sumber berbeda

ABSTRAK

  • Identifikasi Semburan Lusi yang masih berlanjut

 

  • Status data deformasi sebelumnya yang telah dapat mengindikasikan pola penurununan secara peluruhan eksponensial (Exponential Decay)

 

  • Tidak dapat menentukan lokasi dan geometri dari kemungkinan sumber lumpur dan fluida

 

  • Pemetaan deformasi permukaan menggunakan InSAR data citra satelit ALOS 2006-2011

 

  • Identifikasi Perubahan volume di bawah Lusi 0,3-2 km dan 3,5-4,75km.

 

  • Sumber dari dangkal memainkan peran kuci dengan mamasok lumpur

 

  • Tambahan fluida yang telah naik dari kedalaman > 4km

 

 

DISKUSI

4.1 Sumber Cairan

  • Konsistensi temuan terdahulu terhadap sumber dangkal di bawah Lusi

 

  • Penemuan deformasi berasal dari sumber dalam 3,5-4,75 km

 

  • Temuan terakhir sumber gas dari lapisan marin Formasi Ngimbang kedalaman > 4400m

 

  • Alternatif air berasal dari akuifer karbonat kedalaman 2,8 km, dari satuan batugamping Formasi Tuban

 

  • Perkiraan gas H2S bersumber dari Karbonat Miosen, implikasi migrasi fluida sumber dalam pada awal semburan

 

  • Pengurangan rasio air-lumpur berkurang, intensitas semburan meningkat

 

  • Perkiraan pengaruh dari perubahan geometri saluran

 

  • Tahun 2006 dominasi kontribusi sumber dangkal, tahun 2007 percampuran sumber dangkal dan dalam

 

  • Rasio sumber dangkal meningkat 2007, menurun 2009

 

 

4.2 Model konseptual untuk Lusi

  • Tiga Model Konseptual diusulkan untuk Lusi

 

  • Model Davies, sumber lumpur dan fluida berbeda

 

  • Perkiraan panjang umur semburan 26 Tahun: Debit berkurang secara eksponensial

 

  • Mobilisasi lumpur di Formasi Kalibeng Atas (UKF) berasal dari Kamar Lumpur (Mud Chamber)

 

  • Alternatif semburan berhenti karena penurunan tekanan di sumber lumpur, atau semburan mencapai kulminasi oleh pembentukan kaldera

 

  • Model Rudolph panjang umur semburan mendekati model Davies

 

  • Temuan gas metandi kedelaman dangkal pada awal semburan

 

  • Mazzini mengusulkan prediksi panjang umur semburan, dikontrol overpressure dalam sistem hidrotermal sebagai pengumpan Lusi

 

  • Pengaruh lainnya oleh deformasi sepanjang Patahan Watukosek

 

  • Bukti perubahan volumetrik signifikan sumber dangkal dan dalam

 

  • Tidak diterapkan rasio volumetrik percampuran air dan lumpur konstan

 

  • Konseptual sumber fluida dalam tidak diterapkan pada model Rudolph

 

  • Dua aspek dari model konseptual Rudolph yang tetap relevan

 

  • Pertumbuhan lumpur lateral 2006-2007

 

  • Analogi struktur runtuh Porong-1

 

PENDAHULUAN

  • Awal Semburan Lusi dan dampaknya

 

  • Sejarah semburan lumpur dari bawah pemukaan yang terbesar

 

  • Pemahaman anatomi bawah permukaan diperlukan untuk menafsirkan sejarah dan perkiraan semburan ke depan

 

  • Karakteristik litologi dan karakter fisik diketahui dari sumur BJP-1

 

  • Kurang dipahami sumber fluida dan overpressure secara individu

 

  • Deformasi tanah berpotensi untuk menentukan sumber lumpur

 

  • Memahami proses yang mengenalikan dan mengawali semburan

 

  • Sumber lumpur utama kedalaman 1615-1825m dan kedua 1341-1432m

 

  • Awal semburan gas berasal dari sumber yang dalam

 

  • Lumpur yang disemburkan mendekati titik didih, suhu 100oC dicapai dari kedalaman 1700m

 

  • Komposisi gas didominasi uap air >96%

 

  • Rasio gas Helium menunjukkan ciri selubung atau kontribusi magmatik, cairan sumber dalam

 

  • Keseimbangan C dari CO2 dan CH2 diproduksikan kedalaman > 4 km

 

  • Pencampuran dari sumber cairan mungkin tidak sederhana

 

  • Indikasi perubahan volume air terhadap waktu dengan penyebab belum dapat dipastikan

 

  • Penerapan teknik deformasi tanah dengan InSAR dan implikasinya

 

  • Tahun 2007-2011 terjadi penurunan intensitas deformasi amblesan ecara eksponensial

 

  • 3 sumber berbeda, dan perubahan volume dari setiap sumber

KESIMPULAN

Pemanfaatan citra InSAR merekam deformasi tanah dekat Lusi secara spasial dan temporal

Telah dihasilkan suatu rekaman spasial temporal deformasi tanah di dekat Lusi.

Dengan menggunakan citra InSAR (a new spatiotemporal record of ground deformation near Lusi using InSAR.).

Pemodelan pada deformasi tanah dan terhadap perubahan vulometrik di bawah Lusi dan  lapangan gas Wunut

Telah dilakukan pemodelan pada deformasi tanah dan terhadap perubahan vulometrik (modeled the observed ground deformation and resolved volumetric changes) pada dua daerah di bawah permukaan di bawah Lusi (two distinct subsurface regions beneath Lusi)

Dan daerah dibawah lapangan gas Wunut as well as a region beneath the nearby Wunut gas field).

berkurangnya lumpur dari Formasi Kalibeng Atas dan fluida dari kedalaman > 3500m sebagai pengengendali deformasi tanah

Deformasi tanah berasosiasi dengan Lusi dihasilkan dari berkurangnya lumpur dari Formasi Kalibeng Atas (ground deformation associated with Lusi results from the withdrawal of mud from the UKF).

Dan berkurangnya fluida dari kedalaman > 3500m, dengan pusat sekitar kedalaman 4300m (the withdrawal of fluids from >3500 m depth, with a centroid around 4300 m depth).

Gas dan fluida telah bermigrasi dari kedalaman > 4 km

Kedalaman dari sumber fluida ini konsisten (deep fluid source is consistent), dengan perkiraan sumber kedalaman hidrokarbon yang disemburkan pada Lusi (with the inferred source depth of hydrocarbons  erupting at Lusi).

Dimana mencirikan bahwa gas dan fluida telah bermigrasi dari kedalaman > 4 km (indicates that gas and fluids may be migrating from  >4 km depth), pada sekala waktu semburan on eruptive timescales.).

Diketemukan bahwa perbandingan kecepatan volume pada sumber dangkal terhadap sumber dalam.

Dimana secara umum sesuai dengan kecenderungan berkurangnya kandungan air sejak awal semburan pada Mei 2006.

Telah diketemukan bukti ekspansi lateral sumber lumpur

Telah diketemukan bukti ekspansi lateral dari sumber lumpur (find evidence for lateral expansion of the  mud source) selama antara Mei 2006 sampai awal 2007.

Ekspansi ini disebabkan adanya mobilisasi progresif dari lumpur (expansion due to progressive mobilization of mud) sebagaimana teori diusulkan Rudolph et al 2011.

Perlunya pemahaman ciri bawah permukaan

Model-model untuk menafsirkan sejarah masa lalu, dan memperkirakan kondisi ke depan dari semburan (Models to interpret the history, and predict the future, of the eruption).

Memerlukan dukungan pemahaman terhadap beberapa ciri dari bawah permukaan (require understanding several features of the subsurface).

Litologi dan sifat fisika batuan di bawah permukaan dapat dikarakteristikkan dari sumur BJP-1

Karena semburan berjarak 200m dari pemboran sumur eksplorasi Banjar Panji-1.

Sehingga litologi dan sifat-sifat fisika batuan (petrophysical properties) di bawah permukaan dapat dikarakteristikan (subsurface lithology and petrophysical properties were characterized).

Selama inisiasi dari semburan (prior to the initiation of the eruption).

Sumber fluida dan kondisi overpressure di daerah sumber kurang diketahui

Namun, sumber-sumber dari fluida yang disemburkan, dari waktu selama atau sebelum naiknya ke permukaan (the sources of erupting fluids, the timing of their syn-or pre-eruptive ascent).

Disamping pentingnya overpressure dari sumber-sumber fluida dan lumpur (the importance of overpressure in the individual mud and fluid sources) masih kurang diketahui are less certain).

Potensi memahami sumber lumpur, fluida dan evolusinya selama semburan dari pengukuran deformasi dihasilkan pengurangan volume

Pengukuran deformasi tanah (Measurements of ground deformation) dihasilkan dari pengurangan lumpur dan fluida dari bawah permukaan (resulting from the withdrawal of mud and fluids from the subsurface).

Dikombinasikan dengan pendekatan pemodelan inversi sumber (in combination with inverse source modeling approaches).

Telah menjadi suatu potensi (have the potential) untuk dapat lebih memahami lokasi-lokasi dimana sumber-sumber lumpur dan fluida (to better constrain the locations of mud and fluid sources) dan evolusinya selama semburan (their evolution during the eruption).

material disemburkan Lusi air, cairan dan uap, partikel padatan

Material disemburkan dari Lusi terdiri dari air dari cairan dan uap (material erupting from Lusi contains water (liquid and steam), gas-gas bukan kondensat (non-condensable gases), dan partikel padatan  and solid particles).

Pentingnya identifikasi material disemburkan Lusi untuk memahami pengendali semburan dan inisiasinya

Identifikasi dari sumber-sumber dari setiap komponen material yang disemburkan menjadi kunci (Identifying the source(s) of each component of the erupting material is  key).

Untuk memahami  proses-proses yang mengendalikan  semburan (to understanding the processes),  dan juga kemungkian yang telah menginisiasi semburan (that drive the eruption as well as those that may have initiated the eruption).

Terdapat suatu variasi pada aspek geokimia terhadap sumber padatan (There are a variety of geochemical constraints on the source of solids), gas dan  air  dan variasinya terhadap waktu (gas and  water and their variations over time).

Mineral ilit konsisten sumber utama lumpur dangkal pada kedalaman 1615-1828m dan kedua 1341-1432 m

Mineralogi lempung jenis ilit dengan beberapa klorit (The clay mineralogy, dominantly illite with some chlorite).

Konsisten dengan adanya sumber utama lumpur pada kedalaman 1615-1828m (is consistent with a primary mud source at 1615-1828 m depth).

Disamping itu kontribusi sumber dangkal kedua  dari lapisan-lapisan antara 1341-1432 m (secondary contributions from more shallow sources between 1341-1432 m ) [Mazzini et al., 2007].

Erupsi awal Gas pada BJP-1 berasal dari sumber dalam

Pengukuran Gas yang disemburkan pada BJP-1, dipercaya bahwa pada awal erupsi Lusi (hari pertama),

Fluida yang dimuntahkan berasal dari kedalaman yang besar (initial eruption (first day) expelled fluids from greater depths)

Semburan lumpur pada titik didih dicapai pada kedalaman 1700m.

Lumpur yang disemburkan berada pada atau dekat titik didih (The erupting mud is at or very near the boiling point), dan suhu 100oC dicapai pada kedalam 1700m pada sumur BJP-1.

Uap air sebesar >96% dominasi fase gas

Komposisi dari fase gas didominasi oleh uap air >96% berdasarkan pengukuran Oktober 2011 [Vanderkluysen et al., 2014].

Rasio kandungan gas helium memperkuat bukti kontribusi sumber dari selubung atau magmatik

Rasio 3He/4He dari contoh yang dikumpulkan tahun 2006-2011, telah memberikan indikasi terhadap kontribusi dari selubung atau magmatik yang signifikan (a significant mantle or magmatic contribution).

Sehingga mendukung suatu sumber fluida yang lebih dalam (a deeper source of fluid).. [Mazzini et al., 2012]

Keseimbangan CO2-CH4 diproduksikan pada kedalaman > 4000m

Isotop C dalam CO2 dan CH4 mengindikasikan keseimbangan CO2-CH4 pada suhu yang tinggi (>200oC).

Hal ini konsisten dengan produksi pada kedalaman> dari 4000m (consistent with production at depths >4 km.).

Kompleksitas percampuran sumber lumpur dan fluida terhadap waktu

Sumber percampuran fluida mungkin tidak sederhana (Mixing of fluid sources may  not be simple).

Variasi rasio CO2/CH4 dengan beberapa periode waktu yang pendek (CO2/CH4 varies by a factor of a few over short time periods), tapi tidak memperlihatkan kecenderungan yang sistimatis terhadap waktu (but shows no obvious systematic trends over time).

Hal ini mengimplikasikan sumber-sumber kontribusi dari lumpur dan fluida (the relative contributions of mud and fluid sources), telah berubah terhadap arah dari semburan 
 (changed over the course of the eruption).

Studi deformasi tanah  menentukan sumber material disemburkan

Pada studi ini disajikan hasil analisis baru dari deformasi tanah (ground deformation).

Dengan tujuan untuk menentukan sumber material yang disemburkan (constraining the source of erupted materials).

Teknologi InSAR telah dapat mendokumentasikan deformasi amblesan di sekitar kawah Lusi

Studi terdahulu deformasi tanah pada Lusi menggunakan InSAR (studies of ground deformation at Lusi using InSAR).

Telah dapat mendokumentasikan amblesan pada daerah disekitar kepundan (documented subsidence in the area around the vent)

Total kecepatan amblesan 2007-2011 mengalami penurunan dengan pola peluruhan eksponensial

Keseluruhan kecepatan amblesan (The overall rate of subsidence) antara 2007-2011 telah mengalami pengurangan secara eksponensial,

Dengan waktu paruh “decay time” 2 tahun (decreased exponentially in time with a characteristic decay time  of ~2 years) [Rudolph et al., 2013; Aoki and Sidiq, 2014].

Pada studi ini telah digunakan data interferometric processing of L-band synthetic aperture radar (InSAR) diambil oleh satelit ALOS antara 2006-2011.

Identifikasi dan analisis perubahan volume dari tiga sumber berbeda

Mengindentifikasikan tiga sumber yang berbeda sebagaimana dijelaskan dengan pengamatan pola deformation secara spasial dan temporal (observed spatial and temporal  pattern of ground deformation)

Dikuantitafifkan perubahan volume berasosiasi dengan setiap sumber (quantify the volume changes associated with each source).

Disamping itu bagaimana kontribusi dari sumber-sumber yang berbeda berubah selama enam tahun pertama (how the contributions of the different sources changed) dari semburan Lusi (during the first six years of the eruption.).

ABSTRAK

 Identifikasi Semburan Lusi yang masih berlanjut

Semburan lumpur Lusi di Jawa Timur Indonesia bermula pada Mei 2006,  dan terus berlanjut hingga saat ini.

Status data deformasi sebelumnya yang telah dapat mengindikasikan pola penurununan secara pelurunan eksponensial

Analisis data deformasi (of surface deformation data) di permukaan, yang telah dilakukan dari penelitian-penelitian sebelumnya.

Telah dapat menunjukkan indikasi suatu pola peluruhan eksponensial (exponential decay) dari tekanan pada sumber lumpur (the pressure in the mud source).

Tidak dapat menentukan lokasi dan geometri dari kemungkinan sumber lumpur dan fluida

Namun tidak dapat menentukan lokasi (did not constrain the location), geometri dan lokasi dari kemungkinan sumber-sumber dari semburan lumpur dan fluida (geometry and evolution of the possible source(s) of the erupting mud and fluids).

Pemetaan deformasi permukaan menggunakan InSAR data citra satelit ALOS 2006-2011

Untuk memetakan deformasi di permukaan, telah digunakan multi temporal InSAR dan populasi dari sejumlah data (multitemporal InSAR and analyze a well-populated data).

Dari citra satelit ALOS L-band (ALOS L-band satellite) diambil antara Mei 2006 dan April 2011. Selanjutnya telah digunakan skema pemodelan terbalik yang tergantung waktu (apply a time-dependent inverse modeling scheme).

Identifikasi Perubahan volume di bawah Lusi 0,3-2 km dan 3,5-4,75km.

Perubahan volume terjadi pada dua lokasi di bawah Lusi (Volume changes occur in two regions beneath Lusi), masing-masing pada kedalaman 0,3-2 km dan 3,5-4,75km.

Sumber dangkal, peran kuci mamasok lumpur

Kumulatif perubahan volume di dalam sumber dangkal (cumulative volume change within the shallow deep sources) lebih besar 2 sampai 3 kali dari sumber dalam.

Observasi dan pemodelan dipercayai bahwa sumber dari dangkal  telah memainkan peran kuci dengan mamasok lumpur (a shallow source plays a key role by supplying the erupting mud).

Tambahan fluida yang telah naik dari kedalaman > 4km

Namun juga terdapat tambahan fluida yang telah naik dari kedalaman > 4km pada skala waktu semburan (additional fluids do ascend from depths >4 km on eruptive timescales).

DISKUSI

 

4.1 (Sumber Cairtan) Fluid sources

Konsistensi temuan terdahulu terhadap sumber dangkal di bawah Lusi

Kedalaman perkiraan sumber dangkal di bawah Lusi (The depth of the inferred shallow source beneath Lusi), konsisten dengan perkiraan awal (is consistent with earlier estimates).

Menggunakan data deformasi dan pemodelan sumber (using deformation data and source modeling) [Fukushima et al., 2009].

Dimana telah disandingkan dengan hasil pengukuran gas, suhu, fosil mikro dan komposisi kerogen (and inferences based on  gas measurements, temperature, microfossils, and kerogen compositions).

Dihasilkan dari pengintian sisi dinding sumur BJP-1 from (side-wall cores in BJP-1) [Mazzini et al., 2012].

Penemuan deformasi berasal dari sumber dalam 3,5-4,75 km

Studi ini juga telah dapat ditemukan deformasi yang berasal dari sumber dalam 3,5-4,75 km (We also resolve deformation from deep sources).

Suatu sumber fluida berasal dari berkedudukan dalam pada awal dari semburan, konsisten dengan geokimia (is consistent with the gas geochemistry), yang diukur pada hari pertama semburan pada sumur BJP-1 measured during the first days of the eruption at the BJP-1 well).

Pusat perubahan kumulatif volumetrik berasosiasi sumber ini berada pada kedalaman 4350m (The centroid of the cumulative volumetric change associated with this source is at 4350 m depth).

Temuan terakhir sumber gas dari lapisan marin Formasi Ngimbang kedalaman > 4400m

Mazzini et al. [Vanderkluysen et al., 2014] beralasan, berdasarkan pada δ13C dari hidrokarbon.

Dimana telah menunjukkan, bahwa sumber gas setelah tahun 2006, berlokasi lebih dalam dari sumber lumpur sebelumnya (the gas source after 2006 was deeper than the mud source).

Tampaknya sumber gas tersebut berasal dari sumber batuan yang diendapkan pada lingkungan marin (that the gas source after 2006 was deeper than the mud source and most likely came from a marine source rock).

Kemungkingan adalah satuan serpih marin di Formasi Ngimbang, pada kedalaman >4400 m (possibly  marine shales in the Ngimbang Formation at depths >4400 m) [Vanderkluysen et al., 2014].

Hal ini konsisten dengan model bahwa reservoir berada pada kedudukan dalam dari studi ini (consistent with our deep reservoir).

Alternatif air berasal dari akuifer karbonat kedalaman 2,8 km, dari satuan batugamping Formasi Tuban

Studi terdahulu telah menyarankan bahwa beberapa bagian sumber air yang disemburkan, berasal dari akuifer karbonat pada kedalaman sekitar 2,8 km (the erupting water comes from a carbonate aquifer around 2.8 km depth) [Tingay et al., 2008; Istadi et al., 
 2009; Davies et al., 2011].

Dimana diperkirakan berasal dari Formasi Tuban, berumur Miosen Tengah (likely in the Middle Miocene Tuban Formation,

Dalam kontek ini diduga, telah atau hampir dicapai (ditembus) oleh  sumur BJP-1 (which was reached or  nearly reached by BJP-1). [Tingay, 2014].

Tidak ada bukti-bukti geodetik yang signifikan (no geodetic evidence for significant) dari volumetrik sumber deformasi pada kedalaman ini (volumetric deformation sources at this depth).

Perkiraan gas H2S bersumber dari Karbonat Miosen, implikasi migrasi fluida sumber dalam pada awal semburan

Namun, dengan dideteksinya gas H2S yang berasosiasi dengan kick di BJP-1 (detection of H2S associated with the kick in BJP-1) saat awal semburan (preceding the eruption).

Bersamaan itu dengan fakta bahwa karbonat Miosen (together with the fact that the Miocene carbonates).

Hanya yang diketahui sebagai sumber H2S di Cekungan Jawa Timur (are the only known source of H2S in the East Java Basin).

Sehingga ditafsirkan beberapa fluida telah dipindahkan dari kedalaman ini (a strong indication that some fluids were removed from  this depth), pada fase awal dari semburan during the initial phase of the eruption ) [Tingay et al., 2015].

Pengurangan rasio air-lumpur berkurang, intensitas semburan meningkat

Volume Kandungan air dari semburan lumpur (water content of the erupting mud) yang dilaporkan berkisar antara 30-60%.

Sedangkan kandungan air lumpur yang disemburkan berkurang (erupting mud’s water content decreased).

Sedangkan aliran semburan dari Lusi meningkat  (the discharge from Lusi increased from) dari 40.000m3/hari Juni-Juli 2006 menjadi 180.000 m3/hari pada akhir September 2006 [Mazzini et al., 2007].

Perkiraan pengaruh dari perubahan geometri saluran

Sehingga selama periode ini, viskositas dari lumpur yang disemburkan (the viscosity of erupting mud).

Kondisinya sangat lebih kuat dipengaruhi oleh dampak dari kandungan air (which is strongly affected by water content) [Rudolph 
 and Manga, 2010].

Dalam hal ini tidak sebagai pengontrol utama dari aliran masuk (was not the primary control on discharge)

Namun tampaknya aliran lebih sebagai pengaruh (discharge was likely affected) oleh  adanya perubahan terhadap geometri saluran (by changes in conduit geometry).

Pada Gambar 2e, telah dibandingkan rasio dari perubahan volume kecepatan semburan (we compare the ratio of volume change rates).

Dari sumber-sumber dangkal dan dalam di bawah Lusi (in the shallow and deep sources beneath Lusi).

Tahun 2006 dominasi kontribusi sumber dangkal, tahun 2007 percampuran sumber dangkal dan dalam

Meningkatnya aliran pada akhir 2006, diketemukan adanya ralatif kontribusi dari sumber dangkal (we find increasing relative contribution from the  shallow source).

Sedangkan peningkatan aliran pada akhir 2007, tampaknya mencerminkan adanya peningkatan dari rasio percampuran lumpur (likely reflects primarily an increased mixing ratio of mud).

Yang berasal dari sumber dangkal (derived from the shallow source), dengan pasokan yang konstan  fluida (with a constant supply of fluids) yang berasal dari sumber dalam (derived from deeper sources).

Analisa ulang dari log fisika batuan sumur BJP-1 mendapatkan angka volome densitas 30-60%, dari Formasi Kalibeng Atas. [Lupi et al., 2014; Tingay, 2014].

Berdasarkan pengukuran densitas dan perkiraan porositas (based on the measured density and porosity estimates) dari sumber lumpur yang diperkirakan (in  the inferred mud source).

Telah menunjukkan bahwa hanya sedikit atau tidak ada tambahan air (little or no additional water may be necessary).

Yng mungkin diperlukan untuk mencocokkan kandungan air dari semburan lumpur (to match the water content of the erupting mud), setelah fase awal semburan yang kaya dengan air (after the initial water-rich phase of the eruption.).

Variasi volumetrik sumber dalam dan dangkal

Telah dilakukan perhitungan rasio perubahan volumetrik kumulatif
(We calculated the ratio of cumulative volumetric change), pada sumber dalam terhadap ke sumber  dangkal (in the deep source to that in the  shallow source   (Fig. 2d) .

Rasio sumber dangkal meningkat 2007, menurun 2009

Rasio percampuran material dari sumber dangkal ke dalam (Gambar 2 e) bervariasi (The mixing ratio of shallow- to deep-sourced material varied between ~ 1 – 62) bertambah pada awal 2007 (increasing through early 2007).

Selanjutnya berkurang kembali dan mendekati konstan pada tahun 2009 (then decreasing, and has been nearly constant since 2009.)

4.2 model konseptual untuk Lusi

Tiga Model Konseptual diusulkan untuk Lusi

Tiga model konseptual telah diusulkan untuk Lusi (Three conceptual models have been proposed for Lusi).

Gambar 3 menunjukkan komponen (nomor) termasuk dalam semua model, meskipun tidak semua komponen yang hadir di setiap model.

Model Davies, sumber lumpur dan fluida berbeda

Dalam model Davies et al. [2011], digunakan untuk memprediksi panjang umur (used to predict longevity).

Yaitu berasal dari dua sumber yang berbeda dari lumpur dan fluida, untuk tetap mempertahankan semburan berlanjut (two distinct sources of mud and fluids sustain the eruption).

  • Air dikeluarkan dari akuifer dalam (komponen 5) (Water is expelled from a deep aquifer),
  • Mengalir ke atas (awalnya) melalui lubang sumur BJP-1 (flows upward  (initially) through the wellbore of BJP-1) (4),
  • Menembus lumpur pasif (entrains mud passively) (3), dan
  • Naik ke permukaan melalui rekahan hidro (hydrofractures) dimulai pada atau di bawah sepatu casing BJP-1 (and ascends to the surface through hydrofractures initiated at or below the casing shoe of BJP-1).

Semburan berlanjut ditopang oleh overpressure di akuifer (The eruption is sustained by overpressure in the aquifer).

Disamping itu panjang umur semburan ditentukan (the longevity of the eruption is determined) oleh tingkat penurunan tekanan pori dalam jenuh, akuifer tertekan (by the rate of pore pressure decrease in a saturated, confined aquifer).

Perkiraan panjang umur semburan 26 Tahun: Debit berkurang secara eksponensial

Davies et al. [2011] meramalkan bahwa semburan kemungkinan akan bertahan lebih dari 26 tahun (predicted that the eruption is likely to last more than 26 years).

Meskipun debit diharapkan berkurang secara eksponensial (though discharge is expected to decrease exponentially).

Dalam model konseptual kedua (In the second conceptual model ) [Rudolph et al., 2011],

Semburan berlanjut tersebut ditopang oleh overpressure dalam sumber lumpur (the eruption is sustained by overpressure within the mud source) (3) di Formasi Kalibeng Atas (UKF).

Disamping itu oleh larutan padat dan perluasan gas (by the exsolution and expansion of gas).

Karena naik melalui suatu saluran (2) as it ascends through a conduit).

Dimana mungkin awalnya terdiri dari rekahan hidro (that may have initially been comprised of hydrofractures), seperti pada model oleh Davies et al. [2011].

Rudolph et al. [2011] berpendapat bahwa karena lumpur yang menyembur memiliki kadar air ~ 30% setelah fase pengkayaan air awal (the erupting mud had water content of ~30% after the initial water-rich phase).

Sehingga ini konsisten dengan perkiraan porositas (consistent with estimates of porosity) di Formasi Kalibeng Atas (FKA), dimana sedikit atau tidak ada penambahan cairan (little or no additional fluid was added.).

Mobilisasi lumpur di UKF berasal dari Kamar Lumpur (Mud Chamber)

Lumpur di Formasi Kalibeng Atas (FKA),  akan semakin dimobilisasi (The mud in the UKF would be progressively mobilized).

Selama proses semburan sebagai evakuasi material (over the course of the eruption as the evacuation of material), berasal dari dari ‘ruang lumpur’ (‘mud chamber’), yang terkonsentrasi tekanan elastis di sekitarnya (concentrated elastic stresses in the surroundings.

Alternatif semburan berhenti karena penurunan tekanan di sumber lumpur, atau semburan mencapai kulminasi oleh pembentukan kaldera

Dalam model ini, semburan mungkin berakhir (In this model, the eruption might terminate), karena penurunan tekanan dalam sumber lumpur (due to decreasing pressure in the mud source),

Atau alternatif lainnya semburan mungkin berujung pada pembentukan kaldera (or alternatively the eruption might culminate in the formation of a caldera).

Dimana memiliki dimensi lateral  yang sama (having approximately the same lateral dimension), dengan wilayah dimobilisasi lumpur pada kedalaman (as the mobilized region of mud at depth).

Model Rudolph panjang umur semburan mendekati model Davies

Model oleh Rudolph et al. [2011] digunakan untuk membuat prediksi kemungkinan panjang umur (was used to make a  probabilistic longevity prediction).

Dimana sampai  pada kesimpulan yang sama dengan Davies et al. [2011], hal ini terutama karena kedua model menggunakan debit (primarily because both models used discharge) sebagai konstrain pada nilai-nilai parameter bebas (as a constraint on the values of free parameters.).

Temuan gas metan kedelaman dangkal pada awal semburan

Mazzini et al. [2012] menemukan bukti, bahwa pada awal semburan tahun 2006, untuk metana biogenik (find evidence early in the eruption for biogenic methane)  berasal dari kedalaman dangkal from shallow depths).

Mazzini mengusulkan prediksi panjang umur semburan, dikontrol overpressure dalam sistem hidrotermal sebagai pengumpan Lusi

Sementara Mazzini et al. [2012] tidak memprediksi panjang umur (predict longevity).

Namun mengusulkan, bahwa umur panjang akan dikontrol (they suggested that longevity would be controlled) oleh akumulasi overpressure dalam (by the accumulation of deepoverpressure).

Dimana sistem hidrotermal sebagai pengumpan Lusi (in the hydrothermal system feeding Lusi).

Pengaruh lainnya oleh deformasi sepanjang Patahan Watukosek

Bahwa pelepasan tekanan overpressure, pada semburan yang sedang berlangsung (its release by the ongoing eruption).

Mungkin akan dipengaruhi oleh deformasi (which may be affected by deformation), sepanjang Patahan Watukosek along the Watukosek Fault).

Dari model-model konseptual yang disajikan tersebut, model oleh Mazzini et al. [2012] adalah yang paling konsisten dengan sumber deformasi sebagaimana yang disimpulkan di sini (is most consistent with the sources of deformation inferred here).

Bukti perubahan volumetrik signifikan sumber dangkal dan dalam

Ditemukan  bukti untuk perubahan volumetrik signifikan dalam sumber lumpur dangkal (evidence for significant volumetric changes in the shallow mud source) (komponen 3 pada Gambar. 3)

Dimana  sumber dalam (as well as the deep source), dengan pusat masa dalam (centroid depth).

Telah bertepatan dengan sumber hidrokarbon (coincides with the source of hydrocarbons), yang dipancarkan pada Lusi (emitted at Lusi) diusulkan oleh Mazzini et al. [2012].

Kami mengatasi variasi temporal dalam rasio fluks volume (resolve temporal variations in the ratio of volume fluxes), yang berasal dari daerah sumber dangkal dan dalam (from the shallow and deep source regions).

Tidak diterapkan rasio volumetrik percampuran air dan lumpur konstan

Dimana model penerobosan sederhana (simple entrainment model), dengan asumsi rasio volumetrik pencampuran antara air dan lumpur konstan (assuming constant volumetric mixing ratio between water and mud)), dimana telah digunakan oleh Davies et al. [2011], mungkin tidak berlaku untuk Lusi (may not be applicable to Lusi)

Konseptual sumber fluida dalam tidak diterapkan pada model Rudolph

Suatu sumber fluida yang dalam tidak dipertimbangkan dalam model konseptual (A deep fluid source was not considered in the conceptual model) Rudolph et al. [2011].

Karena kandungan air dari lumpur yang menyembur sejak akhir 2006 (because the water content of the erupting mud since late 2006), telah sebanding dengan porositas di wilayah sumber lumpur (has been comparable to the porosity in the mud source region ) [Mazzini et al., 2007].

Model konseptual Rudolph yang tetap relevan

Dua aspek dari model konseptual Rudolph yang tetap relevan, yaitu:

  • Kemungkinan bahwa sumber lumpur telah meluas secara lateral (the possibility that the mud source has expanded laterally), selama masa semburan (during the course of the eruption),
  • Kemungkinan bahwa semburan akan berujung pada pembentukan kaldera (the possibility that the eruption will culminate in the formation of a caldera).

Pada Gambar 4, Diperlihatkan integrasi perubahan volumetrik secara vertikal (the vertically-integrated volumetric change), yang terkait dengan sumber lumpur di bawah Lusi (associated with the mud source beneath Lusi) pada 2006-2007.

Ditunjukkan pada kontur yang menggambarkan permukaan (contours delineating the surface).

Dengan tingkat perubahan volumetrik adalah 1/3 dari nilai maksimum (the rate of volumetric change is 1/3 the maximum value), suatu pendekatan untuk luas lateral dari reservoir lumpur (a proxy for the  lateral extent of the mud reservoir)

Perubahan volumetrik awalnya dibatasi (Volumetric change is initially restricted), untuk daerah yang relatif kecil di sekitar lokasi kepundan (relatively small region around the vent location) (ditunjukkan dengan segitiga merah).

Pertumbuhan lumpur lateral 2006-2007

Antara akhir 2006 dan awal 2007, sumber lumpur tumbuh lateral (the mud source grew laterally.)

Selama lumpur terus dipindahkan dari reservoir dangkal mengumpan  Lusi (mud continues to be removed from the shallow  reservoir feeding Lusi).

Sehingga tekanan elastis akan meningkat disekitarnya (elastic stresses will increase in the surroundings).

Analogi struktur runtuh Porong-1

Fenomena fitur suatu kaldera yang runtuh (a caldera or collapse feature), mirip dengan yang telah terjadi pada struktur runtuh Porong (similar to the nearby Porong collapse structure) yang berlokasi didekatnya [Kusumastuti et al., 2002].

PENDAHULUAN

Awal Semburan Lusi dan dampaknya

Semburan lumpur Lusi (The Lusi mud eruption), mulai pada tanggal 29 Mei 2006 dan terus menyembur sampai saat ini.

Semburan telah  menyebabkan kerugian ekonomi > $ 4 miliar USD dan mengungsikan lebih dari 60.000 orang dari rumah mereka (displaced more than 60,000 people from their homes) [Richards, 2011].

Sejarah semburan lumpur dari bawah pemukaan yang terbesar

Fenomena semburan Lusi juga telah disebut sebagai suatu semburan  lumpur berasal dari bawah permukaan, yang terbesar dalam sejarah (the largest historical subaerial mud eruption).

Pemahaman anatomi bawah permukaan diperlukan untuk menafsirkan sejarah dan perkiraan semburan ke depan

Model untuk menafsirkan sejarah, dan memprediksi masa depan dari semburan (Models to interpret the history, and predict the future, of the eruption), memerlukan pemahaman terhadap beberapa fitur bawah permukaan.

Karakteristik litologi dan karakter fisik diketahui dari sumur BJP-1

Karena semburan berawal 200 m jauh [Istadi et al., 2009] dari sumur eksplorasi gas (Banjar Panji-1, selanjutnya BJP-1).

Sehingga litologi bawah permukaan (the subsurface lithology) dan sifat petrofisika (petrophysical properties), dapat dikarakteristikkan pada kondisi sebelum inisiasi semburan  (were characterized prior to the initiation of the eruption.) .

Kurang dipahami sumber fluida dan overpressure  secara individu

Sumber cairan yang disemburkan (the sources of erupting fluids), waktu saat dan pra-erupsi menaik (the timing of their syn-or pre-eruptive ascent).

Disamping itu  pentingnya overpressure  (the importance of overpressure) pada lumpur dan cairan secara individu masih kurang diketahui (in the individual mud and fluid sources are less certain).

Deformasi tanah berpotensi untuk menentukan sumber lumpur

Pengukuran deformasi tanah (measurements of ground deformation), yang dihasilkan dari pemindahan lumpur dan cairan dari bawah permukaan (resulting from the withdrawal of mud and fluids from the subsurface).

Dengan dikombinasikan dengan pendekatan pemodelan sumber terbalik (in combination with inverse source modeling approaches).

Memiliki potensi yang baik untuk lebih menentukan (have the potential to better constrain).

Terhadap lokasi-lokasi sumber lumpur dan cairan (the locations of mud and fluid sources) serta evolusinya selama semburan (their evolution during the eruption).

Material yang di semburkan dari Lusi mengandung air, yang  terdiri dari cairan dan uap (material erupting from Lusi contains water (liquid and steam), gas non-terkondensasi (non-condensable gases), dan partikel padatan (solid particles).

Memahami proses yang mengenalikan dan mengawali semburan

Mengidentifikasikan sumber-sumber dari setiap komponen dari bahan yang disemburkan (Identifying the source(s) of each component of the erupting material), merupakan kunci untuk memahami proses-proses (is  key to understanding the processes).

Dimana telah mengendalikan semburan (that drive the eruption) dan faktor-faktor yang mungkin telah mengawali semburan (may have initiated the eruption).

Sumber lumpur utama  kedalaman 1615-1825m dan kedua 1341-1432m

Ada berbagai variasi kendala geokimia (There are a variety of geochemical constraints) pada sumber padatan, gas dan air dan variasinya dari waktu ke waktu (on the source of solids, gas and  water and their variations over time.).

Mineralogi lempung, didominasi ilit dengan beberapa klorit (The clay mineralogy, dominantly illite with some chlorite ) [Mazzini et al., 2007].

Hal ini konsisten dengan sumber lumpur utama, berada pada kedalaman 1615-1828 m (is consistent with a primary mud source at 1615-1828 m depth).

Dengan kontribusi sekunder dari sumber-sumber yang lebih dangkal antara 1341-1432 m (with  secondary contributions from more shallow sources between 1341-1432 m) [Mazzini et al., 2007].

Awal semburan gas berasal dari sumber yang dalam

Namun pengukuran gas yang disemburkan pada BJP-1, telah menunjukkan bahwa pada hari pertama awal semburan (suggest that the initial eruption (first day).

Lusi telah memuntahkan cairan dari kedalaman yang lebih besar (expelled fluids from greater depths.).

Lumpur yang disemburkan mendekati titik didih, suhu 100oC dicapai dari kedalaman 1700m

Lumpur yang disemburkan (the erupting mud) berada sangat dekat dengan titik didih (is at or very near the boiling point).

Sedangkan suhu 100oC (a temperature of 100oC), data di sumur BJP-1  telah dicapai pada kedalaman 1.700 m (was reached at 1700 m depth in BJP-1)  [Mazzini et al., 2007].

Komposisi gas didominasi uap air >96%

Komposisi fase gas (The  composition of the gaseous phase) didominasi oleh uap air   (is dominantly water vapor > 96%)  berdasarkan pengukuran yang dilakukan bulan Oktober 2011 [Vanderkluysen et al., 2014].
Rasio gas Helium menunjukkan ciri selubung atau kontribusi magmatik, cairan sumber dalam

Rasio 3He / 4He dari contoh yang diambil pada tahun 2010-2011, menunjukkan adanya ciri selubung yang signifikan atau kontribusi dari magmatik (imply a significant mantle or magmatic contribution) [Mazzini et al., 2012] dan karenanya beralasan cairan berasal dari sumber yang lebih dalam.

Keseimbangan C dari CO2 dan CH2 diproduksikan kedalaman > 4 km

Isotop C dalam CO2 dan CH4 (C isotopes in CO2 and CH4), menunjukkan bahwa keseimbangan CO2-CH4 berada pada kondisi suhu tinggi > 200oC (indicate CO2-CH4 equilibration at high temperature).

Hal ini konsisten dengan gas CO2 dan CH4 diproduksikan dari kedalaman> 4 km (consistent with production at depths >4 km.).

Pencampuran dari sumber cairan mungkin tidak sederhana

Kandungan CO2 / CH4 bervariasi, oleh suatu faktor pada periode waktu yang singkat [. Vanderkluysen et al, 2014].

Tetapi tidak menunjukkan kecendurangan sistematis yang jelas (shows no obvious systematic trends) dari waktu ke waktu (over time) [Mazzini et al., 2007; Mazzini et al., 2012].

Indikasi perubahan volume air terhadap waktu dengan penyebab belum dapat dipastikan

Lumpur yang disemburkan dilaporkan awalnya memiliki kadar air 60 total % vol (The erupting mud reportedly had a water content of 60 vol. % initially).

Selanjutnya kadar air menurun menjadi 30 % vol. pada bulan Juni 2007  (decreasing to 30 vol. % in June 2007) [Mazzini et al., 2007].

Sehingga masih menjadi hal yang menimbulkan ketidakpastian yang cukup besar (though subject to considerable uncertainty) (Mazzini, pers. Comm.).

Hal ini berarti bahwa kontribusi relatif dari lumpur dan sumber cairan (This implies that the relative contributions of mud and fluid sources), mungkin telah berubah selama perjalanan semburan (may have changed over the course of the eruption).

Penerapan teknik deformasi tanah dengan InSAR dan implikasinya

Penelitian deformasi tanah di Lusi sebelumnya (Previous studies of ground deformation at Lusi) dengan menggunakan InSAR.

Telah dapat mendokumentasikan amblesan (documented subsidence), di daerah sekitar kawah (in the area around the vent)  [Abidin et al., 2009].

Tahun 2007-2011 terjadi penurunan ecara eksponensial

Tingkat keseluruhan kecepatgan amblesan antara 2007-2011 (The overall rate of subsidence between 2007-201), telah menurun secara eksponensial terhadap waktu (decreased exponentially in time).

Dengan karakteristik waktu peluruhan ~ 2 tahun (with a characteristic decay time  of ~2 years) [Rudolph et al, 2013.; Aoki dan Sidiq, 2014].

3 sumber berbeda, dan perubahan volume dari setiap sumber

Di sini telah digunakan pengolahan data interferometric multitemporal dari L-band aperture sintetic radar (InSAR), yang diperoleh dari satelit ALOS (acquired by the ALOS satellite) antara tahun 2006 dan 2011.

Selanjutnya telah dapat mengidentifikasi tiga sumber berbeda (Identify three distinct sources), yang dikombinasikan menjelaskan pola spasial dan temporal yang diamati dari deformasi tanah (that in combination explain the observed spatial and temporal  pattern of ground deformation.).

Telah dikuantitatifkan perubahan volume yang terkait dengan setiap sumber (We quantify the volume changes associated with each source).

Disamping itu bagaimana kontribusi dari sumber berbeda yang telah berubah (how the contributions of the different sources changed) selama enam tahun pertama dari semburan (during the first six years of the eruption).

 

LAMPIRAN GAMBAR-GAMBAR

Gambar 1:

  1. Wilayah studi dan bantuan relief (Shuttle Radar Topography Mission).

Kotak hitam menunjukkan SAR Data jejak. Inset menunjukkan lokasi Lusi dan Jawa-Sumatra.

  1. Medan kecepatan LOS mencakup tahap awal semburan. SAR geometri menaik dengan arah dan sudut ~ 350o dan ~ 49o (The SAR geometry is ascending with heading and incidence angles), masing-masing. Inset menunjukkan kumulatif (Line of Side) LOS perpindahan pada Lusi.
  2. Medan kecepatan LOS mencakup tahap terakhir dari semburan.

SAR geometri turun denga narah dan sudut ~ 190o dan ~ 38o, masing-masing. Inset menunjukkan kumulatif LOS perpindahan pada Lusi dan Wunut.

Gambar 2: Hasil Pemodelan

  1. Plot irisan menunjukkan distribusi 3D dari tingkat perubahan volume rata-rata selama masa penelitian (Slice plot shows the 3D distribution of the volume change rate averaged over the duration of the study).

Koordinat dilaporkan dalam UTM, zona 49 (sesuai dengan 112,6316-112,7670 E dan S 7,4601-7,5962).

  1. Perubahan volume kumulatif yang terkait dengan sumber dangkal (biru) dan dalam (red), sedangkan sumber di bawah Lusi dan Wunut (hijau),
  2. Tingkat perubahan volume dalam dangkal (biru) dan sumber dalam (merah).

Garis padat menunjukkan nilai sesaat sementara garis putus-putus menunjukkan rata enam bulan,

  1. Rasio perubahan volume kumulatif.

Garis padat menunjukkan rasio antara sumber dangkal dan jauh di bawah Lusi, sementara garis putus-putus menunjukkan rasio Lusi dangkal dan sumber Wunut,

  1. Rasio tingkat perubahan volumetrik dalam sumber-sumber dangkal dan jauh di bawah Lusi.

Garis padat menunjukkan rasio seketika sementara garis putus-putus menunjukkan rata 6 bulan.

Dalam panel (de), menunjukkan pengukuran debit dikompilasi dari [Mazzini et al., 2007; Mazzini et al, 2009.; Mazzini et al., 2012].

Gambar 3:

Skema ilustrasi dari lumpur dan sumber cairan dan saluran mempertahankan Lusi.

Setiap komponen dari model konseptual diberi nomor dan dibahas dalam teks.

Legenda inset berisi daftar komponen diperlihatkan dalam tiga model konseptual untuk Lusi.

Gambar 4:

Tingkat perubahan kecepatan volumetrik terintegrasi secara vertikal di atas kedalaman m 2500 di bawah Lusi (segitiga merah) antara Mei 2006-April 2007.

Kontur menunjukkan proxy untuk tingkat perluasan lateral dari ruang lumpur (dijelaskan dalam teks).

Sumbu dilaporkan dalam UTM (zona 49).

REFERENSI

  Abidin, H. Z., R. J. Davies, M. A. Kusuma, H. Andreas, and T. Deguchi (2009), Subsidence and uplift of Sidoarjo (East Java) due to the eruption of the Lusi mud volcano (2006-present), 
Environmental Geology, 57(4), 833-844, doi:10.1007/s00254-008-1363-4.

Aoki, Y., and T. P. Sidiq (2014), Ground deformation associated with the eruption of Lumpur 
 Sidoarjo mud volcano, east Java, Indonesia, Journal of Volcanology and Geothermal Research, 
 278, 96-102, doi:10.1016/j.jvolgeores.2014.04.012.

Bjerhammar, A. (1973), Theory of errors and generalized matrix inverse, 127-128 pp., Elsevier 
 publishing company, Amsterdam. 
Chen, C. W., and H. A. Zebker (2001), Two-dimensional phase unwrapping with use of 
 statistical models for cost functions in nonlinear optimization, J. Opt. Soc. Am. A., 18, 338–351.

Costantini, M., and P. A. Rosen (1999), A generalized phase unwrapping approach for sparse 
 data, paper presented at in Proceedings of the IEEE 1999 International Geoscience and Remote 
Sensing Symposium (IGARSS), Hmburg.

D’Auria, L., F. Giudicepietro, M. Martini, and R. Lanari (2012), The 4D imaging of the source of 
ground deformation at Campi Flegrei caldera (southern Italy), Journal of Geophysical Research- 
Solid Earth, 117, doi:10.1029/2012jb009181.

Davies, R., M. Manga, M. Tingay, and R. Swarbrick (2011), Fluid transport properties and 
 estimation of overpressure at the Lusi mud volcano, East Java Basin (Tanikawa et al., 2010), 
Engineering Geology, 121(1-2), 97-99, doi:10.1016/j.enggeo.2011.03.010.

Farr, T. G., P. A. Rosen, E. Caro, R. Crippen, R. Duren, S. Hensley, M. Kobrick, M. Paller, E. 
Rodriguez, L. Roth, D. Seal, S. Shaffer, J. Shimada, J. Umland, M. Werner, M. Oskin, D. 
 Burbank, and D. Alsdorf (2007), The shuttle radar topography mission, Reviews of Geophysics, 
45(2), doi:10.1029/2005rg000183.

Franceschetti, G., and R. Lanari (1999), Synthetic aperture radar processing, CRC Press.

Fukushima, Y., J. Mori, M. Hashimoto, and Y. Kano (2009), Subsidence associated with the 
 LUSI mud eruption, East Java, investigated by SAR interferometry, Marine and Petroleum 
Geology, 26(9), 1740-1750, doi:10.1016/j.marpetgeo.2009.02.001.

Grewal, M. S., and A. P. Andrews (2001), Kalman Filtering : Theory and Practice Using 
MATLAB, 416 pp., Wiley-Interscience.

Harris, R., and P. Segall (1987), Detection of a locked zone at depth on the Parkfield, California 
segment of the San Andreas fault, J. Geophys. Res., 92, 7945-7962.

Istadi, B. P., G. H. Pramono, P. Sumintadireja, and S. Alam (2009), Modeling study of growth 
and potential geohazard for LUSI mud volcano: East Java, Indonesia, Marine and Petroleum 
 Geology, 26(9), 1724-1739, doi:10.1016/j.marpetgeo.2009.03.006.

Kusumastuti, A., P. Van Rensbergen, and J. K. Warren (2002), Seismic sequence analysis and 
 reservoir potential of drowned Miocene carbonate platforms in the Madura Strait, East Java, 
 Indonesia, Aapg Bulletin, 86(2), 213-232.

Lupi, M., E. H. Saenger, F. Fuchs, and S. A. Miller (2014), Corrigendum to Lusi mud eruption 
triggered by geometric focusing of seismic waves, Nature Geoscience, 7(9), 687-688, 
doi:10.1038/ngeo2239.

Marshall, J., and J. Bethel (1996), basic concepts of L1 norm minimization for surveying 
applications, J. Surv. Eng., 122(4), 168-179.

Massonnet, D., M. Rossi, C. Carmona, F. Adragna, G. Peltzer, K. Feigl, and T. Rabaute (1993), 
The displacement field of the Landers earthquake mapped by radar interferometry, Nature, 364, 
 138-142.

Masterlark, T., and Z. Lu (2004), Transient volcano deformation sources imaged with 
 interferometric synthetic aperture radar: Application to Seguam Island, Alaska, J. Geophys. Res., 
109(B1), doi:doi: 10.1029/2003JB002568.

Mazzini, A., G. Etiope, and H. Svensen (2012), A new hydrothermal scenario for the 2006 Lusi 
eruption, Indonesia. Insights from gas geochemistry, Earth and Planetary Science Letters, 317, 
 305-318, doi:10.1016/j.epsl.2011.11.016.

Mazzini, A., A. Nermoen, M. Krotkiewski, Y. Podladchikov, S. Planke, and H. Svensen (2009), 
Strike-slip faulting as a trigger mechanism for overpressure release through piercement 
structures. Implications for the Lusi mud volcano, Indonesia, Marine and Petroleum Geology, 
26(9), 1751-1765, doi:10.1016/j.marpetgeo.2009.03.001.

Mazzini, A., H. Svensen, G. G. Akhmanov, G. Aloisi, S. Planke, A. Malthe-Sørenssen, and B. 
 Istadi (2007), Triggering and dynamic evolution of the LUSI mud volcano, Indonesia, Earth and 
 Planetary Science Letters, 261(3-4), 375-388, doi:10.1016/j.epsl.2007.07.001.

Mikhail, E. M. (1976), Observations and least squares 497 pp., IEP New York. 
Mossop, A., and P. Segall (1999), Volume strain within The Geysers geothermal field, Journal 
of Geophysical Research-Solid Earth, 104(B12), 29113-29131, doi:Doi 10.1029/1999jb900284.

Pascal, K., J. Neuberg, and E. Rivalta (2014), On precisely modelling surface deformation due to 
 interacting magma chambers and dykes, Geophysical Journal International, 196(1), 253-278, 
 349  doi:10.1093/gji/ggt343.

Richards, J. R. (2011), Report into the Past, Present, and Future Social Impacts of Lumpur 
 Sidoarjo, Rep., Humanitus Sidoarjo Fund.

Rudolph, M. L., L. Karlstrom, and M. Manga (2011), A prediction of the longevity of the Lusi 
mud eruption, Indonesia, Earth and Planetary Science Letters, 308(1-2), 124-130, 
doi:10.1016/j.epsl.2011.05.037.

Rudolph, M. L., and M. Manga (2010), Mud volcano response to the 4 April 2010 El Mayor Cucapah earthquake, Journal of Geophysical Research-Solid Earth, 115, 
 doi:10.1029/2010jb007737.

Rudolph, M. L., M. Shirzaei, M. Manga, and Y. Fukushima (2013), Evolution and future of the 
 Lusi mud eruption inferred from ground deformation, Geophysical Research Letters, 40(6), 
 1089-1092, doi:10.1002/grl.50189.

Sandwell, D., R. Mellors, X. Tong, M. Wei, and P. Wessel (2011), Open radar interferometry 
 software for mapping surface deformation, Eos Trans. AGU, 92(28), 
 doi:10.1029/2011EO280002.

Segall, P. (2010), Earthquake and Volcano Deformation, 458 pp., Princeton University Press.

Shirzaei, M. (2013), A Wavelet-Based Multitemporal DInSAR Algorithm for Monitoring 
Ground Surface Motion, Ieee Geoscience and Remote Sensing Letters, 10(3), 456-460, doi:Doi 
 10.1109/Lgrs.2012.2208935.

Shirzaei, M., and R. Bürgmann (2012), Topography correlated atmospheric delay correction in radar interferometry using wavelet transforms, Geophysical Research Letters, 39(1), doi:  10.1029/2011GL049971.

Shirzaei, M., and T. R. Walter (2010), Time-dependent volcano source monitoring using 
interferometric synthetic aperture radar time series: A combined genetic algorithm and Kalman  filter approach, J. Geophys. Res., 115(B10421), doi:10.1029/2010JB007476.

Shirzaei, M., and T. R. Walter (2011), Estimating the effect of satellite orbital error using 
 wavelet based robust regression applied to InSAR deformation data, IEEE Transactions on 
 Geoscience and Remote Sensing, 49(1), 4600 – 4605.

Tingay, M. (2014), Initial pore pressures under the Lusi mud volcano, Indonesia, Interpretation, 
 3(1), SE33–SE49, doi:10.1190/INT-2014-0092.1.

Tingay, M., O. Heidbach, R. Davies, and R. Swarbrick (2008), Triggering of the Lusi mud 
eruption: Earthquake versus drilling initiation, Geology, 36(8), 639-642, doi:10.1130/g24697a.1.

Tingay, M., M. L. Rudolph, M. Manga, R. J. Davies, and C.-Y. Wang (2015), Initiation of the 
 Lusi Mudflow Disaster, Nature Geoscience, 8(7).

Vanderkluysen, L., M. R. Burton, A. B. Clarke, H. E. Hartnett, and J.-F. Smekens (2014), 
 Composition and flux of explosive gas release at LUSI mud volcano (East Java, Indonesia), 
 Geochemistry Geophysics Geosystems, 15(7), 2932-2946, doi:10.1002/2014gc005275.

Vasco, D. W., L. R. Johnson, and N. E. Goldstein (1988), USING SURFACE DISPLACEMENT 
AND STRAIN OBSERVATIONS TO DETERMINE DEFORMATION AT DEPTH, WITH AN 
APPLICATION TO LONG VALLEY CALDERA, CALIFORNIA, Journal of Geophysical Research-Solid Earth and Planets, 93(B4), 3232-3242, doi:10.1029/JB093iB04p03232.

Vasco, D. W., C. Wicks, K. Karasaki, O. Marques, and J. B. Hulen (2002), Geodetic imaging: 
 reservoir monitoring using satellite interferometry, Geophysical Journal International, 149(3), 
555-571, doi:DOI 10.1046/j.1365-246X.2002.01569.x.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s