Prasetyo, Kajian Makalah Davies 2007 dan 2011

 

LULIB-LOGO

Kajian kontekstual dengan kata kunci,

Untuk Lusi Library

Oleh: Dr. Ir. Hardi Prasetyo

 

I. Lahirnya mud volcano: 

Jawa Timur, 29 Mei 2006

Birth of a mud volcano: East Java, 29 May 2006

Richard J. Davies, Richard E. Swarbrick, Robert J. Evans,

Mads Huuse

GSA Today, 2007

LULIB-LOGO

TINJUAUAN KONTEKSTUAL TERHADAP MAKALAH ILMIAH DIPUBLIKASIKAN DAVIES DKK., 2011

II. Perkiraan Kemungkinan Panjang Umur untuk Mud Volcano LUSI, Jawa Timur

PROBIBILISTIC LONGEVITY ESTIMATE FOR THE LUSI MUD VOLCANO, EAST JAVA

davies2007.png

I. Lahirnya mud volcano: 

Jawa Timur, 29 Mei 2006

KESIMPULAN

Inisiasi Lusi melalui penampang terbuka Sumur eksplorasi Banjar Panji-1:

  • Tampaknya Lusi diinisiasikan sebagai hasil dari akses pada suatu akuifer bertekanan tinggi (high-pressure aquifer), pada kedalaman 2,5-2,8 km.
  • Melalui suatu penampang lubang terbuka, dari sumur Banjar Panji-1 pada kedalaman dimana rekahan dapat diinisiasikan.

Propagasi rekahan sebagai media pengangkutan:

  • Lusi mengindikasikan adanya rekahan yang berpropagasi dari kedalaman beberapa kilometer.
  • Dipicu oleh aliran fluida dan terjadinya suatu sistem percampuran “subterranean”, pada kedalam mana air diangkut dari suatu urut-urutan yang lebih dalam.

Prediksi semburan akan berlangsung tahunan ke depan:

  • Prediksi dari tahap perkembangan berikutnya dihadapkan dengan beberapa kesulitan, namun tidak diperdebatkan lagi bahwa dari sekitar 173 hari sangat aktif semburan.
  • Mencirikan suatu akuifer yang sangat besar telah ditembus.
  • Penulis percaya bahwa beberapa aktivitas semburan (kemungkinan dengan tingkat yang lebih rendah) akan berlanjut selama beberapa bulan, atau bahkan tahunan mendatang.

Prediksi terjadinya amblesan di sekeliling kawah utama:

  • Suatu daerah beberapa kilometer akan mengalami amblasan seperti runtuh (sag-like subsidence), pada beberapa bulan mendatang dengan terjadinya runtuhan yang drastik di sekeliling kawah utama

 

 

ABSTRAK

Awal Kejadian Lusi

  • Tanggal 29 Mei 2006 telah terjadi semburan uap, air dan lumpur di Jawa Timur, pada lokasi yang sebelumnya fenomena tersebut tidak pernah didokumentasikan.

Pionir kejadian semburan lumpur dipicu oleh kegiatan pemboran eksplorasi

  • Fenomena semburan lumpur merupakan perintis (pioneer) (merupakan yang pertama terjadi pada lokasi ini).
  • Kejadiannya diperkirakan dipicu oleh kegiatan pemboran, dengan sasaran batugamping bertekanan tinggi (overpressure) yang berpori-pori (porous) dan mudah dialiri (permeable), pada kedalaman sekitar 2830 m di bawah permukaan bumi.

Lubang sumur berperan sebagai penghubung antara lapisan batugamping pembawa air bertekanan tinggi di bawahnya dengan satuan lempung di atasnya

  • Lubang sumur menyediakan suatu hubungan tekanan (pressure connection) antara lapisan batugamping pembawa air (aquifer) yang bertekanan tinggi, dengan satuan-satuan lumpur di atasnya.

Tekanan menginduksi rekahan hidrolik dan berpropagasi ke permukaan

  • Karena pipa bor tidak dilindungi dengan selubung logam (steel casing), tekanan telah menginduksi terjadinya rekahan hidrolik (hydraulic fracturing).
  • Selanjutnya rekahan berpropagasi ke permukaan, diikuti cairan, selanjutnya sedimen mulai meyembur ke permukaan.

Volume lapisan pembawa air sangat besar jumlahnya

  • Setelah 1 tahun berlangsung semburan (saat makalah ditulis), besarnya aliran Lumpur tetap tinggi, rata-rata berkisar antara 7000-150.000 m3 per hari.
  • Hal ini mengindikasikan bahwa volume lapisan pembawa air diperkirakan besarnya sangat signifikan.

Semburan aliran fluida menyebabkan erosi dan masuknya Lumpur bertekanan tinggi

  • Berlanjutnya semburan dari aliran (jet) fluida, dikendalikan oleh tekanan dari akuifer (aquifer pressure).
  • Sehingga menyebabkan erosi dan masuknya lumpur bertekanan tinggi (overpressured mud).

Proses pembentukan kaldera di mulut corong dan penurunan seperti amblesan (sag-like subsidence) pada daerah ditutupi aliran Lumpur di sekelilingnya

  • Sebagai hasil membentuk kaldera di sekitar corong dan pada daerah di sekelilingnya, yang ditutupi oleh aliran Lumpur terjadinya penurungan tipe amblesan (sag-like subsidence).

Sumber fluida dan Lumpur tidak perlu bersamaan

  • Fenomena semburan memperlihatkan bahwa gunung lumpur (mud volcano) dapat diinisiasi oleh propagasi rekahan dari lapisan penutup dengan ketebalan yang singifikan.
  • Juga memperlihatkan bahwa lumpur dan cairan tidak harus berada bersama sebelumnya (coexsisting).
  • Namun dapat tercampur ‘mixed’ dalam strata yang belum terlitifikasi.

Lusi diinisiasikan adanya akses akuifer bertekanan tinggi pada kedalaman 2,5 – 2,8 km selanjutnya membentuk rekahan

  • Davies dkk., berpendapat bahwa Lusi diinisiasikan sebagai hasil dari akses aquifer bertekanan tinggi (high-pressure aquifer) pada kedalaman 2,5 – 2,8 km.
  • Melalui suatu penampang lubang terbuka dari sumur Banjar Panji-1, pada kedalaman dimana rekahan dapat diinisiasikan.

Propagasi rekahan dipicu oleh aliran fluida dari bagian yang lebih dalam dan batuan lempung penutup di atasnya

  • Terbentuknya Lusi mengindikasikan adanya rekahan yang berpropagasi dari kedalaman beberapa kilometer, hal ini dipicu oleh aliran fluida.
  • Pada skenario ini air telah diangkut dari suatu lapisan sedimen yang berada pada posisi yang lebih dalam.

Prediksi Lusi akan berlangsung lama

  • Untuk melakukan prediksi pada tahap perkembangan berikutnya akan dihadapkan pada beberapa kesulitan.
  • Namun tidak diperdebatkan lagi bahwa dengan berlangsungya semburan yang sangat aktif, hal tersebut mencirikan bahwa akuifer yang telah ditembus, dan mempunyai dimensi yang sangat besar.
  • Sehingga dipercaya bahwa beberapa aktivitas semburan (kemungkinan dengan tingkat yang lebih rendah) akan berlanjut selama beberapa bulan ke depan, atau bahkan tahunan mendatang.

Kemungkinan terjadinya amblesan pada bulan-bulan mendatang (model seperti runtuhan) di sekeliling kawah utama

  • Pada beberapa bulan mendatang daerah dengan luas beberapa kilometer akan mengalami penurunan seperti runtuh atau ambles (sag-like subsidence).
  • Hal ini digambarkan dengan terjadinya suatu runtuhan yang dramatis di sekeliling kawah utama.

Pemodelan dan pengukuran dari penurunan tanah akan membantu dalam memperkirakan dampak ke depan Lusi

  • Pemodelan dan pengukuran langsung dari amblasan tanah (inevitable land subsidence) diharapkan dapat menolong untuk memprediksi dampak apa dari gunung lumpur Lusi.
  • Yang terjadi ke depan terhadap penduduk setempat.

 

DISKUSI

 

Dipengaruhi oleh pemboran atau gempabumi?

Lusi dinisiasi oleh hubungan langsung dengan fluida bertekanan tinggi dan pembentukan rekahan

  • Diusulkan bahwa Lusi merupakan hasil dari adanya hubungan langsung dengan suatu fluida bertekanan tinggi.
  • Pada suatu kedalaman dengan sedimen-sedimen yang lebih dangkal pada suatu posisi dimana rekahan dapat diinisiasikan.
  • Sekali rekahan diinisiasikan, selanjutnya rekahan-rekahan akan dipropagasikan pada permukaan,
  • Yang dikendalikan oleh tekanan dalam.

Hubungan fluida bertekanan tinggi disebabkan oleh pemboran dan bukan oleh gempabumi

  • Kegiatan pemboran memungkinkan hubungan ini, dan model yang dikembangkan bahwa gempabumi yang terjadi dua hari sebelumnya adalah bersamaan (coindidental) tidak diterima.
  • Alasan utama untuk tidak memperhatikan gempa bumi dipicu oleh atau dikontribusikan oleh faktor-faktor:
  • Tidak ada semburan gunung lumpur dilaporkan di Jawa pada saat bersamaan;
  • Gempa bumi memproses semburan lumpur selama dua hari;
  • Likuifaksi seisogenik (seisogenic liquefaction) selalu terjadi selama gempa bumi menggoyang sedimen (seperti Ambraseys, 1988);
  • Tidak dilaporkan adanya ‘kick’ selama gempa bumi atau sesaat setelahnya;
  • Pasir, daripada lumpur, akan lebih kohesif pada likuifaksi dikarenakan goyangan gempa bumi karena ia non kohesif, sendimen berbutir;

Konstrain dari tidak digunakannya selubung pada sumur bor

  • Suatu gempabumi dapat membentuk rekahan baru
  • Telah memperlemah bagian kritis dari sumur eksplorasi yang tidak dilindungi selubung.

Tidak dapat menerima rekahan yang dipicu oleh gempabumi dengan pusat berjarak 200 km jauhnya

  • Tapi hal tersebut sulit untuk diterima, terhadap pembentukan rekahan yang dipengaruhi gempabumi
  • Dengan memperhitungkan sumber kejadian berjarak 200 km jauhnya dari sumur ini.
  • Untuk seterusnya menyediakan keseluruhan jaringan rekahan yang dibutuhkan untuk suatu semburan pada perukaan bumi.

Masalah belum terjawab adalah inisiasi percampuran subterranean

  • Inisiasi dan percampuran subterranean (antara sumber lumpur dan sumber air) merupakan suatu pertanyaan mendasar di dalam studi sistem gunung lumpur adalah,
  • Bagaimana ia diinisiasikan?

Model rekahan hidro sebagai alteranatif media penghubung sebagai rintisan gunung lumpur

  • Model yang disusulkan oleh Brown (1990), Van Rensbergen et al. (1999), Davies dan Stewart (2005), de Stewart and Davies (2006) merupakan rekahanhidro (hydrofractures)
  • Yang dapat menebus beberapa kilometer dari kerak dan membawa campuran cairan-sedimen.
  • Selanjutnya menyembur sebagai bentuk suatu rintisan gunung (pioneer volcano).
  • Karena dalam kasus ini kita mengetahui bahwa percampuran air dan lumpur telah ditranspor sejauh ~2 km melalui penutup, sepanjang rekahan-rekahan baru atau reaktivasi.

Semburan Lusi mendukung usulan model dari penulis-penulis tersebut.

Alternatif sumber air dan lumpur pada lapisan yang bersamaan

  • Semburan Lusi juga mencakup konsep bahwa sumber air dan sumber lumpur bersama-sama berada pada satuan stratigrafi yang sama
  • Dalam kaitan ini batu lumpur pada kedalaman 2.000 m mempunyai strength dan tidak dengan porositas sebesar 70-80% dibutuhkan oleh komposisi sedimen Lusi.

Alternatif sumber air lebih dalam dari lapisan penutup lumpur

  • Cairan mempunyai suatu kedalaman yang lebih dalam, dan lumpur dihasilkan di dalam penutup (e. g.Bristow et al., 2000 ; Deville et al., 2003 ; Kopf et al., 2003 ; You et al., 2004).

Penulis lebih memilih model percampuran subterranean berbeda

  • Model percampuran subterranean berbeda dari konsep kebersamaan keberadaan antara lumpur dan fluida (Davies dan Stewart, 2005; Stewart dan Davies, 2006).
  • Berbeda dengan model-model untuk mobilisasi bawah permukaan dari pasir, dimana kebersamaan dari pasir dan fluida merupakan suatu asumsi yang umum.
  • Lumpur khususnya susceptible to entrainen karena tekanan lebih, dimana tidak memungkinkan terjadinya kompaksi (Osborne dan Swarbrick, 1977). Akuifer tekanan menyediakan suatu kendali tekanan.

Fenomena Umum?

  • Semburan liar bawah bukannya tidak umum (al. Tingay et al.,2005) dan dapat melibatkan pengerusan sedimen (entrainent),
  • Tapi sekala dari mobilisasi sedimen, dipicu oleh aktivitas pemboran, tidak didokumentasikan sebelumnya.

Suatu kombinasi dari faktor-faktor yang diperhitungnya menjadi jarang:

  1. penetrasi lumpur bertekanan lebih (overpressure) yang memungkinkan mengerosi
  2. diikuti oleh penetrasi dari suatu aquifer yang melepaskan sejumlah volume yang besar dari rongga air, dan
  3. tekanan buatan manusia terkait menyedikan 1,7 penampang lubang terbuka.

Perlunya pengukuran amblesan tanah untuk prediksi dampak bencana geologi ke depan:

  • Pemodelan dan pengukuran langsung dari amblasan tanah inevitable land subsidence,
  • Dapat membantu untuk memprediksi dampak apa ke depan yang berpotensi dari gunung lumpur Lusi terhadap penduduk setempat.

LULIB-LOGO

TINJUAUAN KONTEKSTUAL TERHADAP MAKALAH ILMIAH DIPUBLIKASIKAN DAVIES DKK., 2011

Perkiraan Kemungkinan Panjang Umur untuk Mud Volcano LUSI, Jawa Timur

 

PROBIBILISTIC LONGEVITY ESTIMATE FOR THE LUSI MUD VOLCANO, EAST JAVA

 

DAVIES2011

Gambar Utama dimodifikasi oleh Hardi Prasetyo dari Davies et al., 2011 (inpreparation): (Kiri) Penafsiran Penampang Seismik Refleksi diadobsi dari Sawolo (2010) memperlihatkan sumber ari di karbonat Formasi Prupuh dan sumber lumpur di Formasi Kaliebeng Atas; dan (Kanan) skematik konsep perhitungan panjang umur mud volcano Lusi menekankan parameter di reservoir air overpressure pada Formasi Prupuh dan sumbeur lumpur di Formasi Kalibeng Atas.

 

Kesimpulan

Penekanan perkiraan panjang umur Lusi dengan dasar pola pikir bahwa sumber air dan sumber lumpur dari semburan Lusi mud volcano berbeda!

  • Pendekatan yang digunakan dalam makalah ini cukup rinci, karena metodologi, asumsi, konstrain, analogi, parameter, dan hasil perhitungan dengan model matematis telah ditayangkan.
  • Kecuali Istadi et al., (2010), selama ini perhitungan rinci terhadap durasi semburan Lusi sangat bersifat umum, hanya perhitungan akhir antara volume versus kecepatan semburan yang ditampilkan.
  • Hal sangat mendasar (konseptual) mencerminkan usulan anatomi dan Pengendali Mekanisme (anatomy and driving force mechanism), yang di anut Davies sejak tahun 2007.
  • Terjadi pemisahan alami antara sumber air di reservoir overpressure dengan sumber lumpur, yang akan mengalami erosi dan percampuran (erosion and mixing).
  • Dalam hal ini sumber air dalam paper adalah karbonat dari Formasi Prupuh (sebelumnya disebut Formasi Kujung), sedangkan lumpur disepakati umum berasal dari Formasi Kalibeng Atas.

Penegasan hipotesis bahwa lubang sumur vertical menghubungkan Formasi Prupuh (reservoir air) dan Formasi Kelibeng (sumber lumpur)

  • Penekanan hipotesis yang tidak terlepas dari aspek pengendali mekanisme semburan Lusi (Lusi eruption driving force mechanism), bahwa sumur pemboran yang vertikal menghubungkan langsung antara reservoir air overpressures di batugamping Formasi Prupuh dan sumber lumpur (Formasi Kalibeng Atas).
  • Hal ini ditekankan karena Mazzini dkk., 2007&2009 berpendapat bahwa air dan lumpur terutama berasal dari Formasi Kalibeng Atas, melalui proses transformasi mineral ilit ke smektit.

Waktu yang dibutuhkan semburan Lusi berkurang sampai 0,1 Ml/hari lebih dari 26 tahun.

  • Kurun waktu 26 tahun yang dimaksudkan sampai pada titik ambang yaitu 0,1 Ml/hari, bukan menjadi 0 liter/hari.
  • Davies dalam paper dan press release menggambarkan bahwa secara alami, ketika semburan mud volcano sudah lemah (weak flow) atau masuk ke dormancy stage, maka untuk berhenti total bisa memerlukan waktu ratusan tahun!
  • Sebagai catatan bahwa berdasarkan pendekatan ‘tekanan’ maka semburan suatu mud volcano dimaknai akan berhenti bila tekanan berlebih (overpressure) di reservoir telah sama atau mendekati hydrostatic pressure.

Pernyataan yang cukup menakutkan bahwa selama 26 tahun tersebut (2037) total amblesan di permukaan tanah antara 95-475m dan total volume 0,14 km3

  • Total land subsidence selama 26 tahun sebesar 95-475m, berdasarkan hasil perhitungan kecepatan amblesan (subsidence rate) dari Abidin et al (2008), berkisar antara 1-5 cm/hari.
  • Kecepatan subsidence tersebut dianggap rata (flat), 1 cm di bagian tepian dari daerah terdampak dan 5cm/hari di sekitar Pusat semburan.
  • Davies sebagaimana Abidin memegang teori bahwa konsekuensi dari intensitas semburan Lusi yang paling besar di seluruh dunia, akan berlanjut efek loading dibarengi dengan ‘sudden collapse’.

Hanya Abidin et al., 2008 dan Tingay (2010) dan tentunya Mazzini et al., (2007 & 2010) yang memasukkan pengaruh dari reaktivasi Patahan Watukosek.

  • Bukti nyata dilapangan, longsoran, tumbukan, subduksi, dan perubahan morfologi suatu kerucut (cone) menjadi kubah landai (smooth dome).
  • Dan menambahkan bahwa Lusi mud volcano sedang dalam reorganisasi sendiri (self reorganization).
  • Sehingga pola deformasi radial (termasuk subsidence, rekahan, dan patahan).
  • Namun sebagai realitas, Andreas menekankan bahwa land displacement saat ini terutama dipengaruhi oleh proses pembentukan kaldera (caldera formation).
  • Menjadi berkisar hanya puluhan sentimeter atau desimeter pertahunnya!
  • Namun mengabaikan hasil dari Andreas dan Abidin (2010), yang menyatakan bahwa kecepatan amblesan pada tahun 2009-2010 telah menurun sangat signifikan dari angka yang umum digunakan selama ini (Abidin et al., 2008).
  • Davis dalam menggunakan parameter kecepatan amblesan yang mengadopsi hasil dari Abidin et al (2008)m.
  • Alat perang Bapel BPLS (GPS, geodetik) harus dapat menempatkan bukti lapangan (sebagaimana laporan bulanan) bahwa kecepatan amblesan di lapangan lebih kecil dari yang digunakan oleh pakar mengacu Abidin (2008) yaitu 1-5 cm/hari.
  • Sebagai exersice maka untuk merespon hasil Davis, dengan asumsi bahwa rate subsidence tetap, maka angka Bapel BPLS dikalikan dengan 26 tahun.
  • Kerjasama Bapel BPLS dengan ITB, seyogyanya dapat mengklarifikasi berapa angka Rate of subsidence per hari dan total dari presentasi Andreas (2010) di Australia, termasuk bila ada data baru.
  • Angka deformasi berbasis ilmiah mempunyai implikasi sosial, politik dan kebijakan, karena terkait langsung/tidak dengan perspektif penanganan kebencanaan Lusi mud volcano ke depan.
  • Termasuk ke dalamnya ‘rasionalisasi’ untuk meyakinkan penetapan Trase Relokasi Infrastruktur, jalan nasional, JALAN TOL, dan REL KA.

 

Sari

Suatu metoda baru untuk perhitungan perkiraan durasi Lusi

  • Perhitungan durasi yang diusulkan Davies, dianggap baru, dalam arti berbeda baik dari umumnya diterapkan untuk mud volcano, maupun khususnya untuk Lusi mud volcano.
  • Davies dari sejak tahun 2007 menetapkan Lusi sebagai suatu mud volcano, yang memberikan implikasi mengikuti kaidah atau sistem perkembangan mud volcano, antara lain terjadinya ‘sudden collapse’.

Basis perhitungan menggunakan asumsi utama air berasal dari karbonat dalam, dengan parameter-parameter yang digunakan pada pemodelan.

  • Secara konsep, Davies memegang teguh pemahamannya, bahwa sumber air ‘overpressure’ berada lebih dalam (interval 2500-3500M) yaitu pada reservoir karbonat (Formasi Prupuh – Formasi Kunjung – Formasi Tuban).
  • Sedangkan sumber lumpur berada lebih dangkal di atasnya (interval 1200m-1800m), yaitu Formasi Kalibeng Atas (Secara umum diterima).
  • Tetap yakin bahwa sumur BJP-1 telah menembus lapisan reservoir air overpressure karbonat Formasi Prupuh.
  • Mazzini dan Istadi, menganggap bahwa air yang disemburkan Lusi terutama berasal dari proses diagenesis mineral smektik ke ilit dari satuan lempung dari Formasi Kalibeng Atas (dikenal dengan konsep sumber air dangkal).
  • Parameter karakteristik reservoir antara lain menggunakan analogi dengan data sumur eksplorasi Porong-1, yang sebelumnya telah dipublikasikan.

Hasil perhitungan untuk waktu yang diperlukan untuk semburan menurun sampai 0,1 Juta/hari 26 Tahun

  • Perhitungan lainnya umumnya menggunakan kisaran durasi skenario atas (top scenario) dan bawah (bottom), namun Davies berdasarkan total volume air overpressure di reservoir batugamping Formasi Prupuh.
  • Durasi tersebut bukan berarti semburan = 0 tapi mencapai 0,1 Juta liter/hari.

Suatu analogi umum bahwa mud volcano secara alami dapat berlanjut sampai ribuan tahun

  • Hal penting adalah bahwa mud volcano umumnya setelah pasca tahap semburan tinggi, setelah masuk pada semburan rendah, dapat terus mengalirkan lumpur sampai ratusan tahun.
  • Tipe mud volcano yang dimaksud adalah yang mempunyai kecepatan aliran (flow rates) rendah, dalam paper diberi contoh sebagai Booton Buset di UK.
  • Analogi juga dapat diamati dari 14-mud volcano selain Lusi yang berkembang di Jawa Tengah (termasuk Bleduk Kuwu) dan Jawa Timur yang terus memuntahkan lumpur (terkadang dalam bentuk resepan) sampai ratusan tahun.

Kirka amblesan tanah permukaan selama 26 tahun: 95-475m

  • Davies et al 2011, menggunakan asumsi besarnya kecepatan amblesan (subsidence rates) antara 1 dan 5 cm/hari, berdasarkan hasil penyelidikan Abidin et al (2008).
  • Asumsi pemodelan perhitungan total land subsidence, dengan asumsi bahwa perhitungan dari Abidin berlaku kontinyu yaitu (flat Rate of Subsidence).
  • Padahal, Andreas dan Abidin (2010) telah menyatakan bahwa rate of subsidence pada tahun 2009-2010 jauh menurun dari kondisi (2006-2009).

Dalam kirasan puluhan sentimeter dan puluhan desimeter per tahun, dibandingkan antara 1-5 cm/hari (digunakan Davies).

  • Bapel BPLS juga menunjukkan indikasi adanya kecepatan penurunan terutama pada tahun 2010-2011.
  • Bila ingin mendapatkan gambaran terhadap total land subsidence adalah angka rate BPLS (dalam hari) dikali 30 (bulan) dikali 12 (tahun) dikali 26 tahun.

Diskusi dan Implikasi

Pemicu Semburan: 3 alternatif pemicu mud volcano:

  • Davies mengindikasikan tiga alternatif pemicu mud volcano Lusi yang selama ini telah berkembang menjadi kontroversi yang mengemuka adalah:

(1) Lusi dipicu oleh kesalahan pemboran eksplorasi BJP-1, dikenal sebagai kejadian underground blow out, membentuk mud volcano buatan manusia ’man made mud volcano’;

(2) Lusi dipicu oleh kejadian gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006, selanjutnya mereaktivasi patahan Watukosek, membentuk ’natural mud volcano’; dan

(3) kombinasi antara 1 dan 2.

  • Mazzini et al. (2009) menekankan kombinasi penyebab (causing) dan pemicu (trigerring), dimana sebelum terjadinya mud volcano diawali dengan sebab-sebab pembentukan mud diapir.

Pengembangan hipotesis sumur vertikal langsung pada Formasi Prupuh:

  • Makalah ini lebih menekankan pada pengembangan hipotesis dimana pemboran dilakukan langsung secara vertikal menghubungan keberadaan sumber air dari karbonat Formasi Prupuh, dengan sumber lumpur overpressure pada Formasi Kalibeng Atas.
  • Sebagai konstrain penulis menekankan, tidak berfokus apakah hasil perhitungan benar.

Terdapat hubungan langsung antara sumber air dan sumber lumpur:

  • Oleh karena itu, terdapat hubungan antara sumber air overpressure ke batu lumpur dari Formasi Kalibeng Atas, dimana merupakan sumber dari lumpur dari semburan Lusi.

Ketidakjelasan yang ada pada perkiraan panjang hidup mud volcano, dikaitkan dengan geologi bawah permukaan:

  • Aspek ketidakjelasan dari perkiraan panjang umur dari mud volcano adalah terkait dengn kondisi geologi bawah permukaan.
  • Selama ini data yang tersedia dianggap masih kurang memadai untuk melakukan perhitungan secara akurat.
  • Karena itu dalam paper ini digunakan terminologi usulan estimasi dari perkiraan panjang umur, karena data utama masih menggunakan analogi dari lokasi sumur eksplorasi lainnya (Porong-1).

Perhitungan volume akuifer:

  • Metoda perhitungan volume akuifer menggunakan simulasi Monte Carlo.
  • Perhitungan volume akuifer akan menjadi lebih tepat, bila tersedia data seismik refleksi 3-d, yang direncanakan akan diambil tahun 2011 oleh Badan Geologi, KESDM.

Data pendukung lapisan karbonat mempunyai porositas yang baik:

  • Fenomena keberadaan karbonate build up Formasi Prupuh yang berkembang pada Sumur Porong-1, digunakan untuk memperkuat asumsi bahwa parameter tingginya angka porositas dipenuhi, agar dapat berperan sebagai reservoir dari air.

Asumsi bahwa sumber air merupakan sistem tertutup terhadap sumber lumpur:

  • Untuk menghasilkan tekanan yang memadai overpressure pada reservoir, maka diasumsikan bahwa sumber air merupakan suatu sistem tertutup, sehingga tidak menerima imbuhan dari sumber fluida lainnya.

Sumber Air

Meniadakan lumpur Kalibeng Atas sebagai sumber fluida utarama:

  • Menempatkan suatu persyaratan bahwa pasokan air berlanjut dengan intensitas tingi memerlukan nilai permeabilitas antara 50 dan 700 mD.

Jauh lebih kuat daripada bila sumber pada lumpur pilosilikat.

Sehingga meniadakan kemungkinan sumber fluida utama dari Formasi Kalibeng.

Justifikasi bahwa satuan karbonat Formasi Prupuh lebih tepat sebagai kandidat sumber air:

  • Bahwa Karbonat Formasi Prupuh dengan memiliki permeabilitas yang tinggi, yang telah ditembus sumur BJP-1, ditegaskan lebih tepat sebagai kandidat sumber air.

Estimasi masa hidup lainnya (longevity estimations)

Asumsi Istadi kecepatan semburan 100.000m3/hari untuk memperkirakan jumlah tahun sumber lumpur deplesi:

  • Menyoroti perhitungan panjang umur semburan Lusi dari Istadi (2009) yang menggunakan dasar perhitungan sumber lumpur dari Formasi Kalibeng dan kecepatan semburan yang konstan 100.000m3/hari.
  • Perbedaan mendasar adalah Davies menggunakan volume sumber air pada reservoir di Formasi Prupuh.

Hasil estimasi 23-35, mempunyai kelemahan:

Estimasi yang dihasilkan Istadi (2009) adalah 23-35 tahun, tapi metoda mereka kemungkinan ada celahnya karena:

  1. Skenario bila sumber lumpur habis, maka erupsi akan berlanjut:
  • Dengan konsep bahwa sumber air bertekanan berasal dari karbonat Formasi Prupuh, sehingga bila keseluruhan lumpur di Formasi Kalibeng telah mengalami deplesi, Davies menyatakan semburan masih berlanjut.
    1. Asumsi kecepatan semburan konstan:
  • Davies tidak sepakat penggunaan asumsi kecepatan semburan Lusi yang konstan (100.000m3/hari), dimana secara realitas akan mengalami pengurangan terhadap waktu, sebagaimana umum terhadap fluida dengan tekanan berlebih.

Dampak

Hasil perhitungan panjang umur Lusi sampai semburan melemah 0,1 MI/hari adalah 26 tahun:

  • Davies menghasilkan perhitungan masa hidup selama 26 tahun, sampai pada suatu keadaan dimana kecepatan semburan kurang dari 0,1MI/hari.
  • Salah satu rasionalisasi adalah Davies beranggapan bahwa suatu mud volcano sampai memasuki tahap dormant atau sleeping dapat memakan ratusan tahun.

Total volume lumpur yang dikeluarkan setelah 26 tahun adalah 0,14km3:

  • Perhitungan menggunakan asumsi bahwa kecepatan amblesan 1-5 cm/hari dari perhitungan yang dilakukan pada tahun 2006-2007.
  • Catatan kecepatan amblesan 5cm/hari terjadi di sekitar pusat semburan dan 1 cm/hari di daerah sekitar daerah terdampak.
  • Perhitungan kecepatan amblesan pada tahun 2009-2010 dilaporkan Andreas dan Abidin (2010), telah jauh menurun intensitasnya. Hanya berkisar puluhan sentimeter atau desimenter pertahunnya.
  • Lebih jauh Andreas mengusulkan dua jenis amblesan: Pertama, dengan intensitas yang besar, disekitar pusat semburan, dikaitkan dengan proses pembentukan kaldera (caldera formation); Kedua, dengan intensitas kecil, dikaitkan dengan proses alami terutama faktor pembebanan (loading factor).
  • Demikian juga hasil perhitungan Bapel BPLS, menunjukkan indikasi adanya kecenderungan penurunan kecepatan amblesan dan realitas fluktuasi.
    • Sehingga total subsidence selama 26 tahun yang rasional akan jauh lebih kecil dari kisaran 95-475m.

Analogi dengan Porong-1, amblesan mencapai 400m:

  • Davies mengilustrasikan keberadaan paleo subsidence dari struktur runtuh (collapse structure) dari sumur Porong-1, yang dihitung berdasarkan penampang seismik refleksi, yaitu sebesar 400m.
  • Sehingga memperkuat perhitungan total subsidence setelah masa hidup 26 tahun sebesar 95-475m tersebut diatas, menjadi rasional.
  • Bila hasil penelitian terbaru dari Andreas dan Abidin (2010) diadobsi, maka angka total subsidence selama 26 tahun yang diusulkan Davies tersebut akan berkurang secara sangat signifikan.
  • Penyelidikan land displacement, khususnya subsidence dari keseluruhan sistem mud volcano Lusi menjadi sangat strategis, guna perkiraan besarnya dampak selama beberapa tahun ke depan serta mitigasi bencana geologi dan lingkungan hidup.

Pendahuluan

Penekanan terhadap perilaku semburan (eruptive behavior) Mud Volcano; kasus perbedaan yang ekstrim antara di Azerbaijan dan Trinidad tahap perulangan dengan Watton Baset (UK) kecepatan semburan rendah

  • Hal mendasar sebagai kata kunci adalah bahwa perilaku semburan MV sangat bervariasi, berkisar dari semburan liar sampai semburan sangat lemah, atau kecepatan semburan rendah.
  • Variasi yang lebar juga berlaku untuk jenisnya berkisar dari MV yang benar-benar menyerupai kenampakan gunung berapi hasil proses magma (magmatic volcanoe), sampai hanya yang berupa danau lumpur (mud lake).
  • Dari dua contoh perilaku MV yang ekstrim tersebut, pertanyaannya adalah dimana posisi Lusi MV?
  • Secara umum perilaku MV Lusi (selanjutnya Lusi) dikenal dengan semburan uap, air, lumpur dengan tendangan ‘kick’
  • Kecepatan semburan pernah mencapai maksimum 180.000m3/hari, rata-rata 64.000m3/h-100.000m3/h, dan berlangsung dalam waktu lebih dari 3 tahun.
  • Sehingga diberi predikat sebagai semburan mud volcano terbesar di dunia.
  • Sejak awal tahun 2010 perilaku yang ‘lex generalist’ tersebut telah mengalami perubahan cukup mendasar.

Saat ini kecepatan semburan (eruption rate) Lusi telah mengalami penurunan secara drastis yaitu sekitar 10.000m3/h, dengan material yang dihasilkan terutama air dan lebih sedikit lumpur (koloidal).

  • Walaupun kenampakan semburan Lusi di lapangan, ditandai dengan asap uap (steam smoke) berwarna putih, dibarengi dengan tendangan lumpur menyerupai pola ‘geyser’.

Namun tidak didapatkan adanya gelombang lumpur panas (hot mud wave), sebagaimana yang sangat dikenal sebagai perilaku Lusi masa lalu (2006-2009).

  • Atas dasar fakta lapangan tersebut, secara umum Lusi dapat disetarakan sebagai mud volcano tipe transisi (transition type) dari Azerbaijan dan Trinidad (berpotensi merusak), disertai siklus ‘dormancy’ ke tipe Wooton Busset, ditandai dengan kecepatan semburanyang rendah.

Sebelumnya panjang umur MV tidak terlalu mendapatkan perhatian untuk dikaji.

  • Umumnya MV di dunia, khususnya di Azerbaijan dan Trinidad terjadi pada daerah terpencil (remote area), jauh dari kawasan permukiman penduduk yang padat (dense population).
  • Sehingga keberadaan MV tersebut tidak menimbulkan dampak negatif pada sendi-sendi kehidupan masyarakat.
  • Sebaliknya di Azerbaijan dan Trinidad, keberadaan dari MV digunakan sebagai alat bantu dalam eksplorasi migas. Sehingga tidak ada urgensi yang mendesak untuk melakukan perkiraan longevity.

Dari sudut pandang kedudukan geografi dan implikasinya, MV Lusi disebutkan sebagai MV yang unik di dunia

  • Davies menyebutkan MV Lusi sebagai yang paling unik di dunia, adalah karena sebagai suatu MV yang awalnya berperilaku sebagai semburan liar (violent eruption).

Terhadap waktu mengalami perubahan perilaku menuju ke tingkat yang lebih lemah, melalui peta jalan (road map): tipe berpotensi merusak menuju dormancy, ditandai menurunnya secara drastis kecepatan semburan dengan material hanya air.

  • Namun hal mendasar dari keunikan MV Lusi sebagaimana disampaikan Davies, adalah karena telah berkembang di daerah permukiman padat, dan telah menimbulkan kerugian (bencana) pada masyarakat.
  • Hal ini berbeda dengan MV pada umumnya, yang berkembang di daerah terpencil (remote area).

Julukan LUSI sebagai ‘Highest eruption rate on earth’, dan semburan bertenaga (vigorous)

  • Angka semburan maksimum yang diacu oleh Davies (2011) sebesar 180.000m3/hari dan terus berlangsung selama 3 tahun dengan rata-rata 100.000m3/h.

Disamping itu disebutkan bahwa semburan lusi tipe bertenaga (vigorous), dicerminkan oleh tendangan (kick) disertai gelombang (wave) dari lumpur panas.

  • Atas dasar kondisi tersebut, sehingga ditetapkan Lusi memegang rekor dunia sebagai ‘highest eruption rate on Earth’,
  • Terkait semburan 180.000m3/hari, Davies mengacu dari publikasi Manzzini (2007) yang pada makalahnya antara lain dipengeruhi oleh adanya gempabumi pada Desember 2006.
  • Terkait dengan rata-rata semburan selama 3 tahun antara 2006-2009, sebesar 100.000m3/hari, Tingay pada artikel berjudul Anatomi Mud Volcano Lusi (2010) telah melakukan revisi kecepatan semburan rata-rata menjadi 64.000m3/hari.

Rasionalisasi MV Lusi dengan relief rendah (low relief): Kecepatan amblesan MV ditentukan 5,5cm/hari, material campuran air-lumpur

  • Hasil studi pergerakan tanah (land displacement) oleh Abidin et al (2008), berdasarkan kombinasi teknologi GPS dan Remote sensing INSAR, telah digunakan sebagai baseline information, oleh hampir semua ahli kebumian dalampembahsan aspek geohazard.
  • Namun, hasil studi terbaru dari Andreas dan Abidin (2010) yang telah ditempatkan di Lusi Library (Lampiran Ebook, Andreas) menunjukkan bahwa sejak tahun 2009-2010 kecepatan amblesan telah menurun dengan signifikan, dengan intensitas hanya berkisar cm sampai desimeter pertahun.
  • Sayangnya informasi ini belum diacu oleh Davies, kemungkinan karena makalah Andreas tersebut baru dipresentasikan dan belum diterbitkan pada jurnal ilmiah terkemuka.
  • Realitas di atas, diharapkan dapat digunakan oleh BPLS untuk bersinergi dengan Tim ITB (2011) guna mengaktualisasikan parameter besarnya dan pola amblesan tanah yang mempunyai nilai strategis.
  • Pusat semburan mud volcano Lusi, sejak Oktober 2010 jumlahnya sangat bervariasi antara 1, 2 dan 3.

Demikian juga berdasarkan analisis citra satelit dan foto udara berselang waktu (time series) menunjukkan bahwa geometri serta dimensi Pusat Semburan Utama berubah terhadap waktu, namun kawah lebar lebih 75m.

Foto udara diambil 23 Januari 2011 sangan jelas menunjukkan kenampakan menyerupai ‘crop circle’, yang selaras dengan hasil penelitian Andreas (2010), sebagai hasil dari proses pembentukan kaldera atau disebut (caldera subsidence).

  • Morfologi gunng lumpur di permukaan menunjukkan dinamika dengan bentuk umum radial yang asimetri dengan bagian yang lebih luas ke arah utara dan timur.

Terjadi perubahan morfologi dari suatu bentuk cone radial menjadi lebih kubah landai (smooth dome).

  • Perubahan morfologi gunung lumpur diatas antara lain disebabkan oleh terjadinya reorganisasi mud volcano Lusi, pembentukan kaldera (caldera formation) ditandai dengan amblesan tipe sudden collapse di sekitar kawah, serta rendahnya viskositas lumpur padu bila dibandingkan dengan batuan volkanik magmatik.

Basis data geologi bawah permukaan seismik refleksi dan dua sumur eksplorasi

  • MV Lusi berada pada wilayah KPS (contract production sharing) Migas Blok Berantas, mencakup wilayah lapangan produksi gas alam (gas field) Wunut dan Tanggulangin.
  • Sumur BJP-1 merupakan sumur eksplorasi, dimana sebelum dilakukan pemboran selalu diawali dengan pengambilan data seismik refleksi 2-d.

Penafsiran secara komprehensif terhadap data seismik refleksi, selanjutnya difokuskan untuk memahami tatanan geologi bawah permukaan disepanjang lintasan.

Pada akhirnya ditentukan lokasi-lokasi (umumnya minimal 3) sumur eksplorasi.

  • Sampai saat ini data penampang seismik refleksi yang ada terbatas dengan data seismik refleksi 2-d, dan belum tersedia data seismik refleksi 3-d.

Rencananya baru akan diambil oleh Badan Geologi, KESDM pada 2011.

  • Kenampakan lapisan-lapisan sediman yang terekam pada penampang seismik refleksi, umum disebut sebagai ciri pemantul (reflector signature) akan dikonversi menjadi satuan stratigrafi, berdasarkan korelasi dengan sumur pemboran (BJP-1).
  • Tim Rusia (2009) telah menggunakan data seismik refleksi 2-d analog, selanjutnya diproses dengan teknologi GIS-3D untuk mendapatkan model-3d bawah permukaan mud volcano Lusi.

Dimana dari studi tersebut telah diindikasikan terdapatnya 2 struktur lumpur, yang umum dikenal sebagai mud diapir.

Lebih jauh lagi Tim Rusia telah memberikan peringatan dini terhadap berpotensinya mud diapir tersebut tersebut berkembng menjadi mud volcano, sabagimana wujud LUSI.

Bencana geologi Lusi, dengan tingkat pengendalian bencana sangat ekstrim sulit (management disaster extremely difficult), dibandingkan dengan bencana ditimbulkan oleh gempabumi atau tsunami!

  • Disebutkan bahwa semburan mud volcano terus berlangsung sejak saat awal terjadi tahun 2006.

Namun, telah terjadi perubahan yang dramatis, dimana kecepatan semburan telah menurun drastic dari rata-rata 10.000m3/hari (2006-2009) menjadi hanya 15.000m3/hari (2010-sekarang). Dan material yang disemburkan

Sebelumnya lumpur panas, saat ini hanya air dengan temperatur permukaan sekitar 60oC.

  • Aspek rasionalisasi kebijakan terkait penangan bencana yang komprehensif, dan holistik jangka panjang, Lusi disebutkan bahwa kondisi keterbatasan knowledge antara lain ‘duration’ dan ‘evolusi’ dari semburan Lusi.

Sehingga diakui oleh Davies bahwa pengendalian bencana MV LUSI ekstrim sulit.

  • Sebagai analogi tingkat kesulitan, dibandingkan dengan gempabumi dan tsunami.
  • Bencana alam gempabumi dan tsunami (NAD), setelah terjadinya pengendali mekanisme bencana, selanjutnya dilakukan tanggap darurat, sdiikuti dengan tahap pemulihan dan rekonstruksi.
  • Ekstrim berbeda dengan bencana MV Lusi, dimana pengendali mekanisme bencana yaitu semburan Lusi diikuti dengan luapan lumpur padu, dibarengi dengan dampak berganda (multiplier impact) deformasi geologi terus berlangsung dari saat awal kejadian (continous processes).
  • Bersamaan dengan upaya penanggulangan semburan dan luapan lumpur, dilakukan penanganan masalah dampak sosial kemasyarakatan dan dampak infrastruktur.

Tujuan makalah adalah memperkirakan panjang umur (longevity) semburan MV Lusi, guna menentukan dampak akhir dari bencana MV Lusi

  • Alur Pikir: Pemahaman bawah permukaan dilakukan dengan menganalisis data seismik refleksi 2-d dan sumur eksplorasi, usulan metoda dan hasil perkiraan panjang kehidupan, dan perkiraan dampak akhir dari bencana.
  • Alur dan pola pikir yang dikembangkan dalam beberapa hal, mempunyai kemiripan dengan studi yang telah dilakukan oleh Istadi et al (2009), Abidin (2008), dan Andreas dan Abidin (2010), ketiganya telah ditinjau dan ditempatkan dalam Lusi Library 2010.
  • Davies menekankan bahwa dampak tingkat akhir kebencanaan mud volcano Lusi adalah bencana kemanusiaan dan lingkungan (humanitarisn and ecological disaster).

 

Geologi Bawah Permukaan (Subsurface geology)

Sumur eksplorasi gas Banjar Panji-1, dan urut-urutan batuan sedimen (stratigrafi), bawah permukaan

  • Sumur eksplorasi gas Banjar Panji-1, yang telah dibor 150 m dari lokasi mud volcano Lusi, dengan target karbonat dari Formasi Prupuh.
  • Sumur telah dibor menembus satuan batuan sedimen:
    • (1) Sedimen alluvial,
    • (2) Pleistosen, selang seling batupasir dan serpih dari Formasi Pucangan (sampai kedalaman 900m),
    • (3) Pleistosen, lempung abu-abu kebiruan dari Formasi Kalibeng Atas (sampai kedalaman 1871m), dan
    • (4) Batuan volkanik dan batupasir volkanoklastik, tebal sekitar tebal 962m.
  • Stratigrafi di bawah sumur Banjar Panji-1 awalnya ditampilkan oleh Mazzini et al (2007) selanjutnya dijadikan ‘baselines’.
  • Tingay (2010) mengusulkan perubahan stratigrafi terutama pada karbonat yang sebelumnya dikenal sebagai Formasi Kujung, selanjutnya diusulkan sebagai Formasi Tuban, pada makalah ini sebagai Formasi Prupuh. Dan satuan pasir volkanoklastik, yang diusulkan dirubah menjadi satuan batuan volkanik ekstrusif.
  • Walaupun Tingay ikut sebagai salah satu penulis dalam paper Davies (2011), tapi hal tersebut tidak dimasukkan, bahkan juga tidak dibahas sama sekali? Diperkirakan ada ketidak sesuaian antara usulan perbaikan stratigarafi oleh Tingay dengan Davies sebagai penulis pertama.
  • Tulisan Tingay (2010) telah ditempatkan pada Lusi Library, dimana antara lain telah mengusulkan perubahan tatanan stratigrafi, dalam upaya evaluasi anatomi dan pengendali mekanisme semburan Lusi.
  • Terdapat perbedaan mendasar yang bersifat strategis antara Davies dan Mazzini. Davies konsisten berpendapat bahwa sumur BJP-1 menembus karbonat Formasi Prupuh. Mazzini (2007) dan (2009) bertahan bahwa BJP-1 tidak menembus satuan karbonat Formasi Kujung.

Bagian strategis dan taktis, sebagai upaya pembuktian bahwa sumur BJP-1 telah menembus satuan karbonat Formasi Prupuh, dengan analogi dari sumur Porong-1

  • Pada bagian paragraf di atas, Davies telah menyakinkan bahwa sumur BJP-1 telah menembus lapisan karbonat Formasi Prupuh.
  • Data sumur eksplorasi Porong-1 dan seismik refleksi yang melintas pada sumur tersebut menyediakan informasi yang lebih memadai terhadap karakteristik dan asal-usul dari satuan karbonat Formasi Prupuh.
  • Posisi strategis karbonat Formasi Prupuh bagi Davies sangat strategis, karena asumsi yang dikembangkan bahwa air Lusi berasal dari reservoir overpressure pada satuan batuan tersebut.

Formasi Kalibeng Atas sebagai sumber lumpur semburan Lusi

  • Davies dan pakar kebumian lainnya umumnya telah bersepakat bahwa sumber dari lumpur semburan Lusi adalah dari Formasi Kelibeng Atas, sebagaimana diusulkan oleh Mazzini et al. (2007).
  • Perbedaan mendasar, Davies beranggapan sumber air dari karbonat Formasi Prupuh berbeda dengan sumber lumpur di Formasi Kalibeng Atas.
  • Sebaliknya Mazzini et tal., (2007), menganggap sumber air terutama dari Formasi Kalibeng melalui proses transformasi mineral smektit ke ilit.

Uraian terhadap tiga alternatif sumber air, namun pada bagian akhir Davies sampai pada kesimpulan yang memenuhi kriteria adalah reservoir karbonat Formasi Prupuh

  • Dari tiga alternatif sumber air yaitu Formasi Kalibeng Atas, Pasir Volcanoklastik, dan karbonat Formasi Prupuh.
  • Davies lebih memilih alternatif yang memenuhi kriteria tertentu, yaitu Formasi Prupuh berumur Miosen Awal.

Air di lumpur ditentukan berasal (originated) dari satu atau tiga alternatif sumber:

  • Batulumpur di Formasi Kalibeng Atas, diusulkan oleh Manzzini (07) menggunakan kriteria geokimia (geochemical criteria);
  • Namun pilosilikat dari batulumpur (fraksi lempung>40%) mempunyai permeabilitas yang rendah dan tidak mampu untuk menyemburkan air pada kecepatan yang diukur, walaupun mudstone dapat mengkontribusikan untuk semburan air dan perubahan kimianya;
  • Batupasir volkanoklastik atara kedalaman 1871 dan 2830m, tapi dengan keseluruhan porositas hanya 2-6%, secara ekstrim mempunyai permeabilitas yang rendah;
  • Terumbu karbonat build-up (Formasi Prupuh), berdasarkan kebutuhan terhadap parameter sumber fluida dengan volume yang besar dan temperatur yang tinggi.

Sehingga karbonat yang aslinya disebut sebagai Formasi Kujung (Davies et al. 2007), namun tampaknya merupakan bagian dari Formasi Prupuh (Kusumastuti et al., 2001).

  • Kecepatan semburan yang awalnya 120.000-180.000m3/hari dimana 60% adalah air (Istadi et al. 2009), dengan perkiraan temperatur 100oC.
  • Pengukuran kebawah sumur mengindikasikan bahwa suatu gradien panasbumi adalah 42oC/km.

Karena itu dibutuhkan adanya suatu akuifer dengan permeabilitas tinggi pada kedalaman lebih dari 2,4 km.

  • Sehingga Formasi Prupuh berumur Miosen Awal telah dibuktikan dengan pemboran (sumur Porong-1), yang memenuhi kedua kebutuhan ini (Tanikawa et al 2010).

Pernyataan penting dari Davies yang mengalihkan fokus pembahasan dari perdebatan causing and triggering menjadi mencari implikasi bila pemboran BJP-1 menembus Formasi Prupuh

  • Memaknai perdebatan pemicu Lusi:

Telah banyak perdebatan apakah Lusi telah dipicu oleh pemboran atau secara alami oleh gempabumi.

  • Makalah ini menyelidiki hipotesis implikasi pemboran pada batugamping Formasi Prupuh:

Daripada menambah debat berlanjut, makalah ini menyelidikan implikasi hipotesis dari pemboran lubang bor BJP-1 yang dibor ke dalam Formasi Prupuh, yang mengalami depressurizing dari perspekstif hidrogeologi.

  • Alur pikir aliran air dari reservoir, menembus sumber lumpur, melalui saluran dari patahan, mengalir ke permukaan:

Sekali menembus permukaan, dihipotesiskan bahwa air berinisiasi naik melalui lubang bor BJP-1, bercampur dan ‘entrains’ batulumpur yang lebih dangkal dari Formasi Kalibeng Atas.

Selanjutnya bermigarasi ke atas melalui patahan Watukosek, menghasilkan suatu mud volcano dengan kelurusan berarah NE-SW.

  • Asumsi umum bahwa pada mud volcano sumber air lebih dalam terisolasi daripada sumber lumpur:

Konsep sumber dari dalam dan percampuran fluida dengan lumpur bertekanan berlebih konsisten dengan banyak sistem mud volcano (mud volcano system) lainnya.

Dimana sumber dari air adalah lebih dalam dan terisolasi dari sumber lumpur.

  • Proses erosi oleh aliran air dari reservoir dalam pada sumber lumpur overpressure dan undercompacted:

Air bermigrasi keatas melalui patahan dan rekahan (water migrates upward through faults and fractures), dan berpotongan dengan lapisan argillaceous yang tiksotropik (thixotropic), bertekanan berlebih ‘overpressure’, dibawah kompaksi ‘undercompacted’, dan susceptible untuk erosi bawah permukaan (subsurface erosion).

Proses erosi tidak dimengerti tapi mungkin melibatkan erosi dari sisi sumur dari rekahan baru atau yang telah ada sebelumnya atau proses yang sama dengan pemipaan (piping).

Dimana air mengerosi saluran, sebagaima hal tersebut dapat diamati pada tanggul-tanggul terisi lumpur (clay-filled embankment dams).

DISCLAIMER (Hardi Prasetyo)

 

  • Makalah lengkap karya Davies et al., (2010) yang ditinjau ini, masih bersumber dari makalah ilmiah dari Journal Geological Soceity of London dengan status dalam persiapan diterbitkan (In preparation);
  • Kecuali bagian ‘Sari Makalah’ (Abstract) telah bersumber dari Journal Geological Soceity of London, yang telah bersifat ‘public domain’ ditempatkan di internet. Sehingga sudah mempunyai aspek lagalitas.
  • Pengkajian dan Penelaahan ‘baseline scientific published articles’ ke dalam bahasa Indonesia, semata-mata dilakukan untuk meningkatkan pemahaman (mudah di baca dan diketahui) dan edukasi publik. Salah satu kaidah profesi sebagai Profesor Riset.

Terhadap isu-isu aktual, yang khususnya terkait Posisi Kebumian Indonesia dalam kaitan dengan keberadaan sumber daya alam tidak terbarukan (non renewable resources) serta potensi bencana alam (natural disaster)yang menyertainya.

  • Misi dari aspek non-teknis juga sebagai alat bantú yang aktual (actual tool) untuk mengedepankan para ilmuwan dari Indonesia (Indonesian in coorporation).

Agar dapat melibatkan secara langsung (direct involvement) pada aspek Membuka Misteri Kebencaan (Disaster Mistery) disebabkan oleh Mud Volcano Lusi.

 

Agar para akhli Kebumian Indonesia secara profesional dan proporsional dapat menjadi tuan rumah di negaranya sendiri.

  • Puluhan ‘baseline Lusi Mud Volcano articles’ serta penelaahan dan alih bahasa Indonesia, telah ditempatkan pada LUSI LIBRARY:KNOWLEDGE MANAGEMENT;
  • Penulis dalam waktu singkat akan menghubungi Prof. R. Davies di Durham University, UK.

Untuk permintaan mendapatkan naskah asli (original paper), dan atau menggunakan paper yang berstatus Inpress. Dimana akan diaktualisasikan (disempurnakan) setelah naskah asli dapat dimiliki.

  • Sebelumnya Profesor Dr. R.J. Davies telah berpartipasi langsung dalam pengembangan LUSI LIBRARY: KNOWLEDGE MANAGEMENT.

Dengan mengirimkan secara langsung 5 (lima) makalah ilmiah dan popular (popular sciences article), terkait mud volcano pada umumnya dan Lusi mud volcano pada khususnya (Paper bersejarah Davies et al., 2007).

  • Hal menggembirakan bahwa beberapa ‘Ahli Kebumian’ lainnya yang telah direcognize oleh komunitas, terhadap posisinya pada ‘Lusi Mud volcano’ dari manca negara, telah berkontribusi langsung ke Lusi Libarary, diantaranya adalah:
  • Dr. Hasanuddin Abidin, (sekarang Wakil Rektor ITB), secara Lisan telah memberikan Izin kepada kemi (Prof. Hardi Prasetyo) untuk menempatkan makalah yang teleh diterbitkan.

Khususnya terkait deformasi Lusi mud volcano (Abidin et al., 2008), termasuk makalah Andreas dan Abidin (2010), untuk selanjutkan ditempatkan dalam LUSI LIBRARY:KNOWLEDGE MANAGMENT;

  • Profesor Dr. Eli Silver, Earth Sciences Board, University of California Santa Cruz, USA, telah mengkontribusikan makalah terkait mud diapirsm and mud volcano baik di daerah lepas pantai (offshore región) Indonesia, dan dari beberapa negara lainnya;
  • Profesor Dr. Manzzini, Oslo, Norwey, telah mengkontribusikan makalah terkait mud volcano Lusi (2007 dan 2009), serta memberikan izin untuk ‘downloading’ makalah yang telah disediakan pada situs web site Andrio Manzzini;
  • Profesor Dr. Tingay, University of Adelaide, Australia, mengkontibusikan makalah yang relatif baru.

Didalamnya termasuk mengusulkan penyempurnaan stratigrafi Lusi untuk karbonat Formasi Tuban (sebelumnya karbonat Formasi Kujung), dan satuan batu volkanik ekstrusi (sebelumnya satuan pasir volcanoklastik).

Serta mengusulkan Anatomi dan Pengendali Mekanisme (anatomy and driving forcé mechanism). Dimana kami yrlah menilai, makalah tersebut yang secara tegas telah mengikuti alur peralihan paradigma baru (new paradigm shift) dari Kontroversi penyebab dan pemicu menuju Solusi terhadap Misteri Lusi mud volcano.

  • Presentasi dari Profesor. Dr. RP Koesoemadinata dan Profesor Dr. Sukendar Asikin dari Institut Teknologi Bandung, yang telah dipresentasikan pada Seminar Lusi, tahun 2008 di Surabaya, telah diadobsi (dengan status paper dipresentasikan pada publik umum).
  • Penulis Indonesia lainnya yang telah berkontribusi langsung pada Lusi Library:Knowlege Management adalah: (1) Ir. Awang Setyana (BP. Migas); (2) Ir. Bambang Istadi (EMP); (3) Dr. Ir. Agus Hantoro (Usakti); (4) Ir. Nurohmat Sawolo (EMP). Dan masih banyak lagi yang belum/tidak disebutkan namanya satu-persatu;
  • Proses pengkajian masalah strategis (strategic problem), diilhami oleh metoda análisis pendekatan yang Komprehensif, Integral dan Holistik.

Diadobsi dari keikutsertaan penulis pada KSA Lemhannas (2003);

  • Inovasi pengkajian Naskah Ilmiah Mud Volcano Lusi telah diawali penulis (Prasetyo, 2008), saat melakukan Analisis WAR GAME DEBAT KONTROVERSI PENYEBAB DAN PEMICU MUD VOLCANO LUSI, yang diselenggarakan fórum AAPG di Afrika Selatan.

Menghasilkan análisis Kebijakan Strategis, beserta lampiran teknis mendekati 400 halaman (Prasetyo, 2008).

Beberapa baseline makalah disebutkan di atas telah dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu:

(1) Kelompok Lusi disebabkan dan dipicu (causing and triggering) oleh gempabumi Yogyakarta (2006), dipimpin oleh Profesor Manzzini (Oslo, Norwey);

(2) Kelompok Lusi dipicu oleh ledakan bawah permukan (underground blow out) pada pelaksanaan Pemboran Eksplorasi Sumur Banjar Panji-2, dipimpin oleh Profesor Davies (Durham, UK); dan

(3) Kelompok Deformasi Geologi dan Implikasinya pada mitigasi ke depan, dipimpin oleh Profesor Abidin (ITB);

  • Pembagian tiga aspek tersebut dapat mencerminkan realitas dinamika yang berkembang saat ini (dari penyebab ke solusi Anatomi dan Pengendali Mekanisme).

Sebagaimana yang akan diakomodasikan pada Seminar Lusi Mud Volcano, akan diselenggarakan oleh Bapel BPLS, 8-9 November 2011, di Surabaya.

  • Para pendukung dan kontributor Lusi Library: Knowledge Management yang namanya telah diuraikan di atas serta para pemangku kepentingan (stakeholders) Lusi lainnya,yang dalam domain aspek geologi telah dikoordinasikan oleh Badan Geologi, .Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, diharapkan dapat berreuni pada even LUSI GATHERING.
  • Even LUSI GATHERING yang diagendakan untuk dilaksanakan menjelang durasi (panjang umur) Lusi mud volcano ke 5, Mei 2011 (5 years duration Lusi mud volcano).

Untuk itu Bapel BPLS telah melakukan langkah antisipasi yang nyata dengan menyiapkan sarana dan prasarana terkait.

Salah satu diantaranya adalah bangunan kubah (super dome facilities), di lokasi P.25, yang saat ini juga telah dihijaukan dengan tanaman pohon Cemara, yang cukup menggembirakan karena dapat tumbuh dengan suburNYA.

  • Untuk semua dukungan dan kontribusinya kami selaku Inisiator dan Pengembang LUSI LIBRARY: KNOWLEGE MANAGEMENT 2020-2011 mengucapkan terima kasih.

REFERENSI:

DAVIES 2007

REFERENCES CITED

Ambraseys, N.N., 1988, Engineering seismology: Earthquake Engineering and Structural Dynamics, v. 17, p. 1–105.

Bahorich, M., and Farmer, S., 1995, 3-D seismic discontinuity for faults and stratigraphic features: The coherence cube: The Leading Edge, v. 14, p. 1053–1058, doi: 10.1190/1.1437077.

Bristow, C.R., Gale, I.N., Fellman, E., and Cox, B.M., with Wilkinson, I.P. and Riding, J.B., 2000, The lithostratigraphy, biostratigraphy and hydrogeological significance of the mud springs at Templars Firs, Wootton Bassett, Wiltshire: Proceedings of the Geologist’s Association, v. 111, p. 231–245.

Brown, K.M., 1990, The nature and hydrogeological significance of mud diapirs and diatremes for accretionary prisms: Journal of Geophysical Research, v. 95, p. 8969–8982.

Dade, W.B., Nowell, R.M., and Jumars, P.A., 1992, Predicting erosion resistance of muds: Marine Geology, v. 105, p. 285–297, doi: 10.1016/0025- 3227(92)90194-M.

Davies, R.J., and Stewart, S.A., 2005, Emplacement of giant mud volcanoes in the South Caspian Basin: 3D seismic reflection imaging of their root zones: Journal of the Geological Society [London], v. 162, p. 1–4, doi: 10.1144/0016-764904-082.

Deville, E., Battani, A., Griboulard, R., Guerlais, S., Herbin, J.P., Houzay, J.P., Muller, C., and Prinzhofer, A., 2003, The origin and processes of mud volcanism: New insights from Trinidad, in Van Rensbergen, P., Hillis, R.R., Maltman, A.J., and Morley, C.K, eds., Subsurface Sediment Mobilization: London, Geological Society Special Publication 216, p. 475–490.

Deville, E., Guerlais, S.-H., Callec, Y., Griboulard, R., Huyghe, P., Lallemant, S., Mascle, A., Noble, M., and Schmitz, J., 2006, Liquefied vs stratified sediment mobilization processes: Insight from the South of the Barbados accretionary prism: Tectonophysics, v. 428, p. 33–47, doi: 10.1016/j.tecto.2006.08.011.

Engelder, T., 1993, Stress Regimes in the Lithosphere: Princeton, New Jersey, Princeton University Press, 457 p.

Evans, R.J., Davies, R.J., and Stewart, S.A., 2007, Internal structure and eruptive history of a kilometre-scale mud volcano system, South Caspian Sea: Basin Research (in press).

Graue, K., 2000, Mud volcanoes in deepwater Nigeria: Marine and Petroleum Geology, v. 17, p. 959–974, doi: 10.1016/S0264-8172(00)00016-7.

Kopf, A.J., 2002, Significance of mud volcanism: Reviews of Geophysics, v. 40, 52 p.

Kopf, A., Deyhle, A., Lavrushin, V.Y., Polyak, B.G., Gieskes, J.M., Buachidze, G.I., Wallmann, K., and Eisenhauer, A., 2003, Isotopic evidence (He, B, C) for deep fluid and mud mobilization from mud volcanoes in the Caucasus continental collision zone: International Journal of Earth Sciences, v. 92, p. 407–425.

Kranenburg, C., and Winterwerp, J.C., 1997, Erosion of fluid mud layers: 1: Entrainment model: Journal of Hydraulic Engineering, v. 123, p. 504–511, doi: 10.1061/(ASCE)0733-9429(1997)123:6(504).

Matthews, S.J., and Bransden, P.J.E., 1995, Late Cretaceous and Cenozoic tectonostratigraphic development of the East Java Sea Basin, Indonesia: Marine and Petroleum Geology, v. 12, p. 499–510, doi: 10.1016/0264-8172(95)91505-J.

Milkov, A.V., 2000, Worldwide distribution of submarine mud volcanoes and associated gas hydrates: Marine Geology, v. 167, p. 29–42, doi: 10.1016/S0025- 3227(00)00022-0.

Morley, C.K., 2003, Outcrop examples of mudstone intrusions from the Jerudong anticline, Brunei Darussalam and inferences for hydrocarbon reservoirs, in Van Rensbergen, P., Hillis, R.R., Maltman, A.J., and Morley C.K., eds., Subsurface Sediment Mobilization: London, Geological Society Special Publication 216, p. 381–394.

Neurauter, T.W., and Bryant, W.R., 1990, Seismic expression of sedimentary volcanism on the continental slope, northern Gulf of Mexico: Geo-Marine Letters, v. 10, p. 225–231, doi: 10.1007/BF02431069.

Osborne, M.J., and Swarbrick, R.E., 1997, Mechanisms for generating overpressure in sedimentary basins: A reevaluation: AAPG Bulletin, v. 81, p. 1023–1041.

Planke, S., Svensen, H., Hovland, M., Banks, D.A., and Jamtveit, B., 2003, Mud and fluid migration in active mud volcanoes in Azerbaijan: Geo-Marine Letters, v. 23, p. 258–268, doi: 10.1007/s00367-003-0152-z.

Stewart, S.A., and Davies, R.J., 2006, Structure and emplacement of mud volcano systems in the South Caspian Basin: AAPG Bulletin, v. 90, p. 753–770.

Tingay, M.R.P., Hillis, R.R., Morley, C.K., Swarbrick, R.E., and Drake, S.J., 2005, Present-day stress orientation in Brunei: A snapshot of ‘prograding tectonics’ in the Tertiary delta: Journal of the Geological Society [London], v. 162, p. 39–49, doi: 10.1144/0016-764904-017.

United Nations Final Technical Report, 2006, United Nations Disaster Assessment and Coordination mission in June & July 2006 and follow-up mission in July 006: Published in Switzerland by the Joint UNEP/OCHA Environment Unit, 53 p., http://rovicky.files.wordpress.com/2006/09/environment_assessment_RReport_final.pdf.

U.S. Geological Survey, 2006, http://earthquake. usgs.gov/eqcenter/ eqinthenews/ 2006/usneb6/.

Van Rensbergen, P., Morley, C.K., Ang, D.W., Hoan, T.Q., and Lam, N.T., 1999, Structural evolution of shale diapirs from reactive rise to mud volcanism: 3D seismic data from the Baram delta, offshore Brunei Darussalam: Journal of the Geological Society [London], v. 156, p. 633–650.

Ware, P., and Ichram, L.O., 1997, The role of mud volcanoes in petroleum systems: Examples from Timor, the south Caspian, and the Carribean, in Howes, J.V.C., and Noble, R.A., eds., Proceedings, IPA Petroleum Systems of SE Asia and Australia Conference, Jakarta, Indonesia: Independent Petroleum Association, p. 955–970.

Watanabe, N., and Kadar, D., 1985, Quaternary geology of the hominid fossil bearing formations in Java, in Watanabe, N., and Kadar, D., eds., Report of the Indonesia–Japan Joint Research Project CTA-41, 1976–1979: Bandung, Indonesia, Geological Research and Development Centre Special Bulletin 4.

You, C.-F., Gieskesb, J.M., Leec, T., Yuic, T.-F., and Chenc, H.-W., 2004, Geochemistry of mud volcano fluids in the Taiwan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s