Awang Satyana: Kapeta Selekta

KAPETA SELEKTA AWANG SATYANA PADA MEDIA SOSIAL
 Merupakan Cuplikan dari Karya-karya Ir. Awang Satyana di posting di media sosial   Facebook sebagai suatu Pendidikan Publik.
Bagian yang direkam, kebetulan yang kebetulan tertangkap hari ini waktu menjelajah Facebook.
Saya sangat memberikan apresiasi dan penghargaan yang luar biasa atas dedikasi dan pendalaman Ilmu Kebumian dalam interaksinya secara komprehensif, integral dan holistik.
Mudah-mudahan Indonesia dapat mencetak Awang Satyana lainnya!
Hardi

GEOLOGI INDONESIA :
KERUMITAN, KETAKJUBAN, MANFAAT, DAN SEJARAH KEHIDUPAN

AWANG0

https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xfa1/v/t1.0-9/542803_171043149708981_212410982_n.jpg?oh=907f4de184f88b50d47ddb60cf03ce80&oe=576E7F82

Telah sejak lama Indonesia diminati para ahli geologi. Hal ini tak lepas dari keindahan Nusantara sebagai gugusan kepulauan di wilayah Khatulistiwa, seperti kata Multatuli (1860) : ”…een gordel van smaragd die zich slingert rond de evenaar…” (sabuk zamrud yang berjajar sepanjang khatulistiwa)

Kita bisa kutip di sini pendapat-pendapat para ahli geologi yang pernah menekuni geologi Indonesia dan telah menghasilkan karya-karya yang patut menjadi referensi yang baik.

van Bemmelen (1949) : “The East Indian Archipelago is the most intricate part of the earth’s surface…The East Indies are an important touchstone for conceptions on the fundamental problems of geological evolution of our planet…”

Katili (1973) : “Differences in the geological environment of the various arc-trench systems in Indonesia are responsile for the complexity and discrepancies in the geology between the numerous islands”

Hamilton (1979) : “Indonesia represents an ideal level of complexity for analysis within the framework of available concepts of plate tectonics ”

Simandjuntak dan Barber (1996) : “The Indonesian archipelago represents an immensely complicated triple junction, involving a complex pattern of small marginal ocean basins and microcontinental blocks bounded by subduction zone, extensional margins, and major transcurrent faults”

Hall dan Blundell (1996) : “Indonesia is probably the finest natural geological laboratory in the world…It is a spectacular region in which the manifestations and processes of plate collision can be observed at present and in which their history is recorded”

Sukamto (2000) : “…Indonesian Region…has proved to be very attractive to the earth scientists…Many earth scientists have attempted to explain the various unique geological phenomena by theories, hypotheses and models ”

Dari segi ilmu kebumian, Indonesia benar-benar merupakan daerah yang sangat menarik. Kepentingannya terletak pada rupabuminya, jenis dan sebaran endapan mineral serta energi yang terkandung di dalamnya, keterhuniannya, dan ketektonikaannya. Oleh sebab itulah, berbagai konsep geologi mulai berkembang di sini, atau mendapatkan tempat untuk mengujinya (Sukamto dan Purbo-Hadiwidjoyo, 1993).

Inilah wilayah yang memiliki salah satu paparan benua yang terluas di dunia (Paparan Sunda dan Paparan Sahul), dengan satu-satunya pegunungan lipatan tertinggi di daerah tropika sehingga bersalju abadi (Pegunungan Tengah Papua), dan di sini pulalah satu-satunya di dunia terdapat laut antarpulau yang terdalam (-5000 meter) (Laut Banda), dan laut sangat dalam antara dua busur kepulauan (-7500 meter) (Dalaman Weber). Dua jalur gunungapi besar dunia (Mediterania dan Sirkum Pasifik) bertemu membelit Nusantara. Beberapa jalur pegunungan lipatan dunia pun saling bertemu di Indonesia.

Dinamika tektonik Indonesia termasuk yang paling aktif di dunia, yang dicirikan oleh aktivitas gunungapi dan kegempaan. Erupsi besar gunungapi skala dunia pernah terjadi di Indonesia, misalnya Toba (sekitar 74.000 tahun yang lalu), Tambora (1815), dan Krakatau (1883). Erupsi ketiga gunungapi ini pada masanya telah mengubah lingkungan fisik geosfer, hidrosfer, atmosfer dan biosfer secara global. Gempa dahsyat setara dengan 9.0 skala Richter juga belum lama ini terjadi di Indonesia (Aceh, Desember 2004) menyebabkan tsunami dahsyat di sepanjang sisi utara Samudera Hindia yang merenggut nyawa sekitar seperempat juta penduduk dunia.

Laut yang luas di wilayah tropika, yang hangat sepanjang tahun, telah membuat Indonesia menjadi kawasan perkembangan terumbu karang terkaya di dunia. Kawasan Indonesia memiliki spesies hewan karang (scleractinian coral) paling banyak di antara laut-laut tropis di seluruh dunia yang melingkar equator sejak Afrika-Indonesia-Pasifik baratdaya sampai Karibia. Dasar laut di Nusantara juga sangat kompleks, mencerminkan kompleksitas geologinya. Tak ada negara lain di dunia yang mempunyai relief dasar laut yang begitu beragam seperti di Nusantara (Nontji, 2002). Hampir semua bentuk topografi dasar laut ada di Nusantara : palung laut dalam, cekungan atau pasu dalam yang terkurung, lereng yang curam, rangkaian pegunungan bawahlaut, gunungapi bawah laut, dan paparan dangkal. Begitupun kekayaan biota laut Nusantara, tak ada duanya di dunia (Nontji, 2000).

Indonesia juga karena aktivitas geologinya, kaya akan berbagai mineral dan sumber energi yang sangat dibutuhkan manusia. Salah satu jalur timah terkaya di dunia menjulur sampai di Nusantara di wilayah-wilayah Riau Kepulauan sampai Bangka-Belitung, berbagai jalur mineralisasi emas, perak, dan tembaga membelit Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Papua. Tambang emas dan tembaga di Pegunungan Tengah Papua yang diusahakan Freeport termasuk deposit emas terkaya di dunia. Indonesia juga kaya akan mineralisasi nikel dan kromit berkat tersingkapnya beberapa massa kerak samudera di wilayah Indonesia Timur (Sulawesi Timur, Kepulauan Maluku, utara Papua).

Cekungan-cekungan sedimen pengandung lapisan minyak dan gas tersebar luas di Indonesia. Sebuah pemetaan cekungan yang pernah dilakukan BPMIGAS pada 2008 mengidentifikasi Indonesia mempunyai 86 cekungan besar dan kecil, 17 di antaranya merupakan cekungan penghasil minyak dan gas; sisanya, 69 cekungan, bisa diharapkan sebagai potensi migas Indonesia masa depan. Batubara Indonesia juga jumlahnya cukup besar dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, baik ditambang sebagai bahan pencampur pembuatan baja, bahan bakar energi pembangkit listrik, maupun pemanfaatan kandungan gas metana. Jalur-jalur volkanik Indonesia membuka peluang pemanfaatan energi panas bumi, terutama di wilayah-wilayah yang aktivitas volkanismenya telah menurun. Indonesia adalah wilayah dengan potensi panasbumi terbesar di dunia. Pembangkit-pembangkit listrik tenaga panas bumi seperi Salak, Patuha, Kamojang, Dieng, dan Lahendong adalah beberapa contoh pemanfaatannya.

Bagian tertentu Indonesia sangat baik untuk dihuni. Ini tidak hanya berlaku saat ini yang memungkinkan orang dapat bercocok tanam dan memperoleh hasil yang baik karena tanah subur dan air yang berlimpah, tetapi juga pada masa lampau, sebagaimana terbukti dengan temuan banyak fosil manusia purba (hominid) di beberapa tempat di Indonesia. Missing link evolusi manusia pertama kali ditemukan di Indonesia, yaitu Pithecanthropus erectus (Dubois, 1892). Maka, Indonesia penting dalam dunia paleoantropologi sebagai salah satu pusat buaian peradaban manusia di dunia.

Indonesia pun dibentuk oleh pertemuan dua dunia : asal Asia dan asal Australia. Ini mengakibatkan begitu kayanya biodiversitas Indonesia. Meskipun Indonesia hanya meliputi sekitar 4 % dari luas daratan di Bumi, tidak ada satu negeri pun selain Indonesia yang mempunyai begitu banyak mamalia, 1/8 dari jumlah yang terdapat di dunia. Bayangkan, satu dari enam burung, amfibia, dan reptilia dunia terdapat di Indonesia; satu dari sepuluh tumbuhan dunia terdapat di Indonesia (Kartawinata dan Whitten, 1991). Indonesia juga memiliki keanekaragaman ekosistem yang lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan negara tropika lainnya. Sejarah geologi dan geomorfologinya yang beranekaragam, dan kisaran ikim dan ketinggiannya telah mengakibatkan terbentuknya banyak jenis hutan daratan dan juga hutan rawa, sabana, hutan bakau dan vegetasi pantai lainnya (Whitmore, 1984), gletsyer, danau-danau yang dalam dan dangkal, dan lain-lain.

Semua kepentingan dan keunikan geologi Indonesia ini timbul karena latar belakang perkembangan tektonik wilayah Nusantara. Di sinilah wilayah tempat saling bertemunya tiga lempeng besar dunia : Eurasia – Hindia-Australia – Pasifik yang menghasilkan deretan busur kepulauan dan jajaran gunungapi, tanah yang subur, pemineralan yang kaya dan khas, pengendapan sumber energi yang melimpah, rupabumi yang dahsyat, dan aneka kehidupan yang menakjubkan.

Mari kita cintai alam Nusantara yang luar biasa ini, Indonesia, Tanah Air kita sendiri !

Awang Satyana
3 jam ·

ACK TO BASIC #3 – COUPLED VS UNCOUPLED CONVERGENT PLATE MARGINS
Awang18022016-2

Melanjutkan prinsip-prinsip teori tektonik lempeng, yang mungkin belum kita ketahui, atau tidak diajarkan di kampus-kampus (maksudnya program S1 -itu pun pada zaman saya kuliah hampir 30 tahun yl, mungkin diajarkan di program S1 sekarang, atau dari dulu sudah diajarkan di program S2 atau S3 -saya tak tahu karena saya tak melanjutkan sekolah lagi setelah S1). Apa pun itu, tak ada salahnya saya menulisnya ulang.

Ternyata masalah coupled vs. uncoupled convergent plate margins ini mengendalikan masalah deformasi, petrogenesis, mineralisasi, sifat volkanisme, dan magnitude gempa di wilayah konvergensi lempeng. Ini kasus yang bisa diterapkan buat Indonesia

 

BACK TO BASIC # 4 – CEKUNGAN BELAKANG BUSUR (BACKARC BASIN): KONTROL KINEMATIKA OVERRIDING PLATE VS. SLAB ROLLBACK

Awang18022016

Cekungan belakang busur adalah cekungan sedimen yang terletak di belakang busur volkanik, yaitu di sisi dekat benua. Pasangannya adalah cekungan depan busur (forearc basin) yang berada di sisi dekat samudera.
Cekungan belakang busur (volkanik) tentu baru ada setelah jalur volkaniknya sendiri ada sebab jalur volkanik inilah yang menjadi referensi namanya.

Cekungan ini penting untuk Indonesia sebab cekungan2 penghasil hidrokarbon terbesar di Indonesia adalah dari tipe ini: Cekungan Sumatra Utara, Sumatra Tengah, Sumatra Selatan, Sunda-Asri, Jawa Baratlaut, dan Jawa Timurlaut. Tetapi harus berhati2, sebab cekungan2 ini baru jelas (proper) menjadi cekungan belakang busur setelah Neogen.

Jadi bila kita mempelajari suatu cekungan lihatlah riwayat cekungan sejak terbentuknya sampai saat ini, sebab tipe cekungan akan memengaruhi sistem hidrokarbonnya.

Dari berbagai literatur, cekungan belakang busur ada tiga tipe: 1. kontraksi, 2. ekstensi, dan 3. stabil.

Pada tipe KONTRAKSI, cekungan tak jelas terbentuk sebab terkompresi menjadi jalur lipatan dan sesar (fold-thrust belt) atau tinggian batuan dasar. Ini suka disebut Andean-type backarc.

Pada tipe EKSTENSI, cekungan belakang busur jelas terlihat. Bila ekstensi hanya membuat kerak benua retak-retak sebagai horst dan graben, maka cekungan ini berbatuan dasar kerak benua, tetapi bila ekstensi berhasil membuat kerak benua retak sampai memisah kemudian terjadi pemekaran dasar samudera, maka dasar cekungan ini adalah kerak samudera. Ini suka disebut Mariana-type backarc.

Pada tipe STABIL, bisa berasal dari tipe kontraksi atau ekstensi, tetapi kemudian berhenti lalu menjadi stabil karena terjadi perubahan gerakan lempeng di sekitarnya. Ini suka disebut Japan-type backarc.

Kapan terbentuk tipe-tipe tersebut, semuanya dikontrol oleh kinematika gerak lempeng, yaitu vektornya (arah dan kecepatan lempeng bergerak).

Tipe KONTRAKSI akan terbentuk bila arah gerakan lempeng benua (sebagai overriding plate, atau lempeng di atas) menuju zona subduksi dan kecepatannyan lebih tinggi daripada kecepatan gerakan rollback lempeng samudera yang menunjan (subducted plate/slab). Pada kondisi ini cekungan belakang busur akan terkompresi.

ROLLBACK adalah gerakan ‘guling ke belakang’ lempeng samudera yang menunjam menjauhi benua yang menyebabkan bidang kemiringan subduksi (Benioff Zone) menjadi semakin curam. ROLLBACK akan terjadi pada lempeng samudera yang tua dan bergerak pelan.

Tipe EKSTENSI akan terbentuk terutama bila kecepatan rollback subducted plate lebih tinggi daripada kecepatan lempeng di atasnya (overriding plate), apakah lempeng di atas ini bergerak menjauhi zona subduksi atau mendekati zona subduksi. Pada kondisi ini cekungan belakang busur aktif membuka.

Tipe STABIL akan terbentuk terutama bila kecepatan rollback subducted plate sama dengan kecepatan gerakan lempeng di atasnya (overriding plate), baik arah gerakan lempeng ini mendekati atau menjauhi zona subduksi. Pada kondisi ini cekungan belakang busur berhenti membuka.

Satu cekungan belakang busur dapat berubah-ubah tipenya sepanjang evolusinya, bergantung kepada pola konvergensi lempeng di sekitarnya.

Bagaimana di Indonesia? Sepengamatan saya, hanya Cekungan Jawa Timur, dan Selat Makassar yang memenuhi syarat terbuka akibat ekstensi rollback, yang lainnya tidak, tetapi ekstensi yang segera menjadi stabil tertutup pada Neogen.Cekungan-cekungan yang lain di Sumatra-Jawa banyak pengaruh pembukaan oleh stress system sesar mendatar besar, yang membuka kembali bekas-bekas akresi basement. Selat Makassar pun ada pengaruh tersebut.***

 

KOMENTAR DAN RESPON

Nugraha Wanda Djatnika Gimana yang di daerah Madura pak Awang Satyana, apa seperti itu juga ?

Awang Satyana membalas · 1 balasan
Yosha Reza
Yosha Reza untuk potensi hidrokarbon pada cekungan cekungan depan busur (fore arc) sendiri bagaimana pak? apakah ada suatu keterkaitan antara tegasan tektonik yang bekerja pada fasa pembentukan cekungan dengan migrasi dan akumulasi hidrokarbon pada cekungan tersebut pak? .

Yosha Reza membalas · 2 Balasan · 45 menit
Ricky Tampu
Ricky Tampu Tks Pak Awang. Umur kerak samudera di Jawa Timur memang lebih tua dan lebih berat ya Pak dibandingkan dengan daerah Jawa lainnya? Apa mungkin karena itu roll back bisa terjadi di Jawa Timur? untuk kasus pegunungan Jawa Selatan, apakah mereka terkait dengan subduksi roll back ini Pak? tks banyak Pak.

Awang Satyana
Awang Satyana Iya umurnya paling tua dari segmen Sumatra-Jawa, saat ini Jurassic umurnya, jadi saat pembentukan cekungan Jawa Timur pada Eosen umurnya sekitar 150 juta tahun, itu kerak tua yang bisa bikin rollback dengan mudah. Pegunungan Selatan hasil subduksi dengan Benioff zone yang curam, bisa jadi mungkin masih pengaruh rollback juga.

DISKUSI LUSI DAN METODA SEISMIK

Endra TriyanaIzin komen, Pak. Untuk kondisi yang mirip LUSI, bedug kuwu Purwodadi Grobogan, saat terjadi gempa bumi dari jarak jauh, terkoyak fasilitasnya dipermukaan hancur. Apakah kondisi tidak labil dari deformasi plastis susunan sedimen mnjadi pnyebabnya keluar mud volcano/mud diapir Kalibeng terpicu keluar? Kiranya perlu dipertimbangkan untuk menarik kesimpulan.

Untuk mngetahui lebih lanjut struktur pasca LUSI perlu dilakukan modelling velocity, dari seismic micro klo dengan instalasi receiver di beberapa tempat di jaringan. Klo survei seismik konvensional bisa saja dilakukan dgn source weight drop atau vibro. Klo dinamit berpotensi mndpt tantangan dari masyarakat

Awang Satyana
Awang SatyanaIya mas Endra, memang dinamika mud volcano erat berkaitan dengan goncangan2 dari dalam termasuk gempa. Betul, metode seismik dengan cara vibroseis dab weight drop bisa jadi pilihan, hanya jalan keras yang bisa dilalui truk vibro tidak ada.
Ahsanulkhair Rusin
Ahsanulkhair RusinPak Awang Satyana di offshore MAQ (yang relatif dekat LUSI) selama site survey 2012 kami juga liat fenomena yang mungkin seperti LUSI.. yang sangat jelas di lihat dari high res seismik (1ms sampling) yang kami lakukan dan juga real time multibeam Lihat Selengkapnya
Awang Satyana
Awang SatyanaIya Ahsanulkhair Rusin, di dasar laut Selat Madura memang ada beberapa gununglumpur, saya cantumkan satu contohnya di paper saya tahun 2007 tentang gunung2lumpur di Jawa-Madura, Satyana & Asnidar, 2007 -IPA Proceedings. Itu juga berdasarkan data seismik. Terima kasih Ahsanulkhair menambahkan.
Endra Triyana
Endra TriyanaPak Awang, terima kasih opininya. Izin mnambahkan utk vibro dgn kapasitas 250 kg sdh cukup utk depth 600 m (Lap Tanggulangin).

Klo di Lusi permukaan sdh mngeras dan tdk labil dapat dipakai vibro ini. Atau pakai Land Gun seperti buatan Sucofindo atau Lemigas.Lihat Selengkapnya

Paulus Tangke Allo
Paulus Tangke Allokalau targetnya dangkal dan tidak ada jalan keras utk akses vibro, ya mungkin ndak apa2 pakai dinamit, tinggal dikurangi saja charge size-nya (< 500gram)…yg perlu diingat juga receiver-nya harus yg dapat merekam multicomponent, jadi bisa merekam S-wave juga, bukan hanya P-wave saja kiki emotikon
KEMARITIMAN
BUDAYA BAHARI NUSANTARA
AWANG-MARITIM

“Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai”

(lagu anak ciptaan Ibu Sud)

Dalam sejarah terdapat tesis bahwa kerajaan yang berhasil adalah kerajaan yang menguasai seluruh aliran sungai dari hulu sampai hilir sebab ini mengkombinasi pedalaman yang agraris dan muara sungai sampai laut yang maritim. Sejarah Indonesia telah membuktikan kerajaan-kerajaan yang berhasil semacam itu, yaitu Kahuripan Erlangga, Singhasari Kertanegara, dan Majapahit Raden Wijaya-Hayam Wuruk.

Indonesia masa kini : sektor agraris kurang terurus, mengimpor bahan pangan sering menjadi pilihan, memukul para petani kita, menguntungkan importir. Laut yang luas banyak didatangi kapal2 asing pencuri ikan dan tepi wilayah lautnya dirongrong terus banyak negara tetangga mengganggu kedaulatan wawasan Nusantara. Seharusnya kita menggali kembali kejayaan masa lalu. Masa lalu adalah benar bahwa “jalesveva jayamahe” – justru di laut kita jaya !

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, laut menghubungkan sekitar 17.508 pulau-pulaunya. Maka, seharusnya budaya bahari mengakar kuat di setiap manusia Indonesia.

Kejayaan bahari pertama dalam skala besar ditunjukkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Bagaimana konstruksi kapal mereka saat itu (abad ke-7) bisa dilihat di sebuah relief di dinding Candi Borobudur yang terkenal itu. Van Erp, seorang ahli arkeologi zaman Belanda di Indonesia, pernah khusus mempelajari sebelas relief kapal laut di candi Budha terbesar di dunia ini. Ia berkesimpulan bahwa kapal2 itu dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok : perahu lesung sederhana, perahu lesung yang dipertinggi dengan cadik, dan perahu tanpa cadik.

Bagaimana Sriwijaya bisa menguasai lautan Nusantara di wilayah seluruh Sumatra sampai Malaya sekarang adalah karena kebijaksanaannya dalam memperkerjakan suku Orang Laut yang piawai dalam teknologi pembuatan kapal dan strategi perang laut. Suku Orang Laut mendiami daerah muara sunga-sungai dan hutan bakau di pantai timur Sumatera, Kepulauan Riau, dan pantai barat Semenanjung Malaya. Waktu itu, Sriwijaya telah berhasil menjadi kekuatan perdana dalam sejarah Nusantara yang mendominasi wilayah sekitar perairan timur Pulau Sumatera, yang merupakan jalur kunci perdagangan dan pelayaran internasional (sampai saat ini). Ia bergerak ke perairan Laut Jawa untuk menguasai jalur pelayaran rempah-rempah dan bahan pangan hasil pertanian.

Sayang, Sriwijaya hanya negara maritim dan bukan agraris juga, maka ia tak bertahan lama. Seperti saya sebutkan di awal, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa kota pelabuhan harus ditopang oleh hasil pertanian yang menjadi komoditas unggulan dari wilayah pedalaman. Ketangguhan agraria dan maritim adalah pilar-pilar utama untuk kejayaan Nusantara.

Ketangguhan agraris dan maritim pertama kali ditunjukkan oleh Singhasari di bawah pemerintahan Kertanegara pada abad ke-13. Cikal bakal kerajaan ini sejak abad ke-10 oleh Medang, Kahuripan, lalu Kediri telah punya basis yang kuat menguasai seluruh aliran sungai Brantas dari hulu sampai hilirnya, meramu kekuatan agraria dan maritim. Maka saat Kertanegara tampil, politik ekspansinya menguasai lautan Nusantara menjadi mulus.

Dalam Kakawin (babad, cerita, kitab) Negarakertagama Kertanegara telah mendengungkan perluasan cakrawala mandala ke luar Pulau Jawa, yang meliputi daerah seluruh dwipantara. Dengan kekuatan armada laut yang tidak ada tandingannya, pada tahun 1275 Kertanegara mengirimkan ekspedisi bahari ke Kerajaan Melayu dan Campa untuk menjalin persahabatan agar bersama2 dapat menghambat gerak maju Kerajaan Mongol ke Asia Tenggara. Tahun 1284, ia menaklukkan Bali dalam ekspedisi laut ke timur. Dua pilar utama kekuatan agraris dan maritim telah membawa Kertanegara menaklukkan : Pahang, Melayu, Gurun (Indonesia Timur), Bakulapura (Kalimantan BD), Sunda, Madura, dan seluruh Jawa. Sekalipun lautan menjadi perhatian utamanya, Kertanegara tidak pernah “luput ing madal” (lupa daratan), ia memperkuat sektor agrarianya.

Puncak kejayaan bahari tercapai pada abad ke-14 ketika Majapahit menguasai seluruh Nusantara bahkan pengaruhnya meluas sampai ke negara-negara asing tetangganya. Kerajaan Majapahit di bawah Raden Wijaya, Hayam Wuruk, dan Gajah Mada telah berkembang pesat menjadi kerajaan besar yang mampu memberikan jaminan bagi keamanan perdagangan di wilayah Nusantara.

Visi dan keinginan kuat untuk membangun kerajaan yang mengedepankan kekuatan maritim dan agrarian telah menjadi tekad Raden Wijaya, anak menantu Kertanegara. Visi itu diwujudkan dengan memilih lokasi ibukota Kerajaan Majapahit di daerah Tarik di hilir sungai Brantas dengan maksud memudahkan pengawasan perdagangan pesisir dan sekaligus dapat mengendalikan produksi pertanian di pedalaman.

Penyatuan Nusantara oleh Majapahit melalui ekspedisi2 bahari dimulai tak lama setelah Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpah Palapa yang terkenal itu pada tahun 1334 : tan amukti palapa, “Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa. Sira Gajah Mada lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Doran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang,Tumasik, samana ingsun amukti Palapa”

Ekspansi bahari ini tercatat dalam Negara Kertagama anggitan Mpu Prapanca pada tahun 1365. Buku ini membagi wilayah kekuasaan Majapahit dalam empat kelompok wilayah : (1) wilayah2 Melayu dan Sumatera : Jambi, Palembang, Samudra dan Lamori (Aceh), (2) wilayah2 di Tanjung Negara (Kalimantan) dan Tringgano (Trengganu), (3) wilayah2 di sekitar Tumasik (Singapura), (4) wilayah2 di sebelah timur Pulau Jawa (Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku sampai Irian). Daftar lengkap nama2 wilayah taklukan Majapahit tersebut ada di buku Fruin-Mess (1919) “Geschiedenis van Java” halaman 82-84 (Fruin-Mess mengumpulkannya berdasarkan Pararaton, Negara Kertagama, dan Hikayat Raja-Raja Pasai). Fruin-Mess (1919) menulis di halaman 84 (diterjemahkan dari bahasa Belanda), “Dengan demikian, orang akan melihat bahwa luas wilayah Majapahit kurang lebih sama dengan wilayah Hindia Belanda dikurangi dengan Jawa Barat karena dalam daftar tak disebutkan nama Pasundan”

Bahkan juga terungkap dalam catatan sejarah bahwa pengaruh Kerajaan Majapahit telah sampai kepada beberapa wilayah negara asing : Siam, Ayuthia, Lagor, Campa (Kamboja), Anam, India, Filipina, China.

Keberhasilan Kerajaan Majapahit mewujudkan visi Sumpah Palapa, selain dibakar semangat kebangsaan patriotik di bawah komando Mahapatih Gajah Mada, juga banyak disumbang oleh keberhasilan Majapahit dalam mengembangkan teknologi bahari berupa kapal bercadik yang menjadi tumpuan utama kekuatan armada lautnya. Gambaran model konstruksi kapal bercadik sejak zaman Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit telah terpahat rapih pada relief Candi Borobudur seperti diterangkan di atas. Armada laut Majapahit ini didukung oleh persenjataan andalan berupa meriam hasil rampasan dari bala tentara Kubilai Khan ketika menyerang Kediri (atas tipudaya Raden Wijaya) dan roket (sekarang peluru kendali) yang ditiru Majapahit dari peralatan perang Kubilai Khan itu. Peralatan militer Majapahit ini dapat dibaca lebih lanjut di buku Jawaharlal Nehru (1964) : A Glimpses of World History – Oxford University Press, New York, atau Pramudya Toer (1998) : Hoakiau di Indonesia – Garba Budaya, Jakarta. Sementara kapal2 armada zaman Sriwijaya-Singhasari bisa dilihat di buku Anthony Reid (1996) : Indonesian Heritage : Early Modern History – Archipelago Press, Jakarta, atau Djoko Pramono (2005) : Budaya Bahari – Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Demikian, semoga kejayaan bahari masa lalu membuat kita menghargai lautan dan sekitar 17.508 pulau-pulau yang menyusun Nusantara.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s